Pria itu melangkahkan kakinya ke hamparan salju.

Sendirian.

Langkahnya semakin berat, lantaran ia, selain membawa jaket dan mantel yang tebal, juga menggendong seorang pemuda di belakang punggungnya.

Pria itu bermaksud menolong si pemuda. Yang terbaring lemas di tanah yang sebelumnya menjadi medan perang. Dengan punggung yang tertusuk benda tajam menembus ke dada kanan. Menggenggam dengan erat tangan seorang pemuda lain yang ada di sebelahnya.

Juga detak jantung yang lemah.

Dan napas yang hampir tak ada.

Ia membawa pemuda yang ditemuinya, ke rumahnya yang kecil.


.

.


Kokoro?

An Inazuma Eleven Fanfic

Chapter 2

*Save?*

Disclaimer:

Inazuma Eleven © Level-5

Warning:

Chara death! *hayo… siapa yang mati? #plak*, Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya

Saya dah bilang ini fic ooc kan?


.

.

.


7 hari kemudian.

Pemuda itu menerawang sedikit. Mengerjapkan matanya yang berat, ia merasa pusing seketika. Napasnya terasa hangat, ia bahkan bisa melihat udara yang keluar dari mulut dan hidungnya. Lalu, ia melihat sekeliling.

Ini bukan kamar asramanya.

Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Walau hanya sedikit, mengingat kepalanya yang pusing luar biasa tak akan mampu untuk mengorek kembali ingatan yang pernah ia simpan.

Ia ingat, saat ia memanggil para juniornya untuk berkumpul di lapangan.

Ia ingat, saat ia terpilih untuk memimpin pasukan di medan perang.

Ia ingat, saat itu adalah perang pertamanya.

Ia ingat, betapa ia sangat mengkhawatirkan Endou, sahabat terbaiknya, di sana.

Ia ingat, saat Endou…

"ENDOU!"

Pemuda itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia segera bangkit dari tempat tidur, hendak mencari Endou.

"Akh!"

Tapi kakinya terhenti, dan tubuhnya terduduk, lantaran rasa sakit yang luar biasa muncul dari dada kanannya.

"Sebaiknya kau tak usah bergerak dulu."

Pemuda berwajah cantik namun pucat itu mendongakkan kepalanya ke atas. Dilihatnya seseorang berambut putih tulang dan mata onyx berdiri di hadapannya. Dengan membawa nampan yang kelihatannya berisi minuman.

"Si… apa?" ia bertanya, serak dan sulit.

"Dokter. Namaku Gouenji," jawab orang itu sembari meletakkan nampannya di atas sebuah meja kecil. Ia membantu pemuda itu untuk berdiri, namun ditolak oleh sang pemuda dengan tegas menggunakan tangannya.

"Aku tak… butuh bantuan…" desisnya. Mencoba berdiri, namun tak sanggup karena rasa sakit di dadanya kembali memuncak.

Mendengus, orang bernama Gouenji itu membantu pemuda itu lagi. "Kalau tak bisa, bilang saja kau butuh bantuan. Jangan keras kepala mentang-mentang kau anggota fraksi militer," katanya, ketus dan dingin.

"Aku… masih hidup?" tak menghiraukan perkataan Gouenji, si pemuda cantik kembali bertanya. Disambut dengan anggukan singkat tapi dingin oleh orang di hadapannya.

"Bagaimana dengan Endou? Dia…" ucapannya terpotong, tak sanggup mengatakan itu.

Menyadari sesuatu, Gouenji langsung menyahut, "pemuda berambut cokelat yang terbaring di sebelahmu? Maaf, ia tak sempat diselamatkan," katanya to the point.

Mata sang pemuda melebar. Tak percaya.

"J-jangan bercanda!" teriaknya, mencekik kerah jas putih panjang yang dikenakan Gouenji. Meski tenaganya tak ada, ia sudah terlatih untuk menyerang di saat kondisi kritis.

"H-hei! Apa yang kau lakukan!" usik Gouenji tak suka. Pria itu mencoba melepaskan cengkeraman tangan sang pemuda pada kerah jasnya.

"Di mana Endou?" teriaknya, semakin mengencangkan cekikannya. "Di mana dia?" ia kembali berteriak. "Jangan bilang kalau dia mati!" walau begitu, sang pria tak mau menjawab.

"Hei! Jawab aku! Di mana Endou?" frustasi, pemuda itu tetap berteriak. Meski suaranya hampir tak ada. Meski tenggorokannya sakit. Meski dada kanannya menjerit.

Tapi, ia tetap melakukannya. Endou sahabatnya.

"Di mana Endou! Jangan bilang ka-"

"Aku tak tahu! Ia sudah meninggal! Tak ada gunanya kau tangisi! Aku tak sempat menolongnya walau aku seorang dokter! Aku tak bisa menghidupkan orang mati!"

