Hinata melepas sepatunya, mengalihkan pembicaraan, "T-Tou-san s-sudah pulang?"
Sebelah alis Hanabi terangkat, tahu benar rencana kakaknya. "Ya. Baru saja. Dan 5 menit lagi, rapat petinggi akan dimulai. Dan," ia menekankan kata terakhirnya, "Kau diharapkan hadir disana."
Kini, alis Hinata yang mengerut, "R-rapat? L-lima menit l-lagi?"
Kau—kita—benar-benar dalam masalah, suara Sasuke menyela lagi. Kabar buruk—
"Negosiasi Tou-san ditolak."
—Negosiasi gagal.
Boundaries
Naruto bukan punya saya kok ^^V
Suara derap langkah kakinya mengetuk lantai kayu. Ia tak memperdulikan baju onmyoujinya yang masih kotor dan penuh keringat. Ia berbelok di lorong kedua, tak memperdulikan senyum dan sapaan pelayan atau onmyouji lain yang menghadangnya. Gadis itu berniat menyusul Sasuke—yang kini sudah bersama Ayahnya dan Itachi.
Sesampainya di depan kamar Ayahnya, ia mengatur napas sebentar dan mengetuk pintu. Ia biarkan pintu terbuka dari dalam, menampilkan sosok Ayahnya diapit dokter keluarga sekaligus anggota klan Hyuuga. Itachi duduk tenang di sebelahnya, sementara Sasuke menutup pintu di belakang Hinata begitu gadis itu masuk.
Ayahnya tampak duduk bersandar pada dinding, tangan kanannya sibuk diperban dokter. Ia melirik Hinata sebentar, lalu menyuruhnya duduk di hadapannya.
"Otou-san," bisik Hinata tercekat. Gemetar, ia duduk di hadapan Ayahnya. Dalam benaknya, Sasuke menenangkannya, mengatakan bahwa Ayahnya baik-baik saja, membuat Hinata sedikit lebih baik.
"Hinata," balas Ayahnya. Ia meraih gelas yang disodorkan Itachi dan menyesapnya. "Tentu kau sudah mendengar ceritanya."
"Hai'."
Dokter itu menepuk tangan Ayahnya yang kini sudah terperban rapi. Hiashi mengucapkan terima kasih seraya mengetes tangannya.
"Tou-san... Tanganmu..."
Hiashi melambaikan tangannya, membuat Hinata terdiam. Ia memandangi dokter itu pamit seraya tersenyum samar, lalu bangkit dan pergi setelah menutup pintu.
"Tou-san," panggil Hinata menahan Hiashi yang berusaha bangkit. "Kau belum—"
"Rapat akan dimulai, Hinata," ucap Hiashi tegas. Ia membiarkan Itachi membantunya, membiarkan Hinata menyampirkan kimono terluarnya di pundak sang Ayah. Dalam diam, ia mengikuti Ayahnya menuju ruang rapat, sesekali membantu Hiashi berjalan walaupun sering ditepis.
Tenang saja, ayahmu adalah orang yang kuat.
Hinata menghela napas pelan. Apa yang sebenarnya terjadi, Sasuke? Apa kau tahu?
Itachi hanya memberitahuku bahwa mereka sempat dihadang yokai dalam perjalan pulang, tapi tentu saja—sebagai Kepala Klan Hyuuga tak mungkin ia tak baik-baik saja.
Hinata membiarkan senyum melewati wajahnya. Ia memasuki ruang rapat yang telah dipenuhi oleh onmyouji dan para yokainya. Seperti biasa, ia duduk di sebelah Ayahnya, dan di depan Neji. Kakak sepupunya itu berdesis pelan melihatnya, mulutnya membentuk kalimat 'Kau dari mana saja?' yang dibalas Hinata hanya dengan senyuman menenangkan.
Begitu Hiashi duduk di depan meja panjang, seisi ruangan terdiam. Hiashi berdehem pelan, dan memulai rapat.
"Seperti yang kalian tahu, para yokai menolak perjanjian damai kita," katanya dengan tenang. "Bahkan, kami sempat diserang dalam perjalanan pulang—namun tentu saja; apa yang menahan para klan Hyuuga?"
Suara dukungan memenuhi ruangan. Hiashi membiarkan ujung bibirnya membentuk seringai tipis. "Maka dengan kerusakan yang telah kami lakukan dengan sebagian yokai, mungkin kedatangan mereka akan melambat," ia melirik Itachi, yang langsung mengambil alih rapat.
"Kami memperkiraan mereka dapat menembus kekkai kedua dalam waktu sekitar 4 sampai 5 hari lagi. Walaupun begitu, ada kemungkinan mereka dapat sampai lebih cepat, " Itachi menjentikkan kukunya yang panjang, membuat peta Konoha terbentang di meja. Seketika, seluruh kepala melirik peta tersebut.
Tergambar Konoha, berbentuk lingkaran tak sempurna, dikelilingi bukit dan pegunungan. 7 Garis merah mengelilingi Konoha, makin ke dalam Konoha, makin kecil lingkarannya. Itachi menunjuk lingkaran merah terbesar, yang berada tepat di kaki pegunungan.
"Kira-kira, mereka sudah berada di pertengahan kekkai pertama, di sekitar hutan ini," Itachi menunjuk hutan yang berada di kaki pegunungan di Selatan, yang terletak diantara 2 garis merah.
Kuil Suzaku tepat di kekkai pertama. Hinata dan Sasuke saling lirik. Baru beberapa menit lalu mereka disana. Diam-diam Hinata meneguk ludah. Baru menyadari betapa bahayanya tindakan mereka tadi.
"Namun yang berada disana adalah pasukan terdepan. Diperkirakan pasukan yang lain masih ada di belakang, jauh sebelum kekkai pertama," jelas Itachi.
"Kita pusatkan kekuatan tepat di hutan Selatan. Tahan dan habisi mereka sebelum masuk ke pemukiman penduduk yang berada di kekkai ketiga. Untuk berjaga-jaga, akan ada pasukan yang menjaga di tiga penjuru yang lain namun tak sebanyak di Selatan. Sediakan juga beberapa pasukan di Tenggara dan Barat Daya untuk mengepung para yokai—"
Dan diskusi rencana berlanjut sampai larut malam, agak membosankan hingga Hinata dan Sasuke sudah membuat rencana sendiri dalam pikiran mereka. Ketika para onmyouji mulai meninggalkan ruangan, Neji memberikan kode pada Hinata untuk bercerita setelah rapat ini, namun gadis itu hanya mengangguk. Ia tahu, pasti setelah ini Neji akan menuju kamarnya, siap menginterogasinya di depan kamar. Namun Hinata harus mengurus hal ini sebelum bertemu Neji. Ia tak mau Ayahnya menunggu lebih lama. Kini, di ruangan tinggal Hinata-Sasuke dan Hiashi-Itachi.
"Nah," Hiashi menyesap ocha di depannya, "Apa yang dari tadi ingin kau bicarakan, Hinata?"
Hinata menganggukkan kepala, "Tou-san," balasnya. "Aku dan Sasuke memiliki rencana sendiri—sehingga aku ragu bisa ikut dalam rombongan ke Selatan."
Hiashi mengangkat sebelah alisnya,"Rencana seperti apa?"
