"S-S-Sasuke?" bisik Hinata—berusaha sekuat mungkin menahan wajahnya yang memerah.

"Kalau aku puas dengan latihanmu hari ini, akan kuberikan kau hadiah," ucap Sasuke yang mendahului Hinata, meningglkan majikannya yang membeku.

"H-ha-hadiah?" Hinata mengejar Sasuke. "Hadiah a-apa?"

Namun Sasuke enggan menjawabnya, bahkan dalam pikirannya.


-Boundaries-

Naruto milik yang punya :3 yang jelas bukan saya (_ _)


Cahaya matahari menyinari lorong sekolah yang tak terlalu padat. Kebanyakan siswanya sudah bersiap di kursi dan kelas masing-masing. Beberapa menit lagi, bel masuk akan berbunyi. Hanya Hinata, yang masih berjalan di koridor, menuju kelasnya. Di sebelahnya kanannya, Sasuke berjalan—tak terlihat oleh orang-orang awam.

"Ohayou, Hinata-chan!"

Sebelum gadis itu membuka pintu kelasnya, seseorang telah mendahului dan memberikan salam. Tersenyum secerah matahari pagi ini, ia menyilahkan Hinata masuk.

"Ohayou, Naruto-kun," balas Hinata seraya tersenyum. Ia masuk dan segera berjalan menuju kursinya. Ia terkejut ketika menemukan kursi di depannya masih kosong. Biasanya, Sakura sudah duduk manis di tempatnya, menunggu sahabatnya itu datang. Mungkinkah Sakura telat? Tidak, Hinata bisa melihat tasnya tergantung di sebelah meja. Berarti Sakura sudah datang.

Mungkin di toilet.

Hinata melirik Sasuke yang sudah mendahuluinya, duduk di atas meja Hinata. Ia mengarahkan dagunya ke kursi, menyuruh Hinata duduk. Ia menurut, menyadari mood Sasuke tiba-tiba berubah. Yokainya itu menjadi lebih... positif, jika tidak dibilang senang. Ada perasaan puas di seringai yang tersembunyi di balik topeng itu.

"Hinata!"

Gadis itu mengadahkan kepalanya, menemukan sosok Sakura di depan pintu. Gadis berambut merah muda kuning jabrik menghalanginya. Dan Hinata heran—kenapa ia tak pernah sadar kalau keduanya sangat lucu?

Alis Sakura menekuk, tangannya di pinggang, punggungnya agak membungkuk. Sementara Naruto tertawa kecil, menggoda gadis itu lagi, membuat perdebatan panjang diantara mereka. Sesekali wajah Sakura memerah—entah marah atau malu—dan diakhiri dengan pukulan Sakura tepat di perut Naruto.

Hinata tertawa pelan. Sasuga, Sakura. Naruto sungguh berani naksir sahabatnya—seorang ahli bela diri. Bahkan setelah babak belur pun ia masih menggoda Sakura yang membuat sahabatnya itu memukulnya sekali lagi, tepat di wajah.

Hinata tak tahu mereka selucu ini.

Kau sudah tak menyukainya.

Benak Sasuke menyeruak di pikirannya, seketika mengaliri perasaannya dengan rasa senang dan puas. Hinata tertegun, menatap mata gelap Sasuke.

Apa maksudmu?

Kau sudah tak menyukai si idiot itu. Kau tak peduli ketika ia menyapamu tadi dan kau tertawa saat ia menggoda temanmu.

Gadis berambut gelap itu terperangah. Benar, biasanya ia selalu gagap dan khawatir akan penampilannya di depan Naruto. Ia akan senang sekali kalau cowok itu menyapanya duluan. Dan ia akan merasakan nyeri di dadanya ketika melihat Naruto menggoda Sakura. Mungkinah ia sudah melupakan Naruto?

