Summary :
Terjadi saat Sena dkk mulai masuk Univ. Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Univ. Enma ?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...
A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.
Chapter 5 : Sweet Reunion?
"Sena! Ada temanmu datang!", teriak Mihae Kobayakawa, ibu sang Eyeshield 21, Sena Kobayakawa.
"Iya, Bu!", balas Sena. Dengan secepat mungkin Sena membereskan semua barangnya dan segera menuruni tangga. Di depan rumahnya, sudah ada teman baiknya yang amat sangat mirip dengan monyet, Raimon Tarou atau yang sering dipanggil Monta.
"Pagi, Sena!", sapa Monta. Disekelilingnya sudah ada banyak tas, yang tidak diragukan lagi, berisi snack kesukaannya, pisang. Meskipun sudah terbiasa... Sena tetap saja ber-sweatdropped ria.
"Kau sudah siap kan, Sena? Lebih baik kita pergi sekarang. Aku tidak mau Hiruma-senpai..." Membayangkan kemarahan Hiruma, tanpa sadar bulu kuduk mereka berdiri. Kemarin, Kimiko memberitahu mereka semua untuk berkumpul besok pagi di stasiun bersama dengan anggota tim Saikyoudai. Dimana artinya tentu saja ada Hiruma disana.
"K-Kau benar Monta", kata Sena, "Kita pergi sekarang saja". Di punggungnya sudah ada tas ransel kesukaannya, hadiah ulang tahun dari Suzuna. Sena sudah tak sabar untuk bertemu dengan Yamato. Lagi. Monta mengangguk kecil. Dia mengerti betul pikiran sahabatnya, karena pikirannya juga dipenuhi dengan sesosok orang berambut pirang panjang dan bernama Taka Honjo, putra tunggal Masaru Honjo.
Sayangnya bagi mereka adalah, perjalanan mereka tidak semudah itu. Di tengah perjalanan pendek mereka menuju ke stasiun, tiba-tiba saja Sena berteriak kaget.
"Ada apa Sena?", tanya Monta bingung. Matanya tertuju pada Sena yang sedang panik, mengobrak-abrik ranselnya. Berbagai macam barangnya berserakan di jalan. Sena, dengan wajah pucat, menjawab, "Seragam football-ku ketinggalan".
Menit-menit berikutnya dihabiskan oleh Sena dan Monta dengan napas terengah-engah dan badan penuh keringat. Mereka sedang berlari ke stasiun setelah sebelumnya ke rumah Sena lagi untuk mengambil seragamnya.
"Kalau dalam waktu 5 menit kita tidak tiba di stasiun, kita mati!", teriak Monta melihat jam tangannya.
"Aku tahu!", balas Sena. Untungnya, gedung stasiun sudah bisa terlihat oleh mata. Sena pun mengeluarkan kecepatan cahayanya, meninggalkan Monta di belakang.
"Aku juga tidak mau kalah MAX!", kata Monta, mempercepat larinya. Keduanya pun memasuki stasiun... Hanya untuk disambut dengan kehadiran sang setan, Youichi Hiruma.
"Kalian telat 1 menit para cebol sialan! Mati!", kata Hiruma sementara tangannya sibuk menembakkan berbagai macam senjata di tangannya. Mamori, yang berdiri tidak jauh dari Hiruma, hanya bisa pasrah saja. Tak peduli apapun yang dilakukan Mamori, Hiruma tetap saja melakukan kebiasaannya itu. Tiba-tiba saja Kimiko muncul di samping Hiruma dan menghentikan kakaknya.
"Mau apa kau, adik sialan?", tanya Hiruma. Kimiko tetap diam. Tangannya mengambil senjata dari Hiruma. Memperhatikan setiap detail dari senjata itu.
"Ki-Kimiko-chan?", tanya Sena gugup. Perasaannya tidak enak. Sangat amat tidak enak.
"Ada apa Sena-kun~?", tanya Kimiko balik, dengan senyum terlewat manis. Cukup manis untuk membuat Sena, Monta, dan bahkan Unsui yang ikut menonton memerah pipinya. Untuk sesaat, Sena merasa lega. Lalu...
"Mati saja", kata Kimiko santai, menembakkan senjatanya dengan cara yang bahkan lebih seram dari Hiruma. Dan untuk membuatnya semakin seram, senyum super-duper manisnya tak pernah hilang dari wajahnya. Dia bahkan lebih seram dari Hiruma... pikir semua orang.
