Disclamer: selalu jadi milik Masashi Kishimoto

Rated: T

Warning: OOC, diksi jelek, CERITA JELEK, AU, BAHASA TIDAK JELAS DSB kekurangan yang lain

Please stay with me! : BY KURO MIE MI

Kali ini saya manggunakan jasa beta reader

arigatou gozaimasu kak Rieiolanthe*peluk cium*

Selamat membaca

Jangan lupa reviewyah


Chapter 3. Bolpoin!


Embusan angin malam menerobos melalui celah kaca yang memang sengaja ia buka sedikit, onyx-nya sedikit menyipit kala memandangi jalan gelap di hadapannya.

Tin-tin

Mobil itu tepat berhenti di depan sebuah pagar hitam yang menyembunyikan rumah mewah di baliknya.

Tanpa menunggu waktu lama, pagar tersebut terbuka dengan sendirinya, dan mobil hitam itu segera saja melesat masuk ke dalamanya.

Sasuke keluar dari dalam mobil itu, pundaknya memanggul ransel hitam dengan gaya shotic khasnya, ia menaiki beberapa anak tangga menuju pintu utama kediaman itu.

"Okaeri!" ujar seorang pemuda dengan wajah hampir serupa dengan Sasuke, bedanya ia memiliki garis tegas di bawah matanya.

Pemuda yang duduk di atas sebuah kursi roda itu memandang entah pada siapa, onyx redupnya menyipit menampilkan sebuah senyum kecil. "Bagaimana hari ini?"

Sasuke menautkan alisnya memandang pemuda itu, "ck, biasa saja!" Sasuke melemparkan ranselnya ke sebuah kursi yang memang sengaja ditaruh di depan pintu utama, kemudian mendudukkan dirinya di kursi lainnya.

Itachi—pemuda yang duduk di atas kursi roda—tersenyum kecut, "Maaf! Aku menjadi kakak yang tidak berguna."

Sasuke mengerutkan dahi, onyx-nya yang tajam, kini sedikit menyayu. "Seperti bukan kau saja!" ucapnya datar.

"Sudahlah! Aku lapar. Ayo, kita masuk!" Sasuke kembali mengambil ransel hitamnya, baru saja ia ingin membuka knop pintu itu, sebuah suara menahanya.

"Yo! Teme, Itachi-nii!" sapa pemuda blonde dari luar pagar hitam yang menjadi penjaga rumah itu.

"Yo! Naruto, kau mau ke mana?" jawab Itachi.

Sasuke hanya memandang datar pemuda pirang itu.

"Aku habis dari rumah Sakura-chan, hehe ...," jawabnya seraya tertawa kecil.

Kedua onyx Sasuke menajam seketika, tampaknya ada sesuatu yang tak dia sukai dari jawaban Naruto tadi.

Tanpa menunggu waktu lama, Sasuke melanjutkan membuka knop pintu, tak mau terlibat dengan pembicaraan yang menurutnya tak berguna itu.

Brak!

Entah apa yang membuat pemuda itu sedikit membanting pintu saat menutupnya.

Itachi hanya menggeleng maklum, sedangkan Naruto hanya memandang heran pemuda yang notabene-nya adalah sahabatnya itu.

"Dia mungkin kecapekan mengurusi perusahaan!" jawab Itachi seolah mengerti keheranan Naruto.

"O-oh!" Naruto menggaruk belakang kepalanya, "kalau begitu aku pulang dulu yah Ita-nii!" lanjutnya.

Itachi memandang kecewa kearah Naruto, "Kau tak mau makan di sini dulu?" tanyanya.

Naruto menggeleng. "Terima kasih, tadi aku sudah makan di rumah Sakura-chan."

"Sou ka? Hmm ya sudah sampai jumpa Naruto!" Itachi tersenyum pada Naruto, ia mengangkat satu tanganya, kemudian menggoyang-goyangkanya—melambai pada Naruto.

Naruto mengangguk. "Sampai jumpa Ita-nii!" Pemuda itu membalas lamabaian tangan Itachi, kemudian meninggalkan rumah mewah itu.

