Halo semua!

Saya datang kembali dengan chapter ke delapan. Kali ini Hinata masih belum bisa baca pikiran Sasuke *sigh* mungkin chapter depan ya. Doakan cerita ini gak meleber kemana-mana.

Yosh, gausah cas-cis-cus, langsung aja!


Naruto bukan milik saya kok ^^


Chapter 8:

Hari itu, perasaan Hinata melambung.

Ia mendapat pujian dari Sasuke dan Neji—dua orang (satunya yokai, sih) yang sangat ia kagumi. Selain itu, ia juga mengalahkan Hanabi dengan teknik yang baru dikuasainya.

"Bagus, Hinata! Sekarang, coba bertarung melawanku," Neji memasuki arena, mempersiapkan diri.

"A-aa—" Hinata yang masih ngos-ngosan mengangkat tangan, "Bi-bisa… hh… break sebentar?"

Neji melirik Sasuke. Yokai itu menggeleng pelan, "Saat kau berhadapan dengan Madara nanti, ia akan langsung membunuhmu sebelum kau sempat mengangkat tangan."

Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Sasuke itu, serangan mantra telah menghantam Hinata. Neji tak segan-segan lagi. Tanpa sudi melihat keadaan Hinata yang ambruk di tepi arena, ia memejamkan mata, mengucapkan kembali mantra.

Terengah, Hinata mengeluarkan kertas kekkainya dan mengucapkan mantra pelindung. Sambil mengatur napas, ia menahan serangan terus-menerus Neji. Ia tahu, ia tak bisa terus menerus bertahan. Neji sama halnya dengan Hanabi, ia harus menyerang.

Sambil menambah kekkai pertahanannya, Hinata menggambar sebuah tanda penuh lambang-lambang dan tulisan tak terbaca sambil mengucapkan matra dengan kertas kekkai di mulutnya. Ia tak punya waktu lagi, kekkai terakhirnya menipis. Di kekkai terakhir, Neji pasti akan meloncat dan menyerangnya langsung.

Benar saja, begitu Hinata tak memiliki kekkai lain untuk melindunginya, Neji berlari dan meloncat, hendak menyerangnya langsung. Berasamaan dengan itu, Hinata membuat gerakan dengan tangannya mengeluarkan cahaya biru dari lambang yang ia buat, membuat Neji sukses menyentuh tanah.

Masih terengah-engah, Hinata kembali membuat lambang yang lain, kali ini lebih kecil. Sementara Neji mulai bangkit, Hinata langsung menyerang Neji bertubi-tubi, tak memberikan celah bagi Neji untuk melawan. Namun Neji ternyata telah memiliki kekkai yang cukup kuat. Tanpa Hinata sadari, saudaranya itu telah membuat lambang lain di udara, dan menyerang Hinata dengan kekuatan yang tak kalah besarnya. Hinata terlempar ke ujung arena, kepayahan, terengah-engah.

"Yak, Neji-nii pemenangnya!" seru Hanabi.

"Kau sudah banyak berubah, Hinata," puji Neji seraya melemparkan sebotol air mineral kepada Hinata. Gadis itu masih terlalu letih untuk menjawab, hanya bisa menangkap botol pemberian saudaranya itu dan mengangguk pelan.

"Tapi tetap saja kau kurang menyerang," tambah Neji. Seperti biasa, selanjutnya Neji, Sasuke, bahkan Hanabi memberi nasihat-nasihat kecil untuk Hinata. Masukan-masukan yang selalu Hinata pikirkan, namun susah ia terapkan. Hanya beberapa yang berhasil ia terapkan. Pada dasarnya, ia memang dilatih untuk defensif, namun karena posisinya sekarang, ia harus berubah haluan.

Hinata menatap nanar kedua saudara dan yokainya sambil mengelap keringat di wajahnya. Suara-suara Neji dan Hanabi terasa samar. Pikirannya melayang kemana-mana. Banyak hal yang telah berubah. Semuanya terjadi semenjak ia diumumkan menjadi ketua klan berikutnya. Sejak ia melakukan ikatan sejati dengan Sasuke, yokai ber-klan Uchiha, salah satu klan yokai terkuat.

Hinata akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa ia-lah ketua klan berikutnya. Bukan saudara-saudaranya, Neji yang lebih kuat dan Hanabi yang lebih tegar. Mengikuti rapat pendiri klan bersama onmyouji-onmyouji kuat tiap minggunya, merubah haluan dari defensif ke ofensif, melupakan kehidupan remajanya dengan memerangi yokai-yokai setiap harinya.

