Gagap saat gugup. Memangnya ia sedang gugup kenapa?

"Itu kebiasaan. B-bukan karena g-gugup."

"Oh ya?"


-Boundaries-

Naruto bukan milik saya


Mata putih susunya membulat sempurna, bertemu dengan bola mata gelap milik Sasuke. Dan di detik berikutnya yang ia tahu, ia sudah memeluk Sasuke—melompat dan memeluk Sasuke hingga keduanya kini terjatuh di koridor berlantai kayu. Ia tertawa kecil menyadari kebodohannya dan juga keterkejutan Sasuke. Kalau benar-benar senang kau bisa berubah ya. Hinata lagi-lagi tertawa kecil mendengarnya. Ia tahu kini wajahnya telah berubah warna, namun ia tak begitu peduli. Ia terlalu senang.

Lagipula, Sasuke tampaknya tak keberatan. Membaca pikiran yokai yang membuatmu selalu penasaran itu adalah hal yang menakjubkan. Ia kini memikirkan pula apa yang yokai itu pikirkan. Rasanya aneh tapi menyenangkan. Ada jantung yang berdetak beberapa kali lebih cepat ketika tangan Sasuke beranjak dari punggungnya ke kepala dan mengelus rambutnya. Ada perasaan hangat yang menjalar. Ada perasaan aneh yang menggelitik perut. Entah itu milik siapa. Dan tanpa Hinata sadari, jauh dalam lubuk hatinya, ia berharap, perasaan itu bukan hanya miliknya.

Ketika ia merasa wajahnya sudah tak semerah tadi—dan cukup aman untuk melihat wajah Sasuke—ia menarik diri. Begitu ia menoleh—ingin melihat seperti apa wajah Sasuke—wajahnya kembali memerah. Ia baru menyadari betapa dekatnya posisi mereka sehingga ia kembali menyembunyikan wajahnya di leher Sasuke. Kedua pipi mereka bergesekan, hidung Hinata bersentuhan dengan telinga lancipnya, dan tangannya masih melingkari leher dan pundak yokai itu. Sementara Sasuke sendiri dalam posisi terduduk, tangan kanannya mengelus rambut Hinata dan tangan kirinya masih di pinggang Hinata saat menangkap gadis itu barusan sementara gadis itu bersimpuh di antara kedua kakinya. Dan bodohnya, ia justru kembali menyembunyikan wajahnya di leher Sasuke—yang akan membuat mereka semakin lama dalam posisi ini!

Namun jauh dalam lubuk hatinya—Hinata tak keberatan. Dan sepertinya, Sasuke pun begitu.

"Hinata-nee!"

Kalau saja suara bungsu Hyuuga itu tak menganggu mereka.

Seketika Hinata tersentak dan melepaskan diri dari Sasuke. Namun Sasuke lebih cepat bangkit dan menarik Hinata ke dalam ruangan terdekat. Ia menyuruh Hinata diam dalam pikirannya dan menggeser pintu. Keduanya kini berada dalam ruangan yang gelap namun tampak luas. Setelah terbiasa dengan kegelapan, Hinata menyadari ruangan ini adalah dojo tempat ia biasa berlatih.

Terdengar derap kaki yang makin keras disertai suara Hanabi memanggilnya. Gadis itu melirik Sasuke. Pikiran yokai itu mirip dengan Hinata sekarang; merasa terganggu dengan kehadiran Hanabi karena ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan yang lain. Lagi-lagi gadis itu memerah menyadari pikirannya—dan pikiran Sasuke—dan juga fakta bahwa perasaan keduanya serupa.

Begitu suara Hanabi menjauh, Hinata mengadahkan kepala, menyadari Sasuke telah menyalakan api di tangannya sehingga ruangan cukup terang. "Sasuke?"

"Hn," sahut Sasuke tak peduli. Ia melemparkan api di tepi ruangan agar ruangan lebih terang. "Kita harus merubah cara latihanmu."

Baru Hinata ingin bertanya kenapa, namun ia langsung mengerti jawabannya. Karena selama ini ia dilatih Sasuke untuk melawan yokai. Bukan bertarung bersama yokai. "Bagaimana caranya?"

"Sparring dengan Ino dan Sai."

