Title : Love You Love Me
Pairing : KyuMin
Other Cast :
- Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
- Lee Donghae
- Kim Jungmo
- Lee Jinki
- Im Yoon Ah
Warning : 1st M-Preg(Impossible thing). OOC, bahasa tidak sesuai EYD, Gaje, TYPOSSSS, WITHOUT EDITING, AND I'LL NEVER EDIT IT AGAIN, penggunaan kata-kata kasar, KEBACOTAN author di beberapa bagian, NO BASHING!
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ, DON'T REVIEW, AND DON'T COMPLAIN PLEASE.
.
.
Happy Reading..^^..
.
.
.
.
.
Masih dengan posisi yang sama. Pelukkan Sungmin sama sekali tak terlepas. Kyuhyun yang kini sudah tertidur. Hanya mendengkur kecil, sambil memeluk Sungmin.
Sungmin bersusah payah menutup matanya. Pikirannya melayang kemana-mana. Agaknya cukup sulit untuk tidur malam ini.
"Cho Kyuhyun sepertinya, aku memang benar-benar sudah terlanjur mencintaimu.." ucap Sungmin pelan, tanpa membangunkan Kyuhyun.
"Tapi, kenapa aku harus terlambat menyadarinya?!" Gumam Sungmin, sambil menyenderkan kepalanya di dada Kyuhyun, dan mempererat pelukkannya.
Malam ini Sungmin lalui dengan tidur yang sangat membuatnya tidak tenang. Bersusah payah ia tidur, dan akhirnya ia mulai dapat menutup matanya.
.
_Part 27_
.
.
Kyuhyun terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan, dan membiasakan diri dengan cahaya yang menyeruak masuk ke dalam pupil matanya.
Perlahan, tangannya mulai meraba ke bagian dimana seharusnya istrinya sedang berbaring. Namun setelah meraba beberapa kali. Ia tersadar, Sungmin tak ada disampingnya.
Kyuhyun membuka mata lebar-lebar, ditatapnya sekeliling kamar, tak ada tanda-tanda kehadiran Sungmin di kamar. Lampu kamar mandi pun mati, itu berarti Sungmin tak sedang berada di sana.
Kyuhyun mulai beranjak dari ranjangnya, dan berjalan keluar kamar. Ia melirik ke arah dapur, tak ada Sungmin di sana.
Kyuhyun agaknya sedikit bingung, ia membawa kakinya berjalan menuju pintu depan.
Namun sampai di sana, ia malah membulatkan matanya lebar-lebar. Ia memandang shock sosok dihadapannya.
"Kyuhyun, kau sudah bangun" ujar Sungmin, sambil berusaha menyeret kopernya keluar dari pintu apartment.
"Sungmin apa ini?! Kenapa ada koper-koper di sini? Dan kenapa pakaianmu sangat rapi?! Kau mau kemana?!" tanya Kyuhyun berentetan.
"Ahh, ini semua barang-barangku, aku ingin mencari tempat tinggal yang lain, aku rasa aku sudah cukup lama merepotkanmu.." ujar Sungmin santai.
"Apa maksudmu mencari tempat tinggal lain?! Dan merepotkan?! Apa yang merepotkan?! Statusmu masih istriku!" ujar Kyuhyun tidak terima.
"Aku sudah tidak mungkin tinggal di sini lagi Kyuhyun. Aku tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di sini. Alasan kita menikah, tinggal bersama, itu karena bayi kita.. Tapi.. Kini ia sudah tidak ada.. Apa lagi yang harus membuatku untuk tetap tingal di sini?"
"Tapi kita suami istri!"
"Tapi pernikahan itu seharusnya tidak sah.. Aku berbohong.. Aku menyamar sebagai wanita pada pernikahan itu." elak Sungmin.
"Tapi kau masih tetap bisa tinggal di sini!" cegah Kyuhyun.
"Sudah kukatakan, aku tidak punya alasan untuk tetap berada di sini, bersamamu!" balas Sungmin.
Kyuhyun terlihat sangat tidak menerima maksud Sungmin yang sudah jelas ingin meninggalkannya. Ia menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan.
"Tapi kau tidak boleh pergi.." lirih Kyuhyun.
