Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Authoresses Of Kuroko No Basuke Indonesia Fanfiction Proudly Presents

M . V. P

(Most Valuable Present Kuroko Ver.)

3 of 3

.

20 Drabbles. 20 Genres. 20 Authors.

.

Otanjoubi Omedetou, Kuroko Tetsuya ^^"

.

.

.


Author : Bakso Puyuh Kuriitama

Genre(s) : Poetry

Pairing(s) : Izuki Shun x Kuroko Tetsuya

"Larik gagu ini kuciptakan…"

.

Dear Kuroko Tetsuya-kun

Yang hari ini sedang berulang tahun

Yang kukirimkan bukanlah sebuah kado istimewa

Bukan pula sebuah hadiah mewah

Melainkan ukiran kata yang bukan Dewa

Namun simpanlah sejenak penat serta amarah

Dan jangan lupa membacanya sambil mengulum tawa

Aku ini tak lebih dari sekedar senpai

Dari kalangan yang paling lebay

Namun salahkah hati ini

Bila ingin menghadiahkanmu sebuah puisi?

Untuk Kuroko Tetsuya, junior tim basket Seirin yang jago ngilang

Kadang ekspresinya stoic bukan kepalang

Sewaktu-waktu ia terbuli dengan malang

Begitu pun jua bila marah ia bisa terlihat garang

Kami tahu Kuroko Tetsuya sering suka usil

Bahkan Kagami pun pernah dibuat merinding menggigil

Para senpai membiarkannya namun bukan karena tak adil

Melainkan karena ia sudah bagaikan adik kecil

Bukan Kuroko Tetsuya namanya kalau tidak disayangi

Bukan tim Seirin namanya kalau tidak saling berbagi

Dan bukan aku pula bila tak menyelipkan selarik puisi

Harapanku cuma kau yang membaca dengan senyum terpatri

Kepada Kuroko Tetsuya yang kini umurnya bertambah satu

Semoga kau bahagia selalu

Gapailah terus cita-citamu

Bahagiakan orang tua dan sanak saudaramu

Jangan lupa juga traktiranmu di lain waktu

Kalau sekarang bokek, mari kita jadwalkan di tanggal satu

Apapun boleh, asal jangan kau traktir kami dengan bongkahan batu

Sip lah, pokoknya traktirannya kami tunggu!

Senpai paling ganteng mantheb kece badai seantero Seirin,

Izuki Shun sang mata (Bima Satria) Garuda.

Tanggal 31 Januari.

Di hadapan kotak lokernya, Kuroko Tetsuya berdiri keki. Secarik kertas dengan warna merah jambu dan hiasan gambar kucing yang sangat ambigu pun sudah menanti di hadapan wajahnya.

Ih, apaan nih.

Benda nista apaan ini.

"…"

"Kuroko, ngapain bengong? Tumben kamu pakai pasang ekspresi mangap gitu." Kagami pun nongol dan membuka lokernya yang memang ada di sebelah loker Kuroko.

"Bukan apa-apa." Cuma dapet surat ambigu yang isinya puisi garing kok.

"Oh, bener? Ngomong-ngomong—"

"Kagami-kun, sepertinya nanti aku tidak bisa ikut latihan basket."

Sang alis ganda mangap tanpa dosa, "Lah, kenapa—"

Misdirection terlancarkan, Kuroko lenyap seketika. Kagami hanya angkat bahu sembari makan sosis. Ia sudah terbiasa dengan kasus ability abuse yang dilakukan Kuroko.

Lagian mana ada orang yang perasaannya bakal baik-baik saja kalau di hari ulang tahunnya ia malah dapat surat ambigu yang isinya puisi gak-banget yang merangkap modus minta traktiran itu? Mana rasanya minta traktirnya rada maksa pula!

"Ugh… aku mulai mual."

Kalau saja kertas tadi isinya kumpulan banyolan garing Izuki, pastinya Kuroko bakalan muntah sungguhan di tempat kejadian.

.

.


Author : Lilyka

Genre(s) : Romance

Pairing(s) : Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya

"Just Like That"

.

Semuanya terjadi begitu saja. Jika ditanya bagaimana pun mereka sendiri tidak mengerti. Mungkin semua berawal dari pernyataan cinta tidak biasa yang berasal dari Akashi Seijuurou.