Hinata mengeluarkan gulungan catatan milik Kakeknya yang diberikan Sasuke kemarin. Dengan hormat, ia memberikan gulungan itu pada Hiashi. Ayahnya itu membaca gulungan tersebut dalam diam—sesekali mengangkat alisnya yang keheranan.
"Ini dari kakekmu?" tanya Hiashi, seakan memastikan, "Yang dititipkan pada Sasuke?"
Hinata mengangguk, diikuti Sasuke.
"Orang tua itu menitipkannya padaku dan menyuruhku memberikannya pada siapapun calon ketua klan yang kupilih," balas Sasuke acuh tak acuh.
"Lalu, apa rencana kalian?"
Pemuda berambut panjang itu membuka matanya, ketika melihat Hinata beserta yokainya berjalan menyusuri lorong kamarnya. Sudah sedari tadi Neji bersandar di depan pintu kamar Hinata, menunggu adik sepupunya itu kembali, seperti dugaan Hinata.
"Neji-nii," sapa Hinata, agak terkejut dan bersalah, "Maafkan keterlambatanku."
Neji menghela napas, "Tentu saja. Apa yang kau bicarakan dengan Ketua Klan?"
Hinata hanya tersenyum, tak menjawab. "Ada apa, Neji-nii?" tanyanya berbasa-basi.
Mengerti bahwa Hinata menolak menjawab, Neji menyerah, "Kemana saja kau?"
"Berkeliling bersamaku," balas Sasuke, membuat Neji menatapnya tajam. "Bagaimana kalau kau membatalkan niatmu dan membiarkannya," ucapnya seraya menunjuk Hinata, "membersihkan dirinya dan beristirahat."
Neji mendengus. "Kutunggu kau besok di tempat latihan, Hinata. Lebih baik kau siapkan ceritamu dari sekarang. Ino dan Hanabi mengkhawatirkanmu dari pagi."
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya, baru saja mengingat bahwa Ino datang, "Oh ya, bagaimana Ino?"
"Cerewet," gumam Neji. "Dia tak berhenti bertanya kemana kau pergi sehingga aku dan Hanabi harus melayaninya bertarung seharian."
Sulung Hyuuga itu tertawa kecil, "Terima kasih Neji-nii."
"Sama-sama," balasnya,. Lalu seakan tersadar, ia terdiam seraya mengangkat alisnya, "Untuk apa?"
Yokai berambut hitam itu telah menggeser pintu kamarnya, menunggu Hinata masuk menyusulnya ketika gadis itu tersenyum pada Neji, "Untuk semuanya."
Neji tertegun saat sepupunya itu menganggukkan kepala, pamit duluan dan memasuki kamar yang segera ditutup pintunya. Ia menggelengkan kepala, membiarkan senyum terukir tipis di wajahnya lalu berjalan pergi.
Ketika ia membuka mata, tampak ruang meditasi terbentang di hadapannya. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya. Ia menghela napas pelan, merileksan posisinya.
Sebenarnya kediaman Hyuuga ini hanya punya satu kekurangan; tempat meditasi yang nyaman.
Hinata menoleh, menemukan Sasuke dibelakangnya, bersandar pada dinding kayu. Gadis itu ikut mundur, memposisikan dirinya disebelah yokai itu.
Ruangan ini nyaman.
Lebih nyaman meditasi di dekat air terjun.
Aku akan duduk di batu tepat di bawah air terjun dan badanku menahan air berkubik-kubik banyaknya?
Ya. Pijat alami.
Hinata tertawa kecil. Iya, bagimu.
Kita akan mencobanya setelah aku menghabisi Madara.
Onmyouji itu merasakan darahnya—atau milik Sasuke?—berdesir. Hatinya serasa melompat-lompat, bersemangat, senang, dan... dan... haus darah. Dendam dan marah bercampur aduk bersama rasa excited itu.
Aneh rasanya ketika mengetahui sebagian dirimu yang lain berbahaya.
Ia berpikir apa yang akan ia lakukan pada jam ini besok. Dalam kurang dari 24 jam, ia bisa ada di barisan terdepan pasukan, membunuh mati para yokai, atau... berada di tanah, tersungkur dengann panah di jantung.
Dan ia merasakan Sasuke terganggu dengan pikiran itu, menyentuh benaknya kasar, Aku takkan membiarkanmu mati.
Hinata tersenyum, menoleh dan mengamati wajah yokainya itu. Dari luar, Sasuke tampak santai dan tenang. Tak tampak tanda-tanda kemarahan dan haus darah yang sebenarnya menjalar di otaknya, tak sabar menunggu kesempatannya datang.
"Aku tahu," bisik Hinata.
Benak Sasuke mengingatkannya, kalau mereka punya rencana sendiri, bahwa mereka mandiri, bahwa mereka itu satu. Hinata terlalu hanyut dalam benak Sasuke yang menyesatkan dan rumit—yang makin lama menelannya, membuatnya enggan pergi. Benaknya seperti menemukan buku diary seseorang yang kau anggap misterius; setiap halaman menggoda, ingin tahu lebih dan lebih, walau kadang kau tak mengerti nama siapa yang tersebut disana.
Begitu tersadar, gadis itu hanya melihat wajah Sasuke—begitu dekat, dengan mata segelap malamnya, kulit putih pucatnya, dan bibirnya yang membentuk sudut-sudut khusus; menyeringai.
Ia dapat merasakan kepuasan Sasuke melihat wajahnya memerah setelah sadar dari lamunannya. Menyadari bahwa Hinata tetaplah Hinata, sulung keluarga Hyuuga yang pemalu dan pendiam.
Walaupun keduanya satu, walaupun Hinata kini dapat membaca pikiran Sasuke, ia tetap terkejut ketika yokai itu mengecup bibirnya. Tangan kanannya mengelus pipi Hinata, tangan kirinya memeluk gadis itu erat. Dan yang membuatnya lebih kaget lagi adalah; ketika tubuhnya otomatis membalas ciuman itu dan menemukan tangannya sudah mencengkram bagian depan baju Sasuke.
Apa ini? Ciuman selamat tinggal? Seringai Sasuke belum menghilang ketika keduanya terpisah, Hinata lungai di bahunya. Seluruh kepalanya mungkin merah sekarang.
Bukan, Hinata menghela napas di leher Sasuke, menemukan kenyamanan aneh dan rasa menggulung-gulung perutnya, tapi ciuman sebelum pergi.
Sasuke mengangkat alisnya. Bukan ciuman kemenangan?
Hinata tertawa di balik lehernya, Ciuman kemenangannya nanti, setelah kita pulang dengan kepala Madara di tanganmu.
Perasaan buas dalam Sasuke naik lagi ke permukaan, kini dengan kepuasan dan keyakinan akan menang, Tentu saja.
Gadis berawah pucat itu menguncir rambut gelapnya, membentuk ekor di belakang lehernya. Ia memakai baju onmyouji khas Hyuuga, dengan lambang api di belakangnya. Ia raih segala perlengkapannya—kertas mantra, air suci, panah, dan lain-lain. Hari ini, pertama kalinya, bungsu dari Hyuuga akan ikut bertarung. Langsung melawan pasukan Madara.