Mendengar lirihan seperti itu. Sungmin yang awalnya mencoba untuk tidak menunjukkan ekspresi sesungguhnya, malah membalikkan badannya, ekspresi sesungguhnya kini sangat terlihat, walau Kyuhyun tak dapat melihatnya.
Sungmin mencoba menahan tangis.
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh pergi? Aku berhak untuk pergii.." balas Sungmin pelan.
"Tapi aku membutuhkanmu.." lirihan Kyuhyun sungguh membuat Sungmin tak dapat menahan air matanya.
"Apa yang kau butuhkan dariku? Aku hanya akan merepotkanmu Kyuhyun.." ucap Sungmin sambil menjaga kestabilan suaranya.
"Aku.. aku hanya butuh kamu, hanya butuh dirimu untuk tetap disampingku.." setetes air mata mengalir di pipi pucat seorang Cho Kyuhyun.
"Kenapa harus aku? Di dunia ini wanita lebih banyak dari pada pria Kyuhyun, banyak wanita di luar sana yang lebih pantas mendampingimu.. Kenapa harus aku? Kenapaaa?" tanya Sungmin dengan suara bergetar. Ia sudah tak mampu menjaga tangisannya. Suaranya sudah terlanjur pecah.
.
.
.
"Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu Lee Sungmin!" ujar Kyuhyun tegas, walau dengan suara yang sedikit bergetar.
"Hiks…" Tangis Sungmin benar-benar pecah, bahkan ia sudah tak dapat menahan suara tangisnya lagi.
"Tak bisakah karena itu, kau tetap berada disampingku?" pinta Kyuhyun dengan nada lirih.
"Hiks.." Sungmin hanya berusaha menahan isak tangisnya yang tak kunjung reda.
Menunggu jawaban Sungmin kini, benar-benar membuat jantung Kyuhyun berdebar dengan kencangnya.
Perlahan Sungmin mulai dapat mengandalikan tangisnya. Ia menghapus air matanya perlahan.
'Kyuhyun? Mencintaiku?' Sungmin hendak membalikan tubuhnya. Namun..
'Aku ingin kembali menjadi pria pada umumnya..'
'Apa kau tidak memikirkan perasaan Kyuhyun yang butuh belaian wanita?'
Dua buah kalimat terlintas di otaknya, kalimat pertama adalah kalimat yang ia ucapkan pada Jinki, dan kalimat kedua adalah kalimat yang paling sering Sungmin pikirkan.. Ucapan Jungmo.
Untuk kalimat pertama, mungkin itu memang ego-nya, namun kalimat kedua? meski pun Kyuhyun mencintainya, tapi tetap saja.. Ia tidak ingin karena ini Kyuhyun dipandang sebelah mata, seorang seperti Kyuhyun mencintai seorang namja?
Mungkin ia bisa kembali menyamar menjadi wanita, tapi sulit untuk mengalah pada ego-nya kini. Ia berhak memiliki rasa rindu atas bagaimana rasanya menjadi namja biasa.
Jika hal ini ingin diteruskan, mereka bisa meneruskannya di beberapa bagian negara lain, seperti USA, Germany.. Hal tersebut sudah tak lazim bagi masyarakat di sana. Tapi bagaimana dengan nasib karir Kyuhyun?
Begitu banyak hal-hal mulai terlintas di otaknya. Ia sunggu bimbang kini.
"Jebalyo Min..." lirih Kyuhyun untuk yang kesekian kalinya.
'Aku juga jatuh untukmu.. Aku juga membutuhkanmu.. Tapi.. Ini tetap tidak bisa.. Mianhae Cho Kyuhyun..'
Dengan tetap membelakangi Kyuhyun, Sungmin mengangkat kepalanya berusaha tegar.
"Mian.. Jeongmal mianhae.." hanya itu yang dapat Sungmin katakan.
"Tidakkah kau merasakan hal yang sama?" tanya Kyuhyun dengan sedikit isak tangis yang tak cukup terdengar.
Sekali lagi Sungmin menundukkan kepalanya menahan isak tangis. Namun dengan berusaha agar lebih tegar, ia menjawab dengan tegas.
"Tidak. Mian Kyuhyun."
Memang jelas Sungmin berbohong.
"Tatap aku, jika kau sedang berbicara padaku Sungmin!" pinta Kyuhyun dengan suara bergetar.