Hinata tersenyum, "Benar juga. Baiklah akan ku—" omongan Hinata terputus karena api yang dinyalakan Sasuke barusan ia lempar ke arah Hinata. Api itu melahap kekkai yang dibuat Hinata. Gadis itu tersenyum, tahu bahwa barusan Sasuke mengetesnya.

"Aku mengikuti saran Neji untuk membuat kekkai disekelilingku dimanapun aku berada," sahut Hinata, "Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi."

"Hn," balas Sasuke. Yokainya itu mengambil posisi di kepala ruangan dan bersiap. Hinata sendiri mengerti Sasuke ingin mengujinya lebih lanjut sebelum 'naik tingkat'. Ia pun mengambil tempat di hadapan Sasuke, memasang kuda-kuda.

Begitu dimulai, yokai itu menyerang terus menerus dengan bola api dan Hinata menahannya dengan kekkai. Sesekali gadis itu menyerang Sasuke dengan Sasuke akan mengeluarkan jurus lainnya, Hinata membangun dinding kekkai, menahan api Sasuke—namun langsung runtuh. Mata Hinata membulat, berkali-kali membangung kekkai yang langsung ludes dilalap api Sasuke. Kelelahan, Hinata mengeluarkan shikigami untuk menahan api itu sebentar sementara ia berlari memutar, mengeluarkan kertas mantra dan melemparkannya pada Sasuke. Namun kertas mantra itu sukses berubah menjadi abu begitu Sasuke melempar api kepil padanya.

Seketika semua api padam dan shikigami Hinata kembali berubah menjadi kertas. Sasuke menghampiri gadis itu, menepuk kepalanya lembut. "Yokai bawahan klan Uchiha takkan mempan dengan kekkai setipis itu."

Hinata duduk di pinggir dojo, beristirahat sebentar. Ia mengerutkan keningnya begitu mendengar Sasuke. Ia berkonsentrasi lalu kembali membangun kekkai. Sasuke—yang kini ikut duduk disebelahnya—menyerang kekkai itu, namun kekkai tersebut tetap hangus walaupun lebih lama waktunya. Hinata kembali berkonsentrasi dan membuat kekkai yang lebih tebal dan kuat. Yokai di sebelahnya pun mencoba lagi.

Kali ini, kekkai itu berhasil menahannya, namun terlalu tebal untuk dibuat. Hinata menghirup udara dalam-dalam dan membuat kekkai lain. Kali ini, setipis yang pertama. Ia melirik Sasuke yang mulai melempari kekkai itu apinya.

Berhasil!

Kekkai itu tipis namun cukup kuat untuk menahan serangan Sasuke. Kini yokai itu memberikan serangan yang lebih kuat. Dan kekkai itu lagi-lagi berhasil bertahan.

"Jangan senang dulu," tahan Sasuke. "Coba buat yang lebih besar."

Gadis itu mengangguk. Ia kembali berkonsentrasi, membuat kekkai yang lebih besar, setengah dari dojo tersebut. Tanpa aba-aba, Sasuke mulai menyerang. Kekkai itu masih bertahan, namun begitu Sasuke mengeliligi kekkai tersebut, ia menyerang salah satu titik. Dan dinding itu bolong.

"Eh?" Hinata melebarkan matanya, terkejut.

"Kekuataannya tak rata," ucap Sasuke, kembali meneliti kekkai tersebut. "Dan mudah sekali ditebak, yang mana yang lemah," ia menembakkan bola api di beberapa titik yang langsung hangus.

"Argh!" keluh Hinata. Sasuke menepuk kepalanya lagi, mengulurkan tangannya.

"Namun kau tak selemah dulu," jawab Sasuke seraya menarik tangan Hinata, membantunya bangun. "Dulu kau lebih memilih mencari adik atau kakak sepupumu untuk berlindung daripada membuat kekkai."

Hinata tak menjawab, hanya mengigit bibirnya. Ia tahu, itu benar. Sambil berjalan menuju pintu, ia mengeluarkan mantra yang memadamkan api Sasuke yang mengelilingi dojo. Namun ketika ia sampai di depan pintu, Sasuke sudah menghilang. Gadis itu tersenyum sendiri membaca pikiran Sasuke. Menurut yokai itu, ia tahu Hanabi sudah berada di depan pintu dojo, jadi lebih baik ia pergi. Ingin membuktikan ucapan yokai itu, Hinata segera menggeser pintu—berbarengan dengan Hanabi. Mata si bungsu melebar tapi segera menguasai diri.

