L
Disclaimer : Aoyama Gosho
L for Love
Dia tak tau bagaimana harus melewatkan waktu tanpa memikirkannya. Tanpa memikirkan malam terakhir saat mereka bertemu—yang membuatnya sedikit menyesal. Menyesal karena tak bisa meyakinkan gadis itu untuk tinggal. Menyesal karena menciumnya, memeluknya dan memohon padanya. Karena setelah malam itu, hari-harinya terasa gamang. Seperti layangan putus terhembus angin ke angkasa.
Tapi Shinichi mengerti dan memahaminya. Dia merasa lucu—dulu saat hubungannya dengan Ran, dia membiarkan gadis itu menunggunya karena keegoisannya dan sekarang—dia yang balik menunggu Shiho. Terasa ironis dan membuatnya tak berdaya. Menunggu itu sama sekali tidak menyenangkan bukan?
Kepergian Shiho membuat hatinya tertoreh lebih dalam. Dia bahkan seperti lupa bagaimana bernafas. Yang dipikirannya hanya kasus, kasus dan kasus. Untuk mengalihkannya dari kepedihan, untuk mengingatkannya kalau kepergian gadis itu sebenarnya demi kepentingan dirinya sendiri. Gadis itu terlalu memahami dirinya.
Dia yang tak mengerti apa itu cinta, menemukannya di saat rasa itu mencengkeramnya kuat dan memelintir hidupnya. Cinta yang dia pikir adalah saat bersama Ran ternyata bukan cinta yang benar-benar cinta. Shinichi sangat menyesalkan pertengkarannya yang terakhir bersama gadis itu, walau mereka memang selalu beradu pendapat dari dulu. Dia bahkan seperti tidak mengenali dirinya sendiri dan merindukan masa-masa Conan dulu.
Cinta seharusnya mengubah orang menjadi lebih baik lagi. Shinichi adalah pribadi baru yang menjelma dari transformasi Conan sedangkan Ran hanya mengenalnya sebagai Shinichi Kudo, gadis itu tak mencintai dirinya yang sebenar-benarnya.
Shiho telah bersamanya pada momen terbaiknya—saat dia memecahkan berbagai kasus dengan cemerlang, saat dia menghancurkan Black Organization, dan juga pada momen terburuknya—saat dia merasa begitu tak berdaya. Saat dia rapuh, saat dia kehilangan Ran, saat dia merasa dunia hancur bertubi-tubi sehingga dia kehilangan semuanya.
Tapi yang membuatnya terperosok begitu dalam ketika Shiho meninggalkannya untuk kedua kalinya. Dia mengerti kalau—hubungan mereka jika diteruskan akan menjadi sangat berbahaya. Seperti tergantung pada satu benang tipis, satu gerakan salah—mereka akan saling menghancurkan satu sama lainnya.
Jadi Shinichi menunggu.
Menunggu waktu yang tepat.
.
Kilatan flash kamera bertebaran di udara. Suara ramai jurnalis berbagai media mendengung, menanyakan banyak hal padanya, memintanya berpose, mengajaknya berbicara, berusaha menarik perhatiannya, tapi Shiho hanya melemparkan senyum.
"Debutmu sangat sukses, Miss Miyano. Kau menaklukan New York hanya dalam satu hari."
"Apa anda terinspirasi ibu angkatmu—Fusae Agasa—untuk label terbaru musim semi, Miss Miyano?"
"Kolaborasi terbaru Fusae-Akemi telah mengguncangkan dunia fashion New York. Anda tak bisa membayangkan bagaimana orang-orang akan antri untuk setiap helai rancanganmu—kau luar biasa, Miss Miyano!"
Pertanyaan demi pertanyaan tak henti menghujani Shiho. Para asistennya tersenyum bangga di sampingnya, mereka telah berkerja begitu keras untuk peluncuran label terbarunya untuk musim semi seharian tadi. Di sisi lain, Professor Agasa dan istrinya saling memeluk serta tersenyum hangat padanya. Shiho membalas senyuman mereka.
Setelah selesai menjawab berbagai pertanyaan berbagai jurnalis yang antusias, Shiho akhirnya menemukan waktu untuk dirinya sendiri malam itu.
Dengan segelas wine di jemarinya, Shiho berdiri di studio yang luas. Dia masih mengenakan gaun malam yang memamerkan keindahan punggungnya. Dua tahun lewat setelah kedatangannya di New York bersama Shuichi Akai, dia yang tak pernah memimpikan akan menjadi fashion designer, mendapatkan kesempatan untuk belajar pada Fusae Agasa. Professor Agasa telah mengadopsinya secara legal dan memintanya secara khusus untuk tinggal bersama istrinya di New York. Di kota metropolis dunia ini, Shiho menemukan impiannya. Rancangan pertamanya baru dirilis tadi pagi dan dia tak pernah membayangkan kalau labelnya akan selaris ini. Well, dia memang punya taste of fashion yang bagus sih. Dulu sewaktu di Black Organization, Shiho selalu mengenakan berbagai barang bermerk, terutama hadiah dari Gin. Dia tersenyum getir mengingat pria itu.
