So this is the Last Story of...
.
Title : Love You Love Me
Pairing : KyuMin
Other Cast :
- Cho Kwangmin
- Cho Youngmin
- Cho Hyunmin
- Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
- Lee Donghae
- Judy Fukumoto
- etc
Warning : M-Preg. OOC, bahasa tidak sesuai EYD, Gaje, TYPOSSSS, , penggunaan kata-kata kasar, KEBACOTAN author di beberapa bagian. Ga terima bash atau flame.
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ, DON'T REVIEW, AND DON'T COMPLAIN PLEASE.
.
.
Happy Reading..^^..
.
.
.
.
.
Sungmin terlihat sedang duduk di balkon, ia memandang kosong ke tanah dan menggigiti kukunya.
Sungmin masih terlihat ragu, ia memang berjanji untuk tidak memberitahukan keberadaan Eunhyuk pada Donghae. Tapi ia memberitahu Kyuhyun, dan Kyuhyun memberitahukannya pada Donghae. Berarti secara tak langsung ia telah memberitahukannya pada Donghae. Tapi kata Kyuhyun, ia sama sekali tak mengingkari janjinya, karena ia tak memberitahukannya secara langsung. Tapi tetap saja ia merasa bersalah!
"Mma.. Eomma~" Hyunmin berjalan dengan sedikit terseok ke arah Sungmin, lalu tiba-tiba Hyumin mendudukan dirinya di lantai dan melanjutkan langkahnya dengan merangkak menuju Sungmin.
Sungmin tersenyum melihat Hyunmin. Begitu bayinya dekat dengannya, Sungmin langsung menggendong Hyunmin.
"Waeyo Chagiya?"
"Yunie mo cucu.." Hyunmin mengangkat-angkat botol susu kosong yang menggantung dilehernya. Entah itu inovasi dari mana, tapi setiap botol susu Hyunmin, diikatkan gantungan supaya bisa di kalungkan di leher Hyunmin.
"Sebentar ya." Sungmin mengelus rambut Hyunmin.
"Kyu! Susu Hyunmin habis, buatkan lagi ya!" titah Sungmin setengah berteriak.
"Ne!" terdengar suara Kyuhyun yang juga setengah berteriak.
Ya, ada untungnya juga Kyuhyun pulang cepat, setidaknya dia tidak akan membiarkan Sungmin kerja sendiri di rumah. Jadi pekerjaan rumah sedikit berkurang.
Tak begitu lama Kyuhyun datang dengan membawa sebotol susu.
"Appa~!" Hyunmin terlihat antusias melihat botol susu di tangan Kyuhyun. Hyunmin langsung memberontak dipelukkan Sungmin. Sungmin langsung menurunkan Hyunmin begitu bocah ini memberontak. Hyunmin dengan semangatnya berjalan ke arah Kyuhyun.
Kini Kyuhyun yang menyambut Hyunmin dan kemudian menggendong bayinya. Ia mengambil botol susu yang telah kosong itu, dan menggantinya dengan yang baru. Hyunmin langsung menyedot susu itu dari botolnya dengan semangat.
Kyuhyun mendudukan dirinya di sebelah Sungmin.
"Kyu, kira-kira nanti Hyukjae marah tidak ya?" Sungmin menyenderkan kepalanya di bahu Kyuhyun.
"Tidak akan, aku berani jamin, Eunhyuk tidak akan marah padamu."
"Tapi kalau Hyukjae marah padaku bagaimana? Pokoknya kalau dia marah padaku, aku yang akan marah padamu ya?" Sungmin menyipitkan matanya dan menusuk-nusuk pipi Kyuhyun.
Kyuhyun sedikit terkekeh melihat tingkah childish Sungmin. "Iya iya."
.
.
"Hm, yang mana ya kamarnya." Ahjumma itu melihat kedua pintu kamar dihadapannya.
Donghae menatap Ahjumma itu dengan tatapan yang begitu memohon.
"Kalau tidak yang ini, sepertinya sih yang ini." ujar Ahjumma itu sambil menunjuk kedua pintu kamar itu bergantian.
"Tolong diingat-ingat lagi Ahjumma."
"Aku rasa yang ini." Ahjumma itu menunjuk pintu kamar yang kedua.
"Jinjja? Ah, Gamsahamnida Ahjumma!" Donghae menyalami tangan Ahjumma itu antusias. Ahjumma itu hanya tersenyum dan akhirnya pergi meninggalkan Donghae.
Donghae mempersiapkan dirinya. Okeh! dia harus minta maaf, dia harus mengalah, tentunya agar Eunhyuk kembali. Bagaimana pun juga Eunhyuk tengah mengandung anaknya sekarang. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Eunhyuk, maka dari itu Eunhyuk harus ada dipengawasannya.
Donghae menelan ludahnya gugup, perlahan ia mulai mengetuk pintu kamar tersebut.
'Tok tok tok'
Donghae mengatur napasnya berulang kali, beberapa kali ia memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan pada Eunhyuk.
Ia ketuk pintu kamar itu sekali lagi. 'Tok tok tok'
Tak lama, seseorang pun membuka pintu kamar tersebut.
"Mencari siapa?"
Donghae membelalakan matanya saat melihat seorang pria yang membukakan pintu tersebut, di tambah lagi, pria itu dalam keadaan topless sekarang.
"Ya, kenapa diam? Kau sedang mencari siapa?" tanya pria itu lagi.
Donghae menatap pria itu geram. "Dimana Istriku?" tanya Donghae, ia mengatupkan giginya saat bertanya hal tersebut.
Sedangkan pria tadi malah memandang Donghae bingung. "Istri? Istrimu yang mana?!"
Donghae dengan lancangnya, menerobos pria itu dan masuk ke dalam kamar.
"YA!"
Donghae tak menghiraukan teriakan pria itu, ia terus masuk ke dalam ruang utama kamar tersebut.
"KYAAAAA!"
"AAAAA! Mianhae!" Donghae menutup matanya dengan kedua tangannya, dan membalikkan badan saat melihat wanita setengah telanjang yang duduk di atas ranjang.
.
.
Pintu itu di tutup dengan keras tepat di depan wajah Donghae.
Apes sekali dirinya hari ini. Sudah di beri bogeman mentah yang bertubi-tubi, ia diperlakukan semena-mena seperti tadi. Sabarlah ya nak. #seribupukpukbuatDonge
Donghae memandang pintu kamar sebelah kamar ini. Kata Ahjumma tadi, kalau kamarnya bukan yang ini, berarti yang itu kan?
Donghae menghampiri pintu kamar tersebut, dan mulai di ketuknya pintu tersebut. 'Tok tok tok'
Ia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.
Kini ia harus menunggu lebih lama, karena sang pemilik kamar, tak kunjung membukakan pintunya.
Ia ketuk pintu kamar itu sekali lagi. 'Tok tok..'
Sebelum ketukan ketiga, pintu kamar itu terbuka. Donghae tak melihat seseorang pun dihadapannya, ia merasa ada yang janggal di sana.
"Nugu?"
Sebuah suara terdengar dari bawah. Donghae menurunkan view-nya. Dilihatnya seorang balita yang tengah mendongakkan kepalanya dan menatap Donghae dengan bingung.
Donghae manatap bocah itu tak percaya, Donghae menyetarakan tingginya dengan bocah itu. Ditatapnya wajah bocah itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara bocah itu malah menatapnya takut.
