Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Authoresses Of Kuroko No Basuke Indonesia Fanfiction Proudly Presents
M . V . P
(Most Valuable Present Kuroko Ver.)
2 of 3
.
20 Drabbles. 20 Genres. 20 Authors.
.
Otanjoubi Omedetou, Kuroko Tetsuya ^^"
.
.
.
Author : Rheyna Rosevelt
Genre(s): Family / Angst
Pair(s) : Brotherly!Gom x Kuroko Tetsuya
"Krisan Putih"
.
Tokyo. 31 Januari 2014.
Sosok itu meringkuk di atas kursi kayu sebuah gubuk. Remaja kurus bersurai biru muda, duduk seraya memeluk lutut. Di depannya, di atas sebongkah baskom plastik kusam yang ia sebut meja, berjejer rapi tiga lembar foto—satu bergambar sepasang suami istri yang memeluk bayi bersurai biru muda dalam buntalan selimut hangat, satu memuat enam orang bocah berambut warna-warni sedang menjajal seragam sekolah mereka, dan yang terakhir adalah potret kedelapan individu bersama tersenyum ke arah kamera; sebuah foto keluarga besar yang bahagia.
Di luar rumah kelewat sederhana tersebut hujan deras mengamuk, diiringi dengan angin kencang yang menggoyangkan dahan-dahan kekar sebuah pohon sakura yang tumbuh liar persis di dekat pintu belakang, menggeram seolah mengancam akan menumbangkannya hingga menimpa gubuk yang dibangun seadanya.
"Tetsucchi takut hujan, ya? Sini-ssu, aku peluk!"
"Ryota-nii…"
[Pesawat penumpang milik maskapai penerbangan Lao Airlines dilaporkan jatuh di daerah sekitar teluk Hans.]
"Ha? Tetsu takut hujan? Ya sudah, nanti malam tidurku di kamarku saja, ya? Aduh, Seijuro! Ngapain sih?!"
"Daiki-nii…"
[Juru bicara Lao Airlines mengatakan semua penumpang dan awak pesawat, yang berjumlah 94, tewas.]
"Duduklah di sebelahku, nanodayo. B-bukan berarti aku mencemaskanmu atau apa, tapi lebih baik begini daripada bergulung ketakutan di kamar, kan? Jangan salah sangka!"
"Shintaro-nii…"
[Kecelakaan terjadi pada pukul tiga dini hari.]
"Nee, sini, Tetsu-chin. Ayo kita makan bersama supaya hujannya reda~"
"Atsushi-nii…"
[Lao Airlines, melalui website resminya, menyampaikan bela sungkawa atas terjadinya insiden tragis ini.]
"Kemarilah, Tetsuya."
"Seijuro-nii…"
[Pesawat ini dipesan khusus oleh Nijimura corporation untuk mengangkut seluruh keluarga besar karyawan perusahaan raksasa tersebut , dengan tujuan London, Inggris.]
"Tetsu sayang, ada apa?"
"Putra papa yang satu ini, takut petir, ya?"
"Otou-san… Okaa-san…"
[Belum dapat dipastikan bagaimana kelanjutan dari Nijimura corporation sendiri, karena sang presiden direktur membawa istri, Nijimura Satsuki, dan kelima putranya, Tetapi seorang putranya diperkirakan tidak ikut serta liburan pesawat berujung naas ini. dan masih berada di Jepang.]
"Tanjoubi omedetou, Tetsucchi! Semoga makin imut-ssu~"
"Tanjoubi omedetou, Tetsu! Tambah tinggi, ya!"
"Tanjoubi omedetou, Tetsuya. I-ini bukan kado! Ini hanya… seorang temanku memberiku boneka ini, tapi aku tak membutuhkannya, jadi kuberikan saja padamu. Jangan berpikiran yang aneh-aneh!"
"Tanjoubi omedetou, Tetsu-chin~ Maaf, kuenya kumakan sebagian. Kau tak marah, kan?"
"Otanjoubi omedetou, Tetsuya. Kami semua menyayangimu."
"Otanjoubi omedetou, putra kami tercinta."
