Chapter 5

"THIS FAITHFUL LOVE"

Author : Choi Chanhyun

Cast :

Park Chanyeol as Park Chanyeol / Dobi

Byun Baekhyun as Byun baekhyun / Bacon

Kim Yejin as Kim Yejin

And Another Cast

Pairing : Chanbaek / Baekyeol

Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.

Copyright : Cerita ini murni "muntahan" dari otak saya sendiri…

Warning : Yaoi, Boys Love, chapter ini pendek lho yaa!

Happy reading all! ^^

.

.

.

Previous chapter :

Kemudian aku segera melepaskan ciuman itu dan mencari sumber isakan yang mengganggu pikiranku. Mengapa itu mengganggu pikiranku? Karena aku mengenal suara itu walaupun itu hanya sebuah isakan kecil. Baekkie. Ya, kurasa itu suaranya. Aku memandang sekeliling, mencarinya dan itu dia!

Aku menemukannya tengah berjalan menjauh dari tempatku sekarang. Oh tidak, apakah dia melihat kami berciuman tadi? Dan sepertinya memang dia melihatnya. Itu hal yang buruk. Aku tak ingin dia salah paham.

"Baekkie-ah! Baekkie-ah chamkanman!" teriakku padanya. Tapi terlambat. Dia terlalu cepat berjalan menjauhiku. Aish jinja! Apa yang harus kulakukan?

Chapter 5

Chanyeol POV

"Kejar dia, Chanyeol-ssi. Aku ingin kau mengejar cintamu." Kata Yejin tiba-tiba.

Aku tersenyum padanya. Lalu aku segera mengejar Baekkie setelah mengucapkan terima kasihku pada Yejin. Aku berlari di sepanjang koridor. Beberapa halaman dan lapangan kampus pun tak luput dari pandanganku. Semua sudut kudatangi hanya utuk mencari namja mungil itu. Oh hell, aku tak dapat menemukannya dimanapun. Ayolah Baekkie, jangan bercanda!

Tunggu dulu… Atap!

Aku segera berlari ke atap gedung ketika aku mengingat tempat favoritnya. Dan benar saja. Ia ada disana. Kulihat ia sedang duduk sambil memeluk kedua kakinya. Masih ada kesedihan di wajah itu. Namun ia segera berdiri dan menghapus air matanya ketika ia melihatku datang. Kami hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. Sungguh canggung sekali. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.

"Sudah kubilang, jangan ke atap lagi!" kataku tegas. "Ikut aku!"

Kemudian aku menarik tangan kanannya dan membawanya pergi dari tempat itu.

.

.

Aku membawa Baekkie ke gereja tempatku dulu sering menghabiskan waktuku bersama cinta pertamaku. Sekedar untuk mengajaknya berbicara agar kesalahpahaman ini menjadi jelas. Sekaligus menceritakan masa kecilku padanya. Menceritakan Bacon yang sangat aku cintai hingga sekarang.

Kami berdua duduk di salah satu kursi panjang di dalam gereja. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Baekkie pun sekarang terlihat lebih banyak diam. Tak seperti biasanya.

"Mengapa kau menagis?" tanyaku untuk memulai pembicaraan. Membuyarkan rasa canggung yang tengah menyiksaku. Mungkin menyiksa bagi Baekkie juga.

"Ne?" tanyanya seakan kurang jelas.

"Aku tanya, mengapa kau menangis?" aku mengulangi pertanyaanku.

Baekkie tampak berpikir. Ish, apa yang dipikirkannya? Bukankah tinggal jawab saja?

"Oh… Itu… Itu karena aku tak dapat menemukan Kris di atap tadi." Jawabnya singkat.

Mwo? Tiang listrik itu lagi. Apa benar Baekkie menangis hanya karena ia tak dapat bertemu dengan tuan Wu itu? Hei, bahkan aku jauh lebih tampan darinya! Oh, ayolah Baekkie, jangan menjadi bodoh seperti ini!

"Ish… Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan tiang listrik itu lagi!" ucapku agak kesal.

"Ya Chanyeol-ah, sudah kubilang juga jangan memanggilnya seperti itu." Katanya pelan.

Aku sedikit tertawa beberapa saat kemudian. Tak lama setelah itu dia pun ikut tertawa bersamaku. Hah, syukurlah. Keadaan beku ini semakin mencair dengan tawa renyahku. Dan akhirnya aku kembali melihat tawanya. Kuharap memang dia tak salah paham dengan apa yang terjadi tadi. Namun tawa itu tak berlangsung lama. Tak apa, setidaknya aku telah berhasil mengubah mood namja manis ini.

"Kau tahu Baekkie-ah, aku selalu bermimpi jika pada suatu hari nanti aku akan menikah di gereja ini." Kataku kemudian.

Baekkie tersenyum tulus kearahku. Entah apa arti dari senyumnya.

"Jinja?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ne. Tentu saja!" jawabku.