Greep!
"Eommaa!" jerit anak itu saat Donghae tiba-tiba memeluknya.
"Anakku.. Kau sudah lahir.. Dan kau sudah tumbuh sebesar ini.. Maaf kan Appaa.. Maafkan Appa yang tidak mendampingi Eomma-mu saat dia melahirkanmu.. Maafkan Appa nak.. Hiks.." Donghae meneteskan air mata di kedua pipinya, sungguh dramatis.
"Hiks.. Eommaa! Dowajuseyo Eomaa.. Huee.." anak itu menangis sambil menjerit-jerit memanggil Eommanya.
Tak lama, seorang wanita bertubuh tambun datang. Nampaknya ia sangat terkejut saat melihat anaknya tengah peluk pria asing.
"YA! APA YANG AKU LAKUKAN PADA ANAKKU?! KAU PENCULIK YA?!"
.
.
Hari ini adalah hari tersial dan terapes dari dalam hidupnya. Begitu pikir Donghae.
Setelah mendapat bogeman dari pria topless tadi, lalu di perlakukan semena-mena. Ia harus menderita karena di tiban wanita bertubuh tambun tadi, kemudian ia harus menerima perlakuan yang semena-mena lagi.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari Motel tua itu.
"Mungkin lebih baik, aku ke sini lagi besok. Hah.." Donghae menghela napas pasrah.
'Bruk!'
Tanpa sengaja Donghae menabrak seorang pria yang tengah membawa banyak kantung belanjaan, dan terlihat belanjaan pria itu berantakan di lantai sekarang.
"Aish. Jeongmal Mianhamnida." Donghae memungut belanjaan pria itu.
"Ne, gwaenchana." jawab pria itu.
Donghae mengangkat kepalanya, dan melihat pria itu. "Eunhyuk-ah!"
Ya, benar pria itu memang Eunhyuk.
Eunhyuk ikut terkejut saat melihat Donghae. Eunhyuk langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam Motel, namun langkahnya terhenti saat Donghae menahan pergelangan tangannya.
"Lepaskan!" ujar Eunhyuk dengan nada datar.
"Shireo!"
"Aku bilang lepaskan Donghae!"
Bukannya mendengar perintah Eunhyuk, Donghae malah menarik pergelangan tangan Eunhyuk hingga akhirnya Eunhyuk jatuh kepelukkannya.
"Mianhae. Jeongmal Mianhae.."ujar Donghae sangat lirih.
Eunhyuk mencoba memberontak, namun Donghae malah mengeratkan pelukkannya, ya sebisa mungkin ia akan terus mengeratkan pelukkannya tanpa menyakiti bayi di perut Eunhyuk.
"Biarkan dulu seperti ini. Aku sangat ingin memelukmu." ujar Donghae semakin lirih.
Eunhyuk mulai diam. Sebenarnya ia sudah sangat luluh saat mendengar suara Donghae yang sangat lirih, di tambah lagi saat ia mengingat wajah babak belur Donghae tadi.
"Mianhae.. Maafkan aku Eunhyuk-ah. Maafkan aku sudah membentakmu.. Maaf kan aku karena aku sudah pergi dengan wanita lain, tanpa memberitahumu sebelumnya. Tapi aku berani sumpah, Judy hanya teman lamaku, dan sekarang dia hanya rekan kerjaku, dan dia Sekretaris baru Kyuhyun yang direkomendasikan bos-nya dari Jepang. Aku menemaninya makan siang karena dia tak tahu jalan ke Restaurant yang terdekat. Dan hubungan kami benar-benar hanya sebatas rekan kerja sekarang, aku tak bohong, aku berani sumpah Eunhyuk-ah.. Aku salah, aku tahu aku salah, aku tak menjelaskannya langsung padamu saat itu, aku mengaku salah. Kau boleh menghukumku, menghinaku, mencaci-maki diriku, memerintahku sesuka hatimu. Tapi aku mohon, pulanglah.. Ayo pulang, aku sangat mencemaskanmu dan bayi kita. Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu, jauh dariku lebih lama lagi. Aku mohon pulanglah.. Hiks.." Setelah mengeluarkan seluruh uneg-unegnya. Donghae mulai terisak. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu Eunhyuk.
Eunhyuk bisa menerima dengan jelas semua penjelasan Donghae. Ya, tak seluruhnya salah Donghae, ini juga kesalahannya yang terlalu egois dan tidak mau mendengarkan penjelasan Donghae dengan jelas.
"Ayo pulang Hyuk. Hiks.. Aku tidak ingin jauh darimu lagi." suara isakkan Donghae semakin jelas.
Eunhyuk perlahan melepas pelukkan Donghae padanya.
Ia letakkan kedua tangannya di pipi Donghae, lalu menghapus air mata yang mengalir dari kedua kelopak mata Donghae.
"Hey! Kenapa kau menangis, pria menangis itu memalukan tahu." ujar Eunhyuk.
Donghae juga ikut mengusap kedua matanya dengan lengan kemejanya. "Mollayo, air mataku mengalir begitu saja." Suara Donghae masih terdengar sedikti serak.
"Eunhyuk-ah, ayo kita pulang." uja Donghae dengan tatapan dan suara yang memohon.
Eunhyuk terdiam, ia menghela napas sejenak. "Baiklah, ayo kita pulang.."
.
.
Kini Eunhyuk dan Donghae tengah duduk di balkon apartment mereka. Tangan mereka terus bertaut sejak Eunhyuk pulang tadi. Mereka berdua melukis sebuah senyuman, memandang bintang di langit sambil menyamankan diri satu sama lain.
Eunhyuk menyenderkan kepalanya dibahu Donghae, dan Donghae menyandarkan kepalanya di atas kepala Eunhyuk. Ya, pasti kebayanglah ya.
"Donghae-ah.."
"Hm?"
"Mianhae.."
"Mianhae? Untuk?" Donghae mengangkat kepalanya dan menatap Eunhyuk.
"Karena waktu aku tidak menghiraukan penjelasanmu. Aku malah memarahimu dan membentakmu." Eunhyuk ikut mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Donghae.
"Sudahlah, lagi pula aku juga salah, harusnya aku yang minta maaf."
"Baiklah, kalau begitu kita saling memaafkan ya?"
Donghae tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Donghae mengubah posisinya dan menghadap Eunhyuk sekarang. Digenggamnya kedua tangan Eunhyuk, lalu membawa tubuh Eunhyuk berhadapan dengannya.
"Eunhyuk-ah, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu." ujar Donghae dengan ekspresi yang serius.
"Ne?" Eunhyuk mengangkat kedua alisnya.
"Mungkin setelah ini, kau bisa saja merasa jijik padaku. Tapi, aku benar-benar harus mengatakannya, aku tak bisa menyimpan ini sendiri." Ekspresi Donghae mulai terlihat resah.
Eunhyuk masih menatap Donghae tak mengerti.
"Aku mencintai seorang pria." ujar Donghae.
.
.
.
"Dan pria itu adalah kau."
Tak ada perubahan ekspresi yang signifikan dari wajah Eunhyuk. Ia masih terus menatap Donghae dengan ekspresi yang ia berikan sebelumnya.
"Eunhyuk-ah, katakan sesuatu, jangan hanya memandangku seperti itu." ujar Donghae, mulai menatap Eunhyuk dengan perasaan takut.