[Namun sampai berita ini diturunkan, belum juga ada kepastian total penumpang yang selamat. Demikian NHK news, tiga puluh satu Januari 2012, melaporkan.]
Tangan mungil mematikan perekam suara mini yang memutar kembali sebuah berita menggemparkan dua tahun lalu.
"Otanjoubi omedetou, Tetsuya."
Ia membungkuk untuk meniup sebuah lilin seukuran ibu jari yang menyala di atas roti murah tanpa beralas piring. Di sebelahnya, tergeletak lemas seikat krisan putih.
"Setelah hujan reda… aku akan mengunjungi makam kalian semua."
Air mata itu mengalir kembali.
.
Melihat pantulan dirinya di depan cermin adalah agenda yang rutin dilakukannya setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Kuroko mendesah pelan menatap dirinya yang terpatri dalam cermin. Kulit pucat yang seperti biasa, surai azure seperti biasa, dan sayap biru di belakang punggungnya juga seperti biasa.
Tak banyak hal yang bisa Kuroko lakukan untuk menghilangkan sayap yang sudah bertenger disana, walaupun orang lain tidak dapat melihat sayap azure milik Kukoro, tapi Kuroko selalu merasa dirinya tidak normal.
.
.
Author : Aou-Umay
Genre(s): Fantasy.
Pair(s) : Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya / Kuroko Tetsuya X Akashi Seijuuro
"Siapa sebenarnya aku ini?"
.
Pening menjalari kepala Kuroko, saat benda tumpul melumpuhkan kesadarannya. Kaki dan tangannya terasa nyeri karena sesuatu menahan pergerakannya dan ketika manik aquamarine itu mencoba membuka, maniknya terbelalak saat pemandangan dihadapannya adalah sebuah gudang yang asing baginya.
'Situasi macam apa ini?' batinnya.
"Ah~ rupanya kau sudah sadar," suara berat itu menyapa pendengarannya mengirimkan sinyal kuat untuk Kuroko agar waspada pada situasi yang tak dapat diprediksinya.
"—makhluk aneh sepertimu tidak seharusnya hidup bersama kami." nada kasar dan mengancam itu diikuti dengan sentuhan logam dingin pada permukaan kulit pipinya.
Logam itu kembali menyelusuri lekuk pipi dan turun pada lehernya. "Semua orang pasti akan menyebutku pahlawan, jika aku bisa membelah tubuhmu dan membawa sayap sialmu itu."
Manik aquamarine-nya kembali terbelalak, tidak seharusnya manusia bisa melihat sayapnya, tapi kenapa pemuda bersurai merah gelap ini tahu tentang sayapnya.
Satu tarikan pada surai azure-nya memaksa Kuroko untuk menengadah, memaksanya menatap manik crimson sang pelaku penyekapan. "Nee~ ada kah permintaan terakhir, sebelum aku mencabut nyawamu?"
DEG
Jantung Kuroko mendadak berhenti berdetak, sebegitu benci kah pemuda dihadapannya ini padanya sehingga menginginkan kematiannya? Dan Kuroko mendesah pelan, lima belas tahun sudah cukup baginya hidup dengan menanggung sedih dan kesepian kerena hidup sebatang kara, dan Kuroko sudah lelah dengan hidupnya, sehingga dia memutuskan lebih baik untuk mengakhiri hidupnya.
'Apa yang kau pikirkan Tetsuya? Seharusnya kau bisa lolos dari situasi ini dengan mudah.'
Suara itu cukup keras berdengung dalam pikirannya, dan Kuroko yakin itu adalah suara sang kapten basket Teiko.
'Akashi kun? Kaukah itu?'
Sadar bahwa Akashi memang tidak sedang berada satu ruangan dengannya, Kuroko hanya menyuarakan tanyanya dalam hati.
'Ya... ini aku Tetsuya! Sekarang berhentilah terpuruk dan lawan dia.'
Suara itu makin keras berteriak dalam pikirannya.
'Tidak Akashi-kun... aku rasa ini lebih baik untukku, aku sudah lelah untuk hidup, lelah karena berbeda dan aku sudah lelah untuk sendirian.'