"Hinata-nee kemana saja?" sebelah alisnya terangkat—curiga.

"Berlatih," jawab Hinata dengan senyum di wajah, "Ada apa, Hanabi?"

Mata Hanabi menyipit, belum hilang curiganya. "Makanan sudah siap."

Hinata tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Aku akan menyusul."

Dan ketika Hinata berbelok menuju kamarnya, ia masih bisa mendengar Hanabi menggerutu.


Gadis berambut pirang itu menguncir ulang rambutnya. Ia mendecak, mengeluarkan ponsel dari kantung hot pants-nya, tangannya cepat mengetik SMS. Ia menekan bel gerbang sekali lagi—untuk mendengar suara yang sama untuk entah keberapa kali.

"Siapa?"

"Ino Yamanaka dari keluarga onmyouji Yamanaka! Aku ingin bertemu dengan Hinata Hyuuga!" serunya. Untuk pertama kalinya, suara itu membalas.

"Baik. Mohon tunggu."

Ino mendesah, "Ya, sudah kutunggu dari tadi!"

"Sepertinya kau memang harus menyebut nama keluargamu," muncul suara dari sebelahnya—tiba-tiba menampakkan wujud yokainya. Rambut hitam dengan kulit pucat dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Sai.

Ino benci harus menyebut nama belakangnya. Ia tak mau nama keluarga dan pekerjaan keluarganya disebut-sebut hanya untuk main ke rumah teman! Ia tak menyangka bagaimana Hinata hidup—nama Hyuuga yang lebih terkenal ke seluruh Konoha sebagai miko dan onmyouji penjaga Kuil Utama sekaligus pendiri dan penjaga Konoha.

Seseorang akhirnya membuka pintu pagar, membuat celah sedikit—amat amat sedikit. Seseorang seumuran Ino, menatapnya agak curiga, dari bawah sampai atas. Laki-laki, namun rambutnya panjang—sangat terawat. Ia memakai baju onmyouji Hyuuga Utama, yang membuat Ino yakin, memiliki hubungan dekat dengan Hinata.

"Kau mencari siapa?" tanyanya.

"Hinata Hyuuga," jawab Ino mantap. "Aku dan yokai-ku diundang langsung oleh Hinata. Apa ia ada di rumah?"

Sebelah alisnya terangkat, meneliti Sai di sebelahnya. "Diundang langsung?"

Ino memutar bola matanya, membuka lagi ponselnya dan memberikan SMS yang dari Hinata. "Lihat? Sekarang bisakah aku masuk?"

Ragu tampak di wajahnya, "Hinata sedang... meditasi."

Belum sempat Ino membalas, terdengar derap kaki dan beberapa sahutan dari dalam, membuat alis pemuda itu mengerut. Ia menarik kepalanya masuk untuk melihat apa yang terjadi—diikuti kepala Ino dan Sai yang melongok penasaran.

"Hinata—"

Pintu gerbang terbuka lebar, dengan senyum cerah tapi malu-malu Hinata, "Ha-halo I-Ino—"

"Hinata-chan!" ia maju dan memeluk Hinata erat. "Selamat! Aku senang sekali saat menerima SMS-mu, kau tahu—"

Omongannya terhenti saat merasakan Sai menepuk pundaknya, membuatnya ia melepaskan Hinata dan menatap orang-orang di belakang Hinata. Gadis itu mundur selangkah, mengenalkannya pada Ino. Pemuda dengan rambut indah itu bernama Neji—kakak sepupunya. Dan gadis berambut senada dengan Hinata adalah adiknya, Hanabi.

"I-Ino dan S-Sai akan membantuku la-latiha, N-Neji-nii, Hanabi," jelas Hinata.

Ino mengangguk agak bangga, "Benar! Yoroshiku, semuanya!"


"Ayolah, meditasi hanya untuk orang tua!" ucap Ino seraya menguncir rambutnya dengan pita merah khas miko. Mereka kini berada di lapangan terbuka tempat para Hyuuga biasa berlatih.