"Hinata?"

Gadis itu kembali ke dunia nyata. Neji dan Hanabi masih berdebat kecil soal mantra apa yang lebih pantas digunakan Hinata, sementara Sasuke menatapnya.

"Y-ya?" jawab Hinata, agak salah tingkah diperhatikan sebegitu rupa oleh Sasuke. Tangan yokai itu terulur padanya dan berkata, "Ayo, bangun."

Hinata tersenyum. Ia gapai tangan dingin yokai itu, membiarkan tubuhnya ditarik hingga bangkit.

"Masih kuat, Hinata?"

Gadis bermata bening itu mengangguk semangat, "Ya. Mohon bantuannya, minna!"


Kediaman Hyuuga adalah rumah besar bergaya Jepang yang sangat luas. Gedung utama berbentuk "U" besar, dengan deretan Pohon Sakura di tengah-tengah bangunan utama, dan bangunan-bangunan besar dengan satu atau dua ruangan mengelilingi gedung utama yang biasa disebut anak gedung. Di depan atau belakang anak gedung biasanya terdapat kolam kecil berbingkai batu-batu dengan bambu di tengah-tengahnya atau taman batu-batuan khas Jepang. Kediaman Hyuuga sendiri dikelilingi dinding sebagai pagar dan pintu gerbang dari kayu. Terdapat juga dojo dan lapangan untuk berlatih di luar ruangan.

Hidup di tempat seperti itu, bagi Hinata, bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika diminta untuk mencari orang keliling rumah. Atau tiba-tiba kau menabrak seorang onmyouji berwajah angker di koridor. Atau saat kau dihukum atau diminta membantu membersihkan seluruh rumah. Belum lagi pengurusan taman dan tanaman-tanaman.

Namun, hal yang paling Hinata suka dari rumahnya adalah kamarnya dan kolam kecil di depan kamarnya. Saat Hinata penat, bingung dan sedih, ia selalu beristirahat di kamarnya, memejamkan mata, dan mendengar suara bamboo mengalirkan air, lalu kembali tegak.

Seperti saat ini.

Hinata tidak penat ataupun pusing, tapi ia memikirkan tanggung jawabnya. Menjadi ketua klan tidaklah mudah, dengan kemampuannya sekarang ini. Memang, ia masih lama mengemban tugas itu, tapi siapa yang tahu? Menjadi onmyouji yang menjadi penduduk di tengah-tengah sarang yokai seperti ini harus siap mati kapan saja. Itu adalah hal yang telah lama ia ketahui. Sering melihat upacara kematian atau tidak sama sekali—hanya kabar hilang—membuat Hinata mengerti dengan sendirinya.

Belum lagi masalah yang dihadapi oleh klan.

Madara Uchiha.

Hinata memejamkan mata. Ia masih penasaran dengan Sasuke. Jujur, ia sendiri gemetar mendengar nama Madara Uchiha diucapkan. Kepala klan Uchiha. Hinata saja tak bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuatan Sasuke maupun Itachi.

Bagaimana jika Sasuke dan Itachi ditarik oleh Madara Uchiha, dan mereka membangun klan Uchiha kembali dengan yokai-yokai lainnya? Haruskah mereka, Hyuuga, bertarung dengan klan Uchiha? Klan yang selama ini memberikan bantuan besar dari kekuatan yokai mereka.

Hinata membayangkan, tangan Sasuke yang tadi terulur padanya menjauh saat akan ia gapai. Semakin Hinata menjulurkan tangannya untuk meggapai tangan Sasuke, semakin jauh tangan itu. Bahkan Hinata harus berlari dan mengejarnya. Hingga akhirnya tangan itu terhenti. Gadis itu semakin bersemangat, berusaha menyentuh tangan Sasuke. Tapi begitu ia genggam, tangan itu berbeda. Tidak menggenggamnya balik, tidak menariknya dan—Hinata akhirnya sadar—itu bukan tangan Sasuke.

Tangan itu hanya sepotong, tiba-tiba mengucurkan darah yang banyak, menciprati baju dan muka Hinata. Gadis itu ingin berteriak, tapi lehernya tercekat. Tercekat karena ada segugus tangan berlumuran darah, mencengkram tangannya hingga kulit putihnya lecet.

Hinata tahu tangan ini.

Tangan Sasuke.

"Sasuke!"