'Kau tidak sendirian Tetsuya, karena kami akan selalu bersamamu. Sekarang kuperintahkan agar kau melawannya.'
'Maaf Akashi-kun, aku tidak bisa melakukannya.'
Dan manik aquamarine itu pun menutup perlahan, menunggu saat-saat dimana pisau yang sedari tadi diacungkan padanya menghentikan gerak jantungnya, mematikan semua organ dalam tubuhnya. Hingga suara pukulan, pekikan, dan debuman keras memaksa manik aquamarine itu terbuka.
"Sudah aku katakan padamu Tetsuya, kami akan selalu bersamamu."
Sebuah tangan terulur pada Kuroko, tangan milik pemuda bersurai merah dengan manik heterocrome dengan sayap merah berkibar dibalik punggungnya.
"Akashi-kun~"
"Beraninya kau malah mengabaikan perintahku, Tetsuya."
Sayap merah Akashi berkibar samar saat melepaskan temali yang mengikat tangan dan kakinya. Di belakang Akashi berdiri empat pemuda dengan sayap yang senada dengan surai mereka, tengah tersenyum hangat pada Kuroko yang masih tertegun memandang pemandangan di hadapannya.
.
.
Author : Yuna Seijuurou
Genre(s): General
Pair(s) : Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya
"You're Always in My Mind"
.
Tepat pukul dua belas malam ketika ia telah selesai melakukan semua pekerjaannya. Sebagai siswa berprestasi dan kapten tim basket, baginya sudah biasa untuk mulai memejamkan mata tepat ketika hari mulai berganti. Mengatur jadwal latihan, mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolahnya hingga mempelajari materi ujian untuk keesokan harinya dalam waktu semalam bukan masalah baginya. Toh hanya tinggal mengedipkan mata, semua akan bisa diselesaikannya dengan mudah. Mungkin, kedengarannya memang berlebihan tapi itulah Akashi Seijuurou, kapten generation of miracles yang begitu disegani dan ditakuti.
Akhirnya ia bisa merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk dan memejamkan mata. Tapi, sebelum mulai memejamkan mata ada satu ritual khusus yang selalu dilakukannya hampir setiap malam.
Akashi mengedarkan pandangannya ke langit-langit kamarnya sementara memorinya memutar ulang kejadian hari ini, lagi-lagi hari ini ada saja ulah Kuroko Tetsuya yang nyaris ingin membuatnya tersenyum sepanjang malam.
Seperti saat latihan sore tadi, untuk kesekian kalinya ia harus menahan tawa. Alih-alih merasa kesal lantaran Kuroko selalu melakukan kesalahan yang berulang-ulang—jatuh terjerembab di tengah latihan, Akashi justru harus berjuang mati-matian menahan tawa. Pasalnya, kejadian itu selalu terjadi berulang kali dan sore tadi adalah yang kelima puluh kalinya Kuroko terjerembab di tengah latihan sejak bergabung dengan tim basket Teikou.
Oh, Akashi bahkan sampai menghitungnya satu demi satu. Tampaknya Kuroko hanya perlu jatuh sekali lagi untuk mendapat piring cantik.
Akashi juga tidak bisa menahan senyumnya lagi begitu ingat bagaimana usaha Kuroko untuk berkelit dari ancaman menu latihan tambahan darinya. Ada-ada saja alasan yang dibuat si phantom sixth man-nya itu.
"Ano, maaf Akashi-kun. Jangan beri aku latihan lagi. Aku mual."
Pfft...Kali ini Akashi tidak bisa menahan tawanya.
Yang benar saja, memangnya kau hamil? Setidaknya buatlah alasan lain yang lebih bermutu, Tetsuya. Ah, Akashi semakin tidak bisa menahan senyumnya ketika ingat bahwa Kuroko berkata seperti itu dengan menggembungkan wajahnya dan menutup mulutnya. Alih-alih memberi kesan mual, pemandangan itu malah tampak menggemaskan di mata Akashi.