Itachi memang sudah menganggap Naruto sebagai adiknya sendiri sejak dulu, pemuda itu tahu betapa kesepiannya Naruto yang memang sudah tidak punya keluarga sejak kecil.

Dulu saat ayah dan ibunya masih hidup, Naruto selalu diajak untuk tinggal di rumahnya, namun Naruto selalu menolak hal tersebut, Naruto benar-benar tak ingin menyusahkan orang-orang di sekitarnya.

Itachi kembali tersenyum kecut saat mengingat hari-hari bahagia bersama orang tuanya.

'Itachi! Antar adikmu kesekolah ya,nak!' suara lembut ibunya bahkan masih terngiang di kepanya, kala ia memikirkan wanita itu.

'Hm! Ini baru anakku!' Bahkan suara tegas ayahnya, yang dulu dengan penuh bangga memujinya.

'Aniki!' Dan suara bocah Sasuke juga. 'Aniki! Aku mau permen rasa tomat!'

Pemuda itu menautkan alisnya, 'memangnya ada permen rasa tomat,' batinnya.

"Hoy, Aniki baka!"

Suara berat yang datar dan dingin sukses menyadarkanya dari lamunannya tadi.

"Mau minta permen rasa tomat?" goda Itachi dengan serigai jenaka pada pemuda raven yang tadi memanggilnya.

Bletak – sebuah jitakan keras sukses mendarat di kepala Itachi.

"Ittai, Otouto!" itachi menggosok pelan kepalanya yang habis dijitak adiknya tadi.

"Tch! Memangnya aku peduli?" ujar pemuda itu dingin, seraya mendorong kursi roda kakaknya, membawanya masuk ke dalam rumah mewah itu.

Itachi kembali menyerigai jahil. "Padahal dulu saat kau masih kecil itu lucu sekali, hahah ingat tidak saat kau merajuk minta permen rasa to—"

"Sudah diam!" potong Sasuke datar, "atau kau ingin mendapat jitakan kedua?" lanjutnya sengit.

"Hahahaha ..." Itachi hanya tertawa kecil menanggapi ancaman otouto-nya, tak bisa dipungkiri, menggoda adiknya adalah salah satu hiburan tersendiri untuknya, walaupun ia tak dapat melihat bagaimana ekspresi dari adiknya itu.

Sasuke hanya memutar bola matanya bosan, sudah biasa baginya menanggapi godaan kakaknya itu, walau terkadang menyebalkan, namun ia lebih menyukai kakaknya yang seperti itu, dibanding kakaknya yang menyalahkan dirinya sendiri.

Diam-diam sudut bibir pemuda onyx itu terangkat, membentuk sebuah senyum tipis.


Xxx


Helaian rambut merah jambu itu bergoyang dibelai angin, seragamnya yang ia kenakan pun ikut bergoyang kala melawan angin menggunakan sebuah sepeda. Tangan mungilnya mengenggam erat pundak seorang pemuda yang mengendarai sepeda tersebut.

Genggamanya kian mengerat saat pemuda spiky dengan sapphire indah itu mengencangkan laju sepedanya.

Chit

Sepeda itu berhenti tepat di depan pagar kecoklatan yang terbuka lebar itu.

Segera saja gadis merah muda itu meloncat turun dari pijakan kaki yang sedari tadi ia injak.

"Arigatou, Naruto!" gadis itu tersenyum lembut, membuat Naruto—pemuda spiky—bersemu merah.

Naruto mengangguk.

"Nanti tak usah menjemputku, ya! Aku ada latihan untuk festifal musik!" perintah gadis merah muda itu.

"Ta-tapi Sakura—"

"Tak ada tapi-tapian! Sampai jumpa!" potong gadis itu cepat, kemudian ia melambai singkat pada pemuda pirang itu lalu mengikuti siswa lain masuk kedalam bangunan di balik pagar itu.


Xxx


"Sasuke!"

"Kyaaa!"

Emerald-nya melebar tak percaya. "A-apa apaan ini?" gumamnya pelan.

