L
Disclaimer : Aoyama Gosho
L for Lust
Shiho memejamkan matanya, dia merasa sangat lelah dan tubuhnya tak berenergi. Shinichi tak bergerak duduk di sampingnya, hanya desah nafasnya yang menunjukkan kalau dia masih berada disana.
"Kau keliatan begitu kacau. Pergilah cuci muka dulu," gumam Shiho. Nafas Shinichi tersentak, dia menoleh memperhatikan gadis itu dan akhirnya mengangguk. Detektif itu bangkit dari sofa dengan lambat dan tersaruk-saruk. Lalu langkah kakinya terdengar menjauh. Shiho hanya duduk bersender di sofa, pikirannya begitu kalut dan membuatnya gamang. Dia merasa dunianya berputar balik selama beberapa hari ini. Ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan dan rasa bersalah begitu besar mencengkeramnya—membuatnya susah bernafas. Dadanya terasa sesak. Ditariknya nafas panjang, lalu dihembusnya kembali. Mencoba membiarkan pikirannya jernih.
Tiga puluh lima menit telah lewat. Shiho membuka matanya. Dia merasa heran kenapa Shinichi membutuhkan waktu begitu lama di kamar mandi. Apa dia ketiduran? Dipaksanya kakinya bergerak dan berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Diketuknya pintu sekali. Dua kali. Tidak ada jawaban.
"Kudo?"
Diketuknya pintu sekali lagi. Lebih keras.
"Kudo? Kau masih di dalam?"
Hening. Shiho mencoba memutar gagang pintu, tak terkunci. Dia membuka pintunya hati-hati untuk mencegahnya melihat hal-hal yang tak diinginkan. Tapi yang ditemukannya malah membuatnya berteriak begitu keras.
"KUDO!" Shiho menghambur ke dalam bathtub, disana Shinichi terbaring lemas dengan kepala terkulai di samping bathtub dalam posisi mata tertutup. Sepertinya dia ketiduran ketika hendak berendam. Shiho tak memperdulikan panasnya air yang menerpa tubuhnya ketika dia masuk ke dalam bathtubnya yang besar untuk membangunkan pria itu.
"Kudo! Bangun! Apa kau baik-baik saja?" teriaknya sambil menepuk pipi detektif itu.
Shinichi membuka matanya perlahan,"Haibara?"
"K-kau membuatku cemas!" sembur Shiho.
"Haibara?" gumam Shinichi lagi, jemarinya naik ke wajah Shiho dan membelainya," ini bukan mimpi kan?"
"Aku bukan Haibara lagi… A-aku—kupikir kau…," gumam Shiho tak beraturan. Sekujur tubuhnya telah basah dan membuatnya mengigil. Ketika Shiho hendak bangkit berdiri untuk keluar dari bathtub tapi Shinichi menarik tangan gadis itu dan dia jatuh ke dalam pelukannya. Air bercipratan membasahi dinding.
"Jangan pergi—jangan pergi dariku lagi," gumam Shinichi di telinga gadis itu. Tubuh telanjangnya menempel erat dengan Shiho yang membuatnya merinding. Gadis itu meronta, tapi kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Shinichi yang entah darimana datangnya tapi mampu memeluknya dengan begitu kuat.
"Haibara… please… jangan tinggalkan aku lagi…," pinta Shinichi lagi. Shiho merasa dadanya begitu berat melihat wajah kesakitan Shinichi. Bola mata kebiruan Shinichi memantul menyiratkan kesedihan yang amat sangat—yang membuatnya ingin menanggung kepedihan bersamanya. Baginya Shinichi adalah segalanya. Dia yang mengajarkan keadilan, kejujuran, kehangatan keluarga, teman pertamanya dan kasih sayang yang dia pikir—tak mungkin pernah dia dapatkan lagi. Dia adalah epitome dari semua frase dan titik nadir yang bertolak belakang dari kehidupan sebelumnya.
Jadi ketika pria itu menciumnya lagi dengan begitu lembut, Shiho membiarkannya. Dia juga tak menolak ketika jemari pria itu mulai membuka pakaiannya yang basah menempel bagai kulit kedua, dia juga tak menolak ketika pria itu mengangkatnya keluar dari bathtub.
Cinta tak seharusnya menyakitkan begini.
Cinta seharusnya tentang kebahagiaan.
Bukan tentang luka dan kepedihan.
Ketika Shinichi membaringkannya ke atas ranjangnya, mata mereka bertemu. Jemari Shinichi membelai tulang pipinya perlahan, hidung, mata dan berhenti ke bibirnya. Desah nafasnya terasa begitu berat dan hangat.
"Apa aku pernah bilang kalau kau sangat cantik?" bisik Shinichi. Suaranya terdengar dalam dan seksi. Shiho melihat sisi lain dari pria itu pertama kalinya. Sisi liar yang dia sangka tak pernah ada dalam benak pria itu.
Shiho tak yakin kalau dia sebenarnya berhak menerima cinta dan gairah pria itu. Dia telah menghancurkan hidup Shinichi, Ran dan menyakiti orang-orang yang disekelilingnya. Belitan rasa bersalah membuatnya lemah, tapi dia tau kalau Shinichi menginginkan dirinya. Penyesalan selalu datang terlambat bukan? Shiho tak ingin merasa menyesal karena dia tau kalau segala perbuatan ada konsekuensinya. Segala reaksi dan aksi saling berhubungan satu sama lainnya. Dia tau kalau hubungannya dengan Shinichi setelah ini tak akan pernah sama lagi. Mereka terlalu saling mengenal satu sama lainnya—mengetahui isi kepala dan hati masing-masing tanpa harus mengatakannya secara terus terang. Ikatan batin mereka jauh lebih dalam setelah melewati frase Conan dan Ai. Mereka telah sampai di titik pengertian dimana tak seorangpun bisa melewatinya.
