In Darkness Let Me Dwell
Disclaimer: Nope. Harry Potter masih kepunyaan Bunda Rowling:)
A/N: Senangnya bisa kembali ke FFN! :D Maaf karena vakum begitu lama, Readers! Semoga bisa rutin nulis lagi… (Moga-moga masih ada yang mau baca fanfic ini)
.
.
.
Malfoy Manor, Kini…
Ratusan mil dari hutan tempat Hermione dan teman-temannya membereskan tenda, Draco Malfoy terbangun di tempat tidurnya yang hangat di Malfoy Manor. Keringat dingin membasahi dahinya, seluruh tubuhnya gemetaran tak terkendali, dan nafasnya cepat seperti sedang berlari marathon.
Draco mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menenangkan diri.
'Mimpi tadi, seolah begitu nyata… Mungkinkah ini-?'
Prefek Slytherin itu bergegas menuju kamar mandi pribadinya yang mewah, membasuh wajahnya dengan air dingin, dan duduk di tepi bak mandi besarnya yang terbuat dari pualam.
Kamarnya begitu temaram, hanya sinar beberapa lilin yang memecah kegelapan.
Kesadaran mulai menghinggapinya ketika dia yakin apa yang baru dialaminya bukan sekedar bunga tidur.
Hermione Granger… hutan yang gelap… Pelahap Maut… Penguasa Bayangan…
Otaknya berpacu cepat mengingat kejadian tadi dan betapa mengerikan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Kekuatan yang sebenarnya. Jati diri dibalik sosok Draco Malfoy yang 'biasa'.
Penguasa Bayangan.
Kutukan atau anugerah?
Sesungguhnya ia masih saja kesulitan menjawab pertanyaan tersebut. Di satu sisi ia merasa beruntung karena memiliki kekuatan luar biasa. Namun di sisi lain, kemampuannya ini begitu mengerikan karena bisa menghilangkan nyawa.
Dulu Draco sempat mengira kemampuan ini menghilang seiring bertambah usia. Perlahan ia melupakan apa yang sedari dulu berada dalam dirinya, meyakinkan diri bahwa ia manusia normal seperti yang lain.
Tapi ternyata ia salah total.
.
.
.
Malfoy Manor, 10 Tahun Lalu…
Seluruh tubuhnya serasa terbakar, diliputi selimut api yang begitu tebal hingga ia kesulitan bernafas. Udara di sekitarnya menyesakkan, memerangkap Draco Malfoy kecil yang berbaring gelisah di tempat tidurnya.
Demam anak lelaki berusia tujuh tahun itu begitu tinggi, membuat Narcissa Malfoy yang duduk di sisi tempat tidur menangis tertahan. Wanita cantik itu mengompres dahi putra kesayangannya dengan tangan gemetar, tidak tega melihat Draco kecil kesakitan.
"M-mum?" bisik Draco, tangan kurusnya memegang pergelangan tangan Narcissa .
"Ya, Draco?" Narcissa mencoba tersenyum, sekalipun saat ini dia luar biasa khawatir pada keadaan Draco yang tak kunjung membaik.
"Ap-apa aku akan meninggal?" Draco berkata lemah, Senyum memudar dari wajah istri Lucius Malfoy itu. Narcissa terhenyak dan langsung memeluk Draco erat.
"Tidak, Sayang. Kau akan sembuh sebentar lagi," Diusap dan diciumnya dahi Draco yang panas. "Dad akan mencarikan Penyembuh terbaik, dia-"
"APA MAKSUDMU, PENYEMBUH TOLOL? RAMUANMU TIDAK BISA MENYEMBUHKAN PUTRAKU?!"
Narcissa menelan ludah saat mendengar teriakan Lucius Malfoy di koridor. Ia mencoba lebih bersabar dibanding suaminya yang saat ini sedang memaki Penyembuh keempat yang mereka panggil ke Malfoy Manor.
"Dad marah lagi, Mum."
"Dia hanya khawatir, Draco."
"Aku mengerti. Aku-" Tapi Draco tidak melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba seluruh anggota tubuhnya mengejang tak terkendali, kedua bola matanya menatap ke atas langit-langit, tak terfokus lagi pada ibu yang tengah memeluknya.
"Draco!" teriak Narcissa panik, berusaha memegangi Draco yang kejang-kejang. Tubuh kecil anak itu tak sanggup lagi bertahan melawan demamnya yang terus meninggi.
"LUCIUS!" Air mata Narcissa tak bisa lagi dibendung saat ia berteriak memanggil suaminya.
.
.
.
