Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: standart warning applied. AU. Typos bertebaran, tanda baca nyasar, cerita ga jelas, EYD melenceng dari yang sudah berlaku,alur kecepetan dll.

DON'T LIKE DON'T READ!

Mohon maaf bila ada kesamaan ide dengan author lain. Ide ini murni dari otak Irnaa-nee jadi, mungkin bila ada kesamaan itu salah Irnaa-san

#plakk XD

Err.. merupakan unsur ketidak sengajaan dan mungkin err.. jodoh?

#plakk XD

.

.

Summary: Kehidupan tak selalu seindah seperti yang kita bayangkan. Begitu pula dengan cinta. Tak ada yang salah dengan cinta, tapi sering kali kita mencintai orang yang salah. Kehidupan atau cinta yang sempurna malah seringkali berawal dari sebuah hal yang tak terduga

.

.

Fic Collab pertama saya dengan Irnaa Rachmawati Putrie-Nee

.

.

Dengan Genre Drama pula (T.T)

.

.

Happy Reading Minna-san :)

.

.

'Kaa-chan, kuatkanlah aku. Bantu aku menghadapi ini semua. Aku sudah berusaha, Kaa-chan'

Hinata menjerit pilu dalam hati. Merasa beban yang ditanggungkan padanya kian memberatkannya. Membuat tubuh mungilnya kelihatan ringkih.

Belum lagi usaha ayahnya yang sedang mengalami kemunduran. Kakaknya yang punya tanggungan biaya ujian. Adiknya yang harus mengikuti seminar di luar kota yang membutuhkan biaya yang tak sedikit dan sekarang apa?

Naruto, kekasih yang disayanginya, menjauh darinya?

"Kami-sama,"

.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

.

Title: Berawal Dari Sebuah Errr... Koran bekas?

Genre: Romance & Drama

Main Pair: Sasuke U. & Hinata H.

.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

.

Dulu.

Hidup Hinata sempurna meski tak punya segalanya.

Hinata mempunyai sosok ayah yang patut dijadikan panutan dalam hidupnya.

Mempunyai figur seorang ibu yang penuh kasih sayang nan bersahaja.

Mempunyai adik kecil yang manis dan dapat menjadi teman pun salah satu dari sekian orang yang menyayangi Hinata apa adanya.

Tapi, perlahan namun pasti satu persatu direnggut darinya.

Dimulai ketika tragedi kecelakaan mobil maut beruntun yang menewaskan sebagian besar keluarga besar Hyuuga. Dan salah satu korban kecelakaan itu adalah Nyonya Hyuuga, Ibu Hinata.

Peristiwa itu menjadi pukulan batin terberat bagi Tuan Besar Hyuuga, Hiashi. Hiashi bahkan telah berulang kali jatuh sakit karna tak kuat menanggung beban mental yang terlalu berat bagi usianya yang sudah tak muda lagi. Akibatnya, kehidupan kedua putrinya menjadi terbengkalai dan tak terurus.

Beruntung, Neji Hyuuga, sepupu Hyuuga bersaudari menawarkan diri untuk menjadi penanggung jawab sekaligus wali bagi kedua putri Hiashi yang saat itu masih kecil dan terpukul atas kematian ibu mereka.

Hyuuga Hanabi yang saat itu masih berusia sembilan tahun, menyikapi tragedi naas itu dengan sikap dewasa. Berbeda dengan Hinata yang sampai jatuh pingsan karna mendengar kabar pahit tersebut, padahal dirinya saat itu sudah menginjak tahun akhir sekolah menengah pertamanya.

Hanabi mungkin hanya seorang gadis kecil yang sangat tegar di mata publik. Tapi, dirinya tetaplah seorang anak kecil yang tak mau ditinggal oleh salah satu dari kedua orang tuanya. Setiap malam, Hanabi menangis tertahan sambil memandang kedua figur orang tuanya yang diabadikan pada sebuah foto dalam kamar mungilnya tanpa seorang pun yang tau, kecuali Tuhan dan kakaknya yang saat itu tak sengaja mendengar isakan tangisnya.

Ayahnya lebih memilih menghabiskan waktunya dengan berlatih di dojo miliknya dari pada sibuk berlarut-larut tenggelam dalam masa lalu. Sekarang, Hiashi mendirikan sebuah perguruan dojo sebagai pelarian dari kekalutannya.

Hinata merasa terpuruk. Dan puncaknya adalah pada saat salah satu orang kepercayaan keluarganya menghianati mereka dengan menggelapkan beberapa aset kekayaan keluarga dan kabur tanpa jejak setelah menjual semuanya.

Hinata merasa terkadang dunia ini tak adil. Hanya karna seorang penghianat yang menghianati kepercayaan yang diberikan oleh keluarganya, mereka menjadi korban dalam kasus penggelapan uang. Jadilah kehidupan sempurna yang dijalaninya dulu musnah seketika.

