L
Disclaimer : Aoyama Gosho
L for Lonely
Part 1
Kediaman Hakase tampak ramai hari ini. Shiho sedang duduk di sofa mengamati keriaan Ayumi, Genta dan Mitsuhiko. Mereka sibuk memutuskan siapa yang hendak memotong kue duluan. Suara Genta yang nyaring mencoba meyakinkan kalau dia yang berhak kemudian dipotong seruan Ayumi dan Mitsuhiko. Shiho tersenyum kecil melihat mereka. Shinichi yang baru datang dan raut wajahnya senang ketika melihat Shiho. Dia datang bersama Ran Mouri. Gadis itu tertegun melihat Shiho dan pandangan matanya bertanya-tanya. Dia tampak berbisik ke Shinichi yang dijawab pria itu sambil menggeleng kepalanya. Shiho bangkit berdiri ketika mereka mendekat.
"Perkenalkan aku, Shiho Miyano, kenalan Professor Agase." Shiho mengulurkan tangannya dan disambut Ran dengan hangat.
"Aku.. Ran Mouri.. Kita pernah bertemu di pesta dubes minggu lalu"
"Benar. Saat itu kita tidak sempat berkenalan, Mouri-san." Shiho tersenyum.
"Er…maaf….Kamu kenal seorang anak yang bernama Ai Haibara, Miyano-san? Dia sangat mirip denganmu.."
"Oh..dia sepupu jauhku. Tadi anak-anak juga udah menanyakan hal yang sama padaku." Shiho tersenyum kecil pada Ran. Shinichi hanya mengangguk pelan. Kemudian Ran menggandeng tangan Shinichi menuju tempat Hakase dan anak-anak berada. Shiho melihat mereka dalam diam. Dia merasa butuh udara segar dan hendak keluar dari rumah ketika dia menyadari ada pria yang sedang berdiri di teras.
"Kamu…" Pria itu berbalik. Dia tersenyum melihat Shiho.
"Lama tak ketemu. Kamu keliatannya baik-baik saja", ujar Shuichi Akai. Dia tampak jauh kurus dibanding dulu waktu menyamar menjadi Subaru Okiya.
"Benar. Sejak kejatuhan BO, kamu menghilang. Kamu balik ke Amerika?"
"Ya. Kemarin aku baru tiba disini. Aku mencarimu. Professor Agasa memberitahuku kalau kamu datang hari ini"
"Ada apa mencariku?"
"Tertarik untuk bergabung ke FBI?"
"FBI?" Shiho menaikkan alisnya.
"FBI membutuhkan orang-orang seperti kamu. Jangan sia-siakan waktumu disini, Miyano. Aku tahu apa yang diperbuat Kudo di Pandora's Box. Tidak ada file lamamu di FBI. Lagipula BO sudah tidak eksis lagi. Aku tidak tahu apa yang menahanmu disini."
"Aku punya kehidupan disini, Akai-san. Lagipula aku sudah berjanji pada hakase untuk selalu bersamanya"
"Professor Agasa? " Shuichi tersenyum kecil, " Jika hanya itu keberatanmu, akan ada seseorang yang menjaganya nanti. Tak usah khawatir"
"Seseorang? Maksudmu siapa?" tanya Shiho heran.
"Tak lama lagi kamu akan tau. Miyano, kau tak cocok berada di Japan. Kau.. lebih cocok bila bersama .."
"Siapa?"
"Tidak. Lupakan saja" Shiho menatapnya dengan pandangan menyelidik tapi dia tidak meneruskannya.
"Kapan kamu balik lagi ke US?" tanya Shiho lagi.
"Aku baru sampe kemarin dan kamu ingin aku segera balik?"
Shiho tersenyum kecil," Tidak, bukan itu maksudku. Bagaimana kabar agen Jodie dan yang lain?"
"Mereka baik-baik saja. kamu tanya berapa lama aku disini karena siapa tahu berubah pikiran dan akhirnya memutuskan untuk pergi bersamaku?"
