Disclamer: selalu jadi milik Masashi Kishimoto

Rated: T

Warning: TYPO, OOC, diksi jelek, CERITA JELEK, AU, BAHASA TIDAK JELAS DSB kekurangan yang lain

Please stay with me! : KURO MIE MI

Selamat membaca

Jangan lupa review yah.

No silent reader!

DLDR OKAY .-.


Chapter 4. Sasuke…

Jutaan kerlap-kerlip menempel indah pada kanfas hitam itu, membuat malam tak terasa terlalu gelap. Rembulan pun bersinar dengan terang, seakan tak mau kalah dengan cahaya kerlap-kerlip itu.

Angin malam berhembus sepoi-sepoi, menggerakan benda-benda dengan volume rendah untuk ikut bergoyang ria. Termasuk beberapa helai merah jambu yang kebetulan tergerai bebas, membuat angin dengan leluasa memainkannya.

Sang pemilik rambut—gadis dengan dress tanpa lengan berwarna biru laut selutut—duduk menikmati belaian angin malam, matanya terpejam, merasakan sensasi nyaman yang merasuki dirinya. Kedua kaki jenjangnya bergoyang kedepan dan kebelakang bergantian, sesekali bibirnya mengeluarkan senandung kecil menandakan ia benar-benar menikmati saat seperti itu.

"Sakura-chan!" panggil seorang pemuda pirang disebelah gadis tadi, sapphire-nya menatap penuh kagum gadis itu.

Sakura masih pada posisinya, "hm?" jawabnya pelan tanpa menghentikan aktifitasnya.

Pemuda berkulit tan, dengan rambut spiky itu diam, namun kedua sapphire-nya masih memperhatikan Sakura dengan saksama.

Menyadari pemuda itu diam, Sakura memberhentikan aktifitasnya, menoleh kearah pemuda itu, "ada apa Naruto?" tanyanya.

Naruto menggaruk belakang kepalany,"ti-tidak kok" tukasnya.

Sakura menaikan sebelah alisnya, "sou ka!" ujarnya kemudian menidurkan kepalanya pada lantai beralaskan tikar kecil disana.

Tempat itu merupakan pendopoh kecil yang berada di samping rumah Sakura, pendopoh itu menghadap kesebuah kebun kecil milik keluarganya, kebun yang menjadi pembatas antara rumah Sakura dengan rumah tetangganya, tempat itu menjadi salah satu tempat favorit mereka untuk menikmati pemandangan di malam hari.

"Em kau tau Naruto!" Sakura memandang lurus kedepan , "aku selalu berkhayal Sasuke-kun sedang memperhatikan kita dari jendela itu." Telunjuk lentiknya menunjuk sebuah jendela pada bangunan mewah di sebelah kebun keluarganya.

Naruto mendengus pelan, kenapa hanya Sasuke dan Sasuke yang ada di pikiran Sakura, padahal ia yang selalu ada di sekitar gadis itu menjadi sosok yang paling dekat untuknya. Tapi kenapa nama Sasuke yang selalu disebut-sebut oleh Sakura? Apa gadis itu benar benar tak menyadari perasaan Naruto? Apa Sakura tak pernah sedikit saja menyebut namanya bukan pemuda itu?!

Kedua emerald itu menerawang pada jendela tadi , "dia iri pada kita, dan ingin berada ditengah-tengah kita seperti dulu!" lanjutnya.

Sakura menengok saat menyadari tak ada respon dari orang yang diajak bicara. "Hey Naruto!"

Suara itu berhasil membuat Naruto sadar dari lamunan singkatnya tadi, pemuda itu tersenyum tiga jari khasnya pada Sakura.

Huh! Kau tidak mendengarkanku yah!" Sakura menggembungkan pipi, berpura-pura kesal pada naruto.

Naruto menggeleng cepat, "eh? Ti-tidak, tidak, tidak, aku mendengarkanmu kok Sakura-chan!"

