Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma ?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...

A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.


Chapter 9 : Busted

Napas Sena tersengal-sengal. Bukan, dia tidak habis berlari. Malah sebenarnya, latihan sudah selesai berjam-jam yang lalu. Alasan yang membuat Sena Kobayakawa, seorang running back terlatih selama bertahun-tahun, kehabisan napas adalah sosok gadis berambut biru yang berada tepat disamping dirinya. Seharusnya, ini hanya akan jadi kunjungan normal ke kuil. Seharusnya. Kenyataannya malah kunjungan biasa-biasa saja ke kuil berubah menjadi adengan agen mata-mata seperti di film-film. Ingatan Sena kembali ke tadi siang, setelah latihan American Football mereka selesai...

"Sena!", panggil Suzuna ceria, tepat setelah Sena keluar dari ruang ganti.

"Kenapa, Suzuna?", tanya Sena.

"Ayo, sini! Temani aku jalan-jalan", ajak Suzuna.

"Eh? Apa mak─Huaaa!" Sayangnya, sebelum Sena menyelesaikan perkataannya... Dia sudah terlebih dahulu diseret Suzuna. Sama sekali tidak tahu arah, Sena membiarkan saja dirinya di bawa kemana pun oleh Suzuna. Mereka sudah berjalan cukup jauh dari hotel, melewati kawasan pertokoan dekat sana. Petunjuk baru bagi Sena : mereka tidak akan berbelanja di toko-toko.

"Suzuna, kita sebenarnya mau pergi kemana?, tanya Sena akhirnya, merasa penasaran.

"Ke kuil, Sena. Kata Kimiko-chan ada sebuah kuil yang tidak terlalu jauh dari hotel kita. Namanya Kuil Hirota. Katanya cukup ramai, loh!", jawab Suzuna memacu sepatu rodanya dengan riang.

"Ke kuil, Suzuna?", tanya Sena lagi. Setidaknya bukan toko pakaian, tambahnya dalam hati.

"Yap. Ke kuil. Ini kan, musim panas. Sudah sewajarnya kita pergi ke kuil. Lagipula, jarang-jarang You-nii memberi waktu bebas", kata Suzuna.

"Yah, kau benar juga sih...", balas Sena.

"Eh, coba lihat Sena! Itu dia kuilnya!", kata Suzuna menunjuk sebuah bangunan menyerupai kuil beratap biru tua.

Keduanya terpesona mengagumi kemegahan kuil tersebut. Memang kuil itu terbilang cukup tua, tetapi masih terasa kemegahannya. Dan menilai dari kerumunan orang yang sudah lebih dari dulu tiba di sana, tampaknya kuil ini memang cukup terkenal.

"Ayo, Sena! Kita ikut mengantri di sana!", ajak Suzuna menunjuk ke barisan antrean orang-orang yang mau berdoa. Sena mengangguk.

Selagi menunggu antrean, Suzuna kembali melanjutkan celotehannya yang sayangnya, tidak terlalu didengarkan oleh Sena. Bukan berarti Sena tidak memperhatikan Suzuna, hanya saja perhatian Sena lebih fokus ke arah lain. Seperti saat Suzuna selalu menggerakkan tangannya jika sedang seru membicarakan sesuatu, seperti sekarang ini. Juga bagaimana bahunya menegak. Mungkin juga setiap kali matanya berbinar-binar. Dan badannya yang tak benar-benar bisa diam. Apakah menggoyangkan kaki, menggerakkan tangan, memainkan rambut... Pokoknya Suzuna tak pernah bisa benar-benar berdiri diam tidak melakukan apa-apa. Satu-satunya sisi, yang menurut Sena, adalah merupakan kemiripan antara dirinya dengan kakaknya, Natsuhiko.