Pemukiman Muggle, 10 Tahun Lalu…
Draco Malfoy pikir saat ini ia tengah bermimpi. Dia sedang tidak berada di kamarnya yang mewah dengan kedua orangtua yang cemas akan penyakitnya, tapi di jalanan sepi dekat sebuah taman bermain yang lengkap dengan jungkat-jungkit dan kotak pasir.
Jika ia sedang dalam kehidupan nyata, bagaimana ia bisa berpindah secepat itu?
Ya, ini hanya sebuah mimpi akibat demam yang ia derita.
"Perumahan Muggle." Anak lelaki itu menyimpulkan, memandang rumah-rumah di sekelilingnya. "Kenapa aku bisa memimpikan tempat seperti ini?"
Meski bingung, Draco merasa alam mimpi ini lebih baik karena tubuhnya tak lagi sakit. Saat ini ia hanya memakai piama dan tak beralas kaki, tapi angin sore yang berhembus sama sekali tak mengusiknya.
"Ah, andai di dunia nyata aku sesehat ini." Draco berjalan riang ke arah taman bermain yang sepi. Hanya ada seorang anak perempuan kecil berambut coklat tebal yang duduk di salah satu ayunan, tampak asyik membaca buku di pangkuannya.
"Muggle," Dengus Draco. Sejak kecil keluarga Malfoy telah diajarkan untuk membenci kalangan itu. Draco tidak terlalu mengerti penyebabnya, tapi sebagai anak yang baik, ia tetap harus patuh pada tradisi keluarga dan perintah ayahnya untuk tidak berteman dengan para Muggle.
"Ah, ini kan cuma mimpi. Mungkin tidak apa-apa jika aku bermain di sebelah Muggle." Draco mengedikkan bahu dan meraih ayunan di sebelah anak perempuan itu.
Anggota termuda dari keluarga Malfoy itu tersenyum saat tubuhnya seolah terbang ketika menaiki ayunan.
"Hei." Suara anak perempuan berambut lebat membuat Draco menghentikan ayunannya.
"Apa?" kata Draco malas-malasan.
"Kenapa kau tidak pakai sepatu dan hanya memakai piama? Suhunya dingin sekali sore ini. Menurut prakiraan cuaca-"
Draco mengibaskan tangannya tak sabar. "Ya, bla…bla…bla. Aku tidak membutuhkannya."
"Benarkah?"
"Yup." Draco mengamati gadis kecil yang berbalut sweater tebal berwarna biru dan syal pink di depannya itu. Di pangkuannya tampak buku tebal berjudul "Iklim Britania Raya".
"Huh. Buku apa itu?"
"Buku pelengkap untuk tugas Sainsku."
Senyum kecil menghiasi bibir Draco. Sungguh aneh sekali ada anak berusia sekitar sekitar tujuh tahun seperti dirinya, yang menghabiskan waktu di taman bermain hanya untuk membaca buku Sains.
"Kenapa tersenyum?"
"Kau aneh sekali."
Gadis kecil itu memutar bola matanya. "Terserah. Setidaknya aku tidak melakukan hal yang lebih aneh seperti hanya memakai piama dan berjalan tanpa alas kaki di bulan November yang dingin."
"Maksudmu?"
"Kau bisa kena Pneumonia atau Hipotermia jika berjalan keluar hanya dengan piama tipis seperti itu."
"Aku tidak kedinginan." Draco membela diri. Sok tahu benar anak ini!
"Oh, sudahlah." Gadis itu melepaskan syal merah muda yang melingkar di lehernya, dan memakaikannya pada Draco yang terkejut.
"Apa-apaan ini?" protes Draco bingung.
"Syalku, untukmu," katanya singkat, "dan jangan protes." tambahnya lagi saat Draco membuka mulut.
Draco sedikit terkejut dengan betapa unik anak perempuan di depannya ini. "Uh-Thanks."
"Sama-sama. Aku pergi dulu, sudah hampir waktunya makan malam." Anak itu berjalan meninggalkan taman bermain, tampak agak terburu-buru
Draco masih memandang punggungnya yang semakin menjauh, masih takjub dengan mimpinya yang super aneh.
"Daaaaah, Anak Berpiama!" Gadis kecil itu melambai terakhir kalinya. Seulas senyum mengembang lagi di bibir Draco. Dia baru akan ikut melambai ketika dilihatnya seekor anjing Pitbull berjalan pelan di belakang Si Gadis.
Anjing itu tidak normal, meski dari kejauhan Draco bisa melihat air liur dan busa mengalir dari mulutnya yang terbuka. Kedua mata binatang itu tidak terfokus dan langkahnya gontai sebagaimana manusia jika sedang mabuk.