"Hihihi," berikutnya Sakura terkikik pelan melihat reaksi sahabatnya. "Kau ini!" gadis itu menggeleng-gelengkan kepala masih sambil terkikik pelan.

naruto menghembuskan nafas, dirinya memang sudah biasa mendapat gurauan kecil yang menjadi cemilan saat mereka berkumpul bersama.

"E-em cukup!" Sakura berdehem pelan, berusaha menormalkan suaranya kembali, namun detik berikutnya gadis itu kembali tertawa karena melihat Naruto dengan wajah pasrah menatapnya.

"Hihihi, hentikan menatapku seperti itu baka! Wajahmu seperti orang belum makan berbulan-bulan hihihi," tangan mungil Sakura memegang perut langsingnya, merasakan sesuatu yang meggelitik dari dalam sana.

"HehSakura-chan ! Kau terus tertawa kerena aku sejak tadi! Sekarang beri aku imbalan!" Naruto menyerigai licik.

Alis merah muda Sakura naik sebelah, gadis itu menatap dengan penuh tanya.

Naruto menunjuk-nunjuk pipinya, seraya mengedipkan sebelah matanya pada Sakura, memberikan sebuah isarat pada gadis itu.

"heh?" sakura yang memang masih gadis polos, dengan wajah innocent yang penuh dengan tanda tanya gadis menautkan alisnya.

Naruto masih terus menunjuk–tunjuk pipinya sendiri, "Cium!"

Bletak

Bukan sebuah ciuman yang didapatkan oleh pemuda spiky itu, melainkan sebuah jitakan keras yang sukses mendarat didahinya. Sakura lah yang berhak disalahkan atas sebuah gundukan merah kecil di dahi Naruto. Gadis itu menatap garang Naruto, "kau mau apa tadi Na-ru-to-kun!" ucapnya dengan nada mengerikan.

Naruto bergedik, "mi-minum, aku mau mi-minum dulu." pemuda itu segera pergi dari hadapan Sakura, menghindari amukan gadis itu.

Sakura terkikik pelan melihat kepergian Naruto, beberapa detik berikutnya kikikan pelan itu berubah menjadi sebuah senyum kecil. Gadis itu mengambil gitar putih gading dengan aksen bunga sakura mengitari lubang suaranya.

Menggenjreng gitar tersebut, satu kali, dua kali, kemudian memutar tuning-nya membetulkan nada yang terdengar sumbang. Seteah dirasa nada digitar itu telah benar semua, gadis itu menarik nafas, kemudian membuangnya.

"Kimi to natsu no owari"

"Shourai no yume ooki na kibou wasurenai"

"Juunengo no hachigatsu mata deaeru no wo shinjite"

"Saikou no omoide wo"

Akhirnya malam hening itu ia isi dengan merdunya alunan petikan gitar juga suara lembut khasnya.


Xxx


Naruto menuntun sepeda ontelnya pelan, wajahnya terlihat sangat gembira, walau dengan pakaian kusut dengan wajah kumal. Pemuda pirang itu melemparkan selembar Koran ke sebuah rumah. Kemudian pemuda itu berjalan lagi dan melempar Koran itu ke rumah lain.

"Ohayou Sakura-chan!" sapa Naruto saat melihat sahabat merah mudanya sedang meakukan pemanasan ringan di halaman rumah sederhana dengan cat warna kayu itu.

Sakura tersenyum, segera saja gadis itu megakhiri pemanasan ringnya, dan menghampiri pemuda pirang itu "ohayou Naruto!" balasnya.

Sakura yang saat itu mengenakan t-shirt putih polos dan celana pendek selutut juga sepatu kets dengan garis merah pada pinggirnya berlari dengan pelan. "Ayo!" ajaknya padaNaruto.

Naruto mengikuti Sakura dari belakang sambil masih melemparkan Koran-koran itu pada masing-masing rumah di samping kanan maupun kirinya.

Tak sadar sepasang iris onyx sedang memandangi mereka dari balik sebuah jendela kecil pada sebuah rumah yang terlihat paling mewah di kawasan itu.