Pemuda itu mengernyitkan matanya. Menyadari bahwa pria itu benar. "Maaf…" sesalnya, sambil melepaskan cekikan tangannya, dan memalingkan wajah.

Gouenji hanya menatapnya datar. Ia mengerti, pemuda di depannya ini masih sangat muda untuk pergi ke dunia militer. Menghadapi kematian temannya saja ia tak sanggup. "Tak apa…" katanya paham, merapikan kerah jasnya kembali.

Hening.

"Namamu?" tanya sang pria. Memecah kesunyian yang hadir di antara mereka.

"Kazemaru," sahut sang pemuda sambil menatap kakinya. Ia duduk di atas kasur, dibarengi Gouenji.

Kembali, suasana hening.

"Sebenarnya, ini di mana?" tak tahu ingin bicara apa, Kazemaru bertanya.

"Rumahku."

Twitch.

Alis tunggal sang pemuda berkedut sesaat. "Bukan itu yang kutanyakan," katanya sambil memutar mata.

"Kau mau tanya ini distrik mana?" Gouenji bertanya balik. Kazemaru mengangguk, sembari memandangnya bosan.

"Bilang, dong. Ini Distrik 0," ucap Gouenji santai.

Ha?

Distrik 0?

"Aku tak pernah dengar ada Distrik 0. Bukankah hanya ada tiga puluh distrik di negara ini?" ujar Kazemaru menaikkan alisnya. Gouenji, sebagai jawaban, mengangkat bahunya. "Wajar, ini distrik yang tertutup. Lagi pula kecil, saking kecilnya kau bisa membedakannya dengan ukuran semut di peta," jawabnya panjang lebar sambil berdiri.

Penasaran, Kazemaru menggenggam ujung jas putih Gouenji. "Ceritakan padaku kenapa aku ada di sini, dan apa itu Distrik 0…" pintanya. Lebih terlihat seperti memerintah daripada meminta. Maklum, mantan komandan.

"Distrik 0 ada di bagian paling ujung sebelah timur negara ini. Sangat dekat dengan Distrik 3 tempatmu tinggal, dan Distrik 5. Kenapa kau ada di sini, jelas karena aku menemukanmu sekarat di tanah bersalju, dan aku membawamu pulang untuk menolongmu."

Kazemaru tertegun. 'Orang ini sangat baik', pikirnya. Tapi ia tak mungkin mengakuinya terang-terangan. Militer tak mengajarkan hal itu.

"Aku tahu…" Gouenji tiba-tiba bicara. Punggung lebarnya bersandar pada dinding. Kazemaru mendongak, 'tahu apa?' dahinya mengernyit.

Menghela napas, pria yang mengaku sebagai dokter itu meraih dagu Kazemaru, dan mengangkatnya sehingga mata mereka bertemu. "Waktu kau bereaksi seperti itu saat bertanya tentang Endou, berarti kau tidak hanya menganggapnya teman, 'kan?" katanya, sekalian bertanya.

Kazemaru memandangnya bingung, "tentu saja aku hanya menganggapnya teman biasa. Kami sahabat, memangnya apa yang mau kau katakan?" balasnya, balik bertanya.

"Khh, seharusnya kau sadar apa yang mau kukatakan. Dasar manusia tak berhati," papar Gouenji tiba-tiba. Dahi Kazemaru berkedut, "kami anggota militer. Kami tak diajari untuk memiliki perasaan," katanya ketus. Yang sebenarnya, tak ia mengerti apa maksud dari perkataan Gouenji itu.

Gouenji mengangkat bahunya. "Yah, sudahlah. Kau istirahat saja, aku mau kerja," lalu punggungnya menghilang dari balik tembok.

'Dia seperti pernah kulihat…'


.

.

.


Pagi itu, Kazemaru terbangun ketika matahari sama sekali belum menampakkan wujudnya. Ia berlari keluar dari kamar putih itu dengan segera. Mencari penyelamat nyawanya.

Ah, ia bahkan tak mengucapkan terima kasih.

Tapi, akademi militer tak mengajarkan hal itu juga.

Mereka hanya menerima jika diberi, dan tak meminta jika tak ditawarkan.

Tanpa mengucapkan apa pun sebagai balasan.

"Sedang apa?" tanya Kazemaru sembari melihat Gouenji. Pria itu menggerakkan sesuatu seperti sendok besar di atas piring cembung yang sepertinya keduanya terbuat dari besi. Entah apa namanya.

Gouenji menoleh singkat, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada piring cembungnya. "Aku sedang memasak," jawabnya.