Anjing itu sakit, dan bisa menyerang siapapun di depannya.
"Grrrrrrrrr….!" Geraman Pitbull yang terkena rabies di belakangnya membuat anak perempuan berambut coklat itu berbalik kaget. Hanya berjarak beberapa meter, anjing itu tampak siap melompat untuk menerkam mangsa di depannya. Dia tidak akan berhenti sampai mangsa itu tergeletak mati. Gigi-gigi tajam anjing itu tampak menyeramkan. Entah apa yang dikoyak anjing itu sebelumnya, karena ada noda-noda merah seperti darah menempel di gigi-gigi itu, di antara busa yang tak henti keluar dari mulutnya.
"Awas!" teriak Draco memperingatkan, kalah cepat dengan si anjing gila yang kini memperpendek jarak dengan pemilik syal merah jambu di leher Draco. Draco menutup mata, ngeri dengan pemandangan yang akan dia lihat. Dia tahu jaraknya terlalu jauh untuk menolong anak itu.
Ketika Draco membuka matanya lagi, dia sudah berada persis di depan anjing Pitbull yang menggelepar seolah kesakitan. Seperti ada yang menyakitinya, anjing itu mengeluarkan suara menyedihkan. Beberapa menit berlalu, lalu hewan itu berhenti bergerak.
Tangan kanan Draco tanpa sadar terangkat, dan dia berbalik untuk menemukan anak perempuan tadi menatapnya dengan ekspresi kebingungan.
"Bagaima-" Gadis itu tak sempat bertanya. Karena terlalu shock, ia tiba-tiba jatuh pingsan. Draco melepaskan syal di lehernya dan memakaikannya pada si gadis.
Ia rasakan udara menipis di sekitarnya dan pandangannya semakin gelap. Apa ia akan pingsan juga?
"Sekarang jadi kekuatanmu, terimalah…" bisik seseorang di telinganya. Terdengar seperti suaranya sendiri, tapi lebih dalam, dan lebih jahat…
"Aku tidak mengerti…" Asap hitam bergulung-gulung menyelimutinya, seperti tornado yang hanya menutupi tubuh kecilnya.
Asap tiba-tiba menyusut, dan saat ia bisa melihat jelas kembali, Draco sudah berada di tempat lain.
.
.
.
Malfoy Manor, Kini…
Draco yang berusia tujuh belas tahun bergidik ngeri, teringat kembali pengalaman pertamanya mengggunakan kekuatan rahasianya. Dia merasa begitu takut, bingung, tak tahu hal apa yang sebenarnya terjadi. Tapi seseorang dari masa lalu membantunya memahami.
.
.
.
Negeri Bayangan, 10 Tahun Lalu…
Asap tiba-tiba menyusut, dan saat ia bisa melihat jelas kembali, Draco sudah berada di tempat lain.
Draco kecil berada di hutan yang luar biasa gelap. Ia lihat sekelilingnya, dan hanya menemukan batang-batang pohon yang mati karena terbakar. Nafasnya seolah terhenti saat dia melihat dimana ia berpijak.
Ia berdiri di atas air.
Ya, di atas danau hitam dan luas lebih tepatnya. Airnya begitu hitam, bahkan ia tak dapat melihat isi di dalam danau itu.
'Selamat datang di Negeri Bayangan.'
Draco berputar cepat ke sumber suara, berhadapan langsung dengan seorang kakek yang berjubah biru tua. Matanya menyiratkan kelelahan, tapi seyum di bibirnya terlihat tulus saat ia menyambut Draco kecil.
Anak lelaki itu takjub dengan sosok di depannya, tidak pernah menyangka akan bertemu langsung dengan anggota keluarga yang hanya ia kenal lewat foto.
'Kakek?' Bibir Draco bergetar, apakah ia sudah meninggal juga seperti lelaki renta di hadapannya?
'Ya, Draco?' Abraxas Malfoy tersenyum lebih lebar, paham dengan keterkejutan cucunya dan senang karena Draco bisa mengenalinya meski mereka tak sempat saling bertatap muka.
'Apa aku sudah meninggal?' Kata Draco takut-takut.
Abraxas sudah menduga akan datangnya pertanyaan itu. Bagaimanapun, ia sudah meninggal jauh sebelum Draco lahir.
'Tidak, Draco. Kau belum meninggal,' kata Abraxas sabar. 'Jiwamu saat ini sedang berada di Negeri Bayangan.'
'Negeri Bayangan? Tapi, bagaimana mungkin? Terakhir kuingat, aku tidur di kamarku, Sir, bukan di jalanan tadi ataupun di tempat ini.' Suara Draco terdengar gemetar, ia hampir menangis. Hal ini terlalu rumit untuk anak laki-laki itu.
