Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma ?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...
A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.
Chapter 6 : First Impression
"J 12, J 12, J 12...", gumam Kimiko. Tangannya menarik kopernya dan tangannya yang satu lagi mengenggam potongan tiket kereta. Matanya sibuk mencari nomor kursinya. Lalu mata hijaunya tiba-tiba menjadi cerah.
"Ketemu!", serunya riang. Dia pun mempercepat langkahnya. Tangannya sudah cukup pegal menarik koper tersebut. Tapi yang tidak disangkanya adalah, sudah ada orang lain yang menduduki kursi sebelahnya. "Jumonji-san?"
Jumonji terkejut. Tidak, bukan terkejut. Kata terkejut merupakan suatu peremehan tentang situasi ini. Terperangah. Yap. Itu istilah yang lebih tepat. Dari semua orang yang diduganya untuk duduk bersamanya (mulai dari Sena, Monta, Banba, bahkan Yamato), adik sang mantan Kapten Deimon benar-benar sama sekali tidak ada di pikirannya. Yamato memang pernah bertanya pada Hiruma tentang keluarganya saat istirahat latihan (satu hal yang sangat memerlukan keberanian besar, pikir Jumonji), dan Agon seperti berkata "Bagaimana kabar cewek itu?" tapi Hiruma mengabaikannya dan hanya menyuruh Agon tutup mulut (dengan kekerasan brutal tentunya). Setelah itu tak ada yang berani lagi bertanya Hiruma tentang latar belakangnya. Dan sekarang di hadapannya berdiri Kimiko Hiruma, adik Youichi Hiruma. Untuk duduk disampingnya. Samar-samar Jumonji merasakan ada tatapan menyeramkan tertuju padanya. Jumonji menelan ludah.
"Ano... Jumonji-san?", tanya Kimiko lagi. Dia bingung. Bukannya menjawab pertanyaannya Jumonji malah diam dan terus memandanginya. Tapi tampaknya pertanyaan Kimiko kali ini berhasil membuyarkan lamunan Jumonji.
"Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja Jumonji. Lagipula kita berdua seumuran kan?", kata Jumonji. Kimiko mengangguk kecil. Manis. Kimiko Hiruma terlalu manis untuk menjadi adik Youichi Hiruma. Atau begitu setidaknya menurut Jumonji. Andai saja dia tahu apa yang terjadi pada Sena dan Monta sebelumnya... Melihat Kimiko kesulitan untuk memindahkan kopernya, sebagai seorang pemuda yang tahu sopan santun terhadap gadis, Jumonji menawarkan diri untuk memindahkan koper tersebut. Bagi seorang linemen sepertinya, mengangkat koper seperti itu terbilang sangat mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan tentu (koper itu bahkan jauh lebih berat dari ranselnya sendiri malah) tapi jauh lebih mudah dari mendorong truk ketika Death March dulu.
"Arigatou, Jumonji-kun. Eto.. Boleh minta satu hal lagi?", tanya Kimiko (yang dibalas anggukan kecilnya). Siapa juga yang tega (dan berani), untuk menolak permintaannya? "Boleh tukar tempat duduk?". Eh? "Hmm... Begini, dari dulu aku suka duduk di sebelah jendela dan kebetulan sekarang yang duduk di pinggir jendela itu Jumonji-kun. Bolehkah kita tukar tempat duduk?"
"Tentu saja boleh, Kimiko-chan", jawab Jumonji tersenyum, sukses membuat rona merah muda muncul di pipi Kimiko. Dia bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Kimiko duduk di tempatnya.
"Arigatou-ne, Jumonji-kun", kata Kimiko ketika Jumonji sudah duduk di tempat barunya.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan", jawab Jumonji balik. Kimiko tersenyum. Tanpa sepengetahuan mereka, di beberapa baris belakang mereka ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Sena dan Suzuna. Suzuna yang "antena"-nya sudah naik turun dan ingin lebih dekat lagi dengan Jumonji-Kimiko dan Sena yang susah payah menenangkan Suzuna. Yah, walaupun begitu Sena mau tidak mau mengakui kalau dirinya cukup senang untuk duduk sebelah Suzuna. Meskipun kebanyakkan waktu Sena hanya dihabiskan untuk menenangkan Suzuna dan hasrat mata-matanya.
