Chapter 3
"THIS FAITHFUL LOVE"
Author : Choi Chanhyun
Cast :
Park Chanyeol as Park Chanyeol / Dobi
Byun Baekhyun as Byun baekhyun / Bacon
Wu Yi Fan as Kris
Kim Yejin as Kim Yejin
Sungmin as Sungmin (Chanyeol's mother)
And Another Cast
Pairing : Chanbaek / Baekyeol
Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.
Copyright : Cerita ini murni "muntahan" dari otak saya sendiri…
Warning : Yaoi, Boys Love
Previous chapter :
"Yeollie, apa kau tidak lelah?" Tanya Baekhyun tiba-tiba.
"Ani. Kau lelah?" Chanyeol balik bertanya.
"Tidak juga. Asal kau memberiku es krim strawberry terus, aku tak akan lelah." ucap Baekhyun dengan tawa nakalnya.
"Ish… kau ini…"
"BAEKHYUN-SSI!" panggil seorang namja tiba-tiba dari belakang mereka.
Baekhyun segera membalikkan tubuhnya. Kemudian ia tersenyum ketika ia melihat namja itu. Menyadari siapa yang memanggilnya, ia pun segera menyapa namja di depannya.
"Ah Kris-ssi, kebetulan sekali." sapanya.
Chapter 3
Dan kalian tahu apa yang dilakukan Chanyeol disana? Ia hanya mendengus. Ia pun tak mengerti mengapa ia begitu kesal ketika melihat Baekhyun begitu akrab dengan namja tiang listrik itu.
"Ah kau bersama Chanyeol-ssi rupanya? Annyeonghaseyo Chanyeol-ssi…" sapa Kris pada namja yang masih mendengus kesal karenanya itu.
Chanyeol hanya tersenyum sinis tanpa menjawab sapaan Kris. Sedangkan Kris sendiri bingung dengan tingkah Chanyeol yang 'aneh' itu. Baekhyun yang menyadari tabiat Chanyeol segera mengalihkan perhatian keduanya agar tidak canggung.
"Kau sendirian, Kris-ssi?" Tanya Baekhyun kemudian.
"Ne… Kebetulan aku ingin ke Myeongdong." Jawab Kris singkat
"Jinja? Bagaimana jika kau ikut bersama kami saja?" ajak Baekhyun.
Chanyeol terkejut dengan keputusan sepihak Baekhyun yang menurutnya semena-mena. Ia segera menarik sweeter Baekhyun. Namun tak ada respon. Kemudian ia menyenggol lengan namja mungil itu yang akhirnya hanya dijawab dengan kata "wae?" olehnya.
Chanyeol berharap agar ekspresinya mampu ditangkap oleh Baekhyun bahwa dirinya tak ingin Kris ikut bersama mereka. Tapi terlambat, kini Kris sudah mengiyakan ajakan namja disampingnya.
"Kajja!" ajak Baekhyun pada kedua namja itu sambil berjalan mantap. Ia tak menyadari bahwa salah satu dari dua namja itu ingin sekali memakannya saat itu juga karena kesal.
Jadilah malam itu mereka berjalan-jalan bertiga. Jika bisa dikatakan, ini adalah kencan segitiga. Tapi tidak. Ini tak seperti cinta segitiga. Karena tak ada hubungan yang special diantara ketiganya.
Akhirnya setelah dua jam lebih, mereka memutuskan untuk menghentikan aksi kencan segitiga mereka. Tubuh mereka lelah. Malam juga semakin larut. Chanyeol mengantarkan Baekhyun pulang ke apartemennya. Sedangkan Kris kembali ke kediamannya seorang diri.
.
.