Hanabi keluar dari kamar dengan badan tegap dan percaya diri. Ia bergabung dengan pasukan yang sudah bersiap. Semuanya mengangguk tanpa kata-kata pada gadis itu, yang dibalas anggukan serupa. Ia menyelinap dari berbagai onmyouji dan menemukan Neji di barisan depan, memegang tali kekang dua kuda.
"Ohayou," sapa Hanabi—kata pertama yang keluar hari itu. Neji hanya mengangguk, memberikan salah satu kudanya pada gadis itu.
"Mana nee-chan?" tanyanya, seraya mengelus surai kuda cokelat itu.
"Bersama ayahmu. Kita berangkat dini hari, sekitar sejam lagi," balas Neji.
Hanabi memutar kepalanya kaget, "Bukannya saat matahari terbit?"
Kakak sepupunya itu menggeleng, "Kita harus sampai sana ketika matahari terbit, saat itu mereka sedang lemah-lemahnya."
"Lalu, bagaimana dengan yokai yang ikut bertarung dengan kita seperti Sasuke atau Sai?" tanyanya.
"Menurut Ino mereka akan diberi mantra khusus yang membuat tubuh mereka kebalikan dari yokai; mengambil tenaga dari matahari terbit namun justru lemah ketika matahari terbenam."
Hanabi terdiam. Bagi yokai, waktu kejayaannya adalah saat matahari terbenam dan waktu terlemahnya adalah saat matahari terbit. Sebenarnya ini adalah rencana yang bagus. Namun, tetap saja ia ragu dan bertanya-tanya bagaimana perasaan Sasuke dan Sai melawan klan-nya sendiri, apalagi sampai jadi yokai berkebalikan seperti itu.
Ringkikan kuda terdengar. Kedua Hyuuga itu menoleh, menemukan Ino dan Sai berjalan ke arah mereka. Keduanya terlihat bersemangat walaupun Ino jelas-jelas masih setengah tidur. Sementara Sai, senyum pura-puranya berubah menjadi senyum sadis—tampak tak sabar menghabisi klan-nya.
"Kau tampak... tak sabar," ucap Hanabi hati-hati.
Sai tersenyum padanya, senyum palsu sekaligus penuh semangat yang membuat Hanabi mundur tanpa sadar. "Memang benar," ucapnya. "Aku tak sabar ingin mengambil jantung mereka."
Gadis itu memutar bola matanya. Ia mendengus ketika melihat Sasuke, agak jauh di belakang Sai, menarik kekang kuda, menuju mereka. "Ini lagi."
Sai menoleh, senyumnya makin lebar melihat Sasuke. Ketika yokai itu sampai di depan mereka, Hanabi mengerutkan alisnya. Ia tak menemukan kakaknya dimanapun, bahkan di sisi Sasuke.
"Kau tak bersama Hinata?" tanya Neji menyuarakan isi pikiran adik sepupunya.
Jawaban Sasuke hanya seringai misterius sekaligus berbahaya di wajahnya.
"Jangan bilang..."
Namun seringai itu belum hilang. Neji dan Hanabi mundur selangkah, keduanya mengerutkan alis tak percaya. Hampir saja keduanya maju, hendak mendesak Sasuke ketika suara Hiashi membahana. Mereka seketika berdiri tegak, menghadap depan—langsung bertatap mata dengan Ketua Klan Hyuuga itu. Yang membuat pasukan Hyuuga terkejut, putri sulungnya juga berdiri disampingnya, dengan baju miko—bukan pakaian onmyouji siap tempur seperti mereka kenakan.
Hiashi memberikan wejangan sebentar sebelum mereka semua pergi. Setelah meyakinkan semuanya bahwa mereka akan menang, ia menaiki kuda—serentak dengan para onmyouji lain. Sementara Neji dan Hanabi hanya menatap Hinata lekat. Apa yang ia lakukan disana? Hanya berdiri dan tersenyum pada semua orang?
Suara Hiashi tak lagi Hanabi dengarkan. Ia sudah terlalu sering mendengar ayahnya menjelaskan taktik perang ini. Gadis itu terlalu fokus dengan kakaknya yang dengan tenangnya tersenyum pada semua orang, seolah memberi semangat. Ia melirik Sasuke di sampingnya. Keduanya seakan memiliki ketenangan yang sama. Tenang yang mencurigakan.
Ia baru sadar ada sesuatu yang aneh ketika Neji dan para onmyouji di sekelilingnya bergerak resah. Hanya Sasuke yang masih tenang, duduk tegap di atas kudanya. Ia menolehkan kepalanya ke segala arah, mencari apa yang terjadi.
"Yang benar saja!"
"Apa-apaan—"
"Perubahan rencana di menit-menit terakhir?! Apa yang Ketua pikirkan?!"
Hanabi membulatkan matanya, baru saja menyimpulkan apa yang terjadi ketika tangan Neji melewatinya, menarik pakaian Sasuke.
"Apa. Yang. Kau. Rencanakan."
Si bungsu terbelalak, "Oh..."
Seringai di wajah Sasuke belum hilang. Ia biarkan Neji mencengkram bajunya, menatapnya penuh kecurigaan.
"Tanyakan pada adik sepupumu."
Neji melirik Hinata yang tampak cemas melihat mereka—walaupun ketenangan belum hilang darinya. Ia mendengus, melepaskan cengkramannya.
"Sabar, Neji-kun. Lagipula, apa bedanya Hinata dengan Sasuke, sih?" celetuk Sai.
"Benar," akhirnya Sasuke berbicara. "Aku tak ubahnya Hinata."
Dan entah kenapa, Hanabi merasa, di sebelahnya ini bukanlah Sasuke. Melainkan Hinata.
"Karena aku adalah Hinata—"
Suaranya adalah suara Hinata. Sosoknya adalah sosok Hinata. Yang terbayang di benak Hanabi ketika melihat dan mendengar seseorang di sampingnya itu adalah... kakak perempuannya. Hinata.
"Dan Hinata adalah aku."
Hanabi mengalihkan pandangannya ke depan, melihat Hinata tersenyum padanya. Dengan ketenangan yang sama, yang akhirnya ia sadari. Ketenangan milik Sasuke. Disaat yang bersamaan, ia mengerti. Tentang hubungan kakaknya dan Sasuke yang dari dulu ia khawatirkan.
Ia hanya tak menyangka. Betapa berbedanya mereka. Namun betapa mirip pula keduanya.
"Diam!"
Suara ayahnya menggelegar, membisukan para onmyouji. Dengungan di udara menghilang. Keluhan dan seruan tak percaya hilang.
"Kuulangi pergantian taktik ini—"
Gadis itu tak memperdulikan para pelayan Hyuuga yang menatapnya seolah melihat hantu. Rumah sebesar ini, yang biasanya diisi oleh begitu banyak orang, mulai dari onmyouji sampai yokai, kini kosong melompong. Hanya ada pelayan-pelayan yang membersihkan rumah seperti biasa. Dan tentu saja, ada satu onmyouji yang tersisa.
Hinata.
Ia hanya tersenyum membalas tatapan para pelayan itu. Dengan santai, gadis itu mengelilingi kediaman Hyuuga, ikut bergabung membuat sarapan di dapur. Walaupun masih dini hari—baru beberapa saat lalu pasukan Hyuuga pergi—ia butuh sarapan. Lebih tepatnya, ia dan Sasuke butuh energi. Karena Sasuke tak bisa makan dalam keadan seperti ini, tentu saja Hinata yang menyediakan energi untuknya. Ia pun membuat 2 porsi makanan, plus tomat kesukaan Sasuke.