"Kita tak punya tempat di dunia luar, Sherry. Dunia kita berbeda dengan orang lain. Persepsi kita tak sama dengan mereka." Ada senyum tipis di bibir pria itu, seringai kecil ketika menyadari gadis kecil yang selalu bersamanya telah cukup berani untuk menanyakan hal-hal di luar dugaannya.
"Jadi maksudmu kita seharusnya saling memiliki di dunia abstrak yang kau ciptakan sendiri?" tanya Sherry sarkastik.
Gin tertawa, mata kehijauannya terlihat berkilauan. "Aku tak tau apa cinta itu, Sherry. Tapi yang kutau, aku menginginkan dirimu."
Nafas Sherry tersentak. Dia tak mengerti apa itu cinta, dan tidak tertarik untuk mengeksplorasi lebih lanjut. Tapi pelukan Gin membuatnya berpikir lain.
Shiho memainkan gelas kristalnya. Saat itu dia masih naïf, Gin merupakan pria pertama yang bersamanya. Dia mentor, penjaga, guru, dia juga membagikan segala pengalaman pertama bersamanya. Setelahnya pengkhianatannya, Shiho mengubur semua kenangan tentang Gin dalam-dalam.
Dia tak percaya konsep cinta. Menurutnya cinta hanyalah keegoisan semata. Kau mencintai untuk mengharap dicintai, bukan? Bohong kalau kau tak meminta balasan. Baginya cinta hanya kamuflase untuk mendapatkan keinginan, kerakusan dan ketamakan manusia sesungguhnya.
Pertemuannya dengan Shinichi Kudo mengubah segalanya. Detective Boys dan Professor Agasa menawarinya cinta dan kasih sayang—yang dia pikir dia tak berhak mendapatkannya. Masa-masa bersama mereka merupakan memori terbaik dalam hidupnya. Dia menghargai setiap momen dan bersyukur atas setiap perhatian yang dia dapatkan.
Jadi Shiho ingin mencintai dengan konsep lain yang selama ini diketahuinya. Dia ingin mencintai tanpa merasa egois.
Pandangan matanya beralih pada karangan bunga yang terpajang. Wangi bunga semerbak di udara, warna-warninya membuat hatinya hangat.
Diambilnya salah satu kartu dari rangkaian bunga carnation putih.
Selamat atas labelmu yang terbaru.
Shuichi dan Jodie Akai.
Shiho tersenyum, Shuichi telah menikah dengan Jodie bulan lalu. Dia tak menyesal menolak pria itu. Shuichi lebih pantas bersama dengan wanita yang mencintai dirinya sepenuhnya.
Matanya melirik kartu lain. Daffodil kuning.
Kau tampak begitu cantik tadi. Kuharap debutmu sukses.
Love,
Shintaro Fukuyama.
Shiho menatap rangkaian bunga berkelopak kekuningan itu. Hatinya berdesir mengingat pria itu. Shintaro adalah segala sesuatu yang kau inginkan dari seorang pria. Hanya wanita beruntung yang seharusnya bersama pria itu, bukan dia—wanita yang punya masa lalu kelam dan tak pernah bisa jujur untuknya.
Ketika matanya berhenti pada setangkai mawar merah dengan kartu kecil terikat di tangkainya, hatinya terasa berhenti berdetak. Dengan tangan gemetar, Shiho mengambil kartu kecil yang berisi tulisan tangan yang amat dia kenali.
Tak kusangka kau bisa menghasilkan begitu banyak rancangan yang indah. Tak buruk untuk pemula.
Shinichi Kudo.
Senyuman di bibir Shiho melebar, dia tak peduli kalau Shinichi telah mengejeknya dalam dua kalimat pendek itu. Well, dia akan membalasnya suatu saat nanti. Tapi membaca tulisannya, membuat hatinya ingin meledak. Diraihnya mawar itu dan dihirupnya wanginya dalam-dalam—memenuhi panca indranya.
Terdengar langkah kaki mendekat. Insting Shiho membuatnya segera menoleh, matanya membesar ketika melihat sosok itu. Mawar merah di jemarinya jatuh tanpa suara.
Shinichi Kudo.
Pria itu sekilas tak berbeda dari ingatan Shiho tentang pertemuan mereka yang terakhir, tapi kilatan matanya telah kembali, rambut hitamnya yang sedikit berantakan, senyumannya, postur tubuhnya begitu relaks dan santai. Dia mengenakan kemeja putih dan celana jins hitam yang membuatnya tampak begitu seksi di mata Shiho.
