Disclamer: selalu jadi milik Masashi Kishimoto

Rated: T

Warning: TYPO, OOC, diksi jelek, CERITA JELEK, AU, BAHASA TIDAK JELAS DSB kekurangan yang lain

Please stay with me! : BY KURO MIE MI

Selamat membaca

Jangan lupa review yah.

No silent reader!

Chapter 2. Awal yang baru!

Sinar keemasan menyinari bunga-bunga musim semi, membuat mereka mekar sedikit demi sedikit, kicauan burung terdengar bersahutan mengalun merdu menenangkan kalbu, tak kala dengan kokokan ayam yang menandakan hari baru telah tiba.

Seorang gadis cantik dengan rambut merah jambu sebahu tersenyum manis menatap pantulan dirinya di cermin, ia memasangkan sebuah pita merah pada rambut gulalinya, emeraldnya berkedip dua kali, berikutnya ia mengambil tas berwarna putih miliknya kemudian melesat meninggalkan ruangan itu.

Gadis itu mengenakan kemeja berwarna putih, tak lupa dengan dasi kupu-kupu berwarna merah yang dibalut oleh blazer merah kemudian garis hitam dari ketiak sampai perbatasan pinggulnya, dibagian bawah rok rampel kotak-kotak berwarna merah dan hitam menambah sisi manis dirinya, juga kaus kaki panjang hingga betis, dan sepatu merah beraksen hitam.

Sungguh menawan, ya bahkan mampu membuat malaikat tak berkedip menatapnya.

"Ohayou kaa-san." sapa gadis itu pada seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik.

Gadis itu menarik sebuah kursi kemudian mendudukan dirinya disana, tangan kanannya ia gunakan untuk menopang berat kepalanya.

"Ohayou Sakura-chan" balas wanita berambut orange sebahu dengan iris sapphire itu.

Wanita itu tersenyum lembut menatap putri semata wayangnya itu, tanganya dengan cekatan menaruh sebuah pring berisikan makanan, ditambah dengan segelas susu hangat untuk putrinya itu.

"Ittadakimasu."

Haruno Sakura gadis berambut merah muda itu melahap sandwich dihadapanya, sedetik berikutnya piring yang tadinya diisi oleh sandwich itu kosong seketika.

Haruno Mebuki hanya menggeleng maklum menatap anaknya itu, dirinya menyibukan diri dengan mencuci beberapa piring kotor.

Tok tok tok.

Tiga ketukan terdengar masuk ke telinga mereka.

Mebuki beranjak untuk membukakan pintu, melihat siapa gerangan yang bertamu pagi-pag, meski sebenarnya ia telah mengetahui siapa itu.

"Biar aku saja, kaa-san lanjutkan saja cuci piringnya!" ujar Sakura.

Gadis itu kemudian berlari menuju pintu rumah berwarna moccasin, kemudian membukanya.

Gadis itu tersenyum menatap tamunya "Ohayou Naruto." sapanya pada pemuda blonde itu.

Pemuda yang mengenakan t-shirt coklat yang agak kumal kemudian celana pendek berwarna hitam itu tak berkedip menatapnya.

Mulutnya sedikit ternganga ditambah lagi dengan sapphire yang terbelalak, sungguh ekspresi yang sangat lucu, setidaknya itu yang dipirkan oleh gadis merah jambu itu.

Ia menggoyang-goyangkan tanganya dihadapan pemuda itu "Hoy baka! Kau berpikiran mesum yah?" ujar Sakura.

Seakan baru sadar (memang baru sadar sih) Naruto menggeleng-gelengkan kepala.

"Bletak" gadis itu menjitak keras kepala Naruto itu "Benarkan kau berpikiran macam-macam." omelnya.

"ittai Sakura-chan, kau kasar sekali, aku tidak berpikiran seperti itu, sumpah!" Naruto mengajukan tanganya membentuk huruf V.

Sakura mendengus sebal, kedua tanganya memegang masing-masing pinggang miliknya "Aku tak percaya!".

"Sakura, sudah hampir jam tujuh, sebaiknya kau berangkat atau akan telat saying!" suara lembut khas ibunya terdengar.

Langsung saja ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya, jarum panjang menunjuk pukul 9 sedangkan jarum pendek hampir menunjuk pukul tujuh.

"Aku akan talat!" gumam gadis itu.

Segera saja ia berlari masuk ke dalam rumah mencari tas putih miliknya, kemudian setelah itu berlari keluar menghampiri sahabar pirangnya.

"Oy sukebe, kau mau mengantar ku atau tetap di situ?" Sakura memutar emeraldnya bosan.

