Chapter 6 - END

"THIS FAITHFUL LOVE"

Author : Choi Chanhyun

Cast :

Park Chanyeol as Park Chanyeol / Dobi

Byun Baekhyun as Byun baekhyun / Bacon

Wu Yi Fan as Kris

Kim Yejin as Kim Yejin

Sungmin as Sungmin (Chanyeol's mother)

And Another Cast

Pairing : Chanbaek / Baekyeol

Copyright : Cerita ini murni "muntahan" dari otak saya sendiri…

Warning : Yaoi, Boys Love

Don't forget to RCL, okay?!

Happy reading chingudeul! ^^

.

.

.

Previous Chapter :

Chanyeol dapat menguasai keterkejutannya setelah menenangkan dirinya selama beberapa menit. Tak lama setelahnya, ia segera berpamitan pada Jung Sunyeonim dan berjalan ke arah Baekhyun yang masih sibuk dengan anak-anak. Ini pertama kalinya ia harus berbicara pada Baekhyun setelah tahu semuanya. Ia sendiri mengerti, ia tak boleh menangis dan memeluk namja itu begitu saja. Jadi ia memutuskan untuk mengajaknya pergi dari tempat itu.

"Bacon-ssi, ayo kita pulang."

DEG!

.

.

Last Chapter

Baekhyun terpaku saat itu juga. Chanyeol baru saja memanggilnya dengan nama kecilnya. Dan itu berarti Chanyeol telah mengetahui segalanya. Baik, selesailah permainan Baekhyun kali ini. Ia hanya bisa menunduk tanpa berani memandang orang yang berdiri tak jauh darinya. Sedangkan Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun dan membawanya pergi.

.

.

Chanyeol memutuskan untuk membawanya pulang. Ke apartemen namja kecil itu tentu saja. Namun tak ada satupun dari mereka yang turun dari mobil terlebih dahulu. Keduanya terdiam. Batin mereka sama-sama berkecamuk. Sedih, bahagia, sakit semua mereka rasakan. Entah harus mulai dari mana. Suasana yang begitu canggung tercipta diantara keduanya.

Chanyeol semakin tak tahan dengan keheningan itu. Ia menghela napasnya dalam-dalam dan mulai angkat bicara.

"Mengapa kau tak memberitahuku?" ucapnya pelan.

Hati Chanyeol begitu pedih saat mengucapkan kalimatnya itu. Apa yang salah pada dirinya sampai Baekhyun tak pernah mau memberitahukan dirinya yang sebenarnya?

Namun tak hanya Chanyeol, hati Baekhyun pun kembali merasakan sakit itu. Sakit yang berbeda dari beberapa jam yang lalu saat ia melihat Chanyeol'nya' berciuman dengan seorang yeoja. Bukan. Bukan sakit hati yang seperti itu yang saat ini ia rasakan. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana menghadapi Chanyeol saat ini.

"Untuk apa? Bukankah seharusnya kau bisa mengenaliku sejak awal?" kini Baekhyun mengembalikan pertanyaan Chanyeol.

Sebuah pertanyaan telak bagi Chanyeol. Oke, dia memang tak mengenali Baekhyun sejak awal. Tapi paling tidak ia memiliki kecurigaan terhadapnya. Ia merasa mengenal baik seorang Byun Baekhyun meski ia terlalu sulit untuk mengingatnya. Chanyeol kini setengah tak terima dengan perkataan Baekhyun. Namun ia justru mulai menangis lagi. Sungguh, hatinya sakit melihat Baekhyun yang begitu acuh padanya.

"Bagaimana bisa aku mengenalimu?! Dari dulu yang ku tahu hanya Bacon, bukan Byun Baekhyun! Mengapa tak dari awal kau perkenalkan saja dirimu sebagai Bacon, hah?! Maka kau tak akan repot membohongiku dan menyakitiku!" teriak Chanyeol frustasi.

Baekhyun tampak tak bisa menahan air matanya. Ia ingin sekali menyembunyikan air matanya. Tapi tak mungkin bisa. Ia sendiri sakit. Jelas bukan, Baekhyun yang saat ini bukanlah dirinya. Kalau dia mau, dia bisa saja memeluk Chanyeol saat ini dan meminta maaf padanya. Tapi tidak. Ia sudah memutuskan untuk melepaskan Chanyeol. Ia ingin Chanyeol bahagia dengan Yejin. Jadi apapun yang terjadi, ia harus tetap berpisah dari namja yang sangat dicintainya itu. Karena sejak ia melihatnya berciuman dengan Yejin, ia yakin, bahwa Chanyeol memang untuk Yejin. Bukan untuknya.