.

.

"Huh, panas sekali yah"

Sakura menoleh, ia ikut mengelap keringat di wajahnya, "wajar saja ini kan musim panas Naruto!" ucapnya datar.

Sudah menjadi rutinitas bagi Sakura untuk menemani Naruto, mengantar Koran pagi di hari libur seperti saat ini.

Naruto mendengus, "aku benci musim panas!" katanya kesal, ia masih terus menuntun sepeda ontelnya, membagikan Koran-koran pada rumah-rumah di kanan atau kirinya.

Sakura terkik kecil, "kau ini aneh! Saat musim dingin bilang benci musim dingin, saat musim panas bilang sebaliknya."

Naruto menggaruk belakang kepalanya, "habis kalau musim panas sangat panas, maka musim dingin sangat dingin! Aku tak bisa berhadapan dengan sangat panas atau sangat dingin!"

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak bisa dipungkiri ia juga merasakan hal yang sama dengan Naruto, panas bukan main yang seolah memmbakar kulitnya, bahkan sekarang ia mengipas-kipaskan pelan tangan mungilnya di hadpan wajahnya, berusaha memberika hawa sejuk barang sedikit saja pada kulitnya.

Saat saat seperti ini yang paling dibutuhkann olehnya adalah. . .

Emerald Sakura berbinar sempurna saat melihat sebuah kedai ice cream di seberang jalan. Gadis itu segera saja memasukan tangan mungilnya ke kantung celana pendek creamnya, merogoh isi kantong tersebut, dan mengeluarkan beberapa lembar uang, "Naruto! Beli ice cream yuk!" ajak gadis itu antusius.

Naruto terlihat ragu untuk menerima ajakan sahabatnya, pemuda itu memasukan tanganya kedalam kantung, merogoh isi kantung celana hijau lumut pendek yang ia kenakan, kosong tak ada satu peserpun disana. Pemuda iitu kemudian menatap Sakura dengan tatapan lesuh.

"Sudahlah aku yang traktir! Bulan lalu kau yang mentraktir es serut kan! Sekarang biar aku yang traktir!" gadis itu menyipit, memberikan sebuah senyum tulus pada sahabatnya.

Naruto menggaruk kepalany, "es serut?" gumamnya mengingat ingat apa yang tadi Sakura katakan. Namun seingatnya ia tak pernah meneraktir Sakura bulan lalu. Apa Sakura yang salah ingat atau dia yang lupa?

"Hey!—" panggil Sakura yang sudah berdiri di depan kedai ice cream itu. Gadis itu sengaja menggantungkan kalimatnya menunggu respon dari pemuda pirang itu, pasalnya Naruto belum beranjak sedikitpun dari posisinya.

Naruto menoleh. "Cepat kesini!" perintah Sakura, gadis itu menunjuki sebuak kedai ice cream yang di depanya berbaris orang-orang yang ingin membeli ice cream di kedai itu. Ternyata banyak yang sependapat bahwa musim panas enaknya menikmati ice cream.

Naruto segera menghampiri Sakura, pemuda itu menatap antian di depan kedai, antian yang panjang menurutnya, "tch! Panjang sekali" ujarnya malas.

Sakura ikut memandang kedai ice cream itu, "tentu saja! Mereka juga merasakan kepanasan yang sama dengan mu, makanya mereka semua ada di sini—" Sakura menyerahkan beberapa lembar uang pada Naruto "Ini, kau yang beli yah!" gadis itu tersenyum simpul pada Naruto.

Naruto mendesah panjang, membayangkan dirinya harus berdiri di paling belakang antian, membuat dirinya malas untuk bergerak satu langkah pun.

Sebenarnya mudah saja, tak usah dibayangkan tetapi langsung saja mencobanya, tapi memang Naruto yang kelewat malasnya, ditambah cuaca yang sangat panas membuat kemalasanya menjadi sangat-sangat malas.