Beberapa hari setelahnya, Baekhyun menjadi bertembah dekat dengan Kris. Itu hal yang wajar bagi Baekhyun. Tapi tidak bagi Chanyeol. Baginya itu hal yang menyebalkan. Bagaimana tidak, Kris seperti mengambil sahabatnya begitu saja. Sekarang pun Baekhyun lebih senang menghabiskan waktunya bersama Kris di atap gedung kuliah. Bukan apa-apa, Baekhyun hanya ingin menenangkan dirinya disana. Menguatkan dirinya untuk tetap bisa menjadi Byun Baekhyun di depan seorang Park Chanyeol, orang yang ia cintai. Dan apa pula salahnya jika Kris mau menjadi seseorang yang menamaninya dan menjadi orang yang bisa menenangkannya?
"Kau ke atap lagi?" tanya Chanyeol kesal setelah mendapati Baekhyun yang baru saja masuk ke kelas mereka.
Baekhyun hanya mengangguk dengan wajah polosnya untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Sedangkan Chanyeol hanya bisa menghela napasnya.
"Apa sih yang kalian lakukan? Berjemur?" tukas Chanyeol kesal.
Kembali Baekhyun tak menjawabnya. Ia hanya mengangkat bahunya sebentar.
'Ish… ada apa sih dengan orang ini?' batin Chanyeol. Namun ia tak putus asa. Ia kembali mengajak Baekhyun bicara.
"Baekkie-ah, sepulang kuliah, ikut aku! Ada berita bagus!" ajak Chanyeol.
Baekhyun menoleh semangat. Matanya kini tampak berbinar-binar memandang mata orbs namja di depannya. Ah, sepertinya Chanyeol berhasil mengubah mood namja itu seketika.
"Jinja? Berita apa?" tanya Baekhyun semangat.
"Kau akan tahu nanti." ucap Chanyeol membuat Baekhyun penasaran.
Baekhyun kembali mempoutkan bibirnya. Untung saja Chanyeol tak melihatnya. Kalau saja ia melihatnya, pasti jantungnya akan meronta-ronta lagi. Sementara Baekhyun ingin sekali mendengar berita yang Chanyeol bilang 'bagus' itu sekarang juga. Dan ia pun mulai merengek.
"Ayolah yeollie… ceritakan sekarang saja." pintanya sambil meraih lengan panjang Chanyeol.
Chanyeol hanya mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Chanyeol pun tersenyum licik karena berhasil membuat namja itu semakin penasaran.
"Aish…Dobi-yaa… Ayo ceritakan!"
DEG!
'Dobi? Panggilan itu…' batin Chanyeol kini mulai bergejolak. Ia teringat seseorang. Seseorang yang selalu memanggilnya dengan panggilan itu dulu. Hanya orang itu yang akan memanggilnya seperti itu. Hanya dia. Dia yang ia rindukan selama ini.
"Kau memanggilku apa?" tanya Chanyeol memastikan. Dadanya kini bergemuruh menuggu jawaban Baekhyun.
"A-apa?"
Baekhyun tahu betul ia baru saja membuat kesalahan kecil. Ia memanggil Chanyeol dengan nama kecilnya. Ia sadar, seharusnya ia tidak melakukannya. Ia menyesal karena kini dirinya bak diinterogasi oleh Chanyeol dan menatapnya tajam.
"Tadi… Kau memanggilku apa?" Chanyeol mengulangi pertanyaannya.
Sebisa mungkin Baekhyun mengontrol detak jantungnya. Ia harus tetap terlihat biasa saja. Ia tak boleh gugup walaupun sebenarnya hatinya ingin berteriak.
"Oh itu… Yeolli-ya. Wae?"
Chanyeol mengernyitkan dahinya. Ia ragu dengan jawaban Baekhyun. Ia yakin sekali, ia tadi mendengar namja itu memanggilnya "dobi". Atau ia saja yang salah dengar?
"Waeyo Yeollie?" tanya Baekhyun lagi.
"Ah, ani. Lupakan saja!"
'Ah, ilusi bodoh! Tak mungkin dia ada disini. Bukankah ia sudah pergi 15 tahun lalu? Aku tak yakin Bacon akan kembali. Aku tak yakin dia masih mengingatku.' batin Chanyeol.