Kuroko Tetsuya mungkin tidaklah seperti anggota generation of miracles lainnya. Terlalu banyak keterbatasan melingkupi dirinya. Jangan bandingkan Kuroko dengan Aomine sang ace, Midorima sang shooter, Murasakibara sang center ataupun Kise yang sudah menunjukkan kebolehannya sejak awal mula bergabung. Teknik dasar sekalipun bahkan tidak Kuroko kuasai. Satu-satunya yang membuatnya tampak istimewa di mata Akashi mungkin hanyalah keberadaannya yang tipis.
Tapi, siapa yang menyangka kalau ternyata segala macam kekurangan itulah yang membuat Akashi tertarik pada sang pemain bayangan. Alasannya sederhana, pemuda bersurai merah ini tak pernah berhenti tersenyum jika mengingat segala macam kekonyolan yang dibuat Kuroko.
Ah, sebaiknya ia segera memejamkan mata sebelum ia disangka orang gila karena nyaris tertawa-tawa sendirian.
"Hmm, tampaknya aku akan bermimpi indah malam ini..." bisiknya pelan sebelum benar-benar menutup matanya.
.
.
Author : dee-mocchan
Genre(s): Horror
Pair(s) : Non-pair
"Found It"
.
"Operan bagus Kuroko!" sahut Kagami. Kuroko hanya tersenyum simpul.
"Kise! Harusnya tadi kau oper ke aku!" Aomine mencak-mencak ke Kise.
"Mou~! Aominecchi hidoi-ssu! Aku kan tidak tahu kalau Kagamicchi bisa lolos penjagaanmu..."
Kuroko hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua sahabatnya bertengkar. Melihat jam di ponselnya Kuroko kaget, "Maaf semuanya, aku pulang duluan aku harus menjaga nenekku yang sakit di rumah." pamit Kuroko yang sudah mengambil tasnya dan bersiap pergi.
"Eh?! Kita kan baru main sebentar, Kurokocchi~!" Kise merajuk sementara Aomine mengiyakan dengan nada malas dan Kagami yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Maaf Kise-kun, tapi ini sudah sore. Sampai ketemu lain kali Kise-kun dan Aomine-kun. Sampai jumpa besok Kagami-kun." Kuroko membungkukkan badannya dengan sopan lalu berjalan cepat meninggalkan lapangan basket tempat mereka bermain.
Kuroko mengeratkan syal di lehernya dan melangkahkan kakinya lebih cepat menuju rumahnya. Salahnya sendiri memang melupakan pesan sang ibu yang bekerja untuk menjaga neneknya yang sedang sakit dan malah keasyikan bermain basket dengan duo Aomine dan Kise serta Kagami.
Kuroko merutuk dalam hati. Rumahnya masih jauh dan jalan yang biasa ia lewati memakan waktu sekitar dua puluh menit. Berniat mengambil jalan pintas akhirnya Kuroko berbelok kiri ke arah gang kecil yang gelap dan sempit—yang sebenarnya enggan Kuroko lewati, tapi karena lebih cepat melalui gorong-gorong tersebut, Kuroko memberanikan dirinya masuk ke dalam gang itu.
Baru sekitar lima langkah berjalan, Kuroko melihat seseorang dalam balutan jubah hitam lengkap dengan tudungnya di dalam gang tersebut sedang sibuk mengorek-orek tong sampah sekitarnya.
"Dimana? Dimana mereka berada?" sayup-sayup Kuroko dapat mendengar suara pelan yang terdengar serak milik seseorang yang seperti wanita tidak jauh darinya.
Pemuda bersurai biru muda itu menelan ludahnya. Antara takut dan juga penasaran, meski akhirnya Kuroko menghampiri sosok tersebut.
"Maaf , anda baik-baik saja, umm nona?" Kuroko bertanya pelan. Wanita itu berhenti sesaat lalu menoleh dengan kedua mata tertutup. Sekilas Kuroko dapat melihat helaian rambut berwarna pink milik wanita itu.
Kuroko menunggu wanita itu menjawab, "Umm.. Maaf kau—ti"
"Aku menemukannya..." lirih wanita itu masih tidak kunjung membuka matanya. Kuroko melangkah mundur begitu wanita itu mendekatinya, merasakan firasat buruk. Perutnya melintir seketika dan seluruh bulu-bulu romannya bergidik ngeri.