Sungmin membalikkan badannya menatap Kyuhyun.
"Setelah ini aku yakin kau akan cepat menemukan yang terbaik… Ya.. Seorang wanita yang baik.. Seorang wanita yang tak mungkin mengecewakanmu. Wanita yang akan selalu ada disampingmu, dan akan terus mendampingimu.." ujar Sungmin tulus.
Sulit..
Susah payah ia mengatakan hal itu, Kyuhyun hanya membalasnya dengan isak tangis.
"Tapi aku –"
"Kumohon jangan lagi mencegahku.." pinta Sungmin.
"Aku.. Aku.. Kumohon jangan halangi aku.." pinta Sungmin dengan nada lirih.
Kyuhyun menangis dalam diam. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Walau Sungmin tahu dia sedang menangis, tapi sungguh ia tidak ingin Sungmin melihatnya.
Sungmin membalikkan badannya dan mulai menyeret kopernya, menuju lift.
"SUNGMIN-AH SARANGHAE!" teriak Kyuhyun di depan pintu apartment.
Sungmin menghentikkan langkahnya sejenak. 'Nado Saranghae Kyuhyun..' jawabnya dalam hati.
Lalu kemudian langsung berjalan kembali, dan menghilang dibalik lift.
Kaki Kyuhyun begitu terasa lemas. Seketika itu juga ia terjatuh di atas lantai.
Sambil memeluk lututnya. Ia menangis sejadi-jadinya.
.
.
"Sungjin hyung di bawa ke Rumah Sakit di Jepang kemarin malam, sebenarnya ia sudah lama sakit, penyebab aku sering datang ke rumahnya ya karena keadaanya kian memburuk.. Waktu itu aku sempat ingin memberitahukannya padamu, tapi kau malah menolak untuk membahas tentang Sungjin hyung." ucap Eunhyuk.
"Mianhae.." hanya itu yang dapat Sungmin katakan.
"Hah sudahlah.. Aku berniat menyusulnya pagi ini, namun, aku lihat kau lebih membutuhkannya" ujar Eunhyuk sambil menyerahkan selembar ticket pesawat pada Sungmin.
"Gomapta.." Sungmin tersenyum tipis, sambil menerima ticket tersebut.
"Eumm, Min, Koper-koper itu?" tanya Eunhyuk sambil menunjuk ke arah koper-koper Sungmin di belakang.
"Aku.. memutuskan untuk pergi dari kehidupan Kyuhyun.." ujar Sungmin pelan.
"NDEEEE?!" seru Eunhyuk.
"Nanti saja ya menjelaskannya, keberangkatannya sebentar lagi, aku harus ke bandara sekarang." Ujar Sungmin sambil menarik kembali koper-kopernya.
"Tapi Sungmin!"
"Sampai bertemu di Jepang Hyukjae!" seru Sungmin sambil menaiki sebuah taksi yang sebelumnya ia pesan.
"Hhh~" Eunhyuk menghela napas panjang, lalu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung apartmentnya.
.
.
Jungmo membolak-balikkan sebuah buku album, yang berisikan fotonya dengan seorang gadis.
Terkadang Jungmo tersenyum memandangi foto-foto itu, namun, setiap ia berusaha tersenyum pasti langsung teringat hal-hal yang merupakan kenangan terburuknya.
Ditutupnya buku album yang berjudul -Jungmo and Yoona's love story- di covernya. Ia menyenderkan punggungnya di kursi lalu menerawang ke atas.
Dari kemarin hingga sekarang, yang ada dipikirannya hanya Yoona, Yoona, dan Yoona, bahkan rencana yang ingin ia gunakan untuk membuat Kyuhyun dan Sungmin berpisahpun, pasti ia sudah lupa.
Otaknya sudah terlanjur terkontaminasi dengan diri Yoona.
'Aku masih mencintaimu.. Karena aku... Aku tidak bisa melupakanmu Oppa..' Seketika kalimat Yoona terlintas di otaknya.
'Tak bisa kah kita bersama lagi Oppa? Aku tahu, setidaknya masih ada sedikit rasa darimu untukku..'
Otaknya malah semakin mem-flashback kata demi kata yang pernah Yoona keluarkan.
