Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma ?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...
A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.
Chapter 13 : Because Normal is too Mainstream
"Haah..." Suzuna menghela napas panjang.
"Kenapa, Suzuna?" tanya Kimiko bingung. Menurut pengamatannya, gadis berambut biru di sampingnya ini sudah menghela napas... Lebih dari lima kali.
"Aku bosan" jawab Suzuna.
"Bosan?" tanya Kimiko mengerutkan dahi.
"Hampir setiap hari yang kita lakukan di sini hanya latihan, latihan, dan latihan saja. Sudah seperti tidak ada kegiatan lain saja" gerutu Suzuna.
"Suzuna-chan, kau sadar betul kita sekarang ini sedang training camp kan?" tanya Kimiko balik. Suzuna memainkan tangannya gelisah.
"Memang... Tapi bukan berarti harus setiap hari dihabiskan untuk latihan saja, bukan? Tidak ada salahnya untuk sedikit bersantai." balas Suzuna. Kimiko merenung, memikirkan perkataan Suzuna. Melihat Kimiko yang begitu serius membuat Suzuna menjadi tidak enak hati.
"Eto... Kau tidak perlu terlalu memikirkannya, Kimiko-chan. Tidak perlu dianggap ser-" Perkataan Suzuna dipotong Kimiko yang tiba-tiba saja bersemangat.
"Suzuna-chan, apakah kau mau menemaniku menemui You-nii?" tanya Kimiko antusias.
"Eh?" gumam Suzuna. "Kenapa jadi begini?" tanyanya dalam hati.
"Minna-san, aku punya berita yang sangat bagus untuk kalian semua" kata Kimiko pada malam harinya, tepat saat seluruh peserta training camp berkumpul. Hiruma yang berada tepat di sebelahnya, hanya menyilangkan kedua tangannya di dada dan bergumam tidak jelas. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya dengan jelas menyatakan bahwa dia kesal. Hiruma melirik Kimiko dan teringat kembali percakapan dengannya sebelum ini.
"Onegai... Onii-chan" pinta Kimiko dengan puppy-eyes andalannya.
Sesetan apapun Hiruma, dia tetap saja masih belum bisa melawan puppy-eyes andalan Kimiko, adiknya tersayang. Dan keadaan itu membuatnya hanya memiliki dengan satu pilihan.
Mengabulkan permintaan Kimiko... Walaupun dengan sangat berat hati.
Bahkan Unsui, yang notabene adalah kapten dari Enma, tidak tahu menahu tentang berita bagus Kimiko ini. Dia hanya mengangkat bahunya ketika beberapa pandang penuh tanya tertuju padanya. Akhirnya, Jumonji, yang sudah tidak tahan lagi, bersedia untuk menjadi sukarelawan bertanya.
"Berita bagus apa, Kimiko?" tanya Jumonji mengangkat tangannya. Kimiko menyeringai lebar, seakan-akan menunggu pertanyaan itu muncul.
"Kita semua besok pergi ke Deseneyland!" seru Kimiko riang.
"D-Deseneyland? Hontou ni?" tanya Mamori terkejut.
"Tapi Deseneyland... Tempat itu kan cukup jauh dari sini, Kimiko-chan." kata Riku mengerutkan dahi.
"Justru karena itu besok kita akan pergi pagi-pagi sekali dari sini. Selain itu... You-niichan tentu akan menyediakan tranportasi untuk kita semua, bukan?" tanya Kimiko dengan senyum super duper manis. Hiruma menelan ludahnya.
Bagaimana mungkin Hiruma tega menolaknya?
"Ya, ya, ya. Aku akan menyiapkannya." jawab Hiruma menggerutu. "Geez... Dasar adik sialan merepotkan." pikir Hiruma. Mata Kimiko berbinar-binar mendengar jawaban Hiruma.
"Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Onii-chan." balas Kimiko ceria, menatap lurus-lurus Hiruma. Untuk sesaat Hiruma tertegun, menatap balik mata hijau Kimiko yang sama persis dengan miliknya.
