So this is the Last Story of...

.

Title : Love You Love Me

Pairing : KyuMin

Other Cast :

- Cho Kwangmin

- Cho Youngmin

- Cho Hyunmin

- Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

- Lee Donghae

- Judy Fukumoto

- etc

Warning : M-Preg. OOC, bahasa tidak sesuai EYD, Gaje, TYPOSSSS, , penggunaan kata-kata kasar, KEBACOTAN author di beberapa bagian. Ga terima bash atau flame.

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ, DON'T REVIEW, AND DON'T COMPLAIN PLEASE.

.

.

Happy Reading..^^..

.

.

.

.

.

"ANDWAE!"

"Tapi Min-ah.."

"ANDWAE! Shireo! Tidak ada yang boleh keluar rumah hari ini!" Bentak Sungmin bernada mutlak.

Kwangmin dan Youngmin hanya menghela napas melihat tingkah kumat Eomma mereka.

"Min.. Ayolah, aku harus ke kantor." Kyuhyun masih setia membujuk Sungmin. Salah satu tangannya menggendong Hyunmin, menyandarkan telinga Hyunmin di dadanya, sedangkan tangan yang lain menutup telinga Hyunmin yang satunya.

"Shireo!" Sungmin makin mengeratkan pelukkannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya terus menerus menghela napas kala Sungmin mengeratkan pelukannya dari belakang.

"Eomma~" rajuk Kwangmin.

"Kami mau sekolah~" Youngmin menarik-narik baju Sungmin.

"Tidak ada yang boleh keluar rumah dan kalian masuk ke kamar sekarang!" titah Sungmin pada kedua anaknya.

Youngmin dan Kwangmin langsung melarikan diri ke kamar setelah mendapat teriakan dari Eomma mereka.

'JLEGEEER!'

"AAAAAAAA!"

.

.

Musim Hujan sedang berlangsung di Seoul beberapa minggu terakhir. Pada bulan ini Kyuhyun jarang sekali masuk kantor bahkan Youngmin dan Kwangmin sering kali izin masuk sekolah. Dan ini semua mutlak perintah dari sang nyonya rumah.

Masalah pekerjaan Kyuhyun, sebenarnya gara-gara hal ini, seluruh pekerjaannya menjadi terus menumpuk. Meminta Donghae membantunya pun rasanya pasti tak kan cukup, karena pengalaman Donghae di bidang perkantoran sebelumnya nyaris nol. Mau tak mau, ia harus meminta perusahaan mencarikan-nya seorang Sekretaris. Dan sepertinya sekretaris, baru bisa ia dapatkan setelah musim ini berlalu. Ya setidaknya pekerjaannya tak harus ia kerjakan seorang diri.

Sedangkan masalah ketertinggalan pelajaran Youngmin dan Kwangmin di sekolah, yaaa, takkan masalah jika ada Kyuhyun di rumah.

.


.

Pagi hari ini di awali dengan hal yang...

biasa-biasa saja. Sungmin terlihat sibuk di dapur pagi ini berhubung ia belum mendengar adanya tanda-tanda hujan akan turun lagi. Kini ia sibuk berkutat dengan spatulanya di dapur, membolak-balik daging asap dan telur mata sapi di atas teflon yang berbeda. Menu sarapan kali ini hanya sandwich dan ditemani segelas susu untuk per orangnya.

Tanpa ia sadari, seseorang tengah mendekat ke arahnya.

"Omo!"

Sungmin hampir menjatuhkan spatulanya saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

"Kwangie, kau sudah bangun?"

Kwangmin yang sekarang menyenderkan pipinya di punggung Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sungmin mematikan kompornya, dan meniriskan telur mata sapi dan daging asap yang telah matang itu. Setelah itu ia balikkan badannya dan menghadap salah satu jagoan kecilnya.

"Kalau masih mengantuk, tidur lagi saja, nanti Eomma bangunkan." ujar Sungmin sambil mengelus-elus rambut hitam Kwangmin.

Kwangmin menggelengkan kepalanya, ia menatap Eomma-nya penuh harap. "Eomma.. Bialkan aku dan Youngmin sekolah ya hali ini? Hali ini kan tidak hujan.. Boleh ya?" pinta Kwangmin.

Sungmin berniat menolaknya, namun melihat tatapan anaknya, tiba-tiba ia menjadi ragu. Ia menoleh ke arah jendela dan melihat cuaca di luar. Agak mendung di luar sana.

"Kwangie-ah.."

"Eommaa.. Kwangie mohon.. Ne? Aku dan Youngmin sudah bebelapa hali tidak masuk sekolah.. Aku tidak mau kami ketinggalan pelajalan. Boleh ya Eomma? Puliiss *re:please." Kwangmin mengatupkan tangannya dan menatap Eomma penuh harap, matanya ia buat berkaca-kaca demi mendramatisir keadaannya. Bocah lebay.

Sungmin menghela napas begitu berat.

"Araseo.. Geurae.. Kalian boleh sekolah.." ucap Sungmin, setengah ikhlas.

Kwangmin menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Gomawo Eomma!" Kwangmin mengecup pipi Sungmin sebelum akhirnya ia kembali ke kamarnya.

"Youngmin! Kita boleh sekolaaaah!" seru Kwangmin.

Kyuhyun terlihat baru keluar dari kamarnya, ia menatap bingung ke arah Kwangmin yang berlari-lari ke kamarnya sambil berteriak-teriak begitu norak. #tampol

Kyuhyun menghampiri Sungmin yang masih berdiri sambil menundukkan kepalanya di dapur.

"Kau tidak akan memaksaku membiarkanmu pergi bekerja juga bukan?" tanya Sungmin sambil menatap Kyuhyun dengan tatapan ragunya.

Kyuhyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku akan menemanimu di rumah." Perlahan Kyuhyun membawa sang Istri ke dalam rengkuhannya.

"Kyu.. Aku takut.." lirih Sungmin.

"Gwaenchana.. Mereka pasti nanti akan baik-baik saja."

.

.

"Aku ikut!"

Sungmin yang terlihat sedang menggendong Hyunmin memasuki pintu samping kemudi. Kyuhyun menatap Sungmin yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil.

Sungmin menatap Kyuhyun begitu menuntut. Melihat tatapan ganas itu Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya cepat. "P.. Pasang sabuk pengamanmu dulu." Ujar Kyuhyun.