"Jadi, apa yang harus kalian katakan?", tanya Kimiko, "Cebol-cebol sialan?" Senjatanya diacungkan ke arah leher mereka.
"Ma-maafkan kami, Kimiko-sama", kata Sena dan Monta sambil berlutut di lantai. Keduanya gemetaran.
"Kalau sampai kalian telat lagi...", Kimiko menarik baju mereka, "Tidak ada ampun lagi. Mengerti?"
"Hai, Kimiko-sama!", jawab Sena dan Monta bersamaan. Keduanya masih berkeringat dingin. Belum pernah mereka sepucat itu selama seumur hidup mereka.
Belum pernah seingat Hiruma dia tertawa sekeras itu. Melihat bagaimana cara Kimiko menipu Sena dan Monta, mempermainkan mereka... Hiruma tertawa lagi ketika mengingat wajah Sena dan Monta. Benar-benar sukses membuat perut sakit. Seringai setannya pun muncul karena adanya potensi untuk bahan ancaman baru. Hiruma menggelengkan kepalanya. Sekali adik sialan, tetap saja adik sialan... Betul begitu, Kimiko?
Sementara Hiruma asyik dengan pikirannya (yang sukses membuat Sena dan Monta semakin terpuruk karena seringai setannya), Mamori dan Kimiko sedang sibuk membagi tiket kereta. Lebih tepatnya, hanya Mamori yang sibuk. Kimiko sudah selesai membagikan tiket timnya sedari tadi dan Mamori menolak bantuan Kimiko dengan alasan takut merepotkan. Benar-benar khas Mamori. Beberapa lama kemudian, Mamori pun selesai membagikan tiket.
"Yosh! Dengan ini kita pun siap untuk training camp!", kata Monta bersemangat. "Tapi memangnya... Kita training camp di mana sih?" Gubrak!
"Monta, memangnya kau tidak mendengarkan penjelasan Kimiko kemarin ya?", tanya Riku, masih tidak habis pikir bagaimana bisa Monta melupakan hal penting seperti itu.
"Soalnya setelah mendengar kata besok aku langsung shock MAX dan tidak mendengarkan Kimiko-chan lagi", jawab Monta sambil nyengir kuda.
"Itu tidak SMART, Monta! Sangat tidak SMART!", tegur Kotaro, mengacungkan sisir ke wajah Monta.
"Aku bahkan baru mengetahui training camp hari ini. Itu pun karena ditelepon Kurita-senpai", kata Mizumachi dengan polosnya, sukses membuat seluruh tim Enma Fires sweat-dropped.
"Huuh! Masih belum ada yang menjawab pertanyaanku", gerutu Monta kesal. Suzuna tertawa kecil.
"Tempat tujuan kita tertulis di tiket kereta Monta", jelas Suzuna, menunjuk lembaran tiket di tangannya. Monta langsung merogoh saku celananya, mengambil tiket. Matanya seketika terbelalak.
"Tunggu... Training Camp kita... Di Nishinomiya?", teriak Monta kaget, "Nishinomiya yang itu?"
"Yap. Kota Nishinomiya. Terletak di Perfektur Hyogo. Memiliki populasi sebesar 483.598 jiwa. Luas area sebesar 99,96 km2. Dan, tempat Stadium Koshien berdiri", jelas Kimiko yang tiba-tiba muncul dari belakang Monta.
"Hiee!", jerit Sena dan Monta bersamaan, terlonjak kaget, jelas sekali masih belum melupakan peristiwa tadi. Lagipula... Siapa juga orang yang bisa melupakan jika sebuah senjata baru saja diacungkan ke lehernya?
"Kekeke! Kamu bahkan membuat para cebol sialan lebih takut kepadamu daripada kepadaku!", ejek Hiruma.
"You-niichan!", protes Kimiko. Pipinya sudah merah padam karena malu. Hiruma malah semakin mengejeknya lebih keras. Beruntung bagi Kimiko, kereta yang akan mereka tumpangi segera siap, memperpendek waktu ejekkan Hiruma. Di depan peron kereta sudah ada sekumpulan orang yang sudah tidak asing lagi. Tukar sapa pun terjadi diantara mereka.
"Banba-senpai!", sapa Kurita membungkuk hormat berkali-kali. Di sisi lain, Agon dan Hiruma sudah saling mengeluarkan aura hitam satu sama lain. Ikkyu sedang mengobrol asyik dengan Unsui, dan Kimiko, Suzuna, dan Mamori pun juga sedang asyik mengobrol. Bagaimana nasib Mizumachi dan Akaba? Mereka malah melakukan performance di stasiun. Akaba bermain gitar, sementara Mizumachi menari.