"Itu.."Shiho tak melanjutkan perkataannya karena Shuichi tiba-tiba mecengkeram bahu gadis itu dengan kuat," Kupikir kamu tau apa yang kumaksud sebelum pergi ke US beberapa bulan lalu itu…"
"Tidak..aku tidak tau.." Shiho mengelak dan menghindari tatapan Shuichi yang menghujam tajam. Pria itu menarik dagu Shiho dengan lembut supaya tatapan mereka bertemu.
"Aku selalu menjaga pesan Akemi padaku. Menjagamu. Bukan hanya dari kejaran BO tapi mungkin untuk seterusnya…"
"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku dengan baik" ujar Shiho dingin.
"Memang kamu wanita yang kuat. Aku tidak meragukan kemampuanmu, Miyano. Tapi kamu tidak bahagia disini. Ikutlah bersamaku ke US. " pinta Shuichi.
"Siapa bilang aku tidak bahagia disini? Disini ada Hakase, Kudo dan yang lain.." elak Shiho lagi.
"Bohong. Jangan lari lagi dari kenyataan, Miyano. Kamu jelas-jelas tidak bahagia disini. Matamu yang memberitahukannya padaku. Kamu kesepian. Kita bukan manusia biasa yang seperti lainnya. Kehidupan kita kompleks dan definisi kebahagiaan kita berbeda artinya dengan dongeng umumnya. Kudo sudah memilih gadis kantor detektif itu dan aku tahu kamu bukan gadis egois yang ingin menghancurkan hubungan orang lain. Bagaimana kalau kamu memulai hidup yang baru di US bersamaku? Tawaran yang sangat menarik bukan?"
Shiho tak menjawab, dia hanya menunduk. Shuichi melepaskan cengkeramannya dan berbisik di telinga gadis itu," Aku di Tokyo selama dua minggu. Kamu tau dimana bisa mencariku, Miyano. Pikirkanlah baik-baik.." Pria itu kemudian berjalan pergi dan meninggalkan Shiho sendirian.
Suasana yang hening dipecahkan oleh teriakan Ayumi memanggil Shiho.
"Miyano-san.. Hakase mencarimu.." Shiho terkesiap dan segera masuk ke dalam ruangan menemui yang lain. Disana keadaan tampak kacau dan berantakan. Ran sibuk merapikan ruangan. Rupanya salah satu peralatan ciptaan Hakase meledak dan menimbulkan asap tipis ke seluruh ruangan. Detektif Boys batuk-batuk keluar dari ruang makan. Pandangan mata Shiho tak sengaja bertemu dengan Shinichi. Detektif itu melempar senyuman kecil.
Memori Conan Edogawa dan Ai Haibara kembali berputar. Shiho ingat ketika masa-masa itu mereka sering berkemah bareng, melacak kejahatan, memecahkan teka-teki, mencoba semua peralatan Hakase yang terbaru, nonton film bersama dan lain-lain. Betapa Shiho merindukan kenangan itu tapi sayangnya sekarang hanya tampak terbayang-bayang dan hitam putih di layer-layer ingatannya. Bahkan sebagian ingatannya sebagai Ai Haibara sekarang tampak samar mulai tak berbekas lagi. Bukankah masa-masa sebagai Ai yang sedang menikmati kehidupan anak kecil kedua kalinya yang layak merupakan masa yang paling berbahagia setelah kabur dari BO? Kenapa memori itu sekarang tampak buram dan suram berkotak-kotak seakan ada yang hilang?
"Miyano…" Shiho sadar dari ingatannya ketika Shinichi menyenggol lengannya. Dia cepat bereaksi untuk menutupi kebingungannya dengan buru-buru membantu Ran membersihkan sisa dan serpihan alat ciptaan Hakase.
Shinichi hanya menatapnya seakan hendak bertanya sesuatu tapi tak jadi karena Shiho meninggalkannya begitu melihat Hakase memanggilnya. Pertanyaannya mengendap dan terlupakan begitu saja.