Sungmin memasang sabuk pengaman pada dirinya dan Hyunmin yang ia pangku. Setelah terpasang kini Hyunmin terlihat sibuk memainkan sabuk pengaman yang menutupi sebagian perut dan dadanya.

"Mma~ mma~" Hyunmin menunjuk-nunjuk sabuk pengaman itu pada Sungmin.

"Ini supaya nanti Hyunie tidak jatuh." ujar Sungmin pada Hyunmin.

"Kalian sudah siap kan?" tanya Kyuhyun pada seluruh anggota keluarganya.

"Ne Appa!" seru Youngmin dan Kwangmin dari belakang.

Sungmin menganggukan kepalanya saat Kyuhyun menatap ke arahnya.

Dan mobil pun mulai berjalan menuju ke sekolah Youngmin dan Kwangmin.

.

.

"Cha~ Sudah sampai.."

Kyuhyun memarkirkan sejenak mobilnya di depan gerbang sekolah Kwangmin dan Youngmin.

Youngmin dan Kwangmin melepas seatbelt mereka dan memakai tas sekolah masing-masing.

"Appa Eomma kami sekolah dulu yaa.." ucap Youngmin dan Kwangmin bersamaan.

Youngmin dan Kwangmin bergantian mengecup pipi Kyuhyun. Saat mereka hendak mencium pipi Sungmin, mereka dengan sengaja membatalkannya.

"Wae?" Sungmin menolehkan kepalanya ke belakang begitu tahu anak-anaknya tak mencium pipi-nya seperti apa yang dilakukan mereka pada Kyuhyun.

Chup! Chup!

Mereka bergantian mengecup bibir Sungmin lalu tiba-tiba kabur keluar dari mobil dan masuk ke sekolah.

"Ya! Jangan mencuri kesempatan!" teriak Kyuhyun dari dalam mobil.

Sementara Sungmin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendapati tingkah anak-anaknya.

"Yung~ yung~?" Hyunmin menunjuk-nunjuk jendela mobil, sambil melihat Hyungdeul-nya dan Eommanya bergantian.

"Ne, Hyungdeul pergi sekolah, nanti kalau Hyunie sudah besar, Hyunie juga akan ke sekolah.." ujar Sungmin pada bayinya.

Hyunmin terkekeh, entah ia mengerti apa yang dikatakan Eomma-nya atau tidak, yang jelas ia sekarang tidak bisa diam dalam pangkuan Sungmin.

.

.

Sungmin menatap panik ke arah langit. Langit sudah semakin mendung, dan parahnya saat ini mobil Kyuhyun tiba-tiba mogok.

"Hah~" Kyuhyun menghela napas setelah memeriksa mesin mobilnya.

"Eotthae?" tanya Sungmin.

"Entahlah, sebenarnya aku tidak terlalu mengerti tentang otomotif, tapi aku rasa tak ada masalah pada mesinnya." ujar Kyuhyun.

Sungmin menyerahkan Hyunmin kepada Kyuhyun, bermaksud meminta Kyuhyun menggendong Hyunmin.

"Biar aku yang periksa.."

Sungmin berganti posisi dengan Kyuhyun, kini ia yang memeriksa keadaan mesin mobil.

"Kyu.."

"Ne?"

"Kapan terakhir kali kau mengganti accu-nya?" tanya Sungmin tak mengalihkan pandangannya pada mesin-mesin mobil tersebut.

"Eh? Hm.. Molla.. Aku tak ingat.." jawab Kyuhyun ragu.

Sungmin menghela napas mendengar jawaban Kyuhyun. "Accu-nya harus di ganti." ujar Sungmin.

"Jinjja? Eoh, kalau begitu biar ke telphone service mobil langgananku." Tangan kanan Kyuhyun merogoh saku celana bagian kirinya, sementara tangan kirinya menggendong Hyunmin.

Sungmin mengambil alih Hyunmin dari gendongan Kyuhyun, begitu melihat Kyuhyun begitu kerepotan.

Tik.. Tik.. Tik..

"Omo!"

Sungmin terlihat panik melihat beberapa tetes air turun dari langit. Kyuhyun berlari menuju bagasi dan mengambil dua buah mantel besar, ia menutupi kepala mereka dengan mantel, lalu menarik tangan Sungmin menuju ke bawah halte. Begitu sampai di halte, Kyuhyun langsung mengenakan mantel tersebut, dan yang satu lagi ia gunakan untuk menyelimuti Sungmin dan bayinya, lalu memeluk Sungmin yang masih menggendong Hyunmin, membawa keduanya kedalam kukuhannya.

Dalam rengkuhannya ia bisa merasakan tubuh Sungmin bergetar. Meski Sungmin tak sebrutal biasanya, ia harus tetap memperlakukan Sungmin sebagaimana ia perlakukan pada Sungmin saat Sungmin sedang brutal-brutalnya.

Tak ada petir atau suara gemuruh yang datang, hanya hujan yang semakin deras menghujam kota Seoul. Kyuhyun merapatkan pelukannya pada anak dan istrinya.

"Kyu aku takut.." lirih Sungmin.

Kyuhyun membenarkan letak mantel Sungmin dan kembali mengeratkan pelukannya. "Gwaenchana, ada aku disini."

Hyunmin dalam rengkuhan mereka hanya mendongak dan menatap kedua orang tuanya bingung. Ia tak mengerti apa yang terjadi, yang jelas tiba-tiba ia ingin menangis melihat wajah Eomma-nya yang ketakutan.

"Mmaa~" Hyunmin menatap Sungmin, matanya berkaca-kaca melihat ekspresi Sungmin saat ini.

"Hyunie.. Jangan menangis, Eomma gwaenchana.." ujar Sungmin pada Hyunmin, suaranya begitu serak, ia berusaha mengukir senyum dibibirnya, agar bayinya tak ikut menangis.

Sungmin membawa bayinya bersender di dadanya, membuat bayinya tak lagi dapat melihat wajahnya. "Eomma jeongmal gwaenchana.. Hyunie tidur saja ya.."

Kyuhyun duduk di kursi halte dan membawa Sungmin duduk dipangkuannya, lalu menyenderkan kepala Sungmin di dadanya. "Kau juga tidurlah dulu, tidak akan terjadi apapun.. Aku akan selalu menemanimu, nanti kalau hujannya sudah berhenti, akan aku bangunkan, ne?" ujar Kyuhyun sambil mengelus rambut Sungmin.