Wajar saja, saat ini kelas yang biasanya tenang dan damai, kali ini dipenuhi oleh jeritan histeris siswi-siswi yang menjadi fans dari orang baru di kelas itu.

Emerald itu memandang tak suka pada gadis-gadis yang memepetkan tubuhnya pada seorang pemuda raven, tak jarang di antara mereka mengedipkan mata jahil pada pemuda itu.

Sakura menelan ludahnya dengan susah payah, 'menjijikan!' batinnya.

Puk

Sakura menengok saat merasakan seseorang menepuk pundaknya.

"Menyebalkan, aku bahkan tak bisa duduk!" keluh gadis pirang yang menepuk Sakura, aquamarine -nya menatap kesal gerombolan siswi disana.

Ino—si gadis pirang –menyerigai jahil, "sepertinya gadis-gadis berisik itu harus diberi pelajaran."

Sakura memutar bola matanya, "apa yang akan kau lakukan, Pig?"

Ino menyatukan kedua telapak tanganya, kemudian menggosok-gosokkan kedua tangannya. "Mungkin menampar gadis-gadis genit itu," ujarnya masih dengan serigai di wajah cantiknya.

Bletak—gadis merah muda itu menjitak pelan kepala sahabatnya.

"Jangan aneh-aneh!" ujarnya seraya menatap tajam Ino.

Ino mengusap pelan kepalanya."Jangan menjitakku sembarangan, Jidat!" omelnya pada Sakura.

Tanpa mempedulikan omelan Ino, gadis itu mendekati gerombolan siswi yang berada di sana.

"Ehem!" Sakura berdehem pelan, membuat para siswi yang bergerombol di sana menatapnya sinis.

"Bukanya bermaksud mengganggu kalian atau apa. Tapi apa kalian tidak sadar? Kelakuan kalian ini merusak ketenangan kelas kami." Gadis itu berkacak pinggang.

"Apa masalahmu, Pinky?" Seorang gadis berambut merah muda terang, dengan kedua iris coklat memandangnya sinis.

"Tadi kau bilang apa? Apa kau tak berkaca, rambutmu juga pink! Dasar pendek!" sambung Ino, aquamarine memandang tajam gadis yang tadi mengatai Sakura pinky.

"Cih! Bilang saja kalian iri, karena kami bisa dekat dengan Sasuke-kun!" timpal gadis berambut merah dengan kacamata.

Ino berkacak pinggang. "Hei, untuk apa aku iri, aku bukan gadis menjijikan seperti kalian yang berpindah dari cowok satu ke cowok lainya!" ujarnya sinis.

Brak—gadis berambut merah itu menggebrak meja.

Sukses membuat perhatian siswa di kelas tertuju pada mereka.

"Tadi kau bilang apa?" gadis berambut merah terang atau sebut saja Tayuya yang disinyalir sebagai ketua fansclub Sasuke mencengkeram kerah Ino.

Dengan segera Ino menepis tangan Tayuya.

"Aku yang mengatur di sini! Karena aku ketua kelasnya!" sinis Ino

"Cih, memangnya kami peduli?" Tayuya membuang ludah, ia memandang Ino jijik.

Hal tersebut membuat Ino semakin naik pitam, Ino mengepalkan tanganya, bersiap untuk memberikan sebuah tamparan keras pada pipi Tayuya.

"Cukup Ino, jangan kotori tanganmu!" geram Sakura, gadis itu menunduk menahan kekesalanya sejak tadi, "sebaiknya kalian pergi sekarang!—" Sakura mengeluarkan aura membunuhnya, "atau, aku akan menyeret kalian keluar dari sini!" lanjutnya tajam.

Membuat gerombolan itu bergedik ngeri.

"Bagus Sakura-chan usir saja orang-orang berisik itu!" timpal pemuda berambut mangkok dengan alis tebal.

"Iya, bila perlu jangan biarkan mereka ke sini lagi, dasar penggangu!" tambah gadis berambut oranye.

Gerombolan gadis itu merasa terpojok, mereka akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan kelas itu, tentu saja dengan tatapan tajam memandang Ino dan Sakura.

Emerald dan onyx bertemu untuk beberapa saat.

