"Baiklah," yokai tampan itu kini berjalan dan duduk di sebelah Hinata. "Apa yang ingin kau ketahui?"
Lagi-lagi, Hinata menunduk, memainkan jemarinya, "A-apakah benar… apa yang Karin katakan? B-bahwa… k-keluarga Hyuuga t-telah membunuh… klan-mu?"
Naruto bukan punya saya, kok...
Chapter 6:
Tak ada jawaban. Hinata mengutuki dirinya sendiri. Bertanya langsung seperti itu sangatlah tak sopan! Pasti Sasuke marah, kecewa, atau bahkan sedih. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga beberapa lama, Sasuke tak kunjung menjawab. Penasaran, ia mengadahkan kepalanya.
Sasuke masih ada disampingnya, dengan wajah tanpa ekspresi.
"S-Sasuke?"
"Pikiranmu rumit ya," gumamnya. "Yah, apa yang Karin katakan itu betul."
Mata Hinata membulat. Bagaimana bisa ia membenarkan hal itu dengan santainya?
"Entahlah aku sendiri tak tahu," Sasuke menjawab pertanyaan Hinata yang muncul otomatis di pikiran Hinata. "Toh, itu sudah lama sekali."
Hinata mengerutkan alisnya—ragu, tapi toh ia bertanya juga, "Apakah… apakah tak ada orang yang kau sayang di klan-mu? Ayah? Ibu? Saudara?"
Sasuke tertegun. Lagi-lagi jeda panjang menghantui mereka—namun kali ini, Hinata tak berniat menghancurkannya. Ia akan menunggu—sekalipun sebenarnya ia penasaran setengah mati—tapi ia akan tetap menunggu, sampai Sasuke membuka mulut dan menceritakannya langsung.
Hingga akhirnya Sasuke membuka mulutnya. Hinata mengangkat kepalanya, menatap wajah yokainya itu, tak percaya. Sasuke menceritakannya dengan santai—seakan menceritakan hal-hal tak penting. Dan Hinata hanya bisa diam, menundukkan kepala, mendengar cerita Sasuke. Matanya terpejam, seakan bisa merasakan perasaan Sasuke saat itu. Setitik air menyelinap keluar dari ujung matanya, disusul dengan titik yang lain.
Rumit. Satu kata yang ada di kepala Hinata begitu Sasuke menyelesaikan ceritanya. Hubungan keluarga Hyuuga dan Uchiha dan dampaknya hingga hari ini.
Konoha 100 tahun yang lalu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, sejauh mata memandang, yang bisa kau lihat hanyalah hijau. Pepohonan hijau, rumput hijau, bukit hijau, hutan hijau. Tak ada manusia yang berani memasuki kawasan ini. Mereka percaya, bahwa di Konoha terdapat istana siluman, tempat para iblis bersemayam.
Dan itu memang benar. Setengah benar. Yang ada di Konoha bukanlah istana siluman, tapi rumah bangsawan dalam dunia siluman; Uchiha. Klan siluman kelas atas yang telah berkuasa sejak dahulu kala. Dibawah kepemimpinan Madara Uchiha, siluman-siluman di bawah kekuasaan Konoha berjaya. Mereka menguasai Konoha dan bukit-bukit sekitarnya, membangun tempat-tempat yang tak kalah angker.
Hingga akhirnya, manusia-manusia bodoh itu datang.
Bernama Hyuuga, ia mendatangi kediaman Uchiha, di pusat Konoha, sendirian. Baju putihnya dilumuri darah yokai, mata beningnya menusuk, tangannya tak melepas sebuah tongkat perunggu. Sebelumnya, tak ada siluman kecuali dari klan Uchiha yang menatap Madara langsung, dari mata ke mata. Namun manusia itu berani mengadahkan kepalanya, menatap mata hitam Madara.
Para pesuruh Madara siap menyerang manusia yang dianggap kurang ajar itu. Namun Madara menahannya. Ia menuruti permintaan manusia itu untuk berdiskusi dengan seringai di wajahnya. Hyuuga, pertapa atau biksu itu, meminta pada Madara agar menepi ke bukit hingga daerah ini dapat dihuni manusia.