Eunhyuk melepas genggaman tangan Donghae. Donghae sedikit tercekat ditatapnya tangannya yang baru di lepas Eunhyuk.
'Greep'
Eunhyuk memeluk Donghae dengan erat. Donghae masih bingung dengan reaksi Eunhyuk, ia hanya berusaha membalas pelukkan Eunhyuk dengan baik.
"Gomawo." ujar Eunhyuk.
"Gomawo? K.. Kenapa berterima kasih?"
Eunhyuk melepas pelukkannya. Ia menatap Donghae sambil tersenyum senang. "Karena berkat cintamu, itu berarti, cintaku tak bertepuk sebelah tangan." ujar Eunhyuk.
Donghae tersenyum, rasa puas, lega, bahagia, bercampur dan melukis senyuman itu.
Eunhyuk dan Donghae kembali berpelukkan, rasanya sangat bahagia, memeluk orang yang kau cintai sambil bermandikan cahaya bulan dan bintang.
Ah! Sepertinya Donghae harus menarik pemikirannya, pemikiranny yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari tersialnya.
.
.
'TING TONG'
Suara bel berbunyi menandakan adanya tamu yang datang. Sungmin melihat ke arah jam dinding, sudah malam dan ini tepat jam makan malam. Siapa yang berkunjung?
Kyuhyun baru keluar dari kamarnya, sepertinya ia baru selesai mandi, berhubung ia baru saja pulang kerja.
"Kyu, panggil anak-anak untuk makan malam, aku akan membukakan pintu dulu, sepertinya ada tamu" ujar Sungmin.
"Ne."
Sungmin mulai melangkahkan kakinya ke depan pintu rumah. Sungmin membuka pintu tersebut, lalu dilihatnya seorang wanita tengah berdiri dihadapannya, wanita itu tersenyum manis saat Sungmin membukakan pintunya.
"Annyeongihasimnikka." wanita itu sedikit membungkukkan badannya.
Sungmin mengangguk sedikit. "Ne."
"Apa Cho Sajangnim ada?" tanya wanita itu.
"Ne, ahm.. Silahkan masuk dulu." Sungmin mempersilahkan wanita itu masuk.
Sekarang mereka berdua tengah duduk di ruang tamu. Wanita itu masih memasang senyum manisnya pada Sungmin.
"Kyu, ada tamu untukmu." ujar Sungmin dengan suara yang agak keras.
Sungmin kembali melihat wanita itu. "Chogi, Nuguseyo?" tanya Sungmin.
"Eoh, Fukumoto Judy imnida." Judy memperkenalkan dirinya.
"Cho Sungmin imnida." Sungmin refleks memperkenalkan diri juga.
"Keundae, Kau rekan kerja Kyuhyun?" tanya Sungmin.
"Ne? Ahm, bagaimana menjelaskannya ya.." Judy tersenyum malu-malu.
Sungmin memandang kurang suka pada Judy setelah wanita itu menjawab pertanyaannya.
"Chogi, kau adiknya Cho Sajangnim kah? Kalian berdua terlihat sangat tampan." puji Judy, terlihat sekali ia sedang mencoba menarik perhatian Sungmin.
Sungmin mulai memandang wanita ini dengan ekspresi yang malas. "Gamsahamnida" jawab Sungmin dengan nada datar.
"Eoh, Fukumoto-sshi."
Kyuhyun datang ke ruang tamu, lalu ia mendudukan dirinya persis di sebelah Sungmin. "Min, dia Sekretarisku, yang Shindong-sshi rekomendasikan dari Jepang." Kyuhyun sedikit menjelaskan pada Sungmin. Sungmin hanya menganggukan kepalanya.
"Ada apa malam-malam begini datang ke rumahku? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Kyuhyun.
"Ah, aniyeyo Sajangnim. Saya hanya ingin menyerahkan Jadwal anda untuk satu minggu kedepan, tadinya saya ingin menyerahkan ini pada Donghae, tapi saya baru ingat kalau Donghae cuti karena Istrinya sebentar lagi akan melahirkan. Maka dari itu, saya pikir mungkin akan lebih baik jika saya menyerahkannya pada Sajangnim." ujar Judy.
"Oh, ye, gamsahamnida. Tapi lain kali kau tidak perlu serepot ini, sampai mengantarkan ke rumah. Jadwal ini masih bisa diserahkan besok bukan?" ujar Kyuhyun.
"Algeseumnida Sajangnim."
"Geurom, sudah malam, saya permisi dulu." Judy mulai berdiri dan sedikit membungkukkan badannya pada Kyuhyun dan Sungmin.
"Sekarang sudah waktunya makan malam, kau ingin makan malam bersama kami? Kebetulan Sungmin masak banyak makan malam hari ini." tawar Kyuhyun.
"Hm, tidak usah Sajangnim, pasti akan merepotkan, saya akan makan malam di rumah saja." tolak Judy.
Judy ingin menepuk keningnya, ia lupa, ia tidak bisa pura-pura gengsi di depan Kyuhyun. Kyuhyun itu pria yang menerima jawaban pertama, begitu simpulannya saat pertama kali Kyuhyun menawarkan tumpangan padanya dan ia menolaknya, setelah itu Kyuhyun langsung pergi. 'Aish! Seharusnya, tadi aku menerimanya saja!' sesal Judy dalam hati.
"Geurae. Keunyang, sudah malam, bagaimana kalau aku antar pulang?" tawar Kyuhyun lagi.
"Ah! Ne. Sudah malam, tidak baik wanita pulang malam seorang diri, biar aku yang mengantar." kini Sungmin menawarkan diri.
"Baiklah jika tidak merepotkan." terima Judy. Dalam hati ia bersorak kegirangan saat kedua pria tampan dihadapannya menawarkannya tumpangan. Ia melihat Sungmin. 'Sepertinya dia tertarik padaku.' pikir Judy.
"Eh? Apa tidak merepotkanmu?" tanya Kyuhyun pada Sungmin.
"Aniya, Biar aku yang mengantar, kau mulailah makan terlebih dahulu, lalu istirahat. Kau kan baru saja pulang, pasti kau masih sangat lelah." ujar Sungmin.
"Tidak melelahkan, aku malah takut kau yang kelelahan."
Judy menatap keduanya bingung, terutama Kyuhyun. Biasanya saat Kyuhyun menawarinya sesuatu dan dia menolak, Kyuhyun akan dengan mudah menerima penolakannya. Tapi barusan, Kyuhyun seperti sama sekali tak menerima penolakan.
'Hanya berpikir bahwa dia hanya berusaha untuk menjadi kakak yang baik.' Judy mensusgesti dirinya sendiri.
Sungmin memicingkan matanya saat menatap Kyuhyun. 'Kenapa dia memaksa sekali mengantar wanita ini?' tanya Sungmin dalam hati.
"Judy-sshi, biar aku yang mengantarmu ne?" ujar Sungmin.
Judy mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya.
"Tapi Min-ah-"
"Cepat masuk dan mulailah makan, temani anak-anak!" ujar Sungmin bernada final. Ia mendorong tubuh Kyuhyun menuju meja makan.
"Judy-sshi, aku ambil kunci mobil dulu ne." Sungmin kembali mendorong tubuh Kyuhyun. Setelah ia memastikan Kyuhyun duduk di depan meja makan. Ia pergi mengambil kunci mobil, dan pergi mengantar Judy.