Jadi setelah ini, tidak ada jalan untuk mundur lagi. Dia hanya bisa maju dan terus maju ke depan dengan segala akibat yang harus dia tanggung.
Shiho memperhatikan bulu mata Shinichi yang panjang, hidungnya yang mancung, bibirnya yang membentuk senyum tipis sekarang, rambutnya yang masih basah hingga menetes-netes, kulit coklatnya yang hangat menempel begitu dekat dengannya—membuat hatinya berdebar. Sensasi jemari pria itu ketika menyentuh kulitnya bagai sengatan listrik yang menyentak panca indranya. Dan dia tau kalau Shinichi merasakan hal yang sama karena detak jantungnya juga terdengar begitu kencang.
Bibir mereka bertemu lagi, jemari Shiho naik ke leher pria dan berhenti di ujung rambutnya.
Dan dia benar-benar menyerah ketika Shinichi berbisik di telinganya dengan begitu mesra,
"I love you…"
.
"Kau benar-benar yakin kan, Miyano?"
Shiho mengangkat wajahnya dan menemukan tatapan mata Shuichi Akai yang seakan menembus hatinya. Matanya berkejap sejenak, seakan hendak meyakinkan sesuatu.
"Ya." Cuma itu yang dikatakan Shiho.
"Pesawat kita akan berangkat satu jam lagi. Jika masih ada orang yang ingin kau hubungi sekarang, waktunya masih sempat, Miyano."
"Aku sudah menemui Hakase semalam untuk mengucapkan selamat tinggal."
"Hm…."
Shiho menggigit bibirnya,"Tidak ada orang lain yang harus kutemui lagi disini."
Shuichi mengangkat alisnya tanpa berbicara lagi. Mereka berdua duduk dalam hening.
Tidak ada yang patut disesalkan bukan, Shiho? Kau telah mengerti segala konsekuensi yang harus kau terima.
Dan ketika panggilan pesawat berkumandang, mereka bangkit dari kursi bersamaan. Berjalan beriringan dalam kesunyian. Shiho menelengkan kepalanya sebentar, memperhatikan birunya langit Tokyo dari balik kaca. Entah kapan dia akan kembali bisa menikmati cerahnya suasana kota Tokyo, begitu banyak memori yang tertinggal disini. Memori yang membuatnya dadanya sesak sehingga susah bernafas. Dia tak akan pernah bisa lari dari cengkeraman rasa bersalah dan harus hidup terus untuk itu.
Dan dia harus tetap maju. Tak boleh berhenti lagi.
Disusulnya Shuichi berjalan memasuki kabin pesawat.
.
Shinichi duduk di sofa ruang keluarga Professor Agasa yang luas. Postur tubuhnya ringkuh, menyiratkan kalau pemiliknya sudah letih berjuang. Ada kerut di alisnya dan kesakitan yang begitu nyata terpampang di rona wajah pucatnya.
"Shinichi-kun…," kata Professor Agasa di sampingnya. Wajahnya cemas memperhatikan detektif itu.
"Aku selalu tau kalau dia akan meninggalkanku." Kata Shinichi lugas. Dia bahkan tak sanggup menyebut nama gadis itu, karena akan terasa begitu menyakitkan.
"Kau harus mengerti, Shinichi-kun. A—dia terlalu banyak menderita. Kau harus memahami keputusannya."
"Tidak bisakah dia mengerti—kalau tidak mencoba—ah… sudahlah…"
"Dia butuh waktu, Shinichi-kun. Dia akan kembali jika waktunya tiba," kata Professor Agasa bijak. Dia sedang mengaduk kopi hitam kental untuk detektif itu. Diletakkannya di atas meja, di depan Shinichi.
"Minumlah, ini resep kopi dia. Dia selalu membuatkanku setiap saat aku merasa lelah atau tak bisa berpikir."
Shinichi menatap kopi itu dengan perasaan tak menentu. Jemarinya terasa begitu kuat mencengkeram telapak tangannya, dia yakin kalau kukunya telah menekan begitu dalam hingga berdarah.
"Dia pasti akan kembali, Shinichi-kun. Tempatnya adalah disini. Dia akan menyadarinya suatu saat kelak."
Shinichi tak menjawab, matanya masih tetap terpaku pada kepulan uap dari cangkir kopi. Lalu dengan suaranya yang parau,"Dia terlalu memahami diriku, Hakase. Terasa begitu menyakitkan karena dia pergi meninggalkanku—adalah karena demi aku. Segala sesuatu yang dia lakukan hanya untukku."
"Jadi sekarang, kau harus ganti berbuat untuknya," ujar Professor Agasa tenang.
Shinichi mengangkat cangkirnya, menyesap kopinya perlahan—menikmati pahitnya rasa menyentuh lidahnya. Pahit dan kesat. Tapi terasa begitu nyata memenuhi dirinya, seakan memberinya kekuatan baru.
"Aku tau."
Professor Agasa tersenyum dan menepuk pundaknya perlahan sebelum meninggalkannya.
.
.
.
tbc
A/N : Tinggal satu chapter lagi dengan judul L for Love. Sorry butuh waktu lama untuk nyelesaiinya karena gw kehilangan fokus hehe. Ada banyak plot yang gak jadi gw gunakan dan kebanyakan itu endingnya sad, jadi gw mesti berpikir ulang lagi.
Anyways, thanks for reading and reviewing. ^_^