Hinata membuka matanya, menemukan mata hitam pekat Sasuke di depannya. Wajahnya datar seperti biasa, namun Hinata merasakan aura kecemasan terhampar di depannya. Tangan Sasuke mencengkram tangannya, namun tidak sampai membuat lecet—hanya untuk membangunkannya.

"Hinata?"

Hinata merasakan air turun dari matanya, mukanya merah dan badannya gemetar. Ia raih kedua tangan Sasuke, merasakannya sebelum—Hinata tak ingin melanjutkannya. Ia baru saja mengerti Sasuke sedikit, bahkan belum bisa membaca pikiran Sasuke. Ia tak ingin Sasuke pergi.

Lama kelamaan isakannya berubah menjadi tangisan. Ketakutan itu begitu besar menyelimuti Hinata. Bagai domino, ketakutan itu menyenggol ketakutan lainnya hingga semua ketakutannya bangkit dan membuatnya seperti pengecut.

Hinata benci dirinya yang seperti ini.

Ia coba membuka mata, memberanikan diri melawan rasa ketakutannya. Tanpa sadar, ia sudah berada di pelukan Sasuke, masih menggenggam sebelah tangan Sasuke, sementara tangan Sasuke yang lain mengelus punggung dan rambutnya pelan. Gerakan pelan Sasuke itu cukup membuatnya tenang. Isakan Hinata memelan, tubuhnya lemas. Benar-benar memalukan, bukankah ia sudah bertekad untuk kuat? Sekarang ia malah menangis di depan Sasuke.

"Tak apa kalau mau menangis."

Hinataa terdiam, tak menjawab. Ia membenamkan wajahnya di pelukan Sasuke, tak ingin yokai-nya itu melihat wajahnya.

"Tak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, Hinata," ucap Sasuke tenang, masih menepuk-nepuk kepala Hinata. Ia mengangkat kepala Hinata—yang keberatan, tapi tak kuasa menolak saking lemasnya. Mata hitam pekatnya menatap Hinata lurus-lurus.

Hinata mengalihkan pandangannya, beberapa kali memejamkan mata dan menghapus air mata di pipinya. Wajahnya dan Sasuke hanya berjarak beberapa senti, membuat Hinata tidak nyaman. Ia melupakan masalahnya—yang padahal baru kemarin ia diskusikan dengan Sakura. Tanpa sadar, tangannya mengelus dada, merasakan degup jantungnya yang berpacu lebih cepat daripada biasanya, wajahnya yang terasa panas (entah karena menangis atau karena blushing) dan tubuhnya yang lemas.

Sasuke menyandarkan kepala Hinata dengan kepalanya, masih menatap Hinata. "Kau adalah aku. Jadi aku tahu apa masalahmu."

Punggung Hinata bergetar, naik-turun. Matanya tak bisa lepas dari mata hitam Sasuke yang menatapnya lurus-lurus. Wajah mereka begitu dekat, bahkan hidung keduanya hampir bersentuhan. Hinata memejamkan matanya, mengatur napas dan detak jantungnya yang tak beraturan. Napas Sasuke terasa di pipi dan hidungnya, menggelitik wajahnya. Namun entah mengapa, ia merasa nyaman dan lebih tenang.

"Ceritakanlah padaku," ujar Sasuke.

Hinata memejamkan matanya, mulai bercerita. Sesekali air mata keluar dari mata Hinata yang terpejam. Gadis itu membiarkan yokai itu menepuk-nepuk rambutnya, menenangkannya. Begitu Hinata selesai bercerita, keduanya terdiam. Sasuke tak berkata apapun, namun terlihat sedang berpikir. Hinata dapat merasakan perasaan sedih—seperti ada kenangan yang berputar di benak Sasuke, walaupun ia tak tahu kenangan apa itu. Hinata mengangkat kepalanya, menatap Sasuke dengan sedikit bingung. Meskipun begitu, wajah yokai-nya itu tetap saja datar.

"S-Sasuke?"

Sasuke mengalihkan pandangannya. "Tidak, aku hanya… memiliki sedikit ingatan tentang orang tua itu."

Mata Hinata mengerjap-ngerjap, menunggu Sasuke untuk menceritakannya. Ia merubah posisi duduknya, bersiap mendengarkan cerita Sasuke.

Sasuke melirik mata Hinata yang berbinar, menunggu ceritanya, lalu menghela napas, "Yang memungutku pertama kali adalah kakekmu itu. Ketua Klan ke-7 tewas tak lama kemudian, lalu kakekmu diangkat menjadi Ketua Klan berikutnya. Masalah pertamanya adalah menghadapi dua yokai remaja yang ditahan."