Pemuda sapphire itu membelalakan matanya 'Sukebe?' batinya.

"Oh baiklah kalau kau tidak mau, ku pinjam dulu sepedamu yah!" Sakura menaikan dirinya pada sepeda ontel milik pemuda itu kemudian mengayuhnya.

"Sakura-chan tunggu!" Naruto mengejar sepeda yang dikendarai Sakura.

Namun sepeda itu telah terhenti, rumah Sakura memang memiliki halaman yang cukup luas, ditambah lagi dengan halaman milik tetangganya yang sangat luas, oleh sebab itu untuk mencapai rumah lain perlu sekitar tiga puluh kayuhan.

Emerald itu menatap seorang pemuda raven yang baru saja masuk ke mobil mewah berwarna hitam.

Naruto yang kini telah berada di samping Sakura menengok ke arah mobil itu, Ia tahu betul pemilik mobil mewah itu, tanganya melambai menghentikan mobil itu saat hendak melewati mereka.

Pemilik mobil, seorang pemuda tampan dengan rambut raven yang mencuat kebeakang juga onyx tajam membukan kaca jendela mobil itu, menatap dua orang yang berada di hadapanya.

"Hn?" ujarnya.

Naruto tersenyum sumringah "Ohanyou Teme." sapa Naruto.

"Hn?"

Naruto mengerutkan dahinya "Iya hanya itu, tak ada lagi!" ujarnya seolah mengerti apa yang Sasuke maksud.

Segera saja pemuda itu menginjak gasnya kemudian meninggalkan mereka yang terus menatap heran.

"Kau tahu kan, dia memang seperti itu!" ujar Naruto menepuk pelan bahu Sakura.

Sakura tersenyum lemah "Aku tahu." ujarnya.

Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan sangat santai, lupa akan sesuatu yang penting.


Ooo


Gadis berambut merah jambu itu tertunduk lesuh meratapi dirinya yang kini dikuring di luar pagar, ya memang salahnya sendiri sih karena melupakan sesuatu yang penting, yaitu tadi dia hampir telat dan harusnya terburu-buru bukanya berjalan santai.

"Tin tin!" klakson mobil terdengar masuk kedalam indra pendengaranya, Sakura menengokan kepalanya menatap mobil mewah itu, mobil yang sebelumnya ia lihat.

"Sasuke?" gumanya dengan tanda tanya besar di kepala.

"Tin tin" klakson itu kembali terdengar, Sakura cukup mengerti apa yang dimaksutkan oleh klakson itu, ia menyingkir dari pagar mempersilahkan mobil mewah itu lewat.

Pintu pagar pun terbuka, dan mobil mewah itu masuk kedalamya, Sakura menatap dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Kenapa Sasuke ada di sini?'

Tak melewatkan sebuah kesempatan yang baru saja diberikan oleh Sasuke, gadis itu langsung saja menerobos masuk melewati seorang satpam bertubuh gendut itu.

Namun sial satpam bertubuh gendut itu berhasil menarik pergelangan tanganya, menahan dirinya agar tak bisa masuk.

Sakura menggerutu sebal pada dirinya sendiri "Pak, saya mohon, sekali ini saja pak, boleh masuk yah!" ujarnya memelas, berharap dengan seperti ini satpam itu menjadi kasihan dan mengijinkanya masuk.

Samar-samar iris emerald miliknya menangkap seluet yang sangat ia kenal berjalan menuju koridor.

'Sasuke?' batinya masih terus bertanya-tanya.

Satpam itu mendesah pelan "Baiklah nona, anda saya ijinkan masuk, tapi besok jangan harap saya sebaik ini, peraturan tetaplah peraturan!"

Sakura tersenyum senang "Yey, arigatou sir." ujar Sakura kemudian ia melesat kabur sebelum satpam itu berubah pikiran.


OoO


Samar-samar terdengar suara masuk kedalam gendang telinganya, gadis berambut merah jambu itu mengintip sedikit dari tepi pintu.

"sial mana Kakashi-sensai sudah ada." gerutunya pelan.

Ia menatap sahabat pirangnya yang kini sedang menatapnya prihatin.

Gadis itu mulai mengendap-endap pelan agar sang guru tak mendengar langkah kakinya.

"Jadi ªloga dikalikan dengan ªloga maka hasilnya adalah 1 , kemudian jika…"

Sakura terus melangkahkan kakinya dengan perlahan-berharap sang sensai terus menerangkan hingga ia tiba di kursi samping gadis pirang itu dengan selamat.

"Ada pertanyaan?" guru berambut perak dengan wajah ditutupi masker itu membalikan badan, menatap menyelidik kepada salah satu muridnya.