"Ai-kun. Kamu sudah bertemu dengan Akai-san?" tanya Hakase begitu melihat Shiho.
"Sudah. Barusan aku bertemu dengan dia."
" Ada apa dia mencarimu? Dia pikir kamu masih tinggal bersamaku, Ai-kun. "
"Tidak ada yang penting, Hakase. Maafkan aku karena tidak bisa tinggal bersamamu lagi setelah apa yang terjadi selama ini. Tapi yang kudengar dari dia, ada yang akan menjagamu nantinya. Apa itu berhubungan dengan Miss Fusae?"
Pipi Hakase merona merah,"Jadi Akai-san sudah tau tentang hal ini? Aku memang akan memberitahumu, Ai-kun. Miss Fusae akan datang dari US beberapa hari lagi dan dia akan tinggal disini."
Shiho tersenyum menggoda,"Wah, tak kusangka hubungan kalian makin akrab."
Hakase hanya terbatuk-batuk dengan pipi merah. Shiho tersenyum puas menatapnya dengan sayang.
"Ai-kun.. Akai-san memberitahuku kalau dia akan mengajakmu ke US, benarkah itu?"
"Itu.. aku belum memutuskannya.." Shiho tampak bingung, Hakase menepuk lengannya dengan lembut," Pikirkanlah baik-baik. Kupikir jadi anggota FBI juga bukan hal yang buruk."
"Aku tahu, Hakase. Tidak usah khawatir."
"Bagaimana kehidupanmu selama ini, Ai-kun. Kamu tampak kurus dan pucat. Jangan terlalu lelah berkerja karena kesehatanmu yang paling penting"
"Aku mengerti, Hakase." Shiho tersenyum lembut menenangkan pria tua itu. Pembicaraan mereka terhenti karena Ayumi, Genta dan Mitsuhiko datang dengan ribut. Mereka sibuk membicarakan rencana kemping untuk bulan depan diselingi teriakan makanan yang banyak oleh Genta dengan antusias dan alat-alat percobaan Hakase yang harus dites lagi oleh Mitsuhiko dengan gaya ilmuwan. Shiho tersenyum melihat mereka , pandangan dia kembali bertemu dengan Shinichi yang rupanya juga sedang menatap anak-anak. Shiho dan Shinichi saling tersenyum kecil penuh arti. Ran yang berdiri disampingnya menatap kebingungan dan mengernyitkan alisnya ketika melihat senyum Shiho dan Shinichi seakan mereka sedang berada di dunia parallel yang sama berbeda dengan yang lain di ruangan itu.
Malam datang dengan cepat, Ayumi dan yang lain sudah pulang dijemput keluarga mereka masing-masing, yang tersisa cuma orang dewasa. Shiho bangkit dari sofa dan hendak pamit pulang ke Hakase. Shinichi yang melihatnya cepat berseru," Miyano, kamu tunggu dulu. Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah repot-repot, Kudo-kun. Aku bisa pulang sendiri. Kamu sebaiknya mengantarmu Mouri-san pulang karena sepertinya hujan akan segera turun."
Hakase menggeleng," Sepertinya akan badai, Ai-kun. Kupikir kamu tinggal semalam disini dulu. Besok baru pulang. Lagipula besok minggu, kamu tidak bekerja kan?" Ran yang mendengar Hakase memanggil Shiho dengan Ai-kun seharian sibuk bertanya pada Shinichi tentang nama itu dan dia tidak puas karena Shinichi hanya berkata Hakase mungkin salah bicara dan menganggap Shiho sebagai pengganti gadis blonde yang dulu tinggal bersamanya.
"Benar…baiklah kalau begitu..lagipula aku tidak ada kerjaan hari ini" Shiho tersenyum kecil.
"Kamu tidak kencan hari ini? Bagaimana dengan pria itu yang dulu kamu ceritakan padaku?" tanya Hakase santai.
