Chapter 4

"THIS FAITHFUL LOVE"

Author : Choi Chanhyun

Cast :

Park Chanyeol as Park Chanyeol / Dobi

Byun Baekhyun as Byun baekhyun / Bacon

Wu Yi Fan as Kris

Kim Yejin as Kim Yejin

Sungmin as Sungmin (Chanyeol's mother)

And Another Cast

Pairing : Chanbaek / Baekyeol

Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.

Copyright : Cerita ini murni "muntahan" dari otak saya sendiri…

Warning : Yaoi, Boys Love

Happy reading chingudeul! ^^

.

.

.

Previous Chapter :

"Kalau kau mau, Baekhyun-ssi boleh mengajak teman." Sungmin ahjumma segera memotong penolakanku.

Jelas sekali ia tak ingin mendengar penolakan dariku. Aku tahu, ia hanya ingin yang terbaik untuk putranya. Lalu aku? Apakah aku harus sakit hati sekali lagi? Haruskah?

Namun aku tak tega menolak permintaan Sungmin ahjumma. Apalagi kini ia memegang kedua lenganku seakan sedang memohon padaku. Haah, harus bagaimana lagi.

"Ne ahjumma. Aku akan menemaninya."

Chapter 4

Baekhyun POV

Dan benar saja, malam selanjutnya aku benar-benar menemani Chanyeol makan malam bersama Yejin di salah satu restoran di dekat kediaman Park. Aku memutuskan mengajak Kris malam itu. Tentu saja agar aku tak menjadi semacam orang bodoh diantara dua calon mempelai itu. Oke, Chanyeol memang akan menikah setelah ia lulus kuliah. Namun tetap saja ketakutan kehilangan sosok Chanyeol menghantuiku sejak saat ini.

Sosok Yejin benar-benar di luar dugaanku. Dia sempurna. Bahkan dia begitu dewasa. Ia ramah bahkan padaku dan Kris yang baru saat itu dikenalnya.

"Baik, bagaimana jika kita mulai memesan?" tawarku pada semuanya.

Yejin tersenyum padaku dan berkata, "ide yang bagus, Baekhyun-ssi."

Kemudian Kris memanggil salah satu pelayan disana. Setelah pelayan itu sampai di meja kami, semua langsung tampak sibuk memilih makanan yang akan jadi menu makan malam mereka. Kami pun saling menawarkan makanan satu sama lain. Termasuk Yejin pada Chanyeol.

"Kau mau minum kopi, Chanyeol-ssi?" tanya Yejin padanya.

"Jwiseonghaeyo Yejin-ssi, sepertinya kau tidak bisa memesannya untuk Chanyeol. Dia tak bisa makan dan minum sesuatu yang pahit. Pesan ice choco saja!" cegahku sambil tersenyum pada keduanya.

"Ah, keurae?" Yejin tampak setuju dengan pendapatku.

Beberapa detik kemudian…

Ah, bodoh! Aku memang bodoh. Bagaimana bisa aku mengatakan sesuatu yang bisa saja membunuhku saat itu juga? Kini pun Chanyeol menatapku tajam dan wajahnya seolah berkata, 'dari mana kau tahu?'

Selama aku menjadi Byun Baekhyun, ah lebih tepatnya sejak aku kembali dari Jepang, Chanyeol memang tak pernah sekali pun berkata padaku bahwa ia tak suka sesuatu yang pahit. Aku hanya mengingat hal itu karena aku memang sudah mengenal Chanyeol sejak 15 tahun yang lalu. Dan kini aku seperti tengah membuka topengku perlahan. Kulihat kini Chanyeol memandangku semakin tajam seolah aku adalah stalker baginya. Untung saja Yejin mengajakku mengobrol sehingga pandangan tajam Chanyeol berakhir saat itu juga.

"Oh ya, Baekhyun-ssi. Kau sahabat baik Chanyeol kan?" tanya Yejin padaku.

"Ne. Waeyo?" jawabku kembali bertanya.

"Apakah dia sering menyusahkanmu?" tanyanya lagi. Kini ia menatap Chanyeol dengan tatapan menggodanya. Ah, dada ini semakin sesak saja.

