L
Disclaimer : Aoyama Gosho
L for Lost
Suara rintik-rintik hujan diiringi sambaran petir membangunkan Shiho dari tidurnya. Dia menggeliat dan memegang keningnya dengan muka berkerut. Dia selalu terbangun 1-2 jam setelah memejamkan mata dan tidak bisa melanjutkannya dalam beberapa hari ini. Diliriknya jam disamping meja rias, jarum menunjukkan angka 3.35, sungguh waktu yang cocok untuk mimpi indah bukannya menggerutu diatas ranjang sambil mencegah keinginan untuk mengambil pil tidur yang terletak disamping bantalnya.
"Mungkin aku butuh sesuatu yang panas seperti susu..", gumamnya pelan. Shiho memaksa tubuhnya meninggalkan ranjangnya yang hangat ke dapur. Beberapa menit kemudian dia sudah duduk di sofa sambil menggenggam cangkir susu panas dan memejamkan matanya. Pikirannya berkelana ke kejadian beberapa hari lalu.
Saat itu Shintaro sedang mengantarnya pulang rumah setelah kejadian pembunuhan yang tak terduga terjadi dirumahnya. Mereka turun dari mobil dan Shintaro mengantar Shiho menuju lantai apartemennya dalam diam. Ketika sampai di pintu depan, Shiho berbalik dan menatap pria itu.
"Terima kasih telah mengantarku pulang.."
Shintaro tersenyum,"Ini kewajibanku, Shiho.." dia meraih dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
Shiho tampak gugup," Err..Kamu mau mampir atau bagaimana?"
"Tidak. Aku harus balik pulang dulu karena keadaan rumah masih berantakan dan pita police line masih berceceran. Mungkin polisi masih memerlukan keteranganku atau bagaimana", jawab Shintaro.
"Baiklah. Hati-hati menyetir di jalan." Shiho tampak ragu kemudian melepaskan tangannya dan meraih handbagnya utk mencari kunci. Ketika menemukannya, dia menyadari tatapan Shintaro masih lekat memandangnya. Shiho merasa wajahnya panas tapi dia menyembunyikannya dengan mencoba membuka kunci pintu dengan cepat. Tiga kali baru dia berhasil membukanya dengan sukses dengan tangan gemetar. Shiho menoleh ke pria itu, " Selamat malam.."
Shintaro mengangkat tangannya dan membelai pipi gadis itu, " Aku akan menunggumu.."
Shiho tampak bingung," Maksudmu?" Pria itu cuma mengangkat bahunya dan menepuk pipinya sekali. Kemudian pulang. Shiho akhirnya menutup pintu apartemennya setelah beberapa saat.
Mata Shiho terpejam ketika membayangkan adegan itu kembali. Dia larut dalam kebingungannya. Dia tahu Shintaro pria yang serius dan tak mudah menyerah, tapi pertemuannya kembali dengan Shinichi membuat pertahanan dirinya hampir menyerah. Dia tahu dia akan menyakiti pria sebaik Shintaro kalau bayangan Shinichi tetap menghantuinya. Dia ingin melepas bayang-bayang masa lalunya. Dia sudah lama hidup dalam ketakutan, apa salahnya hidup tenang, kencan dengan pria baik dan mungkin menikah suatu saat dengannya? Dia ingin memulai hidup baru lagi.
Shiho mengaduk gelas susu didepannya. Dingin. Dia bangkit dan membuang susu itu di wastafel. Dilihatnya sosok dirinya terpantul di balik cermin. Wajahnya yang pucat, rambut blondenya yang sedikit berantakan, matanya yang memerah karena kurang tidur dan bibirnya yang biasanya merah tampak memutih. Apa yang kau cari dalam hidup, Shiho Miyano ? tanya bayangannya pada dirinya.