"Memasak?" Kazemaru merasa kata itu sangat asing di telinganya. Ia bahkan baru mendengarnya kali ini. "Ya, memasak. Ada yang salah dengan itu?" kali ini, Gouenji memutar kenop pada benda berbentuk persegi yang berada di bawah piring cembung tadi.

Kazemaru menggeleng cepat, "tidak. Aku hanya baru pertama kali mendengar kata itu," sahutnya jujur. Gouenji tertawa kecil.

"Kau tak pernah dengar kata 'memasak'? Ternyata Distrik 3 itu kuno," tawa kecilnya berderai, tapi Kazemaru tak terusik dengan hal itu. Baginya, biasa saja ditertawakan.

Selesai dengan tawanya, Gouenji mengambil piring yang 'normal' dan meletakkannya di atas meja. Ia lalu memindahkan sesuatu yang ada dalam piring cembung besinya ke dalam piring normal itu. "Makanlah," katanya, mempersilakan Kazemaru untuk memakan sesuatu itu.

"Ini dimakan?" tanya Kazemaru tak yakin. Gouenji mengangguk malas sambil mengangkat bahunya. "Memang itu tujuan memasak. Untuk membuat sesuatu yang bisa dimakan," sahutnya datar.

"Memasak itu harus memakai piring cembung itu?" tunjuk Kazemaru pada benda besi yang teronggok menyedihkan dalam wastafel.

Pandangan Gouenji mengikuti arah tunjukan Kazemaru, "oh itu. Namanya kuali," katanya, masih sedatar tadi.

Ku-a-li.

Kata itu sepertinya juga merupakan hal yang baru bagi pemuda turquoise itu. Ia mengingat-ingat kata itu dengan hati-hati dan seksama. Kuali. Kuali. Kuali. Kuali.

Seakan-akan, itu adalah mantera perubah wajah yang sejak dulu ingin didapatkannya, karena dari dulu ia sering diejek 'cantik'.

"Pada umumnya begitu. Sekarang, makanlah. Aku mau ke klinik," pamit Gouenji. Kazemaru hanya terdiam dan menatapnya. "Jangan-jangan, kau juga tak tahu 'klinik'?" tanyanya curiga. Kazemaru menggeleng perlahan. "Aku tahu klinik, kok," ia memutar tubuhnya menghadap makanan yang ada di atas meja itu.

"Baguslah. Jaga rumahku selama aku pergi. Aku tak akan lama, kok. Sampai jumpa," sebelum tubuh sang pria menghilang, tangan berkulit gelapnya mengusap-usap rambut Kazemaru.

Lembut.

'Tangannya hangat…' batin Kazemaru, meskipun wajahnya masih terlihat datar dan kebingungan.

Ketika sosok pemilik tangan hangat yang membelai rambutnya itu menghilang, Kazemaru menatap kosong sekeliling ruangan itu.

Hampa.

Tidak ada apa-apa.

Ia merindukan Endou.

Ia merindukan akademi.

Ia merindukan kamarnya.

Ia merindukan guru-gurunya.

Ia merindukan pelajaran-pelajarannya.

Ia merindukan segala sesuatu di akademinya.

Dan yang paling penting dan utama. Ia merindukan Endou.

Kazemaru bahkan belum lulus dari akademi militer. Ia hanya ditugasi memimpin barisan pertahanan, dan berakhir sekarat. Dengan dada kanan dan punggung yang luka parah, ia ditolong oleh seorang dokter muda yang membawa dan merawatnya di rumah sang dokter.

Betapa beruntung hidupnya.

"Endou…" ia menggeram pilu. Merindukan partner, rekan, dan sahabat terbaiknya selama sebelas tahun ini.

Kazemaru tahu, ia menganggap Endou sebagai orang yang mengerti dirinya. Mengerti hidupnya. Mengerti pola pikirnya. Temannya. Partner-nya. Rekan tugasnya. Endou sudah seperti bayangan dalam kehidupannya di akademi, dan itu membuatnya sedikit senang.

Pemuda cantik itu menggelengkan kepala kuat-kuat. 'Ini salah', ia berpikir. Manusia tak berhati sepertinya tak boleh merasakan apa pun. Senang, sedih, kesombongan, dan kerendahan hati. Semuanya.

Walaupun ia sudah tak berada di Akademi Militer Distrik 3 lagi.


.

.

.


"Aku pulang…" Gouenji melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Ia lalu berjalan ke dalam rumah. 'Mana anak itu?' ia bertanya dalam hati. Mencari keberadaan bocah yang ia tolong seminggu lalu.

Tak ditemukan di dalam rumah, Gouenji pergi ke halaman rumahnya. Di sana memang ada Kazemaru, sedang duduk di teras memandangi kolam ikan kecil yang ada di depannya. Sambil bicara sendiri.