Sungmin menganggukan kepalanya. Perlahan memejamkan mata untuk tidur, walau sebenarnya ia tak tertidur.

.

.

Sungmin menggigiti kukunya, sambil menunggu mobil jemputan yang mengantar Youngmin dan Kwangmin. Ia tak bosan menoleh kan kepalanya ke arah jalanan berharap mobil jemputan itu segera datang.

Ya, berhubung mobil Kyuhyun masih di tempat service, jadi tadi Kyuhyun menghubungi pihak sekolah untuk mengantarkan kedua anaknya pulang dengan mobil jemputan sekolah.

Sesekali Sungmin menatap ke arah langit, ia takut tiba-tiba hujan turun, sementara anak-anaknya -mungkin-sekarang ada di dalam mobil jemputan.

Sungmin membulatkan matanya begitu melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Terlihat Youngmin keluar dari mobil tersebut dan di susul oleh Kwangmin.

Sungmin segera menghampiri kedua anaknya.

"Eomma!" Youngmin berlari menuju ke arah Sungmin. Sungmin menyambutnya ke dalam semua gendongan.

Kwangmin yang melihat kembarannya di gendong sang Eomma, langsung berlari menuju Sungmin dan menarik-narik baju Sungmin. "Eommaa~, Kwangie juga ingin di gendong~!" pinta Kwangmin.

Sungmin menurunkan Youngmin dan kini menggendong Kwangmin. Kini terlihat ekspresi kesal dari wajah Youngmin.

Mobil jemputan itu belum juga pergi, Sungmin melihat ke arah kursi kemudi, disana supir mobil itu memandang Sungmin dengan tatapan aneh, tak lama kemudian, ia melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah keluarga Cho.

Sungmin menghela napas melihat reaksi supir tersebut padanya. Ya memang tak lazim, jika pria dipanggil 'Eomma'. Namun harusnya ia sudah terbiasa mengingat sudah lebih dari lima tahun ia menjadi seorang 'Eomma'.

"Ayo masuk, nanti keburu hujan." Sungmin menurunkan Kwangmin dan membimbing keduanya masuk ke dalam rumah.

.


.

"Annyeongihasimnika Sajangnim, Joneun Fukumoto Judy imnida, saya adalah sekretaris baru anda Sajangnim" seorang wanita masuk ke dalam ruangan Kyuhyun dan langsung memperkenalkan diri.

Kyuhyun yang tadinya sibuk dengan laptopnya langsung menatap wanita di hadapannya.

"Eoh, Kau Sekretaris yang dikirimkan Shindong-sshi dari Jepang?" tanya Kyuhyun.

"Ye, Sajangnim."

"Geurom, aku harap kau bisa bekerja dengan baik disini." Ujar Kyuhyun.

"Donghae-ah, perkenalkan, ini Sekretaris baruku, Fukumoto Judy, dia dari Jepang, tapi bahasa Korea-nya sangat lancar. Fukumoto-sshi ini Lee Donghae asisten pribadiku. Aku harap kau dapat membantunya bekerja di sini, karena pengalaman kerja Donghae di perkantoran belum terlalu banyak. Baiklah, aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik." Kyuhyun memperkenalkan Donghae dan Judy secara bergantian.

Donghae dan Judy masih saling manatap satu sama lain. Judy tersenyum melihat Donghae, tapi tidak dengan Donghae.

Donghae memutus keheningan antara mereka. "Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik." ujar Donghae.

"Ne, pastinya Donghae-sshi." jawab Judy, ia melempar senyum terhangatnya untuk Donghae.

"Aku permisi dulu." Donghae meninggalkan Kyuhyun dan Judy di ruang itu.

Kyuhyun menatap punggung Donghae dengan bingung.

"Ahm, sepertinya Donghae belum terbiasa dengan orang baru, jadi maklumi saja sikapnya itu." ujar Kyuhyun pada Judy.

"Gwaenchaseumnida Sajangnim."

"Fukumoto-sshi, mejamu ada disana, tepat berhadapan dengan meja Donghae. Dan hari ini, kau bisa langsung bekerja bukan?"

"Ne."

"Baiklah, selamat bekerja."

Kyuhyun pergi menyusul Donghae. Seusai kepergia Kyuhyun. Judy tersenyum penuh misteri. "Sepertinya cukup menarik"

.

.

Kyuhyun masuk ke dalam toilet pria, dilihat-nya Donghae tengah termenung di depan westafel.

Kyuhyun mulai menghampiri Donghae dan menepuk pundak Donghae.

"Waeyo Hae-ah? Kau terlihat aneh." tanya Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah, Sekretaris barumu.."

"Ne? Wae?"

"Adalah seseorang yang dulu pernah aku sukai."

Tak ada yang bersuara setelah Donghae mengucapkan kalimat tersebut.

"Sekarang, kau masih menyukainya?" tanya Kyuhyun hati-hati.

Donghae menatap Kyuhyun, lalu tersenyum tipis. "Aniyo, hanya saja..." Senyuman Donghae luntur seketika. Kalimatnya tergantung entah ia sendiri bingung harus bagaimana melanjutkannya.

"Apa ada masalah di antara kalian?" tanya Kyuhyun lagi.

"Entahlah, ini bisa disebut masalah di antara kami atau tidak, yang jelas hubungan kami tidak cukup baik terakhir kali kami bertemu." jelas Donghae.

"Hae-ah.."

Donghae kembali menatap Kyuhyun.

"Bukan maksudku untuk membebanimu, tapi... Kau tahukan, pekerjaan sekarang sudah terlalu menumpuk, aku hanya takut kau tidak berkonsentrasi dalam bekerja. Aku juga bukan bermaksud memaksa dan menuntutmu, tapi, bisakah kau mengesampingkan masalah ini dulu dan bekerja secara professional? Sungguh, kalau aku tahu jadinya begini, aku tidak akan menerima Sekretaris baru itu Hae-ah." ujar Kyuhyun penuh penyesalan.

Donghae kembali memberikan senyum tipisnya. "Gwaenchana.. Dan tenang saja, aku pasti bisa bekerja secara professional."

.


.

Judy tengah duduk dikursinya, sambil memandang ke arah meja Donghae. Sepintas senyum yang cukup misterius terpampang dibibirnya. 'Aku tak menyangka, Donghae bisa setampan sekarang. Dan yang tak lebih ku sangka, dia bekerja sebagai asisten direktur cabang perusahaan yang sebesar ini.' pikir Judy.