Senyumnya merekah. Dengan ini, ia bisa konsen ke masalah klan. Ia mendongak, tersenyum pada Sasuke yang menyeringai puas. Yokai itu mengacak-acak rambutnya—sebagaimana yang biasa ia lakukan jika Hinata telah berhasil melakukan sesuatu atau membuatnya bangga.

Namun Hinata melupakan masalah itu. Masalah dimana jantungnya akan berdetak lebih cepat ketika Sasuke menatap matanya langsung atau menepuk kepalanya seperti tadi. Masalah dimana wajahnya akan memanas setiap Sasuke memperhatikannya. Dan semua itu menjadi masalah yang lebih besar karena ia tak mau Sasuke hal itu!

Dengan cepat, gadis itu mengalihkan pikirannya. Ia menutupi wajahnya yang memanas, menundukkan kepalanya. Ia alihkan pandangannya dari Sasuke, kembali ke Sakura yang berjalan bersungut-sungut ke arahnya.

Maka, ia terkejut saat pikiran Sasuke memasuki lagi benaknya, Jangan lupa ini hari terakhir.

Gadis itu menghela napas. Benar. Hari ini hari terakhir.


"Kau mau cuti?!"

Sapu terjatuh dari tangannya, mulutnya terangkat setengah dan mata hijaunya menatap Hinata tak percaya. Hinata hanya bisa tersenyum kecut dan melanjutkan pekerjaannya.

"Ta-tapi, kenapa? Kau tak pernah mau mengambil pekerjaan onmyouji jika mengganggu sekolah kan?" Sakura memungut sapu yang terjatuh tanpa mengalihkan wajahnya dari Hinata, "Kau sendiri yang bilang begitu padaku!"

Hinata tak menjawab, hanya duduk di atas meja, menatap langit yang memerah. Hari ini keduanya bertugas piket, sehingga belum pulang walaupun hari sudah sore. Hari ini, juga hari terakhir Hinata sekolah. Klan memutuskan agar semua onmyouji cuti dari pekerjaan dan sekolah untuk menambah pertahanan melawan yokai-yokai bawahan Uchiha. Mata putih susunya mengikuti gerak-gerik Sakura yang ikut duduk di atas meja, menopang dagunya di puncak gagang sapu.

"Hinata?"

Ia tahu, gadis itu khawatir. Karena itu, ia tersenyum menenangkan Sakura. "Kau tahu, Sakura. Walaupun aku sulung dari klan Hyuuga, aku tak sehebat Neji-nii dan Hanabi. Bahkan Hanabi lebih kuat dariku."

Sakura terdiam, menatap Hinata lekat-lekat. Tak pernah Hinata seterbuka ini. Ia selalu menyimpan masalah sendiri kecuali sudah benar-benar bingung akan jalan keluarnya. Apalagi soal onmyouji dan yokai. Walaupun keduanya berteman sejak kecil, ia tetap tak mengerti keseharian Hinata dan keluarganya di rumah.

"Namun ketika kakekku meninggal beberapa waktu lalu, aku ditunjuk sebagai penerus klan berikutnya setelah ayahku," lanjut Hinata, kini ia melirik matahari yang terbenam. "Dari sana, aku mendapatkan kekuatan, bahkan juga motivasi. Kini, aku bisa berlapang dada menerima takdirku sebagai penerus klan berikutnya."

"Hinata..."

Ia menatap Sakura, senyum tulus terpampang di wajahnya. Ia tahu, di belakang kelas sana, Sasuke sedang bersandar di dinding, mendengarkan semua ucapannya. "Kupikir, sudah saatnya aku ikut memikirkan masa depan klan-ku."

Hinata turun dari kursi dan meraih sapu Sakura, "Ayo, k-keburu malam!"

"Hei Hinata."

"Hm?"

"Kau tadi tak gagap sama sekali lho."

"E-eh... B-benarkah?"

"Yah, gagap lagi," Sakura tertawa. Ia ikut turun dari kursi, membantu sahabatnya menyelesaikan piket. "Memangnya klan mau melakukan apalagi? Ada yang menyewa jasa onmyouji-mu?"