"Kalian senang bisa bersama?"

Tidak ada jawaban. Hanya gemericik air kolam yang menyahut pertanyaannya.

"Kalau begitu, kalian punya hati?"

Sekali lagi, hanya suara air yang menjawab.

"Aku tak punya hati, begitu kata Gouenji. Karena itulah aku tak bisa mengucapkan terima kasih karena telah ditolongnya. Sebenarnya aku ingin, tapi ia bilang aku tak punya hati, jadi aku tak bisa melakukannya."

Satu ikan koi besar melompat dari air. Entah apa maksudnya.

"Kalian ikan koi, 'kan? Berarti, ikan cinta?"

Kali ini, dua ikan koi yang melompat. Mungkin menanggapi pertanyaan Kazemaru sebagai kata 'ya'.

"Aku tak tahu apa pun tentang hal itu. Menurutku itu konyol. Barangkali karena aku selalu ada di lingkungan militer, jadi hal seperti itu tak diperlukan."

Mendadak sunyi. Bahkan bunyi gemericik air itu sudah tak ada.

"Hah, bodohnya aku bicara pada ikan. Memangnya kalian mengerti bahasaku? Mungkin saja, ya. Tapi aku pasti terlihat memalukan jika bicara pada ikan."

Ikan-ikan itu tak menjawab, tentu saja. Mereka hanya berenang berdesak-desakan karena jumlahnya terlalu ramai.

"Ehem."

Pemuda cantik itu menoleh. Gouenji sudah berdiri di belakangnya sambil menyilangkan tangan. "Serius sekali. Sampai tak sadar kehadiranku," kata pria itu.

"Kau mendengar semuanya?" tanpa peduli perkataan Gouenji, Kazemaru bertanya. Sebagai jawaban, dokter itu mengangguk diam. "Tapi menurutku, tidak konyol bicara pada ikan. Aku saja sering mengobrol dengan mereka," tambahnya.

Kazemaru mendengus, hendak tertawa tapi ditahan. "Entahlah. Sebelumnya aku tak pernah membicarakan hal seperti itu pada siapa pun, termasuk Endou," ucap Kazemaru. Seperti tidak yakin tentang apa yang ia sendiri bicarakan.

"Hal seperti apa?" tanya Gouenji, mengernyitkan sedikit alis putih tulangnya. Ia sebenarnya tahu 'hal' yang dimaksud, namun ia ingin mengerjai Kazemaru.

Sang mantan komandan itu menggeleng, "hal yang tak ada hubungannya dengan militer," ungkapnya, singkat, padat, dan jelas.

Gouenji mengambil posisi di sebelah Kazemaru, dan duduk di samping pemuda itu. Tangan berkulit gelapnya melempar sesuatu ke dalam kolam, yang dengan cepat diperebutkan oleh ikan-ikan koi di dalam kolam tersebut. "Apa yang kau lempar?" tanya Kazemaru penasaran.

Penyelamat nyawa Kazemaru itu tersenyum kecil, "roti," katanya tanpa menoleh, masih fokus dengan ikan-ikan koi di dalam kolam. Kazemaru mengalihkan perhatiannya pada ikan-ikan itu. "Kau bilang tadi, ikan koi itu ikan cinta, 'kan?" Gouenji membuka pembicaraan di antara mereka.

Kazemaru mengangkat bahunya, "aku tidak bilang begitu. Aku bertanya pada ikan-ikan itu," kilahnya dengan wajah tak berdosa. Gouenji hampir memijit pelipisnya kalau saja ia tidak ingat betapa polos dan cerdasnya Kazemaru bicara.

"Iya, iya. Kau menang. Jadi aku tanya sekarang, mengapa kau berpikir ikan koi itu ikan cinta?" tanya Gouenji, kehabisan kata-kata untuk melawan Kazemaru.

Pemuda belasan tahun itu menatap sang dokter dengan pandangan heran, "karena namanya sama, 'kan? Bukankah koi artinya cinta?" balasnya tenang. Sedangkan Gouenji menatapnya datar sembari mengernyitkan dahinya. "Benarkah?" tuntut sang dokter, meminta jawaban lebih logis.

Kazemaru mengangguk mantap. Ia memang berpikiran seperti itu tadinya. Menganggap ikan koi dinamai sesuai dengan kata cinta. "Kalau bukan, apa lagi? Memangnya menurutmu apa?" ia balik bertanya.

Gouenji menggeleng singkat, ia tidak ingin membicarakan hal yang aneh-aneh pada Kazemaru. Berhubung anak itu berasal dari lingkungan militer, tidak mungkin menyadari apa yang orang biasa rasakan. "Susah bicara denganmu, lebih baik tidak usah dibahas," katanya tanpa maksud mengejek.