"Ani. Hanya saja dia tak mau mengalah. Hati-hati saja padanya, Yejin-ssi." jawabku sambil tertawa mencoba untuk menghilangkan kegugupan sekaligus sakit hatiku.

"Ya! Baekkie-ah! Kau pikir aku siapa sampai kau menyuruhnya untuk hati-hati padaku?" ucap Chanyeol kesal.

Kini Yejin tampak tertawa. Sungguh, ia yeoja yang baik menurutku. Aku semakin sadar bahwa Chanyeol memang pantas untuk mendapatkannya. Lagi pula aku merasa aku tak bisa begitu dewasa seperti Yejin. Aku masih jauh dibawahnya. Memang, hatiku memang semakin sakit saat ini. Namun entah mengapa, kesadaran ini menuntutku untuk melepaskan Chanyeol sedikit demi sedikit.

"Geundae Kris-ssi, apa hubunganmu dengan Baekhyun-ssi? Kulihat kalian sangat dekat?" tanya Yejin pada Kris setelah kami selesai memesan makanan.

Kris hanya tersenyum ramah padanya. "Ani. Tak ada hubungan spesial. Hanya saja kami sering menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol di atap gedung kuliah kami. Yah, mungkin karena itu kami dekat."

"Jinja? Itu pasti menyenangkan." ucap Yejin senang.

"Menyenangkan apanya? Bahkan Baekhyun pernah membolos hanya untuk berkencan di atap." Kata Chanyeol tiba-tiba.

'Apa? Keterlaluan sekali dia!' batinku.

"Ya! Aku tidak berkencan, Park Chanyeol!" kataku tajam sambil memandangnya kesal.

"Oh keurae? Kalau begitu berhentilah pergi ke atap! Seperti tak ada tempat lain saja!" sindir Chanyeol.

"Memangnya apa hakmu melarangku kesana?" kataku tak ingin kalah.

"Baekkie-ah, aku memberimu saran yang baik. Kau seharusnya menurut padaku!"

"Anhae!"

Pertengakaran mulut kami terhenti saat kami berdua mendengar Yejin dan Kris tertawa. Apa yang mereka tertawakan? Tak ada yang lucu. Hei, aku sedang kesal pada Chanyeol, mengapa kalian malah tertawa?

"Sudah… sudah… kalian benar-benar seperti anak kecil." ucap Yejin di tengah tawa renyahnya.

Tapi kami tak berhenti sampai saat itu. Selama makan malam pun kami masih sering adu mulut. Mulai dari masalah kuliah hingga makanan yang saat itu kami makan. Bahkan Yejin sering kali menggelengkan kepalanya saat mendengar pertengkaran anak kecil kami. Ah, salahkan Chanyeol, Yejin-ssi. Namja idiot itu yang membuatku naik darah lebih dulu.

Pertengkaran kami baru berhenti saat kami harus berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Chanyeol mengantarkan Yejin pulang ke rumahnya. Sedangkan aku bersama Kris. Hah, cukup melelahkan juga menjaga hati yang sakit. Sudahlah, aku sudah cukup bersyukur hari ini berakhir.

Aku segera memasuki apartemenku saat Kris mengantarkanku pulang sampai depan pintu apartemenku. Tak lupa aku berterimakasih padanya. Ah, aku merasa berhutang budi padanya. Ia baik sekali mau menemaniku.

Aku segera mengganti pakaianku menjadi piyama tidur setelah aku selesai mandi. Aku sedikit tertawa saat aku mengingat pertengakaran mulutku dengan Chanyeol tadi. Sungguh seperti mengulang masa lalu. Dan pertengkaran yang kukira telah selesai itu sepertinya kembali dimulai saat Chanyeol mengirimiku sebuah pesan.

From: Yeollie-Dobi

Ya pendek! Kau sungguh menyebalkan!

'Apa maksudnya coba?' batinku. Setelah itu aku segera membalas pesan tak jelas itu.

To: Yeollie-Dobi

Wae? Aku salah apa?

Tak lama setelahnya ia pun membalas pesanku. Jadilah kami saling berkirim pesan malam itu.

From: Yeollie-Dobi

Mengapa kau mengajak tiang listrik itu saat makan malam tadi, hah?