"Wah, tampaknya kau tidak berubah jauh Sena", sapa Yamato, tersenyum ala Pepsodent. Tepat disebelahnya berdiri Jumonji.
"Ohayo, Yamato! Jumonji!", balas Sena tidak kalah semangat.
"Masih pendek seperti biasanya ya, Sena", goda Jumonji mengacak rambut Sena. "Dan Monta bahkan masih mirip sekali dengan mon─". Jumonji tidak melanjutkan perkataannya karena munculnya aura kemarahan dari Monta.
"Kau... Beraninya... Rasakan lemparan kemarahan Monta!", teriak Monta sambil melempar bola ke arah Jumonji. Tapi, karena yang melempar bola itu Monta, orang yang mempunyai tingkat ketepatan parah sekali, bukannya ke arah Jumonji bola itu malah menuju ke arah salah satu pengunjung stasiun. Bola itu akan benar-benar mengenai pengunjung itu jika bukan karena ada seseorang yang berhasil menangkapnya.
"Taka!", seru Sena, Monta, dan Yamato bersamaan.
"Benar-benar timing yang bagus seperti biasa, Taka", kata Yamato, "Tumben sekali kau datang mepet. Kereta sebentar lagi akan berangkat"
"Yah, yang penting tidak telat kan? Lagipula... Kau tahu sendiri aku harus menjemputnya terlebih dahulu", kata Taka. "Menjemputnya? Siapa?", pikir Sena.
"O-Ohayo, Minna", sapa Karin dari belakang Taka. "Karin!", kata Sena dan Monta terkejut. Kehadiran mantan quarterback Teikoku itu di luar dugaan mereka. Hampir tidak ada yang berubah darinya, kecuali adanya sedikit make-up dan rambutnya yang biasanya dikepang satu malah hanya dikuncir setengah. Badannya yang ramping dibungkus one-piece dress putih.
"Ah! Rin-chan! Aku sama sekali tidak menyangka Rin-chan akan ikut serta!", kata Suzuna dengan ceria seperti biasanya. "Rin-chan... Sejak kapan Suzuna membuat panggilan itu?", pikir yang lain.
"Karin bilang dia membutuhkan ide baru untuk komiknya, makanya aku mengajak dia untuk ikut training camp kali ini", jelas Yamato, "Tidak apa-apa kan, Hiruma?". Bunyi "pop" kecil terdengar dari mulut Hiruma.
"Yah, selama komikus sialan itu tidak membocorkan rahasia tim, aku sama sekali tidak masalah", jawab Hiruma santai.
"Perhatian semuanya! Kereta E21 menuju kota Nishinomiya akan berangkat sebentar lagi. Bagi para calon penumpang yang masih berada di luar kereta, dipersilahkan untuk segera memasuki kereta", begitu bunyi pesan intercom itu.
"Lalu, apa yang perlu kita tunggu lagi? Ayo semuanya, cepat ke kereta", ajak Kimiko.
Dan, dengan itu maka satu persatu anggota tim Enma dan Saikyoudai pun memasuki kereta, mempersiapkan diri untuk training khusus musim panas di kota tempat Stadium Koshien, Nishinomiya!
End of Chapter 5
Author's Note :
Chapter 5 ini lebih ke arah chapter pengantar. Informasi tentang kota Nishinomiya itu sungguh-sungguh benar apa adanya diambil dari Wikipedia. Chapter berikutnya kemungkinan besar akan tentang TC. Karena sama sekali tidak ada bakat tentang trick play, jadinya (kayaknya) fokusnya ga terlalu ke arah trainingnya. Pokoknya lebih banyak cerita main-mainnya daripada latihannya (namanya juga Author malas). Tapi karena masih ada kata "training"-nya ya... Ntar coba dah aku masukkin unsur training-nya, walaupun jujur aja masih sama sekali belum ada gambaran. Dan itu mengingatkan akan satu hal yang cukup penting...
REVIEW! Masih sama request review-nya, tentang segala masukkan ide TC dan pairing-pairing. Kritik dan saran diterima dengan terbuka. Chapter sebelumnya meskipun hanya dapat satu review tapi... MAKASIH! Hontou ni arigato, Anonymous-san! Your review really made my day! Makasih juga untuk koreksinya. Chapter 4 sudah kubetulkan spelling-nya. And lastly, makasih juga buat yang menjadikan cerita ini menjadi favorite story kalian!
So, farewell! See you in next chapter!