Pertanyaan terbesar yang kemudian muncul di benak Sena adalah, mengapa dirinya bisa tahu semua itu? Seketika, Sena langsung mengetahui jawabannya sendiri. Karena dia, baik disengaja atau tidak, selalu memperhatikan Suzuna. Mungkin sejak Suzuna menjadi ketua cheerleader Deimon. Atau mungkin sejak pertama kali mereka berjumpa? Yang jelas, gadis ceria nan hiperaktif di hadapannya saat ini sudah menjadi seperti orang yang tak terpisahkan dari hidupnya. Bahkan meskipun saat dirinya pergi ke Amerika, mereka masih bisa saling menyempatkan diri berkirim email. Yah, memang kebanyakkan email-nya berisi tak jauh-jauh dari American Football. Tapi dari sekian e-mail tersebut pasti akan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan kecil seperti "Bagaimana harimu?", "Sudah makan belum?", "Tidurmu cukup?" dan ucapan-ucapan sederhana seperti "Selamat pagi!", "Selamat tidur!", dan masih banyak lagi lainnya. Meskipun begitu, membaca dan membalas email-email tersebut sudah seperti kegiatan rutin Sena. Kegiatan rutin yang (ehem) menjadi favoritnya sekaligus penyemangat harinya. Tentu saja Sena tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Termasuk Mamori. Bahkan email Mamori tidak terasa spesial seperti email Suzuna. Alasan yang masih dicari tahu oleh Sena.

"...na! Sena!", panggil Suzuna, menggoyang-goyangkan tubuh Sena. Mata Suzuna penuh dengan rasa khawatir.

"Huh?", guman Sena tidak jelas, masih berjuang untuk menjernihkan pikirannya lagi dan mengabaikan apapun isi pikirannya yang lain. Terutama tentang gadis berambut biru tertentu.

"Sekarang sudah giliran kita berdoa. Apa kau yakin kau baik-baik saja, Sena? Daritadi kau tidak menjawabku saat kupanggil berkali-kali", tanya Suzuna cemas.

"A-Aku tidak apa-apa, Suzuna. Mungkin hanya kelelahan sehabis latihan saja", jawab Sena, diam-diam merasa bersalah karena berbohong. Sena sama sekali tidak merasa kelelahan sekarang. Tapi, akan menjadi lebih aneh lagi jika Sena menjawab, "Eto, Suzuna. Alasan aku tidak menjawabmu karena aku sedang sibuk memikirkanmu". Sanggat canggung.

Kedua alis Suzuna bertaut. Ekspresinya masih khawatir.

"Kalau kau yakin tidak apa-apa, ya sudah. Tapi kalau kau ingin segera istirahat, langsung beritahu aku", kata Suzuna dengan nada perintah yang tak bisa ditolak.

"Tenang saja, Suzuna. Aku baik-baik saja, kok. Lebih baik sekarang kita berdoa saja", ajak Sena sekaligus menenangkan Suzuna. Suzuna mengangguk kecil. Keduanya pun maju dan mulai berdoa. Sena memejamkan matanya.

"Permohonanku tahun ini adalah aku mau aku menjadi pemain football yang semakin baik. Semoga juga, tim Enma berhasil masuk ke Rice Bowl. Lalu, kehidupan kuliah yang lancar-lancar saja. Dan... Apalagi, ya?", pikir Sena.

Sena membuka matanya sebentar. Suzuna masih tampak khusyuk berdoa. Melihat Suzuna membuat Sena terbayang-bayang lagi berbagai kejadian yang dialami bersamanya. Kejadian-kejadian yang penuh dengan canda, tawa, haru, dan kegiatan mata-mata yang terlalu tidak bisa diprediksi. Dia menikmati itu. Semuanya. Hingga ke tiap-tiap detilnya. Dan Sena masih tetap ingin merasakannya. Kehidupan tanpa Suzuna rasanya terlalu aneh. Tunggu. Apakah mungkin dia benar-benar suka padanya? Kepada Suzuna Taki? "Ya, kurasa aku benar-benar menyukainya", pikir Sena. "Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?", pikirnya lagi.

"Dan... semoga aku selalu bisa bersama Suzuna", ucap Sena mengakhiri doanya.