'Suatu saat nanti kau akan paham, Nak. Kau punya kekuatan Penguasa Bayangan. Kekuatanmu bukan untuk ditakuti, tapi diterima sebagai anugerah. Akan sangat berguna ketika kau harus melindungi orang-orang yang kau cintai saat mereka dalam bahaya.'
'Apakah Anda juga-'
'Ya, Draco. Aku juga memilikinya. Sayang Lucius tidak seberuntung kita, padahal dulu aku berharap padanya,' Lelaki tua itu menarik nafas panjang, 'Terlalu banyak pilihan salah yang dibuat Lucius. Kuharap suatu saat nanti ia sadar.'
'Apa yang tadi aku lakukan pada anjing itu, Sir? Aku mem-membunuh?'
Abraxas hanya tersenyum kecil, 'Tidak, Draco… Kau hanya membuat anjing itu pingsan. Kau baru saja menyelamatkan seorang gadis kecil dari terkaman anjing liar.'
'Um, Sir?' kata Draco ragu-ragu, kakeknya tersenyum, 'Panggil aku kakek, Malfoy kecil.'
'Oh, ya… Kakek, Anda tadi bilang bahwa kekuatan kita untuk melindungi orang-orang yang kita cintai. Tapi, aku sama sekali tidak mengenal gadis kecil tadi… Bahkan, tampaknya dia Muggle, tidak mungkin aku dan Muggle-'
'Ah, tidak ada yang tidak mungkin, Draco.' potong Abraxas menyeringai. 'Memang mengejutkan, tapi takdir tetap tidak bisa dilawan, eh?'
'Maksud Anda?'
'Terlalu dini untuk menjelaskan hal itu.' Abraxas mengacak rambut pirang Draco dengan sayang. 'Kau istimewa, Draco. Bersyukurlah.'
'Tapi-' cicit Draco masih gemetar, masih takut dengan takdirnya.
'Kau istimewa, Draco. Bersyukurlah. Jangan takut, kau seorang Malfoy.' Abraxas memegang pundaknya, mencoba menenangkan anak tujuh tahun yang kebingungan itu.
Draco mengangguk patuh.
'Sekarang bangunlah Penguasa Bayangan muda, kembali ke dunia nyata yang membosankan.'
.
.
.
Hutan, Beberapa Jam Lalu…
Draco menerima takdirnya, seperti yang dianjurkan Abraxas.
Juga perasaan sesungguhnya pada Hermione Granger.
Seperti yang ia katakan pada Hermione sebelumnya, selama ini Draco berusaha keras meyakinkan diri bahwa ia membenci Hermione, tidak pernah menyukai gadis itu sedikitpun.
Tapi kebenaran menjadi jelas malam ini.
Kegelapan membantunya menyelamatkan Hermione, untuk yang kedua kalinya. Dalam kegelapan ia bisa membaca jiwa-jiwa yang berada di dalamnya seolah membaca buku. Ia tahu perasaan dan ketakutan terdalam para pengejar Hermione malam ini. Hal yang menimbulkan teror dan kengerian bagi mereka, ia gunakan sebagai senjata ampuh untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Efek ketakutan karena bayangan yang ia kendalikan, seratus kali lipat dibandingkan jika orang-orang itu melihat Dementor.
Mereka mati karena ketakutan mereka sendiri, terjebak dalam ilusi yang sangat nyata dalam pikiran mereka. Hingga jantung mereka tak sanggup bertahan, meski tak ada satupun luka fisik yang terlihat.
Begitu mengerikan, begitu kejam. Tapi Draco harus melakukannya, karena ia melihat niat Greyback pada Hermione ternyata lebih kejam dari apa yang Draco bayangkan.
Greyback bukan cuma ingin membunuh Hermione dengan cepat, Draco melihat jelas isi hati manusia serigala itu. Greyback ingin menguliti dan menyiksa Hermione perlahan, merasakan daging lembut gadis itu sambil mendengar teriakan kesakitan korbannya. Bedebah licik, bagaimana mungkin Draco bisa menahan diri untuk tidak membunuhnya?!
Draco membuatnya merasakan halusinasi yang jauh lebih buruk ketimbang efek Dementor. Ketakutan terbesar Fenrir Greyback adalah diserang oleh manusia serigala yang pertama kali menggigitnya… Maka Draco buat manusia serigala itu mencabik–cabik tubuh Fenrir dalam ketidaksadarannya. Draco belum bisa tersenyum puas hanya dengan melihat Greyback menggelepar ketakutan dan kesakitan… Ia ingin Greyback merasakan sakit yang sebenarnya, dan menyaksikan sendiri bagaimana jantungnya hancur dalam genggaman Draco Malfoy.