"Yah, terserahlah," katanya malas sambil memutar matanya. "Aku tak mengerti apa yang mau kau katakan. Yang pasti itu tak ada hubungannya dengan militer, 'kan?" sekali lagi, Gouenji menanggapi sambil mengangguk dalam diam. "Berarti itu bukan urusanku," lanjut Kazemaru tenang.

'Padahal 'hal' yang dimaksud olehku juga sama dengan 'hal' yang ia bicarakan tadi,' batin Gouenji sedikit sweatdrop. 'Anak ini polos sekali, sih,' lanjutnya dalam hati, tersenyum lembut tanpa sadar.

"Hei, Gouenji," panggil Kazemaru. Dokter muda itu menoleh, "bisakah kau memeriksaku lagi? Dadaku sedikit sakit," pinta pemuda itu.

Sang dokter mengerjap sebentar, "ikut aku," katanya singkat sebelum menuntun Kazemaru masuk ke dalam rumah.


.

.

.


"AKH!" jerit Kazemaru ketika tangan dingin Gouenji sampai ke dadanya. Masih terasa amat sakit, berhubung lukanya belum ditutup –dengan cara dijahit- dan perbannya belum diganti.

"Sabar dulu, tak akan ada gunanya kau menjerit. Rasa sakitnya cuma sedikit, kok," tanpa memperhatikan Kazemaru yang sudah kesakitan luar biasa, Gouenji tetap saja mencoba menjahit luka di dada kanan sang pemuda.

Pemuda itu mendengus, sebal dengan sikap sang dokter yang mengacuhkan kesakitannya. "Sakitnya cuma sedikit katamu? Ini sangat sakit, tahu!" erang Kazemaru memprotes. "Kalau kau menjerit sambil mengeluh begitu, tentu saja tambah sakit. Sekarang coba kau diam dulu, biarkan aku membiusmu," ucap Gouenji yang menyadari obat penenang biasa tak akan cukup untuk menenangkan sang bocah militer. Ia lalu mengambil obat bius dengan dosis cukup tinggi di rak, lalu mengambil jarum suntik yang baru.

Kazemaru membulatkan mata madu cerahnya, kaget. "Kau mau membunuhku dengan jarum suntik sebesar itu?" geramnya, dengan amat kaget karena baru pertama kali melihat jarum suntik yang besarnya amit-amit itu.

"Aku tidak mau membunuhmu, aku mau menyelamatkanmu. Tapi karena kau tak bisa diam, jadi aku pakai jarum suntik besar ini," sahut sang dokter itu tenang. Mata onyx kelamnya sama sekali tak melihat Kazemaru dan tetap fokus dengan jarum suntik di tangannya.

Hampir saja Kazemaru pingsan kalau saja tak mengingat dirinya adalah mantan anggota militer. Dengan senjata saja ia tak takut, masa' dengan jarum suntik nyalinya langsung ciut? Memalukan. "Kenapa? Kau takut?" goda sang dokter, yang menurut Kazemaru malah jadi menyeramkan karena wajahnya saat ini memang tidak ramah.

"Beberapa hari yang lalu kau kusuntik juga dengan jarum yang bahkan lebih besar dari ini," mata Kazemaru kembali membulat. Ia sangat tidak percaya kalau dirinya pernah disuntik dengan jarum yang bahkan lebih besar dari yang ia lihat saat ini.

"Jangan bercanda!" teriaknya frustasi. "Aku tak mau disuntik dengan itu! Bisa-bisa aku ma-"

Pemuda itu tak bisa meneruskan kalimatnya. Gouenji sudah menyuntikkan obat bius itu ke dalam tubuhnya hingga pingsan. "Dengan ini ia akan tidur selama dua hari," katanya sendirian. Ia tidak memperdulikan Kazemaru yang katanya akan tidur dua hari. Menurutnya sendiri itu bagus, walaupun Kazemaru pasti akan memprotes habis-habisan jika pemuda itu tahu.

'Yah, setidaknya bisa tahan sampai operasi penjahitannya selesai…' batin Gouenji sembari menyiapkan peralatan bedah dan jahit medisnya. Ia melakukan operasi itu sendirian, tidak membutuhkan banyak orang karena baginya itu merepotkan, ia lebih suka sendiri.

Dalam berbagai hal, ia mirip dengan Kazemaru. Sama-sama menginginkan semua sendirian.

Enam jam kemudian, operasi penjahitannya selesai. Sang dokter membersihkan peralatannya, dan mengembalikan benda-benda itu ke dalam rak. Luka tusukan di dada Kazemaru kini sudah tertutup dengan rapi berkat tangannya.

