Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma ?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...
A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.
Chapter 11 : Beach, please!
"Kenapa nasib kita malah menjadi seperti ini?", tanya Monta, depresi.
"Mau bagaimana lagi, Monta. Ini kan hukuman kita", kata Sena.
"Tapi tetap saja, Sena! Masa kita harus memakai baju maid?!", seru Monta. Tidak jauh dari mereka, Hiruma tertawa terbahak-bahak. Ada sebuah kamera di tangannya.
"Ancaman baru... Ancaman baru...", begitu pikirnya dengan penuh seringaian setan.
Sebelum melanjutkan lebih jauh, mari kita kembali pada awal sekali hari ini. Saat hari masih pagi dan mereka semua berada di hotel.
"Pemberitahuan singkat! Hari ini latihan kita akan diadakan di pantai! Latihan kita hari ini adalah beach football. Dan khusus hari ini anggota timnya bebas! YA-HA!", kata Hiruma.
"Jadi... Kita hari ini bakalan pergi ke pantai, ya?", tanya Sena.
"Hn. Kurasa begitu", kata Monta.
"Oh, aku lupa menambahkan. Kita berangkat 15 menit lagi", tambah Hiruma sebelum pergi.
"Apaaa?!", seru semua orang.
Mereka semua langsung panik menuju kamar masing-masing, mempersiapkan berbagai bawaan yang akan mereka bawa ke pantai. Entah bagaimana caranya, mereka berhasil untuk pergi setengah jam kemudian. Karena jumlah mereka yang cukup banyak, mereka menggunakan bus. Dan akhirnya...
"Yosh! Pantai!", seru semua peserta training camp.
Mizumachi, yang sudah membuka bajunya sejak di bus, langsung berlari menuju laut. Tak lama kemudian langsung disusul oleh Kotaro, setelah sebelumnya menyisir rambutnya dengan sisir entah dari mana.
"Sebaiknya kita sekarang mengganti baju", usul Suzuna yang dibalas anggukan kecil oleh para gadis lainnya. Mereka semua beranjak pergi ke ruang ganti.
"Geez... Sekarang apa yang harus kita lakukan? Beach football baru dimulai siang nanti", tanya Jumonji.
"Bagaimana kalau kita memecahkan semangka dengan mata tertutup?", usul Monta.
"Kita bahkan tidak mempunyai semangka, Monta", kata Sena.
"Aku bawa semangka, kok", kata Kurita dengan semangka besar di tangannya.
"Bahkan dalam waktu sesingkat itu dia masih bisa sempat-sempatnya membawa semangka?", pikir yang lain sambil ber-sweatdropped ria.
"Tapi, ngomong-ngomong Sena...", kata Riku.
"Ya?", balas Sena yang sedang meminum soda.
"Bagaimana hubunganmu dengan Suzuna?", tanya Riku. Sena langsung tersedak minumannya.
"A-Apa maksudmu, Riku? Su-Suzuna dan aku ha-hanya sekedar teman saja, kok", kata Sena gugup.
"Teman biasa tidak akan mengajakmu pergi ke kuil hanya berduaan, Sena", kata Riku. Wajah Sena langsung merah.
"Kenapa Riku bisa tahu hal itu?", pikir Sena dalam hati. Melihat reaksi Sena, Jumonji langsung tertawa terbahak-bahak.
"Tenang saja, Sena! Aku akan selalu mendukungmu!", seru Monta mengacungkan jempolnya.
"Tampaknya sekarang Sena sudah besar, ya. Sudah bisa cari cewek", goda Jumonji.
"Bu-Bukan begitu", protes Sena.
"Tapi kalau aku sih tidak mau dibilang seperti itu oleh orang yang sendirinya juga jalan berdua dengan cewek, Sena", kata Riku melirik Jumonji.
"Eh? Apa maksudmu, Riku?", tanya Monta. Jumonji dengan cukup panik memberikan isyarat "Jangan" kepada Riku. Riku hanya menyeringai saja, yang membuat Jumonji semakin panik.
"Jumonji kan juga jalan berdua dengan Kimiko", kata Riku santai.
"Matilah aku...", pikir Jumonji. Apalagi setelah semua pasang mata di sana tertuju kepadanya.