'Kalau aku tidak bisa mendapatkan hati Kyuhyun, masih ada Donghae kan berarti.' Judy sedikit terkekeh setelah memikirkan hal tersebut.

Kyuhyun yang baru lewat, sedikit menatap heran pada Judy. Judy yang sadar tiba-tiba di tatap seseorang, langsung terdiam mati gaya.

"Ehm.. S.. Sajangnim, laporan keuangan serta, laporan pemasukan investor telah saya letakkan di meja anda."

"Eoh, Ne." jawab Kyuhyun singkat.

"Ahm, Sajangnim!" panggil Judy lagi.

"Ne Fukumoto-sshi?"

"Hm, sudah waktunya makan siang Sajangnim, bagaimana kalau kita makan bersama? Atau anda ingin saya belikan sesuatu?" tawar Judy dengan senang hati.

Kyuhyun terlihat mengerutkan keningnya. "Oh, mianhamnida Fukumoto-sshi, aku sudah ada janji makan siang dengan yang lain. Dan aku sangat terburu-buru. Mianhamnida Fukumoto-sshi." ujar Kyuhyun, sambil sesekali melihat jam tangannya.

"Ne, gwaenchaseumnida Sajangnim." jawab Judy setengah ikhlas.

Kyuhyun langsung masuk ke ruangannya. Setelah Kyuhyun masuk Judy langsung mendengus kesal. Tapi, ya masih ada Donghae ini, pikir Judy.

Tak lama Kyuhyun keluar dengan membawa tasnya. "Fukumoto-sshi, kau ingin sekalian aku antar mencari tempat makan siang?" tawar Kyuhyun.

"Ah, Aniyeyo Sajangnim, pasti akan merepotkan anda." Ya, untuk tawaran pertama tolak dulu, demi mempertinggi harga diri. Pikir Judy, nanti setelah Kyuhyun menawarkannya lagi, baru diterima.

"Geurom." Kyuhyun melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.

Judy menatap punggung Kyuhyun tak percaya. Bagaimana mungkin Kyuhyun tak menawarkannya lagi? Dia terlalu cuek, dan tidak peka, begitulah anggapan Judy tentang Kyuhyun, ya walau begitu ia tetap tampan dan kaya.

"Ish, sudahlah tunggu Donghae saja." gumam Judy.

Tak lama, Donghae datang ke ruanganya, dan meletakkan beberapa map dan berkas di mejanya. Judy menatap Donghae dengan wajah yang bereri-seri.

"Donghae-ah~" panggil Judy dengan nada yang menjijikan.

Donghae terlihat sangat kaku saat Judy memanggilnya, bahkan juga saat Judy mendekatinya seperti sekarang.

"Kita makan siang bersama yuk? Aku lapar sekali, tapi aku tidak terlalu mengetahui letak Cafe atau Restaurant yang enak di dekat sini. Jadi kita makan siang bersama saja ya?" pinta Judy, ia mengapit tangan Donghae dengan lancangnya.

"K.. Kau bisa makan di kantinkan?" usul Donghae.

"I.. Iya sih, tapi.." Judy terlihat sedang mencari alasan. "Tapikan, kita sudah lama tidak bertemu, kita kan bisa sekalian melepas rindu, kau juga bisa mengenalkan daerah-daerah di sekitar sini padaku, Eotthae? mau ya?" Judy menggoyang-goyangkan tangan Donghae yang ia apit.

Donghae tadinya mau menolak, namun melihat Judy yang nampaknya tidak menerima penolakkan, mau tidak mau ia harus menemaninya.

.


.

Eunhyuk terlihat sedang sibuk mengaduk jus Strawberry banana ke tiga-nya. Ia sudah pesan tiga gelas jus dan makanannya masih juga belum datang. Heuh, bagaimana sih pelayanan Restaurant ini?!

Eunhyuk terlihat sesekali merapatkan tutup kepalanya. Kini ia tengah menggunakan jaket yang besar dan tebal untuk menyamarkan perutnya. Ia tak jadi meminjam baju hamil dan wig Sungmin, menggunakan wig terlalu lama membuat kepalanya gatal-gatal, begitu katanya, makanya sekarang ia ogah menggunakan samaran.

'Triiing~'

Suara bel pertanda ada pelanggan masuk ke Restaurant berbunyi. Hal tersebut tidak mengusik Eunhyuk, ia masih tetap sesekali melihat ke arah dapur Restaurant, menunggu makan siangnya.

"Donghaeya, kita duduk di sana saja ya di dekat jendela." ucap seorang wanita.

Eunhyuk agak tersentak saat ia mendengar nama suaminya, ia menoleh mencari sumber suara, alangkah terkejut dirinya saat melihat suaminya tengah di gandeng dengan wanita lain.

Eunhyuk bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Donghae.

"Donghae-ah!" panggil Eunhyuk dengan suara tinggi.

Donghae yang merasa terpanggil langsung menoleh. Ia cukup terkejut melihat Eunhyuk di Restaurant ini.

"Eun.. Eunhyuk-ah, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Donghae gugup.

"Menurutmu, apa yang dilakukan seseorang di Restaurant, saat jam makan siang?" tanya Eunhyuk sinis.

Donghae diam tak menjawab, entah mengapa ia memiliki perasaan bersalah yang cukup besar saat tertangkap basah hendak makan siang dengan wanita lain.

"Ah! Dan kau sedang ingin makan siang bersama kekasihmu ya?" tanya Eunhyuk nada sinisnya terdengar semakin jelas.

Judy sedikit tersenyum saat Eunhyuk menyebut dirinya adalah kekasih Donghae.

"Aniyo! Dia bukan kekasihku, dia hanya rekan kerjaku!" jawab Donghae tegas.

Judy yang tadinya tersenyum, sekarang memandang tak suka pada Donghae.

"Oh ya? Aku baru tahu, rekan kerja itu bisa bergandengan tangan sebegitu mesranya." Ujar Eunhyuk sarkastik.

Donghae yang baru menyadari tangannya di gandeng Judy, langsung buru-buru melepas kaitan tersebut. Tapi Eunhyuk sudah terlanjur malas menghadapi makhluk-makhluk dihadapannya ini. Ia hendak melangkahkan kaki-nya keluar Restaurant, tetapi langkahnya terhenti saat Donghae menahan lengannya.