To: Yeollie-Dobi

Siapa yang kau maksud?

From: Yeollie-Dobi

Wu Yi Fan. Kris! Si namja tiang listrik!

To: Yeollie-Dobi

Ya Park Chanyeol! Jaga bicaramu!

From: Yeollie-Dobi

Wae? Aku memang tak suka padanya. Apalagi kau malah mengajaknya makan malam.

To: Yeollie-Dobi

Apa masalahmu? Lagipula kalau bukan permintaan ibumu, aku juga tak sudi menemanimu!

From: Yeollie-Dobi

Oh? Keurae?

Sebelum aku membalas pesan terakhir dari Chanyeol, handphoneku sudah berbunyi lagi. Tapi ini bukan menandakan pesan masuk, melainkan telefon. Telefon dari ID yang sama dengan seseorang yang baru saja mengirimiku pesan. Aku segera mengangkat telefon itu agar tak berdering terlalu lama.

"Wae?" tanyaku to the point pada orang yang menyebalkan itu.

"Cepat lihat keluar jendela!" suruh Chanyeol seenaknya.

"Ada apa?" tanyaku.

"Cepat kubilang!"

"Ish… jinja…"

Kemudian aku segera melangkah menuju jendela besar di sudut kamarku. Aku melihat keluar jendela dan tak ada apa-apa. Hanya lampu-lampu dari beberapa gedung dan rumah-rumah yang ku lihat. Apa maksudnya menyuruhku seperti ini? Sungguh bukan hal yang penting untuk kulakukan. Aku kini makin kesal padanya.

"Kau pikir kau akan terlihat manis dengan mempoutkan bibirmu seperti itu?" ucap Chanyeol kemudian.

Eh? Apa dia melihatku? Ah, dia pasti melihatku saat ini. Tapi dimana namja idiot itu?

"Kau dimana tuan Park?"

Kemudian aku mulai mengedarkan mataku ke segala arah. Mulai dari gedung-gedung itu hingga jalanan di depan apartemenku. Cukup sulit melihat jalanan itu ketika kau berada di lantai 3 sebuah gedung apartemen. Namun mataku menangkap sesuatu. Seseorang lebih tepatnya. Seorang namja yang bersandar pada mobilnya. Kini ia sedang mendongakkan kepalanya. Memandang jendela yang ada di depanku. Mata kami bertemu dan namja itu menyunggingkan senyumnya padaku.

"Sepertinya kau menangkapku, Byun Baekhyun!" ucapnya yang kudengar di telefon.

"Mengapa kau disana? Cepat pulang! Mana Yejin-ssi?" tanyaku padanya.

Kini kami seperti sedang mengobrol empat mata. Hanya saja kami terpisah agak jauh dan kami menggunakan telefon agar bisa mendengar satu sama lain.

"Tenang saja. Aku sudah mengantarnya pulang. Aku justru mencemaskanmu?" kata Chanyeol mengalihkan.

"Naega wae?" tanyaku lagi.

"Aku khawatir kau akan terkena sengatan beberapa volt dari tiang listrik itu karena kau terlalu dekat dengannya." Jawab Chanyeol tanpa dosa.

"Ya, Park Chanyeol! Kau ini benar-benar perlu diberitahu cara menjaga mulut sepertinya!" tanggapku agak kesal padanya.

Kulihat kini Chanyeol tersenyum sinis. Dia juga menghela napas marah setelahnya.

"Wae? Aku tahu cara menjaga mulutku sendiri. Lagipula aku selalu meggosok gigiku setiap hari. Itu kan yang dinamakan menjaga mulut ?" jawab Chanyeol asal.

Apa? Dasar bodoh. Ya, tapi kalimat bodoh itu cukup membuatku tertawa. Chanyeol pun ikut tertawa bersamaku. Leluconmu berhasil tuan Park. Kau berhasil membuatku mengurangi rasa kesalku padamu.

"Keurae. Aku tahu. Sekarang cepat pulang!" pintaku padanya.

"Ya! Kau berani mengusirku? Aku diluar apartemenmu baekkie, jadi bukan hakmu untuk mengusirku!" ucapnya penuh nada penolakan.