"Itu..kami sudah putus.." jawab Shiho lemah. Entah kenapa hati Shinichi yang mendengar ini terasa ringan, sangat ringan, membuatnya ingin berteriak kesenangan. Ran memperhatikan raut muka Shinichi yang tampak berubah tapi dia hanya diam saja tak bereaksi. Dia tampak sibuk dalam pikirannya sendiri.
"Oh…sayang, padahal dari yang kudengar, dia pria yang baik kan? Apa ada masalah?"tanya Hakase lagi
"Tidak. Kami hanya tidak cocok bersama .." Shiho diam berusaha supaya pembicaraan ini tidak berlanjut lagi karena dia sadar Shinichi dan Ran masih ada disana dan dia bisa merasakan tatapan Shinichi membuatnya tidak nyaman.
"Kalau begitu, aku pulang dulu mengantar Ran. Sampai jumpa, Miyano, Hakase"seru Shinichi riang. Ran menggandengnya erat. Shiho yang melihat hal ini, mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Tampak cuaca memang sudah berubah, menjadi dingin dan tanda-tanda hujan lebat akan segera datang.
Malam itu Shiho tak bisa tidur lagi. Dia mencoba mengatur posisi bantalnya dan tubuhnya berbolak balik tak mampu membuatnya memejamkan matanya. Dia akhirnya menyerah dan mengambil posisi duduk dengan memeluk bantalnya. Kamarnya tampak gelap dengan bayangan samar. Suara hujan bertalu-talu menimpa bumi menjadikan irama yang berulang-ulang dan berputar-putar di benaknya. Memorinya kembali, kembali ke masa setelah penyerangan BO beberapa waktu dulu…
"Apa yang kaulakukan setelah BO hancur, Kudo?"
Conan tersenyum, matanya tampak berkilat di balik kacamatanya," Tentu saja kembali menjadi Shinichi Kudo"
"Itu tak perlu kamu katakan dengan jelas, aku sudah mengetahuinya. Setelah itu? Tentu menikahi wanita impianmu bukan?" sindir Ai Haibara.
"Oi,oi. Kamu terlalu cepat mengatakannya, Haibara. Aku ingin kembali ke kehidupan normal sebagai detektif dan mungkin kehidupanku selanjutnya akan menjadi membosankan dengan tidak adanya organisasi criminal yang mengejar..terdengar ironis bukan, Haibara. Aku yang selama ini mengidamkan untuk kembali menjadi Shinichi Kudo dan begitu kesempatan itu datang aku merasa..bimbang.."
"Kamu bimbang? Seperti bukan dirimu saja, Kudo. Jangan-jangan hidup sebagai Conan Edogawa sudah mengambil hampir semua sisi hidupmu.."
"Benar, aku ragu..karena sepertinya kamu tidak menggunakan antidote itu".
"Kupikir kamu tak usah cemas karena ini hidupku dan aku yang akan menjalaninya"
"Tentu saja aku cemas, Haibara.. kamu pikir aku siapa? Kamu yakin akan tinggal sebagai Ai Haibara? Ini bukan dunia dimana kamu harus bersembunyi dibalik anak 7 tahun. Bukan dunia abnormal yang penuh kebohongan lagi. Kamu sudah bebas dari mereka, Haibara"
"Tidak..aku selamanya tidak akan pernah bebas dari BO. Satu-satunya jalan untuk itu adalah melanjutkan hidupku sebagai Ai Haibara. Shiho Miyano sudah mati karena APTX 4869 dan Ai Haibara harus hidup untuk bertanggung jawab untuk kesalahan yang dilakukan Shiho Miyano di masa lalunya."
"Tidak. Ai Haibara hanya tokoh fiktif rekaan belaka. Bukankah sudah pernah kukatakan padamu, Haibara, jangan pernah lari dari takdirmu. Lagipula kamu pernah bilang siapa yang melawan arus waktu akan mendapat hukuman. APTX sudah banyak memakan korban jadi satu-satunya cara untuk melawannya adalah hidup terus. Kamu dan aku telah menang melawan obat yang tidak seharusnya dibuat itu dan caranya adalah menggunakan antidote itu."