Dan, beberapa saat kemudian, dia menyadari bukan dirinya yang satu-satunya yang tertegun. Ada seluruh peserta training camp yang melihat mereka... Masih tercengang tak tahu harus berbuat apa.
"A-Apa kalian lihat-lihat?! Cepat pergi tidur sana!" seru Hiruma galak.
Seiring dengan orang-orang yang lambat laun meninggalkan ruangan, "meeting" training camp malam itu pun bubar.
Tepat keesokannya paginya, dengan morning call sparta ala Hiruma, para peserta training camp berhasil bangun. Yah, memang beberapa orang, contohnya seperti Monta dan Mizumachi, terlihat masih memejamkan sebelah matanya saat berjalan. Setidaknya mereka berhasil berjalan tanpa menabrak apapun. Suatu hal yang membuat teman-temannya hanya menggelengkan kepala. Transportasi mereka, yang ternyata adalah bus yang sama persis mengantar mereka ke hotel, sudah siap untuk berangkat.
Perjalanan mereka menuju Deseneyland pun dimulai. Suasana waktu perjalanan, seperti yang sudah bisa ditebak, sangat ramai. Banyak para penumpangnya yang melakukan hal aneh bin ajaib. Seperti live show Akaba, Monta yang bergelantungan di atas karena tidak betah berdiam diri, lalu ada juga Mizumachi yang dengan bangganya menari-nari tidak jelas... Sisanya cukup dibayangkan saja dengan imajinasi sendiri.
Beberapa penumpang yang masih bertingkah normal adalah Hiruma. Yah, itu pun kalau bermain laptop dan menelepon dengan seringaian setan terbilang normal. Mamori yang duduk di sebelahnya hanya bisa memandang ke arah Hiruma, pasrah terhadap apapun yang direncanakannya. Tidak jauh dari mereka, Kimiko sedang berbicara mengebu-ebu dengan Jumonji. Topiknya? Bukan lain adalah list wahana-wahana apa saja yang akan dicoba oleh Kimiko di Deseney Sea. Jumonji pada awalnya tertarik menanggapi Kimiko, bahkan cukup antusias ingin menemaninya. Dia berjanji untuk pergi bersamanya. Tapi lama-kelamaan, dengan list yang terus bertambah panjang dan wahana yang muncul semakin menantang (baca : menyeramkan)... Jumonji mulai menyesal telah berjanji.
Bukannya Jumonji takut. Dia sama sekali tidak takut. Tentu saja tidak. Mau dikemanakan harga dirinya sebagai pria dewasa? Hanya saja... Eto... Bagaimana mengatakannya, ya?
"Wih! Deseneyland ternyata membuka wahana rollercoaster baru, lho! Dan katanya rollercoaster itu masuk ke 5 besar wahana menakutkan di Jepang. Mereka mempunyai tikungan yang tajam, turunan vertikal yang memutar 360 derajat, dan putaran gravitasi nol. Tingginya bahkan mencapai 50 meter! Aku jadi ingin sekali mencobanya! Jumonji juga mau ikut kan?" kata Kimiko tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang mendapat permen. Jumonji menelan ludahnya.
...Oke. Dia memang takut. Takut sekali.
Puas?
Sementara itu, Taka hanya duduk terdiam sambil membaca bukunya dengan tenang. Atau setidaknya seperti itulah kelihatannya. Kenyataannya, Taka sama sekali sedang tidak membaca-dia bahkan tidak membalik halaman bukunya dari tadi. Kedua matanya hanya tertuju pada pasangan yang duduk tak jauh darinya, Yamato dan Karin. True to his words, Yamato benar-benar mengeluarkan segenap dayanya untuk merebut hati Karin.
Setelah berhasil "mengalahkan" Taka pada saat perebutan posisi duduk sebelah Karin, Yamato tidak cepat puas. Dia mengajak Karin untuk mengobrol, bercanda dengannya, membuatnya tertawa, dan juga mengeluarkan "senjata" gombalannya. Sukses membuat gadis berambut pirang itu tersipu malu dan senang. Karin, yang kali ini sudah aware dengan situasi antara Yamato & Taka, tidak henti-hentinya memandang cemas ke belakang ke arah Taka. Yamato berhasil mengalihkan perhatian Karin dan membuatnya tidak memikirkan Taka lagi. Tanpa sepengetahuan Karin, Yamato tersenyum tipis ke arah Taka, seolah menantangnya. Taka membalasnya dengan tatapan tajam, seperti elang yang sedang mengawasi mangsanya.