Lucu, memang. Semua itu terjadi karena sebuah kebetulan. Diawali dengan suasana diam yang canggung, kedua iris berwarna merah rubi itu mulai melirik ke arah pemuda berambut biru langit di sampingnya.

Dan secara kebetulan pula kedua manik biru itu tertangkap basah tengah balik memandanginya.

What a coincidence.

Dua pasang iris berwarna kontras itu saling bertemu sepersekian detik—hingga akhirnya Kuroko melempar pandangan manik sapphire-nya ke direksi lain. Malu rupanya. Akashi tersenyum, ia membuka ikatan pada scarf hitamnya dan melilitkannya pada pemilik helai biru muda yang kini menatapnya bingung.

Seakan-akan dapat membaca ekspresi pemuda di hadapannya, Akashi menjawab, "Kau bisa sakit."

"Tapi Akashi-kun juga kedinginan—"

"Karena itu aku berbagi kehangatan denganmu."

"… Ucapanmu ambigu, Akashi-kun."

"Semua kata memiliki arti yang ganda, Tetsuya," balas Akashi dengan senyum jahil di wajahnya.

Kemudian hening.

Kuroko tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk membalas ucapan sang kapten. Di tambah dengan jarak mereka yang berdekatan seperti ini, menambah suasana canggung bagi Kuroko, beruntunglah ia masih dapat menjaga pokerface-nya dengan baik.

"Begitu juga dengan kata 'suka'."

"Maaf?" ucap pemuda beriris biru itu secara reflek. Bukannya ia tidak mendengar apa yang Akashi ucapkan, karena kenyataannya ia dapat menangkap suara itu dengan jelas. Hanya saja … ia tidak pernah menduga kalimat itu yang akan dikatakan seorang Akashi Seijuurou.

"Kata 'suka' memiliki arti ganda, bisa berarti kau tertarik pada sesuatu … atau—kau mencintai seseorang."

Kuroko masih terdiam. Sungguh, definisi singkat yang Akashi utarakan sama sekali tidak membantu suasana yang kian canggung ini dan pertanyaan dalam kepalanya. Apa maksudnya?

"Na, Tetsuya."

"Hai?"

Sebuah senyum tipis yang lebih menyerupai seringai terbentuk di wajah pemuda pemilik iris rubi itu, "Jika aku bilang, 'Aku suka padamu, Tetsuya.' Menurutmu, arti mana yang kumaksud?"

Untuk kesekian kalinya, Kuroko kembali terdiam—ditambah dengan manik birunya yang terbelalak.

Apa maksudnya? Apa ini sejenis tebakan? Apa yang harus ia katakan?

Sebelum ia sempat mengatakan apapun, dirinya dipaksa untuk kembali terkejut—ketika bibir Akashi menyapu kedua belah bibirnya. Belum cukup sampai di situ, Akashi kembali mendekatkan wajahnya ke daun telinga pemilik surai biru langit itu.

"Jadi—apa jawabanmu, Tetsuya?"

Semuanya terjadi begitu saja, ketika otaknya secara tiba-tiba bekerja secara cepat begitu mendengar suara Akashi yang berbisik kepadanya, disusul dengan detak jantungnya yang mulai tidak terkendali.

Semuanya terjadi begitu saja, ketika rona kemerahan mulai menyebar di wajahnya—dan juga jawaban yang terlontar begitu saja dari mulutnya.

Semuanya terucap begitu saja.

"Aku juga."

.

.


Author : Sukikawai-chan

Genre(s) : Sci-fi

Pairing(s) : Midorima Shintarou x Kuroko Tetsuya

"Alone"

.

"Apa kau sudah gila, Kuroko?!"

Tak ada jawaban ataupun sahutan. Berapa kali pun ia berteriak bahkan nyaris membentak, yang ditanya hanya menanggapinya dengan kebisuan. Datar, dingin, juga tanpa ekspresi.

"Kuroko..." panggilnya putus asa, "Aku mohon,"

"Maafkan aku, Midorima-kun," ucapnya menyesal."Hanya ini yang bisa kulakukan."