Setelah itu, yang Sena harapkan adalah mencari sesuatu untuk mengganjal perut (dia memang tidak kelelahan, tapi perutnya sudah kelaparan minta makanan) bersama Suzuna dan mungkin jalan-jalan sebentar. Dia memang berhasil mendapat makanannya, di mini market tak jauh dari kuil dan mereka berdua bersama-sama makan dengan tenang. Yang tidak disangkanya adalah kehadiran dua pasang orang yang membuat "radar" Suzuna langsung naik dan seketika membuatnya menjadi agen mata-mata dadakan. Penyebab utama napasnya habis sekarang. Habis karena digunakan Sena untuk menghentikan Suzuna melakukan sesuatu yang bakal membuatnya menyesal nantinya.


Suzuna sedang bersemangat. Maksudnya lebih bersemangat dari biasanya. Bukan hanya karena adanya dua pasangan target yang saat ini sedang dimata-matainya, tapi juga karena kunjungan singkat ke kuil tadi bersama Sena. Jujur, dia gugup hanya berjalan berduaan dengan Sena. Mereka memang sering berjalan bersama, tetapi biasanya selalu ada orang lain selain mereka. Yah, biasanya sih Monta. Tapi khusus kali ini Suzuna hanya mau pergi berduaan dengan Sena. Sumber penyebab utamanya adalah percakapannya dengan Kimiko kemarin ini. Otaknya memutar kembali percakapan itu.

"Kimiko-chan!", panggil Suzuna.

"Kenapa, Suzuna-chan?", tanya Kimiko, mengalihkan perhatiannya dari papan clipboard di tangannya.

"Aku bosan. Tahu nggak tempat wisata apa yang tidak terlalu jauh dari sini?", tanya Suzuna.

"Tempat wisata? Yang kutahu dekat hotel sini hanya ada kawasan pertokoan", jawab Kimiko. Mata Suzuna meredup.

"Kalau toko-toko dekat sini sudah kukunjungi semua kemarin. Tak ada barang yang bagus-bagus. Kebanyakkan yang dijual malah souvenir baseball", kata Suzuna. Kimiko menyengir.

"Yah, ini kan kota Nishinomiya, kota tempat adanya Stadium Koshien. Justru hal yang seperti itu sudah wajar tahu", kata Kimiko. Suzuna malah semakin cemberut.

"Hmm... Kalau aku tak salah ingat, Nishinomiya adalah setting tempat salah satu anime terkenal. Tapi tempatnya lumayan jauh dari sini... Ah! Bagaimana kalau ke kuil?", tanya Kimiko.

"Ke kuil?", tanya Suzuna yang kembali bersemangat lagi.

"Ya, ke kuil. Tidak jauh dari sini ada sebuah kuil, namanya Kuil Hirota. Itu kuil yang cukup besar, loh! Banyak orang juga yang datang ke sana. Bahkan kuil itu juga yang merupakan asal nama kota ini", jelas Kimiko.

"Wah! Benarkah itu?", seru Suzuna gembira.

"Aku masih belum selesai, Suzuna. Kau pasti akan menyukai ini. Bukan hanya itu saja yang menyebabkan kuil itu ramai" Kimiko tampak menyeringai sebelum menambahkan, "Ada sebuah rumor yang mengatakan kalau kau ke sana bersama dengan orang yang kau sukai, dan berdoa bersama di sana, maka tak lama kemudian orang itu akan menjadi pacarmu sebelum musim panas berakhir!" Mata Suzuna langsung berbinar-binar mendengarnya.

Dan kira-kira itulah penyebab semangat berkelebihannya itu. Juga penyebab mengapa Suzuna tidak mau mengajak Monta. Suzuna menyukai Sena, dan dia tahu betul itu. Masalahnya adalah, Sena terlalu polos (?) untuk menyadarinya. Salah satu alasan juga mengapa Suzuna sangat antusias mengajak Sena pergi ke kuil. Paling tidak, walaupun rumor itu mungkin tidak benar, setidaknya Suzuna dapat berjalan bersama Sena hanya berduaan saja. Buktinya mereka bisa makan siang bersama, bukan? Dan seharusnya sisa hari ini berjalan dengan damai kalau saja Suzuna tidak melihat siapa lagi yang pergi ke kuil selain dirinya dan Sena. Yamato dan Karin. Sena yang baru saja ingin pergi membuang bungkusan makanan langsung ditarik kembali oleh Suzuna.