Gouenji duduk di samping kasur yang ditiduri Kazemaru. Setelah operasinya selesai, ia tak tahu apa lagi yang mau ia lakukan, karena itu ia hanya diam memandangi wajah tidur pemuda yang terlelap itu. 'Coba kalau tiap hari dia tenang seperti ini, jadi aku tak repot,' pria itu membatin sendirian. Meskipun ia tak sungguh-sungguh menganggap Kazemaru itu merepotkan, tapi tetap saja, ia sedikit kewalahan dalam berdebat melawannya.

'Waktu itu… saat ia membicarakan soal Endou, tatapan matanya berubah…' dokter itu menopang dagunya dengan tangan kiri, tepat di hadapan Kazemaru. 'Tapi ia tak menyadarinya…' tangan kanan Gouenji, di luar kesadarannya, tergerak untuk membelai poni panjang yang menutupi mata kiri Kazemaru. Menurutnya, poni panjang itu harus segera dipotong karena mengganggu, dan ia sangat risih dengan keberadaan poni itu. Lagi pula, buat apa ditutupi dengan poni? Apa ada-

"!"

Saat itu, Gouenji refleks menjauhkan tangannya dari poni Kazemaru.

Karena setelah menyingkirkannya, ia melihat kenyataan dari itu.

Kenyataan bahwa Kazemaru hanya memiliki mata kanan.

Alias, buta sebelah.

Gouenji bisa tahu dari bekas luka melintang yang terlihat dari samping hidung hingga hampir ke telinga kirinya. Seperti luka tebasan pedang, tapi lebih lebar. Di bagian tengah luka itu, tepat di kelopak mata, ada bekas luka seperti belahan benda yang ditebasnya.

'Mungkinkah karena ini dia menutupi matanya dengan rambut?' Gouenji bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu tentu tak terjawab, karena sang objek sedang tertidur akibat pengaruh obat bius.

Sang dokter muda mencoba membuka kelopak mata kiri Kazemaru yang permukaannya telah terbelah sedikit.

Gelap.

Hitam.

Matanya memang tidak ada. Hanya ada gelap berwarna hitam mengisi lubang yang seharusnya ditempati organ bernama bola mata itu. Mungkin matanya sudah dicabut ketika ia mendapat luka tebasan itu. 'Kasihan sekali…' Gouenji menatap miris pemuda itu, di usia sangat belia, ia sudah kehilangan sebelah matanya, sebagian dari penglihatannya, setengah dari jangkauan pandangnya.

Jemari lentik sang dokter meraba bekas luka tebasan itu, 'kasar…' gumamnya. Jelas saja kasar, luka itu tak pernah dirawat oleh sang pemilik karena sudah lama mengering. Tak ada gunanya lagi dihiraukan.

Lagi, tubuh Gouenji bergerak tanpa sadar. Namun kali ini bukan tangannya.

Tapi kepala beserta tubuh bagian atasnya, tergerak condong ke depan, tepat di atas Kazemaru.

Poni Kazemaru yang telah tersingkir, ditahan oleh jemari Gouenji. Ia lalu memajukan wajahnya ke wajah pemuda itu.

Kemudian, bibirnya mengecup kelopak mata kiri Kazemaru yang tertebas. 'Selamat tidur, Bocah…' ia membatin tanpa maksud jahat.


.

.

.


"Langitnya biru…" gumam Kazemaru di dalam sebuah kamar yang disiapkan Gouenji. Kamar operasinya.

"Tentu saja biru. Memangnya kau pikir warna apa? Cokelat madu seperti matamu?" ejek Gouenji, Kazemaru manyun seketika. Pemuda itu memperhatikan langit cerah lewat jendela kamar. Dengan sang dokter yang menjaganya.

"Aku, 'kan hanya kasihan pada langit yang biru itu," jawab Kazemaru sambil mengangkat bahunya. Gouenji mengernyit tidak mengerti, "apa maksudmu?" tanyanya.

Pemuda itu membalas, "habisnya, ia harus melihat pemandangan pahit peperangan di bawahnya. Dengan terus menjulang tegak di angkasa, ia terus menghadapi tanah di bawahnya yang berlumuran darah. Kasihan, 'kan?"

'Masuk akal, tapi itu tak akan dipikirkan oleh banyak orang,' batin Gouenji mengiyakan sekaligus menyanggah.

"Perkataanmu seperti seorang pujangga saja," komentar sang dokter dengan maksud mengejek. Kazemaru tetap diam, ia tak ingin menyela. Sejujurnya, ia memang kasihan dengan langit yang berwarna biru cerah di pandangannya. Langit biru secerah itu, menurutnya, tak pantas dilihat oleh manusia-manusia berdosa seperti dirinya dan orang-orang yang sedang berperang saat ini.