"Nani?! Bahkan tanpa kita ketahui manajer tim kita sudah direbut tim lain?!", seru Monta.
"Bu-Bukan begitu. Itu hanya sekedar acara..." Ucapan Jumonji semakin menghilang ketika dia teringat adengan kecil dirinya dengan Kimiko.
"Dengan kata lain kau mengajakku kencan, kan?", kata Kimiko menyeringai.
"Eeh?", seru Jumonji terkejut. "Itu..." Rona merah muncul di pipi pemuda itu.
"Kau tidak mengajak orang lain lagi bukan? Hanya ada kau dan aku?", tanya Kimiko lagi.
"Yah... Begitulah", jawab Jumonji gugup. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya.
"Kalau itu bukan namanya kencan, memangnya apa lagi coba?", goda Kimiko.
Adengan itu terus berputar-putar di kepala Jumonji. Terutama di setiap bagian yang ada kata "kencan". Keringat mulai menetes di dahinya.
"Itu. Acara. Kencaaan! Bagaimana ini?! Mana mungkin aku bilang itu acara kencan!", pikir Jumonji.
"Hanya acara apa?", tanya Riku, memecahkan lamunan Jumonji.
"Itu hanya acara... Hanya acara..." Beruntung bagi Jumonji, dia tidak perlu menyelesaikan perkataannya karena kedatangan Suzuna.
"Sumimasen!", kata Suzuna menghampiri mereka. Tak lama kemudian, Kimiko datang menyusul Suzuna.
"Yosh! Karena sekarang yang lain sudah datang, mari kita mulai saja permainannya!", kata Monta.
"Permainan apa? Beach football kan baru dimulai siang", tanya Kimiko bingung.
"Permainan memecahkan semangka dengan mata tertutup!", seru Monta dengan pose "L"-nya.
Setelah peserta lain mencoba tapi gagal, sekarang giliran Sena bermain. Berdirilah Sena dengan keadaan kedua matanya ditutup. Tangannya memegang kayu, yang siap diayunkan kapan saja jika berhasil menemukan semangka.
"Kiri, kiri, kiri! Kanan sedikit, Sena! Maju!", seru Monta memberikan petunjuk. Sena berjalan mengikuti petunjuk Monta. Bukannya memukul semangka, dia malah nyaris memukul Riku yang kalau bukan karena kecepatannya pasti bakalan terkena pukulan Sena. Monta tertawa terbahak-bahak.
"Sena gagal! Siapa berikutnya?", tanya Monta.
"Aku! Aku mau mencobanya, Monta", kata Kurita yang berjalan menghampiri mereka. Meskipun sempat ragu-ragu, akhirnya Monta menutup mata Kurita dan mulai memberikannya petunjuk.
"Ayo maju, Kurita-senpai! Maju, maju... Awas!", seru Monta yang sayangnya terlambat. Kurita tersandung batu dan jatuh berguling-guling. Entah kebetulan macam apa, pada saat yang sama Hiruma yang awalnya hanya duduk-duduk saja memutuskan untuk berjalan-jalan. Dia sama sekali tidak melihat Kurita yang jatuh ke arahnya. Tidak terelakkan lagi, Kurita pun menabrak Hiruma dan dengan sukses melemparnya jatuh ke laut. Oops.
"Dasar, Gendut Sialan! Makanya kalau jalan itu pakai mata! Kau pikir enak apa dilempar ke laut!", seru Hiruma jelas-jelas kesal. Seluruh badannya menjadi basah kuyup.
"Maaf, Hiruma. Maaf, maaf, maaf", kata Kurita berkali-kali membungkuk. Hiruma berdecak kesal.