Haaah, dia memang tak pernah berubah. Selalu egois dan semaunya.

"Chanyeol-ah, ini sudah malam. Kau mau orang-orang mengira dirimu stalker?" saranku.

Kini Chanyeol menghela napasnya dalam-dalam. Kulihat wajah kesalnya yang begitu lucu. Ia bahkan mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya pada jalanan dibawahnya.

"Hhh… Baiklah. Aku pulang. Tapi aku ingin satu hal darimu." Ucapnya.

"Apa?" tanyaku.

"Jangan dekat-dekat dengan tiang listrik itu lagi dan jangan pernah kencan di atap dengannya lagi. Aku tidak suka!"

"Ya Park Chanyeol, jangan memanggilnya tiang listrik. Lagi pula…"

"Nan arra. Aku pulang!" potong Chanyeol.

Tutt… tutt…tutt…

Aish, anak ini. Selalu seenaknya saja. Seenaknya menyuruhku, seenaknya memotong perkataanku dan seenaknya menutup telefon saat aku masih ingin bicara. Yah, tapi itulah Park Chanyeol. Namja paling bodoh yang pernah kukenal. Bahkan aku masih saja mencintainya walaupun aku tahu dia terlalu semena-mena. Haah, mungkin aku memang sudah gila.

Kini Chanyeol melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum menanggapinya dan membalas lambaian tangannya. Tak lama setelah itu ia segera melaju mengendarai mobilnya meninggalkan jalanan di depan apartemenku.

Hei, tunggu. Bukankah tadi dia berkata bahwa ia tak suka jika aku berada di dekat Kris? Kurang lebih seperti itu bukan? Apakah dia cemburu?

Ah… Jangan berharap lebih Byun Baekhyun. Just let it flow. Kucoba untuk tak begitu peduli pada apa yang sekarang Chanyeol rasakan. Hanya saja aku merasa dia semakin dekat denganku. Entah karena aku yang terlalu berharap atau memang begitu kenyataannya. Apapun itu, seharusnya itu tidak terjadi. Aku tak bisa membiarkan hal ini terlalu lama. Semakin aku dekat dengannya, maka aku akan semakin sakit hati. Oh ya Tuhan, mengapa untuk melepasnya saja harus sesulit ini.

.

.

Sejak makan malam itu, aku jadi sering menggoda Chanyeol dengan segala hal yang berhubungan dengan Yejin. Bukan apa-apa, aku melakukannya karena aku hanya ingin menutupi sakit hatiku. Aku hanya ingin mencoba menguatkan diriku sendiri. Mungkin aku terlihat bodoh. Namun hanya ini yang bisa ku lakukan.

Beberapa hari ini Chanyeol pun sudah tak canggung lagi dengan Yejin. Bahkan ketika aku menyuruhnya untuk mengantarkan Yejin beberapa hari yang lalu, ia dengan senang hati melakukannya. Haah, baguslah. Setidaknya hal itu akan membantuku. Yah walaupun hatiku tetap perih setiap melihat mereka berdua.

Seperti saat ini, kulihat Chanyeol mengajak Yejin ke belakang gedung kuliah. Entah apa yang akan dilakukan mereka. Kuputuskan untuk mengikuti mereka. Aku tetap melangkah hingga mereka berhenti di suatu tempat. Aku pun menghentikan langkahku dan memposisikan diriku untuk bersembunyi dan melihat mereka dari kejauhan. Aku sama sekali tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sungguh aneh apa yang kulakukan ini. Aku bahkan bingung dengan diriku sendiri. Aku yang sudah meyakinkan diriku untuk melepas Chanyeol, kali ini malah mengikutinya yang sedang berkencan dengan Yejin. Hah, bahkan aku tak peduli jika orang-orang akan menyebutku stalker. Kulihat mereka mengobrol begitu serius. Dan beberapa menit selanjutnya…

DEG!

Sesak dan sakit. Hanya itu yang kurasakan setelahnya. Sungguh, sakit sekali.

Hal yang tak kuduga terjadi. Hal yang menambah rasa sesak di dadaku. Hal yang menambah sakit di hatiku. Hal yang berhasil meloloskan air mataku. Sungguh, ini terlalu menyiksa. Dia menciumnya. Chanyeol mencium Yejin tepat di depan mataku.