"Haruno-san, apa yang kau lakukan?" tanyanya pada gadis merah muda itu.

Sakura membalikan tubuhnya, menatap sang guru, ia menggaruk pipinya pelan "Em, anu, em..aa"

"Sudah cepat duduk! kau mau bolos kan?"

Emerald Sakura membulat sempurna "I…iya sense.." segera saja ia berlari menuju kursi yang memang seharusnya diisi olehnya.

Ia mendudukan dirinya dengan agak kasar, mengusap dadanya perlahan dan bergumam "Syukurlah." beberapa kali.

"Hey, hey jidat, kau kenapa bisa telat?" tanya gadis pirang yang berada di sebelah gadis itu.

Gadis itu menatap tajam sahabat blondenya "Karena aku melupakan sesuatu yang penting pig!" ujarnya santai seraya mengeluarkan peralatan belajarnya.

Sebuah buku yang lumayan tebal, juga buku tulis berwarna hijau dan sebuah boldpoint.

"Heh? Apa itu?" gadis bernama Ino itu masih tak mengerti apa yang dimaksud sahabatnya itu.

Sakura mendengus sebal "Aku lupa kalau aku sudah hampir telat!" serunya cukup keras.

Hingga membuat seluruh pasang mata menatap mereka jengkel, Sakura dan Ino tersenyum canggung ke arah teman-teman sekelasnya, termasuk guru yang saat ini sedang mengajar.

Beberapa detik setelah itu kegiatan belajar mengajar kembali dilanjutkan.

"Kau beruntung, murid-murid di kelas ini baik, mereka tidak melaporkanmu tadi kan?" Ujar Ino, tanganya kini menopang kepalanya di meja.

Sakura tertawa kecil "Aku memang selalu beruntung Ino!" ujarnya dengan serigai kecil khasnya.

Ino mendengus bosan "Hey, tak selamanya kau akan seperti itu." ucapnya menasehati.

Sakura mengguk paham "Ya, ya, tetaplah jadi seorang penasehat, dan besok beberapa jangggut akan tumbuh di dagumu!" ledeknya.

"Hey, hey aku begini demi kebaikanmu." gerutunya pada Sakura.

"Tok, tok, tok" sebuah ketukan terdengar dari arah pintu, Kakashi guru bermasker itu berjalan menghampiri pintu yang memang telah terbuka cukup lebar itu, menghampiri orang yang mengetuknya.

Beberapa siswi tersenyum-senyum dengan semburat merah di wajah, ketika mengintip siapa itu.

Sakura mendengus "Apa sih mereka!" gerutunya bosan.

Namun tidak dengan gadis yang berada di sampingnya, gadis itu mengeluarkan semburat kemerahan saat berhasil menatap paras orang itu, ya meski ia harus berjinjit untuk mengintipnya.

Sakura memutar bola matanya bosan, ia memang tak tertarik dengan hal itu, bisa ia tebak anak baru, dan anak baru ini pasti seorang pemuda dengan paras tampan hingga bisa membuat hampir semua teman satu kelasnya blussing.

Ya ia memang tak tertarik, karena satu satunya orang yang membuatnya sangat tertarik bahkan sampai saat ini adalah….

"Sasuke!" gumamnya pelan.

Emerald itu membelalak sempurna, menatap pemuda tampan dengan kameja putih yang dibalut rapih oleh blazer merah dengan garis hitam di bagian pinggang, kemudian dasi hitam, dan celana hitam, penampilan yang sangat sempurna, sungguh menawan.

Raven dan juga onyx menambah pesona sendiri pemuda itu.

"Hey bernafas!" Ino menyenggol pundak Sakura dengan pundaknya.

Sakura mengerjapkan emeraldnya berkali kali "Hh." kemudian menghembuskan nafas.

"Harusnya kau lihat wajahmu tadi, terbengong menatap pemuda itu dengan wajah yang mulai kebiruan, hihihi, kau begitu terpesona rupanya." ledek Ino.

Semburat kemerahan muncul di kedua pipi sakura, emeraldnya menatap pemuda onyx itu dan kebetulan pemuda itu tengah menatapnya juga, tak sanggup atas pesona elang itu sang kelinci menundukan kepalanya.

"Saya Uchiha Sasuke" ujar pemuda itu datar, saking datarnya tak ada intonasi disana, terdengar membosankan namun tidak dengan kaum hawa yang terpikat oleh pesonanya.

Mata mereka kini membentuk hati berwarna merah jambu, hahah begitu mempesonanya dirimu Uchiha Sasuke.