Hancur. Harapan rapuhnya hancur. "Tidak," Midorima menggeleng frustasi. "Kau tidak boleh melakukannya, Kuroko—"

"Keluar,"

"Kau tahu semua itu tidak benar—"

"Keluar sekarang juga,"

"Mereka sudah tidak ada! Kau tidak akan pernah bisa—"

"Aku bilang sekarang juga!"

BLAM!

Pintu itu tertutup. Meninggalkan Midorima seorang diri di baliknya.

.

"Jangan menangis..."

.

Midorima Shintarou bukan orang bodoh. Ataupun seorang masokis yang penuh dengan rasa kebencian. Tidak, tidak... ia tidak seperti itu. Ia masih memiliki hati. Hati yang kapan saja bisa retak jika seseorang menghancurkannya.

Seperti halnya ia menghadapi setiap tingkah laku Kuroko Tetsuya.

Berulang kali Midorima berusaha bersikap wajar, ketika mendengar suara tawa menggema di ruangan berbau bahan kimia itu, hingga berakhir dengan suara tangis yang ketika Kuroko Tetsuya mengalami kegagalan dalam eksperimennya.

Walaupun begitu, Midorima masih menyimpan satu harapan kecil. Kuroko tidak gila, pemikiran itu terus mendesak benak Midorima. Meyakinkan dirinya kalau keadaan itu bukanlah delusi. Kuroko baik-baik saja, batinnya berkata. Aah, seandainya saja. Seandainya hari itu tidak pernah datang. Seandainya hari itu tidak melekat dalam memori Kuroko Tetsuya.

Dan seandainya kecelakaan itu tidak membuat mereka pergi...

PRANG!

"Gagal! Gagal! Gagal! Kenapa lagi-lagi gagal?!"

Seperti biasa, laboratorium itu berantakan, layaknya kapal pecah. Berbagai pecahan kaca berserakan dimana-mana. Cairan-cairan bewarna pekat menyatu dengan zat lainnya sehingga membentuk warna baru, juga bau yang memabukkan. Percikan listrik terlihat di beberapa tempat. Sedikit saja percikan itu mengenai tubuhnya, Midorima bisa memastikan kalau tubuhnya akan terbakar. Sedangkan di tengah-tengah ruangan, Midorima kembali melihatnya.

Empat tubuh manusia dengan rambut yang berbeda warna terbaring kaku di atas empat peti mati yang ada nafas ataupun denyut nadi.

"Seharusnya otot-otot dalam tubuh mereka bisa bereaksi jika dialiri listrik dengan tegangan tinggi. Aku sudah memberikan tegangan seribu volt! Seharusnya jantungnya bisa berdetak karena terjadi kontraksi! Seharusnya Akashi-kun, Kise-kun, Aomine-kun, dan Murasakibara-kun bernapas!"

Sakit. Midorima merasakan sakit tepat di bagian jantungnya. Pusat kehidupannya selama ini.

"Bukankah seperti itu, Midorima-kun?"

Berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja. Berharap kalau Kuroko akan kembali dalam pribadinya yang dulu. Tersenyum di saat semuanya berkumpul dan tertawa bersama.

"Seharusnya mereka hidup. Tidakkah mereka ingat kalau hari ini adalah hari yang penting? Aku terus menunggu mereka sampai tanggal 31 Januari sekarang, tepat hari ini. Tidakkah mereka sadar—"

Kalimat itu tidak pernah selesai, setidaknya untuk saat ini. Yang bisa Midorima lakukan hanyalah menarik tubuh kecil yang gemetar itu, mendekapnya erat sambil membenamkan kepalanya di bahu pemuda bersurai biru itu. Memejamkan kedua matanya dan menggigit bibirnya keras. Meredam isakan yang terancam akan keluar.

Tak ada kata. Tak ada ucapan. Tak ada kalimat pemanis.

"Aku tahu," bisik Midorima, isakan yang ditahannya terpaksa terdengar. "Aku tahu. Kau tidak sendirian, Kuroko. Ada aku di sini, bersamamu, tepat di hari ulang tahunmu."

Kau tidak sendirian, Kuroko.

.

.


Author : YuuRein

Genre(s) : Supernatural

Pairing(s) : Kise Ryouta x Kuroko Tetsuya

"I Always Remember You"

.