.
.
"Jadi kau Sekretaris baru Kyuhyun?" tanya Sungmin memulai percakapan di dalam mobil.
"Sebenarnya aku sudah dua bulan bekerja. Oh ya, berapa tahun perbandingan umurmu dengan Cho Sajangnim?" setelah menjawab kini Judy yang melempar pertanyaan. 'Permulaan yang bagus.' pikir Judy.
"Aku lebih tua dua tahun darinya." jawab Sungmin.
"Oh ya? Jadi kau yang kakaknya. Hm, kau tidak terlihat lebih tua, kau terlihat jauh lebih muda dari Sajangnim." ujar Judy. Sesekali ia menunjuk jalan menuju rumahnya.
"Ya, banyak yang begitu. Tapi aku bukan kakaknya."
"Kau bukan kakaknya? Pantas saja, wajah kalian tidak begitu mirip. Ah, tadi tanpa sengaja, aku mendengar kalian membicarakan anak-anak. Apa Cho Sajangnim sudah punya anak? Atau itu anakmu?" tanya Judy.
Sungmin terdiam sebentar. "Ya, mereka anak-anak kami." jawab Sungmin.
Judy mencelos dalam hati. Pria-pria incarannya sudah mempunyai anak? Pupus sudah harapannya untuk menggait salah satu di antara mereka.
Tunggu dulu! Dia tak melihat Istri mereka tadi. Bahkan itu terlihat mereka hidup dengan anak-anak mereka tanpa Istri. Jika mereka sudah tak mempunyai Istri, berarti harapannya masih ada bukan? pikir Judy.
"Oh, tapi aku tak melihat Istri kalian, apa mereka tidak tinggal bersama kalian?" tanya Judy untuk yang kesekian kalinya.
"Aku tak punya Istri." jawab Sungmin.
"Ne?" Judy tak mengerti ucapan Sungmin, maksudnya dia telah bercerai, atau bagaimana?. Tapi ini berarti harapannya masih ada. :P
"Tapi Kyuhyun punya Istri." tambah Sungmin.
'Eoh, berarti targetku tinggal Sungmin sekarang.' ujar Judy dalam hati.
"Dan aku yakin benar kau melhat dengan jelas Istri Kyuhyun." ujar Sungmin.
"Oh ya, dimana rumahmu?" tanya Sungmin tiba-tiba.
"Ah, setelah belokkan ini, rumahku yang paling ujung, satu-satunya rumah dengan pagar berwarna ungu." jelas Judy.
Sungmin mengangguk. Judy masih berkutat dengan pikirannya, ia tak merasa dirinya melihat seorang wanita pun di rumah itu.
"Keundae, aku tidak melihat seorang wanitapun di rumahmu." ujar Judy.
Sungmin menghentikan mobilnya.
"Aku tak bilang bahwa Istri Kyuhyun itu wanita bukan?" ujar Sungmin.
Judy membelalakan matanya mendengar kalimat Sungmin. "Istri Kyuhyun itu pria." jelas Sungmin.
Judy menelan ludahnya gugup. Istri Kyuhyun adalah pria, Sungmin tak punya Istri, dan Kyuhyun dan Sungmin bukan kakak adik.. Jangan bilang kalau...
"Biar, aku memperkenalkan diri lagi. Joneun, Lee Sung.. Ah, Cho Sungmin imnida. Kyuhyunie Anae. Ah, apakah aku harus memberitahumu sudah berapa lama kami menikah? Sepertinya tidak ya?" ujar Sungmin agak sombong.
Judy tak sanggup berkata-kata. Benar-benar tak tahu harus mengucapkan apa dan melakukan apa. Pria-pria incarannya gay?! Ini sungguh menggelikan!
"Judy-sshi, ini sudah sampai rumahmu, kau tidak berniat untuk masuk ke dalam rumah?" tanya Sungmin.
Judy tersadar dari lamunannya. Ia membuka seat beltnya dengan tergesa-gesa. Menyampirkan tas di bahunya, lalu membuka pintu mobil dengan cepat.
"Gamsahamnida telah mengantarku." ujar Judy sambil membungkukkan badannya cepat dan segera masuk ke dalam rumah.
"Ne! Tak perlu sungkan!" ujar Sungmin setengah berteriak.
Sungmin sedikit terkekeh melihat tingkah Judy setelah ia mengetahui semuanya.
Dari awal Sungmin memang sudah tak menyukai wanita ini. Wanita ini jelas sekali pasti ingin mengejar dan mencari perhatian suaminya. Sampai harus mengunjungi rumahnya pada malam hari.
"Jangan kira aku bodoh nona Sekretaris." gumam Sungmin. Dan setelah itu Sungmin kembali ke rumah dengan hati yang sangat senang.
.
.
Kwangmin masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, tanpa mengucapkan apa-apa ia langsung masuk ke dalam kamar. Tak lama Youngmin dan Kyuhyun menyusul masuk ke dalam rumah. "Kami Pulang" sahut keduanya.
Sungmin datang menyambut mereka sambil menggendong Hyunmin. "Eh? Kwangmin mana?" tanya Sungmin saat ia tak melihat Kwangmin di sana.
"Tadi Kwangmin masuk terlebih dahulu, sepertinya dia langsung ke kamar." jawab Kyuhyun.
"Dia lagi bad mood, katanya giginya lagi sakit." ujar Youngmin. Kyuhyun dan Sungmin menatap Youngmin 'bad mood?' pikir keduanya. Hah, anak-anak ini tumbuh dengan begitu cepat ya~.
"Ah Min, aku harus kembali ke kantor." ujar Kyuhyun setelah Youngmin masuk ke dalam.
"Ne? Waeyo? Aku sudah masak banyak." Sungmin terdengar sedikit kecewa.
"Sekretarisku tiba-tiba saja mengundurkan diri. Aku harus mencari Sekretaris baru, dan masih banyak CV para job seeker yang belum ku baca."
Sungmin memanyunkan bibirnya. "Arraseo. Tapi kali ini kau harus bawa bekal ya? Biar aku siapkan dulu!"
Sebelum Kyuhyun menjawab Sungmin sudah melesat masuk ke dalam dapur. Sekitar lima menit kemudian Sungmin datang lagi dan memberikan sekotak bekal untuknya.
Sungmin mengantarkan Kyuhyun ke depan rumah.
"Kyu." panggil Sungmin.
Kyuhyun yang hendak masuk ke dalam mobilnya, langsung menghentikan langkahnya. "Wae?"
"Pilih Sekretaris yang sudah menikah." ujar Sungmin serius.
Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Sungmin. "Ne Arraseo."
Kyuhyun dan Sungmin saling berbagi kecupan, Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya dan mulai meluncur menuju kantornya.
.
.
Kwangmin terlihat meringkuk di atas sofa, tangan kanannya terlihat mengelus-elus pipinya yang membengkak, dan tangan kirinya sibuk menggonta-ganti channel TV. Ia merasa tak tenang sedari tadi, gigi geraham depan sebelah kanannya, sepertinya harus di copot, karena sepertinya gigi baru akan segera tumbuh, dan itu sangat menyiksa gusinya. Harusnya hari libur begini ia nikmati dengan bermain, tapi kalau kondisinya seperti ini, bagaimana dia bisa bermain?.