Baekhyun menghela napasnya panjang. Mencoba untuk mengontrol emosinya sendiri.

"Aku sudah dewasa. Aku bukan Bacon yang dulu lagi. Aku Byun Baekhyun." jawab Baekhyun datar yang semakin membuat hati Chanyeol teriris.

"Mwo? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau tetap Baconku! Kau tak ingat janjiku dulu hah? Kau tak ingat aku pernah berjanji di hadapan Tuhan bahwa aku akan menikahimu?! Kau tak…"

"UNTUK APA?!" teriak Baekhyun. Kini air matanya telah mengalir deras. Ia tak ingin mendengar Chanyeol melanjutkan kalimatnya. Ia ingin segera mengakhiri semuanya. Ia ingin segera terlepas dari Chanyeol agar hatinya tak terlalu sakit lagi.

Sementara Chanyeol hanya bisa terdiam. Ia menatap pedih namja manis disebelahnya yang kini tengah menangis. Keduanya merasakan sakit yang sama. Tapi keduanya juga memiliki keegoisan yang sama. Dan Chanyeol sama sekali tak berniat melanjutkan kalimatnya.

"Untuk apa kau ungkit lagi jika kau saja tak mengingat bahkan tak mengenal orang yang kau beri janji itu?! Ck, sudahlah. Lagi pula siapa yang akan percaya pada janji anak umur 6 tahun." lanjut Baekhyun.

Sempurnalah kini sakit di hati Chanyeol. Ia tak menyangka Baekhyun akan berkata seperti itu. Kalimat Baekhyun seakan anak panah yang selalu siap untuk membunuhnya. Ia tak mengerti mengapa Baekhyun jadi seperti ini. Ia mengenal baik Baekhyun sebagai Bacon ataupun sebagai Baekkie. Tapi sekarang, ia sama sekali tak mengenal namja ini. Baekhyun yang sekarang adalah orang yang paling jahat baginya. Namja itu bahkan tak percaya bahwa dirinya masih memegang teguh janjinya 15 tahun lalu.

Chanyeol masih diam setelahnya. Namun Baekhyun kini sudah bersiap untuk keluar dari mobil itu. Ia sudah bisa menguatkan hatinya. Walaupun sebenarnya hatinya jauh lebih sakit. Ia mencoba tersenyum dan menghapus sisa air matanya.

"Baiklah, anggap hal ini tak pernah terjadi. Kau siapkan saja pernikahanmu dengan Yejin-ssi." ucap Baekhyun sok ceria sambil menahan air matanya.

Selanjutnya Baekhyun segera keluar dari mobil. Ia berusaha keluar secepatnya agar Chanyeol tak mengatakan apapun. Namun ia salah, baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil itu, Chanyeol telah keluar dari mobil.

"Bahkan kau tak mengizinkanku untuk memelukmu setelah 15 tahun?" teriak Chanyeol.

Teriakkan yang terdengar begitu pedih di telinga Baekhyun. Namun ia tetap berusaha tegar walaupun air matanya kembali keluar. Ia tak ingin berbalik. Jika ia melakukannya, maka akan makin sulit baginya untuk melepaskan Chanyeol. Dan akhirnya tak ada respon yang berarti bagi Chanyeol. Baekhyun tetap berjalan menjauh. Bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun.

Chanyeol pun tak berniat mengejarnya. Kakinya terlalu kaku untuk berlari mengejar namja yang telah dicintainya sejak dulu itu. Hatinya pun terlalu sakit untuk memandang wajahnya. Ia hanya bisa terduduk di sebelah mobilnya. Menangis tersedu layaknya Dobi 15 tahun lalu yang bersedih karena kepergian Bacon. Hari ini semua itu seperti terulang kembali.

Baekhyun merasakan hal yang sama. Dirinya tak bisa menahan air matanya. Ia tak bisa terlalu lama menahan sesak di dadanya. Ia menangisi segalanya di dalam apartemennya. Sendiri dan begitu sepi. Ia kembali merasakan hal yang terjadi 15 tahun lalu. Ketika ia harus meninggalkan Dobi kecil. Hanya saja kali ini jauh lebih sakit dari pada itu.