Karena bajunya sudah basah, Hiruma pun memutuskan untuk membuka bajunya, membuatnya bertelanjang dada. Tidak tahu Hiruma sedang sial atau apa, Mamori yang sedang bermain di laut jatuh tersandung, lagi-lagi ke arah Hiruma. Hiruma yang baru saja bangun berdiri mau tak mau jatuh lagi ke laut. Mamori berusaha bangun, hanya untuk mendapati wajah Hiruma tepat di hadapannya. Suasana canggung kentara sekali diantara mereka. Tidak pernah sekalipun posisi mereka sedekat ini. Hiruma bisa melihat jelas wajah Mamori, mulai dari poninya yang mulai menutupi matanya, hidungnya yang kecil, bibir mungilnya dan yang paling terasa adalah mata birunya. Sebaliknya juga dengan Mamori. Dia bisa melihat kilauan mata jade hijau Hiruma begitu jelas. Keduanya saling berpandangan cukup lama. Pipi Hiruma terasa agak panas, sehingga dia memalingkan wajahnya.
"Mau sampai kapan kau mau diam di atasku terus, Manajer Sialan?", kata Hiruma galak, berusaha menutupi kegugupannya. Memangnya setan bisa gugup?
"Go-gomenasai, Hiruma", kata Mamori mendorong dirinya untuk bangun dari Hiruma. Dan secara naluriah, Mamori menyentuh dada Hiruma, membuatnya melihat jelas bagian tubuh itu. Banyak sekali bekas luka di sana. Luka besar, luka kecil... Dan kebanyakkan bekas luka itu sudah lama.
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?", pikir Mamori.
"Hiruma, ini kena-" Hiruma tidak membiarkan Mamori menyelesaikan pertanyaannya.
"Cepat bangun, Manajer Sialan", perintah Hiruma datar. Dia sudah bisa menebak pasti pertanyaan Mamori. Dan Hiruma jelas-jelas tidak mau membicarakannya. Begitu Mamori bangun, Hiruma langsung pergi.
"Tunggu, Hiruma! Ada yang masih ingin ku-" Tiba-tiba saja ada bola yang menuju ke arah Mamori, langsung membuatnya terdiam dan memilih untuk menghindari bola tersebut.
"Maaf, Mamo-nee! Aku tidak sengaja!", seru Kimiko dari pinggir pantai. Dan jeda waktu itu cukup bagi Hiruma untuk segera ke pantai dan menjauh dari Mamori.
Jumonji yang melihat seluruh adengan itu tak hentinya bertanya-tanya dalam hati. Separah-parahnya orang, terkecuali Monta, tidak mungkin melempar bola sampai sebegitu tak terarahnya. Apalagi orang yang bermain bola bersama Kimiko, Suzuna, berada cukup jauh dari laut. Dan berdasarkan latihan tangkap bola mereka kemarin-kemarin, jelas-jelas Kimiko bukan termasuk pelempar yang buruk.
"Apakah mungkin semua itu disengaja olehnya?", tanya Jumonji dalam hati.
"Eh... Bagaimana kalau semangkanya kita potong saja? Jadinya tidak akan terlalu banyak semangka yang terbuang. Lalu setelah makan, kita main beach football", kata Suzuna berusaha memecahkan kecanggungan yang ada.
"Ah! Benar sekali! Rasanya tadi Kurita-senpai membawa pisau besar...", kata Sena yang mau pergi mengambil pisau.
"Kurasa hal itu tidak perlu", kata Hiruma mengambil semangka itu, "Tadi kau bilang beach football kan, Cheer Sialan? Bagaimana kalau semangka ini dijadikan hadiah pemenangnya?"
Wajah orang-orang di sana mendadak menjadi lebih cerah. Bayangkan saja makan semangka dingin di tengah-tengah musim panas. Cukup bisa membuat air liur siapa pun menetes.
"Yah... Asal kalian tidak menyesal saja bermain Beach Football Neraka ini", tambah Hiruma menyeringai lebar. Mereka yang tadinya cerah, mendadak menjadi was-was. Sudah menjadi pengetahuan umum apapun yang bisa membuat Hiruma gembira... Itu bukan sesuatu yang baik.
"Kuulangi lagi peraturannya! Satu tim hanya terdiri dari 5 orang dan pemenangnya mendapatkan semangka ini!", seru Hiruma yang dibalas anggukan kecil para peserta.
Saat ini sudah ada 2 tim, tim Sena dan tim Yamato. Tim Sena terdiri dari Sena, Monta, Jumonji, Suzuna dan Kimiko. Tim Yamato terdiri dari Yamato, Riku, Unsui, Karin, dan Mamori.
