Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma ?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...

A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.


Chapter 12 : Restless Thoughts

"Go-gomenasai! A-Aku sungguh-sungguh minta maaf! Kejadian ini sama sekali tidak terduga!" seru Yamamoto-san, membungkuk minta maaf kepada Hiruma. Bagi yang sempat lupa, Yamamoto-san adalah pemilik tempat penginapan mereka saat ini. Hiruma menghela napas. Penyebab semua ini adalah putusnya saluran air di penginapan, membuat semua kegiatan yang berhubungan dengan air terhenti. Semua kegiatan tanpa terkecuali... Termasuk mandi. Padahal tubuh mereka semua sudah lengket karena keringat setelah latihan. Hiruma memandang langit, dan menyadari matahari sebentar lagi sudah mau terbenam.

"Apa boleh buat" kata Hiruma. Yamamoto-san bernapas lega.

"Tapi kalau sampai kejadian ini terulang lagi..." ancam Hiruma, "Kau tahu apa yang terjadi, bukan?"

"Ha-Hai! Ke-kejadian ini pasti tidak akan terulang lagi!" balas Yamamoto-san cepat-cepat.

"Aku juga ingin semua masalah air ini sudah selesai begitu kami pulang. Mengerti?" tanya Hiruma. Yamamoto-san mengangguk-angguk.

"Bagus. Ayo, bocah-bocah sialan. Kita pergi dari sini" kata Hiruma, berjalan meninggalkan penginapan.

"Demo, Hiruma-kun, kita mau pergi ke mana?" tanya Mamori mewakili pertanyaan dari semua orang.

"Eh? Bukankah itu sudah jelas, Mamori-chan?" tanya Kimiko balik.

"Kita semua akan pergi ke onsen" kata Hiruma dengan datarnya.

"Onsen?!" seru semuanya tidak percaya.

"Maksudmu... Onsen sungguhan?" tanya Suzuna. "Bukan onsen lava merah panas yang menyeramkan?" pikirnya. Karena, jujur saja, itulah yang muncul di pikirannya pertama kali saat mendengar kata "onsen" dari Hiruma.

"Tentu saja onsen sungguhan. Memangnya onsen apa lagi yang kau harapkan, Suzuna-chan?" tanya Kimiko balik.

"Tidak... Kami benar-benar mengerti apa maksudmu, Suzuna" begitu pikir yang lain, yang cukup mengetahui sifat demonic Hiruma.

"Menurut guide-book sialan ini, ada onsen yang tidak terlalu jauh dari penginapan. Cukup berjalan kaki selama setengah jam juga cukup" kata Hiruma memegang guide book di tangannya.

"Guide-book? Guide-book dari mana kau─Hei! Itu guide-book milikku! Kembalikan!" seru Kimiko. Kimiko berusaha keras untuk merebut kembali bukunya. Tindakan yang terbilang sia-sia. Karena setiap kali Kimiko mencoba mengambil buku itu, setiap kali itu juga Hiruma berhasil menghindarinya. Dan untuk membuat Kimiko semakin kesal, Hiruma melakukannya dengan biasa-biasa saja. Tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun. Akhirnya, Kimiko pun lelah sendiri.

"Meskipun begitu" lanjut Hiruma menutup guide-book itu dan memasukkannya ke dalam sakunya, "Kita tidak akan ke onsen itu dengan cara yang biasa" Senyum seringai terpampang jelas di wajahnya sekarang.

"Na-nani? Apa maksudmu, Hiruma-senpai?" tanya Sena.

Pertanyaan Sena hanya dibalas seringaian Hiruma yang semakin melebar.

"Karena kita akan melakukan ini dengan cara setan" kata Hiruma mengeluarkan aura gelap di sekitar tubuhnya.