Keduanya seolah meratapi kisah masing-masing. Ada sedikit rasa tak terima di hati mereka. Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Park Chanyeol, ia tahu ia sangat mencintai seorang Byun Baekhyun. Tapi seolah Baekhyun tak ingin menerimanya lagi. Dan Byun Baekhyun, ia sangat mengerti bahwa cintanya hanya untuk Park Chanyeol. Tapi sepertinya ada seseorang yang jauh lebih baik darinya. Ia ingin melepaskannya untuk orang lain. Ia merasa Chanyeol akan lebih bahagia bersama yeoja itu. Bukan bersamanya. Hahh, keadaan yang begitu rumit.

.

SKIP TIME

.

Chanyeol yang sekarang seolah bukan Chanyeol yang sebenarnya. Sesuatu yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu telah mengubah hidupnya secara otomatis. Sejak ia tahu bahwa cinta pertamanya adalah Baekkie, semua jadi berubah. Bahkan keduanya jarang terlihat berdua. Chanyeol lebih sering tidak ikut kuliah. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di kediaman Park. Mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berpuluh game yang ia miliki. Sedangkan Baekhyun, ia tahu ia harus bersikap biasa saja. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hatinya tetap merindukan namja itu.

Begitu pun hari ini. Diam-diam Baekhyun mencari sosok Chanyeol yang belakangan ini tak pernah dilihatnya. Ia tak habis pikir, mengapa namja itu bisa bisa dengan egois memikirkan dirinya sendiri. Bahkan Chanyeol tidak datang saat ujian penerapan filsafat. Baekhyun ingin sekali menghubunginya. Menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Namun itu tak mungkin. Ia yakin ia akan semakin mencintai namja itu jika ia peduli padanya. Padahal ia telah meyakinkan dirinya untuk menyerahkan Chanyeol seutuhnya pada Yejin.

Lama ia mencari Chanyeol, namun ia justru bertemu dengan sosok lain. Sosok yeoja yang ia yakini sebagai takdir terbaik bagi Chanyeol. Yeoja itu tersenyum padanya kemudian member sinyal agar mereka dapat berbicara empat mata.

"Bagaimana kabarmu, Baekhyun-ssi?" Tanya Yejin.

Baekhyun masih agak canggung dengannya. Ia mencoba semampunya agar ia tak terlihat grogi.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" jawab Baekhyun sedikit gugup.

Yejin menyunggingkan senyumnya. Senyum yang sulit diartikan bagi Yejin.

"Hhh… aku akan merasa lebih baik jika kau tak berbohong padaku, Baekhyun-ssi." Ucap Yejin yang sukses menciptakan raut bingung di wajah Baekhyun.

"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun kemudian.

"Aku yakin kau tidak baik-baik saja. Aku yakin kau juga merasakan apa yang Chanyeol rasakan." Kata Yejin.

Benar. Yejin memang benar. Baekhyun tak dapat menyangkal hal itu lebih jauh lagi. Ia tak ingin salah bicara. Ia lebih memilih diam dan mendengar apapun yang dikatakan Yejin.

"Aku tak percaya kau melakukannya pada Chanyeol. Aku menyukainya, Baekhyun-ssi dan kau malah menyiakannya."

DEG!

Sakit. Hati Baekhyun yang belum sembuh itu kembali sakit. Ia baru tahu saat itu bahwa Yejin begitu menyukai Chanyeol'nya'.

"Aku merelakannya untukmu. Bahkan ia memintaku untuk membatalkan rencana pernikahan konyol itu hanya karena satu orang. Kau. Tak tahukah dirimu, ia begitu mencintaimu? Kumohon, jangan bohongi dirimu sendiri." lanjut Yejin.

DEG!

Sekali lagi jantung Baekhyun berdetak kencang. Ia baru sadar akan sesakit ini menyadari kebodohan dirinya sendiri. Ia baru tahu bahwa Chanyeol telah membatalkan segalanya sejak dulu. Dan kini ia justru memaksanya untuk bersama Yejin? Ah, tapi tidak. Tidak bisa begini.

"Ani Yejin-ssi. Kalian berdua sepertinya salah mengambil keputusan. Kurasa Chanyeol akan lebih baik jika bersamamu." Lirihnya mencoba menjelaskan.

"Apanya yang lebih baik? Chanyeol yang selama ini mengharapkanmu dan aku yang terus menerus tersakiti, itukah yang kau sebut lebih baik? Kau ingin menyiksa kami berdua, Baekhyun-ssi?" ucap Yejin sedikit menyalahkan namja di sampingnya.