Ino tersenyum kecil menatap sahabatnya yang masih tertunduk, memang pesona Uchiha membuatnya luluh, namun tidak sampai bertekuk lutut, karena hatinya telah ditaklukan lebih dahulu oleh pemuda lain.

"Hey, tadi si Uchiha itu menatap mu lho!" ujar Ino menggoda.

Sakura makin menundukan kepalanya, ia juga yakin kalau pemuda itu memang menatapnya tadi, tapi ia sangat yakin itu bukan tatapan suka, cinta, atau apalah melainkan itu tatapan kebencian.

Ino menyenggol pelan bahu gadis itu "Sinyal yang sangat bagus jidat!" godaya.

Sakura menghela nafas 'Bagus apanya? Aku tak mau berharap yah!' batinya pasrah.

"Hm Uchiha Sasuke, silahkan kau duduk sesuka mu!" ujar Kakashi santai seraya membuka buku orange yang selalu ia bawa kemana-mana.

Sasuke pun berjalan menuju kursi yang memang sedari tadi ia inginkan, menghiraukan tatapan memohon para siswi yang ingin duduk di dekatnya.

"Dia mendekat!" goda Ino "Kurasa aku akan disuruh pindah dari sini." lanjutnya.

Sakura kembali menundukan kepala, setunduk-tunduknya, ia senang pemuda itu satu sekolah denganya, ia sangat senang, namun ia takut, takut untuk sakit hati karena pemuda tampan itu.

"Grek" geseran bangku itu terdengar begitu dekat dengan Sakura, membuat tubuhnya menegang seketika.

'Di..dia dibelakang ku.' batin Sakura.

Sasuke memang telah memilih duduk di belakang Sakura, disamping karena tempat itu sangat pojok, dan dekat dengan jendela, yang memang ia menyukai tempat seperti itu, atau mungkin juga ada alasan lain, ya mungkin.

Selanjutnya Kakashi kembali melanjutkan KBM yang tertunda untuk kedua kalinya, dengan siswi melirik ke arah pemuda paras tampan yang baru saja masuk di kelasnya, sementara para siswa menatap jengkel pemuda itu, kemudian seorang gadis pirang yang tersenyum menggoda pada sahabat merah jambunya, dan seorang gadis merah jambu yang terus menundukan kepalanya, sungguh siklus yang aneh.


Ooo


Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa detik yang lalu, gadis berambut merah muda itu merapihkan beberapa bukunya yang berserakan di atas meja, kemudian memasukan buku itu kedalam tasnya.

Emeraldnya melirik seseorang yang duduk di belakangnya, sosok yang tampak begitu damai.

Pemuda berambut raven itu memejamkan kedua matanya, menikmati semilir angin yang masuk melalui jendela yang memang sengaja ia buka, telinganya dipasangi sebuah alat yang bersenandung ria disana.

"Oy, jangan dipandangi terus!" aquamarine itu menatap jenaka ke arahnya, Sakura menggembungkan pipinya kesal.

"Aku tak memandangi apa-apa pig." kilahnya dengan tatapan tajam.

"Apanya kau…"

"Terserah." potong Sakura cepat kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan cepat menjauhi Ino.

"Brak"

Yah saking tergesa-gesanya hingga menabrak seseorang.

Tubuh mungil itu jatuh di lantai, Ino dengan segera menghampiri gadis itu.

"Kau tak apa, Sakura?" sebuah tangan terjulur kearahnya, Sakura menatap pemilik tangan itu.

Seorang pemuda berambut merah dengan wajah babyface, tersenyum lembut padanya, Sakura meraih uluran tangan itu kemudian bangun.

"Terimakasih senpai." ucapnya dengan senyum canggung.

"Sakura, kau ini, kau masih punya sepasang mata yang masih normal, bagaimana bisa kau jatuh seperti tadi." omel Ino terdengar nada khawatir di dalamnya.

Sakura menggeleng heran pada sahabatnya itu "Kau ini sahabatku, atau ibuku Ino?" sindirnya.

Ino menatap tajam kearah gadis itu "Aku pacar mu!" ujarnya lantang dan..

"Bletak" sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

"Aw!" rintih Ino pelan.

"Senpai mencari siapa di sini?" tanya Sakura ramah "Barangkali saya bisa membantu." lanjutnya.

Sasori pemuda berambut merah itu kembali tersenyum hingga kedua matanya menyipit, ia mengacak-acak pelan rambut gadis merah jambu itu.

"Tak perlu seformal itu Sakura, hahaha" tawa kecil terdengar keluar dari bibir tipisnya "Lagi pula aku mencari mu" lanjutnya

Sakura membalas senyum ramah pemuda itu, tak sadar dengan sebuah tatapan intens yang menatap tajam dirinya juga pemuda dihadapanya.