"Eunhyuk-ah, dengar penjelasanku dulu! Ini tak seperti apa yang kau pikirkan!" ujar Donghae.

Eunhyuk menghentikan langkahnya, ia menepis tangan Donghae yang menggenggam lengannya, di silangnya tangannya di dada. Ia tetap berdiri di sana, menunggu Donghae yang berjalan menghadapnya. Tak butuh waktu lama, Donghae datang menghadap Eunhyuk.

"Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?"

"Aku tahu! Kau pasti sedang salah paham sekarang. Aku berani sumpah, dia hanya rekan kerjaku, dia itu sekretaris baru Kyuhyun yang dikirim dari Jepang, makanya dia tak tahu banyak daerah sini, berhubung aku teman lamanya, jadi aku membantunya mencari tempat makan siang." jelas Donghae. Seharusnya itu cukup untuk memperjelas keadaan dan kesalahpahaman Eunhyuk.

"Oh, tapi aku tak pernah tahu rekan kerja itu kalau makan siang bersama harus saling bergandeng tangan."

"Dia yang menggandengku!"

"Tapi kau tidak menolaknya!"

Kalimat-kalimat bernada tinggi mulai keluar dari bibir masing-masing. Keduanya saling bertatap kesal.

Sementara Judy yang ada di belakang mereka. Menatap mereka tak mengerti, sedikit menggelikan mendengar percakapan mereka tadi. Ia memutar kepala melihat keadaan di sekelilingnya.

Oke, tak banyak orang disini, setidaknya, pertengkaran itu, tidak benar-benar menjadi pusat perhatian banyak orang.

"Kau ini sebenarnya kenapa sih? Emosimu tak perlu kan semeledak ini! Ini bukan suatu hal yang harus di besar-besarkan! Kau membesar-besarkan masalah ini seakan-akan aku melakukan dosa yang sangat besar! Padahal jelas kau hanya salah paham!" Donghae mulai sedikit membentak.

Eunhyuk menatap Donghae tak percaya.

"Sekarang kenapa jadi kau yang marah-marah?! Jelas-jelas kau yang tertangkap basa sedang main belakang, kenapa jadi aku yang dimarahi?!" balas Eunhyuk dengan suara yang tak kalah tinggi.

"Ish! Aku sudah bilang kau hanya salah paham! Kenapa kau harus semarah ini sih?!" ujar Donghae semakin kesal.

Eunhyuk berdecih mendengar kalimat Donghae.

"Geurae! Aku memang tak pantas marah, untuk apa pula aku marah sekarang? Begitukan?! Sudahlah, aku malas berurusan denganmu lagi." Eunhyuk membalikkan badannya dan hendang melenggang pergi dari Restaurant.

"Geurae! Urus urusan masing-masing!" ujar Donghae setengah berteriak. Donghae juga membalikkan badannya dan masuk ke dalam Restaurant.

"Hae-ah, nuguya?" tanya Judy, ia kembali mengamit lengan Donghae.

Donghae melepas tangannya yang mulai di apit lagi oleh Judy. "Bukan siapa-siapa."

Dan jangan kira Eunhyuk tak mendengar ucapan Donghae barusan. Ya, dia mendengarnya dengan sangat jelas. Eunhyuk kembali berdecih mendengar ucapan Donghae. Dan setelah ini ia benar-benar akan mengurusi urusannya sendiri.

.


.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.13, Donghae sesekali melirik ke arah jam tangannya. Ia masih menunggu di ruang tamu, sesekali melongokkan kepalanya ke arah pintu.

'Kemana saja dia jam segini belum pulang?' pikir Donghae.

Donghae kembali menunggu. Setelah setengah jam kemudian ia masih menunggu, tapi, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Eunhyuk akan pulang.

'Kemana dia, kenapa belum pulang juga, ini hampir berganti hari.' ujar Donghae dalam hati.

"Kenapa aku harus mempedulikannya. Menyebalkan sekali." ujar Donghae tak konsis dengan isi hatinya.

'Apa dia menginap di rumah Kyuhyun atau Sora Noona?' pikir Donghae lagi.

"Dasar! Dia pasti merepotkan orang lagi! Ish, sudahlah, untuk apa aku peduli?!" Donghae

Donghae mematikan lampu rumah dan beranjak menuju kamar, emosinya benar sedang tidak stabil saat ini.

.

.

Eunhyuk sedang memasukkan beberapa bajunya ke dalam lemari. Malam ini hingga seterusnya ia harus menginap terlebih dahulu di Motel ini.

Dia tidak akan bergantung pada orang lain. Ia yakin, ia bisa hidup sendiri. Eunhyuk mengelus perutnya yang sudah membuncit. Beberapa bulan lagi, ia akan melahirkan, dia harus menabung dan hidup hemat. Pikirnya begitu jauh.

.


.

Seminggu merupakan waktu yang cukup singkat untuk membuat pekerjaan yang menumpuk itu selesai, setidaknya pekerjaan sekarang sudah berjalan seperti biasa, tidak tertumpuk seperti kemarin. Kyuhyun cukup puas akan itu.

Seminggu ini pula, Eunhyuk tak pulang ke rumah. Donghae semakin cemas, ya dia percaya Sungmin atau Sora Noona pasti menjaga Eunhyuk di tempat mereka. Hanya saja, sudah seminggu ini dirinya dan Eunhyuk tak bertemu, ia hanya takut terjadi sesuatu. Ya gengsinya sih bisa dibilang dia merindukan Eunhyuk.

Donghae masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Kyuhyun yang tadinya sibuk menandatangin sejumlah berkas langsung mengadahkan kepalanya melihat Donghae.

"Waeyo Hae-ah?" tanya Kyuhyun.

"Tentang Eunhyuk." jawab Donghae.

"Eunhyuk? Ada apa dengan dia?" tanya Kyuhyun masih tak mengerti.

"L.. Lebih baik kau suruh dia pulang saja hari ini, pasti sudah sangat merepotkan tinggal di rumah kalian selama seminggu ini." ujar Donghae, masih mengagungkan gengsinya.

"Hah? Eunhyuk tidak tinggal di rumahku." jawab Kyuhyun.

"Ne?"

"Kau bertengkar dengan Eunhyuk?"