.
.
Keduanya memilih halaman belakang gedung kuliah sebagai tempat dimana Chanyeol akan menceritakan 'berita bagus'nya sepulang kuliah.
"Lihat ini!" kata Chanyeol sambil menunjukkan sebuah foto yang ada di handphonenya.
Baekhyun memandang foto itu lekat-lekat. Foto seorang yeoja berambut hitam dan mata besarnya yang indah. 'hmmm… cantik juga.'
"Nugunde? Teman kencanmu selanjutnya?" tanya Baekhyun ketus.
Chanyeol menghela napasnya. Ia tak habis pikir mengapa namja ini selalu berpikiran yang sama ketika ia mengenalkan seorang yeoja padanya.
"Ish… dia ini mahasiswa ilmu sastra. Namanya Yejin. Kim Yejin. Ia terkenal sekali. Banyak namja yang menyukainya!" Chanyeol mulai membanggakan yeoja yang ada di foto itu.
"Dan kau juga menyukainya." sahut Baekhyun mulai kesal.
"Emm… bagaimana aku mengatakannya? Dia tipe semua namja. Akan terasa aneh jika namja normal sepertiku tidak menyukainya!" ucap Chanyeol sambil tertawa.
Oh, baiklah. Mungkin itu hal yang lucu bagi Chanyeol. Tapi bagi Baekhyun, itu hal yang memuakkan. Bagaimana tidak, Chanyeol baru saja mengaku bahwa ia menyukai seorang yeoja di depan dirinya. Dirinya yang mencintai Park Chanyeol.
"Lalu apa berita bagusnya?" tanya Baekhyun sedikit emosi.
Chanyeol tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu. "Eomma memintaku untuk mengencaninya. "
Baekhyun menoleh menatap wajah Chanyeol. Kentara sekali ia terkejut sekali akan hal itu. Biasanya Chanyeol sendiri yang menentukan siapa orang yang akan dikencaninya. Tapi kini ibunya ikut andil. Ada apa ini?
Chanyeol melanjutkan ceritanya tanpa peduli pada Baekhyun yang kini tampak semakin muak.
"Eomma memintaku untuk mengenalinya lebih dekat. Orangtuaku memang mengenal baik keluarga Kim. Mereka ingin aku bisa menikah dengannya setelah aku selesai kuliah nanti."
DEG!
Sesak. Itu yang Baekhyun rasakan di dadanya saat ini. Ia tak mampu untuk mengeluarkan kata sedikitpun. Hatinya terlalu sakit untuk melakukan sesuatu. Pikirannya pun mulai tidak fokus.
"Kuharap aku akan senang menjalaninya. Lagi pula sepertinya Yejin gadis yang dewasa."
'CUKUP PARK CHANYEOL!' teriak Baekhyun dalam hati. Ia benar-benar tak bisa menahan sakit hatinya saat ini. Tanpa terasa, air matanya lolos dari pelupuk matanya begitu saja. Begitu banyak hingga Baekhyun sulit untuk menyembunyikannya. Padahal ia harus tetap terlihat biasa saja di depan Chanyeol. Dia harus terlihat bahwa hal ini tak membawa pengaruh apapun baginya. Ah, tapi mungkin tidak untuk saat ini. Ia tak bisa menahannya lagi. Akhirnya ia berdiri dan berjalan agak cepat meninggalkan Chanyeol. Namun baru tiga langkah, Chanyeol memanggilnya.
"Baekkie-ah, kau mau ke mana? Gwaenchanha?" tanyanya.
Baekhyun kembali menata hatinya sebelum menjawab.
"Hmmm… gwaenchanha. Seseorang mengimiku pesan. Aku harus segera menemuinya." Jawab Baekhyun asal tanpa membalikkan tubuhnya. Ia tak berani menatap Chanyeol. Ia takut tangisannya akan semakin keras. Bahkan ia tak menjawab ketika Chanyeol bertanya, "Siapa?". Karena ia terlalu sibuk merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya.