"Bagus wakilku!" puji Ino seraya menepuk-tepuk pelan pundak Sakura, membuat gadis itu mengalihkan pandanganya dari sang pemilik onyx.

Ino menyerigai jahil, ia mendekatkan bibirnya pada telinga mungil Sakura. "Tapi apa yang membuatmu melakukan itu jidat?" tanyanya berbisik.

Sakura sukses bersemu merah. "Diam, Pig! Aku hanya melakukan tugasku sebagai wakil ketua kelas!" kilahnya.

Kemudian ia menaruh tasnya di samping tas ungu milik Ino.

Aquamarine itu memandang jenaka, "apa kau lupa kata Kurenai-sensai kemarin?" Gadis itu mengambil kembali tas selempang berwarna merah milik Sakura, kemudian menaruhnya di atas kursi kosong di sebelah Sasuke.

"Kau duduk di situ mulai hari ini!"

Emerald itu mengerjap dua kali, seketika wajah itu memerah, 'ba-bagaimana ini?' batinya.

Kepala merah muda itu menengok sedikit memandangi pemuda raven tampan itu .

'Sakura, kau sangat menyebalkan!'

Sakura tersenyum kecut kala mengingat ucapan Sasuke tiga tahun lalu, rona kemerahan memudar begitu saja kala mengingat itu.


Xxx


Pemuda raven itu melirik pada gadis merah muda yang nampak gelisah di sebelahnya.

"Ino!" gadis merah muda itu mencolek gadis pirang yang duduk di depanya.

Gadis pirang itu menoleh, "apa?"

"Pinjamkan aku bolpoin, aku tak bawa!" bisik gadis merah muda itu, namun masih dapat ditangkap oleh indra pendengaran pemuda di sebelahnya.

Ino menggeleng. "Aku hanya bawa satu, coba kau tanya Sasuke," ucap Ino kemudian segera kembali menghadap ke depan karena merasakan tatapan tajam dari Umino Iruka guru yang saat ini mengajar.

Diam-diam sebuah serigai tipis terpatri di wajah cantik gadis pirang itu.

Sakura—gadis merah muda—melirik Sasuke, ia menggaruk pipinya pelan, entah kenapa semburat kemerahan muncul lagi di kedua belah pipinya.

"Sa-em, Uchiha-san!"

Sebelah alis pemuda itu naik, "hn?"Pemuda itu sedikit terusik dengan panggilan yang diberikan gadis merah muda di sebelahnya.

Sakura berpikir dua kali untuk mengatakan keinginannya pada Sasuke, ia merasa Sasuke membencinya, dan apa pemuda itu mau meminjamkan miliknya untuk gadis itu?

"Em, bisa pinjami aku alat tulis?" gumam sakura.

Kepala merah mudanya tertunduk, ia memaki dirinya sendiri dalam hati 'bodoh, mana mungkin Sasuke mau meminjamkanya, Sakura bo—'

"Hn!" tangan kekar itu menjulurkan sebuah bolpoin berwarna hijau lumut pada gadis itu.

Sakura menengadahkan kepala, menatap onyx kelam itu heran.

"Ck! Cepat ambil!" Sasuke yang tak betah dengan tatapan emerald itu membuang muka.

Segera saja Sakura meraih bolpoin itu. "A-arigatou!" gumamnya gugup tak lupa dengan rona merah yang senantiasa terpatri di wajahnya.

Selalnjutnya mereka kembali sebuk dengan kegiatan masing-masing.


Xxx


"Jidat! Ayo, ke kantin!" ajak Ino pada Sakura yang masih setia duduk di kursinya.

Bel waktu istirahat baru saja berbunyi.

"Em, eto, ano kau duluan saja, aku harus menyelesaikan sesuatu." Sakura menggaruk pipinya, ia memang tak pandai untuk berbohong dan Ino sadar betul tentang itu.

Gadis pirang itu menyerigai. "Oh, baiklah aku mengerti! Semoga berhasil!" Ia mengedipkan sebelah matanya, kemudian meninggalkan gadis merah muda itu terbengong menatap pundaknya.