Shiho merenung dan meninggalkan wastafel itu dengan langkah panjang. Pikirnya , tak seharusnya dia tak bersyukur, karena hidup ini tentu ada konsekuensinya, apapun opsi yang telah dipilihnya. Dia kembali ke ranjangnya dan mencoba untuk tidur kembali.
xxxxx
Pekerjaannya hari itu sangat banyak, laporan analisa kimia masih bertumpuk-tumpuk di meja kerjanya. Setelah berkutat lama di lab, Shiho menyadari jam udah menunjukkan angka 10 malam. Asistennya sudah pamit pulang berjam-jam lalu. Dia mengecek handphonenya, ada 2 pesan dari Shintaro yang mengajak keluar besok. Dia tersenyum kecil dan membalasnya. Entah kenapa malam itu Shiho tidak ingin pulang ke apartemennya dulu, dia memutuskan untuk mampir ke bar kecil tak jauh dari sana. Intuisinya merasa ada sesuatu malam ini.
Ruangan bar itu kecil dan tidak penuh pengunjung. Dilihatnya sekeliling kemudian dia mengambil kursi di depan bartender. Shiho memesan Black Russian dan menghabiskan 10 menit terakhir menyesap minumannya ketika dia menyadari ada pria sendirian yang kelihatannya sedang mabuk dan tertidur di seberang kursi barnya. Matanya menyipit ketika mengenali rambut pria itu. Shinichi Kudo! mengapa dia disini?
Shiho tampak ragu tapi kemudian bangkit dan mendekati pria itu. Digoncangkan lengannya.
"Kudo- kun", panggilnya tajam.
Shinichi bangun, matanya mencoba fokus ke arah suara, "Siapa kau?"
"Bukan siapa-siapa. Apa yang sedang kau lakukan disini, Kudo! Kau tampak berantakan dan bau alkohol. Kau harus pulang atau ada yang melihatmu. Reputasimu bisa hancur."
"Aku tak perduli reputasiku…" gumamnya tak terdengar. Shiho mengangkat alisnya.
"Apa maksudmu? Aku akan menelepon Hakase supaya dia menjemputmu pulang"
"Miyano.." Shinichi hendak bangkit tapi dia roboh lagi, Shiho cepat menyanggahnya dan membiarkan dia duduk balik di kursi bar. Gadis itu kesal melihat Shinichi yang sempat-sempatnya mabuk-mabukkan. Dia cepat menelepon Hakase dan sialnya hanya rekaman kaset penerima telepon yang memberitahukan pemilik rumah tidak ada di rumah. Dia teringat Hakase pernah memberitahunya kalau dia akan pergi ke Osaka untuk beberapa hari.
Shiho menutup teleponnya. Pikirannya cepat berputar. Shinichi Kudo, detektif SMU terkenal menghabiskan malamnya di bar sambil mabuk-mabukkan. Dia membayangkan headlines koran-koran besok. Bagaimana kalau aku membawanya pulang ke tempat Mouri-san ? Shiho bisa membayangkan apa reaksi Ran kemudian dia menghela nafas. Akhirnya dia memutuskan memanggil taksi dan memapah Shinichi pulang ke apartemennya.
Shinichi mengerang dan membuka matanya menatap silaunya lampu. Dia berusaha bangkit berdiri ketika menyadari kalau dia tidur di suatu sofa di ruangan yang tak dikenal.
'Dimana aku?' batinnya. Terdengar suara langkah kaki mendekat dan Shinichi terperanjat melihat Shiho datang dengan membawa secangkir kopi panas. Matanya bertanya-tanya tapi Shiho hanya tersenyum dan menyerahkan cangkir itu ketangannya," Minum dulu, Kudo." Dia kemudian duduk disampingnya.
Shinichi mematuhinya dan meminumnya pelan-pelan.
"Aku menemukan kau mabuk kemarin malam di bar. Jadi karena Hakase tidak bisa dihubungi dan aku tidak tahu bagaimana reaksi Mouri-san kalau aku membawamu pulang dengan keadaan berantakan," ujar Shiho tenang.
Shinichi cuma mengerang dan meletakkan cangkir itu di meja. Shiho menatapnya dengan sikap menyelidik," Ceritakan apa yang terjadi, Kudo."
Detektif itu mematung tak menjawab. Shiho menghela nafas dan hendak bangkit berdiri ketika Shinichi menggumam pelan," Tunggu!" suaranya hampir tak terdengar.
Shiho kembali duduk dan menunggu.