Setelah itu ia segera berlari meninggalkan namja yang membuatnya tersiksa itu. Ia tak peduli apa yang akan orang-orang pikirkan karena melihatnya berlari sambil menangis. Ia hanya ingin menjauh dari Chanyeol saat ini. Ia terus saja berlari hingga akhirnya…
Brukk!
Ia menabrak seseorang. Seseorang yang ia yakini bergender namja dan jauh lebih tinggi darinya itu adalah namja yang ia kenali sebagai Kris. Kris yang menyadari namja mungil di depannya itu adalah Baekhyun segera menengadahkan wajah namja itu dengan kedua tangannya. Kris pun kini tampak khawatir karena Baekhyun yang menangis dan terisak tanpa henti.
"Baekhyun-ssi, gwaenchanayo?" Kris mencoba bertanya pada namja yang terus terisak itu.
"Hiks… hiks…"
Baekhyun tak menjawabnya. Hanya isakan yang keluar dari mulutnya. Ditambah lagi lelehan air mata yang tak hentinya keluar dari mata foxynya.
"Aish jinja… Ikut aku…" ajak Kris.
Kris menggandeng namja itu untuk segera pergi dari kampus mereka sekarang juga. Keduanya terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri hingga tak menyadari seseorang yang tengah memandang mereka yang semakin menjauh.
"Oh, jadi orang itu adalah Kris, Baekkie-ah?" lirih Chanyeol dan menahan muak di hatinya.
.
.
"Sudah lebih baik?" tanya Kris pada Baekhyun ketika keduanya telah berada di salah satu cafe.
"Hmmm" jawab Baekhyun singkat sambil menyesap pelan caramel macchiatonya.
Baekhyun harus berterimakasih pada Kris karena namja ini berhasil membuatnya lebih tenang. Selalu seperti itu. Selalu ada Kris yang siap untuk menjadi tempatnya bergantung. Kris memang tak pernah tahu apa sebab Baekhyun menangis. Baekhyun tak pernah memberitahunya barang sedikit pun mengenai dirinya dan Chanyeol. Selalu saja Kris sendiri yang akan bercerita ketika mereka menghabiskan waktu mereka di atap gedung kuliah. Namun untuk Kris, ia akan mencoba segala hal agar namja manis di depannya itu tak menangis. Walaupun hanya dengan menemaninya seperti ini. Karena hanya dengan cara inilah ia bisa lebih dekat dengan Baekhyun yang tak pernah menceritakan masalahnya.
Baekhyun bisa kembali tenang setelah beberapa menit. Namun ketenangan itu hilang seketika saat seseorang menelfon Baekhyun ketika ia sedang mengobrol dengan Kris. Pada ID call di handphonenya tertera nama "Yeolli-Dobi". Mau tak mau Baekhyun harus mengangkat telefon itu meskipun ia sangat enggan. Namun ia tak mau terlihat sedih atas apa yang dikatakan Chanyeol tadi.
"Yeoboseo?" sapanya.
"Hei namja cerewet! Kau dimana?" tanya Chanyeol tanpa basa-basi.
"Memangnya ada apa?" Baekhyun kini balik bertanya. Ia berusaha setenang mungkin untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Jawab saja!" sahut Chanyeol kesal.
"Aku di cafe di dekat kampus."
"Tunggu disana! Aku akan menjemputmu!"
Tutt… tutt.. tutt..
Chanyeol menutup pembicaraannya dengan cara memutuskan telefon itu semena-mena. Bagaimana tidak, ia dengan seenaknya dia menelfon, marah-marah, lalu menutup telefon itu begitu saja. Tak lama, hanya sekitar lima menit setelah pembicaraan di telefon itu berakhir, Chanyeol segera muncul di café yang dimaksud baekhyun tadi. Ia segera mengambil tas milik Baekhyun dan mengajaknya pergi.