"Bagaimana kau bisa sampai sini, Manusia?"
"Saya datang dari bukit Utara, melewati hutan dan sungai, lalu sampai kesini," jawabnya.
"Bertemu dengan para siluman?"
"Ya. Mereka menahan saya. Jadi, saya bunuh mereka semua," balasnya dengan tenang.
Dari sanalah dendam antara Hyuuga dan Uchiha dimulai.
Pengawal Madara melapor, seluruh yokai di Utara habis tak bersisa. Semuanya telah dibunuh oleh Hyuuga. Madara marah, klan Uchiha meledak. Ia turun tangan, bertempur langsung dengan Hyuuga. Satu klan yokai melawan satu manusia.
Manusia itu mendadak terduduk, tak menghindar serangan Madara di tengah pertempuran sengit.
"Saya hanya ingin manusia dapat tinggal di pusat Konoha," ucapnya perlahan. "Kalian dapat meminta syarat. Apapun itu, saya lakukan. Warga sangat gelisah dan ketakutan."
Madara mencibir, "Manusia lemah dan egois. Setelah membunuh semua yokai di Utara Konoha, kau memohon pada kami? Tidak tahu malu."
Namun manusia itu tak bergeming. Dipukuli berapa kali, ia tak kunjung ambruk.
"Desa sedang kekeringan. Satu-satunya mata air hanyalah dari daerah sini. Banyak manusia yang mati. Karena itulah…."
Madara tak mau dengar. Ia telah gelap mata karena Hyuuga telah membunuh seluruh yokai di daerahnya. Namun bertemu dengan Hyuuga sendiri adalah hiburan yang telah lama tak ia dapatkan. Jarang ada manusia sekuat ia. Madara pun haus darah.
"Kalian ingin tinggal disini?" sebut Madara. "Baiklah. Mari buat perjanjian."
Perjanjian yang mengijinkan manusia tinggal di pusat Konoha dan yokai akan menyingkir ke perbukitan dibayar dengan balas dendam atas yokai di Utara Konoha suatu saat nanti. Balas dendam itu bisa berupa apa saja dengan maksud menghabisi manusia dengan jumlah yang sama dengan yokai yang dihabisi Hyuuga.
Mereka berdua sekaligus membuat peraturan, bila ada yang melanggar batas daerah, jika itu yokai, akan dijadikan budak atau dibunuh di tempat. Namun jika itu manusia, akan dijadikan santapan yokai atau disiksa sampai mati.
Entah sudah berapa puluh tahun telah berlalu saat itu terjadi. Salah seorang pejabat klan Uchiha melanggar batas. Ia menculik seorang manusia dan menyantapnya hidup-hidup. Para Hyuuga yang menemukannya langsung membunuh yokai tersebut di tempat. Namun, karena posisi yokai yang cukup berpengaruh dalam klan Uchiha, para yokai pun mengamuk.
"Yah, itu bisa dikatakan benar. Dulu, klan Uchiha mengusai Konoha sampai akhirnya keluarga Hyuuga datang. Kami membagi wilayah—yokai dari klan Uchiha pindah ke perbatasan bukit-bukit yang lebih luas, sementara keluarga Hyuuga mengusai pusat, menjaga manusia-manusia yang membuat kota disana. Kami membuat perjanjian—tidak ada yang boleh saling mengganggu."
Sasuke menghembuskan napas, memejamkan matanya perlahan, "Tapi, salah satu anggota klan kami merusaknya."
Mata Hinata melebar, "Eh?"
"Yah, tentu dia dibunuh di tempat oleh onmyouji dari keluarga Hyuuga. Namun yokai itu mendapat kedudukan cukup penting di klan, membuat klan mengamuk. Saat itu, memimpin klan—Madara Uchiha—tak ada di tempat. Sejak melakukan perjanjian dengan Hyuuga, ia keluar dari Konoha, entah kemana. Yokai setinggi itu," nada sinis terdengar dari Sasuke, "dan semartabat itu mau melakukan perjanjian dengan onmyouji."
"Jadi… jadi pernah ada perang antara klan Uchiha dan keluarga Hyuuga?" desis Hinata.