"Ti-tidak, k-kurasa itu menenangkan," ucap Hinata pelan. Ia telah membujuk Ino mengganti bajunya dengan baju miko miliknya agar tak menimbulkan kehebohan lebih lanjut di rumahnya. Keduanya kini memakai baju miko—haori putih dengan hakama merah sehingga mudah bergerak. Biasanya, Hinata berlatih dengan baju onmyouji utama, namun tak mungkin ia meminjamkan baju Hyuuga tersebut pada Ino, sehingga ia memutuskan untuk memakai baju miko.

"Apa kau bermeditasi untuk tujuan tertentu, Hinata?" tanya Sai tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.

"A-aku... ingin melatih konsentrasiku u-untuk membuat k-kekkai," jawab Hinata seraya berjalan di tepi lapangan, mulai bersiap.

Kurasa kita sudah saling tahu.

Mengerti apa yang dimaksud Sasuke, Hinata menjawab dalam pikirannya, Ya, aku bertahan dan kau menyerang kan? Tanpa menunggu jawaban Sasuke, Hinata tahu itu strategi paling berhasil untuk mereka.

Ketika kedua pasang onmyouji-yokai itu sudah siap di tempat masing-masing, Hinata mengangguk, memberi tanda siap pada Ino.

Dan pertarungan pun dimulai!


Remaja laki-laki itu melangkahkan kakinya menyusuri lorong kediaman keluarga Hyuuga. Terdengar suara derap kaki samar-samar menggema. Ia menolehkan kepalanya sedikit, memastikan sepupunya masih ada di belakang, mengikutinya.

Keduanya berbelok menuju lapangan terbuka tempat biasa mereka berlatih. Namun Neji terdiam begitu melihat keributan dari jauh.

"Neji-nii?"

Neji menoleh, menunjuk lapangan dengan dagunya. Hanabi menyipitkan matanya, lalu mengangkat bahu. Keduanya saling berpandangan dan berlari menuju tujuan, ingin tahu apa yang terjadi.

Ketika mereka sampai, yokai milik saudari mereka sedang menyerang lawannya secara bertuntun. Sementara onmyouji dari keluarga Yamanaka itu menahan serangan Sasuke dengan kekkainya, yokai miliknya sendiri mundur ke belakang. Yokai berkulit pucat dengan senyum palsu yang enggan pergi dari wajahnya itu merubah wujud manusianya menjadi wujud aslinya.

"Yokai apa itu?" gumam Hanabi, berjalan mendekati lapangan, penasaran.

Neji pun ikut memincingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Yokai itu kini berubah wujud—kulit pucatnya tergantikan oleh sisik sewarna kulit yang berkilauan terkena sinar matahari, rambut hitamnya kini dihiasi telinga berbentuk segitiga, senyum di bibirnya kini makin lebar—hingga sudut-sudutnya mencapai telinga, matanya pun berubah lebih tajam, kuku-kuku tangannya memanjang membentuk cakar, dan tumbuh ekor berbulu di bawah punggungnya.

"Campuran ular-rubah," ucap Neji, disertai anggukan Hanabi. Gadis itu meneguk ludah.

"Baru kali ini aku melihat sosok yokai berubah total," akunya. Ia melirik Neji untuk mendapatkan perhatian kakak sepupunya itu seraya tersenyum kecil.

"Kita tunda dulu latihannya ya?" pintanya. Neji merasakan sudut bibirnya naik.

"Yah, menonton ini sepertinya seru," Neji menganggukkan kepala, tertawa kecil. "Dan bisa dijadikan referensi."

Saat keduanya kembali memusatkan perhatiannya, Yokai ular-rubah itu sudah melancarkan serangan. Ia mengincar Hinata. Ketika ia mendekati Hinata dalam jarak dekat untuk mencakar, tangannya hanya mengenai kekkai.

"Kekkai Hinata makin kuat," komentar Neji begitu melihat kekkai buatan adik sepupunya itu tak bergeming saat dicakar si yokai—bahkan cukup keras untuk membuat yokai itu tersungkur.

"Berkat meditasi mungkin?" jawab Hanabi, terkekeh.