Rencananya hari ini:
Sarapan
Mendoakan para pasukan
Membersihkan kamar, mungkin sedikit bersantai
Hei, coret bersantai itu.Hinata tertawa kecil mendengar benak menyeruak. Ia mengunyah makanannya pelan, menatap meja yang panjang terbentang, namun kosong melompong.
Bagaimana disana?
Baik-baik saja. Neji masih tak habis pikir. Hanabi hanya diam.
Dia pasti tegang, Hinata mengigit bibir, mengkhawatirkan Hanabi.
Sasuke tak membalas, namun jika ia ada disini, Hinata yakin ia hanya mengangkat bahu.
Beritahu aku kalau sudah waktunya.
Tentu saja.
Kekkai keenam.
Sasuke bukanlah orang yang sering mengeluh. Tapi kalau selama ini, siapa yang tahan?
"Lama juga ya, hm?" sapa Sai.
"Hey, ini kuda Hyuuga yang tercepat ya!" sahut Hanabi dari belakang. Kuda-kuda mereka saling bekejaran, mendahului satu dengan yang lain. Sementara Neji, berada di depan mereka, bersama Ketua Klan dan Itachi.
"Hanabi-chan," kuda Sai memelan, membuatnya sanggup meraih Hanabi dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. "Ketahuilah, yokai jauh lebih cepat."
Hanabi mendengus. "Kenapa kalian naik kuda, kalau begitu?"
Sai tak membalas, begitupula Sasuke yang dari awal diam saja. Mereka hanya membiarkan Hanabi yang kesal sendiri.
Tiba-tiba kuda Neji berbelok, menghadang mereka. Seketika seluruh kuda berhenti, begitu pula kuda Ketua Klan.
"Di perbatasan kekkai kelima, kita berpisah sesuai pasukan masing-masing!" serunya memberi arahan. Serentak, seluruh pasukan mengiyakan. Dan kuda pun kembali berjalan.
Sasuke menghela napas pelan. Yah, ia memang bukan orang yang suka mengeluh, tapi ia adalah orang yang tak sabaran.
Hinata melirik jam dinding di kamarnya. Lalu mata putihnya mengamati sekeliling. Kamarnya sudah bersih. Dalam hati, ia men-checklist daftar nomer tiga, setelah menghapus kata-kata 'sedikit bersantai' seperti permintaan Sasuke. Gadis itu kembali melirik jam. Menurut Sasuke, mereka baru sampai kekkai ketiga.
Masih agak lama.
Hinata memutuskan unutk bermeditasi sebentar, agar semuanya lancar.
Kekkai ketiga. Akhirnya, sedikit lagi sampai.
Sasuke berusaha mengabaikan semangatnya yang menggebu-gebu. Kini, pasukan besar Hyuuga sudah terpecah belah. Ia sendiri kini hanya bersama Hanabi, memimpin pasukan yang akan mengepung musuh dari kanan.
"Kau... Sebenarnya ada apa antara kau dan Hinata-neechan?" suara Hanabi menyeruak. Gadis itu menoleh ke belakang, melirik pasukan yang agak jauh.
Sasuke enggan menjawab. Hanabi tahu itu. Jadi ia terus berbicara, "Aku... baru menyadari sesuatu. Kalian, sangat berbeda. Jauh berbeda. Namun pagi ini, aku merasa kalian sama."
Gadis muda itu terdiam di kudanya, lalu tak lama kembali berbicara, "Kalian... Sebenarnya apa yang kalian lakukan? Jiwa kalian... seakan sudah menyatu."
Sasuke malas menjelaskan panjang lebar. Pasti sebenarnya anak ini hanya takut dan bingung. Yah bagaimana pun juga ini pertarungannya yang pertama. Kalau Hinata ada disini, pasti ia akan ikut cemas dan khawatir.
"Bukankah sudah kubilang, aku ini adalah Hinata. Dan Hinata adalah aku," balas Sasuke malas-malasan.
Hanabi mengigit bibirnya. "Kalau begitu kau pasti tahu mengapa aku cerewet seperti ini."
Sasuke melirik gadis itu sebentar, "Kau gugup."
Seketika gadis itu menoleh cepat. "Ha... Kau benar-benar mirip Hinata-neechan!"
Kalimat itu sukses membuat Sasuke memutar bola mata, menyesal telah menjawab.
Suara kuda yang meringkik keras mengagetkan pasukan itu. Asalnya dari depan, tempat para pejabat-pejabat Hyuuga memimpin. Yah, kalau Ino-Sai dan Neji bisa dibilang pejabat.
"AW, NEJI!" Ino memelototkan matanya.
Neji mengalihkan pandangannya malas, "Kita sudah di kekkai ketiga dan kau masih tidur."
"Hei, tidur itu menambah tenaga, kau tahu? Dan sedang apa kita sekarang? Bertarung bukan? Jadi aku mempersiapkan energiku untuk bertarung nanti!" seru Ino kesal. Ia menoleh pada Sai disampingnya yang hanya senyum-senyum, "Sai! Kau ini kan yokaiku, bantu aku!"
"Ah, apakah aku harus turun disini dan memotong kepalanya, Master?"ucapnya. Jelas, baginya, ini lelucon.
"Tak ada perpecahan di pasukanku," balas Neji.
"Hei, yang membuat perpecahan itu kau! Kau yang membangunkanku!"
Sai tertawa kecil, "Ya, padahal kalau tidak dibangunkan, Ino akan keliatan sangat bodoh, tertidur di atas kuda."
"SAI!"
"Bisakah kalian diam? Musuh bisa mendengar kita."
"Baiklah, Tuan Neji yang sempurna! Kita baru di kekkai ketiga dan mereka akan mendengar kita karena teriakanku. Lucu sekali."
"Hahahaha."
"Tidak lucu, Sai."
"Oh, aku hanya menuruti kata majikanku."
Neji mendengus. Benar-benar. Bisa-bisanya ia satu pasukan dengan mereka.
Kelopak mata yang sedari menutup itu kini terbuka lebar. Napasnya yang teratur membuat badannya naik-turun. Bulir-bulir keringatnya menuruni dahi. Bola mata putihnya bergerak menatap sekeliling. Tak lama, ia bangkit dan menggeser pintu.
Matahari sebentar lagi terbit.
Kami sudah di posisi. Bersiaplah.
Hinata membisikkan doa panjang bagi mereka, lalu bersiap. Ia berjalan, melewati lorong-lorong panjang, mengitari kediaman Hyuuga. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah lapangan kecil yang berada tepat di tengah-tengah kediaman Hyuuga. Atau lebih tepatnya, berada tepat di tengah-tengah Konoha.
Di tengah-tengah lapangan itu, terdapat batu alam yang konon diletakkan oleh para pendahulu, sebagai pertanda pusat Konoha. Dalam membuat kekkai khusus ini, sangat penting untuk mengetahui letak tengah atau pusatnya. Karena itu, sebelum Konoha dibangun, para pendahulu meletakkan batu tersebut sehingga mereka mudah membuat kekkai. Semakin ke pusat, semakin kuat kekkai tersebut, begitulah menurut pusaka.