"Akhirnya aku menemukan kedua mataku!" Kuroko membelalakan matanya begitu sang wanita membuka kedua matanya yang bolong tanpa bola mata dan darah yang berkucuran dari dalam mata kosong tersebut. Wanita tersebut menyeringai dan menerjang Kuroko. Tangan-tangan kurusnya mencengkram wajah Kuroko sangat kuat. Wanita itu lalu menusukkan pisau tersembunyi ke dalam perut Kuroko untuk menghentikan gerakannya.
"ARGH!" Kuroko meringis mencoba melarikan diri.
"Akhirnya aku dapatkan kembali mataku yang kau ambil. Kau harus membayarnya..." satu gerakan cepat wanita itu mengacungkan pisau di depan Kuroko yang hanya bisa membatu.
"TI-TIDAK... JANGAN!" dan dalam hitungan detik kemudian hanya kegelapan yang menyelimuti dirinya.
Keesokkan harinya ditemukan mayat seorang siswa SMA dengan keadaan nahas penuh luka tusukan dan sepasang mata yang hilang.
.
.
Author : Authorjelek
Pair(s) : Aomine Daiki X Kuroko Tetsuya
Genre(s): Hurt/Comfort
"Selamat Hari Lahir"
.
"Tetsu, aku ingin membebaskanmu," dan jawaban "Jangan, Aomine-kun." sudah menjadi rutinitas bagi Kuroko yang seorang penjahat dengan kode "Phantom" dan Aomine, seorang kepala polisi. Jujur saja, ia tak menyangka setiap serpih instingnya menyatakan kebenaran saat ia selalu mengatakan 'aku kenal penjahatnya' setiap memprediksikan gerakan Kuroko dulu, dan suatu hari dia harus menjemput Kuroko yang tersenyum miris terhadapnya dengan tangan terikat borgol.
Sekarang tinggal menghitung jari untuk hari yang ditunggu.
Aomine tetap hanya bisa bersandar dari luar penjara besi itu, berusaha menerawang isinya ketika suara Kuroko sudah mulai serak, namun kukuh menolak Aomine menggunakan jabatan untuk membebaskannya. Tubuhnya sendiri juga sudah mulai lemas—lebih karena perasaannya, namun ia tetap hidup ketika mendengar suara pensil menggores kertas dari dalam penjara; Kuroko masih berusaha hidup.
(Jujur, keduanya sudah bosan dengan hidup yang menyesakkan seperti ini. Tapi, toh tinggal menunggu sedikit.)
"Aomine-kun, saat aku bebas nanti tolong baca ini." Tangan menjulurkan kertas dan suara terakhir sebelum hari yang ditunggu tiba.
.
Akhirnya, tiba hari di mana Kuroko dapat merasakan udara segar dan suara yang menghias hidup setelah sekian lama, serta matanya yang dapat melihat awan putih langsung, tubuhnya tak berkekang besi. Kebebasan. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum membentuk senyuman.
Agak jauh di belakangnya, Aomine duduk di bangku, meratap dengan pandangan yang agak lega, nafasnya tak sesak seperti saat ia harus menjaga penjara Kuroko. Ah, berdiri.
"Tetsu, selamat. Sebentar lagi perayaan hari lahirmu." Senyuman.
"Terima kasih ucapannya, Aomine-kun. Aku senang masih bisa merayakannya lagi... denganmu." Balas senyum.
Dan hari itu tercantum sebuah lingkaran merah yaitu tanggal 31 Januari, perayaan berupa hari eksekusi Kuroko "Phantom" Tetsuya, hari Kuroko terlahir kembali ke dunia baru: alam kematian.
.
.
Author :Zefanya Eric
Genre(s): Mistery
Pair(s) : Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
"Doll"
.
[Kuroko POV]
Akhir-akhir ini, ada kasus yang aneh.
Kasus ini memang belum tersebar luas, namun beberapa warga yang mengetahuinya mulai merasa resah. Kasus ini berkaitan dengan sebuah rumah keluarga Akashi yang kaya di Kyoto. Putra keluarga tersebut, Akashi Seijuuro, penerus perusahaan, adalah seorang yang aneh. Banyak saksi yang menyatakan bahwa Akashi Seijuuro sering membawa seseorang ke dalam rumahnya. Dan setelahnya, orang tersebut kabarnya tidak pernah terdengar lagi.
