Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...

A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.


Chapter 8 : Love in The Air

Hari-hari di training camp berikutnya dipenuhi oleh sebuah kegiatan yang mudah ditebak : pertandingan persahabatan. Meskipun begitu, bukan berarti kedua tim tidak serius. Keduanya bermain dengan mengerahkan segala kemampuan dan trick play yang ada. Tim Saikyoudai sebagai tuan rumah tentu tidak mau kehilangan muka, dan tim Enma juga tidak mau kalah begitu saja tanpa memberikan perlawanan yang berarti. Pemain all-star kedua tim menduduki posisi berimbang. Sena tak bisa melewati Yamato, tetapi Yamato sendiri juga tidak bisa melewati Sena. Kejadian yang sama terjadi pula pada Monta, Taka, dan Ikkyu. Banba dan Jumonji tak mau kalah begitu mudah dari Kurita, dan Kurita yang menghormati mereka berdua tidak menahan dirinya sama sekali. Terjadi pertandingan yang keras diantara kedua tim, membuat kemenangan tim tergantung pada satu pertandingan lagi. Pertandingan trick play. Pertandingan ini tak kalah sengit dibanding pertandingan lainnya dan tak kalah rumitnya. Kekuatan mental kedua trick player tim benar-benar diuji. Dan dalam hal ini berarti Youchi dan Kimiko, kedua kakak beradik Hiruma. Mereka berdua saling mengetahui satu sama lain dengan baik, terlalu baik malah. Yang membuat pertandingan ini lebih ke arah pertarungan. Meskipun begitu, ada satu hal Kimiko dimana kalah dengan Hiruma. Hal yang hanya bisa dimenangkan oleh waktu. Pengalaman bertahun-tahun di dunia American Football.

"Priit! Pertandingan selesai! Tim Saikyoudai menang dengan skor 24-23!", seru Mamori yang bertugas menjadi wasit.

Senyum kemenangan muncul di wajah seluruh anggota tim Saikyoudai. Yah, dalam kasus Hiruma, seringaian kemenangan setan. Walaupun begitu dalam hatinya Hiruma cukup waspada. Tadi itu benar-benar hampir sekali. Kalau saja masih ada 5 detik lagi bukan mustahil Enma yang mengalahkan mereka. Hiruma menggelengkan kepalanya. Tidak ada kalau. Tim Saikyoudai berhasil mengalahkan tim Enma dengan adil dan benar. Dan lagipula, keberuntungan juga termasuk kemampuan bukan?

Di sisi bangku Enma, Kimiko menggerutu kesal. Lagi-lagi, entah untuk pertandingan yang ke berapa kalinya, Saikyoudai berhasil mengalahkan Enma. Dan diantara semua pertandingan itu, pertandingan ini yang paling hampir dimenangkan Enma. Perhatikan kata hampir. Karena pada akhirnya tetap saja yang menang tim Saikyoudai. Meskipun begitu, mereka tetap dapat menerima kekalahan dengan baik.

Dari sekian pertandingan Enma-Saikyoudai yang terjadi selama training camp, ada sepasang mata yang terus memperhatikan semua pertandingan itu. Sepasang mata yang dimiliki oleh Karin Koizumi, mantan quarterback Teikoku Alexanders. Gadis itu duduk di pinggir lapangan, tak jauh dari Mamori, untuk mengamati jalannya pertandingan. Sementara matanya tetap awas mengamati setiap pergerakkan pemain, tangannya memegang sebuah notes kecil dan pen, sibuk menulis apapun yang ditangkap oleh mata coklatnya. Karin begitu sibuk dengan kegiatannya, sehingga tak menyadari sesosok orang yang menghampirinya.

"Hei, Karin", sapa Yamato dari belakang Karin, sukses membuatnya terkejut.

"Ya-Yamato-kun!", seru Karin. Yamato mengeluarkan senyum andalannya dan duduk tepat di samping Karin.

"Jadi, bagaimana Karin? Sudah dapat ide baru untuk komikmu?", tanya Yamato.

"Be-belum", jawab Karin gugup. Meskipun sudah pernah menjadi rekan setim, Karin tetap saja tidak terbiasa saat berdektan dengan Yamato. Ada aura tertentu yang membuat Yamato begitu... Entahlah. Mungkin itu juga yang membuat Karin tak bisa menolak saat Yamato mengajaknya bergabung dengan tim American Football. Yang jelas sekarang jantung Karin berdebar lebih cepat dari biasanya jika berdekatan dengan Yamato. Berbeda saat berduaan dengan Taka. Saat sedang hanya bersama dengan Taka, Karin merasa lebih... Nyaman. Lebih santai. Walaupun debaran jantungnya masih dalam taraf normal. Setidaknya.