'Jika kita bisa bersama lagi.. Aku janji.. Aku janji tidak akan kembali ke Amerika.'
"AAAARRGHH!" Jungmo mengacak-acak rambutnya.
Ia terlalu frustasi memikirkan Yoona.
"TOK TOK TOK!"
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Jungmo.
"Masuk!" titah Jungmo dengan nada kesal.
"Sajangnim, ada beberapa surat yang dikirimkan untuk anda. Di sini tertera bahwa surat ini ditunjukkan untuk anda.. Tadi ada seseorang yang mengirimkannya, katanya seseorang mengirim surat itu beberapa kali ke rumahnya, namun nampaknya si pengirim surat ini salah alamat." Ujar Sekertaris baru Jungmo sambil menyodorkan beberapa tumpukkan surat pada Jungmo.
"Ish! Letakkan di sana saja!"
Setelah sekertaris itu meletakkan surat-surat itu di meja, ia langsung keluar, karena ia tahu, Jungmo sedang tidak dalam keadaan baik.
"Siapa orang bodoh yang mengirimi ku surat, tapi salah alamat?! Pabbo saram.." Jungmo meraih beberapa pucuk surat di meja-nya, dan membaca alamat pengirim.
"Ini..."
Awalnya ia mulai curiga, membaca alamat yang begitu asing dimatanya. Tulisannya pun bukan hangul, tapi alphabet.
"Yoona?!"
Jungmo begitu terkejut, melihat pengirim seluruh surat itu adalah Yoona.
Dibacanya satu-satu, surat-surat itu dengan cepat.
Rupanya selama ini, Yoona selalu memberinya kabar melalui surat, hanya saja, surat itu selalu salah alamat.
E-mail, Nomor Handphone, jaringan sosial, atau apapun alat komunikasi teknologi milik Jungmo, tidak ada yang Yoona ketahui. Yoona baru mendapatkan nomor Jungmo, setelah ia tiba di Korea.
Jungmo malah bertambah frustasi membaca isi-isi surat itu. Ternyata pikirannya selama ini salah. Yoona tidak pernah melupakannya. Selalu ia katakan dalam suratnya.
Jungmo melirik ke arah jam dinding.
[08:10 pm]
20 menit lagi, Yoona akan memasuki penerbangannya.
Jungmo langsung meraih kunci mobilnya, dan menghempaskan surat-surat itu sembarang arah.
Dengan seribu langkah, ia menuju ke parkiran mobilnya, dan langsung melaju ke bandara Incheon, dengan kecepatan penuh.
.
.
"Yoona, keberangkatanmu 5 menit lagi, ayo.. kau harus cepat.."
"Ne eomma.."
Yoona mulai berdiri dari duduknya. Ia menatap ke sekeliling bandara.
Tapi, ya mau bagaimana lagi? Harapannya sudah sirna. Tak ada Jungmo di sini.
.
.
.
Jungmo berlari masuk ke dalam bandara dan menatap kesekeliling dengan cepat, namun sosok yang ia cari tak kunjung ia temukan.
"YOONAAA!" teriaknya sambil memanggil nama Yoona.
Banyak orang lalu lalang yang memperhatikannya, namun, apa pedulinya? Yang ia butuhkan sekarang, hanyalah bertemu Yoona.
"YOONAAAAA!"
Yoona menoleh, ia mendengar seakan seseorang memanggil namanya.
Ia mencari sumber suara, namun sepertinya, itu hanya halusinasinya.
Yoona menyerahkan ticketnya pada petugas di sana. Setelah melangkah masuk satu langkah, ia agaknya merasa ada yang mengganjal, namun, dengan cepat ditepisnya pikiran itu, dan ia pun kembali berjalan masuk.
"YOONA!"
Sekali lagi, Yoona mendengar suara orang memanggilnya.
"Pasti hanya halusinasi!" gumam Yoona.
"YOONA!"
Kini terdengar kembali, ia yakin, ini bukan sekedar halusinasinya. Yoona pun menoleh ke belakang.
Dari kejauhan Yoona melihat Jungmo sedang menatapnya.
Yoona pun berlari keluar dari pintu penerbangan. Begitu juga Jungmo yang berlari menuju Yoona.
'GRREEEPP'
Yoona memeluk Jungmo dengan erat. Begitu pula dengan Jungmo.