"Mati kau mati!" ujar Youngmin sambil menatap ke arah PSP-nya.
Kwangmin melirik ke arah Youngmin di sebelah kirinya. Suara Youngmin makin membuat giginya berdenyut sakit.
"Hihihi~ Kincing~ cing~ cing~"
Sebuah suara lagi yang Kwangmin dengar, dan kini dari mulut sang adik Hyunmin.
Kini Hyunmin sibuk bermain dengan kerincingan yang ada ditangannya.
"Min, boleh ya?"
"Tidak boleh! Kalau kau mabuk berat lagi bagaimana?! Aku tidak mau hamil lagi Kyu!"
Kwangmin menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Belum cukup suara Youngmin dan Hyunmin yang memekakkan telinganya. Kini kedua orang tua-nya sibuk berceloteh di dapur.
"Aish! Kenapa tidak mati mati!"
"Aihihi, kincing, kincing.."
"Min boleh ya? Sekali inii saja.. Aku sudah janji dengan karyawan yang lain.."
"Tidak boleh! Kau kan bisa beralasan lain!"
"IIHH! DIAM JANGAN BERISIK! KALIAN SEMUA TIDAK PENGERTIAN SEKALI SIH?! GIGI KU SEDANG SAKIT TAU!" Kwangmin berteriak sekencang-kencangnya.
Teriakkannya sukses membuat keadaan menjadi hening. Kwangmin membanting remote TV ke sofa dan beranjak menuju kamarnya.
Semua mata kini tertuju pada Kwangmin.
'BLAM!'
Kwangmin membanting pintu kamar-nya dengan keras.
"Kincing.. Cing.. Cing.." suara Hyunmin memecah keheningan. Ia kembali bermain dengan kerincingan barunya.
"Eoh, Ada apa dengan anak itu?" gumam Sungmin.
"Eh? Apa dia baru saja mengucapkan huruf 'R' dengan benar?" tanya Youngmin pada dirinya sendiri.
"Min, boleh ya? Kalau tidak kau ikut saja, supaya kau bisa lihat kalau aku tidak akan minum banyak-banyak." Kyuhyun masih saja setia membujuk Sungmin agar memperbolehkannya pergi ke acara kantornya itu.
"Sekali aku bilang tidak boleh! Ya tidak boleh!"
.
.
Sungmin dan Kwangmin baru saja keluar dari ruang dokter gigi. Kwangmin terlihat sedang menahan tangis, di mulut sebelah kanannya, terdapat sebuah kapas yang dilumuri obat, tepatnya di bagian geraham depan yang baru di copot oleh dokter gigi tadi. Tangan kirinya menggenggam sebuah lolipop.
"Apa masih sakit?" tanya Sungmin.
"Syedikhit." jawab Kwangmin, sulit berbicara yang jelas dengan kapas di dalam mulutmu.
"Kata dokter, nanti kalau sudah tidak terlalu sakit, kapasnya boleh di buang." ujar Sungmin.
Kwangmin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kyuhyun mana ya?" gumam Sungmin.
Sungmin menolehkan kepalanya ke segala arah untuk mencari suami dan anak-anaknya. Dengan mudahnya Sungmin menemukan mereka.
Mereka bertiga sedang menunggu di kursi tunggu. Kyuhyun terlihat sedang memangku Hyunmin, dan Youngmin duduk di sebelah kanan Kyuhyun. Pandangan mereka bertiga fokus pada PSP yang ada di tangan Kyuhyun.
Sungmin dan Kwangmin mulai berjalan menghampiri mereka.
"Hey, lihat-lihat! Pria itu tampan sekali.." ujar seseorang. Sungmin refleks menoleh ke arah sumber suara.
Dua orang suster sedang berdiri sambil memperhatikan Kyuhyun. Ditambah lagi mereka melihat Kyuhyun sambil tersenyum menggelikan. Sungmin menatap tak suka ke arah suster-suster itu.
"Omo~, dia tampan sekali.."
"Sangat tampan! Tapi anak-anak yang ada bersamanya itu siapa ya? Apa mereka itu anak-anaknya?"
"Mollaseo.. Kalaupun itu anaknya, ya tak apa lah~, yang penting Istri-nya sekarang juga sedang tidak ada di sini."
Mendengar perbincangan suster-suster itu, sukses mengacaukan suasanya hati Sungmin. 'Sayang sekali, Istri pria tampan yang kalian gosipkan ada disini..' ujar Sungmin dalam hati.
Kwangmin terlihat melangkah lebih dulu menghampiri Kyuhyun, Youngmin dan Hyunmin. Ia mendudukan dirinya di sebelah kiri Kyuhyun, lalu ikut memfokuskan perhatiannya pada layar PSP tersebut.
"Appa! Appa! Yang itu yang itu! Cepat bunuh yang itu!" seru Youngmin, sambil menunjuk-nunjuk layar PSP.
Sungmin terlihat berjalan menuju kebelakang kursi yang di duduki Kyuhyun, lalu tiba tiba ia memeluk leher Kyuhyun dan mencium pipi kiri Kyuhyun.
"Kelihatannya sibuk sekali.." ujar Sungmin sambil menempelkan perpotongan dagu dan lehernya di bahu kiri Kyuhyun.
"Ne, aku sedang membantu Youngmin menyelesaikan level ini." jawab Kyuhyun tak mengalihkan fokusnya dari layar PSP.
Sungmin menatap suster-suster tadi dengan tajam.
Terlihat suster-suster itu saling bertukar pandangan dengan takut, lalu mereka cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Sungmin tersenyum penuh kemenangan melihat tingkah suster-suster itu.
"Kalau sudah selesai, ayo kita pulang."
.
.
Sungmin menggendong Hyunmin dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang satu lagi di genggam erat oleh Youngmin. Dibelakangnya Kyuhyun sedang membawa tas perlengkapan Hyunmin, dan juga sekaligus sedang menggendong Kwangmin. Mereka hendak keluar dari rumah sakit saat tiba-tiba seorang suster meminta mereka untuk menjauhi pintu sejenak.
"Maaf, tolong permisi sebentar."
Tiba-tiba sebuah ranjang pasien di bawa masuk dengan seorang pria yang sedang berbaring di atasnya. Mereka begitu tergesa, apalagi saat pria itu mengerang kesakitan.
"Eoh? Hae ahjusshi!" ujar Youngmin, ia menunjuk kerumunan orang-orang yang membawa ranjang pasien itu.
"Jinjja?" Sungmin melihat arah tunjuk Youngmin.
"Apa yang tadi di bawa masuk itu Eunhyuk? Arahnya menuju ruang persalinan, Sudah waktunya kah dia melahirkan?" gumam Kyuhyun.
"Ayo kita susul saja." usul Sungmin.
.
.
"Hae-ah, tenanglah, duduk dulu." ujar Kyuhyun menenangkan Donghae.
Tapi Donghae terus saja berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin, sesekali ia mengintip dari jendela pintu, namun tak ada satu pun yang bisa ia lihat.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Tadi Hyukie terlihat sangat kesakitan, aku takut terjadi sesuatu padanya." Donghae menjawab dengan cepat, ia menggigiti kukunya dan terus melangkahkan kakinya.
"Hyukie? Panggilan menjijikan macam apa itu?" gumam Sungmin pelan.
