Boundaries

Naruto dan segala karakter yang ada di fic ini bukan milik saya dan hanya saya pinjam

cover image by .Phantom


EPILOG: 5 tahun kemudian


Sebuah rumah yang terlalu besar bernuansa Jepang. Dan sebarisan pohon Sakura yang memagarinya, serta air mancur bambu yang memberikan ketenangan. Namun sayangnya, pemandangan itu tak memberikan ketenangan bagi penghuni rumah.

Suara derap kaki menggema di lorong. Seorang gadis mungil berambut pendek berjalan cepat, membawa setumpuk surat di tangannya. Sesekali ia membolak-balik amplop itu, melihat siapa saja pengirimnya. Setiap orang yang berpapasan dengannya akan membungkuk, namun ia hanya membalasnya dengan anggukan, tanpa melihat wajahnya. Begitu sampai di ujung lorong, ia pun berbelok dan mengetuk sebuah ruangan.

Terdengar ribut-ribut di dalam, sehingga ia hanya menunggu di depan pintu. Punggungnya ia sandarkan sambil membaca kembali nama-nama yang tertera di amplop. Sementara, benaknya menghitung.

Satu.

"Yang benar saja! Tidak!"

"Ayolah, bukankah biasanya kau juga bertugas bersama kami?"

Dua.

"Hinata! Katakan sesuatu!"

"Itu keputusan final, Niichan. Kau harus menuruti kata adik sepupumu."

"Aku berbicara pada Hinata, Sai. Bukan denganmu."

Tiga.

Terdengar meja dipukul. Lalu suasana pun hening. Hanya suara air mancur bambu yang menghiasi.

"Te-tenanglah. M-maafkan aku, tapi sepertinya tadi ada yang mengetuk pintu."

Tak ada sahutan.

"M-masuklah!"

Ia pun menggeser pintu, dan bersandar pada daun pintu malas, "Hinata-neechan, itu tidak cool, oke?"

Ketiga tamu yang membuat keributan barusan memutar bola mata, mengeluh bersamaan.

"Apa?" tantangnya. Hanabi duduk di depan Hinata, di sebelah ketiga tamu tersebut, "Kau Ketua Klan, tapi kau masih gagap!"

"Bukankah itu yang membuatnya manis, ya kan, Sasuke?" sahut Sai, salah satu dari ketiga tamu berisik, melirik Sasuke dengan senyum palsunya. Sasuke, yang duduk disebelah Hinata hanya membuang muka, tak memperdulikan. Sementara wajah Hinata telah memerah.

"Ha-Hanabi, ayolah. Ada apa k-kau kemari?" tanya Hinata.

Hanabi menyodorkan setumpuk surat padanya. "Surat hari ini. Omong-omong, apa yang kalian lakukan disini, Trio Ribut?"

"Hei!" seru Neji tak terima.

"Lihat, dia sudah memanggil kita 'trio', Neji," balas Ino.

Hinata menghela napas. "N-Neji-niisan, panggilan kali ini sangat membutuhkan keahlianmu dalam membuat kertas mantera. J-jadi k-kumohon, pergilah bersama mereka."

"Kalau begitu, aku bisa pergi sendiri Hinata," balas Neji seirus, tanpa memperdulikan koor kecewa Ino.

"T-tapi aku takut gejala ini p-pertanda yokai besar dan kuat. A-aku takut kau kesulitan m-melawannya... jadi kupikir S-Sai-san akan jadi l-lawan yang pantas."

"Sudah kubilang, kau harus segera mendapatkan yokai, Neji," Sai merangkul Neji, yang langsung ditepis.

"Hinata, dengar. Selama ini kau menugaskanku membasmi yokai bersama dua orang ini—"

"Oh? Aku 'orang'?"

"—diam Sai. Bersama... bersama pasangan ini, tidakkah kau tahu mereka hanya memanfaatkanku? Mereka menumpahkan seluruh pekerjaannya padaku!"

"Tidak juga! Hinata, dengarlah, Neji hanya menggerutu!"

"Ino, bisakah aku berbicara?"

"Tidak—"

Hinata menghela napas, melirik Hanabi yang tampak asyik melihat debat seru itu. Lagi-lagi ia mengetukkan jarinya di atas meja untuk mendapat perhatian.

"Neji-nii," panggilnya. "Kumohon."

Neji menatapnya lama, tak menyadari bahwa yang lain terdiam menunggunya berbicara. Ia menghela napas, "Baiklah. Sekali ini saja."