Hinata tersenyum lemah. Sayangya kekkai itu kini sudah rusak. Bahkan para yokai bisa menembusnya. Kini, saatnya ia membetulkannya.
Gadis itu membuat lingkaran mantra yang telah ia pelajari dari kemarin dengan ketengan yang luar biasa. Membuat mantra kali ini harus tenang, karena itu ia bermeditasi sebelumnya. Mantra ini ia dapatkan dari pusaka kakeknya yang dititipkan oleh Sasuke. Tampaknya sang kakek sudah mengetahui hal ini akan terjadi, namun ia terlanjur pergi. Sehingga ia menitipkannya pada Sasuke. Kini, dengan ijin Hiashi, ia dan Sasuke membuat rencana sendiri, mengacuhkan rencana awal.
Ia akan membetulkan kekkai. Membuat kekkai baru dengan kekuatan keempat Dewa Penjaga. Dan Sasuke, akan menyerang, membalaskan dendamnya. Membawa pulang kepala Madara. Seperti gayanya bertarung, seperti mereka biasa bertarung. Ia dalam bertahan, dan Sasuke dalam menyerang.
Aku siap, Sasuke. Good luck.
Hn. Tunggu aku.
Beberapa menit lagi, matahari terbit. Mereka akan menyerang tepat saat itu. Dan kini, mereka tinggal menuju kode.
Yang terdengar hanyalah napas mereka. Bahkan kuda-kudanya pun terdiam. Sasuke menatap perkemahan yokai itu tajam-tajam. Dalam hati ia mengabsen satu persatu yokai yang muncul di hadapannya. Mereka baru bersiap-siap istirahat karena sebentar lagi matahari naik. Ia tinggal mencari dimana Madara berada.
Menit demi menit penuh kesabaran, kini sirna. Cahaya mentari pagi menyinari dunia. Dan suara ribut-ribut mulai menggema.
"SERAAAANGGG!"
Hanabi meraba dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia dapat melihat Ayahnya yang memimpin dan Itachi di sisinya yang menggila. Semua onmyouji yang ia kenal kini membabi buta, menyerang perkemahan para yokai yang sedang lemah-lemahnya. Perlahan, ia melirik Sasuke di sampingnya, penasaran.
Matanya membesar melihat Sasuke yang tampak tak sabar. Ia melihat mata Sasuke berkilat tajam, seakan haus darah. Sasuke, yang tersadar sedang diamati, menolehkan kepalanya. Menunjukkan seringainya.
Bagaimana orang yang seperti ini menyatu dengan kakaknya? Kakaknya yang lembut dan baik hatinya?
Hanabi menggeleng pelan, hati nuraninya menyela sesuatu. Bukan orang. Dia adalah iblis. Yokai yang menyatu dengan kakaknya.
Seringai itu belum hilang, seakan berkata, "Selamat datang di pesta yang sebenarnya, gadis cilik."
Pelayan-pelayan di rumah keluarga Hyuuga tak berani keluar kamar. Sepertinya Hinata sedang sibuk bermeditasi, walaupun mereka tak tahu meditasi apa di tengah-tengah lapangan. Mereka, orang awam yang tak mengerti apa yang terjadi. Mereka tak bisa melihat mantra-mantra yang telah gadis itu lukis di sekeliling titik pusat itu dengan darahnya sendiri. Titik pusat, tempatnya ia bersemedi kini.
Mulutnya mengucapkan mantra, tangannya terkatup di depan dada. Ia berkonsentrasi penuh. Mantra kali ini adalah mantra kuno sehingga ia telah menghapalkannya setengah mati, menghayatinya, dan mengetahui artinya.
Terlalu konsentrasi, sehingga ia tak sadar bahwa angin berhembus tak wajar, bahwa dunia kini memanas, bahwa pohon-pohon bergesekan terlalu kencang.
Pemuda itu menguncir rambutnya agar tak mengganggu nanti. Ia melirik Ino dan Sai yang kini tampak serius. Sebentar lagi... sebentar lagi pasukannya dan Sasuke yang ada diseberang sana akan mengepung para yokai. Mereka tinggal memastikan semua yokai telah keluar dari tempatnya.
"Wah. Tarian yang indah," ucap Sai, dengan volume normal, yang langsung dipelototi Ino dan Neji. Ia membalas tatapan keduanya dengan seringai yang berbeda dari biasanya. Seringai haus darah. "Aku jadi tak sabar."
Neji menghela napas, kembali memperhatikan bergulirnya perang. Para onmyouji berhasil menekan para yokai. Sejauh ini, darah yang tercecer masih darah yokai.
"Argh!"
Seketika, mereka semua melirik arah datangnya suara. Salah satu onmyouji ada yang mati, dengan kuku-kuku panjang seorang yokai di dadanya. Yokai itu mendorong tangannya sehingga menembus tubuh onmyouji itu dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Jantung yang berwarna merah darah.
Disini, dibalik pepohonan rindang yang tersembunyi, Neji berharap, Hanabi tak melihat hal itu.
Darah bersimbah. Tulang-tulang patah. Perut yang terbelah. Mata yang terbelalak. Pemandangan itu membuat Hanabi mual. Ia memutuskan untuk membalikkan badannya. Punggungnya bersandar pada pohon, tangannya mendekap mulut, alisnya mengerut. Matanya bertemu dengan mata Sasuke.
Yokai itu sedang mengamatinya.
Sesungguhnya, yokai itu sedang bertanya-tanya dalam hati, bagaimana jika Hinata disini. Apakah gadis itu akan seperti Hanabi? Ketakutan, mual dan tak kuat melihat pemandangan di depannya?
"Argh!"
Hanabi membulatkan matanya, hendak menoleh. Namun kepalanya di tahan oleh tangan Sasuke di puncak kepalanya. Kesal, ia mendelik pada yokai itu.
"Hei, tanganmu itu mengganggu tahu?"
"Jangan menoleh."
"Hah?"
"Kau bakal lari pontang-panting kalau menoleh."
Hanabi pun terbakar amarah. "Apa maksudmu?! Maksudmu aku takut, begitu?!"
Sasuke memutar bola matanya. Hanabi pun terdiam. Ia menghela napas, mengakui kekalahannya. Ia melirik sekeliling. Pasukannya masih sibuk mengamati jalannya perang.
"Aku harus bagaimana?" bisiknya putus asa. "Rasanya aku ingin pulang, aku ingin bersama Hinata-neechan saja. Kupikir aku akan jadi hebat, aku dapat membantu keluargaku, membela Konoha walau masih SMP. Namun aku tak sanggup."
Sasuke menghela napas. Ia kesini untuk membalaskan dendamnya. Bukan menenangkan anak kecil.
"Kau tahu senjata andalan Hinata?"
Hanabi melirik Sasuke tanpa mengangkat kepalanya. "Kekkai?"
"Kekkai penghancur," koreksi Sasuke.
"Tentu saja. Kita mengurung yokai, lalu dengan mantra khusus menghancurkan segala hal yang ada dalam kekkai itu."
Yokai itu mengangguk, kini telah memusatkan perhatiannya kembali ke dalam medan perang. "Kau bisa memakai itu. Cukup memanjang pohon yang agak tinggi dan melihat tarian-tarian kami," ia menyeringai. "Lalu kau tinggal mengurung yokai-yokai kecil pengganggu dan menghancurkannya."