Saat yokai itu bangkit lagi, Hinata membisikkan mantra pada shikigaminya yang langsung memberikan serangan pada yokai tersebut. Sementara yokai itu disibukkan dengan shikigami—Hinata membuat kekkai di sekeliling Sasuke, menjaganya dari serangan-serangan Ino.

Sementara Ino membuat shikigami lain untuk menolong yokainya, ia juga mengirimkan sepasukan shikigami untuk melawan Sasuke. Yokai itu menyerang shikigami dengan apinya—namun shikigami itu tak kunjung habis. Tiba-tiba, yokai ular-rubah itu telah pulih dan meloncat mundur ke belakang onmyoujinya, lalu melempar semacam bola-bola hitam ke arah Hinata.

Sebelum Hinata sadar, Sasuke telah membakar bola-bola hitam itu. Mereka bergati posisi tanpa bicara—Sasuke melawan Sai dan Hinata melawan Ino. Hinata sendiri menunduk, melukis lambang-lambang di pasir seraya membisikkan mantra, lalu meniupnya. Lambang-lambang tersebut membesar, melahap pasukan shikigami dan menghanguskannya.

"Hinata-nee!" seru Hanabi semangat.

"Perkembangannya pesat sekali," gumam Neji. "Kalau begini, ia memang pantas menjadi pewaris Hyuuga."

Hanabi memutar matanya, "Dari dulu ia memang pantas, Neji-nii. Hanya saja ia tak pernah mengasah bakatnya."

Ia tak menjawab komentar adik sepupunya itu, menyadari ucapannya benar. Dibalik sikap malu-malunya, Hinata sebenarnya kuat. Buktinya ia sanggup membuat kontrak dengan yokai klan Uchiha tersebut. Kalau begini, ia bisa tenang.

Dengan senyum di wajahnya, Neji kembali memusatkan perhatiannya pada pertandingan.


Setelah pertandingan yang amat melelahkan itu, Hinata mengistirahatkan dirinya di kamar hingga makan malam tiba. Gadis itu memanjakan dirinya dengan berendam di bak mandi seraya memijat sendiri bagian-bagian tubuhnya yang pegal. Lalu, seperti hari-harinya yang biasa, ia makan malam dengan seisi Hyuuga, lalu langsung tidur karena masih letih.

Namun saat gadis itu bersiap tidur, ia tak menyangka akan dibangunkan beberapa jam kemudian, saat matahari bahkan belum tampak. Saat gadis itu bersiap tidur, ia masih tersenyum karena memikirkan Neji dan Hanabi yang mengomentari pertandingannya dengan Ino. Kedua saudaranya itu mengkritik sekaligus memujinya—sangat membantu Hinata untuk menaikkan tingkat kepercayaan dirinya dan teknik onmyoudo-nya.

Maka, disinilah ia, di lorong kediaman utama Hyuuga, berjalan seperti zombie dengan Sasuke mengikuti di belakangnya. Yokai tersebut membangunkannya karena sedari tadi ada orang yang mengetuk pintu kamarnya. Dan ketika Hinata membuka pintu kamarnya, ia menemukan pelayan keluarganya membungkuk, berkata bahwa Kepala Hyuuga ingin melihatnya segera di ruang rapat.

Kau mau aku duluan ke ruang rapat dan mencari tahu?

Hinata mengusap matanya, berpikir sebentar. Ya, mungkin Sasuke bisa mencari tahu apa yang terjadi sementara ia mencuci muka dan menemukan kesadarannya. Ia menyutujui ide itu dan membiarkan Sasuke menghilang di kegelapan malam.

Setelah mencuci muka agar terlihat lebih segar, ia mempercepat jalannya sambil memproses informasi yang diberikan Sasuke dari ruang rapat. Tampaknya, Madara Uchiha sudah mulai menyerang. Onmyouji yang menjaga perbatasan Konoha telah mengirim kabar bahwa mereka telah beberapa kali diserang oleh bawahan Uchiha yang membalas dendam.

Bagaimana kalau itu hanya gosip dan mereka seperti Karin? Pikir Hinata. Ia bertemu dengan Neji di ujung lorong dan melambaikan tangan, menyapa kakak sepupunya.