"Kajja!" ajaknya sambil menarik tangan kiri Baekhyun.
"Kemana?" tanya Baekhyun yang masih tak mengerti apapun.
"Ke rumahku. Ke kediaman Park."
"Mwo?" Baekhyun terkejut dengan ajakan Chanyeol yang mendadak itu.
Chanyeol tak menjawab keterkejutannya. Ia membiarkan baekhyun yang masih terkejut sekaligus bingung dengan sikapnya. Ia kini malah menoleh pada Kris sekedar untuk meminta maaf pada orang itu.
"Jwiseonghaeyo Kris-ssi, sepertinya aku harus menunda obrolan kalian dulu." ucap Chanyeol pada Kris yang masih memandang bingung keduanya.
Setelah itu mereka langsung keluar dari cafe. Tanpa mempedulikan Kris yang kini hanya memandang keduanya bingung. Baekhyun pun tak dapat berkutik. Ia hanya diam dan membiarkan Chanyeol melajukan mobilnya. Apa yang akan terjadi padanya jika ia menolak? Bisa jadi Chanyeol akan mengulitinya hidup-hidup.
Tak sampai 10 menit, mobil itu sudah mencapai kediaman Park. Tak terlalu megah hanya luas dan indah. Itu pendapat Baekhyun ketika melihat rumah Chanyeol yang berbeda dari lima belas tahun yang lalu. Ini bukanlah rumahnya yang dulu. Pasti mereka telah meninggalkan rumah mereka yang sebelumnya.
"Kajja!" ajak Chanyeol sambil membawa namja di sebelahnya masuk ke kediaman yang-menurut Baekhyun-nyaman itu.
Hati Baekhyun sebenarnya masih bergejolak sejak pengakuan menyakitkan Chanyeol beberapa jam yang lalu. Namun dia kini tak punya pilihan lain selain mengikuti semua kemauan Chanyeol. Entah apa yang ada di otaknya. Jelas-jelas hatinya telah tersakiti. Tapi ia masih saja ingin berada disisi namja itu. Dan kini ia bahkan harus ikut ke rumahnya. Sungguh perasaan yang rumit.
Author POV end
Baekhyun POV
Chanyeol masih setia menggandeng tangan kananku. Dan seperti biasa, jantungku berdetak kencang saat ini. Melupakan sakit hati yang sebenarnya masih sangat terasa. Dada ini masih sesak. Bahkan aku belum bisa banyak bicara. Ah, tapi sudahlah. Lupakan hal itu sejenak. Saat ini aku harus menjadi Byun Baekhyun yang baik. Byun Baekhyun yang akan selalu mendukung Park Chanyeol, sahabatnya. Lagi pula saat ini Chanyeol tengah sibuk memanggil ibunya yang entah ada dimana. Aku tahu, aku harus bersikap biasa saja. Dan jangan menampakan kesedihan sedikitpun.
"Eomma! Eodiseoyo?!" teriak Chanyeol untuk kesekian kalinya. Namun sepertinya itu teriakan terkhirnya karena kulihat seorang yeoja paruh baya kini tengah mendekati kami berdua.
Oh tidak, air mataku sepertinya ingin meluncur lagi. Bukan. Bukan karena aku merasakan sakit hati itu lagi. Ini lain. Ini air mata rindu. Ya, aku merindukan ahjumma ini. Sungmin ahjumma.
"Ne, jangan berteriak, adeul!" ucap Sungmin ahjumma pada Chanyeol.
Sedangkan aku? Aku masih memandangnya tak percaya. Oh Tuhan, aku bersumpah, aku ingin memeluknya seperti dulu. Aku ingin berada di pangkuannya seperti lima belas tahun yang lalu saat aku merasa ia juga ibuku. Aku tak dapat melakukan apapun ketika matanya bertemu dengan mataku. Tubuhku menegang. Kemudian air mata itu akhirnya lolos juga. Begitu lama dan aku masih memandanginya dengan tangisanku.