Sasuke mengangkat bahu, "Klan Uchiha terbagi menjadi dua. Yang mempertahankan perjanjian dan yang terbakar dendam. Sayangnya, yang mempertahankan perjanjian hanya sedikit. Keluarga Hyuuga menganggap seluruh klan Uchiha berkhianat. Pada akhirnya, sehari sebelum klan Uchiha menyerang Hyuuga—keluarga Hyuuga datang, menyerang lebih dulu. Seisi klan mati tak tersisa," Sasuke membuka matanya, melirik Hinata yang mengerutkan alis.
"Kecuali aku dan Aniki, tentunya," tambah Sasuke sambil menghela napas.
Hinata memejamkan mata, membayangkan Sasuke dan Itachi tertinggal sendiri di sebuah rumah yang terbakar, saling menjaga dan melindungi, dikelilingi musuh mereka bertitel onmyouji. Di otaknya, tergambar sebuah rumah yang sudah seperti gubuk saking hancurnya. Dindingnya bolong dan hancur sana-sini, menyisakan puing-puing di sekitarnya. Ditambah dengan api yang menjalar, melalap rumah yang sudah bobrok itu. Lantainya terbuat dari kayu, berdecit, bahkan bisa patah.
Di sebuah ruangan yang sangat besar, yang terlihat lebih parah dibanding ruangan yang lainnya, berdiri seseorang, dengan mata semerah darah dan raut wajah tegas. Terlihat harga dirinya yang begitu tinggi hingga ia bertahan habis-habisan untuk tetap tegak, padahal seharusnya ia sudah ambruk. Di depannya, seseorang berbaju panjang khas Jepang, merapalkan mantra sambil terengah-engah. Yokai dan onmyouji, tentu saja. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Hinata. Matanya justru tertuju pada seorang remaja bertanduk merah yang terkapar di pojok ruangan. Darah berceceran di sekitarnya, badannya gemetar walau hanya untuk mengangkat wajah. Wajah itu, wajah Sasuke. Wajah tampan yang penuh luka dan kesakitan. Hinata beralih ke sudut lainnya, dimana seorang remaja juga terkapar tak berdaya, hilang kesadaran karena luka yang ia derita lebih banyak.
"Ayahku adalah salah satu yang menentang. Ia salah satu orang terdekat Madara Uchiha, sering dianggap pengganti kepala klan Uchiha saat Madara pergi. Malam itu, ia melawan kepala keluarga Hyuuga ke-7," lanjut Sasuke, malas-malasan melanjutkan.
Dan onmyouji dalam bayangan Hinata berteriak tertahan, menyarankan agar sang yokai menyerah, "Menyerah saja. Jika kau menyerah, kau dan keluargamu takkan kubunuh. Kujadikan kalian yokai-yokai milik Hyuuga terkuat."
Sang yokai mendesis, bahkan sempat meludah, "Tak sudi. Lebih baik mati daripada menjadi budak seorang onmyouji."
Onmyouji itu pun mengambil kertas mantra, bersiap-siap, "Baguslah. Aku pun tak sudi mempunyai budak sepertimu. Biar kuhabisi kau sekalian membalaskan dendamku!" dan mantra pun dibacakan, mengurung sang yokai yang menghindar. Yokai itu menyerang, sesekali menghindari mantra yang ditujukan olehnya. Pertarungan mereka cukup sengit dan berimbang hingga keduanya mengeluarkan jurus andalan masing-masing. Keduanya pun menyentuh tanah dengan semburan darah dan luka disekujur tubuh. Terbatuk-batuk, sang onmyouji mengangkat tangannya yang gemetar, menggambar sesuatu di udara dan membisikkan mantra.
Mata Hinata terpaku pada salah seorang remaja yang lebih tua dan berambut hitam panjang. Dari sela-sela rambutnya yang berantakan, mata merah darah itu terbelalak, seakan ingin keluar dari rongga mata, membuat Hinata mundur ketakuan. Tampaknya yokai muda itu tahu apa yang onmyouji lakukan. Teriakan kedua remaja itu saling menyambar begitu menerima mantra sang onmyouji.