Sepertinya ini serius. Karena yokai non-Uchiha kepercayaan Madara yang selama ini ikut bersamanya juga sudah menyerang. Tinggal tunggu waktu hingga Madara sendiri datang.

"Kenapa, Hinata? Pusing?" tegur Neji saat melihat gadis itu mengusap kepalanya. Hinata menggeleng, tersenyum kecil untuk menenangkan Neji.

"Aku hanya bertanya-tanya, kenapa mengadakan rapat mendadak jam segini," keluh Hinata. Neji tersenyum, namun tampak raut cemas di wajahnya.

"Mungkin ada sesuatu penting yang terjadi."

Memang, pikir Hinata muram.

Ketika keduanya sampai, ruangan sudah penuh oleh onmyouji-onmyouji utama. Beberapa onmyouji dari keluarga lain juga hadir. Bahkan yokai milik mereka pun tampak. Ruang rapat penuh sesak karenanya. Terlihat pelayan juga sibuk menyajikan minuman di meja. Hinata memasuki ruangan, duduk di tempatnya—sebelah kanan tempat ayahnya duduk, diikuti Neji yang duduk di sampingnya.

Gadis itu tersenyum kecil melihat Sasuke sudah menunggu dengan tenang. Ia menghampiri yokainya cepat dan duduk di depannya.

Ada berita lain? Tanyanya sambil memperhatikan para onmyouji.

Rombongan Madara datang dari arah Selatan, arah yang sama ketika ia pergi dulu. Hinata melirik Sasuke, mengerti. Yokai itu terlihat bersemangat walaupun wajahnya tanpa ekspresi.

Suara ketukan membuat seisi ruangan sunyi. Semua mengadahkan kepala, menatap Hiashi Hyuuga yang memulai rapat. Ia berdehem pelan, lalu menatap para hadirin pelan-pelan.

"Maaf karena aku harus memanggil kalian di tengah malam seperti ini, namun kami menerima kabar yang amat penting. Terdengar kabar bahwa bawahan klan Uchiha telah datang dan merusak kekkai perbatasan Selatan Konoha. Untuk memastikannya, kami telah mengirim onmyouji-onmyouji terlatih kesana dan memperbaiki kekkainya. Sayangnya, kami mendapat kabar yang kurang menyenangkan. Klan Uchiha telah merusak lapisan kekkai pertama dan dapat mencapai kawasan penduduk Konoha dalam waktu kurang dari seminggu."

Terdengar bisikan ribut dan gelisah dari penjuru ruangan. Hinata dapat merasakan Sasuke menyeringai. Sepertinya mereka tak siap, hn? Tersenyum kecil karena senang melihat yokai miliknya itu bersemangat, Hinata hanya diam menyetujui dan kembali mendengarkan ayahnya.

Seseorang onmyouji mengangkat tangan dan bertanya, "Bagaimana Anda bisa memperkirakan waktu yang kita punya hanya seminggu? Bukankah kekkai yang melapisi Konoha berlapis-lapis dan tiap lapisnya memiliki mantra tinggi hingga yokai kuat pun sulit melewatinya?"

"Aku telah bertanya pada yokai dari klan Uchiha sendiri, yaitu yokai milikku dan anakku. Menurut mereka, dengan yokai sebanyak dan sekuat itu, kekkai dapat dengan mudah dilubangi dan dilewati. Lagipula, kemarin kita menemukan yokai bawahan Uchiha—Karin namanya, yang sanggup berada di kawasan penduduk seorang diri—"

Terdengar suara ribut lebih banyak. Di bawah meja, Hinata mengaitkan jemarinya, gelisah. Kurasa mereka meragukan kekuatan kekkai Hyuuga.

Tapi kenyataannya memang kekkai itu telah berhasil ditembus, ucap Sasuke mengungkapkan fakta sederhana yang menyeramkan.

Rapat berjalan alot dan aura di ruangan pun menggelap. Bahkan sempat terjadi kericuhan kecil. Beberapa mengusulkan untuk mengungsikan warga. Beberapa usul untuk menyerang dengan sepasukan onmyouji. Dan banyak yang diam saja. Namun pada akhirnya, usulan Neji-lah yang diterima.