Dalam arti yang sebenarnya.
Draco masih berada dalam naungan batang pohon, tidak perlu terlalu dekat untuk dapat membunuh para Pelahap Maut dan Greyback. Ia menutup mata, berkonsentrasi penuh pada jantung Greyback. Draco mengangkat tangan kanannya, jantung sebesar kepalan tangan berdenyut sangat cepat. Warnanya hitam, dan merupakan bayangan dari jantung Greyback asli. Draco tidak ingin mengotori tangannya dengan darah manusia serigala itu, maka ia menciptakan replikanya.
Draco tersenyum culas, mata hitamnya menatap penuh kebencian. Pemuda itu membiarkan halusiasi Greyback berhenti, tapi ketakutan manusia serigala itu berkali lipat saat merasakan sesak di dada kirinya. Ia tahu Draco sedang menggenggam jantungnya…
"Mati kau, Greyback!" Draco mengoyak jantung Fenrir Greyback dengan sebelah tangannya. Jantung hitam itu hancur bersamaan dengan terhentinya nafas Greyback. Begitupun Pelahap Maut yang lain…
Bayangan hitam menghilang seperti asap, memperlihatkan tubuh tak berdaya dan wajah yang penuh kengerian.
Menatap kosong pada pepohonan. Mereka jelas telah mati meski tidak ada satupun luka yang terlihat.
Berkebalikan dengan mata korbannya yang tak berdaya, mata Draco justru serupa iblis, begitupun senyum puas di bibirnya ketika ia melangkah perlahan untuk memastikan korban-korbannya telah tewas.
Ia menendang tubuh Greyback, tidak mendapat respon sedikitpun dari korbannya itu. Draco meludah di wajah penuh bulu Greyback. "Kau makhluk tidak berguna, harusnya aku menyiksamu lebih lama!" Pewaris Malfoy Manor itu meletakkan kaki kirinya tepat di leher Greyback, memberi tekanan dan..
"Crack!"Bunyi seperti ranting patah terdengar nyaring kontras dengan situasi hutan yang teramat sunyi.
"Ups, kurasa aku baru saja mematahkan lehermu, Greyback."kata Draco pelan, seolah ia menyesal.
.
.
.
Malfoy Manor, Kini...
Kenangan akan peristiwa yang baru saja terjadi semakin menguatkan fakta bahwa ternyata kekuatan itu masih ada, hanya tertidur untuk kemudian timbul kembali saat Hermione membutuhkan pertolongannya. Gadis itu mungkin tidak mengingat bahwa Draco pernah menolongnya saat mereka masih kecil, 10 tahun lalu. Hermione juga mungkin berpikir bahwa kejadian malam ini hanyalah mimpi, tapi Draco tetap merasa senang selama gadis itu baik-baik saja.
Draco tidak keberatan selama ia masih dapat melindungi Hermione Granger, meski harus bersembunyi dalam bayangan...
Ya, Draco akan memeluk kekuatannya ini. Kekuatan yang membuatnya dapat menjaga Hermione, memastikan gadis itu aman. Betapa lega hatinya saat ia berdiri di dekat gadis Gryffindor itu, menghirup wangi rambutnya...
Draco membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, berusaha menghilangkan sisa-sisa kepenatan yang masih membayangi pikirannya. Mulai sekarang ia harus selalu berpikiran positif, sisi lainnya sebagai Penguasa Bayangan akan sangat berguna dalam peperangan nanti.
Draco menegakkan diri, menatap ke cermin besar di depannya.
Bayangan yang terpantul di depannya membuat Draco tercekat..
"Apa kau yakin aku dengan sukarela akan selalu membantumu?" Seringai dingin seseorang di cermin menyambutnya. Sosok itu sama persis dengan dirinya, tapi dua buah manik mata yang harusnya kelabu berganti jadi hitam pekat. Sepasang sayap hitam mengembang dari punggungnya.
"Kita lihat siapa yang akan menang, Draco Malfoy."
Teriakan Draco Malfoy dan suara cermin yang pecah terdengar jelas ke seantero Malfoy Manor.
.
.
.
The End
(... or not?)
.
.
.
A/N: Tadinya cerita ini mau aku buat oneshot, tapi apa daya jadinya multichapter :)
Aku berencana buat sekuel, tapi masih ada hutang fanfic yang sebelumnya... Well:)
Seperti biasa: Review Review Review :D