Yokai yang sebelumnya bertarung dengan onmyouji membeliakkan matanya, mendesis tertahan, "kurang ajar…."
Kemahannya telah mencapai puncak begitu menyadari, kedua anaknya terkurung dalam mantra dan ia tak bisa melakukan berikutnya, yokai itu menutup matanya. Membunuh dirinya sendiri dengan kekuatan terakhir yang ia punya, sebelum melihat anaknya menjadi budak onmyouji.
Derap suara kaki terdengar makin keras. Kayu-kayu mulai roboh terkena api. Pintu kayu yang sudah lapuk itu terbuka, menampakkan para onmyouji yang telah mengepung gubuk ini. Erangan kedua yokai remaja masih terdengar. Keduanya mengejang, terlihat sangat kesakitan. Sementara itu, sang onmyouji dipapah teman-temannya dan membawa kedua yokai remaja itu.
"...Nata!"
"Hinata!"
Kedua mata Hinata mengerjap-ngerjap. Pipinya terasa basah. "Eh?"
"Kau menangis," dengus Sasuke.
"Ti-tidak," sangkal Hinata yang jelas-jelas menghapus air matanya, "Aku hanya… hanya… bagaimana kau bisa menceritakan itu dengan santainya?"
Sasuke mengangkat bahu, "Yah, itu kan sudah lama sekali."
"Ta-tapi…," tangan Hinata menarik lengan baju Sasuke, mulutnya terbuka tanpa suara, seakan tertahan untuk mengatakan sesuatu.
"Apa? Tapi apa?" mata gelap Sasuke menatap Hinata yang masih tercekat. Ia sudah membaca pikiran Hinata, tapi tetap ingin gadis itu mengatakannya langsung.
"Ta-tapi a-apakah… a-apakah kau membenciku?"
Sasuke tak bisa menahan tawanya. "Tentu saja tidak. Kalau iya, aku sudah membunuhmu dari dulu, bukan melatihmu menjadi onmyouji."
Wajah Hinata memerah menyadari pertanyaan bodohnya, "La-lalu bagaimana bisa kau jadi… maksudku, awalnya kau pasti tak mau menjadi yokai—"
"Menjadi budak Hyuuga? Tentu aku tak mau. Dan aku bukan budak," ucap Sasuke. "Aku adalah kau. Berarti derajatku sama denganmu kan?"
"Tapi kau lebih banyak membantuku!"
"Dan makananku untuk bertahan hidup itu darimu. Kau tahu, salah satu alasan aku memilihmu adalah, karena kau yang paling bodoh diantara saudara-saudaramu."
Seketika hati Hinata mencelos, wajahnya menunduk, tak percaya Sasuke berkata seperti itu.
"Ketua klan sebelumnya berkata bahwa cara belajar yang paling cepat adalah dengan mengajar. Hal itu sudah dibuktikan oleh Sai dan Aniki, jadi aku merasa harus membuktikannya. Jadi aku memilihmu, agar bisa mengajarimu semua yang kubisa, hingga kau menjadi yang terkuat. Dulu, kau memang yang paling bodoh, tapi sekarang?"
Hinata mengangkat kepalanya, menatap mata gelap itu. Tangan Sasuke menepuk kepalanya pelan, membuatnya tenang. Dan mata itu menunjukkan ambisi. Kini Hinata mengerti. Ambisinya menjadi yang paling kuat masih ada, dengan cara mengajarkan orang lain untuk menjadi kuat. Dan orang itu adalah Hinata.
"Ki-kita… kita pasti akan jadi yang terkuat di Hyuuga, Sasuke," bisik Hinata. "Jika kau kuat, maka aku akan ikut menjadi kuat. Karena aku adalah kau dan kau adalah aku, kan?"
Seringai itu muncul menghiasi wajah tampan Sasuke. Ia mengacak-acak rambut Hinata, "Hn."
"Madara Uchiha ya?"