"Ssst.." desis Kyuhyun.
Sungmin memanyunkan bibirnya mendengar desisan Kyuhyun.
Youngmin sedang asik bermain dengan PSP-nya. Kwangmin juga sebenarnya sibuk dengan PSP-nya, lebih tepatnya sibuk mengotak-atik tombol disana, ia kurang mengerti permainan yang sedang ia mainkan sekarang. Hyunmin yang sekarang sedang ada di pangkuan Kwangmin, ikut memencet-mencet tombol yang ada di PSP Kwangmin.
'CKLEK'
"Tuan Lee?"
"Ne Dokter! Bagaimana keadaan Istri dan anak saya?" tanya Donghae segera saat Dokter yang menangani Eunhyuk keluar dari ruang bersalin.
Dokter itu membuka masker di wajahnya, lalu menatap Donghae sambil tersenyum puas. "Istri anda baik-baik saja dan... Anak anda perempuan."
Donghae menghela napas lega, dan mengucap syukur pada Tuhannya.
"Bayi anda sedang dimandikan, anda bisa melihat keadaan Istri anda di dalam, namun sepertinya Istri anda masih belum sadar, dia masih berada di bawah pengaruh obat bius." ujar si Dokter.
"Ne! Gamsahamnida Dokter!" Donghae langsung melesat masuk ke dalam ruang bersalin dan di susul oleh Dokter tadi.
Sungmin dan Kyuhyun lebih memilih menunggu di luar, mereka tak mau repot-repot membawa anak mereka ikut masuk juga. Bisa-bisa nanti mereka membuat ulah begitu melihat alat-alat disana.
"Berarti sekarang Eunhyuk sudah menjadi seorang ibu ya.. Sama sepertimu.." ujar Kyuhyun pada Sungmin.
Sungmin mengangguk dan memberi seulas senyum.
"Aku dulu sempat mengira, kalau dalam hubungan mereka Donghae-lah yang akan menjadi istri." ujar Kyuhyun.
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi hal bodoh yang mereka lakukan setidaknya dapat menentukan yang mana yang seharus menjadi Istri." ujar Sungmin.
"Hal bodoh? Maksudmu?"
"Neo Mollaseo? Aku dengar dari mereka, malam itu mereka 'melakukannya bergantian'.." jawab Sungmin.
"Ne? B.. B.. Bergantian?" Kyuhyun menatap Sungmin hampir tak percaya. Ehm, sejujurnya hal yang ia dengar itu cukup menggelikan.
Sungmin menganggukkan kepalanya. "Ne. Ya maklumlah, mereka dalam pengaruh obat perangsang, hal bodoh apapun dapat mereka lakukan" ujar Sungmin.
Kyuhyun menggosok-gosong kedua lengan atasnya, entah mengapa ia sedikit merinding mendengar Eunhyuk dan Donghae 'melakukannya bergantian'. Errr.. Menggelikan.
"Oh iya! Bagaimana kalau lain kali kita mencobanya juga?" tanya Sungmin nyaris seperti bisikan.
"Me.. Mencoba juga? Apa maksudmu? Kau jangan macam-macam Min-ah." ujar Kyuhyun makin merinding mendengar usulan Sungmin.
"Melakukannya bergantian." jawab Sungmin seraya memperagakan tanda kutip dengan kedua tangannya.
"Shireoyo!" seru Kyuhyun tiba-tiba.
"Wae?!" balas Sungmin tak kalah keras.
"Pokoknya aku tidak akan pernah mau! Hiii.." Kyuhyun menggaruk-garuk tubuhnya sendiri kala membayangkan Sungmin berada di posisinya dan dirinya berada di posisinya Sungmin saat bercinta.
"Aish! Sudahlah ayo pulang! Nanti kita jenguk mereka lagi!" Kyuhyun bangkit dari duduknya dan langsung melangkan menuju pintu keluar.
"Kenapa dia menganggapnya serius sekali? Aku kan hanya bergurau." gumam Sungmin.
.
.
"Apa tidak apa-apa mengunjungi rumah Jungmo hari ini? Dan lagi pula ini masih pagi. Mereka baru sampai di Seoul kemarin sore, perjalanan dari Seoul ke Amerika tidaklah dekat, mereka pasti masih lelah, dan aku rasa mereka pasti masih sibuk mengurusi rumah mereka." ujar Sungmin, saat Kyuhyun memasukkan beberapa barang keperluan anak-anaknya ke dalam bagasi mobil.
"Eomma~ tapi Youngie kangen Jungmo Daddy dan Yoona Mommy~" rajuk Youngmin yang juga ada disana.
"Kwangie juga, Kwangie mau ketemu Mommy.." ujar Kwangmin menambahkan.
"Ya aku pikir juga begitu, tapi yaa, kau bisa lihat sendirikan tingkah mereka, mereka terus merajuk padaku setelah mereka tahu Jungmo dan Yoona sudah sampai di Seoul. Dan hnn.. Jungmo juga mengatakan untuk datang pagi hari." ujar Kyuhyun.
Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Keundae.. Aku harus berbelanja ke supermarket dulu, beberapa buah di kulkas habis, dan biskuit kesukaan Hyunmin juga habis. Hyunmin akan banyak berceloteh jika sehari saja ia tak makan biskuitnya."
"Yasudah, nanti kita sekalian saja, setelah itu baru ke rumah Jungmo." saran Kyuhyun.
Kali ini Sungmin menggelengkan kepalanya.
"Kau antar aku saja ke supermarket, lalu nanti kalian duluan saja, biar aku nanti menyusul dengan taksi. Aku rasa aku akan lama di supermarket." ujar Sungmin.
"Kalau begitu nanti aku akan menjemputmu lagi, bagaimana?"
"Eh? Tidak usah, nanti akan merepotkanmu, jika harus bolak balik."
"Sudahlah, pokoknya setelah belanja nanti kau harus menghubungiku, biar aku bisa menjemputmu. Arraseo? Atau kalau tidak aku akan terus menunggumu sampai acara belanjamu itu selesai."
"Huh, ne arraseo.."
.
.
Sungmin mendorong kereta bayi Hyunmin di antara rak buah-buahan. Ya, Sungmin tak sendiri, ia di temani oleh Hyunmin. Tadinya ia tak berniat membawa Hyunmin, tapi Hyunmin tak mau turun dari gendongannya saat ia turun dari mobil tadi, jadi mau tidak mau ia harus membawa Hyunmin ikut berbelanja dengannya.
Di kereta bayi tersebut, Hyunmin sedang ngomel-ngomel tak jelas, dari tadi sebenarnya ia bermaksud meminta Sungmin membawanya ke rak-rak biskuit bayi. Hyunmin menghentak-hentakkan kakinya ke kereta, ia sangat kesal karena dari tadi Eomma-nya tak menuruti kemauannya.
"Mmaa~, Yun mo mamam~!" celoteh Hyunmin tiada henti.
"Ne, chagiya, habis ini ya.. Eomma sedang mencari buah-buahan dulu, setelah ini kita ke rak sebelah." ujar Sungmin tak mengalihkan perhatiannya dari tumpukan Apel dan Jeruk dihadapannya.
"Mamam!"
"Iya, iya.."