Kini, gadis itu ikut menyeringai. "Boleh juga."
"Tapi tentu saja, pemandangan di depanmu akan lebih indah di atas pohon nanti."
Hanabi pun memucat.
Mata birunya melirik yokai di sebelahnya. Tangannya menggenggam tangan yokai itu. Sementara yokai miliknya itu hanya diam, masih menikmati suasana perang.
Neji melihat itu semua di samping mereka. Tanpa sadar, ia melirik tangannya sendiri. Tangannya juga digenggam Ino. Gadis itu pasti ketakutan, tapi sok tegar. Khas Ino.
Ia melirik kanan-kirinya, para pasukan bersiap menunggu perintah. Melihat tanda-tanda medan perang yang butuh bantuan, dan tampak seluruh yokai telah maju kedepan, Neji menghela napas. Ia membisikkan doa pelan, memohon keselamatan.
Akhirnya, tangannya yang bebas terangkat.
"Hei."
Sasuke mengadahkan kepalanya, melihat Hanabi yang sudah berada di atas pohon, duduk dengan cukup nyaman. Wajahnya tampak pucat, namun ia baik-baik saja. Gadis itu berusaha tersenyum padanya. Tampak tangan kanannya memegan busur dan panah yang telah diikatan kertas mantra.
"Aku menunggumu menari."
Seringai Sasuke melebar. Ia melihat aba-aba di seberang sana. Pasukan Neji sudah menyerang. Matanya berkilat buas. Tangannya segera berayun, menyuruh pasukan menyerang.
Sementara Hanabi mengigit bibirnya, berdoa pelan sebelum melepaskan anak panah.
Orang awam akan berkata, pagi itu mendung. Walaupun matahari tetap bersinar seperti biasa, rasanya langit menggelap dengan angin yang terlalu kencang untuk pagi seperti ini.
Sebenarnya, itu semua akibat mantra Hinata.
Gadis itu sendiri tak sadar. Ia tetap membaca mantra yang cukup panjang itu. Hingga ketika mantra itu berakhir, ia membuka matanya.
Ia sudah tak lagi berada di Kediaman Hyuuga. Ia berada dalam cahaya putih terang. Dan di kanan-kiri-depan-belakangnya, sudah muncul keempat Dewa Penjaga. Seiryuu di sebelah Timur, Suzaku di sebelah Selatan, Byakko di Barat, dan Genbu di Utara.
Bocah Hyuuga yang kemarin, sapa salah satu diantara mereka. Kau meminta pertolongan kami, untuk membuat kekkai baru, benar, begitu?
Hinata mengangguk. Kumohon, pinjamkan kekuatan kalian. Sebelum pasukan Uchiha yang lain menerobos masuk kekkai pertama yang telah rusak.
Tentu saja, Hyuuga. Kami adalah penjaga keseimbangan. Itulah tugas kami.
Angin pun berhembus begitu kencang hingga mata Hinata terpejam, secara otomatis melindungi diri. Dan ketika ia membuka matanya, ia sudah kembali ke Kediaman Hyuuga. Ia mengadahkan kepalanya, melihat kekkai berbentuk kubah telah melapisi Konoha. Lalu pelan-pelan, terbentuk kekkai-kekkai berikutnya, hingga 7 lapis, seperti sebelumnya.
Hinata tersenyum. Tugasnya telah selesai. Kini tinggal perjuangan yang disana.
Itachi menoleh, menyadari udara makin berat. Namun para onmyouji merasa biasa saja. Sepertinya hanya yokai yang terpengaruh. Ia mengamati sekelilingnya, seraya merobek perut salah satu yokai yang menerjangnya.
"Kekkainya, Aniki."
Sang adik, yang sibuk melawan yokai di sebelahnya, menyeringai, meliriknya sebentar. "Hinata selesai melakukan tugas."
Melihat yokai lain mencoba menyerang Sasuke, Itachi mendorong yokai itu dan menghabisinya. Sementara Sasuke akhirnya berhasil memusnahkan yokai di depannya.
"Kita tinggal habisi yang disini saja, bukan?" ucap Itachi setelah mengalahkan yokai tadi, menjilat tangannya yang berlumuran darah.
"Hn. Aku akan mencari Madara," balas Sasuke dengan mata berkilat, bersiap membongkar kemah demi kemah.
"Tunggu!" seru Itachi, menahan tangannya. "Aku saja."
Alis Sasuke mengerut, keberatan. "Aniki, aku—"
"Biarkan aku yang melahap jantungnya, Sasuke. Jika aku kalah, kuberikan ia padamu. Setuju?"
Sasuke mendecih, "Terserahlah."
Pria dengan tangan yang masih diperban itu kini telah berhadapan dengan yokai yang disebut-sebut Madara. Madara Uchiha.
Ia pantas merajai yokai. Karena bahkan Hiashi Hyuuga pun merinding begitu melihatnya. Ia tahu, yokai itu bukan yokai sembarangan.
"Hyuuga, eh? Apakah kau tak puas dengan penolakan kami kemarin?" tanyanya, bangkit dari tempat duduknya.
"Aku hanya mengabulkan keinginanmu," balas Hiashi tenang.
"Benarkah? Apa itu?" Madara mencabut pedangnya pelan.
"Membuat perang," ucap Hiashi, ikut mempersiapkan senjatanya. "Membuat darah dan korban bertebaran."
Bibir Madara membentuk seringai mengerikan. Ia berlari menerjang Hiashi yang masih tenang-tenang saja. Pedang itu takkan menembus kekkai transparan Hiashi. Sementara itu, sang Ketua Klan komat-kamit membaca mantera dan melemparkan kertas mantra.
Kertas itu dengan mudah diremukkan oleh Madara. "Kau tahu, Hyuuga, aku tak segampang itu dimusnahkan."
"Tentu saja aku tahu."
Gadis itu masih belum mengganti bajunya. Ia mencemaskan pertarungan disana. Sebagai calon Ketua Klan berikutnya, ia merasa bersalah jika tak ingin. Karena itu, ia mempercepat langkahnya, menuju altar di Ruang Utama.
Altar itu, biasa dipakai semua onmyouji Hyuuga berdoa sebelum pergi bertugas. Tentu saja, kemarin sebelum pergi ke medan perang, mereka menyempatkan diri berdoa di altar. Dan kini, Hinata mencobanya.
Selain untuk berdoa, ia juga ingin mempraktekkan mantra yang lain.
Gadis itu bersimpuh di depan altar, berdoa panjang-lebar nan khusyu.
Dalam diam, Itachi dan Sasuke berlari menuju Ketua Klan. Menurut Itachi, majikannya itu akan menghadapi Madara sendirian. Namun dengan tangannya yang terluka, mereka tak begitu percaya Ketua Klan Hyuuga dapat menghadapi Madara.
Tak lama, kemah Madara terlihat. Itachi buru-buru menyibakkan kain, melihat keadaan.
Hiashi Hyuuga terkapar di pojokan, mulutnya telah penuh darah. Sebenarnya ia baik-baik saja, namun tangan dan kakinya patah hingga ia tak bisa bergerak. Sementara Madara, juga tampak terluka. Tangan yang memegang perutnya tampak bercucuran darah. Namun tetap saja senyum kemenangan itu ada padanya. Apalagi ketika melihat Itachi dan Sasuke masuk.