Apa yang disebut dengan cara setan Hiruma ternyata adalah balap lari dari tempat penginapan ke onsen. Tapi cara ini tidak akan disebut cara setan jika semudah itu, bukan? Jarak yang seharusnya ditempuh selama 30 menit itu harus ditempuh selama 10 menit. Dan barang siapa yang tidak berhasil... Hanya Setan dan Hiruma saja yang tahu. Para running-back saja agak kewalahan. Bagaimana nasib yang lain?

Tenang saja. Tidak perlu khawatir. Ternyata hasilnya tidak ada seorang pun yang melewati batas waktu. Termasuk Kurita. Tampaknya usahanya selama ini untuk menambah kecepatan larinya berbuah hasil. Yah... Meskipun dia memang nyaris tidak lolos. Sementara Hiruma, entah bagaimana caranya bisa tiba di onsen paling dulu dari mereka semua bersama Kimiko.

Setan memang selalu mempunyai caranya sendiri.

Yang jelas, merupakan suatu kebetulan onsen itu masih kosong saat mereka datang. Dan merupakan kebetulan lain saat ternyata pemilik onsen ini juga "kenalan" Hiruma. Sang pemilik onsen sudah seakan-akan kehilangan arwahnya begitu Hiruma selesai "berbicara" dengannya.

"Senang berbisnis dengan Anda. Kuharap semoga kita bisa berbisnis lagi pada kesempatan mendatang" kata Hiruma tersenyum terlalu dibuat-buat. Arwah pemilik onsen itu semakin melayang saja. Mengabaikan semua itu, Hiruma menghampiri yang lainnya.

"Orang-orang sialan! Tempat onsen ini sudah ku-booking untuk kalian semua! Manfaatkan baik-baik!" seru Hiruma dengan seenaknya.

"Manfaatkan baik-baik... You-nii, pilihan kata-katamu benar-benar mengagumkan sekali" pikir Kimiko sarkatis.

Mereka semua pun masuk, dan bersiap-siap untuk menceburkan diri ke onsen. Terjadi pembicaraan yang cukup seru di bagian onsen perempuan.

"Dari dulu memang yang namanya onsen itu paling enak!" seru Suzuna gembira.

"Kau benar, Suzuna-chan" kata Mamori.

"Sudah lama sekali aku tidak pergi ke onsen" kata Kimiko.

"Memangnya kapan terakhir kali kau pergi ke onsen, Kimiko-chan?" tanya Suzuna.

"Hmm... Kira-kira... Sekitar 6 tahun yang lalu" jawab Kimiko.

"6 tahun yang lalu?! Sampai sebegitu lamanya?" seru Suzuna kaget.

"Soalnya selama di Amerika aku tidak menemukan onsen" kata Kimiko santai.

"Amerika?" tanya Suzuna bingung.

"Ah! Aku sama sekali belum memberitahumu bahwa sebelum ini aku tinggal di Amerika, ya?" tanya Kimiko balik dengan polosnya.

"Tidak! Kau sama sekali tidak pernah cerita!" seru Suzuna menggembungkan pipinya kesal. Kimiko tertawa kecil melihat reaksi Suzuna.

"Mamo-nee! Apa kau sudah tahu bahwa-" Pertanyaan Suzuna terpotong oleh perkataan Mamori.

"Kimiko-chan sempat tinggal di Amerika? Aku sudah tahu, kok" kata Mamori.

Perkataan Hiruma waktu itu terulang lagi di kepalanya.

"Ayahku mendapat hak asuhku dan ibuku mendapat hak asuh Kimiko. Tak lama kemudian, ibuku pindah ke Amerika, ikut membawa serta Kimiko. Dan setelah itu, aku sudah tidak pernah bertemu langsung dengannya lagi. Baru saat dia memilih untuk berkuliah di Jepang aku bertemu dengannya lagi" kata Hiruma waktu itu.

Kimiko mengangkat alisnya.

"Dari mana kau bisa tahu, Mamori-chan?" selidik Kimiko. Semburat merah muncul di pipi gadis berambut auburn itu. Agaknya dia agak menyesal membuka mulutnya tadi.