"Akhirnya kau datang.." lirih Yoona.
"Hah! Aku belum terlambat kan?" tanya Jungmo dengan napas yang belum stabil.
"Belum.. Belum.. Kau belum terlambat.." ucap Yoona pelan.
Jungmo melepas pelukkannya dan menatap Yoona.
"Kau janji akan tetap berada di Korea kan?" tanya Jungmo.
"Oppa.. Kau menerima aku kembali?" tanya Yoona dengan nada lirih.
Jungmo kembali memeluk Yoona.
"Bodoh, kalau tidak, mana mungkin aku memelukmu sekarang.." bisik Jungmo.
Yoona tersenyum, air mata bahagia mengalir dipipinya.
Yoona melepas pelukkannya mencari eommanya.
Yoona mendapati Eomma-nya tersenyum menatapnya. Eommanya mengangguk padanya. Entah, tanda restu mungkin?
"Ayo kita pergi.." ajak Yoona.
"Eh? Tapi barang-barangmu?" tanya Jungmo.
"Eomma yang akan mengurusnya.." jawab Yoona sambil tersenyum.
Jungmo membalas senyum Yoona. Ia meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat.
"Ayo.."
Tepat ketika mereka hendak keluar dari bandara, Jungmo mendapati Sungmin sedang berjalan masuk ke bandara sambil membawa koper.
"Ah, sebentar ya, aku harus menemui seseorang.." ijin Jungmo.
"Oh? Ne, aku tunggu di sini.."
Jungmo berlari mendekati Sungmin.
"Sungmin-ah!" panggil Jungmo.
Sungmin menoleh. Lalu sedikit tersenyum pada Jungmo.
"Mian.. Mianhae telah mengganggu hidupmu selama ini, mian selalu merencanakan hal jahat padamu, dan mian karena selalu berusaha memisahkanmu dengan Kyuhyun." ucap Jungmo panjang lebar, sambil membungkukkan badannya 90 derajat.
Lagi-lagi Sungmin mengulum senyumnya.
"Gwaenchana, aku sudah memaafkanmu.." jawab Sungmin tulus.
Jungmo mengangkat tubuhnya kembali. Ia menatap Sungmin dengan bingung.
"Kau, kau mau kemana?" tanya Jungmo.
"Oh, aku harus ke Jepang, Hyungku sedang di rawat di sana." jawab Sungmin.
"Lalu, dimana Kyuhyun?"
Sungmin terdiam mendengar pertanyaan ini.
"Sungmin?"
"Aku berpisah dengannya.." jawab Sungmin, Jungmo membelalakan matanya tak percaya.
Jungmo hendak membungkukkan badannya lagi, namun Sungmin dengan cepat menahannya.
"Gwaenchana, bukan karenamu.. Ini semua sudah menjadi keputusanku.." ujar Sungmin, yang sudah mengerti maksud Jungmo sebelumnya.
"Tapi, tetap saja, aku merasa bersalah.." ujar Jungmo.
"Ini bukan salahmu! Jangan seperti itu, oh ya, 10 menit lagi aku harus berangkat!" ujar Sungmin.
Sungmin menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Jungmo. Jungmo menatap tangan Sungmin dengan agak lama. Namun, perlahan, ia menjabat tangan Sungmin, dengan agak kaku.
"Aku harus pergi sekarang."
"Oh ya! Sampai di sana, jangan lupa hubungi aku.." Jungmo memberikan selembar kartu nama miliknya.
"Pasti.."
"Jangan diri baik-baik!"
"Ne!"
"Sungmin-ah! Jeongmal Mianhae!" Jungmo masih meneriakkan kata maaf saat Sungmin mulai jauh dari pandangannya.
Sungmin yang sedikit mendengarnya hanya membalikkan badannya dan tersenyum, lalu melambaikan tangannya dan Sungmin kembali berjalan menuju pintu penerbangannya. Sementara Jungmo kembali menghampiri Yoona.
Sungmin menoleh ke belakang untuk yang kesekian kalinya, Ia menatap Jungmo yang sedang berjalan keluar bandara, sambil menggandeng Yoona. Sungmin tersenyum menatap mereka.
"Maaf tuan, ticketnya.." ujar Petugas di sana.