"Anak-anakku," desahnya. "Selamat datang kembali."
Ino memucat. Sai tampak sibuk dengan yokai berwujud elang itu. Sementara onmyouji yang lain juga sudah kepayahan. Yokai di depannya ini akan membunuhnya dalam beberapa detik. Jika saja ia dapat mengambil kertas mantra di depannya... Jika saja yokai jelek ini tak mengapitnya... Jika saja...
Tiba-tiba yokai berwujud laba-laba berkepala manusia yang mengapitnya tertusuk panah yang telah diikat kertas mantra. Entah datangnya darimana. Ino mengerjap-ngerjapkan matanya, ketika yokai itu hancur di depannya. Ia ambil anak panah itu dan mengamatinya perlahan. Matanya mengikuti arah datangnya panah itu. Sebuah pohon di sisi kanan...
Dan ia melihat Hanabi, bertengger di dahan pohon, memanah yokai-yokai dari atas. Sesekali gadis itu menahan yokai dalam kekkainya dan menghancurkannya dengan kekkai penghancur. Ino tersenyum. Setelah ini ia harus berterima kasih pada gadis itu.
"Ino!"
Gadis itu menoleh, melihat Sai menghampirinya. Namun ada yokai yang hendak menyerangnya dari belakang. Seketika Ino melemparkan anak panah ditangannya pada yokai itu.
Sai melirik belakangnya, mengacungkan jempolnya. Ino hanya tertawa lelah. Ia mengambil kertas mantra yang tak jauh di tempatnya. Mengikuti istilah Sai dan Sasuke, ia pun mulai menari.
Itachi memuntahkan darah dari mulutnya. Ia mundur perlahan, bersiap menyerang. Detik berikutnya, yokai itu telah mengeluarkan segala jurus yang ia tahu untuk melawan Madara. Namun Madara hanya tertawa kecil, seakan digelitik.
Sasuke menggertakkan giginya. Ia memapah Hiashi, keluar dari kemah itu.
"Kau kemana, Nak? Menolong kakek tua itu?" seru Madara ketika melihat Sasuke.
"Kau yang tua bangka," desis Sasuke. Sementara Itachi telah membakar Madara. Namun Madara tak mempan dibakar. Sasuke memutuskan untuk keluar dan menyelamatkan Hiashi terlebih dahulu. Ia biarkan kakaknya membalaskan dendamnya.
Gadis itu mengigit jempolnya, membuat darah yang baru saja kering, kembali keluar. Ia meringis pelan, lalu membuat lingkaran mantra kecil. Tangannya yang satu lagi merogoh saku dan mengeluarkan kertas mantra. Ia tulis kertas khusus itu dengan mantra dan menempelkannya tepat di tengah-tengah lingkaran.
Detik berikutnya yang ia tahu, ia telah menjadi roh yang telah terpisah dari tubuhnya. Ia melihat tubuhnya terduduk di depan altar, layaknya berdoa. Senyumnya mengembang. Dengan begini, para pelayan pun mengira aku berdoa.
Setelah beradaptasi sebentar dengan tubuh berwujud roh ini, ia pun melayang ke Selatan Konoha.
Sasuke kembali ke kemah yang sepertinya telah dibakar habis oleh Itachi. Ia melihat Madara tersenyum keji padanya. Yokai itu sudah terluka disana-sini namun masih sanggup berdiri. Sementara Itachi membungkuk, memegangi dadanya.
"Itulah hukuman untuk kakakmu, Nak. Anak yang baik takkan melawan orang tua, hm?" ucap Madara tenang, tanpa memperdulikan tatapan jijik Sasuke.
"Aniki," panggil Sasuke.
Itachi tak menoleh, hanya mendesis di sela-sela batuknya. "Dia milikmu."
Sasuke menyeringai buas, menyerang membabi-buta. Sementara Madara tertawa tebahak-bahak, menahan segala serangan Sauske.
"Benar-benar, ini baru Anakku!"
Sasuke mendecih. "Aku. Bukan Anakmu!"
Hinata tak bisa menemukan Sasuke dimana-mana. Namun ia bisa meraskan kemarahan dan kepuasan di bagian lain tubuhnya, jadi pasti Sasuke sudah bertemu Madara. Ia tak ingin mengganggu, walau sangat cemas. Tumbuh ketakutan, jika ia tak selamat, jika Sasuke mati.
Namun ia baru tersadar. Kalau Sasuke mati, ia pun juga mati.
Dan setelah mengingat itu, entah mengapa ia menjadi tenang.
"Tak bisakah kau biarkan aku menyapa kalian dengan benar?" tanya Madara, menghindari serangan Sasuke. "Aku datang hanya untuk menanyakan kabar kalian."
"Tak. Butuh!"
Madara membalas beberapa serangan Sasuke yang tak mempan, lalu kembali menahan atau menghindari serangan Sasuke. "Benarkah? Sayang sekali. Namun aku tak tahan. Jadi biarkan aku bertanya; apa kabar, Nak?"
Lalu Sasuke terlempar ke sisi Itachi. Ia mendengus, sementara Itachi masih sibuk dengan batuknya yang mengeluarkan darah.
"Aku merindukan kalian, sungguh," Madara berjalan mendekar. "Namun yang sulung melawanku. Itulah hukumannya; batuk darah hingga mati. Apakah kau akan mengikuti kakakmu, Nak?"
Sasuke melompat, kembali menyerang Madara. Ia berhasil menjatuhkannya dan menusuk tubuhnya dengan kuku. Yokai yang lebih tua itu mengerang. Sasuke melemparkan bola api ke dalam luka yang ia buat, membuat yokai itu mengerang. Sasuke menjauh, cukup puas dengan serangannya.
"Tidak, tidak. Tidak semudah itu, Nak."
Ketika Sasuke menoleh, Madara telah dibelakangnya, menusuk punggungnya dengan pedang. Sasuke terjembab ke bawah, dengan kaki Madara di atas punggungnya. "Kau mau ikut-ikutan kakakmu, hm? Mau melawan orang tua juga, Nak?"
Oh, tidak.
"Hinata-neechan?!" Hanabi hampir terjatuh dari dahan. Hinata hanya tersenyum menenangkan.
"Maafkan aku mengagetkanmu, Hanabi. Tugasku sudah selesai, jadi aku hanya ingin membantu yang disini, walaupun hanya berwujud roh," jelas Hinata.
Hanabi memicingkan matanya, seakan mengerti sesuatu, "Jadi tadi kau yang membantu Ino dan Neji-nii ketika ada yokai yang menyerang mereka dari belakang?"
Hinata mengangguk, "Kurasa mereka akan kaget jika aku muncul, jadi aku diam-diam saja."
"Lalu, kenapa kau memberitahuku?"
"Aku ingin mencari Sasuke,"balas Hinata, menundukkan kepalanya. "Aku ingin mengawasinya, karena ia bisa aja dibutakan oleh dendamnya."
Adiknya itu hanya mengangguk. Ia mengedarkan pandangannya. "Sepertinya Sasuke disana," tunjuk Hanabi. "Ia bersama Itachi."