Baekhyun terkejut. Sungguh, ia tak menyangka Yejin akan berkata seperti itu. Seolah tersadar dari tidur panjangnya, Baekhyun menangis begitu saja. Ia tak mau menyakiti dua orang itu, hanya saja ia ingin yang terbaik untuk Chanyeol. Tapi ternyata…

"Kau yang salah ambil keputusan, Baekhyun-ssi. Tolong pikirkan baik-baik." Ucap Yejin mengakhiri obrolan mereka hari itu.

Yejin menepuk pundak Baekhyun pelan sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan namja itu menangis sendiri. Baekhyun merasa dirinya begitu bersalah. Ia sudah bangkit dari duduknya dan berniat berlari keatap gedung. Namun tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Mau ke atap lagi?" Tanya seorang namja di dekatnya.

"…"

Baekhyun tak menjawab. Ia mencoba mencari sumber suara itu. Ia mengedarkan pandangannya dan suara itu kembali berbicara.

"Bukankah Chanyeol sudah melarangmu ke sana? Lagi pula aku ada disini!" kata namja itu lagi.

Ah, itu dia! Baekhyun menemukan namja itu.

"Kris?"

Kris tersenyum pada Baekhyun seakan ingin memberikan namja itu kenyamanan. Kemudian ia mendekat pada Baekhyun pelan.

"Heeeh, bagaimana aku mengatakannya… Emm, aku lelah melihatmu menangis." Ucap Kris sambil mengacak rambut Baekhyun pelan.

Baekhyun hanya bisa mempoutkan bibirnya. Ia berusaha untuk menghentikan tangisannya sejenak dan menghapus sisa lelehan air mata di pipinya.

"Oh ya, seseorang sedang menunggumu di kelas. Kalau tidak salah, namanya Oh Sehun." lanjut Kris.

"Eh? Ada apa?" tanya Baekhyun yang tampak bingung

"Bagaimana jika kau menanyakan langsung padanya?" sahut Kris menyarankan.

Tanpa berpamitan pada namja di depannya, Baekhyun langsung saja menuju ke kelasnya. Mencari namja yang ia ketahui sebagai sahabat Chanyeol itu. Hatinya masih berdebar. Siapa tahu Sehun akan memberitahunya sesuatu mengenai Chanyeol.

Ia langsung berlari ke arah namja itu setelah dirinya sampai di kelas. Ia tampak cemas. Baekhyun sendiri sadar, kini ia sudah tak bisa memakai topengnya lagi. Ia tak peduli. Satu hal yang ia butuhkan saat ini adalah Chanyeol. Dan harapannya tentang Sehun yang akan memberinya kabar mengenai Chanyeol memang benar. Sehun benar-benar memberitahunya keadaan Chanyeol saat ini.

"Chanyeol tak bisa bangun dari tempat tidurnya." ucap Sehun.

DEG!

Satu kalimat itu cukup untuk membuat Baekhyun hancur. 'Apa-apaan ini? Chanyeol tak mungkin selemah ini. Chanyeol tak mungkin menyiksa dirinya sendiri. Chanyeol tak boleh seperti itu.' Kalimat-kalimat itu kini berputar di otaknya.

Ia memang ingin tahu keadaan Chanyeol. Tapi bukan ini yang diharapkannya. Bukan hal buruk yang ia inginkan. Yap, ia merasa ini adalah murni kesalahannya. Dan kini ia ingin sekali mengutuk dirinya sendiri. Menyalahkan dirinya berulang kali berharap dengan begitu semua akan membaik.

"Baekhyun-ah, kau mau ikut aku menemuinya nanti?" ajak Sehun padanya.

Tanpa ragu lagi, Baekhyun mengangguk menyetujuinya.

.

Sore itu Baekhyun kembali ke kediaman Park sejak terakhir kali ia makan malam bersama keluarga ini beberapa minggu yang lalu. Baekhyun tahu, semuanya akan terasa berbeda. Semua akan terasa canggung setelah mereka tahu siapa dirinya. Termasuk Sungmin ahjumma yang kini menyambutnya dengan isakan lirih di bibirnya. Baekhyun yakin, Chanyeol telah menceritakan segalanya pada ibunya ini.

Sungmin ahjumma memeluk Baekhyun erat seolah takut namja itu akan pergi lagi. Ia menangis tersedu dalam pelukan itu. Pelukan penuh kerinduan yang tak tersampaikan selama 15 tahun. Ia merindukan namja yang sudah ia anggap seperti anaknya itu. Keduanya kini menangis dalam pelukan masing-masing. Menyalurkan segala rindu yang telah lama mereka simpan. Sedangkan Baekhyun semakin merasa bersalah. Ia ingat terakhir kali bertemu Sungmin ahjumma, ia justru membohonginya.