Donghae tak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia sibuk merogoh saku celana-nya mencari handphone-nya. Setelah itu, ia menekan beberapa tombol di handphonenya.

Donghae mengetuk-ngetuk sepatinya dilantai dengan tidak santai, menunggu seseorang di seberang sana menjawab telephone-nya.

Donghae mencoba beberapa kali menghubungi nomor yang sama, namun tak kunjung di angkat. "Eunhyuk-ah, kenapa tidak di angkat." gumam Donghae.

Kini Donghae memutuskan untuk menghubungi orang lain. Kini tak butuh waktu lama orang yang Donghae hubungi segara mengangkat telephone-nya.

"Yeoboseyo?" sahut seseorang di seberang sana.

"Sora Noona!"

"Ne Donghae-ah, tumben menelpon, ada apa?" tanya Sora.

"Noona, Apa Eunhyuk sedang ada bersama mu?" tanya Donghae dengan nada yang agak panik.

"Eunhyuk? Tidak.. Dia sudah lama tak main ke sini, waeyo?"

Donghae cukup tercekat mendengar kalimat Sora.

'Takk'

Donghae langsung berlari keluar dari ruangan Kyuhyun, dan tanpa sengaja menjatuhkan handphone-nya.

"Hae-ah!" panggil Kyuhyun setengah berteriak. Tapi apa guna? Donghae telah menghilang dari dari hadapannya.

"Yeoboseyo? Donghae-ah! Yeoboseyo? Kau masih disana?" suara dari handphone Donghae terdengar agak panik.

Kyuhyun berjalan dan memungut handphone itu, lalu menempelkan handphone itu ditelinganya.

"Yeoboseyo Noona?"

"Yeoboseyo? Donghae-ah?"

"Noona, ini aku Kyuhyun."

"Eoh, Kyu?. Kyuhyun-ah, sebenarnya apa yang terjadi? Dimana Donghae?" tanya Sora, suaranya masih terdengar panik di sana.

Kyuhyun menghela napas, ia pun juga tak mengerti. "Ajik nado molla."

.


.

"Donghae-ah." Panggil seseorang dari belakang.

Donghae yang tadinya hendak menyetop sebuah taksi, sekarang malah membiarkan taksi itu pergi karena seseorang yang memanggilnya dari belakang.

"Judy.." gumam Donghae.

Judy mengapit lengan Donghae. "Hae, ayo kita makan siang. Aku sedang ingin makan otonomiyaki dan takoyaki, aku rindu sekali makanan Jepang. Apa di dekat sini ada Restaurant Jepang yang enak? Kalau tak ada, Restaurant Taiwan juga tak apa, aku juga sedang ingin makan Oyster omelet. Di dekat sini ada tidak? Ayo kita makan siang, aku sudah lapar." oceh Judy sambil menerawang masakan-masakan tersebut.

Donghae melepas tangannya yang diapit oleh Judy dengan kasar. Judy cukup terkejut melihat sikap Donghae.

"Shireo, cari saja sendiri, aku ada urusan." ujar Donghae dingin.

"Ya! Hae-ah! Kau ini kenapa?!" ujar Judy kesal, ia sedikit membentak Donghae yang melawannya barusan.

Donghae terdiam sejenak, air wajahnya mengeras, ia menatap Judy dengan ekspresi yang tak terbaca.

"Kau yang kenapa?! Kenapa sekarang kau mendekatiku?! Jelas-jelas dulu saat aku menyatakan perasaanku padamu kau bilang aku tidak boleh mendekatimu lagi! Sekarang apa yang kau lakukan, HAH?!" bentak Donghae.

Judy nyaris tak percaya, Donghae membentaknya? Donghae yang selama ini selalu mengikuti kemauannya, sekarang menolak bahkan.. Membentaknya?

"A.. Aku hanya tak ingin merusak persahabatan k.. kita Hae.." cicit Judy. Ia tak berani berbicara dengan nada tinggi lagi pada Donghae, setelah Donghae membentaknya.

"Persahabatan? PERSAHABATAN MWOYA?! Kau dari dulu hanya memperalatku bukan? Asal ada aku kau bisa menyuruhku apa saja, begitukan? APA ITU YANG NAMANYA SAHABAT?!" bentak Donghae untuk yang kesekian kalinya.

Judy kembali terkejut saat bentakan Donghae semakin keras. Ia tundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Sampai saat kau mengatakan kau akan pergi ke Jepang, kau bilang kau sudah tidak membutuhkanku bukan?" ujar Donghae menyudut Judy.

Tubuh Judy bergetar, mulai terdengar isak tangis dari mulur Judy, tapi Donghae tetap tidak mengusiknya. Ia masih belum puas meluapkan semua emosinya pada gadis ini.

"Saat kau pergi ke Jepang, meninggalkan Korea. Di saat itu pula aku menganggap kau telah, benar-benar pergi dari hidupku, dan tak akan pernah kembali lagi. Meskipun kau kembali ke Korea." ujar Donghae dengan nada yang mencekam.

Donghae mulai melangkah pergi dari hadapan Judy. Judy mengangkat kepalanya dan menatap punggung Donghae, wajahnya berlinang air mata.

"Hae-aah.." panggil Judy dengan suara yang serak.

Donghae menghentikan langkahnya, ia membalikan badannya dan kembali menghadap Judy.

"Dan yang perlu kau ingat. Aku bukan lagi Donghaemu yang polos, yang bisa kau perintah sesuka hatimu. Dan aku tidak akan pernah kembali menjadi Donghaemu yang bodoh itu." ujar Donghae sarkastik.

Sebuah taksi langsung berhenti saat Donghae melambaikan tangan ke sebuah taksi yang lewat. Dan dengan itu Donghae benar-benar pergi dari hadapan Judy.

Wajah judy masih basah, diraihnya selembar tissue dan bedak dari saku kemejanya. Di bukanya bedak tersebut, Judy mengaca di sana, sekalian mengelap wajahnya dengan tissue, dan menata ulang riasannya.

"Dia pikir, aku sangat membutuhkannya apa? Menggelikan." ujar Judy. Ia menutup bedaknya dan meletakkannya kembali di saku kemejanya.

"Masih banyak lelaki bodoh di dunia ini yang bisa aku bodohi." Judy membuang tissue bekas itu sembarangan dan melangkah masih ke dalam kantor.

.


.