"Ada perlu apa dengan ku?" tanya Sakura penasaran.

Ino menyerigai jahil "Pantas saja, ada Sasori-senpai yang tampan juga baik hati sih, yasudahlah, aku pergi duluan yah, jaa" Ino menepuk pelan pundak Sakura, kemudian melambaikan tangan dan melesat pergi.

Sedangkan sakura memberikan deathglare andalanya kepada garis pirang itu.

Sasori tersenyum kecil, pemuda tampan itu memang sangat murah senyum.

"Ini soal festifal music itu lho," ucap sasori "Hmm, bagaiman kita bicarakan ini sambil makan?" lanjutnya.

Sakura mengangguk, kemudian ia mengikuti Sasori.

"Brak"

Dan untuk kedua kalinya sakura tertabrak, namun tidak seperti tadi, karena Sasori berhasil menahan tubuhnya, yah terlihat seperti adengan yang sangat romantic.

Semburat kemerahan muncul di pipi gadis merah jambu itu, bayangkan saja, jarak wajah mereka cukup dekat, yah cukup dekat, dan cukup lama hal tersebut berlangsung.

"Ehem." deheman cukup keras mengakhiri tontonan romantic itu.

Sakura segera memberdirikan tubuhnya, ia menatap tak percaya orang yang berdehem itu, bayangkan saja seorang Uchiha Sasuke berdehem cukup keras hanya karena melihat adegan seperti itu, ya harusnya seperti biasa ia tak perduli dengan apapun itu, harusnya seperti biasa ia sangat acuh, tapi ini? Entahlah, mungkin sangat panas baginya, mungkin!

"Kyaa, Sasuke-kun." jerit gadis berambut merah yang tadik menabrak Sakura.

Berita tantang murud baru itu menyebar dengan sangat cepat, apa lagi jika murid itu super, duper tampan seperti Uchiha Sasuke, hanya dalam hitungan detik satu sekolah mengetahui namanya.

Sakura terus menatap Sasuke dan gadis berambut merah itu, Sasuke terlihat sangat mengacuhkanya, sedangkan gadis berambut merah itu mengeluarkan rayuan andalanya pada pemuda itu.

"Hm, Sakura. Ayo!" ajak Sasori.

"Hm." Sakura mengguk, kemudian ia membenarkan roknya sedikit, lalu mengikuti Sasori, ekor matanya sempat melirik Sasuke dengan gadis berambut merah itu.

'Sakit' batinya seraya meremas baju dibagian dada.


Ooo


Sakura menyilangkan tanganya di atas sebuah meja, membiarkan kepalanya tertopang oleh tangan itu, matanya tetap memandang ke depan, memperhatikan seorang wanita berambut hitam dengan mata merah yang sedang menjelaskan, namun pikirannya berkecamuk.

Harusnya ia tersenyum dan bahagia setelah mendengar kabar dari Sasori-senpai tadi saat istirahat.

'Mereka bilang lomba itu bukan solo tapi duo, apa kau bisa?' ia ingat betul ekspresi wajah Sasori saat mengatakan itu.

Ya, gadis itu memang tidak pernah berduet, ia merasa nada suaranya jika bernyanyi sangat aneh, dan tidak akan cocok dipasangkan dengan siapapun di club musik.

'Kau tahu, banyak produser musik yang datang di sana, mereka ingin mencari penyanyi muda berbakat.' pikiranya terus berputar.

'Oh, kami-sama produser? Ah aku memang selalu berharap direkrut oleh salah satu produser untuk di jadikan penyanyi terkenal!' batin gadis itu.

'Dan hadiahnya, mereka bilang hadiahnya biasiswa sekolah musik di Jerman, juga uang tunai yang.. yah kau tahu.'

'Astaga, Jerman? Sekolah musik' kami-sama bolehkah gadis ini berharap untuk menang dan mengeluti hobinya di bidang musik, mendalami hobinya itu di Jerman.

Emeraldnya menerawang, mengingat betapa susah hidupnya dan ibunya seteah kematian ayahnya satu bulan lalu, ibunya bekerja keras membanting tulang untuk menghidupinya, emeraldnya sedikit berkaca-kaca mengingat itu.

Ia ingat betul bagaimana wajah Haruno Mebuki tadi, sayu, dan kelihatan sangat letih, ia ingin uang itu untuk ibunya membuka toko, atau apalah, dan menyewa pegawai, jadi ibunya tak perlu menjadi pelayan restaurant.