"Karin...", panggil Yamato, sukses membuat perhatian Karin seluruhnya tertuju padanya. Mata hitamnya bertemu dengan mata coklat susu. "Yah, tak ada jalan mundur lagi kurasa", pikir Yamato. Yamato menarik napas.

"Maukah kau pergi bersamaku?", tanya Yamato akhirnya.

"E-Eeeh? Pergi bersamamu Yamato-kun?", tanya Karin memastikan.

"Hai. Setelah pertandingan ini Hiruma memberikan kita semua waktu bebas. Dan, aku berpikir mungkin aku mau ke kuil dekat sini. Eh, untuk... Jalan-jalan, eh, berdoa, dan... Sebagainya", jawab Yamato, jelas-jelas nada suaranya mengindikasikan bahwa dia tak kalah gugupnya dengan Karin.

"Shimata! Sejak kapan aku tertular penyakit gugup-nya Sena", pikir Yamato kesal sendiri.


Di dalam ruang ganti, Sena yang sedang mengganti bajunya tiba-tiba bersin.

"Kenapa kau, Sena?", tanya Monta yang berdiri tepat di sebelahnya.

"Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Mungkin tadi karena ada debu", kata Sena.

"Mungkin itu gejala pilek, Sena. Udara di sini kan lebih dingin daripada Tokyo", kata Kurita khawatir.

"Kahahaha! Mana mungkin orang bodoh terkena pilek!", kata siapa lagi kalau bukan Hiruma.

Tak jauh dari mereka, Jumonji yang sudah selesai mengganti bajunya beranjak dari tempatnya menuju ke luar ruang ganti. Jumonji sudah hampir berhasil menyelinap keluar. Tapi tepat saat Jumonji menyentuh gagang pintu...

"Kau tidak berpikir untuk pergi semudah itu bukan, Bekas Luka Sialan?", kata Hiruma, sukses membuat Jumonji membeku di tempatnya.

Para penghuni lainnya di ruang ganti yang merasakan aura berbahaya dari Hiruma cepat-cepat menyingkirkan diri dari ruang ganti (pengecualian untuk Mizumachi, yang harus diseret paksa Monta dan Kotaro untuk pergi), meninggalkan hanya Hiruma dan Jumonji berdua di ruang ganti. Sebelum pergi, Riku mendekatkan mulutnya ke telinga Jumonji.

"Semoga beruntung", bisik Riku singkat. Jumonji mengangguk kecil sebagai balasan sebelum sosok pemuda berambut perak itu menghilang di balik pintu. Kini hanya mereka berdua, saling berhadapan satu sama lain. Mata Hiruma tetap menatap tajam pada dirinya, membuat Jumonji menelan ludah.

"Aku benar-benar butuh keberuntungan yang super ekstra banyak...", pikir Jumonji.


Karin mengamati Yamato dengan minat. Merupakan hal yang langka melihat pemuda yang biasanya penuh dengan percaya diri tiba-tiba saja berbicara terbata-bata dan gugup. Yamato masih memalingkan wajahnya. Seumur-umur Yamato tak akan pernah mau mengakui, tetapi Karin berani bersumpah ada semburat merah di pipinya. Dan dengan enggan Karin juga harus mengakui semburat yang sama juga muncul di wajahnya.

"Jadi... Bagaimana, Karin?", tanya Yamato, menatap penuh-penuh wajah Karin.

"Eh?", batin Karin, "Bagaimana, ya? Apa lebih baik kuterima atau tidak?" Tapi mendapati mata hitam Yamato yang terus memandanginya, bersinar-sinar penuh harap, bagaimana mungkin Karin bisa menolaknya? Sebuah senyuman tersungging di wajah cantiknya.

"Aku mau, Yamato-kun", jawab Karin mantap. Yamato agak sedikit terperangah, akan tetapi tak lama kemudian berhasil menenangkan kembali dirinya.

"Kalau begitu kita akan bertemu sekitar sore nanti di depan lobby hotel, Karin", kata Yamato.

"Baik, Yamato-kun", jawab Karin.

Setelah berdiam sejenak, Yamato bangkit berdiri dari tempatnya, mengulurkan tangan ke Karin.

"Mau kembali ke hotel bersamaku?", tanya Yamato.