"Kyaa! Monjii keren! Mereka bakalan jadi pasangan yang cocok sekali!", kata Suzuna gembira. Sena mengamati Suzuna. Matanya berbinar-binar seperti mata anak kecil yang mendapat mainan baru. Ceria dan cenderung hiperaktif, sama seperti Suzuna yan biasa. Mungkin itulah alasan mengapa aku bisa suka pada Suzuna, pikir Sena. Tunggu. Suka? Sejak kapan aku berpikir seperti itu?
Saat Sena sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Suzuna sudah mendapat pasangan incaran baru. Hiruma dan Mamori. Dia berteriak kecil, teriakan gembira. Sena tersadar. Dia tahu kemana arah mata Suzuna. Oh, tidak. Dari semua pasangan di kereta, mengapa harus pasangan yang satu itu?
"Wah! You-nii dan Mamo-nee juga duduk bersebelahan! Aku benar-benar beruntung!", kata Suzuna. Kali ini Sena harus benar-benar mengendalikan Suzuna. Demi keselamatannya gadis itu sendiri.
Mamori tidak tahu mimpi apa dia semalam. Di perjalanan ini dia berharap untuk duduk sebelah Suzuna. Atau Kimiko. Bahkan mungkin Karin. Tapi sekali Mamori tetap saja Mamori. Alih-alih duduk dengan Suzuna, dia malah duduk di sebelah Hiruma. Mamori memperhatikan setiap fitur Hiruma. Dengan enggan dia menyadari bahwa dia sudah terbiasa dengan kehadiran Hiruma lebih dari yang diakuinya. Hubungan mereka pada awalnya seperti musuh, saling berlawanan satu sama lain. Jika Hiruma dianalogikan sebagai setan, maka Mamori-lah malaikatnya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Mamori menyadari sisi Hiruma yang tak pernah diperlihatkannya. Seperti waktu kakinya nyeri ketika Death March. Atau langsung tepar setelah Death March selesai. Mungkin juga saat taruhan bodoh mereka sebelum pertandingan dengan Ojou waktu itu. Dan yang paling parah, saat Gaou mematahkan tangan Hiruma. Fakta bahwa sekarang jabatannya adalah manajer tim Saikyoudai dengan Hiruma sebagai kaptennya, lagi, sama sekali tidak membantunya. Seperti hampir tak ada bedanya pada waktu di tim Deimon dulu. Hiruma bertambah tinggi. Dan badannya juga semakin terbentuk. Astaga. Apa yang baru saja kupikirkan? Dengan cepat Mamori menyingkirkan pikiran aneh bin ajaib itu.
Seperti biasanya, Hiruma asyik dengan laptop di pangkuannya sambil mengunyah permen karet. Tipikal Hiruma. Yah, bukannya Mamori berharap Hiruma memulai pembicaraan. Mamori juga tidak tahu topik apa yang cocok untuk memulai obrolan. Satu-satunya topik pembicaraan mereka selama ini adalah American Football. Dan jelas, setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan American Football, Mamori, hanya untuk beberapa jam saja, tidak ingin mendengar kata American Football terlontar.
Jadi, mereka menghabiskan waktu berduaan hanya dengan saling berdiam satu sama lain. Bukannya Mamori keberatan dengan hal itu. Sungguh. Dia sama sekali tidak keberatan. Terkadang ketenangan ini yang dia butuhkan. Tidak ada teriakkan, tidak ada perintah, tidak ada caci maki. Teringat kembali akan pikiran anehnya, pipinya memanas. Mamori menarik napas panjang. Santai, Mamori. Relax. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk mendengarkan lagu dari Ipod-nya. Ini akan jadi perjalanan yang sangat panjang.