Gouenji sebenarnya ingin menanyakan perihal mata Kazemaru yang tertebas itu. Tapi ia mengurungkan niatnya karena berpikir itu akan membuat emosi Kazemaru memuncak.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

Dokter itu tersentak. Ia sama sekali tak sadar kalau dirinya dari tadi terus memperhatikan Kazemaru. "Tidak ada apa-apa…" katanya sambil mengangkat bahu bidangnya.

Kazemaru memicing, "kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku," ucapnya entah pada siapa. Karena matanya saat ini masih mengarah pada langit siang di luar jendela. Seperti berbicara sendiri.

Gouenji seketika merasa bersalah pada pemuda itu. Tapi ia tak mungkin menanyakan apa yang ingin ia katakan, nanti Kazemaru tersinggung. "Tapi aku tak akan tanya apa yang kau sembunyikan itu," lanjut Kazemaru, yang rupanya belum menyelesaikan kalimatnya tadi.

Sang dokter mengangkat kedua alisnya, menunggu kalimat Kazemaru selanjutnya, "karena kau bukan siapa-siapa dariku, aku tak berhak tahu apa yang kau sembunyikan. Apa pun itu, kurasa itu bukan urusanku," sang pemuda kembali meneruskan perkataannya.

"Bagaimana kalau sesuatu yang kusembunyikan itu mengenai dirimu?" tanya Gouenji tiba-tiba. Membuat Kazemaru yang sedari tadi tak mau mengalihkan pandangannya dari jendela, menjadi menoleh dan berpaling ke arahnya.

Lalu mata mereka bertemu.

Onyx dan madu.

Hanya tiga.

Mantan anggota militer itu mendengus, "sudah kubilang, aku tak akan tanya. Karena itu bukan urusanku. Kau mau menyembunyikan apa pun dariku, aku tak berhak ikut campur. Sekalipun itu mengenai aku," balasnya, mengalihkan pandangannya kembali ke langit cerah di jendela.

"Kau mau bilang, aku pun tak boleh ikut campur urusanmu?" ungkap Gouenji, menyadari maksud dari ucapan Kazemaru. Pemuda itu mengangguk mengiyakan, "karena aku sudah mencoba untuk tak mencampuri urusanmu, sadar dirilah kalau kau juga tak boleh mencampuri urusanku," katanya sarkatis sembari melambaikan tangan.

Kazemaru mengulurkan tangan kanannya, dalam posisi telapak tangan di atas. "Deal?" senyum kecil namun berbahayanya merekah.

Plok.

Dan Gouenji menyambut tangan itu dengan menepuk telapak tangan kanannya di atas tangan Kazemaru yang terulur.

"Deal."

Walaupun sang dokter juga merasa sangat bersalah karena telah mengetahui rahasia Kazemaru.

"Hei," panggil Kazemaru. Ia tak peduli kalau panggilan itu sopan atau tidak, karena ia memang tak akan memikirkannya. "Apa?" sahut Gouenji dingin, meskipun sebenarnya ia memaklumi keadaan Kazemaru yang memang tak pernah diajari sopan santun selama sekolah di lingkungan militer.

Kazemaru melompat dari tempat tidur, lalu ia duduk di pinggir kasur. "Kau, 'kan orang dewasa -yah, kurasa setidaknya kau lebih tua dariku-, jadi kupikir orang dewasa pasti mengerti keadaan negara ini," katanya memulai.

Gouenji menaikkan sebelah alisnya, "terus?" tuntutnya.

Pemuda di hadapan sang dokter menggaruk tengkuknya perlahan, "yah, maka dari itu aku mau tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada negeri ini? Aku pernah dijelaskan oleh para guruku di akademi, kalau keadaannya sangat parah. Apa itu benar?" tanya Kazemaru penasaran.

Dokter itu memutar posisi duduknya, "sebenarnya…" ucapnya memulai. "Negeri ini tidak bisa dibilang 'sangat parah'," Kazemaru terdiam, meskipun ia tak mengerti arah pembicaraan Gouenji.

"Tapi, negeri ini sudah 'benar-benar hancur'," ketika mendengar kata itu, dalam sekejap, sebelah mata Kazemaru membulat. 'Benar-benar hancur' itu kumpulan frasa yang sama sekali tak ingin ia dengar, karena bagaimanapun, ia menyayangi negerinya, tak ingin mendengar negerinya ini hancur sekalipun masih banyak perang saudara di dalamnya.

"Apa yang menye-" pertanyaan Kazemaru dipotong oleh Gouenji, yang meletakkan satu jarinya di bibir sang pemuda, "aku belum selesai, Bocah…" protesnya.

Memutar matanya, Kazemaru berusaha bersikap sabar meski itu bukan sifatnya, "baiklah, aku tak akan menyela lagi," sungutnya.