"Kenapa, Suzuna?", tanya Sena bingung.

"Ssst!", seru Suzuna mengangkat jari telunjuk ke arah mulutnya, lalu tangannya menunjuk ke arah kerumunan orang dekat kuil.

"Itu kan, Yamato dan Karin!", seru Sena yang langsung membuat Suzuna membekap mulut Sena.

"Makanya itu! Diam!", perintah Suzuna. Sena yang masih dibekap mulutnya hanya mengangguk-angguk menurut.

"Tapi, tumben sekali Yamato pergi ke kuil", komentar Sena pelan.

"Jangan-jangan Yamato juga mengetahui tentang rumor itu...", gumam Suzuna.

"Rumor apa, Suzuna?", tanya Sena mendengar gumaman Suzuna.

"Tidak ada apa-apa, tidak ada", jawab Suzuna cepat-cepat, mengarahkan kembali perhatiannya ke arah Yamato dan Karin. Lalu tiba-tiba saja, Yamato menggandeng tangan Karin. Karin tersipu malu, tetapi tidak menarik kembali tangannya.

"Kyaa!", seru Suzuna, "Manisnya! Tampaknya ada pasangan baru lagi!" Sementara mulut boleh berbicara, tangannya tetap bergerak memotret kiri dan kanan dengan kamera entah dapat dari mana. Sena ber-sweatdropped melihat kelakuan Suzuna. Mereka mengikuti pasangan itu sampai ke sebuah kedai kecil. Dan, seakan-akan kehadiran Yamato dan Karin masih belum cukup, ada pasangan baru lagi yang ada di kedai itu selain mereka. Hiruma dan Mamori.

Darah Sena seperti membeku. Rasanya mendadak semuanya jadi lebih rumit dan berbahaya dari sebelumnya. Dan kali ini, giliran Sena yang harus menahan Suzuna untuk tidak meloncat kegirangan.


"Kahahaha! Kau makannya rakus sekali!", ejek Hiruma kepada gadis berambut auburn di hadapannya.

"Diam, Hiruma!", seru Mamori setelah menelan kue sus yang memenuhi mulutnya.

"Justru bukannya kau yang harus berterima kasih padaku karena telah mengajakmu kesini?", seringai Hiruma. Mamori memerah setelah mendengar perkataan Hiruma.

Saat ini Hiruma dan Mamori sedang duduk berduaan di kedai. Di meja mereka (selain sepiring besar penuh dengan kue sus) bertebaran berbagai kertas-kertas. Tapi, bukannya mendiskusikan rencana latihan berikutnya seperti pada awal rencana, Mamori malah berakhir memesan kue sus dengan jumlah ekstra banyak. Hiruma mendengus.

"Tidak hanya si Adik Sialan tapi juga si Manajer Sialan. Kalau keduanya sudah bertemu kue, mereka berdua langsung kalap", pikir Hiruma.

"Kau sadar betul seharusnya kita di sini membicarakan tim, kan? Bukannya makan kue sus?", tanya Hiruma keras-keras.

"Tenang saja. Setelah ini aku akan bekerja dua kali lipat", kata Mamori bersemangat, tidak sadar mulutnya berlepotan dengan krim.

"Hahahaha! Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri!", tawa Hiruma.

"Memangnya ada apa dengan wajah─" Setelah menyadari apa yang ada di wajahnya dengan pantulan cermin vas di meja, Mamori langsung kelabakkan mencari lap.

"Nih, pakai saja yang ini", kata Hiruma, menyodorkan selembar tissue ke arah Mamori. Meskipun sempat terkejut sebentar, Mamori segera mengambil tissue itu dan membersihkan mulutnya.

"Arigatou, Hiruma", kata Mamori pelan.