"Dan bagi yang kalah harus mengenakan baju maid ini!", tambah Hiruma mengeluarkan baju maid entah dari mana.
"Apa?!", seru semua peserta laki-laki.
"Yah... Setidaknya itu kan baju maid itu memang untuk wanita", kata Mamori.
"Oh ya? Terus kenapa tiba-tiba bisa ada ini ya?", kata Hiruma tiba-tiba mengeluarkan seragam butler.
"Hiee?!", kali ini giliran semua peserta perempuan yang protes.
"Jadi, bagi yang kalah harus mendapatkan hukuman seperti itu! Tidak ada tawar-menawar! Pertandingan... Dimulai!", seru Hiruma menembakkan pistolnya.
Dan seperti yang sudah ada dari awal cerita... Tim Sena kalah. Tidak kalah total, tapi tetap saja kalah. Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa kalah? Sebenarnya pada awal pertandingan, kedudukan kedua tim masih berimbang cukup baik. Malah tim Sena yang memimpin nilai. Tidak ada satu orang pun dari tim Yamato yang menyangka Kimiko bisa melempar bola. Lemparannya bagus pula. Mereka semua berpikir mungkin Sena atau Jumonji yang melempar bola. Di saat-saat seperti itulah bantuan untuk tim Yamato tiba. Bantuan yang datang dalam seseorang bernama Taka. Kaget? Tentu saja. Taka sudah mengacuhkan Yamato kira-kira seminggu dan tiba-tiba saja dia datang ingin membantu timnya? Benar-benar sukses membuat Yamato terperanjat.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya melakukan ini agar Karin tidak terkena hukuman Hiruma", bisik Taka waktu itu ke telinga Yamato. Yamato tersenyum kecil. Taka boleh saja beralasan seperti itu, tapi Yamato sudah cukup lama mengenal Taka untuk memahami maksud tersembunyi dari tindakannya. Taka ingin berdamai dengan Yamato.
Taka pun masuk ke tim menggantikan Mamori, membuat lemparan super tinggi Karin menjadi lebih efektif. Tapi tentu saja bukan hanya karena itu tim Sena kalah. Tidak semudah itu. Beberapa menit kemudian setelah Taka masuk terjadi sebuah hal yang tidak diduga.
"Aku ingin masuk ke tim Yamato", kata Agon kepada Hiruma. Hiruma menatapnya tajam.
"Tim Yamato sudah penuh. Mereka tidak memerlukan pemain lagi", balas Hiruma datar.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan yang ini?", tanya Agon. Tangannya melempar sebuah bola cadangan ke arah Karin, nyaris mengenainya, tapi karena berusaha menghindari bola tersebut dia pun terjatuh.
"Auw!" jerit Karin, memegang kakinya.
"Sekarang tim Yamato kekurangan orang, bukan?", tanya Agon menyeringai licik.
Semua mata tertuju pada Yamato, mengingat sebagai kapten, dialah yang memutuskan apakah Agon masuk atau tidak. Dia melihat ke arah Taka yang menggertakkan giginya keras-keras. Yamato sendiri sebenarnya tidak kalah marahnya dengan Taka. Dia sudah dengan semena-menanya melukai Karin hanya agar dia bisa masuk ke tim!? Sudah sepantasnya darahnya mendidih,
"Daijobu, Yamato-kun! Taka-kun! Aku baik-baik saja, kok. Cuman terkilir sedikit saja. Tidak perlu khawatir", kata Karin, berusaha menenangkan mereka berdua, meskipun raut sakit masih terlihat cukup jelas di wajahnya.
Yamato berpikir keras. Dia sama sekali tidak mau memasukkan Agon ke dalam timnya, tentu saja tidak. Tapi keadaan Karin sekarang tidak memungkinkan dirinya untuk terus bermain. Apalagi ditambah tak ada orang lain lagi yang bisa menggantikan Karin. Yamato meringis dalam hati. Semoga aku tidak menyesali keputusan ini, pintanya dalam hati.
"Baiklah. Kau masuk ke timku", kata Yamato, pasrah karena sudah tak ada pilihan lain. Taka memberi Yamato pandang apa-yang-baru-saja-kau-lakukan. Yamato hanya bisa membalasnya dengan pandangan aku-tidak-punya-pilihan-lain.
