Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: standart warning applied. AU. Typos bertebaran, tanda baca nyasar, cerita ga jelas, EYD melenceng dari yang sudah berlaku,alur kecepetan dll.

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

Mohon maaf bila ada kesamaan ide dengan author lain. Ide ini murni dari otak Irnaa-nee jadi, mungkin bila ada kesamaan itu salah Irnaa-san

#plakk XD

Err.. merupakan unsur ketidak sengajaan dan mungkin err.. jodoh?

#plakk XD

.

.

Summary: Kehidupan tak selalu seindah seperti yang kita bayangkan. Begitu pula dengan cinta. Tak ada yang salah dengan cinta, tapi sering kali kita mencintai orang yang salah. Kehidupan atau cinta yang sempurna malah seringkali berawal dari sebuah hal yang tak terduga

.

.

Fic Collab pertama saya dengan Irnaa Rachmawati Putrie-Nee

.

.

Dengan Genre Drama pula (T.T)

.

.

Happy Reading Minna-san :)

.

.

Xxxxxxxxxxx

Mata Hinata memicing muak. Mendongakkan kepalanya dengan pelan hingga tatapan matanya segaris lurus dengan kakak sepupunya.

"Apa maksud, Neji-nii?"

Hinata menatap sengit sorot dingin tatapan kakak sepupu yang sudah dianggapnya kakak kandungnya sendiri.

"Dia hanya mempermainkanmu! Apa gunanya kau menangisinya? Toh, dia malah tertawa di atas penderitaanmu"

Neji bersidekap dan menyenderkan bagian kiri tubuh bagian atasnya pada dinding.

"Jangan sembarangan menuduh seseorang tanpa bukti. Dulu memang Naruto-kun playboy. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Dia sudah berubah,Nii-san! Semua orang bisa berubah. Nii-san harus percaya padaku"

Neji tersenyum sinis dan menatap lurus. Objek pandangnya bukan pada seseorang dihadapannya tapi lebih jauh. Tanpa titik focus, Neji terlihat seperti sedang menerawang.

"Mungkin. Mungkin setiap orang bisa berubah. Tapi itu sulit untuknya…"

SUDAH CUKUP!

Hinata tak ingin mendengar semua omong kosong dari kakaknya sendiri. Hinata tak ingin anggapannya selama ini tentang Naruto diracuni oleh kakaknya sendiri.

Hinata sudah jengah!

Dirinya sudah dewasa sudah saatnya dia memutuskan jalan hidupnya sendiri dan bukan menjadi boneka orang-orang disekitarnya.

"Aku tidak peduli apa yang Nii-san katakan!"

Hinata menutup kedua kelopak matanya rapat. Menutup kedua telinganya dengan telapak tangan yang menangkup erat. Membuka kembali kelopak matanya hanya untuk memberi tatapan nanar pada Neji.

Neji tak bergeming. Meski Hinata sudah menabrak pundaknya cukup keras. Neji masih menatap lurus ke depan. Tanpa titik focus.

"Tahukah kau adikku sayang, aku sudah mengetahui semuanya. Tapi, biarlah waktu yang memberitahukan segalanya padamu. Karna aku terlalu menyayangimu"

Neji menatap rembulan malam yang angkuh. Meski tanpa ada bintang dia tetap mengeluarkan sinarnya, walaupun sinar itu bukan miliknya.

Xxxxxxxx

Hinata berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua apartemen mungil itu. Dengan langkah kaki cepat meski sedikit terseok karna terlalu letih berjalan dari taman ke apartemen yang jaraknya hampir satu kilometer.

"Hinata-nee, ada apa?"

Adiknya, Hanabi Hyuuga sepertinya merasa terganggu dengan keributan di bawah sehingga ingin menghampiri arah keributan itu. Namun, kebetulan saat baru keluar dari kamar, dirinya bertemu kakak perempuan semata wayangnya yang matanya sembab.

Hinata buru-buru berbalik ke belakang dan mengusap bulir air mata yang masih menuruni pipi tembemnya dengan cukup kasar. Setelah dirasanya sudah cukup dan tak terlalu mencolok Hinata kembali menghadap adiknya dengan sebuah senyum tipis terpatri di wajahnya. Walau kentara sekali senyum tipis yang memaksa itu.