Ia berdehem pelan dan mengangkat tangannya untuk menarik perhatian, lalu memulai idenya, "Mungkin Madara sendiri belum menyadari kalau kontrak antara manusia dan klan-nya telah hancur dengan hancurnya klan-nya. Kalau kita mau menjelaskan padanya bahwa kontrak itu telah dihancurkan oleh klan-nya sendiri dan membuat kontrak baru serta bernegosiasi ulang, para yokai akan mundur."

Dengan cepat, suara-suara mendukung memenuhi ruangan. Hiashi segera menenangkan hadirin dan mempertimbangkan usulan Neji. Melihat banyaknya yang setuju dengan usul ini, Kepala Klan itu menutup rapat dengan menerima dan menjalankan usulan keponakannya.

"Baiklah, telah diputuskan. Esok malam, aku dan beberapa onmyouji terpilih akan berangkat ke perbatasan Selatan, untuk bernegosiasi dengan para yokai. Sementara itu, kalian bisa mempersiapkan jika terjadi apa-apa."

Dan rapat pun ditutup.


"Usul yang hebat, Neji-nii," puji Hinata saat keduanya berjalan bersisian, keluar dari ruang rapat. Sudut bibir Neji terangkat, namun ia hanya diam. Subuh akan segera tiba, membuat keduanya menyadari berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk rapat.

"Sebaiknya kau istirahat sebentar, pagi ini akan melelahkan," saran Neji sebelum berbelok masuk ke kamarnya. Hinata mengangguk singkat, melanjutkan langkahnya.

Kau kecewa, ya? Gumam Hinata dalam hati, yang dijawab dengan dengusan Sasuke—tepat di lehernya—sukses membuat gadis itu hampir meloncat kaget.

"S-Sasuke!" serunya tertahan hanya untuk melihat yokai itu menyeringai.

Yah, siapa yang tak kecewa. Tiba-tiba Sasuke mengelus pipi gadis itu pelan, seringai belum hilang dari wajahnya, namun matanya seakan melihat jauh entah kemana.

"S-S-Sasuke?" bisik Hinata—berusaha sekuat mungkin menahan wajahnya yang memerah.

"Kalau aku puas dengan latihanmu hari ini, akan kuberikan kau hadiah," ucap Sasuke yang mendahului Hinata, meningglkan majikannya yang membeku.

"H-ha-hadiah?" Hinata mengejar Sasuke. "Hadiah a-apa?"

Namun Sasuke enggan menjawabnya, bahkan dalam pikirannya.


Hai... *ngumpet2*

sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah setahun fic ini terabaikan. Dan juga terima kasih kepada kalian yang sabar menunggu :)

Jadi... kalau boleh jujur, sebenarnya... fic ini benar-benar sudah hilang dari kepala saya.

Iya, saya bener-bener lupa punya fic ini -_-

Lalu ada yang me-review dan PM dan juga teman sekolah saya yg juga author menanyakan kabar fic ini. Lalu saya pun tercenung. Hah? Udah setahun? Saya pun memutuskan untuk melanjutkan (karena saya juga lagi kesel, fic fave saya gak update2).

Tetapi... *jeng2*

doc-nya gabisa dibuka!

akhirnya, saya pun membaca ulang dan menulis ulang chapter ini. Begitulah, mohon maaf kalau chapter ini gak seperti kalian bayangkan dan maaf tak ada omake: behind the scene kali ini TT^TT

Dan, oh iya! Saya mau bertanya soal kelanjutan fic ini: menurut kalian, apa pertarungannya dijabarkan atau kita skip aja langsung ke inti cerita? Terserah kalian :) biarkan saya tau lewat PM atau review.

Trus, kalau kalian ada ide ttg SasuHina yang mau dimasukin ke dalam fic ini, atau fic-ku yg lain (Lesson misalnya, hihihi promosi dikit ya) silahkan hubungi~ kalau sempat akan kubuatkan. Apalagi kalau kalian buat fanart ttg fic ini kyaaa *ditabok*

Kalau setelah ini chapter berikutnya tak kunjung datang, tolong ingatkan saya lagi maklum pelupa.

Maafkan saya karena banyak minta juga m(_ _)m

Terima kasih kesabarannya dan silahkan review! :D