Lagi-lagi, Hinata seakan melihat film. Matanya membulat begitu di kepalanya terbayang kakeknya saat muda—mirip dengan Neji—yang berjalan sendirian di sebuah lorong gelap. Ia berhenti di depan kekkai berlapis-lapis tembus pandang yang dilapisi balok-balok kayu—sebuah penjara untuk yokai. Bibirnya menyungging senyum tipis melihat dua pasang mata gelap menatapnya tajam.

Itachi dan Sasuke Uchiha.

Keduanya tak berubah banyak, Sasuke masih sama persis seperti yang ada di hadapan Hinata dan Itachi masih seperti yang ia lihat tadi malam. Perbedaan keduanya dengan sekarang hanyalah baju mereka yang masih berciri khas Uchiha dan lusuh. Selain itu, kalau diperhatikan, wajah mereka yang dulu terlihat liar, tak terkendali, dan buas. Melihat mereka seperti itu lebih mirip binatang dibanding yokai.

"Aku membutuhkan yokai untuk mendapingiku dalam bekerja," ucap Ketua Klan tenang. Kedua yokai itu menatapnya tajam, tak menjawab.

"Kalian mau kulepaskan?" tanyanya lagi. Namun tetap tak ada yang menyahut.

"Kalian adalah milik Hyuuga sekarang. Mengabdilah!"

Geraman terdengar. Sasuke menggertakan giginya, emosinya terpancing. Sementara tatapan Itachi semakin tajam, namun tak bereaksi.

Akhirnya, Itachi menyahut,"Kami, klan Uchiha. Bukan budakmu."

"Benar," sahut Hyuuga. "Kalian akan jadi pendamping-ku. Sejajar denganku. Bukan budak."

Sasuke menggeram lagi, "Coba saja."

Hyuuga terdiam, mengamati keduanya. "Namun, aku butuh pendamping yang sama kuatnya. Sekuat apakah kalian?"

Kali ini dua-duanya terpancing. Mereka memasang kuda-kuda, menampakkan taring dan gigi mereka yang tajam. Matanya mengikuti Hyuuga yang mondar-mandir di depan penjara. Seakan bergumam sendiri, Hyuuga itu terus berbicara, "Manakah yang lebih kuat di antara kalian berdua? Aku membutuhkan yang terkuat, yang terbijak, yang terbaik. Bagaimana aku bisa tahu kemampuan kalian?"

Sasuke sudah hampir menerjang Hyuuga—walaupun sebenarnya akan sia-sia karena ada kekkai yang menahannya—begitu akhirnya Hyuuga menepuk tangannya.

"Ah! Aku tahu," ujarnya dengan senyum. "Akan kubebeaskan kalian dengan satu syarat," Mata beningnya menatap kedua bersaudara Uchiha tajam, tinggi, dan agak sombong, "Coba bunuh aku."


"Mengetes kalian dengan mencoba membunuhnya?" Mata Hinata membulat tak percaya. Sasuke menyeringai. "Dia bilang, kami boleh membalas dendam kematian ayah kami dengan membunuhnya. Sekali ia mati, Hyuuga juga akan hancur karena penggantinya masih kecil. Ia menantang kami untuk membunuhnya tanpa memakai cara curang, seperti menahan salah satu anggota keluarga atau membakar rumah. Karena baginya, cara seperti itu hanya untuk pengecut. Aku dan Aniki terbakar emosi, menerima tantangannya tanpa pikir panjang."

Hinata takjub dengan pemikiran kakeknya sekaligus khawatir. Bagaimana bisa ia mengorbankan dirinya? Kalau Sasuke berhasil membunuhnya, bagaimana klan Hyuuga? Penasaran, ia terus meminta Sasuke bercerita.

"Semenjak itu, kami berusaha membunuhnya dengan semua hal yang kami bisa. Api, pisau, semuanya! Mulai dari bekerja sendiri-sendiri hingga bekerja sama."

Gadis berambut gelap itu tersenyum geli memikirkan Sasuke dan Itachi bersusah payah membuntuti kakeknya, mengintip dari balik kamar, menunggu kakeknya lemah. Ia tak tahu kakeknya sekuat itu hingga dua yokai dari keluarga Uchiha pun tak bisa membunuhnya. Di kepalanya mulai terbayang aksi kedua bersaudara itu merencanakan pembunuhan kakeknya.

