Summary :
Terjadi saat Sena dkk mulai masuk Univ. Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Univ. Enma ?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...
A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.
Chapter 3 : The First Match!
"Hiiee… Akhirnya kelas Tainaka-sensei selesai juga…", kata Sena lega.
"Iya, Sena. Untung saja kita tidak dikasih tugas…", kata Monta yang sama leganya dengan Sena. Riku yang berada di sebelahnya hanya mengangguk kecil.
Tainaka-sensei adalah dosen matematika di Universitas Enma yang terkenal sebagai dosen killer-nya. Sebenarnya, tidak ada diantara Sena dan Monta yang mengambil jurusan matematika sebagai mata kuliahnya. Tapi, karena jurusan yang mereka ambil mewajibkan mereka untuk mengambil kelas matematika... Yah, apa boleh buat. Sudah kepalang tanggung.
"Tapi Kimiko itu ternyata pintar juga ya…", kata Monta, mengingat nilai test dadakan yang baru saja dibagikan tadi. Dan Kimiko berhasil mendapatkan nilai sempurna. Sena hanya menyengir saja mendengar perkataan Monta. Yap. Senasib dengan mereka, Kimiko juga diwajibkan untuk mengikuti kelas Matematika-nya Tainaka-sensei.
"Tapi ngomong-ngomong… Mana Kimiko?", tanya Riku, ketika menyadari Kimiko tidak ada diantara mereka.
"Mungkin saja dia sudah jalan duluan…", kata Sena.
"Mungkin juga…", kata Riku, meskipun dia tidak yakin dengan jawaban Sena.
Mereka bertiga pun menuju ke ruang klub bersama-sama. Monta dengan penuh semangat membuka ruang klub. Tapi di luar dugaan…
"Hah? Kok ruang klubnya masih kosong? Kemana yang lain?", tanya Sena
"Mungkin saja mereka masih ada kelas…", kata Riku.
"Kalau begitu kita latihan sendiri saja!", kata Monta.
"Ide bagus! Ayo!", ajak Riku, segera menyeret Sena.
Kedua running back dan receiver tersebut pun latihan bersama. Latihan mereka diawali dengan pemanasan, latihan angkat beban dan lari keliling lapangan. Lalu…
"Hei! Temani aku latihan pass dong, Sena!", ajak Monta.
Sena pun menerima ajakan Monta dan keduanya latihan pass bersama. Tapi sayangnya, semua pass yang diberikan Sena tidak beraturan. Riku pun menawarkan diri untuk menggantikan Sena. Pass Riku memang masih lebih baik dibanding pass Sena, tapi tetap saja tidak cukup untuk latihan. Apalagi untuk master catching seperti Monta. Di saat seperti itu, ada seseorang datang ke lapangan.
"A-Anu… Gomenasai! Tadi soalnya aku dipanggil dulu oleh Miroku-sensei", kata Kimiko yang baru saja datang.
"Nani? Mana yang lain? ", tanyanya setelah menyadari bahwa baru 3 orang saja yang datang.
"Kemungkinan besar mereka masih ada kelas lain", jawab Riku.
Kimiko hanya menganguk kecil mendengar jawaban Riku. Dia segera masuk ke ruang klub untuk bersih-bersih dan menyiapkan minuman dingin. Telah menjadi manajer mereka selama hampir sebulan, Kimiko sudah hafal luar kepala semua rutinitas tim. Termasuk... Kebiasaan para anggota yang aneh. Setelah semuanya beres, dia keluar dan memperhatikan latihan mereka. Mereka bertiga masih berkutat dengan latihan pass.
"Ngg? Cara pass-nya salah Riku…", kata Kimiko menyadari cara Riku mem-pass bola.
"Yang benar itu seperti ini. Posisikan tanganmu seperti ini, dan jari-jarinya seperti ini. Setelah itu lemparkan sekuat tenaga dari bahu", kata Kimiko sambil memberi contoh pass kepada Monta. Bola itu pun melambung tinggi.
"Whoaa… Nice pass MAX!", kata siapa lagi kalau bukan Monta.
"Kalau begitu untuk latihan pass kuserahkan padamu saja. Ayo Sena! Kita latihan bersama!", kata Riku.
Sena mengiyakan ajakan Riku dan keduanya pun latihan lari bersama. Tak terasa sudah hampir 2 jam mereka latihan. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka bertiga sedang asyik meminum es lemon madu yang sudah disiapkan oleh Kimiko.
"Minuman dingin setelah latihan memang enak MAX! ", kata Monta.
"Segarnya… Tapi memangnya hal seperti ini tidak merepotkan?", tanya Sena.
"Aah.. Tidak apa-apa. Ini kan termasuk tugas manajer", kata Kimiko tersenyum.
"Mana yang lain ya? Masa sampai jam segini masih belum datang…" kata Sena heran.
"Kami pulang!", kata Mizumachi membuka pintu klub dan langsung membuka baju.