"Eh? Nak, kau menangis? Chanyeol-ah, apa yang kau lakukan padanya?" tanyanya kini pada anak laki-lakinya.
"Mwoya? Aku diam saja!" protes Chanyeol.
Aku segera saja menghapus air mataku. Aku tak ingin baik Chanyeol ataupun Sungmin ahjumma berpikiran yang tidak-tidak tentangku. Aku segera tersenyum pada Sungmin ahjumma dan membungkukkan badan.
"Annyeonghaseyo, nan Baekhyun imnida." sapaku kemudian.
Aku tahu, Sungmin ahjumma tak akan mengenaliku. Wajahku pun pasti juga berbeda dengan 15 tahun lalu. Dari dulu keluarga Chanyeol hanya mengenalku dengan nama Bacon bukan Byun Baekhyun. Sedangkan sekarang, aku adalah Byun Baekhyun yang sedang mencoba untuk menyembunyikan sosok Bacon dalam diriku.
Lalu Sungmin ahjumma menepuk pundakku pelan dan tersenyum tulus padaku. Kemudian…
Grepp!
Oh? Ahjumma memelukku! Ada apa ini?
"Gwaenchanha… Tak apa jika kau mau menangis. Menangis saja, Baekhyun-ssi…" ucapnya di pundakku.
Hangat. Sama seperti dulu. Dan tak terelakkan lagi, aku kembali menangis. Aku tak peduli Sungmin ahjumma tak mengenali diriku yang sekarang. Yang penting saat ini aku bahagia bisa merasakan pelukannya lagi. Aku merindukannya. Sungguh, pelukan, kasih sayang, dan semua yang ada pada dirinya. Dan aku yakin kini Chanyeol tengah memandang kami berdua. Sekali lagi, aku tak peduli. Aku tak peduli apapun yang ada di pikirannya.
.
.
Hari itu aku memutuskan untuk membantu Sungmin ahjumma mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Masih terlalu dini sebenarnya untuk sekedar menyiapkan makan malam. Bahkan Kyuhyun ahjussi belum kembali dari pekerjaannya. Sedangkan Chanyeol? Ah, sepertinya ia sedang asik bermain game di kamarnya. Biarkan saja namja idiot satu itu tak mengganggu waktuku dengan Sungmin ahjumma.
"Aku senang kau disini, Baekhyun-ssi." ucap Sungmin ahjumma ketika kami berdua berada di dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Aku hanya tersenyum untuk menjawab pernyataan yang membuatku senang itu.
"Maafkan Yeollie jika dia sering merepotkanmu ne." lanjutnya.
"Ani ahjumma. Bagiku, Chanyeol adalah sahabat yang baik." jawabku asal.
Kini Sungmin ahjumma mulai mencibir anak laki-lakinya itu. Sungguh, wajahnya lucu sekali.
"Ish… aku tak menyangka anak itu bisa berteman dengan anak baik sepertimu Baekhyun-ssi. Padahal dia sulit sekali untuk menghargai orang." kata Sungmin ahjumma.
Aku hanya bisa tertawa saat pernyataan konyol itu terlontar. Hemm, memang benar.
"Ah, hari ini aku ingin menyiapkan kopi untukku dan suamiku. Bagaimana pendapatmu Baekhyun-ssi?" Sungmin ahjumma kembali bertanya.
Menurut pengalamanku, kopi yang terlalu pekat tak baik untuk orang tua. Begitu juga dengan Kyuhyun ahjussi dan Sungmin ahjumma. Lagi pula dari dulu mereka tak akan bisa minum kopi yang terlalu pekat.
"Emm… Itu bagus, ahjumma. Hanya saja jangan buat yang terlalu pekat. Ahjumma tahu kan, itu tak baik untuk ahjussi dan ahjumma sendiri." Saranku sambil tersenyum tulus ke arahnya.