"Pertandingan dilanjutkan kembali!", seru Hiruma, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Agon menyeringai ke arah Hiruma yang diabaikan begitu saja olehnya. Kimiko dan Jumonji saling berpandangan. Mereka berdua tidak bodoh untuk mengetahui motivasi sesungguhnya Agon memaksa untuk masuk ke tim Yamato.
"Hati-hati", kata Hiruma tanpa suara ke arah mereka. Kimiko mengangguk kecil.
Betul saja dugaan mereka, begitu pertandingan dimulai Agon langsung men-tackle Jumonji. Alasannya, karena Jumonji adalah pemegang bola. Tapi seiring dengan berlangsungnya pertandingan, tak peduli siapapun pemegang bola tetap saja sasaran Agon itu Jumonji. Dan Kimiko. Ralat. Kimiko hanya hampir menjadi korban tackle Agon. Tepat sebelum Agon men-tackle Kimiko, dia sudah keburu di-tackle dahulu oleh Jumonji. Benar-benar nyaris. Tapi yang jelas, kehadiran Agon di tim Yamato berhasil membuat tim Sena kesulitan mengejar. Belum ditambah sukses pula membuat Jumonji memar di sekujur tubuhnya. Maka, dengan berakhirnya pertandingan, tim Sena pun dinyatakan kalah.
Anggota Tim Sena, terutama yang pria, sudah mengendap-endap diam meninggalkan pantai. Sialnya bagi mereka, rencana mereka pun gagal total karena kehadiran Cerberus menghalangi jalan mereka. Atas perintah siapa? Tentu saja Hiruma.
"Kekeke! Kalian tidak berpikir untuk kabur dari hukuman, bukan?" tanya Hiruma.
"Ti-tidak. Tentu saja tidak" jawab Sena yang dibalas anggukan oleh sisanya.
"Kalau begitu... Kurasa kalian sudah siap dengan ini" kata Hiruma menyeringai lebar.
Karin dan Mamori sedang sibuk dari tadi. Mereka berdua sibuk untuk mendandani para anggota Tim Sena dalam rangka hukuman mereka. Dan setelah tugas mereka selesai... Mereka malah tidak berhenti tertawa.
Monta terlihat sangat aneh dengan kostum maid itu. Jumonji... Anehnya, kostum itu terlihat cukup pantas dengannya. Tapi Sena terlihat sangat imut sekali dengan kostum maid itu. Dan sekarang ketiga pemuda yang disebutkan itu hanya duduk di pojok ruangan, terluka untuk mungkin seumur hidupnya karena pose-pose foto aneh yang disuruh Hiruma. Sementara untuk kostum butler, karena Suzuna terlalu kecil (much for her dismay), kostum yang disiapkan Hiruma pun tidak ada yang cocok dengannya. Menyebabkan hanya Kimiko saja yang menjalani hukuman kostum butler itu.
"Hahahaha! Kau... Kau terlihat sangat bagus sekali dengan baju itu, Otouto-chan~" goda Hiruma sama sekali tidak ada usaha menahan deru tawanya.
"Onii-chan!" protes Kimiko. Wajahnya benar-benar sangat merah padam.
Tapi harus diakui, kostum butler itu sangat cocok dengan Kimiko. Kostum butler itu sukses menyatu dengan tubuh Kimiko. Rambut panjangnya diikat ke belakang dan sebagian rambutnya yang tidak terikat dilapisi oleh gel rambut, membuatnya agak sedikit jabrik. Untuk singkatnya, penampilan Kimiko saat ini seperti versi Hiruma dengan rambut panjang hitam, kostum butler, dan dengan wajah cantik.
Tugas mereka berikutnya adalah melayani semua anggota tim Yamato dengan kostum yang saat ini mereka kenakan. Masing-masing anggota tim Yamato berhak untuk memilih satu anggota tim Sena, yang dijadikan pelayan sehari mereka. Suzuna, meskipun tidak memakai kostum butler, juga ikut terkena hukuman ini.
"Ini semangka Anda, Goshujin-sama" kata Suzuna kepada Taka.