Sakura mengangkat alisnya, "sudah cepat! Nanti aka nada lebih banyak orang lagi!" gadis itu mendorong pudak Naruto, memaksa pemuda itu untuk melakukan apa yang ia perintahkan.

Tanpa menunggu waktu lama,Naruto akhirnya menurut. Pemuda itu berdiri di belakng sekitar Sembilan belas orang. Wajahnya terlihat mau tidak mau mengantri sepanjanng itu.

Sakura tersenyum penuh kemenangan, gadis itu melirik ke meja-meja bundar dengan payung besar di atasnya. Hampir semua meja-meja itu telah diisi oleh orang lain. Dirinya butuh waktu lama untuk mencari meja kosong disana. "Ah itu dia!" gadis itu bergumam senang saat menatap sebuah meja bundar dengan tiga buah kursi dan sebuah payung besar menutupi atasnya.

Segera saja gadis itu menuju temapat itu.

Brak

Sakura meringis pelan saat merasaan sesuatu menyenggol tubuhnya.

"Aduh sakit!" ringis seorang gadis kecil dengan rambut indigo yang terduduk dilantai, sudut matanya terlihat mengeluarkan air mata.

Sakura langsung menjongkokan dirinya di depan gadis itu, " kau tidak apa apa?" tanyanya khawatir pada gadis kecil itu. Ia menjulirkan tanganya membantu gadis itu untuk berdiri.

Gadis itu menerima uluran tangan Sakura, tangan mungilnya yang sebelah lagi mengelap bulir air matanya.

"Hanabi!"

Gadis kecil bernama Hanabi itu menoleh. Mendapati replica dirinya dalam bentuk remaja sedang berlari kecil kearahnya "Onee-chan!" gumamnya.

Sakura ikut menoleh, dirinya menatap gadis berambut indigo dengan sepasang mata lavender lembut sedang berjalan kearahnya. sangat mirip dengan gadis kecil yang baru saja menabraknya, bedanya gadis kecil di hadapanya tidak berponi, sedangkan gadis remaja itu berponi depan, menambah kesan imut di wajah cantiknya.

"Kenapa kau tiba-tiba berlari!" ujar wanita itu lembut, namun dengan nada khawatir dan sedikit kekesalan tersirat disana.

Hanabi menundukan kepala,"aku ingin ice cream Nee!" ujar gadis itu lesuh.

Gadis itu berjongkok di depan adiknya, "kan bisa bilang pada Onee-chan! Nanti biar Onee-chan yang belikan!" suara gadis itu terdengar sangat lembut.

"Em, gomene Onee-chan!" ujar Hanabi pelan. Gadis yang dipanggil onee-chan hanya tersenyum simpul dan mengguk pelan, kemudian kedua lavender gadis itu memandang Sakura lembut.

Sakura hanya tersenyum canggung membalasnya.

"AkuHinata," ujar gadis itu seraya berdiri, "Hyuga Hinata" ulangnya seraya menjulurkan tangan.

Sakura menyambut tangan gadis itu, "Haruno Sakura" balasnya.

Hinata tersenyum, "terima kasih telah menolong adiku! Maaf dia merepotkan" gadis itu ber-ojigi singkat.

Sakura balas tersenyum, "ah, tidak, tadi aku yang tak sengaja menabraknya, maafkan aku yah, adik kecil," Sakura tersenyum ramah pada Hanabi.

"Dua ice cream datang!" Naruto berteriak gembira, pemuda itu memega dua cone ice cream dengan warna yang berbeda. "Eh?" sapphire-nya terlihat bingung kala memandang orang-orang yang bersama Sakura.

Sakura tak memusingkan perubahan ekspresi Naruto, gadis itu segera saja mengambil cone ice cream yang berwarna putih, "ini untuk mu!" ucapnya seraya menyerahkan ice cream rasa tiramisu itu pada Hanabi.

Lavender Hanabi langsung berbinar senang, tanganmungilnya malu-malu menggampai ice cream itu.

"Sudah ambil saja!" ujar Sakura dengan tatapan meyakinkan.