Hinata menghentikan piketnya, berpikir sebentar. "Uhm... a-ada penyucian besar-besaran, j-jadi seluruh anggota harus hadir!"

Gadis itu menghindari tatapan Sakura, tahu kalau gadis itu menyadari ia berbohong. Dalam hati, ia menggerutu—kalau penyucian sehari juga selesai! Buat apa cuti sebegitu lamanya! Sialnya, ia seakan bisa mendengar Sasuke ber-hmp-ria karena alasan bodohnya.

"Yah, baiklaah," Sakura tak bertanya lebih lanjut dan kembali menekuni piketnya. Hinata melirik Sasuke diam-diam dan menemukan yokainya itu menyeringai.

Dan ia pun lagi-lagi meurutuki jantungnya yang tak mau menurut.


Terdengar hentaman dan debuman keras jauh di dalam kediaman Hyuuga. Tepatnya di lapangan tempat biasa para Hyuuga muda latihan. Dan tentu saja pelakunya adalah Hinata dan Sasuke yang bertarung dengan Ino dan Sai.

Sai berlari ke arah Sasuke, membuat Hinata memasang kekkainya untuk melindungi yokai itu, namun Sai berputar cepat dan tiba-tiba muncul di belakang Hinata. Ia melemparkan bisanya ke tubuh gadis itu agar racun menyebar seluruhnya, namun Hinata berhasil menghindar hingga bisa itu hanya mengenai tangannya.

Namun tetap saja fatal.

Gadis itu berlutut, kakinya berputar menyengkat Sai seraya melemparkan mantra pemusnah pada siluman ular-rubah itu. Sementara di belakangnya, Ino sedang kerepotan menjaga diri dari serangan Sasuke. Sementara Sai belum pulih, Hinata berlari ke arah Ino dan menempatkan mantra pengunci pada onmyouji itu.

Hinata tersenyum dalam hati—akhirnya setelah sekian lama mereka bertarung hari ini, Hinata-Sasuke mengungguli. Mereka sudah bertarung seharian namun keadaan selalu berimbang.

Belum secepat itu

Dan benar saja. Baru saja Sasuke mengingatkannya—tiba-tiba Sai sudah melumpuhkan kedua tangan dan kaki dengan racunnya. Untungnya, Sasuke langsung muncul dan melukai kaki Sai sehingga yokai itu ikut lumpuh. Namun tiba-tiba gerakan Sasuke terhenti. Tangannya menggapai di udara, kakinya kaku—hanya matanya yang mendelik. Ia mendecih.

Ino telah memasang perangkap hingga Sasuke tersangkut di benang tak tampak di sekitar Sai. Hinata melirik Ino, yang nyengir di tengah-tengah mantra pengunci.

"Jadi?"

"Kita seri lagi."

"Ayo lepaskan perangkap dan mantra masing-masing."

"Yeah, kalian hanya terperangkap dan kena mantra—bagaimana dengan yang terluka?"

Akhirnya Sasuke terlepas dari perangkap, Ino terbebas dari mantra, Hinata sudah diberikan penawar dan Sai sudah diberikan penanganan lebih lanjut. Hinata kini sudah terbiasa dengan itu semua. Terbiasa menghadapi Sai. Terbiasa melawan Ino. Terbiasa bekerjasama dengan Sasuke. Kecepatan dan kemahirannya menulis mantra dan melemparkan shikigami juga membaik. Kini kemampuannya bisa disejajarkan dengan Neji.

Ketika langit menggelap dan dua pasang onmyouji-yokai itu sudah pulih dari luka masing-masing, mereka berpisah. Ino dan Sai biasanya langsung pulang atau terkadang kalau terlalu larut mereka makan malam di kediaman Hyuuga—bahkan sering menginap. Sementara Hinata dan Sasuke—bermeditasi sambil menunggu makan malam, lalu setelahnya istirahat.

Tak terkecuali hari ini.