"Aku…..Kamu masih ingat kasus Seiji Asoh yang pernah kuceritakan padamu? Bahwa jika seorang detektif membiarkan tersangkanya mati bunuh diri sama saja dengan pembunuh…"
Shiho tak menjawab, dia membiarkan Shinichi terus bicara.
"Kemarin aku bersama Detektif Takagi dan unit penyelidik lain sedang mengusut kasus penusukkan anak SMA yang telah terjadi berulang kali. Kami mengamati pola serangan, mengambil sampel bukti dan menyebarkan jebakan ternyata pelakunya itu hanya seorang anak SMA biasa. Aku berhasil menemukannya dan ternyata dia punya alasan untuk melakukannya. Dia hanya menyerang orang-orang yang selama ini membully-nya. Dia sudah mencoba melapor ke siapa aja yang mau mendengar tapi tidak ada tindakan… Orang tuanya hanya menganggapnya kejahatan anak-anak dan menyerahkannya ke pihak sekolah. Guru-gurunya menuduhnya berbohong….Aku bimbang antara ingin menyerahkannya ke polisi, dia berhasil kabur dan mencoba bunuh diri. Nyawanya berhasil diselamatkan tapi dia sedang koma karena kehabisan darah…" Shinichi terlihat sangat tersiksa ketika kata-katanya tersendat keluar dari mulutnya. "Aku tak tahan menunggu bersama polisi lain di RS jadi aku memutuskan untuk pergi ke bar dan…"sambungnya lagi.
"Sejak kapan kamu berbaik hati kepada tersangka pelaku kejahatan?",potong Shiho dingin.
"Huh?"
"Sejak kapan kamu bimbang dan jatuh kasihan kepada tersangka? Kamu yang kukenal tidak pernah berbelas hati kepada kejahatan..",lanjut gadis itu dengan intonasi lebih tinggi.
"Miyano…aku…"
Shiho menunduk tapi kemudian tak disangka-sangka dia berdiri dan menarik kerah baju Shinichi. Raut mukanya merah menahan emosi. " Kamu ini detektif paling brilian yang pernah kuketahui.. SHINICHI KUDO. MANA KEBENARAN YANG TELAH KAUBANGGAKAN SELAMA INI? Kamu yang dulu tidak pernah selemah ini terhadap tersangka kejahatan…"
Shinichi kaget melihat Shiho melampiaskan emosinya. Dia tidak pernah melihat wajah Shiho sedekat itu. Mata birunya yang berkilauan, hidung dan pipinya yang agak merah, bibirnya yang berwarna pink… Dia merasakan hembusan nafas gadis itu di bibirnya…
"Kudo… aku tau kamu selalu mengutamakan kebenaran dalam hidupmu. Tetapi kadang-kadang ada yang tidak bisa kita lakukan…ada hal-hal yang diluar kehendak kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu..jangan menekan dirimu begitu keras…" Shiho melepaskan cengkeramannya dan mundur. " Mungkin akulah penyebab kamu berubah, Kudo.. Kamu telah menghapus dataku di Pandora's Box.. Kurasa aku telah menghancurkan visi kebenaran yang telah kamu junjung tinggi selama ini… seharusnya kamu menyerahkan aku ke polisi bersama-sama dengan anggota BO lainnya dulu.."
"MIYANO! Sampai mati pun aku tidak mungkin menyerahkan kamu ke polisi. Kamu bukan penjahat seperti mereka itu. Kamu hanya dipaksa untuk membuat obat terkutuk warisan orang tuamu.."
Shiho hanya menatapnya sedih, betapa besar harga yang harus dibayar seorang Shinichi Kudo hanya untuk dia yang sama sekali tidak berharga dan tidak layak untuk mendapatkannya. Satu-satunya cara hanya pergi dari kehidupan detektif itu dan mungkin bisa menghilangkan sedikit perasaan bersalah yang menderanya selama ini.
"Shinichi… aku bukan temanmu atau siapapun. Kita hanya terikat oleh takdir karena obat yang kubuat. Setelah organisasi itu jatuh, ikatan takdir kita telah terpisah dan jalan kita tidak boleh saling bersinggungan lagi…"
"Apa maksudmu? Tentu saja kamu temanku.." Shinichi mengerutkan keningnya. Shiho hanya tersenyum lemah.