Aku terisak parah. Kurasa isakanku cukup keras untuk didengar orang yang ada di dekatku. Ini semua karena aku harus menangis sekaligus menahan sesak di dadaku. Sungguh sulit mengatur napasku saat ini. Aku mencoba sekuat tenaga agar aku tetap tenang dan tak lagi menangis terlalu lama. Aku putuskan untuk pergi dari tempat itu. Namun sepertinya aku mendengar suaranya memanggilku sebelum aku pergi. Ya, kudengar Chanyeol memanggilku. Tapi sudahlah, aku tak ingin meihat wajahnya saat ini. Lebih tepatnya aku tak mampu. Sudah kubilang, ini terlalu sakit. Aku tetap melangkah pergi dan sedikit berlari untuk segera meninggalkan tempat itu.

Baekhyun POV end

ChanyeolPOV

Hari ini aku membawa Yejin ke belakang gedung kuliah. Sudah kuputuskan, aku tak ingin membiarkan hal ini terlalu lama. Aku tak mau menyiksa perasaanku sendiri. Karena perasaanku memang bukan untuk Yejin.

Aku masih memiliki cinta pertamaku. Aku tak mungkin melupakan janjiku 15 tahun lalu. Aku hanya ingin menikah dengannya. Sesuai janjiku. Aku memang terlalu mencintainya walaupun saat ini aku tak tahu dia dimana. Dan disisi lain, aku juga memiliki Baekkie. Jujur saja, namja mungil itu memang berhasil membuat perhatianku pada cinta pertamaku teralih. Dia berhasil membuatku berpikir bahwa aku masih bisa tenang karena aku masih memiliki seorang namja penyuka strawberry jika nantinya aku akan benar-benar kehilangan cinta pertamaku. Meskipun sebenarnya ia tak berkata apapun, hanya aku yang berpikiran seperti itu. Aku akui, aku juga terlalu takut kehilangan Baekkie. Jadi kuputuskan untuk segera mengakhiri hubungan konyolku dengan Yejin.

Yejin tampak bingung. Wajahnya mengisyaratkan, 'mengapa kau membawaku kesini?'

"Mianhae Yejin-ssi, aku membawamu ke tempat ini." Ucapku untuk mengawali pengakuanku.

Yejin tersenyum padaku masih dengan keramahannya. "Ne, gwaenchanha. Apa yang ingin kau bicarakan, Chanyeol-ssi?"

Aku menghela napasku. Bersiap untuk mengatakan pengakuanku.

"Bisakah kita hentikan semua ini?" kataku.

Yejin tampak kaget dan bingung. "Apa maksudmu?"

"Hubungan kita. Ini bukanlah hal yang kita inginkan. Hanya orang tua kita yang menginginkannya. Kumohon, aku ingin menghentikan semuanya." Pintaku padanya.

Tak ada jawaban darinya. Dia hanya menunduk dalam diam. Dalam beberapa detik tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Akhirnya setelah beberapa menit ia mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Tapi apa itu? Mengapa matanya berair? Dia menangis?

"Yejin-ssi…"

"Kau salah." Lirihnya di tengah tangisannya yang tak bersuara.

"Ne?"

"Kau salah, Chanyeol-ssi. Kau salah dengan mengatakan kita tak pernah menginginkan hubungan ini. Mungkin memang dirimu tak menginginkannya, tapi aku sebaliknya. Aku menyukaimu."

DEG!

Apa? Yejin…

Sungguh, aku cukup terkejut dengan pengakuannya. Dia baru saja mengatakan perasaannya padaku. Dan mengapa sekarang ini menjadi pengakuannya? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan pengakuanku disini?

Selanjutnya Yejin kembali menangis dalam diam. Aish… mengapa selalu seperti ini? Aku selalu membuat seorang yeoja menangis. Kini aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk menanggapi perkataan Yejin saja aju tak bisa.

"Aku tahu sejak awal kau tak menyukaiku. Jadi aku selalu berusaha untuk dekat denganmu agar kau bisa menyukaiku sedikit demi sedikit. Namun sepertinya aku terlalu naïf." Lanjutnya.