Akan tetapi, tak sedikitpun Sungmin beranjak dari tempatnya, Hyunmin menggembunkan pipinya dan memanyunkan bibirnya. Ia berusaha melepas seatbelt di perutnya. Setelah lepas ia turun dari kereta bayi dan berjalan mencari biskuit yang ia mau. Cari sendiri saja, mungkin itu yang sedang bayi itu pikirkan.
.
.
"Hyunie, ayo kita beli biskuitnya, Eomma sudah selesai.." Ujar Sungmin ia memasukkan beberapa buah ke dalam keranjang, lalu ia menolehkan kepalanya ke arah kereta bayi tersebut. Namun ia membelalakan matanya begitu tahu bayinya tak disana.
"Omo! Hyunie! Eodiga?!" Sungmin menjatuhkan keranjangnya, Ia mulai berlari ke sana kemari mencari bayinya.
Panik! dan Takut!
Itu yang Sungmin rasakan sekarang. Ia mencoba mencari ke seluruh sudut supermarket, namun ia tak menemukan bayinya.
"Hyunmin!" panggil Sungmin.
"Hyunmin kau dimana?!" panggil Sungmin sekali lagi.
Bahkan ia sudah menjadi pusat perhatian orang-orang disana.
"Chogi.. Apa kau melihat seorang bayi merangkak atau mungkin berjalan-jalan di sekitar sini? Ia menggunanakan baju berwarna hijau, rambutnya hitam lurus, umurnya sekitar satu tahun lebih.." tanya Sungmin pada seorang pria disana.
Pria itu menggeleng sebagai jawaban.
"Gamsahamnida." Sungmin membungkukkan badannya sejenak, dan mulai mencari Hyunmin lagi.
Entah sudah berapa banyak orang yang ia tanyakan, namun tak ada satupun yang melihat bayinya.
"Hyunminie, neoya eodisseo?"
Sungmin hampir menangis. Sampai akhirnya Ahjumma penjaga kasir menepuk bahunya.
"Chogiyo. Tadi aku melihat seorang pria menggendong seorang bayi keluar dari sini, ciri-ciri bayinya sama seperti yang kau sebut. Sebenarnya aku tak yakin, tapi mungkin saja itu bayimu." ujar Ahjumma itu.
Sungmin membelalakan matanya mendengar ucapan Ahjumma itu.
"Jeongmalyo?! Kapan? Apa sudah lama? Kemana pria itu membawanya?" Sungmin memberondong sejumlah pertanyaan.
Ahjumama itu sedikit terkejut mendengar suara Sungmin. Ia pikir orang dihadapannya ini wanita. Ia menjawab dengan sedikit gugup. "Eoh, baru saja. Saat aku melihatnya aku langsung menghampirimu, mungkin mereka masih di sekitar sini."
"Ne! Jeongmal Gamsahamnida Ahjumma!" Sungmin membungkukkan badannya berkali-kali dan mulai melesat keluar dari supermarket itu.
Begitu keluar dari supermarket Sungmin menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan bayinya.
"Mmaaa~ hiks~ Eommaa~"
Mendengar suara yang familiar, Sungmin menolehkan kepalanya. Ia membulatkan matanya saat melihat seorang pria sedang menggendong bayinya. Hyunmin menangis dalam pelukan pria itu.
"YA! MAU KAU BAWA KEMANA ANAKKU?!" Sungmin berteriak memanggil pria itu.
Pria yang menggendong Hyunmin tadi menengok kebelakang. Ia terkejut, saat mengetahui rencana penculikkannya diketahui.
Sungmin tak kalah terkejutnya melihat wajah pria itu. Bahkan pria itu adalah salah satu pria yang Sungmin tanyakan di dalam tadi!
Pria itu segera berlari begitu mengetahui Sungmin menangkap basah rencana penculikkannya. Tentunya Sungmin tak tinggal diam mengetahui bayinya di bawa kabur oleh pria jahanam itu.
"YA! BERHENTI KAU!" teriak Sungmin.
Pria itu terus berlari sambil menggendong Hyunmin yang sedang menangis. Sungmin berlari mencoba mengejar pria tersebut.
CIIIT!
Suara decitan sepatu dengan aspal itu begitu memekakkan telinga. Pria penculik itu menghentikan langkahnya begitu mengetahui jalan dihadapannya ini buntu.
"Kembalikan anakku sekarang, atau akan kupatahkan lehermu!"
Pria itu menoleh kebelakang, ia melihat Sungmin berdiri tak jauh di belakangnya.
"J.. J.. Jangan bergerak! atau anakmu yang kubunuh!" ancam pria itu bernada panik.
Ia mencoba merogoh saku jaket dan celananya untuk mencari sebilah pisau yang biasanya ia bawa.
Ia tak menyadari bahwa selangkah demi selangkah, Sungmin telah mendekatinya. Hingga...
Sreet.
Hyunmin sudah berada di tangah Sungmin sekarang. Pria itu sangat terjejut, ia memalingkan wajahnya kedepan, dan...
BUGH!
"Aaargh!" Erang pria itu saat Sungmin menghantam rahangnya.
BUGH!
PLAAKK
PLETAKK
BRAK!
TAKK!
DUNG!
CESS(?)
KREEKK!
"AAAAAARRGH!"
.
.
Sungmin sedang berhadapan dengan seorang polisi.
Ia sedang menjadi saksi sekarang, bukan tersangka.. Jadi tenang saja.
"Lehernya tidak patah, jadi kau tidak perlu khawatir" ujar polisi tersebut pada Sungmin.
"Ne.." cicit Sungmin, sambil tersenyum tak enak. Bagaimana pun juga ia sempat bertindak brutal tadi.
"Minnie!" seru seseorang yang baru memasuki kantor polisi tersebut.
"Kyu!" balas Sungmin.
Kyuhyun segera menghampiri Sungmin, bersamaan dengan itu, perbincangan antara Sungmin dan polisi itupun selesai.
"Gwaenchana?" tanya Kyuhyun panik, ia meraba-raba seluruh permukaan wajah Sungmin.
"Ne, nan gwaenchana.." jawab Sungmin disertai dengan senyum tipisnya.
Kyuhyun melihat Hyunmin yang ada di gendongan Sungmin. Hyunmin sedang tertidur rupanya. "Tadi dia terlalu banyak menangis.." ujar Sungmin.
"Kwangmin dan Youngmin dimana?" tanya Sungmin.
"Mereka masih di rumah Jungmo dan Yoona, mereka masih ingin melepas rindu dengan Daddy dan Mommy mereka." jawab Kyuhyun.
Sungmin tersenyum tipis mendengarnya.
"Keundae.. Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana Hyunmin hampir bisa diculik? Siapa yang berniat menculik Hyunmin?" tanya Kyuhyun.
Sungmin mengendurkan senyumannya, ia menundukkan kepalanya.
"Ini semua karena kelalaianku.. Mianhae.." ujar Sungmin pelan.
Kyuhyun memeluk Sungmin. "Pria itu buronan.. Dia biasa menculik bayi, lalu menjualnya ke luar negri.. Bayi kita hampir di culik olehnya, dan itu semua karena kebodohanku.. Jeongmal Mianhae.." Sungmin terisak dalam pelukkan Kyuhyun.
"Gwaenchana. Yang penting Hyunmin sudah kembali pada kita." ujar Kyuhyun menangangkan.
"Aku sangat takut Kyu.. Aku tidak mau kehilangan anak kita lagi.. Kenapa aku selalu lalai, kenapa aku bodoh sekali.." Tangis Sungmin mulai meledak.