Oh, mungkin dampak peristiwa itu tak terlalu signifikan. Tapi, tetap saja kan?

Belum selesai satu masalah, sudah bertambah satu masalah lagi.

Hinata tak menyayangkan hal itu. Tak pernah menyayangkan masa itu, tapi, Hinata hanya menyayangkan satu hal.

Adiknya.

Hanabi Hyuuga.

Adiknya masih terlalu polos untuk menghadapi kejamnya dunia.

Adiknya masih terlalu kecil untuk menghabiskan waktu masa kecilnya yang harusnya terisi oleh kenangan indah yang patut dikenangnya dengan memikirkan hal berat yang tak seharusnya dipikirkan oleh anak seusianya.

Adiknya masih terlalu berharga untuk kehilangan masa depannya yang cerah nan panjang.

Biarlah.

Biarlah hanya dirinya saja yang tak dapat merasakan senangnya menghabiskan waktu melakukan hal yang biasa dilakukan remaja seusianya. Semisal: belanja, bergosip, mencari pacar, dan hal lain yang biasa dikerjakan remaja putrid seusianya dulu.

Cih, Hinata tak punya waktu untuk melakukan hal tak penting semacam itu, walaupun dirinya sangat ingin melakukannya.

Dan biarlah hanya dirinya saja yang tak pernah untuk dapat mencicipi bangku perguruan tinggi.

Hinata tak akan membiarkan nasib yang dialaminya dirasakan oleh adik semata wayangnya.

Hinata tak akan membiarkannya.

Hembusan angin malam yang sejuk membelai wajahnya yang berwarna merah merona. Mendinginkan wajah yang terasa memanas sehabis menangis selama kurang lebih satu jam lamanya. Mengeringkan jejak air mata yang menuruni pipi tembemnya.

Hinata menutup sejenak kedua bola matanya. Menikmati desau angin yang menenangkan jiwanya yang gundah. Menikmati suara-suara binatang malam yang saling bersahutan. Dan beristirahat sejenak dari kekalutannya, mencoba mengurai satu persatu masalahnya hingga menemukan solusi yang sekiranya dapat sedikit membebaskannya dari jerat masalah yang seolah mencekiknya tanpa ampun.

KRESEK

Hembusan angin yang lumayan kencang menghantarkan sebuah benda ringan yang mendarat tepat di depan kakinya.

Hinata membuka kedua bola matanya yang sewarna amethyst itu perlahan. Menundukkan kepalanya sedikit, penasaran akan benda yang terbawa arus angin hingga sampai ke tempat Hinata singgah sementara ini.

'Selembar koran?'

Hinata membuka lembaran koran tersebut yang ternyata berisi iklan lowongan pekerjaan. Iseng-iseng, Hinata mencari pekerjaan yang sekiranya cocok dengannya. Banyak pula kolom- kolom iklan yang sudah dicoret, pertanda pemilik sebelumnya tak diterima bekerja disana.

Hampir seluruh isi persyaratan dari iklan-iklan tersebut berisi strata akhir jenjang pendidikan yang diharuskan si pelamar minimal S1 atau sederajat.

Hinata mengumpat dalam hati, padahal dulu, klan Hyuuga yang dikenal sangat konservatif melarang setiap anggota keluarganya mengucapkan suatu kata yang buruk. Tapi, sepertinya itu tak berlaku lagi pada Hinata yang saat ini dilanda ke-frustasi-an tingkat akut.

Ditelusurinya satu per satu kolom-kolm yang tercetak pada lembar koran itu. Ada satu kolom yang menarik perhatiannya. Kolom iklan yang dapat dengan mudah Hinata diterima bekerja disana, karna tak menyertakan minimal jenjang pendidikan yang diterima si pelamar sebagai salah satus yarat utamanya. Gajinya pun dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya beserta keluarganya. Syarat lainnya pun tak muluk-muluk.

Tapi, masalahnya Hinata baru menyadari bahwa kolom iklan itu untuk pekerjaan nakal nan mengundang setelah diamatinya dengan seksama lebih lanjut.

Seumur hidup pun Hinata tak akan mau dan takkan pernah bekerja pekerjaan macam itu. Lebih baik dirinya menjadi pelayan bar atau bahkan pekerja kasar sekalipun daripada bekerja pekerjaan macam itu.

Dengan cepat Hinata melewati kolom itu dan tak meliriknya untuk yang kedua kali.

Perhatiannya kembali tersita pada sebuah kolom kecil yang unik yang berada pada deret paling bawah tepat di pojok kiri. Isi kolom iklannya pun unik.