'Hanadulset geudaega utjyo

Sumi meojeulgeotman gatjyo

Geudae misoreul damaseo maeil sarangiran yorihajyo yeongwonhi

I love you (Love you) Love you'

Sungmin terlihat kerepotan meraih handphone-nya di meja. Setelah handphone itu berada di tangannya, dilihatnya siapa yang menghubungi-nya siang itu. Diangkatnya buru-buru panggilan tersebut.

"Kyuhyunaaah!" teriak Sungmin saat setelah Sungmin mengangkat telephone-nya.

Kyuhyun di kantornya, terlihat menjauhkan speaker handphone dari telinga-nya. Kenapa Sungmin seheboh ini mengangkat telephone-nya?

"Min-ah, Apa Donghae-"

"Cepat pulang! Bantu aku aku melepaskan makhluk ini dari kakiku! " Teriak Sungmin memotong kalimat Kyuhyun.

Belum sempat Kyuhyun menjawab, Sungmin sudah berteriak lagi, namun sepertinya teriakan ini bukan untuk dirinya.

"YA! Donghae-ah! Geumanhae! Lepaskan kakiku!" teriak Sungmin yang jelas untuk Donghae.

Ya, dengan mendengar teriakan Sungmin, Kyuhyun bisa tahu Donghae sedang bersama Sungmin sekarang.

"KYU! Cepat pulang! Tidak mau tahu, pokoknya kau harus pulang SEKARANG!" seru Sungmin untuk yang kesekian kalinya, dan lagi-lagi, Kyuhyun harus menjauhkan speaker handphone-nya dari telinganya.

"Ne, arraseo, nal gidaryeo ne."

.

.

"Sungmin-ah! Beritahu aku, dimana Eunhyuk. Aku tahu kau mengetahui keberadaan Eunhyuk. Malhaebwa Jebalyo!" Donghae terus mengeratkan pelukkannya di kaki Sungmin.

"YAAA! Cepat Lepaskan kakiku Donghae-aah!" seru Sungmin. Sungmin berusaha menendang-nendang sebisanya, namun pelukkan Donghae pada kaki-nya terlalu erat, bahkan ia susah untuk bergerak.

"Shireo! Malhaebwa!" Donghae masih tetap kekeuh memeluk kaki Sungmin.

"Sungminnieya, aku pulang." terdengar suara dari arah pintu masuk. Ya jelas itu Kyuhyun.

"KYUHYUNAAH! PALLIWA! DOWAJURAGO!" Teriak Sungmin.

Terdengar suara langkah kaki yang cukup cepat. Dan tak lama munculah Kyuhyun yang terlihat sedang tergesa. Tapi Kyuhyun langsung menghentikan langkahnya saat melihat keadaan Donghae dan Sungmin.

Donghae terlihat sedang memeluk kaki Sungmin. Sedangkan Sungmin sedang berusaha menendang Donghae.

"Kyu! Apa yang kau lakukan di situ?! Cepat bantu aku!" ujar Sungmin.

"Eh? Ne!" Kyuhyun yang baru sadar dari lamunannya segera menghampiri Sungmin.

"Sungmin-ah! Jangan harap kau bisa lepas dariku sebelum kau memberitahu aku dimana Eunhyuk sekarang!" ujar Donghae.

"Lepaaas! Kyu cepat bantu aku melepaskan dia!"

Kyuhyun menatap Sungmin bingung. Ia tak menghiraukan titahan Sungmin barusan.

"Min, kau tahu dimana Eunhyuk sekarang?" tanya Kyuhyun.

Sungmin langsung terdiam, tubuhnya mematung seketika. Ia membungkam mulutnya rapat-rapat, dan membuang pandangannya.

"Lihat lihat! Tadi aku juga bertanya seperti itu padanya! Tapi dia malah diam dan tidak mau menjawab! Itu tandanya dia tahu kan?!" Donghae terlihat sudah berdiri di samping Kyuhyun, ia menunjuk Sungmin dan mengadukannya pada Kyuhyun. Persis seperti bocah mengadukan kejahilan temannya pada ibunya.

Sungmin yang melihat peluang besar untuk melarikan diri, langsung mencoba melangkahkan kaki-nya meninggalkan Kyuhyun dan Donghae. Namun rupanya Sungmin kurang gesit. Donghae sudah terlebih dahulu memeluk kaki-nya lagi. Keadaannya yang tidak stabil hampir membuatnya terjatuh kalau saja Kyuhyun tidak menahan tubuhnya.

Kyuhyun dan Sungmin malah berpelukkan sekarang. Kyuhyun mulai menempelkan keningnya di kening Sungmin.

"Kenapa? Kenapa kau tidak mau memberitahukannya? Hm?" Kyuhyun bertanya dengan lembut pada Sungmin.

Sungmin menundukkan kepalanya. Ia memanyunkan bibirnya.

"Kau ingin merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Kyuhyun lagi sambil mengangkat dagu Sungmin. Membawa wajah itu persis dihadapannya. Kini hidung mereka saling bersentuhan.

"Hyukjae bilang aku tidak boleh memberitahu keberadaannya pada Donghae." cicit Sungmin sambil menatap Kyuhyun takut-takut.

"Waeyo?"

"Mollayo, yang jelas ku harus menepati janjiku untuk tidak memberitahu Donghae. Soalnya dulu aku juga pernah meminta bantuannya untuk merahasiakan keberadaanku darimu kan." ujar Sungmin.

Donghae dari bawah memutar kedua bola matanya malas melihat adegan KyuMin yang menggelikan dimatanya.

"Kau berjanji untuk tidak memberitahu keberadaan Eunhyuk pada Donghae bukan? Berarti kalau kau memberitahu keberadaannya padaku, takkan jadi masalah bukan?" tanya Kyuhyun.

Sungmin langsung memikirkan hal tersebut.

"Geurom. Hae-ah, bisa kau lepaskan tanganmu dari kaki Sungmin?" pinta Kyuhyun.

Donghae menggelengkan kepalanya.

"Jebalyo, agar ini cepat selesai, ne?"

Donghae perlahan mulai melepas pelukannya.

Lalu Kyuhyun membawa Sungmin menuju ke kamar mereka. Ya, yang jelas Donghae tidak boleh mendengar keberadaan Eunhyuk langsung dari bibir Sungmin, begitu pikir Kyuhyun.

.


.