Keduanya baru menyelesaikan latihan mereka dengan Ino dan Sai—baru saja mengantar mereka pulang sampai gerbang kediaman Hyuuga. Hinata ingin buru-buru sampai kamarnya, mengganti baju miko-nya dengan kimono santai seperti biasa. Ia mempercepat jalannya begitu memasuki lorong menuju kamarnya yang sepi. Di belakangnya, Sasuke membuntuti. Keduanya diam, namun diam tak lagi membuat mereka canggung. Justru mereka nyaman dengan suasanya sepi itu. Sepi, namun dalam hati, mereka berbicara. Membagi apa saja agar mereka lebih dekat—entah itu ingatan atau cerita.

Dan kali ini, Hinata berusaha mengorek informasi tentang apa yang akan diberikan Sasuke—yang membuatnya sangat penasaran kemarin.

Kau benar-benar penasaran?

Ya. Apa kau puas dengan latihan kali ini? Sangat melelahkan, tapi akhirnya Sai berhasil juga melumpuhkanku. Lagi.

Akhirnya mereka sampai di depan kamar Hinata. Gadis itu menghela napas lega, menggeser pintu kamarnya.

Kau harus hati-hati dengan keadaan sekitar.

Hm. Terima kasih sudah mengingatkanku tadi.

Hn.

Gadis itu menutup pintu setelah membiarkan Sasuke masuk. Ia tersenyum kecil—akhirnya ia bisa istirahat sekarang.

Jadi apa kau puas?

Hinata berbalik, memberanikan diri menatap Sasuke.

Mata gelap pekat itu memusatkan perhatiannya ke lawannya, memperkecil jarak di antara keduanya. Seketika Hinata menyesal sekaligus bersyukur telah menoleh. Ia terdesak hingga punggunya menempel di pintu kamarnya—panik menyerangnya. Otaknya beku, tak bisa berpikir. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menatap yokai itu.

Dan benaknya tiba-tiba penuh. Sasuke menumpahkan perasaannya, ingatannya, pikirannya—yang begitu banyak pada Hinata, membuat gadis itu seketika bingung. Berbagai emosi menghampirinya, membuatnya ikut merasakan.

Hinata seakan menonton sebuah film yang dipercepat. Agak mirip dengan bayangan yang ia khayalkan ketika Sasuke menceritakan klan-nya. Ia menikmatinya, beberapa dapat membuatnya tersenyum geli, beberapa berhasil membuat air matanya menitik. Namun, ada perasaan haru, senang dan bahagia karena ada sesuatu yang mencolok, yang selalu ada di setiap ingatan, perasaan dan pikiran.

Dirinya.

Ia selalu ada di perasaan itu, ingatan itu, dan pikiran itu. Ia tertawa, ia berbohong, ia bersedih.

Maka, seketika ia mengerti.

Matanya kembali terbuka dan langsung melihat bola mata hitam pekat milik yokainya. Tanpa sadar tangannya telah mencengkram baju Sasuke, menghilangkan jarak di antara keduanya. Dan wajahnya seketika memerah.

Ia tahu, kini Sasuke menyelidiki benaknya, menyusup ke ingatannya, mencari dan memastikan perasaannya. Ia kini tak peduli lagi. Ia biarkan Sasuke sesuka hati menjelajahi memorinya. Tak ada lagi yang harus disembunyikan.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu ketika ia merasakan dinginnya tangan yokai itu di pipinya. Ia dapat merasakan yokai itu membungkuk, sehingga wajah mereka tak ada sejengkal. Jantungnya berdegup tak beraturan, menduga-duga apa yang terjadi.

Saat ia melihat sudut bibir Sasuke naik, Hinata tahu, rona wajahnya tak bisa lebih merah lagi.

Lekukan bibir Sasuke makin dalam ketika merasakan Hinata beku di tangannya. "Sama, hn?"

Ia tahu benar apa maksud yokai itu. Tanpa sadar, ia menggumam tak jelas, menundukkan kepala sedalam-dalamnya dan membenamkan wajah memerahnya di dada Sasuke. Ia rasakan tangan yokai itu mengelus kepalanya dan memeluknya erat.