"Aku.." jawabnya terpotong karena bunyi dering handphone. Shinichi merogoh kantungnya dan menjawab," Halo? Kudo disini… YA? Benarkah itu? Ya Tuhan…terima kasih atas bantuannya..aku akan menjenguknya sekarang. Sekali lagi terima kasih.." Shinichi menekan tombol off dan matanya berbinar ketika melihat berbalik menatap Shiho. "Miyano.. anak itu..selamat..dia sudah sadar dari komanya" dia menarik dan meremas tangan Shiho pelan.
Shiho hanya mengangguk lega dan meremas tangan Shinichi balik. 'aku tidak bisa memaafkan diriku kalau ada terjadi apa-apa dengan anak itu dan membuat Shinichi menyesal selamanya. Ini semua salahku' batinnya.
"Miyano…aku tidak pernah menyesal pernah bertemu denganmu. Aku juga mengerti hukum ada batasnya, versi keadilan tiap orang berbeda.. kamulah yang mengubahku. Selama ini aku hanya seperti memburu kesenangan menangkap orang yang bersalah tanpa melihat motif mereka terlebih dahulu.."
"Kudo…,"ucap Shiho lirih.
"Karena kamulah aku mengenal lebih jauh kebenaran, bukan versiku yang dulu, tapi kebenaran yang tidak lagi absolut tapi tergantung beberapa aspek..tergantung bagaimana kamu menganalisnya"
"Keadilan cuma semu, Kudo… Kita bisa menggunakan segala akal untuk menghindari hukum, tapi kita lupa bahwa masih ada penghakiman nanti.."
"Miyano..betul. Tapi kita masih punya waktu untuk memperbaiki kesalahan. Itu yang penting.."
Shiho diam, matanya bertemu dengan Shinichi yang melihatnya dengan lembut.
"Miyano..aku…" Ucapan Shinichi terpotong oleh dering handphone lagi. Kali ini punya Shiho. Dia cepat mengangkatnya,"Ya? Shintaro? "
Shinichi kembali mengerutkan keningnya mendengar nama itu. Dia bangkit berdiri dari sofa dan menggerakkan kakinya ke dapur, tidak mau mendengar pembicaraan Shiho. Dia mengamati ruangan makan dan dapur Shiho yang minimalis. Hampir tak berperabot apapun menunjukkan pemiliknya orang yang praktis dan hampir tak pernah memasak. Samar-samar didengarnya pembicaraan Shiho di sofa kemudian hening. Setelah beberapa saat Shinichi kembali menemui gadis itu.
"Aku harus pergi sekarang menjenguk anak itu," Ucapnya melihat Shiho masih tetap duduk di sofa.
Shiho mengangguk pelan.
"Thanks udah menolongku kemarin," sambung Shinichi lagi.
Shiho hanya tersenyum dan berujar," Paling tidak aku mungkin satu-satunya orang yang bisa melihat detektif arogan dan congkak sedang mabuk-mabukkan"
" .. kupikir kamu masih marah padaku…" Shinichi tersenyum membalasnya.
"Bodoh. Untuk apa aku marah padahmu?"
"Karena aku menghapus datamu di Pandora's Box tanpa sepengetahuanmu…"
Shiho menatap Shinichi lekat-lekat. "Kupikir aku yang seharusnya berterima kasih.. kamu sudah memberiku segalanya yang bisa kaupikirkan. Aku tak layak mendapatkan lebih dari ini lagi, Kudo.."
"Tentu saja kamu layak. Aku sudah berjanji padamu akan selalu melindungimu sampai akhir"
Shiho tak menjawab, dia cuma menghela nafas pelan.
"Eh… Miyano, aku boleh mampir kapan-kapan…? Tentu saja jika kamu tidak keberatan.." Shinichi buru-buru melanjutkan ketika melihat reaksi Shiho. Dia tidak tahu efek pertanyaannya ke gadis itu.
Shiho hanya mengangkat bahunya," Mouri-san yang akan keberatan."