"…hingga suatu saat, saat kami berdua bekerja sama—aku bersembunyi di balik dinding kamarnya sementara Itachi berada di atas atap. Di dalam, orang tua itu sedang menerima tamu pribadi…."

Di dalam kepalanya, mulai terbayang kedua yokai itu berjaga di tempat masing-masing, siap menyergap kakeknya. Tamu pribadi kakeknya itu tak terlihat, seperti tertutup kain hitam. Hinata tahu, itu mata-mata dan koresponden kakeknya. Beliau memang dikenal mempunyai banyak koresponden dan mata-mata dimana-mana. Hinata kebingungan begitu melihat Sasuke makin mendekat, tubuhnya menegang.

"…begitulah. Ia menyuruh salah satu Uchiha melanggar perjanjian dan mengacamnya. Akhirnya, para Uchiha pun terbakar emosi saat klan-mu menghukum yokai yang melanggar peraturan itu. Terjadilah peperangan."

"Maksudmu, dia mengadu domba kami?" Hyuuga mengelus dagunya. "Apa alasannya?"

Tamu-nya menghela napas, "Kau tetu tahu Madara Uchiha. Itu semata-mata karena ia haus darah. Ia tak nyaman dalam keadan damai. Perang, darah, luka, mengahabisi nyawa yokai—entah itu Uchiha atau bukan—atau menghabisi manusia adalah obsesinya. Hobinya. Tujuannya. Ia memiliki kesenangan pribadi untuk melihat orang-orang menderita. Tak peduli itu klan-nya sendiri atau bukan, manusia atau yokai."

Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Separah itukah Madara Uchiha? Gadis itu menutup mulutnya, melirik Sasuke. Yokai itu membatu dibalik dinding, wajahnya tak terbaca.

Tamu itu bangkit, "Sepertinya kita sudahi dulu, Hyuuga. Sepertinya peliharaanmu daritadi mencuri dengar percakapan kita."

Hyuuga tersenyum tipis. "Betul. Terima kasih atas informasinya. Kebetulan, kedua anak itu Uchiha."

Tamu itu berdecak, menggeleng pelan, lalu pergi. Ia sempat melirik Sasuke dibalik dinding—yang tak bergerak, membeku, tak sempat bersembunyi. "Kau beruntung bersama Hyuuga dibanding bertahan dengan pemimpin gila klan-mu itu," desis tamu itu, lalu menghilang.

"Turunlah Itachi," terdengar Hyuuga berseru pelan hingga terdengar suara ribut di atas atap. "Dan kau juga, Sasuke. Masuk," perintahnya terdengar tegas.

Kedua bersaudara itu masuk ke dalam kamar, wajahnya tak terbaca. Hyuuga menatap mereka lekat-lekat, menunggu keduanya berbicara. Namun tak ada suara yang terucap ataupun keluar dari keduanya.

Hyuuga menghela napas, "Kalian mendengarnya, bukan?"

Sasuke mendengus, sementara wajah Itachi tak terbaca. Hening kembali merasuk, sementara Hyuuga mulai mondar-mandir di depan kedua yokai itu. "Maafkan aku, aku tak bermaksud…," ia terhenti, tampak bingung akan mengatakan apa, lalu menghela napas dan duduk kembali.

"Baiklah," ucapnya seraya menatap kedua yokai itu lekat-lekat. "Kalian telah mengetahui kenyataannya. Sekarang, apa yang kalian laklukan? Menyusul Madara?"

Keduanya saling berpandangan. Lalu perlahan, Itachi membuka mulut, "Benarkah kabar itu?"

Hyuuga mendengus, "Dia salah satu kepercayaanku."

"Bagaimana kalau kau membohong dan menjebak kami?" sela Sasuke. Hyuuga mengangkat alis, menatapnya tajam, "Kau mencuri dengar percakapan penting—bagaimana bisa aku mengatur percakapan penting itu dengan kalian yang hendak membunuhku?"

Sasuke mau membalas lagi, namun Itachi mengangkat tangannya, "Siapa dia? Kenapa dia tahu begitu banyak soal Madara—yang kami sendiri bahkan tak tahu."

"Dia adalah… namanya Danzo. Mungkin kalian tahu," mata bening Hyuuga mengawasi gerak-gerik dua bersaudara itu. Keduanya saling lirik, meningkatkan kewaspadaan begitu mendengar nama itu.

"Danzo… kepala sub-klan Uchiha yang sangat dipercaya oleh Madara," desis Sasuke. Itachi mengangguk, lalu mengalihkan pandangan ke Hyuuga. "Bagaimana bisa dia menjadi korespondensimu?"