Karin mengangguk, kemudian membalas uluran tangan Yamato. Senyum lebar terpasang jelas di wajahnya. Tangannya mengenggam erat tangan Yamato yang menuntunnya kembali ke hotel. Terdengar suara canda dan tawa pada pasangan itu.

Mereka berdua sama sekali tidak menyadari adanya seseorang tak jauh dari mereka, bersembunyi di balik pohon dekat mereka, mendengar seluruh percakapan mereka. Wajahnya menunduk, membiarkan rambut panjangnya yang berwarna pirang menutupi wajahnya, saat membaca sebuah buku di tangannya. The Catcher in The Rye. Novel tipe kelas berat favoritnya. Sudah tak terhitung berapa kali Taka membaca ulang novel tersebut. Tapi tampaknya kali ini dia sudah menyerah untuk melanjutkan membaca kembali. Apalagi setelah mendengar pembicaraan dua orang sahabat terdekatnya. Yamato dan Karin. Sekarang dia sudah tidak bisa menutup sebelah mata lagi tentang hubungan mereka, bukan? Atau setidaknya berpura-pura akan perasaan masing-masing kedua sejoli itu. Dia menutup buku di tangannya, dan bangkit berdiri. Ada sesuatu yang harus dilakukan. Berbicara kepada pemain fullback Saikyoudai Wizards tertentu, misalnya.

"Yamato... Jadi kau sudah memulai gerakanmu, ya?", gumam Taka. Matanya sudah menerawang, memikirkan berbagai kemungkinan.


Kebanyakkan orang saat ini sudah pergi meninggalkan lapangan, menikmati waktu bebas yang langka diberikan. Kebanyakkan orang. Tapi tentunya kita semua tahu bahwa Kimiko Hiruma bukan kebanyakkan orang. Setelah pertandingan selesai, Kimiko memilih untuk tetap diam di lapangan, membereskan barang-barang. Sebenarnya, seharusnya Kimiko tidak melakukan pekerjaan ini sendirian. Biasanya ada Mamori, Suzuna, dan bahkan kadang-kadang Karin yang ikut membantu. Akan tetapi Karin sudah pergi dengan Yamato, Mamori disuruh pergi oleh Hiruma (yang menurut dugaannya pasti disengaja Hiruma) dan tidak ada yang tahu keberadaan Suzuna. Kemungkinan besar Suzuna pergi melakukan entah-hanya-Tuhan-yang-tahu dengan pemuda berambut coklat bernama Sena Kobayakawa. Semua kejadian itu membuat mereka semua meninggalkan Kimiko sendirian mengerjakan tugasnya, atau setidaknya begitu menurut pikirannya.

Terdengar suara pintu ruang ganti terbuka, memunculkan sosok pemuda berambut pirang pucat di balik pintu tersebut. Kazuki Jumonji. Keduanya terperangah sesaat.

"Eh... Aku pikir sudah tak ada orang lagi di lapangan", kata Jumonji melangkahkan kakinya mendekati Kimiko.

"Yah, harus ada seseorang yang membereskan semua ini bukan", kata Kimiko tersenyum meminta maaf.

"Keberatan dengan sedikit bantuan?", tanya Jumonji mengambil salah satu bola. Wajahnya menyeringai lebar.

"Tidak. Tidak keberatan sama sekali", jawab Kimiko balas menyeringai, mengambil bola dari tangan Jumonji.

Keduanya pun sibuk membereskan barang-barang. Mereka berdua bekerja dalam suasana hening. Tak ada satu pun diantara mereka yang berinisiatif memulai pembicaraannya. Sampai pada akhirnya, Kimiko juga tidak betah dengan suasana hening ini.

"Jadi, bagaimana dengan You-nii? Apakah dia memberimu kesulitan?", tanya Kimiko.

Jumonji memandangnya dengan ekspresi kaget, bercampur juga dengan heran. Menyadari pandangan Jumonji, Kimiko hanya mendengus.

"Jangan bilang kau pikir aku tidak tahu siapa satu orang lagi di ruang ganti. Lagipula ekspresi Sena, Monta dan Kurita sudah lebih dari cukup untuk mengatakan semuanya. Kalian berdua cukup lama juga di dalam sana", jelas Kimiko. Jumonji meringis.

"Katakan saja hanya untuk berduaan denganmu disini saja aku cukup mengundang masalah", kata Jumonji. Kimiko tertawa kecil.

"Sampai sebegitu parah rupanya. Sekali You-nii akan tetap You-nii, kurasa. Jadi, kau sudah mulai menyesali untuk tetap di sini?", tanya Kimiko.