Dalam kepalanya—entah kenapa—ia dapat mendengar nyanyian kemenangan.


"Eeeh?!"

Neji mendengus ketika melihat reaksi Ino. Ia melipat tangan di dada, punggungnya bersender pada pagar terluar kediaman Hyuuga. Di depannya, gadis Yamanaka itu sibuk menelepon. Gadis berambut pirang itu sebenarnya sudah datang daritadi dan bersikeras masuk—hanya saja Neji larang.

Bukan apa-apa, hanya saja tujuan Ino adalah bertemu Hinata—yang sayangnya sedang tak ada di rumah. Logis bukan, kalau ia melarang Ino masuk? Toh Hinata tak ada di rumah ini.

Namun sepertinya, logika Neji dan Ino berbeda.

"Kau ada dimana—? Hi-Hinata!"

Neji mendesah. "Tak bisakah kau pelankan suaramu?"

Sebagai gantinya, ia mendapat tatapan tajam dari Ino. Sang Jenius Hyuuga hanya mengangkat bahu, tak peduli. Ketika panggilan ke 10 tak diangkat Hinata, gadis itu menyerah. Ia ikut menyandarkan punggungnya di sebelah Neji.

"Sebenarnya Hinata kemana?" keluhnya. Napasnya ngos-ngosan karena baru saja berteriak-teriak di telepon. "Sai," panggilnya. Muncullah yokai itu di sebelahnya, mengulurkan sebotol minum. Gadis itu segera menegak minumnya dan menghela napas.

"Hinata pergi bersama yokainya," balas Neji singkat.

Ino mengangkat sebelah alisnya, "Itu sudah pasti kan? Tapi kemana? Kenapa ia pergi di saat-saat penting seperti ini?!"

Neji mengangkat bahu, bersiap pergi, "Aku tak tahu. Mereka pergi pagi-pagi sekali. Lebih baik kau pulang saja."

Ino mendengus. "Aku sudah jauh-jauh kemari!"

"Aku tak peduli."

"Aaargh!" jerit Ino. "Baiklah! Kau atau Hanabi saja yang jadi pengganti Hinata! Kita bertarung!"

Sudut bibir Neji terangkat. Ia menggeser pagar, menyilahkan Ino dan Sai masuk, "You're in."


Hutan dengan jarak pohon agak jarang. Semak belukar yang cukup tinggi. Beberapa tupai dan kelinci liar bersembunyi di balik batang. Jalan setapak yang makin samar dan mengecil. Sinar matahari yang sesekali terhalang dedaunan. Dan juga, yokai yang memimpin jalan.

Hinata melirik sekelilingnya. Sejauh ini, masih sama. Hutan di Selatan Konoha tak jauh beda dengan hutan yang mengelilingi kota itu. Ia hanya pernah sekali-dua kali ke hutan perbatasan Konoha karena wilayah itu sangat rawan. Ayah dan kakeknya melarangnya, Neji, dan Hanabi pergi dekat-dekat perbatasan. Dan sebenarnya, ia sendiri was-was. Kalau ia pergi lebih Selatan lagi, niscaya ia akan bertemu dengan rombongan ayahnya dan para yokai.

Gadis itu melirik Sasuke yang memimpin di depannya. Akan lebih mengerikan jika tak ada Sasuke di dekatnya. Apa yang membuat seorang Hinata Hyuuga ini menyusuri hutan?

Jawabnya mudah; hadiah dari Sasuke. Hadiah yang dijanjikan yokai itu ternyata mantra wasiat kakeknya yang harus dibuka di 4 kuil suci di penjuru Konoha. Sebelum Sasuke menceritakan hal itu, Hinata tak pernah menyangka ada kuil suci di Konoha. Walaupun kalau dipikir-pikir, tentu saja harusnya ada. Tak mungkin mereka mengandalkan keluarga Hyuuga yang berada di pusat Konoha bukan?