'Eunhyuk sekarang sedang ada di Motel Anjeonjang. Kalau dari Seoul Station, keluar dari pintu EXIT 4, lurus sampai bertemu dengan Dunkin Donat, di dekat Dunkin Donat ada belokan, kau belok ke kanan, lalu langsung belok lagi ke simpang kiri pertama. Lurus terus dan Motel Anjeonjang ada di sebelah kirimu.'

Donghae mengingat baik-baik rute yang Kyuhyun jelaskan padanya tadi, sambil mengikuti rute tersebut.

Sampai di depan Dunkin Donat, ia agak bingung saat menemukan dua buah belokkan, yang mana yang harus ia pilih?. Dengan berikhtiar dan bertawakal, akhirnya Donghae pun mulai memilih, dan pilihan itu jatuh kepadaaaaa... Oke lebay. Intinya Donghae mencoba di belokkan kedua. Setelah sedikit berjalan ia menemukan simpangan yang ke kiri, disini ia mulai yakin, bahwa ia memilih jalan yang tepat.

Ia lurus terus sampai ia menemukan plank bertuliskan Motel Anjeonjang. Ia tersenyum lega saat melihat Motel tersebut. Tadinya author hendak menyalahkan jalan Donghae, namun berhubung males ngetik, jalan Donghae pun dibenarkan(?).

Donghae memandang Motel tersebut. Motel ini sepertinya sudah cukup tua, ia pun mulai melangkah masuk. Di temukannya seorang Ahjumma, atau bisa dibilang Halmonie, sedang duduk dan di batasi sebuah meja. Ya, seharusnya itu resepsionis-nya, pikir Donghae.

"Chogiyo, Ahjumma." panggil Donghae.

Ahjumma yang tadi sedang terkantuk-antuk itu, mulai membuka mata sipitnya selebar yang ia mampu, ia putar pandangannya sampai akhirnya melihat pria tampan yang tadi memanggilnya.

"Ne?"

"Ahjumma, apa tamu yang menginap disini ada yang bernama Lee Hyukjae, atau Eunhyuk?" tanya Donghae.

Ahjumma itu terlihat berpikir keras. Ia meletakkan telunjuknya di dagu, berpikir seperti seorang detektif. Lima menit bukan waktu yang sebentar untuk berpikir bukan? Tapi Ahjumma itu masih betah dengan posisi yang sama.

"Ahjumma, dia suka memakai baju yang besar."

"Eoh!" Ahjumma itu memetikkan jarinya gagal.

"Pria dengan jaket besar dan tebal itu ya?!" tebak Ahjumma itu semangat.

"Ne!" jawab Donghae.

"Yang wajahnya seperti monyet itu kan?!" tebak Ahjumma itu makin antusias.

Donghae memasang poker face-nya. Ia menganggukkan kepalanya ragu. "N.. Ne."

"Aah! Kamarnya ada di lorong yang sebelah..." Ahjumma itu menggantung kalimatnya.

"Sebelah?"

"Chamkanman. Memangnya kau siapa?" tanya Ahjumma itu curiga.

"Aku?"

"Iya, kau siapa? Aku tidak boleh memberitahu informasi ke sembarang orang." ujar Ahjmma itu.

"A.. Aku Su.." Donghae menutup mulutnya. Hampir saja ia bilang, bahwa dirinya itu suami Eunhyuk. Rasanya akan sangat ganjil jika ia bilang dirinya suami Eunhyuk.

Ditambah lagi, jika dia bilang pada Ahjumma ini, pasti ia akan lebih lama lagi berdiri di sini.

"Su? Su apa?" tanya Ahjumma itu.

"Su.. Ss.. Su.."

"Susu?"

"S.. Supirnyaah!" celetuk Donghae asal.

"Supir?" Ahjumma itu memandang Donghae bingung. Ia perhatikan dandanan Donghae dari atas sampai bawah.

"Supir jaman sekarang, tampan dan berkelas sekali ya." ucap Ahjumma itu sambil menganggukkan kepalanya.

"Tadi dia menelpon katanya minta di jemput sekarang." ujar Donghae bohong. :P

"Ooh." Ahjumma itu menganggukkan kepalanya makin radikal.

"Jadi Ahjumma, bisa beritahu aku dimana kamarnya?" tanya Donghae.

"Kamar?"

"Ne, kamar."

"Kamar siapa?"

Perasaan Donghae saat ini, rasanya heuh, ingin sekali menggaruk aspal.

Oh My God.. It's so hard..

.

.

.

.

.

.

~To Be Continue~

Huwaaah, maaf kan dakuh karena update-nya lama bangeett D"X

sumpah ini telat juga karena filenya nggak bisa kebaca, ke korup virus, jadi musti ngetik lagi.. T_T

kemaren juga ada yang di tambah2in lagi, ada yang minta nambah, dan kebetulan menurut aku ada yang kurang, dan setelah nambah2in, jadilah satu part lagi, jadi Last Story ini nggak jadi tamat di part 2, tapi di part 3 ^^.

Part 3nya udah selesai dan sekarang pun udah ada di Doc Manager aku di ffn Draft aku di fb. Semoga nggak ada yang minta tambah2 lagi ya, jadinya updatenya nggak lama lagi ='')

Semoga KyuMin momentnya nggak kurang ya disini, soalnya aku menggal part 2 dan part 3-nya kurang pas, kebanyakan buat part 3-nya nanti. jadi kalo disini KyuMin momentnya kurang semoga di next part KyuMin momentnya udah rada banyakan, hehe, dan buat Eunhae/Haehyuk shipper, next chap ada moment-nya mereka lho~~! XD, tapi karena ini first time gue bikin Eunhae/Haehyuk Yaoi moment, maap ya kalo ntar rada cacat -_-.

Berhubung ini sudah di update, yuk mari di baca dan setelah di baca harus di review dan comment yaa, supaya mempercepat pengupdate-an. huahahaha! kemaren seneng banget bisa nambah 80 review dari temen2 semua untuk satu chapter, meski viewersnya nambah 20ribu orang, ya gapapalah ya TuT, setidaknya reviewnya meningkat.

Ayo tingkatkan lagi reviewnya, kalo lebih banyak dari sebelumnya, aku janji bakal update cepet ^^

Okedeh cyus di review dan komen ^^

Thanks :D

Check and follow my soundcloud and my twitter : Diniaulicious

Dini Auliya Zayyana Elf

May. 11th 2013