"Kalau aku benar-benar menyesalinya Kimiko, aku pasti sekarang sudah ada di kamar hotelku, bukan sedang berkeringat disini membantumu membereskan barang-barang", jawab Jumonji. Kimiko menyengir lebar.

"Aku tidak berpikir sampai kesitu", akunya jujur.

Keduanya kembali terdiam, hanya saja kali ini bukan suasana diam penuh kecanggungan seperti tadi. Masing-masing sibuk bekerja. Tak terasa, pekerjaan mereka kini sudah selesai.

"Phew! Kurasa itu sudah semua", kata Kimiko setelah merapikan sekotak botol minum.

"Kurasa kau benar", kata Jumonji. Lalu matanya tertuju pada sebuah bola di pinggir lapangan. "Hei, bagaimana kalau sedikit pemanasan?", tawarnya sambil memutar bola.

"Bermain lempar-tangkap kurasa tak ada salahnya", jawab Kimiko tersenyum simpul.

Tak lama kemudian, kita bisa menemukan dua orang ini di tengah lapangan, sedang asyik bermain lempar-tangkap bola.

"Lemparanmu bagus juga, Kimiko", kata Jumonji yang cukup terengah-engah menangkap bola lemparan Kimiko.

"Hasil dari latihan bertahun-tahun, kurasa", kata Kimiko.

"Memangnya sudah sejak kapan kau berlatih?", tanya Jumonji penasaran. Kimiko tertawa.

"Sejak You-nii bermain American Football. Berarti kira-kira... Saat usiaku 13 tahun. Yah, Kurita-senpai bukan rekan menangkap bola yang baik. Jadi, sebagai latihan di luar sekolah, katakan saja aku dimanfaatkannya", jawab Kimiko.

"Dimanfaatkan?" Jumonji menaikkan alis matanya. Kimiko mengangkat bahunya.

"Dia butuh orang yang bisa menangkap lemparannya. Dan akan sangat merepotkan sekaligus membuang-buang waktu jika aku harus berjalan bolak-balik setiap menangkap bola. Jadi selain mengajarkanku menangkap bola, dia juga mengajarkanku cara melemparkan bola", jawab Kimiko panjang.

"Wow. Tumben sekali Hiruma semurah hati itu", gumam Jumonji.

"Kau pasti tidak mau You-nii mendengar komentar terakhirmu", goda Kimiko jahil. Ekspresi wajah Jumonji yang meringis malah membuat tawa Kimiko membesar.

"Aku seharusnya memotret ekspresi wajahmu", gumam Kimiko yang membuat Jumonji semakin meringis. Masih teringat jelas pengalamannya dengan foto dan orang yang sama-sama bernama belakang Hiruma selain gadis dihadapannya ini.

"Kutebak pada saat itu juga kau mengenal American Football? Dan beserta segala macam taktiknya?", tanya Jumonji, berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik foto.

"Hmm... Tidak juga. Aku memang baru belajar melempar saat 13 tahun, tapi aku sudah mengenal American Football saat berumur 9 tahun", jawab Kimiko.

"Lagi-lagi karena Hiruma, huh?", kata Jumonji.

"Yap. Bisa kau bilang seperti itu. Lagipula apalagi yang bisa dilakukan jika hampir setiap hari kakakmu selalu membuat taktik American Football", balas Kimiko.

"Kalian cukup dekat tampaknya", komentar Jumonji. Kimiko tersenyum kecil.

"Yah... Kita memang terbilang dekat waktu semasa kecil. Sekarang memang sudah tidak sedekat dulu, tapi masih cukup dekat. Apalagi kalau memikirkan fakta aku sudah tidak tinggal serumah dengannya lagi sejak berumur 14 tahun", kata Kimiko.

"Hah? Memangnya apa yang terjadi saat umurmu 14 tahun?", tanya Jumonji bingung.

"Aku pindah ke Amerika", jawab Kimiko singkat, merasa mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia katakan.

Merasakan keenggannan Kimiko, Jumonji tidak bertanya lebih lanjut perihal kepindahannya ke Amerika.

"Semuanya terjadi di waktu tepat. Jika dia tidak mau menjelaskannya, aku tidak akan memaksanya. Mungkin suatu saat dia akan memberitahuku. Tapi Amerika...", pikir Jumonji.

"Sekarang tampaknya sudah cukup sore. Kita sudahi dulu saja mainnya", kata Kimiko yang cepat-cepat beranjak pergi dari lapangan.