"Ah..tidak apa-apa. Aku ke kamar dulu ya Hanabi-chan. Oh iya.. tidurlah! Besok nee-chan akan mengusahakannya"

Untung Hinata mengingat hal itu, sehingga dia bisa mengalihkan perhatian Hanabi yang sangat teliti dan pemaksa itu. Hanabi menunduk. Menghembuskan nafasnya pelan.

"Aku tidak ikut, Nee"

Hinata sontak kaget. Seluruh masalahnya terlupakan seketika.

"Tak penting seminar itu. Toh, aku juga sudah mengerti semua dasar materi pembahasannya"

Dengan enteng Hanabi mengatakannya seolah pernyataan yang baru saja diucapkannya hanyalah masalah seputar cuaca.

Tapi, Hinata terlalu mengenal adiknya untuk mengetahui reaksi terkecil darinya.

"Tidak, kamu berbohong. Nee-chan akan memastikan Hanabi-chan akan ikut seminar itu"

Hinata menggenggam kedua bahu mungil Hanabi dengan kebulatan tekad.

"Belajarlah, lalu tidurlah. Jangan pikirkan hal lain selain itu"

"Tapi, Nee-chan! Aku tau Nee-chan baru saja di pecat"

Hanabi tak kuasa menahan air matanya. Padahal belum pernah ia menangis di hadapan orang lain terlebih kakak-kakaknya. Hanabi selalu merasa dirinya kuat, dan menangis hanya untuk orang lemah. Dan Hanabi bukanlah salah satunya.

Tapi, sekarang mungkin akan jadi pengecualian.

"Nee-chan, aku tau selama ini Nee-chan telah bekerja keras untukku, untuk keluarga kita. Tapi, Nee…"

Hinata berlutut hingga tubuhnya berada di bawah Hanabi. Mendongak menatap adik semata wayangnya hingga tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus.

Hinata menangkup wajah Hanabi dan menghapus bulir air mata yang menetes menuruni pipi adiknya itu dengan ibu jarinya lembut.

"Dengar Hanabi-chan! Hanabi-chan tau kalau Nee-chan sudah bekerja keras demi Hanabi-chan. Jadi, Hanabi-chan juga harus berusaha keras agar nanti Hanabi-chan menjadi orang yang sukses. Untuk Tou-chan, Neji-Nii dan Hinata-Nee"

Hanabi mengangguk pelan. Masih terisak tanpa suara.

"Tak peduli seberat apapun beban yang Nee-chan pikul, Tapi saat Nee-chan melihat Hanabi-chan tersenyum tulus untuk Nee-chan, semua beban Nee-chan hilang"

Hinata tersenyum tulus meski setitik bulir air mata meluncur mulus melewati pipi tembemnya.

"Jadi, Hanabi-chan tidak boleh menangis. Tersenyumlah untuk Nee-chan, OK?"

Hanabi mengangguk. Menghapus jejak air mata yang turun dari pipi kakaknya dengan ibu jarinya pelan.

'Kami-sama, lihatlah gadis kecil ini yang telah tumbuh.."

"Ayo senyum dong!"

Hinata tertawa meski dalam hati dirinya menangisi keadaan adik semata wayangnya. Yang tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua.

'..menjadi seorang yang lebih tegar dan penuh keceriaan'

Hanabi menarik paksa ujung-ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman dan langsung memeluk leher kakak perempuannya dengan erat dan menangis sesenggukan.

"Adikku sayang. Menangislah. Menangislah sepuasmu. Kau sudah terlalu lama menjadi gadis yang kuat"

'Okaa-chan, apa okaa melihat kami di atas sana? Apa okaa-chan baik-baik saja disana? Okaa-chan, terima kasih karna sudah melahirkan kami. Kami sayang Okaa-chan'

Hanabi terus menangis. Tak peduli bahwa Neji telah kembali dan melihat kedua adik sepupunya menangis terisak.

.

.