"Aku tidak mau menggunakan antidote itu, Kudo dan keputusanku sudah final. "ujar Ai tegas.
Conan merasa amarahnya memuncak," Baik. Jika kamu tidak menggunakannya, aku juga tidak."
"Kudo.. Berpikirlah pakai logika dan realistis. Selama ini kamu ingin balik kembali menjadi Shinichi Kudo, jangan gara-gara aku , kamu berubah pikiran. Kupikir ada yang salah denganmu hari ini. Kadar kewarasanmu sedang menurun sepertinya"
"Benar. Aku sudah gila. Kamu juga. Kamu yang gila ingin tetap menjadi Ai Haibara. "
"Kudo.." mata Ai menyipit dan dia menggumam ," Sebutkan alasan logis kalau kehidupan Shiho Miyano patut untuk dilanjutkan lagi."
"Aku..aku…" Conan kehilangan kata-kata. Ai menatapnya lalu menghela nafas," Kudo, aku tidak melihat kalau keputusanku tetap menjadi Ai Haibara itu ada hubungannya denganmu. Kamu dan aku masing-masing punya jalan hidup yang berbeda. Hanya takdir yang membuat jalan kita bersinggungan dan kupikir aku tidak punya hak untuk berada di masa depanmu. Aku sudah menghancurkan hidupmu, Kudo, biarkan aku membayarnya sebagai Ai.."
"Jadi salah satu alasan kamu tetap menjadi Ai Haibara karena merasa bersalah padaku? Bodoh. Aku sudah memaafkanmu dari dulu. Kamu…Kamu adalah sahabatku."
"Lagipula aku tidak pernah memiliki masa kecil yang normal, kupikir Tuhan memberiku kehidupan berputar terbalik lagi untuk mendapatkan hal-hal yang tidak pernah kudapatkan."
"Haibara. Aku…tidak siap untuk kehilanganmu.."
"Kudo..aku tidak kemana-mana, aku akan tetap tinggal di Tokyo. Disini ada Hakase juga"
"Tidak.." Conan kelihatannya susah mengeluarkan kata-kata yang selama ini menganjal di hatinya, matanya terlihat berkilauan dibalik kacamata palsunya, hati Ai terasa mencelos karena dia tidak pernah melihat tatapan Conan yang penuh emosi. Mata biru Conan yang seharusnya melambangkan ketenangan tetapi malah menggambarkan kobaran amarah dan emosi yang menyala.
"Haibara..kupikir aku menyukaimu.." Mata Ai membesar, hatinya tersentak, kata-kata Conan seakan mengalirkan arus listrik yang menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
"Tidak..tidak mungkin…"gumamnya pelan.
"Benar..aku berulangkali berusaha mengenyahkan perasaan ini karena kupikir aku punya Ran yang selalu menungguku, tapi Haibara… perasaanku padamu berbeda.. Ran adalah segalanya bagiku, aku sudah mengenalnya sepanjang usiaku tapi kamu tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku.." Conan berhenti sejenak kemudian menggumam," Kau tahu, pertama aku sangat benci karena kau adalah orang-orang dari organisasi itu.." Conan berhenti dan tersenyum kecil ," Tetapi aku..tidak bisa mengingkari kalau kau adalah orang yang paling penting bagiku..Ran tetap penting bagiku…tapi aku tidak bisa kehilanganmu..tak bisa kubayangkan hidupku tanpa dirimu disisiku.."
"Ini hanya spur-of-moment, Kudo", potong Ai cepat," Perasaanmu padaku hanyalah momen sekejap karena kita sama-sama terjebak dalam anak kecil begitu lama. Kamu hanya bercanda, sepanjang aku mengenalmu, hanya Mouri-san yang ada dihatimu.."