Seorang laki-laki terbaring lemah di atas futonnya, hanya sinar bulan purnama yang menerangi kamarnya di balik Shōji yang sedikit terbuka. Rumah terasa sepi, lantaran semua orang berkumpul di depan kuil untuk upacara penyucian desa. Penyucian untuk mengusir siluman rubah berekor sembilan, yang sering meneror desa mereka. Kedatangannya, mereka anggap itu sebagai pertanda bencana.

Wussss… gratak… gratak…

Terasa angin berhembus begitu kencang, hingga membuat Shōji itu bergetar sangat keras hingga membuatnya terbuka dengan sendirinya.

Terlihat bayangan besar sedang menuju pintu kamar laki-laki bertubuh mungil itu. Saat surai biru secerah langit musim panas itu mencoba bangun dari tempat tidurnya, ia melihat sebuah bayangan di bawah cahaya rembulan dengan ekor sembilannya. Kuroko, nama laki-laki itu mulai ketakutan. Tanpa diduga, siluman rubah berekor sembilan yang penduduk desa coba usir datang menemuinya.

*bowf*

Berubalah makhluk itu menjadi seorang laki-laki gagah dan tampan. Dengan surai emasnya dan mata beriris madu. Kuroko Tetsuya, nama laki-laki berkulit putih pucat itu mencoba bangun dari tempat tidurnya. Saat melihat sosok siluman rubah berekor sembilan, yang kata orang desa sangat menyeramkan, tapi baginya sekarang terlihat indah di mata aquamarine-nya.

"Selamat malam." Sapa siluman tersebut dengan senyum secerah matahari musim panas.

"Ano…"

"Kise, Kise Ryouta." Potongnya.

"Selamat malam Kise-kun."

"Maaf membangunkanmu."

"Tidak apa, aku belum tidur. Maaf, ada keperluan apa?"

"Kau tidak takut denganku?"

"Tidak."

"Aku senang mendengarnya, aku kesini untuk bertemu denganmu."

"Denganku?"

"Aku selalu memperhatikanmu, tapi aku tak punya kesempatan untuk menemuimu. Untuk yang terakhir, aku ingin memberimu ini." Sambil duduk di samping futon Kuroko.

"Untuk?" Tanya Kuroko bingung saat melihat bungkusan yang ada di pangkuannya.

"Bukalah."

Kuroko membuka bungkusan pemberian siluman rubah tersebut, terihat manisan kering berbentuk bunga sakura berwarna pink lembut. Tak mengerti, ia memandang Kise.

"Otanjoubi Omedetou, Kurokocchi…" dengan senyumnya yang lembut ia perlahan menghilang, seketika itu angin berhembus menerbangkan helaian baby blue-nya dengan sangat lembut.

"Arigatou, Kise-kun."

.

.


Author : Calico Neko

Genre(s) : Suspense/Romance

Pairing(s) : Kise Ryouta x Kuroko Tetsuya, Kuroko x Aomine + Kagami

"Lights Between"

.

Teriakannya menggema, mengisi keras ruangan yang hanya berisikan tempat tidur berukuran king sized dan lemari pakaian.

Jeritannya melengking, menandakan sebuah kesakitan yang teramat sangat, mengiris hingga ke ubun-ubun.

Pekikan dan tawa menghampiri.

Darah merembes dan membasahi kemeja putih, dengan sebuah pisau menancap tepat di bagian jantung, tertanam dalam dan menghentikan gerakan aktif si salah satu penanda hidup.

Gema kesakitan menghilang ditelan keheningan, digantikan bunyi debaman ketika sebuah tubuh besar merosot di depan 10 jari yang tak beralaskan apapun.

Sebuah seringai muncul, memperlihatkan 32 deretan putih.

.

"Tetsuyacchi~ Aku datang, ssu!"

Ah, kapan sih laki-laki satu itu tidak berteriak-teriak? Apa dia lupa kalau sekarang sudah pukul 8 malam dan para tetangga sedang beristirahat? Menghembuskan nafasnya karena tingkah kekanakan si tamu, Tetsuya yang baru membersihkan diri di kamar mandi untuk menyambut kedatangan sosok yang dinantinya tersebut segera beranjak keluar. Tidak mengenakan apapun selain mantel mandi berwarna putih, si surai biru muda membukakan pintu depan dan menemukan sebuah wajah cerah.