"Keuraeso. Kurasa Yejin-ssi juga akan menyukainya!" katanya sambil tersenyum bahagia.

Mwo? Apa maksudnya? Hei, aku sama sekali tak menyinggung soal Yejin disini! Mengapa dia seolah ingin membicarakannya?

Belum sempat aku membalas kalimat Baekkie, tiba-tiba telinga kami berdua mendengar tawa beberapa anak di luar gereja.

"Ah, anak-anak!" teriak Baekkie tiba-tiba.

Kemudian ia segera bangkit dan mencoba berlari keluar. Apa-apaan dia? Bahkan aku belum selesai bercerita!

"Baekkie-ah, kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!" teriakku pada Baekkie yang berlari semakin menjauh.

Lalu Baekkie menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan tersenyum ke arahku. "Tak ada yang lebih penting dari anak-anak. Simpan dulu ceritamu. Aku akan mendengarnya nanti!"

Kemudian ia tersenyum bahagia dan melanjutkan langkahnya keluar gereja. Ish, menyebalkan sekali dia. Dia masih bisa tersenyum sebahagia itu sedangkan dia baru saja membuatku kesal. Dasar namja aneh. Aku merasa sedikit lega, ternyata Baekkie tidak marah padaku. Kukira dia akan berbisu ria di hadapanku karena melihat adegan ciuman hina tadi.

Aah, aku memutuskan tetap di dalam gereja saja. Aku tak akan mengejar Baekkie. Lagipula dia bilang akan kembali bukan? Jika aku ikut dengannya, aku pasti akan canggung dengan anak-anak. Maka dari itu, aku tak mau mengikuti Baekkie.

Namun aku salah, aku hanya menjadikan diriku semakin bosan dengan hanya berdiam diri di dalam gereja. Jadi kuputuskan untuk keluar dan mencari Baekkie. Ketika aku mencapai sisi luar gereja, kulihat Baekkie tengah bermain dengan anak-anak di halaman gereja. Ia begitu bahagia bermain dengan anak-anak itu. Aku yakin dia tak mengenal mereka. Tapi mengapa mereka bisa begitu dekat? Ish, pasti itu karena Baekkie yang terlalu cerewet. Aku tertawa pelan melihatnya. Haaahh, sepertinya aku memang menyukainya. Menyukai sosok namja manis itu. Entahlah, aku pun tak mengerti dengan perasaan ini. Di sisi lain, aku masih memegang teguh janjiku pada seorang anak laki-laki yang selalu kupanggil bacon itu.

Kemudian aku mengedarkan pandanganku. Membiarkan pikiran-pikiranku buyar dengan melihat suasana gereja. Ah, aku benar-benar merindukan suasana ini. Tempat ini masih sama seperti 15 tahun lalu. Baiklah, aku kini semakin merindukannya. Cinta pertamaku.

Kulihat beberapa biarawati sedang berjalan menuju gereja. Dan juga salah satunya yang sangat aku kenal. Seorang biarawati yang terlihat lebih tua dari yang lainnya. Jung Sunyeonim. Dialah yang selalu dengan senang hati menemaniku untuk bermain disini dulu. Bukan hanya aku lebih tepatnya. Aku dan Bacon. Kami berdua. Tak sekedar bermain. Jung Sunyeonim juga tak pernah lelah mengingatkan kami untuk berdoa. Ah, aku sangat merindukan masa-masa itu.

Kulihat Jung Sunyeonim membawa beberapa permen dan makanan. Kemudian ia berhenti dan memandang Baekkie yang sedang bermain dengan anak-anak dari kejauhan. Setelahnya ia berteriak memanggil seseorang.

"Bacon-aaah!"

Tunggu. Dia bilang apa?

"Bacon-ah, kemarilah nak!"

Bacon? Apakah benar dia memanggil Bacon? Tapi siapa yang dipanggilnya?

"Ne, sunyeonim."

Kudengar seseorang berteriak menjawab panggilan Jung sunyeonim dari kerumunan anak-anak. Suara yang sangat kukenal. Lalu selanjutnya kulihat seorang namja mungil berjalan ke arah biarawati yang memanggilnya. Tunggu… Dia… Tak mungkin…

Baekkie?

Mengapa Jung Sunyeonim memanggilnya Bacon?

Ya Tuhan, siapa dia sebenarnya?

Tiba-tiba aku menjadi mengingat segalanya. Mengingat semua kejanggalan yang secara tak sengaja Baekkie tunjukkan padaku

…"Aish… Dari dulu kau tak pernah berubah Chanyeol-ah…"…

…"Yeollie, belikan satu rasa strawberry untukku!" …

…"Kau suka strawberry?" - "Ya, bahkan sejak aku kecil."…

…"Aish…Dobi-yaa… Ayo ceritakan!"…

…"Dia tak bisa makan dan minum sesuatu yang pahit. Pesan ice choco saja!"…

….