"Err... Eto... Aku tahu dari..." kata Mamori dengan wajah yang semakin memerah. Mata Suzuna memandang ingin tahu ke arah Mamori. "Antena"-nya sudah naik turun dari tadi. Sementara Kimiko, yang sudah bisa menduga dari mana Mamori tahu, hanya menahan senyumannya.

"Aku tahu dari... Hiruma" kata Mamori akhirnya.

"Kyaaa! Yappari! Mamo-nee sudah jadian dengan You-nii, kan?! Ya, kan?!" seru Suzuna terlalu semangat.

"A-Aku tidak pacaran dengannya!" sanggah Mamori cepat-cepat. Sanggahan Mamori malah membuat Suzuna semakin semangat memborbardirnya dengan berbagai pertanyaan. Dan di saat Mamori mulai kewalahan dengan segala pertanyaan itu, Kimiko pun akhirnya memberi "pertolongan" kepada Mamori.

"Bagaimana denganmu sendiri, Suzuna? Kau sudah pergi ke kuil dengan Sena?" tanya Kimiko. Sekarang, giliran Suzuna yang bertingkah seperti Mamori.

Di antara semua keributan yang terjadi itu, Karin, penghuni keempat onsen wanita itu, sama sekali belum membuka mulutnya dari tadi. Dia hanya duduk berendam saja dan matanya tampak menerawang. Yah... Istilahnya, Karin Koizumi yang ada dengan mereka saat ini hanya ada badannya saja. Pikirannya sendiri entah melayang ke mana. Tapi, setelah peristiwa kemarin ini, siapapun juga pasti akan bertingkah seperti Karin. Peristiwa itu... Peristiwa itu selalu berulang-ulang di kepalanya.

Karin terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam, dan ternyata waktu sudah menunjukkan dini hari. Dia ingin untuk melanjutkan tidurnya kembali, tapi tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. Dengan sangat perlahan-lahan (karena dia sama sekali tidak mau membangunkan Kimiko, teman sekamarnya), Karin pun bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas keluar. Langkahnya menuju ke sebuah pantry, tempat dimana segelas air dengan sangat mudah ditemukan. Karin menegak airnya dengan puas. Setelah itu, dia pun berencana untuk kembali ke kamar dan tidur.

Tetapi, tampaknya rencananya berubah ketika dia menyadari... Bukan hanya dia satu-satunya orang yang terjaga di sana.

Tak jauh dari sana, Karin mendengar orang. Dan dilihat dari intensitas suara itu, jmereka seperti sedang berdebat. Ya. Mereka. Karena suara itu dimiliki lebih dari satu orang. Terdorong karena rasa penasaran, dia pun mendekati sumber suara itu.

Hanya untuk menemukan dua sosok pria yang dekat dengannya. Yamato dan Taka. Dan mereka jelas-jelas sedang tidak dalam mode bersahabat. Karin tetap menyembunyikan dirinya.

"Yamato-kun... Dan Taka-kun... Baru kali aku melihat mereka bertengkar seperti itu. Yah, mereka juga masih orang biasa, kan? Jadi, wajar saja mereka bertengkar satu sama lain. Dan apapun penyebab pertengkaran mereka, itu semua bukan urusanku dan oleh karenanya, aku tidak perlu tahu. Betul. Aku tidak perlu tahu. Mereka pasti bisa menyelesaikannya sendiri" pikir Karin. Dia pun sudah bersiap-siap pergi. Kakinya sudah benar-benar melangkah, menjauhkan diri dari tempat itu. Sampai telinga Karin mendengar perkataan itu.

"Jadi, ini semua sebenarnya karena Karin, kan?!" seru Yamato marah.

Langkah kaki Karin langsung terpaku di tempatnya.

Sekarang dia sudah benar-benar terbangun.


Seperti biasanya, suasana ramai selalu menyelimuti onsen pria. Banyak terjadi keriuhan di sana-sini. Tetap saja, sumber utama dari semua keriuhan itu adalah Mizumachi. Dia tidak pernah berhenti berusaha untuk mengintip onsen wanita. Dan, kali ini, dia mendapat dukungan yang lebih banyak dari biasanya.