Hinata tersenyum tulus, "Terima kasih, Neji-nii."

"Makanya, kusarankan kau mencari yokai," celetuk Ino. "Hanabi saja punya Itachi. Hinata punya Sasuke. Aku punya Sai. Kau?"

"Sekali lagi kau berbicara, aku tak mau bekerja sama denganmu lagi," balas Neji dingin, bangkit dan berdiri.

"Mau kucarikan yokai? Kau mau yokai yang cantik dan menggoda atau yokai pria yang kuat dan berotot?" tawar Sai. "Oh, aku bisa mengajak Yuki Onna! Dia cantik, namun sayangnya sangat dingin. Sangat cocok denganmu, eh?"

"Diam, Sai," ucap Neji dingin. Ia membungkuk pelan pada Hinata, "Aku permisi."

"Argh, Neji menyusahkan," Ino menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ikut bangkit seraya menarik kerah baju Sai. "Ayo, kita kejar, Sai!"

"Kami duluan Hinata!"

Dan pintu pun tertutup. Lagi-lagi Hinata menghela napas. Hanabi hanya tersenyum melihat kakaknya itu. Bukan hal yang jarang mendengar keributan di ruangan kerja ini. Ia menuangkan ocha dari teko kecil di atas meja, dan menyodorkannya pada Hinata. Gadis itu mengucapkan terima kasih pelan dan meminumnya, berusaha menenangkan diri.

Hanabi memperhatikan wajah kakaknya itu. Tak ada yang berubah dari Hinata, masih berwajah polos dan lugu khas remaja belasan tahunan. Walaupun sebenarnya, umurnya sudah 20-an. Yah, ia pikir, mungkin itu efek 'ikatan'nya dengan Sasuke. Begitu lulus SMA, Hinata langsung dilantik sebagai Ketua Klan. Setelah perang itu, Hiashi yang mengalami patah tulang itu merasa sudah tak muda lagi. Ia lebih suka mengajar bagi onmyouji baru atau sebagai penasihat.

Sementara Neji, menjadi salah satu onmyouji andalan Hyuuga. Ia sering diminta membersihkan tempat-tempat angker. Banyak yang memanggilnya untuk penyucian atau pengusir yokai. Namun, karena suatu hari ia sempat terluka parah karena yokai yang ia lawan cukup kuat, Hinata sering meminta Ino dan Sai membantunya. Dengan ada Sai yang menjaga mereka berdua, ia merasa cukup tenang tanpa perlu mengkhawatirkan Neji lagi.

Ino dan Sai sendiri, walaupun mereka adalah onmyouji keluarga Yamanaka, keduanya lebih betah di Hyuuga. Apalagi ketika Hinata minta bantuan mereka mengusir yokai. Ino sendiri, tampaknya memilih menjadi onmyouji yang melakukan penyucian dibanding memegang kekuasaan. Seperti perkataannya beberapa saat lalu; "Kurasa menjadi ghost-buster seperti ini lebih seru dibanding memimpin klan. Oh, maaf, jangan tersinggung Hinata!"

Lalu, Hanabi sendiri?

Gadis itu tersenyum melihat Hinata yang telah menuangkan ocha ke dalam gelas kosong dan menyodorkannya pada Hanabi. Ia mengucapkan terima kasih dan menyesap teh hangat itu. Setelah Hiashi turun jabatan, ikatannya dengan Itachi pun terurai. Beliau juga memberikan hak pemilihan Ketua Klan berikutnya pada Hinata. Awalnya, Hinata menolak, karena tak sanggup memilih antara Neji atau Hanabi. Sama seperti Ino, Neji menolak jabatan itu ketika tahu ia adalah salah satu calon. Ia lebih suka berkeliling membasmi yokai, dibanding duduk dan memerintah. Pilihan pun jatuh pada Hanabi. Otomatis, Itachi pun menjadi yokai Hanabi.

Tiba-tiba, pintu kembali diketuk. Setelah mempersilahkan masuk, pintu pun bergeser terbuka. Itachi muncul di balik pintu, membungkuk pada Hinata.

"Itachi?" sapa Hanabi sebelum yokai itu berbicara. Ia berdiri dan membungkuk sedikit pada Hinata seraya terkekeh pelan, "Maafkan aku, Hinata-neechan, aku harus pergi."

Hinata hanya tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih suratnya, Hanabi."

Ia memperhatikan adiknya yang meraih tangan Itachi dan menariknya menjauh. Terdengar kalimat seperti, "Panjang umur," atau semacamnya dari mulut Hanabi, lalu pintu pun ditutup.