Shinichi mengerutkan keningnya ketika mendengar nama itu. "Ran tidak akan keberatan..."
Shiho menyipitkan matanya menatap Shinichi, " Benar. Tidak ada yang patut dicemburui dari hubungan kita. Oh yah..Hakase berapa lama ke Osaka? Dia memberitahuku minggu lalu."
"Tiga hari lagi dia pulang. Mungkin ada perayaan kecil-kecilan atas keberhasilan produk ciptaannya. Kamu harus datang.."
"Baiklah.."jawab Shiho. Suasana menjadi canggung dan Shinichi berdiri kaku seakan hendak berbicara tapi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Kamu harus pergi sekarang karena Shintaro akan datang sebentar lagi.."
Shinichi tertegun dan bergumam," Oh..Ya.. Sampai ketemu lagi Miyano.."
Shiho mengikuti Shinichi yang berjalan menuju ke pintu depan dan tersenyum mengangguk menatap kepergian detektif itu.
Setelah Shinichi benar-benar pergi, Shiho menutup dan mengunci pintunya. Dia berbalik dan bersandar di balik pintu, memejamkan matanya..
xxxxx
Tepuk tangan terdengar membahana di gedung konser itu. Ada seruan encore beberapa kali. Para tamu tampak puas menonton pertunjukkan musik klasik yang baru saja berakhir. Shiho bangkit berdiri dari bangku dan berjalan menuju backstage. Matanya berkeliling mencari seseorang dan menemukannya sedang menyetel biola.
"Shintaro.." Shintaro melihatnya dan tersenyum.
"Kamu tampak cantik sekali hari ini..Shiho.."
"Thanks. Aku juga suka komposisi gubahan Sebastian Bach yang kamu bawakan tadi" Shiho balik tersenyum dan menatapnya.
"Aku akan siap beberapa menit lagi. Tunggu aku disini".
Shiho mengangguk dan duduk di kursi terdekat. Dia memperhatikan Shintaro pergi ke balik suatu ruangan. Gadis itu melihat sekeliling, masih banyak orang berlalu lalang, semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang membersihkan piano, membereskan partitur-partitur yang berantakan, dan tak lama kemudian terdengar jeritan seorang wanita tak jauh dari sana.
Shiho terkesiap dan bangkit berdiri. Orang-orang disekitarnya bergumam ada mayat di ruang proyektor dan ada yang sudah memanggil polisi. Shiho menghela nafas, 'apakah murder magnet-nya Kudo sudah menular ke dia?'
Beberapa saat kemudian Shintaro datang dari balik ruangan dan menemuinya dengan muka pucat.
"Shiho, ada pembunuhan, salah satu karyawan kami yang menemukannya"
"Ah..kupikir kita tidak pernah beruntung ya, Shintaro? Kencan kita selalu terganggu mayat-mayat"
"Haha..benar..Detektif itu, Shinichi Kudo, akan datang sebentar lagi"
"Kudo?"
"Benar. Ada yang memberitahuku. Ada yang ingin kutanyakan dulu..kamu dan dia.."
Shiho tidak mendengarnya karena matanya sudah menuju kedatangan Shinichi ke backstage. Dia tampak terkejut melihat Shiho dan Shintaro tapi hanya sebentar setelah itu dia menghilang ke ruangan lain bersama petugas polisi lainnya.
"Apa yang kamu bicarakan tadi?" tanya Shiho.
"Lupakan saja..itu tidak penting."
Shiho tersenyum. Dia menahan keinginannya untuk pergi menemui Shinichi dan melihat dia menunjukkan skill detektifnya. Dia dan Shintaro duduk dalam diam sampai kemudian polisi keluar dengan Shinichi lagi. Shiho agak kaget ketika melihat tatapan dingin Shinichi kepada dia. Detektif itu datang mendekat bersama beberapa petugas polisi.
"Ya..Pria ini termasuk orang yang menemui korban setelah pertunjukkan berakhir" ujar salah satu polisi.
"Shintaro Fukuyama. Kami butuh informasi atas pembunuhan Miss Yuhara Maeda. Silakan ikut dengan petugas kami", ujar Detektif Megure.