'Aku akan jadi parnermu, bagaimana kau mau kan?' dan itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuknya, Sasori juga memiliki suara yang terdengar aneh, namun sangat bagus, dan ia rasa sasori cukup sabar menghadapi keegoisannya.

'Hm, iya senpai.'

'Festifal musik ini bulan depan Sakura, jadi kita masih punya cukup banyak waktu untuk latihan!'

"Haruno Sakura, jika kau punya waktu untuk bengong seperti itu, lebih baik kau keluar!" omel Yuhi Kurenai, guru muda itu.

Sakura mengerjapkan mata dua kali, menyadarkan dirinya dari alam pikiranya, gelak tawa terdengar di ruangan itu, dan hal itu semakin menambah kesadaran gadis merah muda itu, ia tersenyum kikuk.

"Maaf sensai." ujarnya malu.

Ia sadar tak sepantasnya melamun di saat guru sedang menerangkan, namun bukankan dia juga manusia? Berhak merasa bosan bukan? Berhak memiliki alam pikiran bukan? Ya namun sekarang ia harus mencatat betul-betul kedalam otaknya 'Jangan melamun saat seorang guru muda bermata tajam sedang mengajar, jika tidak kau akan malu setengah mati!'

"Hey, sebenarnya kau kenapa?" tanya ino seraya tersenyum jahil "Kau bingung untuk memilih si imut merah atau si tampan manusia es yah." sindir Ino.

Emerald Sakura membelalak, namun bukan membelalak karena terkejut dan membeku di tempat.

Ia mati-matian menahan tawanya yang siap meledak 'Si tampan manusia es?' batinya mengulang perkataan Ino.

"Hihihihi." ia terkikik pelan, kepalanya ia tenggelamkan kedalam silangan tanganya yang tadi, ia berusaha meredam tawanya.

Sumpah demi apapun itu julukan teraneh yang pernah ia dengar.

"Brak, Haruno Sakura, apa yang kau tertawakan?" bentak Yuhi Kurenai pada Sakura yang masih terkikik dalam lipatan tangannya.

Sakura pun mengangkat kepalanya, ia memandang takut kearah Kurenai, kemudian kepalanya menggeleng pelan.

Seluruh mata penghuni kelas kini menatapnya prihatin, namun tak jarang juga beberapa diantaranya memandang kesal.

"Sebaiknya kau keluar dari kelas ini!" perintahnya, Sakura pun menurut ia tak ingin membuat gurunya semakin naik pitam dan marah, atau mungkin membincinya nantinya.

"Tunggu!" guru itu memberhentikan Sakura yang sudah berdiri di ambang pintu.

Sakura pun memberhentikan langkahnya, berharap guru itu membatalkan niatnya untuk mengusir gadis merah jambu itu, ia manatap penuh harap ruby milik Kurenai.

"Besok kau tidak boleh duduk dengan Yamanaka, kau duduk dengan Uchiha, mengerti!" lanjut guru itu.

Dan sekali lagi sepasang emerald indah itu membelalak "Ta..tapi Sensai?" tolak Sakura.

Kurenai menatap tajam gadis itu "Apa?"

Sakura menggeleng, ya seperti yang telah dikatakan, dia tak ingin menambah masalah dengan guru itu, bisa-bisa nilai bahasa ingrisnya dimanipulasi dan dibuat serendah rendahnya.

Ia pun meninggalkan kelas tersebut dengan wajah selesuh-lesuhnya.


Ooo


Sinar matahari kala itu cukup terik, menembus celah-celah jendela yang memang tak di lapisi gorden itu, namun selalu ada penejuk di hari yang terik, semilir angin membelai lembut kulit putih miliknya.

Ia seorang pemuda raven itu belum bergerak dari tempatnya duduk, padahal indra pendengaranya masih sangat normal untuk mendengar suara bel tiga menit lalu.

"Sakura, aku duluan yah, kau tahu seperti apa si pemalas itu bukan?"

Terdengar kikikan kecil seorang gadis merah jambu, gadis itu mengangguk maklum pada sahabatnya itu.

Gadis berambut pirang itu melenggang pergi, setelah sebelumnya menyerigai jahil, dan melambai pada gadis merah jambu itu.

Sakura mendesah lemas, ia menjatuhkan kepalanya di atas meja seperti tadi saat pelajaran Kurenai.

Buku-buku di mejanya masih berserakan, ia merasa sangat malas untuk merapikanya, lagi pula ia masih harus menunggu Naruto menjemputnya.

Gadis itu memejamkan matanya, berusaha mendapatkan ketenangan, yang ia yakini saat seperti ini memang saat yang paling tenang di kelas, karena semua siswa telah pulang ke rumah mereka masing masing, dan hanya dia di kelas.