Sebelum Hyuuga berbicara, Sasuke memotongnya, "Sub-klan itu sudah dimusnahkan oleh Madara-sama, bukan? Ingat, Sai salah satu sub-klan itu dan dia menghilang?"

Itachi menggumam pelan, sedikit mengangguk, membenarkan. Sementara, Kepala Klan ke-8 itu ikut berbicara, "Benar, ia menceritakan itu padaku. Sebagai orang kepercayaan Madara, ia diberi tahu rencananya untuk mengadu domba klan-nya sendiri dengan Hyuuga. Saat ia mengingatkannya tentang perjanjian, Madara juga mengingatkannya dengan syarat yang dulu dibuat oleh pendahulu Hyuuga saat datang pertama kali ke Konoha."

"Syarat apa itu?" tanya Itachi.

"Balas dendam dengan membunuh semua manusia. Madara tak tahan menunggu lebih lama. Meski itu berarti mengorbankan kaum dan klan-nya sendiri."

Sepi menyelimuti mereka hingga Sasuke kembali berbicara, "Sai dan sub-klannya memang menghilang sebelum peristiwa itu terjadi."

"Semuanya jadi cocok bukan?" ujar Hyuuga. "Sub-klan yang dipercayai Madara menghilang, diikuti dengan rencananya memancing kemarahan Hyuuga dan Uchiha secara bersamaan."

"Berarti," Sasuke mengangkat kepalanya, ada kilatan marah dan dendam di matanya dan ekspresi wajahnya mengeras, "Secara tidak langsung, Madara menghancurkan klan-nya sendiri? Bahkan membunuh ayah kami?"

Wajah Kepala Klan ke-8 menggelap, muram, "Itulah yang kutakutkan. Madara mempunyai ambisi—" ucapannya terhenti untuk menghentikan serangan Uchiha bersaudara. Kedua yokai itu menyerangnya bersamaan—mumpung ia lemah. Namun ia tak semudah itu dikalahkan. Dengan sekali usap, ia jatuhkan api Sasuke yang mengincarnya dan pedang Itachi yang hampir menyentuh lehernya, lalu melanjutkan dengan tenang, "—dan haus darah. Kalian tahu itu kan? Ia percaya bahwa sub-klannya itu telah musnah, telah ia hancurkan, namun sebenarnya beberapa dari mereka selamat dan berada di dalam perlindungan keluarga Yamanaka, kerabat klan Hyuuga."

Sasuke menghilang sementara Itachi menyambar pedangnya, keduanya kembali menyerang Hyuuga yang masih duduk santai. Sasuke menyergapnya dari belakang, sementara Itachi melengkapi pedangnya dengan api biru. Namun Ketua Klan ke-8 itu telah memasang kekkai di sekelilingnya. Ia menghela napas, "Jadi, apa yang akan kalian lakukan?"


"Jadi apa yang kalian lakukan?" tanya Hinata, penasaran.

"Kami menyerangnya lagi, hingga kakek tua itu terluka pipinya. Semuanya jelas setelah itu. Dengan mudah, Aniki mengetahui alasan mengapa kakek tua itu ingin kami membunuhnya," dengus Sasuke.

"Memang apa alasannya?"

"Mudah saja. Dia tahu kami belum terlatih benar. Karena itulah dia melatih kami dengan menyuruh kami membunuhnya sehingga pelan-pelan kami belajar dan berlatih. Bahkan ia menyiapkan taktik, sehingga kami terasah menganalisis masalah dan menyelesaikannya dalam perang atau petarungan. Begitu susah membunuhnya sehingga kami harus bekerja sama—dan itulah tujuannya yang lain. Mengajarkan kami—yokai yang biasa bekerja sendiri-sendiri—untuk bekerja sama."

Mata Hinata membulat. Ia kembali takjub oleh kakeknya sendiri. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk melakukan hal seperti itu.

"Singkatnya, kami sadar semua tipu muslihatnya, tapi begitu kami mendengar pembicaraannya dengan Danzo—satu klan dengan Sai, sekarang mereka mengabdi pada keluarga Yamanaka, kami memutuskan untuk mengabdi padanya. Hanya ia yang kuat menanggung kami dan melatih kami berdua sekaligus, sehingga kami pun menurutinya, sekaligus ingin membalaskan dendam pada Madara," tutup Sasuke dengan seringai puas dan matanya yang menerawang tajam. Mata gelapnya itu seakan terbakar oleh dendam bertahun-tahun lalu, seakan kehausan, seakan tak sabar.