"Arigato, Suzuna-chan" balas Taka tersenyum kecil.
Sayang, keadaan tenang mereka terusik karena keributan yang tiba-tiba terjadi.
"Praang!" terdengar bunyi gelas pecah.
"Go-gomenasai!" seru Kimiko kepada "master"-nya saat ini, Agon.
"Kau sengaja melakukan ini, bukan?!" teriak Agon marah, basah karena gelas minuman yang dibawa Kimiko pecah dan mengenai dirinya.
"Tentu saja tidak!" balas Kimiko. "Aku bahkan sama sekali tidak tahu mengapa gelas itu jatuh", tambahnya dalam hati.
"Aku tahu kau pasti sengaja!" seru Agon sewot.
"Aku tidak sengaja!" balas Kimiko tidak kalah sewot.
Tiba-tiba saja, dengan kecepatan impuls dewanya, Agon menyudutkan Kimiko ke pojok ruangan, membuat gadis itu terduduk di lantai.
"Dan karena sudah berbuat kesalahan... Kau pantas dihukum, bukan?" seringai Agon, semakin mendekati Kimiko. Tapi sebelum Agon sempat melakukan apapun, tiba-tiba sebuah bola meluncur cepat ke arahnya. Perhatian Agon pun menjadi seluruhnya tercurah untuk menangkap bola itu. Mata Agon menatap tajam pelempar bola itu.
"You-niichan..." gumam Kimiko, setengah lega, setengah cemas. Lega karena akhirnya Agon melepaskan dirinya dan cemas karena adanya kemungkinan terjadi perang besar-besaran.
Yap. Pelempar bola itu saudara-saudara sekalian, adalah Youichi Hiruma.
"Rambut pirang sialan...!" desis Agon marah.
"Aku tahu kau sengaja menyandungnya, Dread Sialan. Aku yang melihatnya sendiri" kata Hiruma benar-benar marah. Hiruma memang sering marah-marah. Dia suka menembakkan senjatanya ke sembarang arah dan berteriak-teriak. Tapi kemarahannya yang sekarang ini... Tidak ada apa-apanya dibanding semua itu. Diantara semua keributan yang terjadi itu, Jumonji mendekati Kimiko.
"Daijobu desu-ka, Kimiko-chan?" tanya Jumonji, membantu Kimiko berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Sedikit shock, tapi selain itu tidak apa-apa" jawab Kimiko. Jumonji mengangguk kecil dan kembali memperhatikan Hiruma dan Agon.
"Oh yeah? Kalau aku memang melakukannya, apa yang akan kau lakukan? Mengancamku dengan buku kesayanganmu itu? Youichi-kun~?" balas Agon jelas-jelas sengaja memprovokasi Hiruma.
"Kau...!" balas Hiruma kesal. Untungnya sebelum mereka berdua melakukan apapun, Kurita muncul di antara mereka berdua.
"Tomete, Minna-san! Aku... Kita datang kemari bukan untuk bertengkar! Tapi untuk bersenang-senang!" seru Kurita. Hiruma mengatur napasnya, untuk kembali menenangkan dirinya.
"Baru selama ini aku mengenalmu kau mengatakan hal-hal berguna seperti itu. Bukannya 'Mana makanan?!' seperti biasanya" kata Hiruma.
"Hiruma!" protes Kurita. Sementara Agon, tiba-tiba saja berlari meninggalkan mereka semua. Kurita sudah mau mengejarnya, tapi dicegah Hiruma.
"Biarkan saja dia sendirian. Dia butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya" kata Hiruma.
"Aha! Rupanya di sini kalian semuanya! Kami sudah membeli bahan-bahan untuk barbecue, loh!" seru Mizumachi ceria. Di sampingnya berdiri Kotaro, dengan tangan yang penuh dengan berbagai barang bawaan.
"Tiba-tiba menghilang itu sama sekali tidak SMART!" seru Kotaro marah-marah.
Karena semangka sama sekali tidak mengenyangkan perut, maka kegiatan berikutnya adalah...
"Pesta Barbecue dimulai! YA-HA!" seru Hiruma sambil menembakkan bazooka-nya.