"Kenapa Itachi?" desis Hinata begitu melihat Itachi yang membungkuk di dekat Sasuke. "Oh, tidak, Sasuke!"
Kedua kakak beradik itu terperanjat melihat Sasuke ditusuk dari belakang. Tangan Hinata mencengkram Hanabi. "Hanabi," desisnya. "K-kumohon..."
Ia merasakan perasaan yang seharusnya tak dimiliki Sasuke. Perasaan putus asa dan khawatir. Itu bukanlah perasaan Sasuke. Tidak, tidak, tidak bisa! Perasaan itu bercampur dengan rasa cemas dan takut yang ia rasakan bercampur menjadi satu, menggulung di pikiran dan benaknya.
Hanabi, melepaskan cengkraman kakaknya, sesegera mungkin mengambil anak panah dan menembakkannya ke arah Madara. Dalam hati ia berdoa, jangan sampai salah kena, jangan sampai mengenai Sasuke atau Itachi... Karena ia tahu, jaraknya terlalu jauh. Jika tidak karena permohonan Hinata, ia akan menolak karena bisa saja panah itu justru terkena Sasuke atau Itachi.
"Kumohon, menancaplah di punggung Madara," bisik Hinata.
Namun alih-alih kena pada sasaran, panah itu jatuh di tanah, di depan Itachi yang membungkuk menahan sakit.
"Oh, tidak... tidak, tidak tidak…."
Tidak. Ia tak sudi. Sungguh tak sudi.
Ia mau membunuh Madara, ia tak mau mati di tangan Madara!
Tiba-tiba Madara berteriak. Tubuhnya hangus. Sasuke pun merasakan pedang di punggungnya ditarik. Untungnya tak mengenai organ vital, sehingga Sasuke berhasil merangkak susah payah, berusaha melihat apa yang terjadi.
Itachi, dengan anak panah yang diikat oleh kertas mantera, menusuk Madara dari belakang. Yokai itu berteriak menuju kehancurannya.
Sasuke tersenyum lemah, "Bagus Aniki."
"Selesaikan ia, Sasuke," balas Itachi, mencabut anak panah itu dari punggung Madara. Sasuke pun menembakkan api tepat di luka Madara yang ia buat yang sejajar dengan luka tusuk yang dibuat Itachi barusan.
"Kelemahan Uchiha," bisik Itachi. "Serang mereka pada satu titik terus menerus hingga tembus."
"Dari mana kau dapatkan panah itu, Aniki?"
Itachi menangkat bahunya, "Tiba-tiba ada di depanku."
"Hmp," Sasuke menyeringai. Keduanya tak berbicara lag, hanya menatap api di depan mereka. Api yang menembus tubuh Madara. Kini, yokai hangus terbakar. Mati. Madara telah mati.
98 yokai. Rekor baru. Neji menoleh, baru saja ingin mengamati sekelilingnya ketika yokai kembali menyerangnya. Seketika ia melemparkan kertas mantra dan menghanguskan yokai tersebut. 99.
Ia menghela napas, menahan senyumnya. Matanya menatap sekeliling. Habis. Tinggal beberapa yokai lagi yang sebentar lagi akan dihabisi. Ia dapat melihat Ino yang dipapah Sai, menghampirinya, melambaikan tangannya.
"Habis?" tanya Neji.
Sai menyeringai seraya menjilat tangannya yang berlumur darah, "Habis. Sangat memuaskan."
"Ugh, kau menjijikan Sai," balas Ino lemah, namun tetap tersenyum.
"Aku penasaran, bagaimana Madara?" tanya Neji, ikut membantu Sai memapah Ino.
"Uchiha bersaudara itu pasti telah menghabisinya beberapa menit yang lalu. Karenanya, para yokai-yokai disini langsung hilang semangat dan kekuatan, sehingga langsung habis seperti ini," balas Sai masih sibuk menjilati tangannya.
"Yah, paling tidak ini sudah berakhir," ucap Ino lega.
Neji tersenyum, "Ayo pulang."
Yang Hinta tahu berikutnya, ia sudah kembali ke tubuhnya. Wajahnya pun cerah dan sumringah ketika keluar dari Ruang Utama. Ia segera menyuruh para pelayan menyiapkan obat-obatan dan memanggil dokter sebanyak-banyaknya. Ia juga telah memanggil pasukan yang dipersiapkan di Utara, Timur dan Barat untuk segera pulang karena perang telah usai.
Sasuke terluka parah, sehingga Hinata harus membagi energinya. Luka Sasuke sebenarnya berdampak juga bagi Hinata. Gadis itu melemah, jadi setelah menyuruh pelayan menyiapkan segalanya, ia hanya tidur di kamar. Itupun karena Sasuke memaksanya. Kalau ia masih terus bergerak, takkan ada energi yang cukup bagi mereka berdua, jadi yokai itu menyuruhnya makan banyak-banyak dan tidur. Toh mereka paling baru sampai malam hari.
Sayangnya, luka Sasuke cukup parah. Hal ini membuat Hinata, sebagai sumber energi, tertdur sangat lama dan tak kunjung bangun. Ino-Neji-Hanabi-Sai segera menyebutnya Putri Tidur dan membuat lelucon untuk menggoda Sasuke.
Yah, setidaknya, begitulah cerita mereka.
Hingga akhirnya Hinata bangun dan menemukan Sasuke di sampingnya, dengan sudut-sudut bibir melengkung. Sebuah sapaan menyeruak masuk benaknya, membuatnya tersenyum. Perlahan, ia bangkit, dibantu dengan Sasuke. Ia geser pintu kamarnya dan menemukan Kediaman Hyuuga yang ramai. Ada Ino yang diigendong Neji dan berteriak memerintah Sai untuk memfotonya, ada Hanabi yang minum ocha dengan tenang di depan kamarnya, ada Ayahnya, duduk di kursi roda yang di dorong Itachi, ada pelayan-pelayan dan onmyouji-onmyouji dengan para yokainya yang aneh berkeliaran di lorong-lorong rumahnya.
Dan ada pula Sasuke Uchiha, yokainya, bagian dari dirinya, menggenggam tangannya.
Cukup itu yang ia tahu, uuntuk merasa bahagia. Cukup itu baginya, untuk merasakan menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
Cukup berdiri di depan kamarmu, menggenggam tangan yang kau cintai dan melihat orang-orang yang sayangi menanti.
END
Yes! Boundaries kini selesaaaaaiiiii! Terima kasih buat semua yang telah mendukung! Maaf, saya gabisa sebutin satu per satu, namun karena review dan favorites kalianlah saya kembali mengingat fic ini, bisa terus melanjutkan fic yang jarang banget update ini! ARRGHH LEGAAAAAAA!
Maafkan author yang updatenya telat banget. Author udah kelas 12 nih, jadi sibuk wkwkwk, doain author ya biar lulus dan masuk PTN yang author inginkan! Biar author lega dan bisa belajar nyaman (padahal gak belajar :p) author kebut ini cerita selesai UAS!
Yah, inilah chapter terpanjang, chapter terakhir. Ups, tapi gak terakhir banget kok! Masih ada epilog menunggu~
Sekali lagi, author berterima kasih atas semua yang telah mendukung! Maaf kalau endingnya gak memuaskan ^^; author sudah berusaha sebisa mungkin!
Let me know, what do you think :) so review! :)))