Semalaman, ia membaca catatan kakeknya. Menurutnya, dulu, Hyuuga pertama membangun Konoha di dalam kekkainya yang sangat kuat. Kekkai itu dibuat setelah memanggil 4 dewa. Konon, Konoha akan selalu aman jika kekkai itu tak diganggu. Namun, masuknya Karin ke pusat kota, tentu saja menimbulkan pertanyaan kalau teori itu benar.

Karena itulah, pagi-pagi sekali tadi, Hinata dan Sasuke pamit. Keduanya segera menuju hutan Selatan Konoha, berniat mengetahui apa yang salah. Dan baru saja mereka mengetahui apa yang salah; kekkai-nya rusak.

Hinata duduk di atas serigala putih yang ia buat dari shikigami, menunggu laporan Sasuke yang sedang meneliti lebih jauh ke dalam hutan. Awalnya, Sasuke mengira ia dapat menggendong Hinata menyelidiki Konoha. Namun ketika Hinata menyadari pikirannya, wajahnya memerah—masih teringat kejadian semalam. Akhirnya Sasuke menyerah (dengan seringai puas di wajah tentunya) dan membiarkan Hinata naik bersama shikigaminya.

Ia mendengarkan dan merasakan baik-baik apa yang Sasuke lihat dalam benaknya dan mempelajarinya lebih jauh. Yokai itu melihat kekkai yang sangat besar yang melindungi Konoha. Di depannya tampak rombongan onmyouji baru sampai dan bertemu dengan para yokai. Kekkai itu hampir runtuh dan tampak rapuh.

Artinya, satu-satunya jalan adalah membuat kekkai baru lagi.

Hinata menghela napas. Ayo kita ke empat kuil itu.


Hinata mengadahkan kepalanya. Kuil pertama. Berdiri di tengah-tengah hutan, tak cukup besar namun tak bisa dibilang kecil. Berada agak di atas, sehingga dari jalan setapak harus melewati anak tangga.

Hinata menghirup udara dalam-dalam, bersiap diri. Ia turun dan melipat kembali shikigaminya yang telah berubah menjadi kertas. Ia hampiri Sasuke dan yokai itu menggendongnya, sehingga dengan cepat, keduanya sampai di puncak kuil.

"Berdebu," gumam Hinata. "Sudah berapa lama kuil ini tak dikunjungi."

Lantainya penuh dengan daun jatuh, lonceng besinya berdebu dan dihiasi sarang laba-laba, dan kayu yang menjadi bahan utama kuil itu sudah lapuk. Hinata menghela napas, menjawab pertanyaannya sendiri. Siapa yang mau mendatangi kuil jauh di tengah hutan begini?

Gadis itu melangkah lebih jauh, hendak mendekati kuil, bersiap berdoa. Namun begitu ia melangkahkan kaki, angin berhembus kencang menerbangkan dedaunan yang menutupi lantai. Tampak di lantai lingkaran mantra kuno.

Seperti yang dikatakan kakekmu, hn? Sasuke meloncat, hinggap di salah satu pohon. Jika ia salah-salah melangkah, bisa saja justru terkurung. Ia juga harus berjaga-jaga jika para yokai berhasil menembus masuk dan rencana Hyuuga gagal.

Hinata dengan cepat mengeluarkan gulungan mantra yang diwariskan sang kakek, membacanya cepat dan menebarkannya ke sekeliling lingkaran. Seketika lingkaran mantra bercahaya, mengurung Hinata. Gadis onmyouji itu berusaha tetap tenang dan menyelesaikan mantranya.

"Wahai Suzaku, salah satu dari Empat Dewa Pelindung, Penjaga Selatan, tampakanlah wujudmu!"

Ia merasakan Sasuke melihat sesuatu muncul di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang, gugup. Apakah wujud Suzaku berupa yang digambarkan di buku-buku? Ataukah hanya suara dan roh yang terasa? Akhirnya, gadis itu berputar, membalikkan badannya, dan menemukan Suzaku, Sang Penjaga Selatan mengepakkan sayapnya cepat.