"Oh ne.."
.
.
Satu minggu berlalu..
Tugas-tugas Kyuhyun, semua hancur berantakan, kalau saja tidak di bantu oleh Jinki.
Rumahnya yang selalu bersih, kini terlihat seperti kapal pecah.
Ia seperti tak terurus selama satu minggu ini.
Pikirannya selalu dipenuhi dengan Sungmin, Sungmin, dan Sungmin.
.
.
'PLAKK!'
"Bodoh! Kalau kau mencintainya! Cari dia!" bentak Jinki, setelah menampar Kyuhyun.
"Untuk apa? Toh dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.." ucap Kyuhyun datar.
"Ish! Kalau begitu kejar! Jangan seperti orang idiot! Kerjaannya tiap hari hanya melamunkannya! Apa itu yang kau namakan mencintainya?!"
Kyuhyun terdiam sejanak.
Jinki menggeram kesal. Ia mendorong Kyuhyun keluar dari ruangan Kerja Kyuhyun.
"Cepat cari dia! Kau hanya merepotkanku di sini!"
.
.
"Sungmin sudah berangkat ke Jepang, dan Eunhyuk menyusulnya tiga hari yang lalu.." ujar Donghae pada Kyuhyun.
"Apa kau tidak memiliki nomor, atau e-mail baru Sungmin?" tanya Kyuhyun begitu antusias.
Donghae menggeleng.
Kyuhyun menunduk frustasi, ingin sekali ia menyusul Sungmin ke Jepang, tapi apa guna, jika ia tak tahu alamatnya?
Donghae terlihat mengiba pada Kyuhyun, sungguh tak tega melihat Kyuhyun sepeti ini.
Tiba-tiba Donghae teringat sesuatu..
"Ah! Eunhyuk akan segera mengirimkan nomor barunya di sana padaku, nanti setelah aku mendapatkannya, aku akan mengirimkannya padamu, kau bisa cari tahu tentang Sungmin dari Eunhyuk.." ujar Donghae sedikit menghibur.
Kyuhyun mengangkat kepalanya, dan menatap Donghae penuh harap.
"Jeongmalyo?"
"Ne.."
'Sreeett'
"Gomapta Hae-ah!" ujar Kyuhyun sambil memeluk Donghae.
"Ne cheon.."
.
.
Sekitar tiga hari menunggu.
Kyuhyun mendapatkan apa yang ia tunggu tiga hari kebelakang.
Akhirnya ia mendapat nomor telephone Eunhyuk yang baru di Jepang.
Tak peduli biaya interlokal yang terlalu mahal, tanpa basa basi Kyuhyun langsung menelphonenya.
Usaha Kyuhyun cukup membuahkan hasil, ia dapat berhubungan dengan Eunhyuk, dan dapat mengetahui kabar Sungmin dari Eunhyuk, hanya saja, ia tak dapat mengetahui nomor handphone atau e-mail Sungmin, karena Eunhyuk tidak mendapat izin dari Sungmin untuk memberikannya.
.
.
"Yeoboseyo?! Eunhyuk-ah!" seru Kyuhyun saat mendapat panggilan dari nomor Eunhyuk.
"Yeoboseyo? Kyu?"
Kyuhyun terdiam, ia tak dapat mempercayai bahwa, suara yang ia dengar ini, adalah suara seseorang yang sangat ingin ia temui selama dua minggu ini.
"Sungmin? Kau Sungmin?! Kau benar-benar Sungmin?!"
"Ne.. Aku dengar, keadaanmu tak baik di sana?" tanya Sungmin ramah.
"Mian, aku sulit berpikir, aku.. Aku..
Selalu saja otakku memikirkanmu.." ujar Kyuhyun ragu.
"Oh, lalu, kau pikir kau pantas memikirkanku?" tanya Sungmin menusuk.
"N-Ne?" Kyuhyun terlihat bingung setelah mendengar kalimat Sungmin barusan.
"Kau bilang keadaanmu kurang baik di sana, lalu dengan begitu kau pantas memikirkanku?"
"Ma-Maksudmu?"
"Mian Kyu, tapi aku hanya ingin dipikirkan oleh orang yang layak, orang yang mempu menata hidupnya. Sekarang aku tanya, apa pekerjaanmu berjalan dengan baik dua minggu terakhir?" tanya Sungmin.