Hinata selalu mengingat nasehat dari ibunya dulu. Sehari sebelum ajal mendatangi beliau. Ibunya pernah berpesan padanya

"Tertawalah saat kau menangis dan tersenyumlah meski masalah yang kau hadapi sungguh pelik"

Dan pesan itu akan selalu tertancap direlung hatinya yang terdalam

.

.

"Aku sayang, Nee-chan dan Neji-nii"

Hanabi sedikit mendongak.

"Nee-chan juga sayang Hanabi-chan"

"Kami menyayangimu, Hanabi. Cepatlah tidur. Kami juga akan beristirahat"

Sahut suara dalam dari arah belakang Hinata.

"Ingat! Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Oyasuminasai. Ii yume mitte ne"

Hinata mengecup puncak kepala Hanabi dengan sayang.

Hanabi pergi ke kamarnya dengan senyum masih terpatri di wajah manisnya. Hinata akan beranjak namun suara dalam nan berat menginterupsi langkahnya

"Aku mengerti kau sudah dewasa, maaf jika kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu"

Hinata menunduk sebentar dan mengusap jejak air mata yang masih membekas di pipinya. Setelah dirasanya sudah cukup Hinata pun berbalik dan menghampiri Neji dengan langkah pelan namun pasti.

"Neji-nii, aku tau Nii-san sayang padaku. Tapi, kumohon mulai detik ini, Nii-san biarkan aku mengambil keputusan sendiri dan aku akan menanggung semua konsekuensinya"

Neji tersenyum tipis.

"Kau sudah dewasa, Adik kecilku yang childish "

Hinata manyun dan Neji tak dapat menahan dirinya untuk tidak mencubit dan menepuk puncak kepala si sulung Hyuuga bersaudari.

'Kami-sama, kumohon berikanlah yang terbaik untuknya..

Jangan biarkan dia terus terluka. Aku tak yakin apa dia dapat menanggung semuanya sendiri'

Xxxxx

Seorang gadis manis dengan surai merah menyala terlihat sedang mencium bibir kekasihnya dengan sangat mesra. Pria bersurai sewarna perak itu tak mau kalah dengan kekasihnya yang berambisi mendominasi permainan bibir dan dikombinasi dengan lidah tersebut.

Si pria memeluk si gadis kian erat hingga seolah tubuh mereka berdua menempel dan hanya dihalangi oleh selembar kain tipis berupa pakaian yang mereka kenakan sekarang ini.

" Ckckck.. .ternyata dibelakangku kau bermain dengan mainan barumu. . ."

Si gadis terlihat membelalakkan matanya. Shock karna tak menyadari kehadiran pria bermodel rambut emo itu.

" Sasuke-kun!"

" Hn"

"Bagaimana kau bisa masuk kesini?"

"Cih, setahun berpacaran denganku apakah otakmu masih sestandar itu? Setidaknya bertanyalah : Apa yang aku lakukan disini?"

Terlihat sekali nada sindiran dalam tiap patah kata yang dilontarkan si pria emo yang diketahui bernama Sasuke itu. Si gadis seolah kehilangan kata-kata. Wajahnya pucat pasi seolah baru melihat Pocoongg juga Pocoong baru nge-tweet di akun twitternya dan di siang –nggak- bolong pula.

"Sasuke-kun, ini bukan seperti yang kau kira. Kau salah paham..!"

Gadis cantik itu segera berlari menuju si pria ravern.

" Tetap disitu atau aku akan pergi!"

Seketika itu juga si gadis berhenti di tempat yang dipijaknya sekarang ini. Kira-kira dua meter dari tubuh Sasuke.

"Kukira sudah cukup aku melihat semuanya.."

Pria emo itu mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya.

"Ambil ini. Gunakan sesukamu asal kau tak muncul lagi dihadapanku. Aku tak ingin orang lain mengira aku menelantarkanmu sebagai mantan kekasihku"

Dan setelah mengatakan itu si pria bersurai raven itu pergi.

" Siapa dia?"

" Apa tadi kau tak mendengarnya?"

TBC

Abalkah? Gomenne apdet kilat tanpa preview T.T

With loph muaaacch XDD

Akemi M.R

Sign Out