Namun ia tak menyadari, sosok raven itu belum beranjak dari sana, onyxnya menatap heran gadis merah jambu itu.

"Grek."

Sasuke menggeser kursinya ke belakang kemudian memapah tas ransel hitamnya di pundak kokoh miliknya.

Onyxnya menatap gadis bersurai merah muda yang kini tengah terlelap di kelas itu, sosok yang tampak begitu damai.

'Deg'

Entah gejolak seperti apa yang selalu berkecambuk di dalam hatinya kala ia menatap gadis itu, gejolak yang selalu membuatnya muak, ia membuang mukanya ke arah lain.

Kemudian ia ambil blazer merah yang dicantolkan oleh gadis itu di punggong kursi, kemudian ia pakaikan blazer itu pada gadis itu, dan melegang pergi meninggalkan gadis itu sendirian di kelas.


Ooo


"Tap, tap, tap" dengan langkah tergesa-gesa, seorang pemuda berambut kuning itu berjalan menyusuri koridor cukup lebar dan panjang itu.

Ia tak mau membuat gadis yang memang selalu ia idam-idamkan itu menunggunya terlalu lama, dan tibalah kini pemuda itu tepat di ambang pintu sebuah ruangan.

Sapphirenya menatap seorang gadis yang juga manatapnya, gadis itu menatapnya, dengan tatapan tajam.

"Em, ano, eee, Sa.."

Gadis itu melangkah pelan ke arah Naruto, pemuda pirang itu.

Sementara Naruto mamundurkan langkahnya saat gadis itu maju, ia tahu, sangat tahu apa yang akan di lakukan oleh gadis itu padanya setelah ini.

"Em, Sa..Sak..kura-cha..an." ujarnya terbata-bata.

Gadis bernama Sakura itu menatap Naruto dengan tatapan penuh arti "Ya, Na-ro-to-kun" ucapnya mengeja nama pemuda itu, tak lupa dengan embel-embel –kun yang memang sengaja ia berikan.

"Sa..a"

"Bletak"

Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala pemuda blonde itu.

"Aw, aw." rintih Naruto pelan.

Sakura memberikan deathglare andalanya pada pemuda itu, hingga membuat pembuda itu bungkam seribu bahasa.

"Kenapa lama sekali Naruto?" tanya Sakura mengintimidasi.

Naruto menggaruk belakang kepalanya "Maaf Sakura-chan, tadi bos ku menghukum ku karena terlambat."

"Hh" Sakura menghela nafas, ia tersenyum lembut kearah pemuda itu, tak bisa dipungkiri ia merasa sangat kasihan pada pemuda itu.

Bekerja keras membanting tulang sebagai tukang Koran sejak kecil, berbeda dengan dirinya yang dulu sewaktu ayahnya masih hidup selalu dimanja-manjakan, semua keinginannya di turuti.

Gadis itu melipat kedua tanganya di depan dada "Ya sudah, aku ambil tas dulu!" ujarnya kemudian kembali masuk ke dalam kelas mengambil ransel putih miliknya.

"Ayo!" ajaknya pada pemuda itu.


Ooo


Gadis berambut merah jambu itu mendudukan dirinya di sebuah kursi yang terletak di tengah ruangan itu.

Tubuhnya, masih di balut oleh kameja putih dan rok rampel kotak-kotak yang sejak tadi pagi ia kenakan.

Pahanya digunakan sebagai penyanggah sebuah gitar akustik berwarna putih gading.

"Em, selamat malam." ujarnya ramah.

Mereka, para tamu yang sedang asik menikmati hidangan dari restaurant itu menatapnya sekilas kemudian kembali melanjutkan kegiatanya.

Satu petik, dua petik ia lantunkan membentuk sebuah intro lagu.

"Every time I think of you

I get a shot right through into a bolt of blue

It's no problem of mine but it's a problem I fine

Living a life that I can't leave behind,"

Bibir mungil merah muda gadis itu mulai melantunkan nada-nada khasnya, kedua emerald itu menatap langit-langit restaurant tersebut, terlihat jelas gerogi tampak di wajah cantik itu.

"There's no sense in telling me

The wisdom of a fool won't set you free

But that's the way that it goes and it's what nobody knows

And every day my confusion grows,"

Kini satu dua orang mulai tertarik dengan penampilanya dan memberikan perhatian penuh pada gadis itu.

"Every time I see you falling

I get down on my knees and pray

I'm waiting for that final moment

You say the words that I can't say."