'Dicari: seorang pekerja keras yang mau bekerja sulit, tekun, ulet, loyal, berpendirian teguh, berkemauan keras dan berdedikasi tinggi. Wanita/pria. Usia 20-30 tahun. Berminat? Hub: 081xxxxxxxxxxxx. Kirim data diri anda dengan menyertakan format: Nama spasi Data diri (jenis kelamin-usia) spasi Jenjang pendidikan terakhir. Kirim ke No.: 010xxxxxxxxx'

Tanpa pikir panjang Hinata mengambil ponsel flip hitam yang berada dalam tas jinjing yang dibawanya. Perasaan Hinata memberi sinyal unik saat melihat iklan itu. Seperti ada sesuatu insting yang tak bisa dijelaskan yang mendorongnya untuk melakukan itu. Yang Hinata pun tak tau apa itu.

To: 010xxxxxxxxxx

Hinata Hyuuga wanita-20tahun SMA

~send~

Hinata memasukkan lembar koran yang sudah dilipatnya dengan lembut ke dalam tas jinjing yang dibawanya. Setelahnya, Hinata melangkah pelan menyusuri jalan setapak taman yang amat sepi sehingga suara langkah kakinya terdengar sedikit menakutkan. Pandangan matanya kosong. Tak terfokus pada jalanan yang ditapakinya.

Seluruh aset kekayaan keluarga Hyuuga telah dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang mendadak bangkrut itu. Setiap harinya kebutuhan itu kian menumpuk dan menggunung, untuk menutupinya maka Neji, sepupu tertuanya ikut bekerja sebagai tulang punggung keluarga kedua setelah Hiashi. Sebagai suatu bentuk balas budi meski keluarga inti Hiashi bersikeras menolak niat Neji.

Tapi, ternyata masih belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka.

Belum lagi usaha dojo sang ayah yang mengalami kemrosotan akibat dojo baru yang di gawangi oleh para pemuda-pemudi muda yang berbakat. Ohh… bukan maksud Hinata mengatakan ayahnya tak berbakat. Tidak sama sekali.

Namun, perbandingannya adalah karna dojo baru itu memiliki tutor yang err… lebihmenarik untuk dipandang.

Jadilah sekarang Hinata membantu pemasukan keluarganya dengan bekerja menjadi salah satu karyawati di perusahaan swasta dekat daerahnya.

Tapi sekarang…

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Wanita beriris sewarna amethyst itumengetuk pelan pintu kayu yang berada dihadapannya. Menunggu dengan bosan sambil sesekali melirik pemberitahuan yang terpampang di wallpaper ponsel flip hitamnya.

Drrt..drrt..

Getar ponsel telah mengalihkan perhatian si sulung Hyuuga dari tatapan tanpa fokusnya. Sejenak euforia melandanya karna melihat akun kekasihnya terpampang di notifikasi wallpapernya. Ternyata sang kekasih yang berada di sebuah tempat nun jauh disana mengiriminya sebuah e-mail yang berisi

From: My Lovely Fox

Date : 20-01-xx

Gomen ne, Hime-chan. Tapi, aku masih banyak urusan disini jadi mungkin aku akan jarang menghubungimu, Gomen ne ;'(

Senyum manis yang terpatri tulus di wajah bulatnya luntur seketika. Tergantikan oleh segaris pelangi murung. Hinata merasa matanya kembali memanas. Menunduk dan mengusap bulir air mata yang akan meluncur menuruni pipi tembemnya dengan punggung tangan kirinya kasar.

"Jangan menangis! Tak ada gunanya kau menangisi lelaki brengsek seperti dia!"

TBC

A/N: maaf fic ini di edit karna saya lupa dan baru inget kata-kata nista saya yang awalnya 'Mohon maaf bila ada kesamaan ide dengan author lain. Ide ini murni dari otak Akemi yang rada konslet. Mungkin bila ada kesamaan itu merupakan unsur ketidak sengajaan dan mungkin err.. jodoh?

#plakk XD' ke copas. (bilang aja males ngetik, baka!) jadi, saya menggantinya menjadi kata-kata ini 'Mohon maaf bila ada kesamaan ide dengan author lain. Ide ini murni dari otak Irnaa-nee jadi, mungkin bila ada kesamaan itu salah Irnaa-san

#plakk XD

Err.. merupakan unsur ketidak sengajaan dan mungkin err.. jodoh?

#plakk XD'.

Dan did yu now?

(udah tauuuuu), fic ini berdasarkan pengalaman Irna-Nee. Jadi, maaf kalo nggak sesuai harapan. Pan saya Cuma dapet bagian ngetik en publish doing X3

Gomeeen, nggak bias bales atu2. Abis ngenet di warteg (Plakk!). eh mangap, warnet. Jadi daripada bayar mahal lbih baik saya buat beli pasir ke gaara-chan aja (ngoook!)

Terima Kasih

Akemi M.R feat Irna-Nee

Sign Out.