Akhirnya.

Hinata tertawa kecil, melirik Sasuke yang sudah tampak bosan. Yokainya itu merangkulnya, menyandarkan kepalanya pada kepala Hinata.

Berat, Sasuke, keluh Hinata, namun toh tertawa juga. Ia membuka satu persatu surat yang diberikan oleh Hanabi. Kebanyakan adalah surat ucapan terima kasih atau permohonan penyucian. Namun, ada satu amplop yang menggelitik rasa penasarannya saat melihat pengirim surat tersebut.

"Sakura?"

Ia menunjukkan amplop ditangannya pada Sasuke. Yokai itu mengambilnya, membolak-baliknya sebentar, lalu mengembalikannya pada Hinata. Gadis itu merobek amplop tersebut dan tertawa kecil melihat sebuah undangan pernikahan di dalamnya. Haruno Sakura dan Uzumaki Naruto.

"Akhirnya Sakura takluk ya," komentarnya masih tertawa-tawa kecil. Ingatkan aku untuk meneleponnya nanti malam.

Hn.

Hinata membiarkan tangan Sasuke melingkari perutnya, mendekapnya hangat. Ia rasa, semua orang sudah tahu hubungannya dengan Sasuke. Mungkin sudah menjadi rahasia umum. Tapi biarlah. Toh nantinya yang akan menjadi Ketua Klan adalah Hanabi. Ia berniat akan berhenti jika Hanabi sudah menikah dan mempunyai anak. Lalu ia akan hidup tenang dan bahagia bersama Sasuke tanpa masalah yokai dan onmyouji ini.

Setelah membaca semua surat dan membalas beberapa, ia melirik jam dinding. Sebentar lagi senja. Mungkin ia akan langsung tidur setelah ini.

Surat yang beramplop cokelat belum kau buka. Sasuke menggantungkan amplop yang ia maksud di depan wajah Hinata.

"Hm?" Hinata meraih amplop cokelat yang diambilkan Sasuke. Amplop itu tadi tertutup tumpukan surat lainnya sehingga ia belum membacanya. Aneh, tak ada pengirimnya.

Coba saja buka suratnya.

Diiringi rasa penasaran, Hinata, yang kini duduk nyaman di pangkuan Sasuke yang merengkuhnya, membuka surat itu bersama-sama. Isinya, hanya kertas kecil berbentuk persegi panjang berwarna cokelat muda, senada dengan amplopnya. Tak ada tulisannya. Ia membalikkan kertas itu, dan akhirnya menemukan tulisan yang dicari.

Tulisan itu, berwarna merah, seakan ditulis dengan darah. Isinya:

Apa kabar, Nak?


END


- Meanwhile-

Bagi orang awam, ruangan itu hanyalah penjara biasa. Penjaga yang bahkan tak cukup ketat. Jerujinya cukup jauh, hingga orang yang sangat kurus bisa lewat. Sayangnya, ini bukanlah penjara biasa. Penjara ini dibuat dari kekkai berlapis-lapis. Jerujinya pun, mengandung mantera yang sanggup membuat yokai terkuat jatuh.

Jauh, jauh di pojok sana. Di sel paling ujung, seringkali terdengar tangisan, bahkan jeritan. Jika kau mendekati sel itu dengan keingintahuan, niscaya kau akan menemukan yokai berambut merah. Saat melihat seseorang di depannya, ia akan berteriak, melolong minta tolong. Anehnya, teriakannya tak pernah berubah. Dan ia tak pernah putus asa.

"MADARA-SAMAAAAA! AKU MENUNGGUMUUUU!"


Dialah Karin, yang terlupakan. Poor Karin. Maafkan author, Karin T.T

Ayo tebak siapa pengirim surat terakhir? :3 Author juga paling kesel kalo ending gantung, tapi maaf ya, author balas dendam disini wkwkwk /timpuk/ Semoga dengan ini semua puas dengan endingnya ya ^^ Kemaren emang maksa banget hehehe peace peace ._.V

Anyway, terima kasih atas seluruh dukungan kalian. Makasih banget nget nget yang udah nungguin dan setia dari chapter 1 sampai epilog ini, juga yang buat review, dan semua yang baca! Tanpa dukungan kalian, fic ini gak bakal selesai, gak bakal ada disini. Dan special thanks buat the RED Phantom atas gambar ini! Terharu banget kyaaa :**

Sekali lagi, semuanya, Hontou ni arigatou!