Hyuuga, sapanya. Akhirnya kalian menyadari ketidakseimbangan dari 4 arah.

Hinata mengangguk, Itulah yang menyebabkan kekkai keramat runtuh.

Makhluk serupa burung berwarna merah api itu melirik Sasuke yang turun tepat di samping Hinata. Matanya yang tajam menyelidiki yokai itu.

Uchiha.

Sasuke hanya menganggukkan kepalanya sedikit.

Warna merah pada bulunya mengingatkan Hinata pada burung phoenix. Makhluk itu meneliti keduanya dengan mata hitamnya yang serupa manik-manik. Paruh keemasannya terangkat, angkuh.

Baiklah, Hyuuga Muda. Uchiha. Kita mulai saja.


Hinata menyelipkan kertas segi panjang yang telah ditulisi mantra itu ke dalam kantung khusus shikigami. Bersama Sasuke, ia membuka pintu gerbang kediaman utama seraya memijat tengkuknya yang pegal. Berkeliling Konoha dalam sehari bukanlah suatu yang mudah mengingat desa itu cukup luas. Namun pada akhirnya, mereka berdua berhasil mengunjungi keempat kuil suci dan sukses bekerjasama dengan Empat Dewa Pelindung.

Ayahmu sudah pulang.

Hinata mengangguk. Ia melihat pintu depan sepi—sepertinya semua orang menyambut kedatangan rombongan ayahnya. Gadis itu membiarkan Sasuke masuk duluan, mencari tahu hasilnya. Kini ia lebih tertarik mandi, berganti baju dan tidur.

"Hinata-nee!"

Dalam pikirannya, Sasuke menyela Kau dalam masalah.

Ia mengabaikan yokainya itu dan memusatkan perhatiannya pada Hanabi di depannya. Gadis berambut gelap itu masih berpakaian onmyouji, alisnya berkerut kesal, mata pucatnya menatap Hinata tajam, bibirnya mengerut kebawah.

"Kau kemana saja?" tanyanya kesal.

Hinata melepas sepatunya, mengalihkan pembicaraan, "T-Tou-san s-sudah pulang?"

Sebelah alis Hanabi terangkat, tahu benar rencana kakaknya. "Ya. Baru saja. Dan 5 menit lagi, rapat petinggi akan dimulai. Dan," ia menekankan kata terakhirnya, "Kau diharapkan hadir disana."

Kini, alis Hinata yang mengerut, "R-rapat? L-lima menit l-lagi?"

Kau—kita—benar-benar dalam masalah, suara Sasuke menyela lagi. Kabar buruk—

"Negosiasi Tou-san ditolak."

Negosiasi gagal.


Walaupun telat, tapi biarkan saya berkata; MINAL AIDIN WALFA IDZIN MOHON MAAF LAHIR BATHIN! Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan! Maafkan keterlambatan, typo dan ke-OOCan sayaa m(_ _)m

Mungkin fanfic ini tinggal 1 atau 2 chapter lagi. Dan itupun saya masih bingung gimana endingnya.. T.T jadi maaf kalau chapter depan akan lama updatenya Sebagai gantinya, akan saya berikan profil para yokai ganteng 3

Sasuke Uchiha : Klan Uchiha. Rambut hitam, mata hitam, kulit putih pucat, telinga lancip, kuku dapat memanjang sesuka hati, taring tajam dan bisa dijadikan senjata. Memiliki tanduk kecil namun bisa memanjang seperti tanduk domba. Punya ekor, namun jarang diperlihatkan. Yokai yang wujud aslinya serupa manusia dengan tanduk domba bertaring dan bercakar.