Keduanya kembali terdiam. Hiruma tetap sibuk memainkan laptop dengan sebuah permen karet di mulutnya. Mamori menggunakan waktu itu untuk berpikir. Berpikir tentang keanehan Hiruma beberapa hari-hari terakhir ini. Tepatnya, saat training camp dimulai. Mungkin bagi kebanyakkan orang, sikap Hiruma sama sekali tidak ada perubahan. Tetap saja seperti setan biasanya. Hiruma memang tetap seperti setan, tapi Mamori menyadari belakangan ini Hiruma lebih... Tenang? Tidak. Santai. Hiruma yang biasanya suka memaksakan diri menjadi lebih santai akhir-akhir ini. Dan bahkan lebih banyak tertawa dari sebelumnya. Bisa disimpulkan, mood-nya mendadak lebih cerah daripada sebelum-sebelumnya. Bukti terbesarnya adalah istirahat yang diberikannya sukarela hari ini. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena kehadiran Kimiko, adiknya. Setidaknya itu menurut kesimpulan yang ditarik Mamori. Keduanya memang tidak bertingkah laku layaknya kakak-adik normal (lagipula, kakak macam apa yang memanggil adik sendiri Adik Sialan?), tapi Hiruma tetap tidak sedingin yang orang kira. Diam-diam Hiruma sendiri sebenarnya cukup senang dengan adanya Kimiko. Mamori tersenyum tipis.

"Manajer Sialan, kenapa kau malah senyum sendiri? Memikirkan kue sus tersayangmu?", tanya Hiruma dengan nada mengejek seperti biasanya.

"Enak saja!", protes Mamori tidak terima. Hening lagi.

"Hmm... aku penasaran", kata Mamori akhirnya.

"Tentang?", tanya Hiruma menaikkan kedua alis matanya. Mulutnya kembali membuat balon kecil dari permen karet.

"Tentang Kimiko-chan. Kau tidak pernah bilang kau punya adik. Perempuan, lagi. Padahal, Agon saja sudah tahu", kata Mamori. Tepat saat Mamori berkata "Agon" balon di mulut Hiruma meletus.

"Aku tidak pernah memberitahu si Dread Sialan itu. Dia saja yang mencari tahu sendiri. Aku bahkan tidak ingin Agon mengetahui tentang adikku sama sekali", balas Hiruma. Terdengar jelas nada marah di sana.

"Maaf, Hiruma. Aku tidak bermaksud─" Permintaan maaf Mamori langsung dipotong oleh Hiruma.

"Tidak perlu. Bukan salahmu juga", potong Hiruma dingin.

Hiruma menghela napas panjang, kemudian menutup laptopnya. Mamori memandangnya penuh tanya.

"Tadi kau bertanya tentang si Adik Sialan, bukan?", kata Hiruma menjawab pandangan Mamori. Mamori langsung membetulkan posisi duduknya, menyiapkan diri untuk mendengar cerita Hiruma.

"Ayahku adalah seorang pemain shogi. Tetapi, karena terlalu sering kalah akhirnya dia memutuskan untuk berhenti", kata Hiruma datar. Mamori mengangguk kecil. Dia sudah tahu cerita yang itu dari Kurita.

"Ibuku sudah tidak tahan lagi. Jadi... Mereka memutuskan untuk bercerai", kata Hiruma lanjut.

Mamori menahan napasnya. Dibesarkan oleh keluarga yang penuh kasih sayang, istilah kata "cerai" terasa sangat asing baginya.

"Mereka resmi bercerai saat umurku 15 tahun", lanjut Hiruma, benar-benar mengabaikan pandangan iba Mamori, "Ayahku mendapat hak asuhku dan ibuku mendapat hak asuh Kimiko. Tak lama kemudian, ibuku pindah ke Amerika, ikut membawa serta Kimiko. Dan setelah itu, aku sudah tidak pernah bertemu langsung dengannya lagi. Baru saat dia memilih untuk berkuliah di Jepang aku bertemu dengannya lagi"

Mamori memandangnya dengan tatapan... Kasihan. Tatapan yang paling dibenci oleh Hiruma. Dia tidak perlu dikasihani. Inilah alasan utama mengapa dia tidak pernah menceritakan keluarganya. Bahkan kalau dipikir-pikir, Mamori adalah satu-satunya orang di keluarganya yang tahu tentang itu. Dia bahkan tidak pernah memberitahu Kurita atau Musashi tentang anggota keluarganya yang lain. Dan untungnya, mereka juga tidak pernah bertanya-tanya.