"Mianhaeyo, ahjumma… hiks… hiks…" lirih Baekhyun di tengah tangisannya.

"Sshh…sshh… Sudah, jangan menangis lagi, Bacon-ah. Ahjumma jadi ingin menangis terus karenamu." Ucap Sungmin ahjumma menenangkannya.

Tak lama setelahnya mereka melepas pelukan itu. Sungmin ahjumma memandang namja itu dengan raut bahagia.

"Aku senang kau kembali, Bacon." kata Sungmin ahjumma pelan sambil membelai pipi Baekhyun.

"Ne, ahjumma." jawab Baekhyun.

"Sekarang, temuilah anak itu. Keadaannya semakin memburuk saja." pinta eomma Chanyeol itu.

Baekhyun mengangguk pelan. Selanjutnya ia melangkah ke kamar Chanyeol. Ia ragu. Ia terlalu takut untuk bertemu dengan namja itu. Ia telah menyakitinya terlalu jauh. Ia juga takut melihat Chanyeol. Ia takut nantinya hanya akan menangis dihadapannya. Namun harus bagaimana lagi? Ia tetap harus mengakhiri semuanya. Jadi ia putuskan untuk melanjutkan langkahnya.

Ia membuka pintu kamar Chanyeol pelan. Mencoba untuk tidak menganggu seseorang yang kini tengah berada di dalamnya. Dan benar saja, ia menangis begitu melihat Chanyeol. Chanyeol terlihat begitu lemah dan pucat. Tubuhnya terbaring begitu saja. Tak ada tanda-tanda bahwa namja itu baik-baik saja.

Baekhyun mencoba mendekati tubuh yang sedang terbaring itu. Ia duduk disebelahnya dan menatapnya sedih. Rasa bersalah itu semakin menguasainya. Bahkan ia tak berani menyentuh Chanyeol. Ia takut, ia akan melakukan sesuatu yang buruk lagi pada namja yang dicintainya itu. Tangisannya semakin keras. Air matanya mengalir deras begitu saja. Sungguh, dirinya tak tahan. Jadi ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Ia tak ingin menangis di depan Chanyeol walaupun saat ini ia tak bisa mendengarnya. Namun saat ia baru menyentuh knop pintu, ia mendengar satu lirihan.

"Gajima…"

Ia memastikan suara itu lagi. Tapi tak ada. Suara itu tak terdengar lagi. Ah, mungkin hanya ilusinya saja. Jadi ia segera memutar knop pintu dan bersiap untuk keluar.

"GAJIMARAGO!" teriak Chanyeol sambil bangkit dari tidurnya.

Baekhyun terkejut dengan tingkah Chanyeol yang di luar dugaan itu. Ia menghentikan niatnya keluar dari kamar Chanyeol. Ia memilih mendekati namja itu. Ia ragu, ia tak yakin apakah yang dihadapannya ini benar-benar Chanyeol. Lagi pula, kata Sehun tadi…

"Yeollie? Kau bisa bangun?" tanya Baekhyun yang masih memasang wajah kagetnya.

Chanyeol hanya mengangguk-angguk mantap dan tanpa dosa.

"Ta-Tapi Sehun bilang…"

"Apa yang dia katakan? Cih, sudahlah, ayo duduk sini!" katanya sambil menarik lengan Baekhyun untuk duduk di tempat tidurnya.

Baekhyun masih memandang Chanyeol tak percaya. Ada raut terkejut sekaligus sedih disana. Chanyeol pun menyadarinya. Ia hanya tersenyum melihat wajah namja manisnya itu.

"Aku memang sakit. Tapi aku masih bisa bangun. Ish, kau terlalu polos percaya pada aktingku dan si bodoh itu! Hahaha…" ucap Chanyeol tanpa dosa sambil mengacak rambut Baekhyun.

Namun itu menjadi malapetaka bagi Chanyeol. Karena kini Baekhyun justru menatapnya penuh kebencian. Chanyeol sendiri tahu, namja manisnya itu marah. Namun dirinya tak tahu harus berbuat apa. Dan beberapa detik kemudian…

"Hiks… hiks… hueeee…"

Baekhyun kini menangis jauh lebih keras. Bahkan ia menangis dan meraung bak anak kecil yang kehilangan ibunya. Ia tak peduli. Hatinya terlalu sulit untuk menerima semua keadaan. Ia begitu kesal pada namja di depannya ini.