"Aku tidak bercanda, Haibara… tapi kupikir aku memang bingung..dan aku juga sudah menghapus datamu di Pandora Box. Tidak ada lagi datamu yang bisa diakses baik oleh FBI dan BO. Kamu bisa kembali menjadi Shiho Miyano tanpa ada masalah lagi"
"OH.. Tak seharusnya kamu melakukan begitu banyak hal padaku. Kupikir aku tak layak mendapatkannya, Kudo"
"Yang jelas kamu harus tetap bersamaku dan satu-satunya hal yang kuinginkan sekarang adalah kamu menjadi Shiho Miyano saat aku menjadi Shinichi Kudo"
"Kamu detektif egois, Kudo. Kamu tak pernah memikirkan kepentinganku.."
"HAIBARA!" Conan tiba-tiba memeluknya dengan erat. Ai merasa seluruh tubuhnya menjadi hangat karena kontak fisik itu walau sesungguhnya hatinya panas karena emosi yang bergejolak.
"Maafkan keegoisanku, Haibara, kupikir kamu yang paling mengerti diriku. Jadi sekali ini dengarkan permintaanku ini.." bisik Conan.
Ai akhirnya melepaskan pelukannya, dia menatap Conan dengan dingin.
"Haibara.." Conan mulai gugup ketika mata biru Ai tampak berkabut dan serasa jauh…
"Baiklah, aku setuju kembali menjadi Shiho Miyano tapi lupakan perasaanmu, Kudo. Kamu hanya bingung, setelah menjadi Shinichi Kudo, kamu akan jelas dengan semuanya setelah kembali. Tenang saja.. lagipula Mouri-san sudah menunggumu dan kamu sudah berjanji akan kembali padanya.."ujar Ai pelan.
Ai tersenyum menenangkan pada Conan walau mungkin hanya Tuhan yang tau apa yang sedang terjadi di hati gadis kecil itu. Emosi yang menghujam dadanya ketika mengucap kata demi kata itu. Dia tidak boleh menghancurkan hidup Shinichi lagi apalagi mencoba merebut dia dari Ran Mouri, kalau ada yang patut berkorban dan disalahkan adalah dia sendiri karena dia berhutang banyak kepada detektif ini. Shinichi yang pertama menolongnya dan mengenalkan kehidupan baru padanya. Dia belajar banyak pada Shinichi. Dia belajar tentang keadilan, kejujuran, kesetiaan, dan keteguhan. Dia yang memberikan cahaya setelah sekian lama tinggal dalam kegelapan. Dia yang mengajarkannya cinta, kasih sayang, kelembutan di dunianya yang penuh dengan terror dan kejahatan. Lakon dia bukan putri yang akhirnya mendapatkan pangeran tetapi tokoh putri palsu yang harus membayar semua dosa masa lalunya… tapi dia sama sekali tidak menyesal, asal Shinichi bahagia karena tujuan hidupnya kali ini memastikan kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya.
Conan tak mampu bersuara lagi , dia hanya termangu melihat Ai menyerahkan plastic kecil yang berisi antidote permanen APTX 4869.
Wajah Conan yang penuh kebingungan dan amarah berputar terakhir sebelum Shiho tersentak dari mimpi pendeknya. Dia mengejapkan matanya beberapa kali mencoba mengusir bayangan memori itu. Ada setitik air mata yang jatuh pelan bergulir di pipinya kemudian menetes di dagunya…
To be continued…
AN : Pertama, aku minta maaf kalo Shiho dan Shinichi OOC banget disini. Karena menurutku Shinichi yang mulai menyukai Shiho dan merasa bersalah pada Ran sehingga dia menjadi bimbang sedangkan Shiho jelas jelas bukan tipe cewek yang ingin merebut pria lain walau dia menyukai Shinichi jadi dia rela berkorban. Shiho disini beda dengan Ai Haibara dan Sherry karena sebagai Ai dia bersikap tegar dan dingin sedangkan sebagai Sherry dia hanya mengenakan topeng untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Shiho Miyano disini adalah gadis yang rapuh, sering bimbang dan mengingkari perasaannya. Jadi biarkan mereka yakin pada perasaannya masing-masing dulu untuk menjalin hubungan baru nantinya.
thanks atas reviewnya, tentu saja Shiho dan Shinichi akan berakhir bersama ;)