"Sejak pemimpin negeri ini meninggal dua puluh tahun yang lalu, tidak ada yang sanggup menggantikannya. Jadi selama ini negeri ini bergerak sendiri tanpa pemimpin."

'Jadi sebelum aku lahir, negara ini memang sudah kacau,' Kazemaru membatin ngeri.

"Lalu, banyak distrik yang memberontak menuntut kepemimpinan. Mereka tidak ingin berada di negeri yang kekuasaannya kosong, karena akan berpotensi penjajahan dari negara lain. Maka dari itu, dibentuk akademi militer di Distrik 3 tempatmu tinggal, tidak hanya bertujuan untuk melatih siswa di medan perang, tapi juga untuk melahirkan para pemimpin baru."

"Distrik 0 yang pernah kusebutkan ini, merupakan distrik rahasia yang berdiri untuk menyembunyikan para pejabat penting. Nyawa mereka terancam akibat pemberontakan para pemimpin distrik. Meski begitu, Distrik 0 merupakan daerah yang tak boleh diketahui akademi militer, sebab para murid akademi militer pasti akan berpihak pada rakyat."

"Jadi karena itulah kami tak mengetahui apa pun soal Distrik 0?" Gouenji mengangguk perlahan.

Dokter itu beranjak dari duduknya, ia merasa sudah cukup bercerita banyak pada Kazemaru. "Gouenji," panggil Kazemaru lagi.

"Kau itu sebenarnya siapa? Umurmu berapa? Kenapa kau bisa ada di Distrik 0?" tanyanya beruntun. Dalam satu tarikan napas. Sedangkan Gouenji memandanganya sembari tersenyum –atau menyeringai, tidak bisa dibedakan antar keduanya jika itu terlukis di wajah Gouenji-. "Aku?" ia mengulang, menunjuk dirinya sendiri.

"Cuma seorang dokter yang kebetulan lewat saja, dan seperti katamu, aku orang dewasa."


.


TBC


.


a/n: OKE, SAYA YG NISTA BINTI ABAL INI UDAH MENGAPDET FIC INI! KYAHAHA~~#gembira

rencananya, sih, mau apdet sebulan sekali, tapi g tau jga, y… kan bru rencana… hehehe #plak. Abisny taulah saya, suka ngaret…

oke, ini balasan review:

Ika Fittr: emm… emang dr lgu Kokoro… #plak. Kazemaru selamat, tpi Endou… #dor. Ini dah apdet, silakan dibaca, makasih dukungan dan reviewnya…

Draco de Laviathan: Amazing? Wow, ini fic abal banget, lho… Kazemaru emang heartless, dan saya sengaja bkin dia ama Endou sperti itu… ini dah apdet, makasih reviewnya…

Nesia-chan Oga Jiggy: *lambai balik*, ehh? Kependekan y? ini 3000 kata lebih, lho… dah apdet, nih… makasih reviewnya…

Kuyoshita: eh? Endou ganjen? Mungkin…#plak. Kazemaru tsundere y? saya setuju tuh!#dterbangin. Endingny bkin gamang? Wohoho, ad yg lebih gamang lgi… #plak. Kazemaru selamat, tapi Endou… #plak. Makasih reviewnya y…

edogawa ruffy: ini dah apdet, Kazemaru selamat, Endou masih drahasiakan… #dor. Makasih reviewnya…

The Fallen Kuriboh: IYA~! saya juga kangen ma fic Wildthunder #walaupun saya g inget prnah review ato g#dor. Pokokny saya suka bnget. Nih udah apdet, makasih reviewnya…

Saint Chimaira: aduh, sampe ngerepoting pembaca? Saya yg salah, saya author gagal… #mewek. D sini saya emang sengaja bkin Kazemaru kyak gitu, soalny saya mau bkin kesan, gmanapun penampilan Kazemaru, dia tetep cwo… nih dah apdet, makasih review dan dukungannya…

Kuroyin9: halo juga… eh? masa fic ini keren? Mata Anda perlu reparasi y? #plak. Ini jelek n abal bnget tau… dah apdet nih, makasih reviewnya…

Fyuh… akhirnya terjawab semua… oh iy, chap 2 ini full GouenKaze kan? Tpi meski begitu, INI FIC ENKAZE! ENKAZE! ENKAZE! EN-#dkemplang.

Nyahaha… siapakah sebenarnya Gouenji? Benarkah ia hanya dokter biasa? Lalu, kemanakah Endou? Benarkah ia sudah meninggal? Yg bisa jawab bener saya kasih hadiah! Dari mana? Ya, dari bualan saya lah…#plak

Review dtunggu, minna… mau kecewa ma saya, kek, mau marah" kek, mau nge-flame, oke aja…

.