Hinata tak berani membayangkan bagaimana Sasuke saat perang nanti.


Esok harinya, ketiga remaja Hyuuga itu kembali berlatih. Mereka mulai dari pagi-pagi buta (sehingga Hinata hanya tidur beberapa jam karena sebelumnya mendengarkan cerita Sasuke), berlari mengelilingi kediaman Hyuuga yang luar biasa besar. Gadis itu berlari sambil merasakan mata Sasuke yang menatapnya tajam dari belaang. Entah bagaimana Hinata tahu, Sasuke kesal karena Hinata belum beristirahat sepenuhnya sehingga tenaganya tidak maksimal hari ini. Memang benar, pagi itu mata Hinata menghitam di bagian bawah, dan punggungnya masih pegal-pegal.

Setelah lari pagi, dilanjutkan dengan berlatih mantra dan fisik di dojo. Lalu bertarung, masing-masing mendapat dua kali giliran, melawan dua orang yang berbeda. Selanjutnya mereka mempelajari analisis musuh dan situasi medan perang. Lalu ke kuil, berdoa beberapa kali, dan memanfaatkan air suci sebagai senjata. Lanjut dan berlanjut terus, hingga hari menggelap.

Hinata berjalan sempoyongan menuju kamarnya. Masih ia rasakan tatapan tajam Sasuke di belakangnya.

"Kalau tidak kuat, istirahat disini saja," ucap Sasuke menghentikan Hinata. Gadis itu menoleh, menatap Sasuke sebentar. Detik berikutnya, ia terjatuh di lantai kayu.

Sasuke menghela napas, "Harusnya tak kuceritakan semua itu dan memaksamu tidur."

Hinata tertawa lemah, "Tak apa. Aku jadi lebih memahamimu. Bukankah kalau aku memahamimu aku bisa membaca pikiranmu, Sasuke?"

"Hn."

"Mungkin kita akan lebih kuat jika aku berhasil membaca pikiranmu."

Tebersit senyum kecil di wajah tampannya. "Hn. Ayo."

"K-Katamu i-istirahat dulu!" protes Hinata. Sasuke tertawa samar, lalu ikut duduk disebelah Hinata.

Ia menatap majikannya itu. Gadis lemah yang sebenarnya berkekuatan besar. Rambutnya yang gelap dan panjang kini diikat dan dicepol agar tak mengganggu saat latihan. Yukata rumah yang biasa ia kenakan kini berganti baju putih-merah khas miko. Wajah kalemnya pun bersimbah keringat. Beberapa anak rambutnya keluar-keluar, berantakan. Bajunya sendiri sudah kusut. Beberapa robek, terkena sabetan Neji atau serangan Hanabi tadi. Sasuke bisa melihat beberapa bagian tubuhnya yang diperban dan penuh luka.

"Bagaimana kalau kau mandi dan segera membersihkan lukamu?" Sasuke berdiri, mengulurkan tangannya pada Hinata. Gadis itu hanya menurut, membiarkan tangannya digenggam Sasuke. Lagi-lagi wajah gadis itu memerah. Kenapa sih, wajahnya mudah sekali memerah? Tidakkah ia tahu, wajahnya yang memerah itu membuatnya semakin imut sampai-sampai Sasuke ingin memeluknya?

Detik berikutnya, Hinata menarik tangannya dari Sasuke, matanya terbelalak menatap Sasuke, wajahnya semakin memerah. Seakan melihat hantu, mulut Hinata terbuka, alisnya mengerut tak percaya. Ia segera berderap menjauhi yokai yang kebingungan itu, meskipun jalannya masih sempoyongan.

Aneh. Memang Sasuke salah apa? Tapi justru itu yang membuatnya makin manis. Apalagi saat ia hampir menabrak sesuatu.

Tiba-tiba Hinata menoleh, dengan wajah lebih merah dari sebelumnya, campuran dari menahan malu, marah, kesal, dan... Tunggu.

Mendadak, Sasuke takjub sendiri. Ia menyeringai, menghampiri Hinata yang hampir terjatuh setelah mempercepat larinya. Yokai itu mengekori Hinata, beberapa kali menangkapnya saat ia terjatuh, hingga gadis itu menyerah. Ia mempercepat jalannya, membiarkan Sasuke memapahnya, namun wajahnya masih sama seperti tadi; memerah antara menahan amarah atau malu.

Sasuke geli sendiri. Menyerah tapi masih kesal?