Akhirnya dengan satu gerakan ice cream itu berhasil diambil Hanabi, "arigatou Sakura onee-chan!" ucapnya senang.

Sakura mengguk kemudian tersenyum, "dou ita Hanabi-chan," balasnya.

Hinata berojigi sekali lagi, "arigatou gozaimasu Haruno-san, maaf merepotkan mu!" gadis itu benar-benar merasa tidak enak, ia baru mengenal Sakura tetepi ia sudah merepotkan gadis itu.

Naruto yang masih bingung dengan situasi sekarang memilih untuk diam, tak mau ikut andil dalam hal ini.

"Ah, tidak apa! Em panggil aku Sakura saja, dan aku akan memanggilmu Hinata bagaimana?" Sakura tersenyum ramah.

"hinata!"

Deg

Suara itu benar-benar Sakura kenal, suara berat dengan intonasi dingin dan datar seperti biasanya.

"Sasuke-kun!"

Uchiha Sasuke melirik Sakura, dan Naruto singkat, kemudian memandang kedua gadis dengan mata lavender itu bergantian, tatapanya mengatakan ia telah bosan menunggu.

"Sudah kubilang tak tunggu dimobil saja!" omel Hinata, gadis itu menghela nafas, benar-benar tak habis pikir dengan pemuda raven itu.

Sakura merasakan dadanya mulai sesak sekarang, jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Rasa seolah-olah benda pepompa darah itu ingin terpental keluar dari dadanya.

"Em Sakura-chan, aku harus pergi sekarang, sekali lagi arigatou yah"gadis itu kembali ber-ojigi didepan sakura, "jaa-na!" ujarnya kemudian menarik tangan hanabi menuju pemuda raven dengan jaket biru donker, pemuda itu menyender dengan gaya angkuh khasnya pada sebuah mobil silver yang terparkir di tepi jalan

Sakura diam mematung, memandang punggung mereka nanar. Hatinya nyeri, rasanya benar-benar seperti dicabik-cabik dan hancur kemudian diinjak-injak, sakit sekali.

Puk.

Sakura merasakan tepukan pelan dipundaknya, gadis itu menoleh, mendapati kedua sapphire bening itu menatapnya penuh rasa khawatir. Gadis itu menggeleng berusaha meyakinkan ia baik-baik saja.

Tapi jangan berfikir pemuda spiky itu percaya bagitu saja, bagaimana mungkin ia tidak tahu, atau bepura-pura bodoh. Hey Haruno Sakura itu sahabatnya sejak kecil! Ia mengenalnya lebih dari siapapun.

Pemuda itu tahu bagaimana perasaan sahabatnya sekarang ini. sakit itu pasti, bagaimana perasaan mu jika orang yang kau sukai pergi dengan gadis lain? Sakit kan? Pemuda itu lebih memilih untuk diam, membiarkan Sakura menenangkan dirinya sendiri, tapi tak membiarkan gadis itu sendirian, ia tak akan pernah membiarkan Sakura sendirian menghadapi semua ini. Ia akan selalu ada disana untuknya, walau sama sekali tak akan pernah dilihat oleh gadis itu.

"Ayo!" Naruto menarik tangan Sakura, membawa gadis itu pada sepeda ontel miliknya.


Xxx


Sakura menutup wajahnya dengan bantal, menyembunyikan kedua mata bengkaknya dalam bantal itu.

Kamar merah jambunya terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Seprai hijau lumutnya tak terpasang dengan rapih, bantal-bantal berserakan di lantai, karpet bermotif wood yang meapisi lantai tempat tidurnya terihat miring, buku-bukunya berserakan di atas meja. Jika ada orang masuk ke ruangan itu pasti orang itu akan berfikir bahwa baru saja terjadi gempa lokal di kamar gadis itu.

Namun pada kenyataannya gadis itulah pelaku utamanya, dia yang bertanggung jawab tetang apa yang terjadi di kamarnya saat ini. semua karena hatinya benar-benar sakit, benar-benar terasa hancur berkeping-keping. Dan tempat ternyaman untuk melampiaskan hal itu adalah kamarnya tentu saja.