"Seharusnya yang kau katakan itu 'Kami datang' ", kata Unsui. Seluruh penghuni ruang klub ber-sweatdropped ria.
"Halo, semuanya!", kata Suzuna memasuki ruang klub dengan sepatu rodanya. Kelewat ceria seperti biasanya. Tangannya membawa kantong kecil.
"Hmm? Masih ada yang belum datang ya?", tanya Suzuna. Tepat setelah perkataan Suzuna, Kotaro, satu-satunya anggota tim yang belum datang, memasuki ruang klub.
"Yaay! Dan karena sekarang semuanya sudah datang, aku ingin menunjukkan...", Suzuna sibuk mencari barang di kantongnya, "Tada! Ini dia!".
Semua mata menatap benda yang ada di tangan Suzuna. Kalau mata mereka masih benar, maka yang ada di tangan Suzuna itu bukan lain adalah...
"Kostum cheerleader Enma Fires!", kata Suzuna bangga, "Aku membuat ini sampai larut malam, loh! Apalagi sebentar lagi Turnamen Musim Semi dimulai, kan?". Sena tersentak.
"Betul juga... Sebentar lagi turnamen ya... Aku penasaran dengan keadaan Hiruma dan Shin... Sudahlah. Yang penting adalah, aku harus bertambah semakin kuat dan kuat lagi", pikir Sena.
Kostum cheerleader yang dibuat Suzuna itu, kurang lebih seperti kostum monyet yang sudah dimodifikasi ala Suzuna (anggap saja seperti kostum Pudding Fong-nya Tokyo Mew Mew). Kostum itu berwarna kuning keemasan dan tentu saja disertai ekor dibelakangnya. "Suzuna pasti terlihat imut dengan kostum itu", pikir Sena tanpa sadar. Menyadari apa yang baru saja dipikirkannya, pipinya langsung memerah.
"Bagus, kaan?", tanya Suzuna bangga, jelas-jelas tidak menyadari pipi Sena.
"Kostum itu bagus sekali MAX!", kata Monta memuji Suzuna.
"Tapi Suzuna-chan, kita masih belum mempunyai tim cheerleader...", kata Kurita.
Hening sejenak. 1 detik... 2 detik... 5 detik... 1 menit... 1 jam-oke. Itu terlalu lebai.
"Apaaa?", teriak Suzuna. Dia sudah bersusah payah membuat kostum cheerleader dan ternyata satu-satunya cheerleader adalah dia?
"Yah... Sebenarnya kami pernah mencoba untuk merekrut cheerleader. Tapi, Unsui...", Kurita dengan gugup mencoba menjelaskan. Pandangannya ke arah Unsui, meminta bantuan. Unsui tetap diam, berusaha sebisa mungkin mengacuhkan Kurita. Sadar Unsui tidak akan bicara, akhirnya Kurita menambahkan, "Katakan saja Unsui agak kesulitan menghadapi para gadis".
"Hmm? Benarkah begitu, Unko-kun?", tanya Suzuna. Matanya sudah berbinar-binar, lupa akan kemarahannya tadi. (Unko-kun diambil dari nama panggilan Unsui dari Agon, Unko-chan). Pipi Unsui merona merah, mengingat betapa kacaunya perekrutan cheerleader pada waktu itu. (Unsui came from all-boys-school, right? So I imagine that he's never been in good terms with girls. It is, after all, his brother job, Agon, to do so. )
"Katsu!", potong Unsui, berusaha menghilangkan rona merah di pipinya, "Turnamen Musim Semi akan diadakan seminggu lagi. Lawan pertama kita adalah Inugami Whisper. Kimiko sudah mengumpulkan data dan menyusun taktik untuk kita". Kimiko mengangguk kecil. Terbiasa menghabiskan masa kecil bersama Hiruma, Kimiko sudah tidak asing lagi dengan american football, termasuk strateginya. Sejak menjadi manajer Enma Fires, dia sudah secara tidak resmi menjadi ahli siasat mereka.
"Jadi, Inugami Whisper adalah..."
Satu minggu kemudian...
Saat ini Enma Fires sedang berada di Stadium Hagano, menunggu untuk pertandingan pertama mereka di Turnamen Musim Semi. Kotaro tidak berhenti menggaruk kepalanya, seakan-akan ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya.
"Ada apa, Kotaro?", tanya Mizumachi, "Sepertinya ada yang menganggumu".
"Sedang memikirkan para cheerleader baru ya?", goda Suzuna. Yup. Dengan tergabungnya Sena di Enma Fires, banyak sekali yang mencalonkan diri sebagai cheerleader. Suzuna memang senang dengan keadaan itu, meskipun yah (Suzuna tidak pernah mau mengakuinya) dia agak sedikit... cemburu. Suzuna Taki cemburu. Cemburu pada Sena Kobayakawa.