Beberapa jam diam di kereta, rupanya cukup menguras tenaga juga. Kebanyakkan penumpang saat ini sudah berhenti mengobrol dan jatuh tertidur. Hiruma menutup laptopnya. Setelah sekian jam berkutat pada laptop, matanya lelah juga. Matanya memperhatikan keadaan sekelilingnya. Satu yang paling perlu diperhatikan adalah orang disebelahnya sudah jatuh tertidur. Ya, Mamori tidur. Entah sejak kapan, Hiruma tidak tahu. Posisi tidurnya pun harus diakui... Lucu. Kepalanya agak sedikit tertunduk dan mulutnya terbuka. Salah satu earphone-nya jatuh terjuntai dan Ipod di genggaman tangannya hampir terlepas. Rambut auburn-nya yang mulai agak panjang menutupi wajahnya. Hiruma memutuskan untuk memotret wajah itu sebagai bahan ancaman barunya. Manajer tim Saikyoudai yang terkenal jatuh tidur dengan mulut terbuka. Yeah, itu bakalan jadi ancaman yang bagus. Dia bahkan sudah siap-siap mengeluarkan kameranya. Tapi memandang kembali wajah Mamori yang tertidur pulas... Hiruma memasukkan kembali kameranya itu. Ada sesuatu di wajah itu yang membuat Hiruma tidak tega. Demi apapun, Komandan Setan bisa juga tidak tega? Dasar manajer sialan, gerutunya dalam hati.
Masih cukup lama sebelum tiba ke Nishinomiya, sadar Hiruma mengecek jam tangannya. Matanya kembali menjelajahi kereta. Pandangannya jatuh pada si rambut hitam dan si rambut pirang tak jauh dari tempatnya. Kimiko dan Jumonji. Yang satu adalah adiknya dan yang satu lagi anggota timnya. Mereka berdua kini jatuh tertidur setelah beberapa jam sebelumnya mengobrol dengan seru. Sekarang Hiruma sedang sibuk menimbang-nimbang untuk memperingatkan Jumonji atau tidak. Instingnya sebagai kakak protektif berteriak-teriak menyetujui itu. Tapi instingnya yang satu lagi, dan cukup dominan, mengatakan Kimiko sudah cukup besar untuk memutuskan bagi dirinya sendiri, terutama di bagian percintaan. Lagipula Kimiko terlihat cukup menikmati bersama Jumonji, pikir Hiruma. Jauh lebih baik daripada Kimiko duduk bersebelahan dengan Agon.
Mengingat Agon lidah Hiruma terasa kecut. Laki-laki itu secara terang-terangan menyatakan untuk menjadikan Kimiko sebagai pacarnya. Seperti katanya tadi sebelum masuk kereta kepada Hiruma, "Tampaknya adik kecilmu itu sudah menjadi gadis yang lumayan. Boleh juga dijadikan pacar baruku". Benar-benar membuat darah tinggi saja. Dan keinginan Agon hampir tercapai jika dia tidak menukarkan tiket Agon dengan tiket Jumonji. Tanpa sepengetahuan mereka tentunya. Benar. Seharusnya Agon-lah yang duduk di sebelah Kimiko dan Jumonji yang harus duduk di sebelah Taka, teman sebangku Agon sekarang. Tapi dilihat dari sisi mana pun Hiruma lebih rela Jumonji duduk di sebelah Kimiko daripada Agon. Bisa jadi apa adiknya nanti. Belum lagi nanti saat Training Camp. Hiruma tahu pasti Agon tidak akan menyerah semudah itu. Bahkan sekarang saja Hiruma menyadari Agon masih memandangi adiknya. Hiruma mendengus. Dasar adik sialan merepotkan.
End of Chapter 6
Author's Note :
Two chapters in a week! A week! Not bad. Not bad at all. Apalagi kalau mengingat fanfic ini pernah hiatus hampir setahun *pokerface. Pada chapter ini rencananya aku mau tulis tentang TC... Tapi pada akhirnya aku malah nggak tahan nulis kayak gini. Their thoughts are kinda cute (and scary for a certain part) :3
Then, what do you think about the pairings? HiruMamo dan SenaSuzu tentu bukan pasangan baru lagi di fandom ini. Dan tuh dua pasangan itu adalah pasangan yang paling bikin aku penasaran nasibnya setelah Eyeshield 21 tamat. Kalau KimiMonji gimana komentarnya? *smirk
So... REVIEW! Please~ *puppyeyes