Gadis itu kembali terisak kuat, beruntung di rumahnya saat ini tidak ada siapapun. Ibunya sedang bekerja dan baru akan pulang sore nanti, sedangkan ayahnya yah kalian tahu lah, ia baru kehilangan ayah tercintanya. Jadi dia bebas untuk berteriak –teriak mengeluarkan semua rasa sakitnya, tanpa perlu memusingkan ibunya nanti akan mengkhatirkanya karena itu.

"Sasuke! Kenapa kau datang ke kehidupanku?" gerutunya geram.

"Kenapa kau harus masuk ke dalam kehidupanku?" kini nada suaranya memelan.

"Kenapa aku harus mencintaimu sampai seperti ini?" bisiknya pelan.

Gadis itu menjambak rambut merah-mudanya frustasi "kenapa? kenapa aku harus mencintaimu? Kenapa hanya kau Sasuke? Kenapa?" pekiknya frustasi.

"Ini menyakitkan"

.

.

Naruto menyender pada pintu merah muda itu, mendengarkan setiap kata yang diucapkan gadis yang sedang memekik di dalam ruangan yang berada dibalik pintu itu.

Sebenarnya setelah mengantar gadis itu pulang tadi, Naruto belum langsung pulang, pemuda itu hanya berpura-pura mengayuh sepedanya, kemudian kembali ke rumah Sakura. Ia tahu gadis itu pasti akan langsung berlari ke kamarnya, dan pasti gadis itu lupa mengunci pintu depan. Jadi mudah saja pemuda itu untuk masuk.

"Hisk! Aku memang bodoh." terdengar lagi suara penuh luka itu.

Kemudian detik berikutnya erangan keras terdengar dari dalam ruangan itu.

Rahang Naruto benar-benar mengeras, tanganya mengepal, membuat urat-urat tanganya keluar. Ia benar-benar geram pada pemuda yang membuat sahabatnya sampai seperti itu. "Teme!" gumamnya pelan seraya meninju tembok di sampingnya, dan segera beranjak dari tempat itu.

Mengayuh sepeda ontelnya dengan kasar menuju sebuah rumah mewah, rumah yang bertuliskan Uchiha pada papan kayu di samping pagarnya.

Bersambung…


.

.

Yo minna..

#krik

Please stay with me chap 4 is up.. yey *di gaplok.

Lama yah? Lama gak sih upnya? (author yang tidak bertanggung jawab)

Chap ini? typonya gimana? Semoga semakin membaik haha… oh ya masih ada gak sih yang ngikutin fic ini?

Kalo gak ada mau saya hiatusin apa didiscontinue ajah yah*disate*

Rencananya mau focus sama repent and change dulu..

Ah tapi selagi masih ada yang member saya semangat melalui colom review, satu atau dua *plak insyaallah akan saya up secepatnya. Secepat yang saya bisa maksutnya.

Oh iya di chap kemarin saya lupa balas review, gomenesai *ojigi

Anak singkong: gomen, kalau ini gimana typonya? Confliknya? R AND R okay ^^

Sasusaku kira: iya, sasuke sama sakura itu saling kenal. Sasusakusaso yah.. em rahasia author *plak
review lagi yah ^^

Yukarinda: hey arigatou, ini udah up ^^ r lagi yah

Sasusaku uchiha: makasih yah #pelukcium, hihi naruto kasihan yah, tapi naruto itu kuat, dia pasti mampu ngelewatin cobaan author #dirasegan.. hihi iya nanti aka nada yang menjadi pengisi hati naruto kok.. sasusaku romance yah, saya mau memperlihatkan confliknya dulu baru mendekatkan mereka. Perlahan-lahan. Udah up R and R lagi yah ^^

Thanks for all

Mey be many flaws in this fic, BUT I HAVE TRIED HART TO MAKE THIS

Arigatou

Kuro mie mi XD