Semua perkataan Baekkie seperti kembali berputar di otakku. Semua seperti terulang. Semua kecurigaanku. Bahkan aku juga mengingat bagaimana ia menangis saat bertemu dengan ibuku. Jadi apakah Baekkie…

"Chanyeollie!" panggil seseorang memecah lamunanku.

Kulihat Jung Sunyeonim tengah tersenyum padaku. Aku yakin ia yang baru saja memanggilku. Kini ia mendekatiku. Aku mencoba tersenyum padanya walaupun pikiranku masih kacau.

"Ah, oraenmaniya nae adeul." Ucapnya sambil menepuk pundakku.

"N-ne, Jung sunyeonim." jawabku sekenanya.

Kusadarkan diriku sendiri sebisa mungkin. Sungguh, pikiranku menjadi tak karuan saat ini. Aku pasti masih terlihat linglung. Tubuh, hati dan pikiranku masih terkejut. Semua yang ada pada diriku, masih belum bisa menerima segala yang baru saja terjadi di depan mataku. Ya Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?

Jung Sunyeonim kembali memandang Baekkie dan anak-anak. Dan setelah itu ia menatapku. Tampak ada kebahagiaan dan keharuan disana.

"Kau datang bersamanya?" tanyanya padaku.

Tak perlu kutanya lagi siapa yang ia maksud. Aku tahu yang ia maksud adalah namja yang dilihatnya tadi. Baekkie. Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Haah, sudah kuduga kau akan bertemu dan bersamanya lagi." Ucapnya.

"Apa maksud anda, sunyeonim?" tanyaku sedikit bingung.

"Kau bertanya maksudku? Inti dari segalanya adalah aku bahagia bisa melihat kalian berdua kembali setelah 15 tahun. Kau memang tak bisa terpisah dari Bacon." Jawabnya sambil tertawa ringan.

Bacon? Dia bilang Bacon? Jadi itu benar?

"Sunyeonim, bagaimana bisa anda mengenali kami?" tanyaku ragu. Aku hanya ingin memastikan semuanya.

Kemudian Jung Sunyeonim kembali tersenyum. Oh, ayolah. Jawab saja pertanyaanku.

"Hal itu mudah saja jika kau sudah mengenal baik orang itu. Lagipula Bacon sudah sering ke gereja ini sejak dia kembali dari Jepang. Dan seperti itulah yang dilakukannya. Bermain bersama anak-anak. Bacon sangat menyukai mereka. Oh ya, mungkin aku tak bisa memanggilnya Bacon lagi. Dia sudah dewasa. Jadi aku harus mulai memanggilnya Byun begitu, Chanyeollie?"

DEG!

Jadi semua benar? Baekkie adalah dia? Semua kecurigaanku itu nyata? Ya Tuhan…

Akhirnya. Akhirnya aku menemukannya. Baconku. Aku merasa penantianku selama 15 tahun telah usai saat itu juga. Aku menahan gejolakku sejenak sekedar untuk menjawab Jung Sunyeonim.

"Ne, sunyeonim."

Oh baiklah. Aku menemukanmu. Aku menemukanmu, cinta 15 tahunku. Aku terus saja memandangnya. Menatap sendu dirinya yang masih sibuk dengan anak-anak itu. Detik selanjutnya pertahananku runtuh. Air mataku mulai membanjiri pipiku. Membuat segalanya menjadi sedikit buram karena bulirnya yang menutupi mataku. Sungguh, aku tak tahu harus bahagia atau kesal karenanya. Satu hal yang sangat jelas, ada satu kelegaan di hatiku. Dan maaf, kelegaan itu hanya bisa kutunjukkan dengan cara menangis.

Kini aku tahu semua. Aku tahu mengapa aku nyaman berada di sisinya. Aku tahu mengapa dengan mudah aku menyukainya. Aku tahu mengapa aku begitu takut kehilangannya. Itu semua karena mereka adalah orang yang sama. Baekkie dan Bacon adalah orang yang sama. Dialah Byun Baekhyun.

Namun ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Satu hal yang membuat hatiku semakin sakit dan membuatku membenci sosoknya itu. Mengapa dia tak pernah memberitahuku? Mengapa selama ini dia membohongiku?

Chanyeol POV end

Normal POV

Chanyeol dapat menguasai keterkejutannya setelah menenangkan dirinya selama beberapa menit. Tak lama setelahnya, ia segera berpamitan pada Jung Sunyeonim dan berjalan ke arah Baekhyun yang masih sibuk dengan anak-anak. Ini pertama kalinya ia harus berbicara pada Baekhyun setelah tahu semuanya. Ia sendiri mengerti, ia tak boleh menangis dan memeluk namja itu begitu saja. Jadi ia memutuskan untuk mengajaknya pergi dari tempat itu.

"Bacon-ssi, ayo kita pulang."

DEG!

.

.

.

TBC

It's chapter 5!

Otte chingudeul? Next kah? Silakan tinggalkan jejak! Gomawoyooo ^^