Atas utusan atasanku di kepolisian—Aomine Daiki-san—aku pun mulai menyelidiki mengenai lelaki itu.
Pertama—yang aku ketahui berdasarkan kesaksian warga yang tinggal di sekitar rumahnya—Akashi Seijuuro adalah seseorang yang agak aneh dan cenderung berkepribadian ganda. Dia selalu menjaga jarak dengan orang yang baru dikenalnya, tapi jika sudah mengenalnya dekat, maka dia tidak akan segan-segan menunjukkan pribadinya yang sebenarnya.
Itulah rencanaku. Aku akan berusaha mendekatinya, lalu membongkar semua rahasianya.
Aku melirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Sudah hampir setengah jam aku menunggu, teh yang kupesan sudah dingin. Setelah usaha yang tidak bisa dikatakan gampang, aku berhasil mengakses akun chat-nya di internet dan mengontaknya, dengan kedok bahwa aku tertarik pada dirinya. Dan cara itu berhasil; dia langsung mengajakmu bertemu setelah aku mengatakan hal itu.
"Kuroko Tetsuya?"
Aku tersentak ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh dan menemukan seorang lelaki bersurai merah dengan mata heterokrom merah-emas.
"Apakah kau Akashi Seijuuro?" tanyaku. Lelaki itu mengangguk, kemudian menatapku dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Aku merasakan firasat buruk.
"Matamu indah." Ujarnya sambil mengelus kelopak mataku. Aku bergidik. "Kau cantik. Apa kau mau datang ke rumahku sekarang?"
Aku tidak percaya. Begitu mudahkah dia percaya pada orang lain, hingga dia tidak segan-segan untuk langsung mengajak orang yang baru ditemuinya ke rumah? Tapi ini kesempatan bagus untuk mencari tahu dirinya. Maka, aku mengangguk mengiyakan. Berikutnya, dia menyeringai.
.
.
Suasana rumahnya aneh. Rasanya mencekam, banyak aura aneh di sana. Perasaanku makin tidak enak ketika dia mengajakku ke sebuah ruangan yang aku yakin merupakan kamarnya.
Pemandangan di dalam sana sontak membuatku terbelalak.
Seorang wanita duduk di kursi kayu di sudut ruangan. Di seluruh tubuhnya banyak jahitan dan bekas darah. Bila dilihat, wanita itu sangat cantik; kulitnya putih, dadanya besar, tubuhnya ramping, dan rambutnya panjang. Hanya saja, rongga matanya kosong, tidak ada bola matanya.
"A-apa itu?" tanyaku terbata-bata.
"Bonekaku." Jawabnya. "Dia dibuat dari bagian-bagian tubuh wanita yang menurutku indah. Dia adalah boneka yang paling indah."
"Tapi," dia melanjutkan perkataannya, sambil melangkah maju mendekati diriku. Aku melakukan hal yang sebaliknya. Aku benar-benar takut! Aku tidak bisa menghindar, ada dinding yang menghalangi di belakangku.
Dia kini berdiri di depanku, tangannya merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah pisau. "boneka itu belum memiliki mata."
Lelaki itu kemudian mengangkat pisaunya, mengarahkannya padaku yang terbelalak.
"TIDAAAK!"
.
.
Author : dat. lost .panda
Genre(s): Parody (slight humor & romance)
Pair(s) : Kise Ryouta X Kuroko Tetsuya
Parody of Byousoku 5 Centimeter & Iklan teh—tapi lupa merknya "orz (Saya juga lupa nih gimana dong? 8")
"Remaja Galau dan Sakura"
.
.
.
Lima sentimeter per detik, katanya. Kecepatan jatuh kelopak sakura. Lima sentimeter per detik.
.
.
.
Musim semi datang lagi tahun ini.