Kyuhyun meletakkan kedua tangannya di kedua pipi Sungmin, membawa wajah itu mendongak hingga mata mereka saling bertatap. Kyuhyun menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Sungmin dengan ibu jarinya.
"Dengarkan aku.. Ini semua terjadi diluar perkiraan kita, dan berarti kejadian yang seperti ini akan menjadi pelajaran untuk kita.. Kau tidak lalai dan kau tidak bodoh, Arraseo?" ujar Kyuhyun.
Sungmin mengangguk, tatapan tak lepas dari mata Kyuhyun.
"Sekarang kita pulang ne?"
.
.
Sungmin masih senantiasa berdiri di samping ranjang Hyunmin, ia tak henti-hentinya memandang wajah Hyunmin yang sedang tertidur.
"Hey, Ayo tidur. Sudah malam." Kyuhyun memeluk Sungmin dari belakang.
"Aku ingin tidur dengan Hyunie." ujar Sungmin sambil menatap wajah Kyuhyun yang ada di bahu kirinya.
"Yasudah, kalau begitu, kita bawa saja Hyunmin ke ranjang kita. Kita tidur bertiga malam ini."
Sungmin tersenyum dan mengangguk semangat.
Gruduk Gruduk
Suara kaki berlarian membuat Sungmin dan Kyuhyun menoleh ke arah pintu.
"Itu pasti Kwangmin dan Youngmin" ujar Kyuhyun.
Sungmin menggendong Hyunmin secara perlahan. Lalu mereka berdua mulai berjalan menuju kamar mereka.
.
.
'CKLEK'
"Eh?" Kyuhyun cukup terkejut melihat kedua anaknya sedang duduk di atas kasurnya sambil memegang bantal dan guling masing-masing.
"Kami juga mau tidur di sini.." ujar Youngmin.
"Kami juga mau bobo sama Hyunie" tambah Kwangmin.
'Ah, mereka pasti tadi menguping..' pikir Kyuhyun.
"Arraseo.. Tapi malam ini saja ya.." ucap Kyuhyun malas-malasan.
"Yeaah!" seru kedua bocah itu.
.
.
Dan disinilah mereka berlima sekarang, tidur berhimpitan di atas ranjang, dengan posisi Kwangmin Youngmin, dan Hyunmin yang di tengah. Kyuhyun dan Sungmin tidur di bagian pinggir ranjang. Sungmin tidur bersebelahan dengan Hyunmin, sedangkan Kyuhyun bersebelahan dengan Kwangmin, dan Youngmin persis di tengah-tengah.
Waktu sudah melewati tengah malam. Bahkan sudah hampir berganti hari. Namun Sungmin belum juga memejamkan matanya.
"Kyu.." Panggil Sungmin.
"Ne?"
"Kau belum tidur?" tanya Sungmin.
"Belum. Aku menunggumu tidur dari tadi." jawab Kyuhyun.
Sungmin menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun. Bersebrangan dengannya, Kyuhyun tengah tidur menyamping menghadap Sungmin, dan menopang kepalanya dengan sebelah tangan.
"Kenapa menungguku tidur?" tanya Sungmin.
"Tidak apa-apa.. Dan kau, kenapa belum juga tidur?"
"Haruskah aku menjawabmu?"
"Ne?"
Sungmin dan Kyuhyun saling terkekeh, hah, sudah lama sekali Sungmin tak mengucapkan kalimat tersebut, dan sudah lama pula Kyuhyun tak mendengarnya
"Aku tidak bisa tidur." jawab Sungmin.
"Coba pejamkan matamu dulu.."
Sungmin mencoba memejamkan matanya. "Kyu.." Panggil Sungmin lagi.
"Ne?"
"Nyanyikan aku sebuah lagu.." Pinta Sungmin.
"Tapi aku tidak bisa bernyanyi."
"Sudahlah.. Bernyanyi saja.."
"Hah~ Arraseo.."
Twinkle twinkle little star
How I wonder what you are
Sungmin tersenyum sambil memejamkan matanya. Lagu yang sama yang Kyuhyun nyanyikan saat pertama kali ia meminta Kyuhyun bernyanyi.
Up above the world so high
Like a diamons in the sky
Lagu yang Kyuhyun nyanyikan, saat ia mengandung anak pertamanya.
Twinkle twinkle little star
How I wonder what you are
Sungmin membuka lagi kelopak matanya setelah Kyuhyun selesai bernyanyi.
"Kau masih belum juga tidur?" tanya Kyuhyun.
Sungmin tak menjawab. Ia hanya terus memandang wajah Kyuhyun.
"Kyu.."
"Apa lagi?"
.
.
.
.
.
"Saranghae.."
Kini mereka berdua saling menatap. Kyuhyun menelan liurnya gugup, wajahnya memerah kerap kali mendengar sang Istri mengucap kata cinta. Perlahan ia bangkit dari tidurnya. Ia mencoba mendekat ke arah Sungmin, ia perhatikan benar langkahnya agar tak membangunkan ketiga anaknya.
"Nado Saranghae.."
Kyuhyun mengecup bibir Sungmin penuh dengan perasaan. Rasanya begitu dalam. Sungmin menyambut kecupan itu dengan senang hati.
Kecupan itu mengakhiri indahnya malam hari itu.
Dan kecupan itu pula yang mengakhiri...
.
.
.
.
.
Cerita ini..
.
.
.
.
_THE END_
Updatenya cepet banget kan? :P
Hyaah, finally, tamat juga FF ini :')
terima kasih banget buat temen2 semua yang udah baca FF ini dari awal ampe abis, terutama buat yang review dan komen dari awal sampe akhir.. maafin gue yang nggak bisa nyebutin nama kalian satu persatu yang udah rajin banget ngrespond, tapi gue cinta banget sama kaliaaaaaaaan *hug*, berkat kalian review disini, bisa nembus angka yang bener2 fantastic, teritama buat gue dan ff ini yang termasuk newbie waktu itu..
untuk semua pertanyaan, rasanya udah pasti kejawab semua ya, dengan berakhirnya FF ini, kecuali yg nanya ortu Kyu, ya emaknya cuman nongol segitu doang di LS p1, gausah banyak2 soalnya nanti dia eksis. *apesi*
Gue nggak bakal bisa nulis ini cerita sampe sebegini panjangnya kalo bukan karena support kalian..
Yaa, buat last part ini, setidaknya tolong berikan respon kalian yang terakhir ya untuk cerita ini terutama para siders.. Ini part terakhir LYLM gais, kasi komen dikit bisalaaah hehe.. soalnya gue tau banget nih, biasanya banyak yang bilang 'maaf karena baru bisa review di last chapter ini, soalnya bla bla bka' :P, but it's okay, yaa, daripada nggak review sama sekali kan? :)
btw, kalo nanti misalnya kau buat ff baru lagi, kalian masih mau baca dan review nggak? :'(
ya, pokoknya sekali lagi, makasih makasih makasih buat semuanyaaa lafyuuu~~~ 3
ohya ini 6000 kata lebih lho untuk ceritanya doang.. banyak kaaaan? jadi di review yaaaa! XD
So the last from me..
Comment and Review please :)
Dini Auliya Zayyana
Check my soundcloud and follow my twitter : Diniaulicious
May 16th, 2013