Satu detik

Dua detik

Blush!

'Sialan kau Pig!' batin Sakura.

Kemudian Sakura mengambil napas, menormalkan wajahnya yang semerah tomat, emerald-nya melirik Sasuke.

Ia bernapas lega saat mengetahui Sasuke masih asyik dengan earphone di telinganya dan sama sekali tak memperhatikanya, karena yang menjadi pusat perhatian pemuda itu adalah sesuatu yang berada di luar sana.

Gadis itu tersenyum lembut, ia bersyukur bisa menghabiskan waktu istirahat berdua dengan Sasuke, ya ... walau hanya ia yang menganggap 'berdua' sedangkan pemuda itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan mungkin Sasuke tak menyadari kalau gadis itu masih duduk di sana.

Tentu saja tidak begitu, diam-diam sudut bibir pemuda itu terangkat, asal tahu saja, pemuda itu tak benar benar mendengarkan earphone, karena jika kalian tarik kabelnya, sebenarnya earphone itu tak terhubung pada apa pun.

Ide yang bagus Sasuke!


Xxx


Sakura, gadis merah muda itu cepat-cepat merapikan buku-buku setelah mendengar suara bel pertanda berakhirnya pelajaran di sekolah berbunyi.

Ia mengantongi bolpoin hijau lumut itu, kemudian menyampirkan tas selempang miliknya, dan berlari keluar kelas.

Tingkahnya itu membuat beberapa siswa di kelasnya memandangnya heran.

Termasuk sepasang onyx, yang terus memandang punggungnya sampai menghilang di balik pintu kelas.

"Ck ... ck ... ck ..." Ino menggelengkan kepala memandang Sakura, "anak itu!"


Xxx


Kaki jenjang itu berlari di sepanjang koridor, menimbulkan gema langkah yang cukup kuat.

Perlahan lahan, langkah kakinya melambat, dan berhenti di depan sebuah pintu dengan tulisan 'Klub Musik', tangan mungilnya memutar knop pintu coklat itu, kemudian masuk ke dalamnya.

Emerald-nya memandang sekeliling, tak ada siapa pun di sana, ia menyenderkan pundaknya pada dinding, menghela napas panjang.

Kemudian mengeluarkan sesuatu yang ia taruh di kantung bajunya, sebuah bolpoin hijau lumut—milik Sasuke.

Kemudian mendekap bolpoin itu. "Syukurlah, aku mendapatkan ini!" gumamnya dengan sebuah senyum di wajah.

Ia tak ingin mengembalikan bolpoin itu pada Sasuke, ia ingin memilikinya, ia ingin menyimpan bolpoin itu.

"Untukku ya, Sasuke-kun!" ujarnya kemudian memasukkan kembali bolpoin itu ke dalam tas miliknya.


Xxx


Naruto, pemuda spiky itu memarkir sepedanya tepat di depan gerbang kecoklatan.

Sapphire-nya menatap para siswa yang baru saja keluar dari gerbang itu, mencari salah satu diantara mereka.

"Naruto!"

Pemuda itu menengok, menatap gadis pirang dengan aquamarine indah.

"Yo! Ino—" Pemuda itu melirik seorang pemuda berambut nanas di sebelah gadis itu, "yo, Shikamaru!" sapanya pada pemuda itu.

"Yo!" jawab pemuda itu malas-malasan.

"Menunggu Sakura?" tanya Ino, yang dijawab oleh anggukkan dari pemuda pirang itu, "dia sedang latihan di ruang musik!"

Naruto menepuk jidatnya. "Oh, iya! Tadi dia memang sudah bilang."

Ino menggelengkan kepala. "Hahaha ... kau ini!" tawanya.

Naruto menggaruk belakang kepalanya. "Hmm … ya sudah, kutunggu sampai dia selesai saja!"

Ino mengangguk. "Baiklah, sampai jumpa Naruto!"

"Sampai jumpa." Naruto melambaikan tangan pada Ino.

Kemudian setelah itu ia menyenderkan tubuhnya pada sebuah pohon, sapphire-nya masih mengawasi siswa-siswi yang berjalan keluar dari pagar.