"Kau… Kau orang paling menyebalkan yang pernah kukenal!" ucap Baekhyun di sela isakannya sambil melemparkan beberapa bantal ke arah Chanyeol.

Chanyeol pun dibuat salah tingkah olehnya. Ia begitu sulit menenangkan Baekhyun yang kini tengah marah padanya.

"Baekkie-ah… aish… Bacon-aaah… dengarkan aku!" ucapnya sambil mencoba menghentikan lemparan bantal dari Baekhyun.

"Anhae! Aku tak mau mendengarmu lagi! Shireo! Shireo! Shireoooo!" teriak Baekhyun menghentikan segalanya.

Ia masih terisak. Chanyeol memegang kedua tangannya untuk mencegah adanya lemparan bantal lagi. Baekhyun terisak begitu keras. Namun ia masih melanjutkan racauannya.

"Kau tak tahu bagaimana sulitnya aku mencarimu? Hiks… Dan sekarang, kau malah membuat lelucon bodoh ini. Hiks… Kau tak tahu bagaimana perasaanku, hah?! Kau tak pernah tahu betapa aku mecemaskanmu dan sekarang kau … hhhmpph…"

Bibir Baekhyun terkunci begitu saja ketika Chanyeol menciumnya. Chanyeol masih merasakan air mata itu mengalir di sela ciuman mereka. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Baekhyun saat ini. Tapi ia juga ingin menuntut Baekhyun agar namja manisnya itu juga tahu apa yang ia rasakan.

Akhirnya Chanyeol melepaskan tautan itu setelah beberapa menit. Ia bersyukur tak ada teriakan lagi dari Baekhyun. Hah, ia berhasil menenangkan namja itu. Ia merengkuh pipi mulus Baekhyun dengan kedua telapak tangannya.

"Berjanjilah untuk tak pergi lagi dariku." ucapnya pelan pada namja mungil yang sangat dicitainya itu.

Baekhyun hanya mengungguk pelan menanggapi permintaan Chanyeol itu. Namun ia masih saja ada isakan kecil disana sisa tangisannya tadi.

"Ya! Hanya dengan anggukan tak berarti kau berjanji! Itu tak berarti sama sekali!" ucap Chanyeol kesal.

Baekhyun segera menatapnya marah. "Ish… Keurae! Aku janji! Kau puas?"

Chanyeol tersenyum puas setelahnya. Ia kembali mengangguk mantap tanpa dosa yang semakin membuat Baekhyun kesal.

"Keuraesso… Emm, apakah aku bisa mendapatkan pelukan itu sekarang?" tanya Chanyeol.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Baekhyun langsung saja menghambur ke dalam pelukan namja di depannnya. Ah, terserah orang akan berkata apa. Yang penting ia ingin memeluknya saat itu. Ia begitu merindukannya. Bukan hanya karena beberapa hari mereka tak bertemu. Tapi karena 15 tahun itu. Begitu pula Chanyeol. Ia merasa penantiannya selama 15 tahun berakhir saat itu juga. Sesekali ia mencium puncak kepala Baekhyun sekedar untuk menyalurkan rasa cintanya pada namja itu.

"Saranghae Dobi-yaa…"

"Nado Baconie…"

Mereka kembali bersatu. Meskipun setelah itu status mereka pasti akan berubah menjadi sepasang kekasih, namun rasa persahabatan itu masih tetap ada. Dan hal yang terpenting adalah Park Chanyeol akan selalu menanti Byun Baekhyun dan Byun Baekhyun akan tetap menjaga Park Chanyeol untuk tetap utuh di hatinya. Karena memang Park Chanyeol telah ditakdirkan untuk Byun Baekhyun, begitu pula sebaliknya.

END (it's not the end at all ^^)

Epilog

"Ya! Tak bisakah kau hentikan hal itu? Kau tak perlu berdandan berlebihan.. ish, dasar namja strawberry!" teriak Chanyeol pada mempelainya yang sedang sibuk memakai eyeliner.

Baekhyun segera mempoutkan bibirnya saat ia mendengar teriakan Chanyeol yang membuat dirinya kesal. Ia tak habis pikir, namja jerapahnya itu masih saja menyebalkan bahkan setelah satu tahun resminya hubungan mereka. Apalagi saat ini hubungan itu akan semakin serius dan terikat dengan hal yang bernama pernikahan setelah kedua orang tua mereka setuju atas pernikahan sesama jenis itu.