"T-t-t-tidak! Menyerah apanya?" sahut Hinata gemetar, menghindari pandangan Sasuke.

Yokai itu geli sendiri. Gagap saat gugup. Memangnya ia sedang gugup kenapa?

"I-itu kebiasaan. B-bukan karena g-gugup."

"Oh ya?"

Hinata terperangah. Ia menoleh, menatap Sasuke yang sudah menyeringai geli.


Yaaaaakk! Author gak tahan mau ngetik CLIFFHANGER~~~ wuhuuuu... tapi udah pada bisa nebak kan? ;)

Author gamau banyak bacot ah, langsung ke OMAKE aja yuks!

OMAKE:

Rambut gelap yang berantakan. Wajah yang penuh keringat. Pakaian miko yang sudah sobek. Kulit putih terbalut perban.

Sangat jauh dari imagedan penampilan Hinata yang biasa. Gadis yang biasanya memakai yukata rumahan yang rapi, rambut yang digerai atau digulung rapi saat kepanasan, senyum dan wajah yang tenang.

Sasuke mengamati wajah majikannya dengan seksama, menyadari perubahan besar dalam penampilan gadis itu. Baik Hinata yang rapi ataupun Hinata sehabis latihan sama-sama cantik baginya. Sama-sama terlalu baik.

"Hei."

Hinata yang masih mengatur napasnya, hanya menoleh, menatap yokai-nya.

"Jangan berpenampilan seperti ini selain di depanku."

"Heh?" Hinata otomatis mundur, kaget. Sementara alis Sasuke mengerutkan alisnya, bingung.

"Kenapa?" sahutnya, mendekati Hinata.

Hinata yang melihat kerutan di wajah Sasuke hanya bisa diam, takut salah-salah bicara. Ia hanya mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak menatap Sasuke.

Ada satu hal yang sangat mengganggu Sasuke dari tadi. Rambut Hinata yang berantakan, keluar dari cepolan yang asal-asalan dan jatuh di pundaknya. Tangannya bergerak sendiri, mengambil sejumput rambut gadis itu, lalu mulai menciuminya.

"S-S-S-Sasuke?"

"Hn."

"K-k-k-k-k-k..."

"Diamlah sebentar."

Hinata benar-benar membeku, hingga rasanya tak sanggup bernapas. Sementara Sasuke masih menciumi rambutnya, terus, hingga ke atas, sampai ke telinga dan pipinya. Lalu berhenti. Wajah yokai itu menjauh.

"S-S-S-Sasuke?"

Yokai itu bangkit, mengulurkan tangan. Hinata dapat melihat seringai di wajah Sasuke, yang sanggup membuatnya meleleh, bahkan setelah yang barusan dilakukannya.

"Lebih baik obati lukamu dan ganti bajumu. Jangan sampai ada orang lain melihatmu seperti ini."

Hinata tertegun, masih memproses perkataan dan kelakuan Sasuke, sementara yokai itu menarik tangannya sehingga gadis itu berdiri. Masih bingung, Hinata menyadari tubuhnya kini bersandar pada Sasuke, sambil dipakaikan lapisan terluar yukata Sasuke. Menyadari bajunya yang sobek-sobek karena latihan, Hinata memerah. Jadi ini alasannya...

Sasuke masih memainkan rambut Hinata sambil memapahnya saat bergumam pelan.

"Eh, a-a-apa?"

"Keringat."

Hinata ingin pingsan karena malu rasanya. Ia berusaha sebisa mungkin tidak menatap Sasuke, menyembunyikan wajahnya. Tubuhnya lemas seketika. Campuran antara malu dan marah.

"Tapi," entah bagaimana Hinata tahu Sasuke sedang menyeringai, "Tak apa."

Hinata mengadahkan kepalanya, tak percaya.

"Dengan penampilanmu yang begini, jadi...," Sasuke seakan memikirkan kata-kata yang tepat. Setelah menemukannya, ia menatap Hinata lekat-lekat dengan seringai setannya, "Liar."

Dan Hinata betulan pingsan


Maaf untuk kali ini gaada balesan review m(_ _)m GOMEEEN MINNA-SAAAN HUWAAAA... tapi semoga semua pertanyaan kalian terjawab di chapter ini. Tuntas sudah semua flashback. Seperti kemarin, Sasuke cuma cerita dikit-dikit aja, sisanya mah Hinata ngebayangin sendiri yaaang sebenernya mengintip memori Sasuke. OMAKEnya juga OOC sangaaatt... aargghhh...

So what do you think? RnR!