Kini Sungmin ahjumma memandangku lekat-lekat. Seolah aku mahluk asing yang baru saja datang ke bumi. Ah, ada apa ini? Mengapa ahjumma jadi seperti ini?
"Ahjumma?"
"Baekhyun-ssi, apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?"
DEG!
Jangan. Ahjumma tak boleh tahu siapa diriku sebelum Chanyeol mengetahuinya. Ini tak baik. Aku harus segera menghentikan lamunan ahjumma dari kenyataan itu.
"Ne ahjumma, kita berkenalan tadi." ucapku bohong dengan sedikit tawa renyah agar kebohonganku terlihat alami. Mianhae ahjumma.
"Ani. Bukan tadi. Kau ini seperti…"
"Ah, ahjumma. Mungkin hanya perasaan ahjumma saja." ucapku segera memotong kalimatnya.
Jeongmal mianhae ahjumma. Aku tak ingin semua ini berubah begitu saja. Biarlah semua mengalir apa adanya. Kami berdua terdiam. Kulihat ahjumma masih belum percaya dengan jawabanku. Namun ia menunduk. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Kami berdua sama-sama canggung saat ini.
"Ah, geundae... Kudengar ahjumma ingin Chanyeol menikah dengan Yejin-ssi, apa itu benar?" sahutku mengalihkan perhatiannya dan memecah keheningan diantara kami berdua.
Aku memang bodoh. Aku ingin mengalihkan semua pembicaraan ini dengan cara membuka lukaku yang masih belum kering. Ya, aku kembali menyakiti hatiku dengan mengingat pengakuan Chanyeol. Namun hal itu berhasil. Sungmin ahjumma kini seperti melupakan pembicaraan yang baru saja kami lakukan tadi.
"Ne, aku dan Suamiku mengenal baik keluarga Kim. Mereka rekan bisnis kami." jawabnya kemudian.
Aku hanya ber'oh-ria menanggapi semua yang dikatakannya. Aah, seandainya saja aku seorang yeoja dan secantik Kim Yejin, pasti ahjumma akan memilihku.
…
Aish, apa sih yang kupikirkan. Lupakan semuanya, Byun Baekhyun! Jangan berharap terlalu jauh!
"Ah, Baekhyun-ssi, aku ingin kau menemani Chanyeol pada makan malamnya besok bersama Yejin." Kata Sungmin ahjumma tiba-tiba.
"Ne?"
Apa aku tidak salah dengar? Ahjumma memintaku untuk…
"Ani… Sejujurnya aku masih ragu dengn pilihanku dan suamiku. Ini semua sebenarnya hanyalah ikatan bisnis. Baekhyun-ssi, aku hanya ingin dirimu memastikan apakah pilihanku memang tepat. Kau sahabat Chanyeol. Kau pasti tahu yang terbaik untuknya. Baekhyun-ssi, kau mau kan?" pinta Sungmin ahjumma lagi.
Kuulangi lagi, Sungmin ahjumma ingin aku menemani Chanyeol? Yang benar saja. Oh ahjumma, tak tahukah Kau bahwa itu akan menyakitiku? Apa yang harus kulakukan?
"Tapi ahjumma…"
"Kalau kau mau, Baekhyun-ssi boleh mengajak teman." Sungmin ahjumma segera memotong penolakanku.
Jelas sekali ia tak ingin mendengar penolakan dariku. Aku tahu, ia hanya ingin yang terbaik untuk putranya. Lalu aku? Apakah aku harus sakit hati sekali lagi? Haruskah?
Namun aku tak tega menolak permintaan Sungmin ahjumma. Apalagi kini ia memegang kedua lenganku seakan sedang memohon padaku. Haah, harus bagaimana lagi.
"Ne ahjumma. Aku akan menemaninya."
.
.
.
TBC
Chapter tiga shared! Trimakasih buat yang udah mau baca sampe chapter ini.
Next or not? ditunggu reviewnya ya?! Gamsahamnidaaa ^^