Sedangkan di mata Shinichi, Shiho jauh lebih cantik dari mimpi-mimpi liarnya—yang membuatnya tetap bertahan, berjuang untuk melewati hari, dan pria itu memperhatikan sosok gadis itu lekat-lekat. Mencernanya perlahan, memakunya dalam ingatan. Rambut pirang strawberry itu masih sama indah dan halus, walau jauh lebih panjang dari dulu, melewati pundaknya. Pipi gadis itu merona merah, bibir penuhnya sedikit terbuka. Shinichi berpikir—membayangkan ciuman mereka dulu, sentuhan kulit lembutnya—segala tubuhnya bereaksi dan berteriak tanpa suara. Betapa dia ingin mendekati dan memeluk Shiho—tapi dia bertahan.
Mata mereka bertemu, masing-masing bertahan—mengharap salah satu pihak maju duluan.
"Kudo…," akhirnya Shiho membuka suara dengan lirih. Shinichi tak luput menyadari betapa dirinya merindukan mendengar suara gadis itu yang membuat desir dadanya nyaris tak terkendali.
"Shiho." Kata Shinichi lugas. Dia maju selangkah lalu membungkuk untuk memungut mawar merah yang terjatuh di lantai. Diamatinya sejenak kemudian dia meraih tangan Shiho—sentuhannya membuat nafas gadis itu tersentak dan Shinichi merasakan aliran darahnya bergerak menuju ke debar jantungnya.
"Selamat atas peluncuran labelmu. Aku selalu tau kalau kau bisa menjadi fashion designer," ucap Shinichi lembut. Diletakkannya mawar itu di jemari Shiho tapi dia tetap tak melepaskan genggamannya.
"Thank you," balas Shiho sambil tersenyum. Matanya tak lepas pada iris kebiruan Shinichi yang berkilauan. Pria itu mendekat lagi, ragu sejenak untuk melihat reaksi Shiho—lalu maju lagi. Begitu dekat hingga Shiho bisa merasakan hembusan nafas hangat pria itu di pipinya, lalu Shinichi berbisik di telinganya, "I miss you…"
"Shinichi…," desah Shiho dan pria itu mengerti, dia mengecup ujung bibir gadis itu perlahan—lalu bergeser untuk menciumnya penuh-penuh. Meluapkan segala kerinduan yang ada. Untuk sejenak dunia sekeliling terasa memudar…
"Kau kembali padaku..," bisik Shinichi di sela-sela kecupannya.
"Ya..."
Hubungan mereka tak sempurna dan memang pasti akan menemukan banyak rintangan lagi. Masa lalu yang mengaitnya, masa depan yang tak pasti, membuat Shiho sadar kalau selama ada cinta; selalu ada jalan untuk itu.
Pandangan mata saling bertemu, jemari bertautan, gerakan kaki saling bersisian, gesekan bahu tak sengaja dan nafas yang beresonansi.
"Kau tau kalau aku belum memaafkanmu, Shiho." Ucap Shinichi dengan mata berkilat. Shiho mengangkat alisnya, "Oh, jadi apa salahku?"
"Karena kau meninggalkanku. Dua kali."
"Huh. Lucu sekali."
"Kau harus menebusnya."
"Oh ya? Dengan cara apa?" tanya gadis itu sarkastik.
"Nanti saja kupikirkan, yang penting kau harus kuhukum." Shinichi tersenyum lebar.
"Kau pikir segampang itu kau bisa menghukumku, Shinichi Kudo?" ejek Shiho.
"Hukumanmu, tetaplah disisiku—selamanya." Ucap Shinichi lantang, seakan itu hal yang paling jelas sedunia.
Shiho tak menjawab, tapi binar matanya sudah cukup bagi Shinichi, jemarinya menangkup wajah gadis itu dan mengecupnya lagi.
.
.
.
Fin.
A/N : Akhirnya selesai juga fic ini. Gw ngebut untuk mengejar Valentine nanti. Ga ada yang lebih cocok merilis fic Love di saat semua orang merayakan Celebration of Love ! Shinichi/Shiho merupakan salah satu relationship yang sangat indah di DC dan mereka berhak mendapatkan happy ending, yah paling gak di fic-fic gw. Gw menaruh Gin/Sherry di kilasan masa lalu Shiho karena gw selalu bertahan pada canon. Konsep cinta setiap orang di fic ini berbeda-beda dan menjadikannya sangat menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Gw memang merencanakan fic ini terdiri dari 6 bagian; Lies, Lost, Lonely, Lust, Laughter, dan Love. Tapi gw menghapus Laughter karena terasa tidak cocok untuk plot yg gw tulis. Mungkin gw akan menaruhnya sebagai epilog suatu saat nanti.
Thanks untuk yang ngereview di chapter lalu, guest, Sadako Yamamura, Misca, Marutaro, M4dg4rl, PureAi dan hai.
Hai : gw akan menulis sekuel dari Delusions of Moonlight dengan Shinichi/Shiho dengan flashback Shiho/Kaito. Ditunggu ya…
And Thank You for reading. ^_^
PS : ada arti bunga di setiap buket yang diterima Shiho.
Daffodil kuning : unrequited love {cinta tak terbalas}
Mawar merah : love, respect, courage
Carnation putih : pengirim mendoakan supaya penerima meraih kesuksesan.