Kemudian ia tersenyum miris. Seolah ia memaksakan senyuman itu keluar di tengah tangisannya. Tapi air mata itu tetap keluar dari pelupuk matanya.

"Aku seharusnya tahu apa yang kau rasakan dan siapa yang ada dalam hatimu. Aku memang merasakan dirimu berbeda ketika kau bersamanya. Tapi aku selalu mencoba untuk menghindari pikiran aneh itu. Kau selalu tampak bahagia ketika dia disisimu. Kau bisa menjadi dirimu sendiri ketika kau bersamanya." Ujarnya mencoba menjelaskan padaku.

"Apa maksudmu?"

"Dan aku rasa, perasaanmu memang untuknya. Untuknya yang selalu ada disampingmu. Untuknya yang kau akui sebagai sahabatmu. Bukan untukku." Ucapnya lagi di tengah isakannya

DEG!

Apakah yang ia maksud adalah Baekkie? Dan apakah memang seperti itu? Bahkan aku belum berani memutuskan perasaanku sendiri. Aku memang terlalu takut jika aku sampai kehilangan Baekkie. Namun aku tak yakin apakah aku memang benar-benar mencintainya.

Kini Yejin semakin menundukkan kepalanya. Aku tahu ia menangis semakin keras dalam diamnya. Sungguh, aku merasa bersalah padanya. Aku tak mengira akan sesulit ini hanya untuk mengakhiri hubunganku dengan Yejin.

"Yejin-ssi. Mianhae, jeongmal mianhaeyo." Aku memohon maaf padanya berulang kali.

Tak lama setelah itu, ia mendongakkan kepalanya. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum tersenyum padaku. Kurasa itu senyum yang sangat menyakitkan untuknya.

"Aku akan senang jika kau bisa bersamanya. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu padamu untuk yang terakhir kalinya?" ucapnya lirih dan tampak memohon.

"Apa itu?" tanyaku.

"Bisakah kau menciumku untuk pertama dan terakhir kalinya?"

Mwo? Mengapa harus itu? Haruskah aku melakukannya?

Ish… tapi aku bisa apa. Aku memang bersalah besar padanya. Tapi bagaimana lagi, aku lebih memilih menjadi namja tak normal dari pada aku harus memaksakan diriku menjadi namja normal dan menyiksa diriku sendiri dengan mencintai yeoja seperti Yejin. Dan baiklah, aku harus mengabulkan permintaannya sebagai permintaan maafku. Oke, kuulangi, ini hanya bentuk permintaan maafku.

Tanpa menjawabnya, aku langsung mendekati wajahnya dan menciumnya perlahan. Tak ada yang spesial disana. Hanya ciuman hambar tanpa perasaan apapun. Aku hanya menempelkan bibirku pada bibirnya beberapa detik sampai kudengar isakan dari seseorang. Aku yakin, itu bukan isakan Yejin. Bahkan mulutnya kini sedang terkunci. Lalu siapa?

Kemudian aku segera melepaskan ciuman itu dan mencari sumber isakan yang mengganggu pikiranku. Mengapa itu mengganggu pikiranku? Karena aku mengenal suara itu walaupun itu hanya sebuah isakan kecil. Baekkie. Ya, kurasa itu suaranya. Aku memandang sekeliling, mencarinya dan itu dia!

Aku menemukannya tengah berjalan menjauh dari tempatku sekarang. Oh tidak, apakah dia melihat kami berciuman tadi? Dan kurasa dia memang dia melihatnya. Sial! Aku tak ingin dia salah paham.

"Baekkie-ah! Baekkie-ah chamkanman!" teriakku padanya. Tapi terlambat. Dia terlalu cepat berjalan menjauhiku. Aish jinja! Apa yang harus kulakukan?

.

.

.

TBC

Chapter empat shared chingudeul! Yang cemburu kalo Chan jalan sama Yejin ngaku! (*Author angkat kaki bareng Byunbaek. Hehehehe…)

Mianhae, di chapter ini Chan masih belom inget sama Baek. So, tunggu di chapter-chapter selanjutnya ya?

Reviewnya tetep ditunggu! Gomawoyooo ^^