Sai : Salah satu abdi klan yokai Uchiha. Keluarganya adalah informan keluarga Hyuuga. Rambut hitam, mata hitam, kulit lebih pucat dari Sasuke. Senjatanya adalah bisa yang dapat dilemparkan ke musuh yang ia sentuh. Wujud yokainya adalah ular-rubah tapi lebih suka dengan wujud manusianya. Dalam wujud yokainya, kulitnya berubah menjadi sisik halus sewarna kulit awalnya (kalau kena sinar matahari akan kaya Edward Cullen dibawah matahari), matanya meruncing pada ujungnya, bibirnya sedemikian rupa hingga seakan tersenyum sampai ke telinga (anggap kaya chesire), telinga bentuk segitiga, ada cakar dan ekor rubah. (Intinya, anggap aja Sai kaya Edward Cullen versi anime yang senyum-senyum kaya Chesire, pake neko-mimi, sama ekor rubah, dengan cakar panjang huahahaha)

Sebenernya pengen banget gambar Sasuke dan Sai (juga chara Naruto lain) berwujud yokai. Sayang, gambar gue jelek T.T anyway, ada OMAKE!


OMAKE:

"Wahai Suzaku, salah satu dari Empat Dewa Pelindung, Penjaga Selatan, tampakanlah wujudmu!"

Ia merasakan Sasuke melihat sesuatu muncul di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang, gugup. Apakah wujud Suzaku berupa yang digambarkan di buku-buku? Ataukah hanya suara dan roh yang terasa? Akhirnya, gadis itu berputar, membalikkan badannya, dan menemukan Suzaku, Sang Penjaga Selatan.

Ia berdiri tegak, berwujud manusia dengan gaun merah menutupi kulit putihnya seperti bulu berwarna api. Mata merahnya menatap Hinata tajam. Rambutnya hitam panjang, agak berombak. Tubuhnya tinggi semampai, sangat cantik.

"Hyuuga," sapanya.


Yap, tebak siapa yang awalnya jadi Suzaku? Kurenai-sensei! Tadinya, Hinata dan Sasuke mau saya ajak ke Barat dulu, tempatnya Byakko. Byakko itu kan harimau putih. Trus tiba-tiba kepikiran—Kenapa byakkonya gak Kakashi aja?! Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa ke Barat dulu? Kenapa gak ke Selatan aja, tempat yokai menyerang lebih dulu? Jadi situasi masih aman. Kalau ke Barat dulu dan Selatan pemberhentian terakhir, nanti keburu yokai dan onmyouji pecah, ya kan?

Trus juga tadinya, setelah Kurenai dan Kakashi, siapa yang akan jadi Genbu dan Seiryuu? Seiryuu lebih cocok Sasuke sih, tapi karena udah Kurenai dan Kakashi sekalian aja para sensei. Jadi Seiryuu kalau gak Iruka, ya Asuma dan Genbu udah pasti... Gai! Huhahahaha namun akhirnya saya menyerah dan ganti lagi menjadi the four beast yang asli; Suzaku—burung merah (lupa namanya apa. Pokoknya mirip phoenix deh!), Genbu—kura-kura dan ular, Seiryuu—naga biru, dan Byakko—harimau putih.

Di pikiran awalku, tadinya ada kuil suci juga di pusat, karena menurut legenda Cina, bukan 4 Dewa Penjaga tapi 5, dengan naga emas (atau naga kuning yah?) di tengah. Namun dalam paham onmyoudo Jepang, titik kelima di pusat ini di hilangkan, jadi tinggal 4. Karena itulah, aku juga menghapus kuil pusat di kediaman Hyuuga. Namun entahlah, kalau ideku udah mentok dan bingung, mungkin bakal dimunculkan kuil suci di pusat Konoha itu hohoho.

Selain itu.. interaksi Sasuke-Hinata. Agak bingung ya. Mereka jadi gak ngomong lagi! Author jadi bingung, huweee. Karena itu maafkan ke-OOC-an mereka di chapter ini (padahal di chapter kemaren juga OOC :p).

Yak, pertanyaan, saran, usul, dan kritik, silahkan PM atau review! Ja ne!