"Paboya, bukankah kau seharusnya bersiap di depan altar?" ucap Baekhyun kesal.

"Ya! Kau berani memanggil calon suamimu pabo?! Awas kau nanti!" jawab Chanyeol ketus dan segera meninggalkan ruang pengantin.

Baekhyun hanya tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu. Biarlah, karena itulah Chanyeol apa adanya. Chanyeol yang telah ada di hatinya selama 15 tahun. Dan hari ini adalah hari final dari segalanya. Hari yang teramat bahagia bagi keduanya.

Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Bahkan perubahan itu terjadi dimana-mana. Termasuk pada diri keduanya. Namun satu hal yang tak berubah pada diri mereka. Cinta setia keduanya yang siap mereka berikan setiap saat dan selamanya.

"Park Chanyeol-ssi, bersediakah anda, dihadapan Tuhan, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupu senang, orang di sebelah kanan anda? Apakah anda berjanji untuk menjadikannya yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik, menjadi tempat bergantung baginya, hanya baginya dan selamanya hingga akhir hidup anda?" ucap sang pendeta saat janji sakral itu berlangsung.

"Ya, saya bersedia." jawab Chanyeol tanpa ragu.

Kini sang pendeta beralih pada Baekhyun. Ia mengatakan hal yang sama pada namja itu. Sebuah sumpah sakral yang akhirnya dijawab hal yang sama pula oleh Baekhyun. "Ya, saya bersedia."

Selesailah prosesi itu. Kedua insan bergender sama itu kini telah resmi menjadi pasangan suami istri. Pernikahan, suatu hal yang cukup sulit untuk dilakukan namun benar-benar dinanti oleh keduanya. Tak lama setelahnya, terlihat Suho membawa dua buah kotak yang berisikan cincin. Chanyeol langsung saja menyambar salah satu dari cincin itu dan memakaikannya di jari Baekhyun. Berbeda dengan Baekhyun, ia lebih lembut melakukan hal itu. Ia mengambil satu cincin yang lebih besar kemudian memakaiannya pada jari Chanyeol.

"Baiklah, silakan mencium pasangan anda." ucap sang pendeta mengakhiri prosesi suci itu.

Tanpa ragu Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah putih Baekhyun. Baekhyun hanya terdiam disana. Bersiap menerima ciuman pertama setelah mereka resmi menikah. Ia menutup matanya menunggu Chanyeol menciumnya. Dan beberapa detik setelahnya, akhirnya kedua bibir itu bertemu. Belum ada lumatan atau hisapan disana. Hanya bibir yang saling menempel untuk menyalurkan segala rasa cinta dari keduanya.

Namun ternyata semua itu salah. Bukan hanya menempelkan bibir, kini Chanyeol ingin ciumannya menjadi lebih intim. Siapa sangka beberapa menit kemudian Chanyeol berani melumat bibir Baekhyun dengan ganas dihadapan semua orang. Ia tak membiarkan istrinya itu melepas ciuman yang ia lakukan meski kini Baekhyun tengah meronta. Ia tetap melumat bahkan menggigit pelan bibir kissable namja tercintanya.

Baekhyun mendengar beberapa tertawaan kecil dari orang-orang di sekitarnya. Ah, dia semakin malu karena suaminya ini. Lama Baekhyun meronta, akhirnya Chanyeol melepaskan ciuman itu juga. Terlihat kini wajah Baekhyun merona merah. Tak hanya itu, ia juga terengah. Begitu pula Chanyeol. Keduanya sama-sama kehilangan oksigen untuk beberapa saat. Kemudian Baekhyun memandang suaminya kesal.

"Ish… memalukan! Kau membuatku malu, Park Chanyeol!" bisik Baekhyun pada suaminya.

Chanyeol hanya menyunggingkan senyum iblis khasnya. Kemudian ia mendempelkan dahinya sendiri pada dahi Baekhyun yang tertutupi poni. Lalu ia berbisik pasa namja tercintanya itu.

"Ini hukumanmu, Park Baekhyun. Karena kau telah berani memanggilku pabo tadi!" bisiknya.

"Mwo?"

"Mogsanim, bolehkah aku mencium istriku lagi?" ijin Chanyeol pada pendeta di depan altar tanpa mempedulikan Baekhyun yang masih bingung karena tingkahnya.

Pendeta itu tampak terkejut. Tapi mana mungkin ia menolak permintaan Chanyeol karena namja itu bahkan berani memberikan death glarenya jika sang pendeta tak mengijinkannya.