Yah... Dukungan seperti dari Ikkyu dan Agon, misalnya.

Ikkyu, begitu ditanya oleh Sena apa alasannya, hanya menjawab dengan polosnya, "Lho? Bukannya wajar kalau cowok ingin mengintip cewek?"

Sena dan Monta hanya bisa ber-sweatdropped mendengar jawaban itu.

Sementara itu, Mizumachi sedang berusaha untuk membujuk Jumonji.

"Ayolah, Jumonji. Pasti akan menyenangkan. Coba saja bayangkan Kimiko di sana..." kata Mizumachi membisikkan sesuatu di telinga Jumonji. Entah apa yang dibisikkan. Apa pun itu, yang jelas ekspresi Jumonji mendadak menjadi semerah kepiting rebus dan ada sedikit darah keluar dari hidungnya.

Lebih dari cukup untuk membuat Hiruma memberi mereka tatapan setannya. Menyadari tatapan Hiruma, Mizumachi malah menghampiri Hiruma. Jumonji benar-benar berdoa sungguh-sungguh akan keselamatan temannya itu.

"Hiruma, apa kau mau ikut juga? Mungkin saja kau penasaran dengan Mamori─" Perkataan Mizumachi langsung dipotong dingin Hiruma.

"Jangan coba-coba" desis Hiruma. Meskipun begitu, Jumonji melihat ada sedikit rona merah di wajah Hiruma.

"Aku pasti hanya berimajinasi saja. Mungkin saja tadi itu karena efek asap" pikir Jumonji. Lagipula, mengapa pula wajah Hiruma memerah karena nama Mamori? Apa mungkin... Hiruma menaruh perasaan pada Mamori?

"Oh, bagus. Sekarang aku malah tertular penyakit Suzuna" pikir Jumonji.

Karena keriuhan yang ada, tidak ada yang menyadari diamnya Yamato dan Taka. Taka, karena memang sudah biasanya pemuda itu diam. Yamato karena... Karena mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan Yamato.

Saat ini, pemuda berambut coklat itu, sedang duduk terdiam di salah satu pojokkan onsen. Dan sama seperti Karin, pikirannya juga sedang melayang entah kemana. Melihat Taka yang tak jauh darinya, dia teringat kembali percakapannya dengannya kemarin malam.

"Akhir-akhir ini tingkahmu aneh sekali, Taka" kata Yamato.

"Itu bukan urusanmu" cetus Taka.

"Bukan urusanku?! Kau mengacuhkanku, marah padaku, dan itu semua bukan urusanku?!" seru Yamato

"Urusai! Sudah kubilang bukan urusanmu ya bukan urusanmu!" balas Taka. Yamato akhirnya pun sudah tak tahan lagi. Dia mengngkan kerah baju Taka, membuat wajah mereka saling berhadapan.

"Jadi, ini semua sebenarnya karena Karin kan?! Penyebab tingkah anehmu akhir-akhir ini?!" seru Yamato marah. Taka tersentak mendengar perkataan Yamato.

Membuat Yamato menganggap semua perkataannya itu benar adanya.

"Lepaskan aku" kata Taka dingin. Sebelum Yamato sempat melakukan apapun, Taka sudah melepaskan diri terlebih dahulu dan berjalan meninggalkannya.

"Jadi... Hanya itu? Hanya itu saja? Aku memberitahumu, aku pasti akan membuat Karin menjadi pacarku! Itu pernyataan absolut dariku!" kata Yamato. Taka menghentikan langkahnya. Mata Yamato yang penuh dengan keyakinan bertatapan lurus dengan mata Taka yang beku. Tapi Yamato tidak pernah mengira munculnya seringai di wajah Taka.

"Yah... Yang namanya pertarungan pasti dibutuhkan dua pihak yang saling bertarung, bukan? Kau sering mengatakan, bahwa hanya akulah lawan yang pantas untukmu" kata Taka santai, seolah-olah mereka hanya sedang membicarakan topik ringan saja.