Hinata memejamkan matanya. Mereka berada di ruang ayahnya, rapat soal serangan Karin tadi siang. Sang ayah duduk di hadapannya, mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Gerak-gerik sang ayah sama halnya dengan Neji—waspada, curiga, agak aneh. Beda dengan Sasuke yang terasa gelisah namun marah, kesal namun ada sesuatu rasa… seakan-akan hal ini adalah yang ia nantikan. Aneh, Hinata tak bisa menggambarkannya. Ada sedikit rasa excited namun diliputi rasa cemas.
"Bagaimana menurutmu, Itachi? Sasuke?" tanya Hiashi. Yokai di sebelahnya membungkuk, begitupula Sasuke.
"Saya pikir, omongan Karin hanyalah bualan," ucap Itachi tenang. "Memang benar, cepat atau lambat, Madara akan kembali. Namun ini bukanlah gayanya—mengirim yokai lemah untuk menantang kita… Dia lebih suka menantang musuhnya secara langsung."
Hiashi mengusap dagunya, berpikir. Matanya beralih ke Sasuke, "Bagaimana denganmu?"
"Pendapat saya sama dengannya," jawab Sasuke. "Namun, bisa jadi ini pertanda Madara akan muncul."
Kalimat Sasuke membuat Hiashi menegakkan badannya dan Itachi mengadahkan kepalanya. Keduanya, termasuk Hinata, menatap Sasuke.
"Mengenal Karin, setahu saya, dia mudah terpancing. Selain itu, dia sangat mengagumi klan Uchiha—bahkan dapat dikatakan mengabdi pada klan Uchiha. Saat klan Uchiha hancur, tumpuan hidupnya tak ada lagi, kecuali kembalinya Madara—"
"Ah, aku mengerti maksudmu," potong Itachi. "Walaupun kembalinya Madara masih gosip belaka di dunia sana, tapi Karin sudah meyakininya dan berusaha memancing kita, begitu bukan?"
Sasuke mengangguk. Hiashi pun menggumam, "Itu bisa saja terjadi."
"Kalau begitu, sebaiknya tak usah kita hiraukan bukan? Apalagi sepertinya itu hanya gosip," Neji angkat bicara.
"A-anu…," Hinata membulatkan suara, bersiap agar suaranya lebih tegas. "Me-menurutku, kita harus tetap bersiaga. Gosip itu timbul karena ada sesuatu yang memancingnya kan? Setidaknya jika Madara Uchiha benar-benar datang, kita mempunyai pertahanan yang siap. Lagipula menurutku… ji-jika Karin sudah menantang seperti ini, berarti gosipnya berasal dari orang yang terpercaya kan? Ka-kalau hanya gosip biasa, terlalu nekat untuk datang sendiri ke kawasan Hyuuga."
Pendapat Hinata pun membuat semuanya kembali berpikir. Gadis itu menghela napas lega, mengatur kembali jantungnya yang berdetak. Matanya melirik Sasuke yang menyeringai kecil, puas dengan komentarnya. Memang tadi Sasuke memintanya untuk berani mengeluarkan pendapat, salah satu pelatihan sebagai Ketua Klan.
"Itachi, bagaimana menurutmu?" tanya Hiashi. Itachi membungkuk pelan, "Saya setuju dengan pendapat Hinata-sama. Jikalau itu benar-benar hanya gosip, tak ada buruknya memperkuat pertahanan, bukan?"
Hiashi mengangguk, "Baiklah! Perketat penjagaan dan perkuat pertahanan di Konoha! Namun, jangan sampai penduduk kota tahu. Jalankan latihan intensif bagi pada onmyouji baru!" Hiashi lalu menatap Neji dan Hinata, "Kalian berdua, juga ikut latihan intensif. Ajak Hanabi juga. Terutama kau, Hinata. Ini latihan yang bagus untukmu."
Hinata dan Neji mengangguk. Rapat pun dibubarkan. Beban di pundak Hinata terasa makin berat. Ia tak bisa lagi latihan main-main seperti kemarin. Kini saatnya serius. Lagi-lagi matanya melirik Sasuke. Yokainya itu sepertinya sudah tak sabar lagi. Entah tak sabar untuk mengajarnya atau tak sabar untuk menghadapi Madara Uchiha—yang bahkan keberadaannya belum diketahui.