"Ryouta-kun, jangan berteriak-teriak. Bagaimana kalau dimarahi tetangga?" Si surai keemasan nyengir kuda.

"Aku sudah kangen pada Tetsuyacchi, jadi tanpa sadar aku tidak bisa mengontrol suaraku," paparnya sambil beranjak masuk, tak lupa mengecup singkat sudut bibir Tetsuya-nya.

Saat itulah Tetsuya baru menyadari kalau Ryouta datang membawa bungkusan, tepatnya sebuah trash bag besar berwarna hitam. Apapun yang dibawanya sekarang, dipastikan isinya sangat berat, terlihat dengan diseretnya benda tersebut.

"Ryouta-kun, apa itu?"

"Ini hadiah dariku, ssu. Hari ini ulang tahun Tetsuyacchi, kan? Jadi aku ingin membawakan sesuatu yang spesial untukmu."

Tetsuya sungguh penasaran. Selama 3 tahun bersama baru kali ini Ryouta memberikannya barang, biasanya berupa jalan-jalan berdua ke luar negeri dengan pesawat pribadinya. Tanpa tunggu apapun, Tetsuya membukanya dan menemukan...

"Ryouta-kun, ini..." suara Tetsuya menghilang, digantikan rintihan pelan yang menandakan tangis penuh keharuan. "Ini hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan. Terima kasih, Ryouta-kun."

Dipeluknya tubuh terpaksa mungil kekasihnya tersebut dari belakang, sambil mengelus dan mengecup puncak kepalanya. "Asalkan aku bisa melihat senyum ataupun tangis bahagia Tetsuyacchi, apapun akan aku berikan."

Tetsuya mengangguk, lalu membalikkan kepalanya dan mempertemukan kedua belah bibirnya dengan milik Ryouta, mentransfer rasa cinta dan terima kasih yang diyakini sangat tak berujung. Kecupan yang berlangsung beberapa detik tersebut berakhir, ditandai benang saliva di antara bibir basah keduanya.

"Ryouta-kun, aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu. Kau ke ruang makan duluan saja, aku akan ganti pakaian dulu."

"Oke, ssu! Tapi untuk desert-nya aku mau Tetsuyacchi, ya!"

Tetsuya pun tersenyum sambil menyeret hadiah pemberian Ryouta ke kamarnya. Berat sekali, sampai-sampai dia merasa kagum pada Ryouta karena bisa membawanya sampai ke rumahnya. Dibukanya kembali trash bag tersebut dan dikeluarkan satu persatu isi di dalamnya.

Pertama adalah kaki, kemudian tangan, paha, perut, lalu dada, pinggul, dan yang terakhir adalah kepala bersurai biru tua. Semuanya diletakkan dengan sangat hati-hati dan rapi di atas tempat tidur yang semenjak awal sudah kotor oleh merah darah, tepat di sebelah sesosok kaku, dimana sebuah pisau dibiarkan tertancap di jantungnya.

"Selamat beristirahat, cahaya-cahaya ku. Terima kasih karena telah menjadi hadiah terbaik untuk ulang tahunku."

Kembali, 32 kuda putih terlihat berdiri gagah di atas bukit merah.

.

.


Author: annpui

Genre(s) : Tragedy

Pairing(s): Aomine Daiki X Kuroko Tetsuya

"Bayangmu"

.

Kuroko Tetsuya sebenarnya hanyalah seorang pemuda biasa, dengan kehidupan biasa, juga memiliki kisah cinta yang biasa, namun bagi beberapa orang yang mengenalnya, kisah cintanya merupakan kisah cinta yang manis.

—Ya memang manis, manis-manis-kecut.

Ia memiliki seorang kekasih, Aomine Daiki namanya. Orangnya tinggi besar, pandai bermain basket, urakan, dan sedikit brengsek sebenarnya.

Awalnya Kuroko menampik keras-keras, "Aomine-kun tidak brengsek. Baik, mungkin memang brengsek tapi ia pasti tidak akan mengkhianatiku."