"Mou, Hiruma-kun!" protes Mamori, yang diabaikan oleh Hiruma. Meskipun begitu, sebuah senyuman kecil muncul di wajah Mamori.
"Senang melihat kau kembali normal lagi... Youichi" pikir Mamori dalam hatinya.
Hiruk pikuk pesta pun dimulai. Yang paling ramai tentu saja para lineman. Porsi makan abnormal mereka selalu menarik perhatian. Diantara semua hiruk pikuk yang terjadi, sosok Youichi Hiruma tiba-tiba saja menghilang. Tidak ada seorang pun yang menyadarinya, kecuali seseorang. Dan seseorang itu juga ikut meninggalkan pesta, untuk mencari keberadaan Hiruma.
Tak jauh dari pantai, dapat ditemukan sebuah gua. Dan gua itu, jika terus ditelusuri maka ujungnya akan mengantarkan dirimu ke sebuah tebing. Tebing yang cukup tinggi untuk melihat pemandangan seluruh pantai.
Di situlah saat ini Hiruma berada.
Hiruma sedang duduk di pinggir tebing. Mulutnya sibuk mengunyah bubble gum. Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Yappari! Sudah kuduga aku akan menemukanmu di sini" kata orang di belakangnya. Hiruma menoleh ke belakang, hanya untuk mendapati Kimiko tersenyum lebar ke arahnya.
"Adik sialan... Sedang apa kau di sini?" tanya Hiruma ketus.
"Ini semua tempat umum, bukan? Semua orang bebas ke sini" balas Kimiko tenang. Hiruma mendengus.
"Ini untukmu" kata Kimiko melemparkan soft drink ke arah Hiruma yang ditangkap dengan mudah oleh Hiruma.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Kimiko mendekati Hiruma.
"Tadi kau sendiri yang bilang ini tempat umum, kan?" tanya Hiruma balik. Kimiko tertawa kecil dan duduk di samping Hiruma.
"Kalau dipikir-pikir sudah cukup lama juga kita tidak ke sini. Terakhir kali kita ke sini, Otousan dan Okaasan... Mereka berdua masih belum bercerai. Banyak sekali yang sudah berubah..." gumam Kimiko. Hiruma hanya terdiam saja mendengar perkataan Kimiko.
"Ah! Oh iya, bagaimana dengan keadaan Otousan sekarang? Sehat?" tanya Kimiko.
"Cih! Mana aku tahu keadaan bapak tua itu! Aku bukan pengasuhnya" gerutu Hiruma. Kimiko menyengir. Jawaban yang sangat khas sekali kakaknya.
"Onii-chan" panggil Kimiko menatap Hiruma. Hiruma balas menatap tatapan Kimiko.
"Terima kasih untuk yang tadi. Aku tidak tahu apa jadinya tadi jika kau tidak ada. Dari dulu kau selalu saja begitu... Bahkan terutama pada waktu itu..." kata Kimiko sungguh-sungguh.
"Apa yang kau bicarakan? Aku hanya merasa si Dread Sialan itu tiba-tiba mengesalkan sekali. Sama sekali tidak ada hubungannya denganmu" balas Hiruma walaupun jelas-jelas matanya mengatakan lain.
"Kau yang terbaik... Onii-chan" kata Kimiko, menyandarkan kepalanya ke bahu Hiruma.
Sebuah senyuman tipis muncul di wajah Hiruma. Senyuman tulus yang sudah lama sekali tak muncul di wajahnya.
End of Chapter 11
Tomete : Diam
Otouto : adik laki-laki
Goshujin-sama : my master
Yappari : I thought so
Author's Note :
I know! I know! It's really too long since my last update right...? Dan jujur saja, aku cukup heran masih ada review yang masuk, meskipun sudah lama sekali tidak ter-update. By the way, hontou ni arigato untuk review-nya! Review kalian membuat saya tidak melupakan fanfic ini! Di chapter ini, aku benar-benar membuat Agon menjadi totally jerk! Dan lagi-lagi, pairing yang paling dominan muncul di sini adalah HiruMamo dan KimiMonji. Juga ada sedikit hubungan adik-kakak Hiruma dan Kimiko :3
So, how is it? Review!
Hohoho,
Lady of Gray