"O-oh, baiklah." Ucap pendeta itu pasrah.

Sekali lagi Chanyeol mencium namja manis di sampingnya. Baekhyun terpaksa menerima ciuman Chanyeol yang kini jauh lebih ekstrim dari ciuman sebelumnya. Ia harus menahan malu karena tertawaan orang-orang yang semakin keras. Tapi ia juga harus menyambut baik ciuman suaminya. Jadi ia memutuskan untuk membalas lumatan-lumatan itu. Sedangkan Chanyeol, ia tampaknya puas sekali dengan perlakuan Baekhyun saat ini.

Namun kesenangan Chanyeol ta berlangsung lama. Baekhyun terlihat murung setelah prosesi pernikahan itu selesai. Ia memilih meninggalkan Chanyeol dan berjalan keluar gereja masih dengan stelan tuxedo warna putih kesukaannya. Ia tak peduli. Ia ingin Chanyeol tahu bahwa dirinya begitu kesal pada suaminya yang secara terang-terangan telah mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang.

"Bacon, kau mau ke mana anakku?" tanya seseorang menghentikan langkahnya ketika sedah berada di sisi luar gereja.

Tampak seorang biarawati paruh baya tengah berdiri di hadapannya. Ia tersenyum tulus pada Baekhyun dan menggeleng pelan.

"Jung Sunyeonim? Ani… aku hanya…" jawab Baekhyun terbata.

"Meninggalkan Chanyeollie untuk kesekian kalinya?"

DEG!

Pernyataan telak bagi Baekhyun. Bukan. Bukan seperti itu. Ia tak mungkin meninggalkan Chanyeol lagi. Tidak akan pernah sekalipun. Dan tanpa ia sadari, air matanya mulai jatuh. Ia tak bisa menjawab pertanyaan biarawati di hadapannya.

"Jawab itu, Park Baekhyun!" ucap seseorang bersuara bass di belakangnya.

Ia segera berbalik dan melihat suaminya tengah memandangnya intens. Sungguh, ia takut. Bukan karena ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia takut jika masih saja ada yang menyalahkannya karena telah meninggalkan Chanyeol selama 15 tahun. Ia tak tahan, ia tak mau lagi jauh dari suaminya itu. Jadi ia memutuskan untuk berlari ke arah Chanyeol dan memeluknya. Ia menangis tersedu dalam pelukan hangat suaminya.

"Ish… dasar namja bodoh." Ucap Chanyeol sambil membelai punggung mungil Baekhyun sekedar untuk memberinya ketenangan.

Jung Sunyeonim tampak bahagia melihat keduanya. Ia mendekati dua pengantin itu dan menepuk pundak mereka. Mereka pun melepas pelukan itu dan memandang sang biarawati yang kini menatap mereka penuh kebahagiaan.

"Seperti apa yang ku pikirkan, kalian memang tak bisa terpisah. Dan kini Tuhan telah menyatukan kalian. Tuhan memberkati kalian, anak-anakku." Ujarnya tulus,

Chanyeol dan Baekhyun tersenyum bersamaan. Lega, itu yang mereka rasakan.

"Ayo kita masuk!" ajak Chanyeol pada Baekhyun dan Jung sunyeonim.

Mereka kembali masuk ke dalam gereja. Gereja yang lima belas tahun lalu menjadi saksi janji keduanya dan hari ini ia kembali harus menjadi saksi dari janji yang lainnya. Janji yang lebih nyata yang dilakukan oleh orang yang sama. Gereja itu masih setia menjadi saksi kasih sayang yang tercipta diantara keduanya. Setara dengan kesetiaan cinta mereka berdua.

Tiba-tiba terdengar tawa anak-anak yang kini tengah bermain di halaman gereja.

"Ah, anak-anak!"

"Ya, Park Baekhyun, bisakah kau tak memikirkan anak-anak itu dulu? Ini hari pernikahanmu! Aku bisa memberimu sebanyak yang kau mau! Jadi kau tenang saja!"

"Jinja?"

"Kau meragukan suamimu?! Oke, kita lakukan malam ini juga!"

"Ya! Dasar mesum!"

.

.

.

FIN!

Sebelumnya author mau ngucapin makasih banyak buat chingudeul yang udah baca FF ini dari chap awal sampe akhir. Ini ada sequelnya lho chingudeul. Hehehehe... semoga ada yang mau nunggu yah?

Ditunggu REVIEW nya yaa… Gomawo chingudeul ! ^^