Aduh, gaada cliff-hanger nih *dijitak* maklum, author sibuk *ditimpuk* Maaf beribu maaf karena telat update. Dan lega banger AKHIRNYA meng-update chapter penuh perjuangan ini. Karena di chapter ini masa lalu Sasuke terkuak (caileh bahasanya) dan author maunya dia cerita sendiri, tapi takut OOC. Jadi begini deh hasilnya.
Setiap Sasuke ngomong dan masa lalu dipisah dengan garis yaaa... jadi Sasuke cuma ngomong se-sedikit itu, tapi yang flashback Hinata liat langsung dibayangannya. Jadi sambil dengerin Sasuke cerita, Hinata ngebayangin-yang sebenernya itu Hinata mengintip langsung memori Sasuke. Begonoo... agak susah juga yah mendeskripsikannya -,-a
Minna-san, ada yang nunggu OMAKE? ;;)
OMAKE:
"Terima kasih atas kerja kerasnya!"
Rapat telah bubar. Hinata dan Neji pun sudah keluar dari ruang rapat. Kedua saudara itu saling berpisah menuju kamar masing-masing setelah saling mengatakan, "Oyasumi."
Hinata sendiri masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Jantungnya masih berpacu cepat karena berhasil angkat bicara saat rapat. Ia berhasil mengalahkan rasa gugupnya, menyudahi perang dalam pikiran dan hatinya yang melelahkan.
"Hinata."
Gadis itu mendongak, setengah sadar. Sasuke berada di sampingnya, menahan geli. "Kau itu rumit sekali."
"Ah?" Hinata belum seutuhnya kembali ke tempatnya berpijak. Setengah pikirannya masih melayang kemana-mana.
"Pikiranmu. Untuk apa memikirkan sesuatu yang telah lewat? Sampai-sampai kau lupa sudah ada di depan kamar."
Hinata tertegun. Sesaat kemudian, ia sadar, telah terdiam di depan pintu kamar selama 5 menit lamanya. Sambil menahan rona merah di wajah, ia membuka kamarnya cepat-cepat. Namun, seseorang menahan tangannya.
"Sasuke?" Hinata menelengkan kepalanya, bingung.
Yokai itu menyeringai, mendekati wajah Hinata, membisikkan kata-kata tepat di telinga Hinata yang makin memerah, "...tapi aku bangga karena kau berani bicara tadi."
Hinata mematung di mulut kamar. Sekujur wajahnya semerah mawar. Persendiannya terasa lemas, hingga tanpa sadar, ia mencengkram ujung baju Sasuke. Jarak antara ia dan Sasuke semakin menyempit, dan Hinata tak tahu lagi apa yang ia rasakan. Mati rasa.
"Teruskan semangatmu," tambah Sasuke, mengecup pelan Hinata, tepat di antara telinga dan pipinya. Lalu yokai itu menghilang tanpa ijin, sebelum Hinata sempat protes atau bahkan mengatakan satu kata pun. Gadis itu masih membeku di pintu kamarnya, lama, membiarkan rona merah menjalar di sekujur tubuhnya, tanpa sadar kalau Sasuke memperhatikannya dari jauh, menikmati wajah manis Hinata.
Now, balesan review~:
: uhm! bener bangeet! nah, dinding Sasuke ini udah hampir dihancurkan oleh ke-kepo-an Hinata :))
Mangkoxdesu: arigatoouuu~! udah update~
Dai Dandelion: ugh, saya bertanggung jawab dengan menjawab sebagian pertanyaan kamu di chap ini! pertanyaan yang belum kejawab, silahkan ber-kepo ria yaa ufufufuuu... *authorsadis*
Suzu Aizawa Kim: cerita Sasuke ke Hinata ituu telah diceritakan di chap ini^^
Mamoka: semoga ini gak terlalu lamaa~ ^^
Adele Lidya: hai hai, udah cukup panjang? ;)
AngelOfDeath: uhm, iya soalnya udah mau sampe pokok permasalahan... semoga OMAKE chap ini memuaskan ya ^^
HyuUchi May: waduh, gatau sampe chap berapa. Dulu niatnya sampe 7 chapter aja, sekarang chapter 7 baru dimulai konfliknya -_-V maklum, author moody