Xxx


Langit kini berwarna orange, menandakan hari telah sore.

Sakura, gadis berambut senada dengan permen kapas itu menatap jendela besar di hadapanya.

"Senpai!" Sepasang emerald itu beralih pada pemuda berambut merah.

"Hm?" Pemuda yang sedang asik menekan tombol keyboard-nya itu menoleh.

Sakura menggaruk pipinya, ragu untuk mengutarakan keinginannya.

"Em, latihannya dilanjutkan besok bisa tidak? " Emerald-nya menatap ragu pemuda babyface itu.

"Baiklah! Lagi pula sebentar lagi gelap, kan?" Pemuda itu memanggul ransel dongker miliknya. "Tak baik gadis cantik pulang sendiri malam-malam!"

Semburat kemerahan muncul di kedua pipi Sakura.

"Ayo, kuantar!" tawar pemuda itu.

Sakura menggeleng, "tidak usah, Senpai. Aku bisa pulang sendiri, kok," tolaknya halus.

Sasori mengandeng tangan mungil gadis itu. "Ayolah! Rumahmu jauh, kan?" bujuknya.

Sakura menggaruk pipinya, sebenarnya ia tak ingin, tapi ia tidak enak menolak tawaran senpai yang sangat baik menurutnya.

Sakura mengangguk, ia melepaskan genggaman tangan pemuda berambut merah itu, untuk mengenakan tas merah miliknya.

Sasori tersenyum menatapnya, kemudian mereka beriringan keluar dari ruang musik.

Perjalan mereka diisi dengan perbincangan kecil di antara mereka berdua.

"Sakura, kau ke depan duluan saja. Aku akan mengambil motorku dulu," ucap Sasori saat mereka berdua sudah berada di dekat gerbang.

Sakura mengangguk menuruti perkataan Sasori.

Gadis itu berjalan santai melewati gerbang kecoklatan, emerald-nya membulat seketika kala menatap pemandangan di hadapanya.

Gadis itu menautkan alis, menghampiri sebuah pohon rindang yang tak jauh dari gerbang yang baru saja ia lewati.

Menatap penuh arti pemuda pirang dengan baju kusam yang beristirahat di sana.

Sudut bibirnya terangkat. "Dasar, Baka! Sudah kubilang tak usah menjemputku!" gumamnya.

Tin, tin ...

Terdengar suara klakson motor, seketika gadis itu menoleh, menatap pemendara di balik helm merah itu.

Pengendara itu membuka kaca helmnya, menampilkan sepasang iris coklat miliknya. "Ayo!" ajaknya.

Sakura menggeleng, "gomen, Senpai. Naruto sudah menjemputku, lain kali saja kita pulang bersama. Itu juga kalau Senpai tidak keberatan."

"Naruto?" Pemuda itu menautkan alisnya.

"Iya." Sakura menunjuk pemuda pirang yang tertidur di bawah pohon.

Sasori menatap pemuda itu dengan tatapan aneh. "Oh, ya sudah! Hati-hati, ya!" ujarnya seraya mengusap pelan pucuk kepala Sakura.

Gadis itu tersenyum. "Iya, Senpai juga, ya?" balasnya.

Sasori mengangguk, kemudian menutup helmnya dan menjalankan motor itu.

"Hoaamm, Sakura-chan?" Pemuda pirang itu menguap, mengerjapkan sapphire-nya berkali-kali.

Sakura berkacak pinggang di depan pemuda itu. "Na-ru-to!" Ia mengeja nama pemuda itu dengan penuh penekanan.

Naruto menyengir.

Sakura mendengus sebal. "Kau ini!" Ia menggelengkan kepala.

Naruto menggaruk belakang kepalanya, sembari tersenyum sumringah.

Bersambung…


Yo minna!

Ogenki?

Gomen fic ini terlantar #krik,

Untuk kedepannya saya usahain cepet #palsu.

Tapi beneran saya usahain kok hehe.

Oh iya gimana dengan chapter ini? give me review hehe

Sekian *peluk cium* /digampar reader ffn/