"Kuterima tantanganmu, Yamato..." gumamnya pelan.
Perjalanan yang memakan waktu lama itu akhirnya selesai juga. Kini mereka pun tiba di Deseneyland. Hanya saja, di luar dugaan mereka...
"Ke-kenapa tempatnya malah kosong melompong?! Kemana perginya semua orang?" seru Monta.
Alih-alih ramai disesaki orang, Deseneyland yang mereka kunjungi malah kosong-melompong, sama sekali tidak ada orang. Bahkan petugas tiket pun juga tidak ada.
"Apa mungkin hari ini Deseneyland tutup?" tanya Riku.
"Tidak mungkin. Aku sudah mengeceknya sebelum kita pergi, kok." kata Kimiko, sibuk mencari Hiruma.
"Kemana perginya You-nii?" tanya Kimiko dalam hati.
"Lalu kenapa..." Belum sempat Riku menyelesaikan perkatannya,tiba-tiba saja pintu masuk Deseneyland yang tertutup rapat terbuka perlahan. Musik theme song pun mengalun pelan. Penasaran, mereka semua pun memasuki Deseneyland. Ketika orang terakhir sudah melewati pintu masuk, pintu masuk yang awalnya terbuka lebar menutup di belakang mereka.
"I-ini kenapa malah seperti film setan, Senaa~" kata Suzuna yang mulai takut dan mendekatkan dirinya ke Sena tanpa sadar.
"E-entahlah, Suzuna." kata Sena yang juga mulai merasa takut.
Meskipun begitu, tidak ada satu pun di antara mereka yang berhenti melangkah. Lalu, terdengar suara yang tidak asing di pengeras suara.
"Kekekekeke! Selamat datang di Deseney neraka, orang-orang sialan!" sambut Hiruma.
"You-niichan?" gumam Kimiko bingung.
"Aku sudah mem-booking seluruh Deseneyland ini sebagai arena permainan kalian," lanjut Hiruma, "Hanya saja karena ini Deseney neraka... Tentu saja permainannya berbeda dengan taman hiburan lain."
Meskipun tidak melihat Hiruma, mereka semua sudah bisa membayangkan betapa lebarnya trademark seringaian Hiruma saat ini.
"Nama permainannya adalah... Deseney Battle Quest!" seru Hiruma.
End of Chapter 13
Author's Note :
Setelah berhasil bertahan melewati UAS, akhirnya sempat juga meng-update fanfic ini. Err... Anggap saja fanfic ini sebagai hadiah natal. And yes, I know it's been too long since my last update. Awal tahun ini tepatnya. My deepest apology *bowing down. Gimana gimana? *puppyeyes.
Basically, Deseneyland adalah plesetan dari Disneyland. Dan Disneyland Jepang itu jelas-jelas terletak di Tokyo, bukan di Nishinomiya. Tapi karena ini Deseney bukan Disney dan semua ini hanya terjadi di dalam fanfic... Daijobu desu ka? Terus, wahana rollercoaster yang dibicarkan oleh Kimiko adalah Batman : The Ride yang ada di Six Flags Great America, Illinois, USA. Dan tentang ketakutan Jumonji, di anime (menurut wikia) Jumonji dinyatakan menderita acrophobia, alias takut akan ketinggian. Nantinya, di chapter berikutnya, aku akan dengan sadisnya "mengeksplorasi" ketakutan Jumonji ini. Muahahaha~!
Untuk para reviewer yang sudah menunggu lama, kupersembahkan chapter baru ini untuk kalian. And well... Mohon review-nya, minna. Terutama saran dan masukkan untuk game quest Hiruma. Because... Honestly? I don't know what the hell this guy thinking about.
Regards,
Lady of Gray