Awalnya begitu, hingga—

Suatu hari, di saat angin musim gugur sedang kencang-kencangnya, tidak sengaja ia memergoki kekasihnya sedang jalan berduaan bersama seseorang dengan yang surai merah muda serupa warna bunga sakura yang tengah mekar di musim semi. Di tengah semaraknya kota Tokyo, ia melihat mereka berdua tengah bergandengan tangan, berbisik romantis, bahkan hingga memberikan kecupan-kecupan kecil.

Kuroko tidak marah, ia memaafkan Aomine; ia terlalu mencintai Aomine.

"Kau bodoh Kurokocchi," Suatu hari Kise menatapnya nyalang. "Masih ada aku yang mencintaimu, tinggalkan saja pria brengsek macam Aomine."

—Ah, dia memang bodoh. Cintalah yang membuatnya bodoh.

Love is blind, right?

Hari ini adalah hari ulang tahunnya, hari yang spesial, hari dimana umurnya bertambah satu tingkat lebih depan menuju kematian.

Tahun lalu ia akan menghabiskan satu hari spesial ini bersama Aomine seharian.

Dimulai ketika Kuroko bangun di pagi hari, Aomine akan memulainya dengan bisikan cinta ucapan selamat ulang tahun untuknya. Kelopak matanya tertutup merasakan nafas yang hangat terasa berembus di telinga kanannya, dan Kuroko membenci sensasi itu karena kini Aomine tidak sedang melakukannya.

Maka dari itu Kuroko mengambil sebuah gunting merah—hadiah ulang tahun dari Akashi—merobek daun telinganya agar ia tidak melulu terngiang sensasi rindu akan renyahnya suara Aomine.

Sakit—tidak, hatinya lebih sakit.

Erangan tertahan terdengar di kamar berbentuk kubus bercat putih. Air mata entah sejak kapan terasa mengaburkan pandangan. Aomine kejam, sangat kejam karena membuatnya jatuh cinta dengan sedemikian rupanya hingga seperti ini.

Kini atensinya beralih pada kedua kakinya, kaki yang selalu diajak berlari mengejar bola oranye bersama sang kekasih.

—Lagi ia merasa benci dengan kenangan yang tertinggal disana.

Maka dari itu Kuroko berjalan menuju dapur dengan tertatih menahan perih, menyiapkan baskom, mengisinya dengan air dingin dan es batu, merendam kakinya hingga mati rasa.

—Dengan begini ia tidak akan merasakan kenangan mengejar bola bersama Aomine lagi.

Padahal hari ini ia sudah menyiapkan makanan yang banyak, agar Aomine bisa memakannya dengan lahap. Ia selalu merasa senang ketika mata biru laut itu manatapnya ramah, bibirnya melengkungan senyuman, mengatakan betapa mantap masakan buatannya.

Kring!

Sebuah e-mail masuk mengangetkannya, Kuroko membuka mata, menekan tombol open untuk melihat pesan yang masuk. Beberapa detik kemudian matanya membulat tidak percaya.

'Tetsu kita sudah selesai.'

Sudah hilangkah rasa itu pada hati Aomine? Tidak adakah setitik harapan untuk kembali?

Kuroko tidak ingin melihat Aomine bersama orang lain. Ia tidak peduli bila dikatakan egois, karena cinta Aomine untuknya tidak ingin ia bagi pada siapapun.

Maka dari itu Kuroko meletakan kedua tangannya yang gemetaran di depan mata, meronggohnya hingga ia tidak bisa melihat apapun.

—dengan begini ia tidak akan melihat Aomine bersama orang lain.

Biar bayangan Aomine saja yang berjaya di ingatannya.

.

.


Author : Shaun the Rabbit

Genre : Western/Romance

Pairing : Kise Ryouta x Kuroko Tetsuya

"Red Seat"

.

[Kise Ryouta's PoV]

Di teater tempat aku bekerja, aku selalu melihat sebuah kursi deretan depan yang selalu kosong. Tapi, setelah kuperhatikan baik-baik, terdapat seorang pemuda dengan warna surai biru muda dengan mata bulat berwarna biru langit.

Apakah ia seorang pendatang? Warna rambutnya sangatlah tak lazim bagi orang Inggris kebanyakan. Meski warna manik matanya tidaklah asing bagi orang disini.