Shintaro tampak bingung tapi dia berdiri juga dan meremas bahu Shiho untuk menenangkannya kemudian berjalan mengikuti petugas.
"Kudo. Apa yang terjadi?", tanya Shiho cemas.
"Kekasihmu orang terakhir yang bertemu dengan korban dan dia diduga keras tersangkanya.."
Shiho membelakkan matanya, " Tidak mungkin.."
"Aku tahu. Aku akan mencari bukti untuk kalau benar dia tak bersalah..", kata Shinichi tajam.
"Tentu saja dia tidak bersalah..",balas Shiho cepat.
"Miyano..aku tak tau apa yang kamu lihat padanya",gumam Shinichi pelan.
Shiho menggigit bibirnya," Dia pria baik, Kudo."
"Mengenai baik atau tidaknya tergantung penyelidikan nanti", kata Shinichi dingin.
"Tentu saja dia pria yang baik. Kamu pikir aku tidak bisa membedakan dan mengenali pria dalam hidupku?," tanya Shiho mulai emosi.
"Aku tak mengerti dengan kamu….Kupikir aku mengenal Ai Haibara dengan baik ternyata dugaanku salah.."
"Ai Haibara berbeda dengan Shiho Miyano. Ai Haibara sudah tidak ada lagi sekarang"
"Benar… jadi apakah aku salah jika menginginkan Ai Haibara lagi?"
"Apa maksudmu? Menyuruhku menjadi kecil lagi?",tanya Shiho heran.
"Tidak. Bukan itu maksudku.." pembicaraan mereka terpotong karena petugas polisi itu balik lagi dan memanggil Shinichi. Dia mengangguk dan pergi meninggalkan Shiho di backstage. Orang-orang mulai berbisik dan saling bergumam. Shiho tak perduli, dia tetap duduk menunggu dengan raut wajah tak terbaca.
Dua jam kemudian Shintaro datang dengan wajah lelah. " Shiho…Pelakunya sudah tertangkap. Salah satu pemain cello kami." Shiho merasa lega dan bangkit berdiri menyambutnya.
"Syukurlah.. Kudo memang detektif hebat", gumam Shiho.
Shintaro menatap gadis itu ," Detektif itu tadi berusaha mencari bukti untuk memberatkanku alih-alih berusaha untuk membebaskanku. Kamu bilang dia hebat?", tanya dia keras.
Shiho mengerutkan keningnya," Kudo tidak mungkin begitu"
"Ya, detektif yang selalu kau banggakan itu berusaha untuk membuatku bersalah. Entah apa yang ada dipikirannya. Dia berulang kali mengecek alibiku, mencocokkan bukti, merongrongku dengan berbagai macam pertanyaan."
"Dia hanya melakukan tugasnya, Shintaro.."
"Dia berbeda ketika kasus di rumah orangtuaku kemarin. Mencercaku seakan aku yang melakukan pembunuhan itu!"
Shiho terdiam. Dia tidak berusaha membantah lagi. Dia memandang Shinichi dari kejauhan kemudian menghela nafas. "Ayo kita mampir makan dulu sebelum pulang, Shintaro"
Pria itu menggeleng. " Aku sudah kehilangan nafsu makan melihat tatapan mata detektif itu, dia seperti elang yang hendak menyantap buruannya", ujarnya sambil tersenyum pahit.
Shiho tersenyum lemah dan dia menggandeng Shintaro keluar dari backstage. Mereka hendak keluar dari gedung teater itu ketika Shintaro tiba-tiba berhenti. Dia memutar badannya dan tangannya memegang lengan Shiho dengan erat. Mereka masih berdiri di lorong teater yang sepi.
"Shiho..ada yang ingin kubicarakan padamu sekarang…", panggil Shintaro pelan.
"Ada apa…?"
"Aku… Aku tahu sesuai perjanjian kita semula waktu kita mulai pacaran, aku sadar kamu tidak mencintaiku…. Tapi semakin aku mengenalmu, semakin aku takut, jatuh semakin dalam, dalam mencintaimu…."
Shiho menatapnya tak percaya, matanya bertemu dengan mata pria itu.