Yamato hanya terdiam, meresapi perkataan Taka.

"Dan memang hanya aku yang pantas untuk melawanmu" tambah Taka tidak kalah yakin dengan Yamato.

Deklarasi perang pun dimulai.


"Jadi begitulah, Kimiko-chan. Setelah itu aku langsung kembali ke kamar" kata Karin memegang botol susunya dengan gelisah. Kimiko menegak susunya sebelum berbicara.

"Setidaknya itu menjelaskan alasan mengapa kau menyelinap dari kamar kemarin malam" kata Kimiko.

"Kau tahu?!" seru Karin terkejut.

"Pendengaranku cukup tajam" balas Kimiko menyengir lebar.

Saat ini Kimiko dan Karin berada di taman belakang onsen, dan melakukan kebiasaan rutin setelah mandi di onsen. Meminum susu dingin. Kimiko sadar betapa diamnya Karin selama di onsen ini. Jadi, dengan sangat berhati-hati agar tidak ada orang lain yang tahu (terutama Suzuna), Kimiko mengajak Karin untuk keluar. Untuk berbicara... Apapun yang menganggangu gadis berambut pirang itu.

"Apa yang harus kulakukan, Kimiko-chan?" tanya Karin. Kimiko mendesah panjang.

"Tidak ada" jawab Kimiko lugas.

"Ti-tidak ada?! Demo, Yamato-kun dan Taka-kun, mereka─" Balasan Karin dipotong Kimiko.

"Coba sekarang kutanya padamu, Karin-chan. Apakah Naruto akan benar-benar berpacaran dengan Hinata nanti? Apakah lima kage sudah sungguh-sungguh meninggal?" tanya Kimiko.

"Err... Pertanyaan-pertannyaan itu..." kata Karin. "Sama sekali tidak ada hubungannya, kan?" tambah Karin dalam hatinya.

"Intinya adalah, kau sama sekali tidak tahu. Masih terlalu dini untuk memutuskan. Kita perlu untuk menunggu entah beberapa chapter lagi untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaan itu. Begitu juga dengan ini. Yamato jelas-jelas menyatakan akan membuatmu menjadi miliknya dan Taka akan melakukan apapun yang dia bisa untuk mencegah hal itu terjadi. Tidak ada yang bisa kau lakukan selain menunggu" jelas Kimiko.

"Menunggu?" tanya Karin bingung.

"Menunggu. Menunggu saat yang tepat" jawab Kimiko pasti.

"Lalu... Jika saat itu sudah tiba... Apa yang harus kulakukan?" tanya Karin pelan. "Aku tidak mau kehilangan Yamato-kun dan Taka-kun..." pikir Karin.

"Jika saat itu sudah benar-benar saat yang tepat, maka kau pasti sudah tahu apa yang akan kau lakukan, Karin-chan. Justru oleh karena itu kita menyebutnya saat yang tepat" kata Kimiko tersenyum.

Segala sesuatu terjadi karena alasan... Dan karena waktu sendiri yang menentukan.

Atau setidaknya, itulah yang ingin dipercaya oleh Kimiko.

End of Chapter 12


Balasan Review yang tidak login :

Hiruma Hikari :

Hmm... Masalah luka Hiruma ya... Tenang saja... Everything happen in a right time *wink

Author's Note:

Yokatta! Akhirnya, I did it! Chapter ini pun akhirnya selesai jugaaa... To make it short, chapter ini ditujukan untuk pairing TakaKarinYamato. Pairing yang (ehem!) kurang mendapat perhatian lebih di beberapa chapter terakhir. Aku cukup sadar betul kurang membuat progress di pairing yang satu ini... Dan masih ada pairing HiruMamo dan SenaSuzu yang tidak boleh dilupakan. Kalau KimiMonji... You definitely no need to worry about that.

Anyway, review! Every review is sooo meaningful to me :)

Lady of Gray