Kyuhyun tak menjawab, pekerjaannya terbengkalai, tak ada yang baik. Ia bahkan tidak mempedulikan dirinya sendiri.
"Jangan pernah berharap mendapat kabar apa pun lagi dari Eunhyuk, jika hidupmu tak berjalan dengan baik.." ujar Sungmin dengan sedikit mengancam.
"Dan satu lagi.." tambah Sungmin.
"Ne?"
"Kumohon cobalah, mencari seorang wanita yang bisa mendampingimu.." pinta Sungmin.
"Tapi Min.."
"Ini permintaan Kyu, ku mohon sekali saja.."
Kyuhyun tak dapat mengatakan kalimat apa pun lagi.
"Sampai di sini dulu ya, aku tak punya banyak waktu.."
"Tapi Sungmin!"
.
-Tuuut-Tuuuutt-
Sambungan terputus, Kyuhyun menatap nanar Handphone-nya, namun, sedetik kemudian, ia sedikit mengulas senyum.
"Setidaknya ia baik-baik saja, dan aku masih dapat mendengar suaranya.."
.
.
.
.
.
~To Be Continued~
.
Wiiiiii,, 1 ch lagi tamat
chapter 28 pengennya aku update kapan nih? besok? lusa? atau gimana? soalnya banyak juga yang minta supaya tamatnya jgn cepet2 #plakk
ya pokoknya terserah reader aja deh..
hwah, bentar lagi tamat, rasanya lega banget, tugasku di sini bentar lagi kelar..
okedee, capcyus yuk ke prtanyaan..
.
.
Q: FFnya ditambahin panjangnya ya?
A: Hah? Nggak sama sekali kok.. mungkin alur chapter kemarin lebih cepet kali ya? mangkanya keliatan rada panjang..
Q: Author kenapa berhenti nulis? banyak author yg udah kuliah tapi masih sempet nulis.
A: anak SMA jaman sekarang beda kali ya, yg kuliah kan jamnya beda dan ada juga yg gak tiap hari.. kalo SMA kan tetep belajar 50 jam seminggu. ya berhubung aku kan nggak ikut bimbel ya, walau nggak ikut bimbel bukan berarti waktu luangku banyak.. karena aku nggak ikut bimbel, mangkanya aku mesti belajar ekstra..
sebenernya aku sempet nulis lho.. cuman akhirnya nggak selesai karena aku kan biasa nulisnya di hp sama .. ku nggak bisa dibuka gegara virus (T_T) dan aku aja sekarang jarang megang hp.. sekalinya megang hp buat bales sms sama twitteran bentar.. #ehkokcurhat, ya pokoknya banyak banget halangan buat nulis lagi sekarang2 ini T_T
Mangkanya doain aku ya supaya di kelas 12, segalanya gak keteteran, dan bisa punya banyak waktu luang, jadi aku bisa nulis lagi :")
Q: Jadi setelah ini nggak bakal bikin FF lagi?
A: Ya kan belom sempet.. T-T, butuh doa dan dukungan temen-temen nih..
Q: Wah, reviewnya udah 1500an, selamat ya author. sbg reader aku juga ikut seneng..
A: Iya makasii, karena kalian juga bisa nyampe angka segitu, terharu deh :"),, tapi rada tragis lho ngeliat viewersnya -_-,, mangkanya keep review yah :"), Love You My Friends..
Q: Apa KyuMin bakal cerai?
A: Nggak kok, mereka nggak cerai.. cuman Sungminnya ninggalin Kyuhyun..
Q: Victoria nggak muncul lagi?
A: Nggak
Q: EunHae bakal jadian nggak?
A: Selalu pertanyaan ini muncul, bosen ah..
Q: Author laki-laki atau perempuan?
A: ya perempuan lhaaa,, emangnya cara bicaraku kek anak cowok? T_T
Q: Jadi author gak bikin FF lagi?
A: Semoga aja kata 'nggak' bisa jadi 'belum' :")
.
.
Tak sabar menanti tamatnya FF ini... Setuju kah?
Jangan bosen-bosen mereview FF ini ya ceman-cemans.. :)
Thanks
Diniaulicious
1st published for chapter 27: August 7th, 2011