"Hei! Tunggu dulu, Kimiko!", kata Jumonji.

"Nani?", tanya Kimiko.

"Ngg... Eto... Besok mau pergi bersamaku tidak? Kudengar ada taman dekat sini yang cukup bagus", ajak Jumonji.

"Dengan kata lain kau mengajakku kencan, kan?", kata Kimiko menyeringai.

"Eeh?", seru Jumonji terkejut. "Itu..." Rona merah muncul di pipi pemuda itu.

"Kau tidak mengajak orang lain lagi bukan? Hanya ada kau dan aku?", tanya Kimiko lagi.

"Yah... Begitulah", jawab Jumonji gugup. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya.

"Kalau itu bukan namanya kencan, memangnya apa lagi coba?", goda Kimiko.

"Baiklah. Aku memang mengajakmu kencan", kata Jumonji akhirnya.

"Mengapa? Padahal kau tahu You-nii hampir pasti akan mengancammu kalau dia sampai tahu... Tapi mengapa kau tetap mengajakku kencan?", tanya Kimiko balik.

"Karena aku tetap ingin hanya berduaan denganmu", jawab Jumonji langsung. Tidak ada jeda, tidak ada pikir-pikir. Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutnya. Dan kali ini, giliran Kimiko yang dibuat terperanjat sekaligus juga merah padam. Mulutnya kehilangan kemampuan untuk berkata-kata sementara.

"Baik", kata Kimiko setelah akhirnya berhasil mengendalikan dirinya lagi. Meskipun tetap saja pipinya merah padam. Tapi tetap saja Kimiko mengeluarkan segala daya upayanya untuk tidak memalingkan wajahnya dari Jumonji, menatap langsung mata hitam pemuda itu.

"Aku terima ajakanmu... Kazuki", lanjut Kimiko tersenyum manis. Setelah itu Kimiko pergi ke hotel, meninggalkan Jumonji yang masih diam terperangah sendirian.

End of Chapter 8


Nani : Apa

Balasan Review (bagi yang tidak login)
Guest-san :
Itu... Namanya terjadi kesalahan teknis oleh penulis. Tenang saja, udah kubetulkan, kok. Yamato sekamar dengan Taka! Kalau dia beneran sekamar dengan Karin... Kayaknya harus ganti rated nih *sigh. See you in the next review!

Kira-san :
Arigatou untuk reviewnya! Memangnya sebegitu jarangnya ya fanfic adik Hiruma? *pokerface. Ini sudah kupanjangkan chapternya... Anyway, makasih sudah dibilang bagus ceritanya! Mind to review again? :D

Author's Note :
I owe you some explanations, am I? Tentang lapangan dulu, dah. Jadi ceritanya hotelnya itu juga punya fasilitas lapangan American Football gitu. Bagaimana bisa? Yah, kan namanya juga Hiruma. Yang impossible bisa jadi sangat possible sama dia. Terus masalah ruang ganti. Anggap aja ruang ganti kedua tim digabung, walaupun seharusnya mah kagak. Cuman karena ini masih di hotel, makanya cuman ada satu ruang ganti.

Lalu, untuk membatasi cerita, tokoh-tokoh yang muncul di sini hanya sebatas tokoh-tokoh yang sudah kita kenal saja. Jadi, kemungkinan besar selain Kimiko, OC lain yang cukup berperan mungkin tidak ada atau kalaupun ada jumlahnya sedikit. Dan buat yang nanya masalah pairing, main pairing-nya KimiMonji. Sisanya pairing-pairing yang normal saja, kayak SenaSuzu, HiruMamo, dan YamaKarin. Atau mau YamaKarinTaka? Aku masih belum menentukan apakah mau YamaKarin aja atau mau dibuat triangle love sama Taka. Any idea, please?

Dan ada satu berita buruk lagi. Bagi yang cukup kerajinan nge-check bio aku, di situ sudah aku tulis kalau kuliahku dimulai Agustus ini. Jadi, kemungkinan update yang semakin lama semakin besar. Apalagi kalau udah dapat writer's block. Wah... Udah nggak tahu lagi aku. Kalau update sih, pasti tetap ku update. Bahkan meskipun hiatus setahun tetap saja cerita ini update, kan? So, don't worry too much.

Akhir kata, aku minta review-nya doong~ Review macam apa saja bolehlah. Selain membuat tulisannya semakin bagus (kayaknya) juga penyemangat yang ampuh bagi sang penulis (dalam hal ini aku). Jadi... REVIEW! :3

Lady of Gray