"Aku tak tahu semua hal tentang dirimu. Aku tak tahu masa lalumu, aku merasa ada dinding yang begitu tebal diantara kita, kamu ingin kita tetap lanjut, Shiho?"
"Maksudmu..?", ujar Shiho lirih.
"Kamu biarkan aku mendekatimu, frustasi setiap hari memikirkanmu setiap saat tapi kamu tidak membuka diri sama sekali padaku."
"Jadi…?"
"Aku ingin kamu menceritakan segalanya padaku. Aku tidak sanggup melihat ada pria lain yang ada dihatimu selama ini.."
"Tidak ada pria lain, Shintaro…"
"Jangan menipu dirimu lagi, Shiho.. aku.." ucapannya terputus karena dia telah mencium gadis itu dengan hasrat dan emosi. Shiho kaget dan terkesiap. Dia merasa sangat rapuh, dimana sebagian tubuhnya ingin menolak dan sebagian lainnya merasa luluh.. Ciuman itu berakhir dengan cepat sama saat dimulainya.
"Maafkan aku..Shiho.." Gadis itu gemetar di dekapan Shintaro, pria itu membelai rambutnya dan membisikkan kata-kata dengan emosi tertahan di telinga Shiho.
"Kamulah yang kuinginkan tapi tak dapat kuraih. Karena kamu sudah menjadi miliknya…."
Shiho tak menjawab, dia mengubur wajahnya di dada pria itu..
Akhirnya Shintaro melepaskan pelukannya,"Shiho…" dia mencium pipi gadis itu dengan penuh perasaan kemudian menggenggam tangannya," Selamat tinggal.." dia menunduk dan pergi lagi. Kali ini tak akan kembali lagi.
Shiho kembali gemetaran dan dia ingin segera pergi dari lorong itu ketika seseorang menyambar lengannya. Dia kaget dan menyentak kembali lengannya. Ternyata Shinichi. Dia berdiri menatapnya.
"Ada apa lagi, Kudo?" ujarnya tajam. Apa dia melihatnya? Batin Shiho dalam hati.
"Kamu menangis.." Shiho tersadar ketika dia menyadari ada tetesan air mata yang jatuh di pipinya. Dia cepat-cepat menghapusnya dan berlari buru-buru keluar. Dia tak mau Shinichi melihatnya menangis.
Tapi Shinichi lebih cepat, dia berhasil mengejar Shiho dan menarik lengannya. Mereka berdebat di tepi jalan raya yang masih tampak ramai.
"Jangan susul aku!"seru Shiho.
"Apa yang terjadi kamu dengan pria itu?", desak Shinichi.
"Bukan urusanmu, Kudo. Jangan ikut campur",desisnya.
"Dia membuatmu menangis. Tentu saja ini urusanku." Shinichi bersikeras.
Shiho menyetop taksi yang lewat dan segera masuk tanpa menunggu bantahan Shinichi lagi. Mobil itu melaju kencang meninggalkan detektif itu di pinggir jalan.
Di sepanjang perjalanan, Shiho hanya diam setelah memberitahukan alamatnya ke sopir. Airmatanya tak turun lagi tapi wajahnya masih tetap pucat.
Handphone-nya kembali berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Shiho mengeluarkannya dengan lambat.
"Because, if you could love someone, and keep loving them, without being loved back.. then that love had to be real. It hurt too much to be anything else."
Dari Shintaro.
Shiho tau dia bersalah. Semakin dalam rasa menyesalnya, dia telah menyeret begitu banyak orang ke dalam masalahnya sendiri. Dia tersesat dalam labirin dan kumparan masalah yang dibuatnya sendiri tanpa bisa melihat jalan keluar.
To be continued…
AN : Aku menciptakan tokoh Shintaro karena aku ingin ada pria lain yang mencintai Shiho apa adanya dan bisa menandingi Shinichi. Haha. Aku ingin tokoh baru yang perfect seperti pria2 di drama Korea dan bukan dari fandom DC. Endingnya? Terserah readers deh, mau balik ke Shintaro atau Shinichi ? :3
Kritik, ide dan saran tetap diterima. Thanks telah meluangkan waktu untuk membaca.