Waktu terus berjalan.

Tanpa sadar, aku selalu memperhatikan orang itu. Ia selalu menduduki tempat yang sama dan menonton pertunjukkan teater dengan wajah datar.

Membuatku berpikir, apakah aku kurang mendalami peranku? Ataukah jalan cerita pertunjukkan ini terlalu membosankan baginya? Apakah dia seorang yang berasal dari media massa?

Banyak hal yang membuatku bertanya-tanya tentang orang itu. Aku sangat tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Hari ini.

Sebelum pertunjukkan teater dimulai, aku segera menjalankan rencanaku. Kutuliskan, "Can I know more about you? Who are you?" pada secarik kertas dan kuletakkan pada kursi merah tempat ia biasa duduk.

Berharap ia akan menyadarinya dan membalasnya saat pertunjukkan selesai nanti.

Hari ini, teater mementaskan karya William Shakespeare yang terkenal yaitu Romeo dan Juliet. Dengan aku yang berperan sebagai Romeo.

"Juliet, aku tidak bermaksud untuk membunuh pamanmu! Aku berusaha mempertahankan hidupku." Kutatap lawan mainku, berharap ekspresiku meyakinkannya.

"Aku mengerti, Romeo... Tapi, keluargaku sama sekali tidak mau mendengarkan! Hubungan keluarga kita semakin hancur saja..."

Segera kubayangkan peristiwa menyedihkan dalam hidupku, memasang ekspresi sedih dan tak berdaya. Kupalingkan wajahku ke arah penonton.

Aku menatap kursi merah yang diduduki oleh pemuda bersurai biru muda itu. Ia mengenakan mantel coklat yang agak tebal hari ini. Terbuat dari kulit apakah itu? Imitasi? Ataukah kulit hewan asli?

Saat aku masih sibuk memperhatikannya, kedua manik aquamarine itu bertemu dengan mataku. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya.

Dia tersenyum kepadaku?!

Terlarut dalam pikiranku, aku mendengar suara bisikan dari lawan mainku, "Ryouta! It's your turn...!"

Aku tersentak, "I'm so sorry, Juliet..."

Pertunjukkan Romeo dan Juliet pun berakhir sukses. Tepuk tangan memenuhi ruang teater. Sama seperti pertunjukkan sebelumnya. Meski, tadi aku melakukan kesalahan.

Setelah semua penonton pulang ke rumah masing-masing, aku yang sudah berganti pakaian segera mendatangi kursi itu.

"I'm Tetsuya Kuroko. Nice to meet you. Your play as good as usual. Thank you for your hard work."

Aku menatap kertas itu tidak percaya. Dia seorang pendatang. Tunggu, dari namanya ia... Orang Jepang?! Sama sepertiku?! Yang lebih penting lagi, dia tahu kalau aku yang menulis pesan ini?!

Aku tidak dapat menahan senyum di bibirku. Kuroko Tetsuya adalah seorang yang menarik sekali... Kusimpan kertas itu didalam saku mantelku. Aku benar-benar menanti hari esok.

.

"Aku Kise Ryouta! Kau orang Jepang juga ya?! Tak kusangka akan bertemu dengan orang dari tanah airku sendiri! Ng, jika kau ada waktu sehabis menonton teater, bisakah kita sekedar minum kopi bersama?"

"Tentu saja, Kise-kun."

.

.


A/N : Nyahaahaha! Ini dia! Antologi untuk hadiah ultah Kuroko tertjinta! XD Kekeke, drabble-drabble nya kayak nano-nano/emang makanan. XD Cuma ada yang kurang, genre humor tidak ada :'D *gelindingan*

Oke, terima kasih banyak pada semua author yang telah berpatisipasi dalam event "From Everyone To Kuroko" ini *wink*. Begitu pula untuk admin pendamping. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam pembuatan kolaborasi ini. Gomen telat sehari, hehehe.

Semoga terhibur dengan drabble-drabble nya yaaa! \(^o^)/

Nanti ultah siapa lagi yang mau dinistain?/salah. Maksudnya yang mau dijadiin colab lagi, hehehe...

Salam hangat,

Tim Koordinator dan Admin Pendamping