Emerald itu menatap serang wanita berambut orange, sudut bibir wanita itu terangkat, membentuk sebuah senyum bangga, gadis itu membalas senyum wanita paruh baya yang notabenenya adalah ibu kandungnya.

Gadis itu memelik senar gitarnya, mengulang intro yang sama seperti sebelumnya.

"I feel fine and I feel good

I feel like I never should

Whenever I get this way I just don't know what to say

Why can't we be ourselves like we were yesterday,"

Kini gadis itu mendapat perhatian penuh dari para tamu restaurant itu, ia manatap wajah para tamu itu satu persatu, mereka terlihat menikmati lantunan lagunya.

"I'm not sure what this could mean

I don't think you're what you seem

I do admit to myself that if I hurt someone else

Then I'd never see just what we're meant be,"

Kedua iris itu kini menatap seorang pemuda berambut pirang, pemuda itu menyengir kearahnya, ia menyatukan kedua telapak tanganya, membentuk bunyi tepukan yang singkron.

"Every time I see you falling

I get down on my knees and pray

I'm waiting for that final moment

You say the words that I can't say."

Gadis itu kemudian memberhentikan alunan petikan gitarnya, emerald itu menatap sapphire sahabatnya, bingung apa yang dimaksutkan oleh sahabat pirangnya itu.

Pemuda itu mengencangkan tepukan tanganya hingga pengunjung yang lain menatapnya, kini pemuda itu sukses menjadi pusat perhatian.

"Pok, pokpok, pok!"

"Nyanyi, nyanyi." ujarnya disertai tepukan tangan "Nyanyi, nyanyi."

Pengunjung yang lain pun mengikuti hal yang dilakukan oleh pemuda berambut pirang itu

"Pok, pokpok, pok,"

"Nyanyi, nyanyi!" ujar mereka.

Gadis itu kini mulai mengerti apa yang dimaksut oleh sahabatnya itu, ia menaruh gitar itu di atas kursi yang tadi ia duduki, kemudian berdiri di tengah panggung.

"Pok, pokpok, pok." gadis berambut merah jambu itu mengikuti gerakan para tamu dan juga sahabatnya

"Every time I see you falling

I get down on my knees and pray

I'm waiting for that final moment

You say the words that I can't say."

Ia kembali melantuntan chorus lagu itu, namun kini tanpa alunan petikan gitar, tetapi dengan tepukan yang singkron dari para tamu, atau bisa dibilang semua yang ada di ruangan itu, juga dirinya.

"Ayo nyanyi bersama minna!" ajak gadis merah jambu itu pada semua orang yang ada di situ, dirinya menyadari memang ini sesuatu hal yang sangat diluar dugaan, ia merasa benar-benar berada di atas panggung.

"Pok, pokpok, pok, pok, pokpok, pok

pok, pokpok, pok!"

"Every time I see you falling

I get down on my knees and pray

I'm waiting for that final moment

You say the words that I can't say."

Dengan tepokan yang sangat ramai, mereka bernyanyi bersama, sungguh sesuatu hal yang diluar dugaan, sorak sorai terdengar di dalam restaurant itu, gadis itu memiliki karisma yang bisa membawa panggung kecil menjadi besar, ya sangat besar, sungguh sangat hebat.

"Arigatou!" ujar gadis merah jambu itu.

Tepuk tangan meriah dari para tamu terdengar, wajah mereka terlihat sangat puas dengan hiburan yang diberikan oleh gadis itu.

"Kau hebat Sakura!" puji pemuda berambut pirang saat gadis itu baru saja menuruni tangga panggung.

Sakura tersenyum "Ini juga karenamu, terimakasih Naruto!".

Pemuda itu bersemu merah, ia menyengir "Hahah, dengan begini kau bisa membantu ibumu yakan." ujarnya

Sakura mengguk, kemudian tersenyum lembut kepada pemuda itu.

"Kaa-san." emerald itu menatap seoranng wanita paruh baya berambut orange berjalan kearahnya, iris wanita itu tertutup akibat senyum lembut yang ia lontarkan.

'Apapun, untuk senyuman itu!' batin Sakura 'Apapun untuk kaa-san!' lanjutnya.

Kehidupan yang baru, perjuangan baru, untuk sebuah kebahagiaan baru, semoga saja.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung….


.

.

.

Haloo minna.

Oke chapter dua udah publish.

Oh iya yang kemarin ngirim review tapi belum ada di kotak review, mungkin ffn lg eror(?)

Tapi reviewnya masuk ke email saya kok, makasih atas reviewnya..

Chapter ini review lagi yah.

typo? pasti masih banyak -.- .. tapi semoga lebih baik dari chapter sebelumnya.

sekian

Kuro mie mi