"Lawan kita! Inugami Whisper! Aku merasa sudah pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi aku lupa dimana!", seru Kotaro, sukses memotong pikiran Suzuna. "Yang lebih penting lagi, pakai bajumu!", tambah Kotaro menyadari lawan bicaranya sudah tidak memakai baju. "Kau benar-benar tidak SMART!"
Mereka pun memasuki lapangan lalu mengganti baju mereka. Para anggota tim lawan sudah menunggu mereka. Mata Kotaro terbelalak.
"Itu dia! Aku ingat sekarang! Inuzuka-senpai ikut masuk ke Inugami Whisper!", kata Kotaro.
"Inuzuka? Nama itu tidak terdengar asing...", kata Riku.
"Tentu saja tidak! Dia dulu ace Bando Spider yang terkenal dengan larinya yang cepat", jelas Kotaro.
"Inuzuka? Maksudmu Kiba Inuzuka? Dia memang terkenal sebagai runningback, tapi saat ini dia menempati posisi sebagai linebacker di Inugami Whisper. Menurut data, ini adalah pertandingan pertamanya", kata Kimiko. "Pasti ada sesuatu... Aku harus mengawasinya", pikirnya. Sementara itu, Enma Fires sedang melakukan huddle.
"Kalian mengerti semuanya?", tanya Unsui, "Kita akan melakukan taktik yang sama seperti diberitahukan oleh Kimiko..."
Flashback
"Jadi, Inugami Whisper adalah tim yang terkenal akan defense-nya yang tidak mengenal ampun. Mereka terbiasa langsung mem-blitz quarterback dari awal pertandingan. Dengan begitu quarterback pun tidak sempat melakukan apapun", jelas Kimiko.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Kimiko-chan?", tanya Sena.
Kimiko menyeringai. Tanpa sadar seluruh anggota tim, terutama mantan anggota Deimon, berkeringat dingin. Jika ada satu hal, selain nama belakangnya, yang sama dengan Youichi Hiruma, hal itu adalah permainan taktiknya dan seringaiannya.
"Yang akan kita lakukan adalah..."
End of Flashback
"Set! Hut, hut, hut, HUT!". Permainan pun dimulai. Seperti yang sudah diduga, linebacker Inugami Whisper menyerang duluan. Ditambah dengan kecepatannya sebagai mantan ace runningback, serangan blitz dari Kiba cukup mematikan. Yakin bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan quarterback, Kiba tersenyum lebar. "Serangan ini pasti berhasil!", pikirnya. Yang tidak diketahuinya adalah, Kiba bukan satu-satunya yang tersenyum lebar.
"Hornet Bee!", teriak Unsui. Sena, Monta, dan Riku segera berkumpul mengelilingi Unsui. Keempat-empatnya bergaya seolah-olah membawa bola. Kimiko tersenyum.
"Semua benar-benar berjalan seperti yang sudah di rencanakannya... Terlalu lancar malah", dengus Hiruma dari bangku penonton. Papan nilai menunjukkan 72-12. 72 untuk Enma Fires tentu saja. Di pinggir lapangan anggota tim Enma Fires sedang mengangkat Sena, sang ace lapangan. Di sebelah Hiruma ada seorang gadis berambut auburn yang memegang handycam.
"Tapi alasan utamamu kemari sebenarnya karena penasaran dengan keadaan Kimiko kan?", tanya Mamori.
"Diam, Manajer Sialan! Sebaiknya kau pegang baik-baik saja handycam sialan itu", omel Hiruma. Mamori hanya tertawa kecil saja. Dia tahu, Hiruma hanya terlalu gengsi untuk mengakui kata-katanya.
End of Chapter 3
Author's Note :
Lama tidak bersua fellas! Now pforphoebe is back (for a while) with safe and sound! Tapi yang jelas adalah... Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas update terlalu telat dari saya ini. Cerita ini di terakhir kali di update adalah tahun lalu. Yup. Tahun lalu. Saking lamanya saya jadi lupa plot asli ceritanya... *depresi. Tapi, yang berlalu biarkan saja berlalu... Iyaaa? *puppyeyes. Jadi di chapter yang ini, waktunya sudah skip sebulan dari chapter terakhir. Dan juga di chapter ini saya mencoba memasukkan adengan pertandingan football beserta segala macam trickplay-nya tapi gagal totaaaaal *jambak rambut sendiri. Bagaimana pun juga otak saya berbeda dengan otak Hiruma dan Kimiko *nangis. Terus... Untuk menghilangkan kebingungan sesaat di cerita ini saya tetap menyebut Youichi Hiruma sebagai Hiruma dan Kimiko Hiruma disebut Kimiko meskipun sebenarnya keduanya sama-sama Hiruma. Hehehe... Dan, juga untuk menghapus segala kekhawatiran yang ada *ciee elah, sekarang saya sedang mengerjakan chapter 4! YA-HAA!
Dan seperti biasanya... REVIEW!