"Sebenarnya sih, masih ada kelanjutan dari cerita itu. Tapi kurasa cerita ini saja sudah cukup untuk saat ini. Lagipula, aku tidak berbohong ini. Aku hanya memilih untuk tidak menceritakan semuanya. Si Manajer Sialan tidak perlu mengetahui detil-detil lainnya", batin Hiruma.

Memandang pantulan dari gelas di tangannya, matanya tiba-tiba menyadari sosok yang sudah familiar dekat mereka. Berdasarkan warna rambut dan tinggi mereka, dapat dengan mudah disimpulkan sosok itu adalah Sena dan Suzuna. Hiruma menggerakkan sedikit kepalanya, setengah memicingkan matanya. Dari apa yang dilihatnya, ada sebuah kamera dan teropong di tangan Suzuna.

"Pasti si Cheer Sialan itu mulai lagi memata-matai orang. Tapi siapa targetnya?", pikir Hiruma.

Matanya jatuh pada kedua orang yang menjadi fokus pandangan Sena dan Suzuna. Yamato dan Karin. Menarik. Seringai setan Hiruma kembali muncul.

"Kau kenapa Hi-" Pertanyaan Mamori dibalas oleh isyarat diam Hiruma. Lalu, Hiruma memberi isyarat kepada Mamori untuk mengikutinya. Keduanya pun bangkit dari tempatnya, dan Mamori sama sekali tidak mempunyai petunjuk apa pun rencana Hiruma.


"Mereka betul-betul pasangan yang serasi sekali", kata Suzuna, mengamati Yamato dan Karin yang sedang tertawa melalui teropongnya.

"Sudahlah, Suzuna. Kita pulang saja sekarang. Apalagi sekarang sudah mau sore", bujuk Sena.

"Tidak mau. Aku tidak mau pulang sekarang, Sena. Kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini? Dua pasangan sekaligus di tempat yang sama", tolak Suzuna keras kepala.

"Tapi, Suzuna-" Sena tetap mencoba untuk merubah pikiran Suzuna.

"Sekali tidak, tetap saja tidak. Eh, ngomong-ngomong kemana perginya You-nii dan Mamo-nee?", tanya Suzuna setelah menyadari hilangnya salah satu pasangan targetnya. Mereka sibuk mencari-cari kemana perginya pasangan setan dan malaikat itu. Lalu, mereka tiba-tiba saja merasakan bulu kuduk mereka merinding. Seperti pertanda kemunculan setan.

"Sibuk mencari kami berdua?", tanya Hiruma menyeringai lebar. Di belakangnya berdiri Mamori, sedang berkacak pinggang dan memandang mereka dengan tatapan apa-yang-sedang-kalian-lakukan-di-sini.

Sena dan Suzuna berpandangan satu sama lain. Isi pikiran mereka sama. Mereka benar-benar mati.

End of Chapter 9


Author's Note :
Here it come... Chapter 9! Chapter ini dibuat diantara kesibukkan mengurus masa orientasi kuliah dan surprise-surprise ultah *pokerface. Entah mengapa banyak sekali orang-orang yang ulang tahun akhir Juli. Chapter ini basically menceritakan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh yang menghilang di chapter sebelumnya. Jadi buat yang ternyata nungguin chapter kencannya KimiMonji... Sabar ya... Hehehe...

Terus entah mengapa tak peduli dibaca berkali-kali pun aku tetap merasa pairing SenaSuzu disini OOC banget. Jadi, sebelum saya diprotes duluan... Saya minta maaf. Dan bagi yang masih bingung, beda umur Kimiko sama Hiruma itu setahun.

Apalagi, ya? Kayaknya itu saja deh. Dan seperti biasa... REVIEW!

Lady of Gray