Cuaca terasa sejuk sementara jalanan penuh kelopak merah jambu. Kise berdiri menatap ke seseorang di ujung jalan. Tubuh kecil, mata biru bulat, dan sikap tubuh tenang—sesuatu di dirinya berdesir, seolah hanyut oleh kerinduan mendalam. Kurokocchi…
Kuroko Tetsuya selalu terlihat sama di mata Kise, tak peduli berapa banyak waktu sudah berlalu. Setahun yang lalu, mereka lulus dari Teiko. Kemudian, saat musim semi merekah, mereka menjalani hidup sendiri-sendiri. Kise di Kaijo. Kuroko di Seirin. Sekarang, tepat di musim semi berikutnya, mereka dipertemukan nasib.
Kuroko berjalan di antara kelopak sakura yang berguguran. Kecepatan jatuhnya lima sentimeter per detik, begitu kata dialog sebuah film yang pernah Kise tonton. Kuroko mendongak. Matanya bertemu dengan sosok Kise. Biru melebur dalam kuning. Waktu bergerak slow motion.
Kise mengepalkan tangan ketika Kuroko menghela napas dan mulai berjalan ke arahnya. Ah, mungkin ini saatnya—untuk mengatakan apa yang dari dulu belum sempat Kise katakan. Sekarang. Di bawah sakura yang jatuh.
"Kurokocchi!" Dia tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga. Kuroko mengangguk. Mengucapkan 'halo' tanpa suara. Sopan seperti biasa.
Cengiran semakin lebar. "Kebetulan sekali bertemu di sini! Ada sesuatu yang—"
Kuroko menaikkan tangan, menginterupsi. "Kise-kun," nadanya tenang, tapi wajahnya sangat serius. "Sebelum itu, ada hal penting yang harus kukatakan padamu."
Ha?
Si pirang mengerjap. Kenapa tiba-tiba sekali? Apa yang mau dibicarakan? Dia menatap Kuroko. Matanya biru, kontras dengan keadaan sekitar yang merah jambu. Tunggu. Kelopak sakura, pertemuan yang ditakdirkan, dan pembicaraan yang tiba-tiba. Lalu sebuah ilham datang. Pasti Kurokocchi mau nembak aku, deh!
Kise Ryouta. Enambelas tahun. Ngarep ditembak.
"Kise-kun."
"Ya, Kurokocchi?"
"Yang sebenarnya ingin kukatakan adalah…."
Bahwa Kurokocchi menyukaiku sejak dulu! Ayo, bilang begitu!
"… Adalah…."
"Ya? Ya? Ya?"
"Celana Kise-kun sepertinya lupa direstleting."
FUAK MEN—! Kise mendadak cacingan.
Rusak. Suasana sempurna penuh kembang-kembang ala film romansa ABG langsung rusak gara-gara restleting. Alamak. Pantesan om-om di jalan tadi cengengesan waktu dia lewat. Plastik kresek! Kise butuh plastik kresek buat nutupin muka!
Setelah mengatakan sederet kalimat sakti, Kuroko langsung melenggang pergi dengan tralalala dan melanjutkan hidup seperti tidak terjadi apa pun. Meninggalkan Kise yang mendadak galau di bawah kelopak sakura yang jatuh dengan kecepatan lima sentimeter per detik.
Tenang. Kise seterong kok. Mendapati kenyataan gagal ditembak dan lupa menutup restleting celana tidak lantas membuatnya jadi butiran debu.
Do'i tegar di NTR restleting.
Seorang anak SD tiba-tiba saja lewat, menarik seragam sekolah Kise, kemudian pergi setelah mengatakan beberapa patah kalimat tak berarti.
"Onii-chan, truk aja gandengan. Masa' Onii-chan enggak!"
—JLEB!
Awkward. Parah.
Kise galau. Pake kuadrat.
Setelah sepuluh menit menggalau di pinggir jalan, Kise mengirim sms ke rekan-rekan Kiseki no Sedai. Minta rekomendasi pohon toge yang oke untuk gantung diri.
.
.
A/N : Belummm! Belum selesai kok! XDD Masih ada lagi, hayooo, jangan kabur dulu/eh. Oke! Klik 'next' ya~~~ *nigou eyes*/nak
