Kazemaru melangkahkan kakinya menuju ruang latihan angkat beban. Biasanya, sih, kalau sedang senggang begini dia sedang sparring bersama Endou di halaman belakang akademi yang luas dan banyak rintangan. Tapi karena Endou sedang entah berada di mana, jadinya pemuda cantik itu memutuskan untuk latihan angkat beban.

Yah, itu memang jarang dilakukannya. Sebab menurutnya, angkat beban tak ada hubungannya dengan militer. Hei, memangnya kau harus mengangkat musuhmu di tengah pertempuran? Memalukan sekali. Bagaimana kalau selagi kau mengangkatnya, musuhmu itu sudah menancapkan pedangnya di dada kirimu?

Baiklah, kembali ke sang jawara angkatan delapan kita tercinta, Kazemaru. Yang sedang membuka pintu ruang latihan.

Ia mengira, hanya ada dirinya di sana. Seperti biasa. Tak mengherankan karena ruang latihan angkat beban tidak seramai ruang latihan yang lain. Siswa Akademi Militer Distrik 3 memang malas latihan itu. Kebanyakan dari mereka berpikiran sama seperti Kazemaru.

Meskipun sebenarnya, ada alasan lain yang membuat Kazemaru tidak ingin latihan angkat beban.

Dan alasan itu karena-

Sunyi.

GREK.

BRAK.

Oh, sepertinya ia salah sangka. Masih ada orang yang berada di ruangan ini rupanya.

Kazemaru melangkah masuk. "Hee, kau ternyata di sini, Endou…" ia menyeringai. Menyadari kebodohannya sendiri karena Endou tak bisa ditemukannya di mana pun. Dia tidak sadar, kalau Endou merupakan satu dari sedikit siswa yang rajin menggeluti latihan angkat beban.

Mau tahu alasannya?

Karena menurutnya, kalau rajin latihan angkat beban akan membuatnya terdengar macho.

Ha? Aneh, kan? Itulah Endou. Suka aneh-aneh.

"Yah, aku memang di sini. Kau tadi ke mana? Aku mencarimu," pemuda ber-headband itu berdiri, membersihkan celananya dari debu –berhubung ruangan itu sepi pengunjung, jadi pasti banyak debunya karena orang militer malas bersih-bersih- dan meregangkan ototnya.

Kazemaru menggaruk kepalanya. "Justru aku yang ingin menanyakanmu, kau ke mana?" protesnya. Sahabat Endou itu menyibak rambutnya yang panjang beberapa kali.

"Huh…" ia menggumam, sambil memperhatikan bench press. Tak lama, Kazemaru memutuskan untuk –setidaknya sekali seumur hidupnya- berlatih mengangkat beban.

Hanya kali ini.

Greeek.

"Ngghh!"

Endou menutup mulutnya.

"Aaaaahhh~!"

Endou membelalak. Jeritan Kazemaru membuatnya membatu seketika. Sangat uke. Seperti meminta. Dan…

Hmm, apakah Endou sedikit pervert sekarang?

"Cuma dua puluh lima kilo? Kau bercanda, Kazemaru?"

Yang ditanya hanya menggaruk tengkuknya, malu.

-dia adalah pemegang rekor terendah se-akademi dalam bench press.


.

.


Kokoro?

An Inazuma Eleven Fanfic

Chapter 5

*Endou?*

Disclaimer:

Ehem, Kawan, kalo saya punya Inazuma Eleven, bakal saya jadiin penuh shonen-ai, dan saya jadiin anime macam Sa*nt Se*ya main bola!

Eh, emang udah kayak gitu ya?

Ya, udah deh…

Inazuma Eleven © Level-5? Yabuno Tenya? Akihiro Hino? Katsuhito Akiyama? Miyao Yoshikazu? Siapa pun, yang pasti bukan saya! #mewek sendiri

Warning:

Agak nista di awal-awal #peringatannya telat, Neng!, Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya

Saya dah bilang ini fic ooc kan?

Ah, iya, chap ini banyak flashback dan banyak adegan menjurus, bersiaplah!


.

.

.


Endou menatap jendela kamar asramanya. Dingin, ia memeluk rapat-rapat selimut yang menutupi tubuhnya. Angin malam Distrik 3 entah kenapa jadi begitu mencekam.

"Kau belum tidur, Endou?"

Suara itu.

"Belum…"

Kazemaru.

Rekannya sejak tahun pertama di Akademi Militer Distrik 3. Sahabat terbaiknya. Orang yang paling mengerti dirinya. Teman sekamarnya. Rekan, saingan, teman, sahabat, partner, dalam banyak hal.

Endou tak pernah tahu asal-usul Kazemaru. Dari mana asalnya, siapa orang tuanya, apa dia memiliki saudara, ia tidak tahu.

Sama halnya dengan Kazemaru, yang juga tak mengetahui apa pun tentang dirinya.

Pemuda itu duduk di atas kasur. Matanya mengikuti arah pandang Endou, luar jendela. "Apa kau berpikiran sama denganku?" tanyanya, membuyarkan lamunan sang sahabat yang entah sedang memikirkan apa.

"Mungkin…" hanya itu jawaban Endou atas pertanyaannya.

Hening.

Tatapan Endou kemudian beralih kepada Kazemaru. Menatap pemuda pemilik mata madu itu lekat-lekat. Dengan kedua mata cokelat pekatnya, ia merasa tak mampu melihat Kazemaru.

Kazemaru, yang sebenarnya.

Ekspresinya kosong, seakan tak memiliki jiwa. Tatapan matanya juga amat datar, seolah ia adalah pembunuh berdarah dingin yang siap menghabisi siapa saja.

Tangan Endou tergerak untuk mengusap wajah Kazemaru.

"Maafkan aku…" ia berlirih perlahan. Membuat Kazemaru mengangkat sebelah alisnya.

"Untuk apa?" tanyanya, menghiraukan jemari Endou yang masih mengelus pipinya. Kali ini beralih ke bagian mata. Mata kirinya. Yang kini sudah tidak berisi lagi.

Perlahan.

Endou, secara perlahan tapi pasti, entah sejak kapan mulai mendekatkan wajah Kazemaru kepadanya.

Bahkan Kazemaru tak sadar. Bagaimana caranya tangan Endou sudah berada di belakang kepalanya, tanpa disadarinya?

Pada akhirnya-

Chu.

-bibir Endou menyentuh belah ranum bertekstur lembut di wajah Kazemaru. Singkat, hanya sedetik. Tapi itu sudah cukup.

Bagi Endou, hanya dengan menyentuh bibir itu selama sedetik saja, sudah membuatnya merasa memiliki Kazemaru selamanya.

Kazemaru, yang tidak mengerti apa yang dilakukan Endou, hanya bisa mengedipkan matanya dua kali.

Wajahnya masih sama seperti tadi. Datar dan tanpa ekspresi.

"Apa artinya itu, Endou?" tanyanya, dengan kadar kepolosan luar biasa. Dibalas dengan senyum manis dari Endou. "Artinya aku akan selalu melindungimu," disertai jawaban yang semakin membuat Kazemaru tidak mengerti.

Hei, dia pemegang rekor tertinggi untuk semua bidang –kecuali angkat beban- dalam militer. Ia tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun.

Lagi pula, ia juga tak mungkin selalu mengandalkan Endou. Sahabatnya itu sudah terlalu membantunya dalam banyak hal.

Kazemaru menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Yah, anggap saja itu bagian dari jawabannya. "Tidak, Endou," ucapnya kaku. "Aku tidak bisa terus dilindungi olehmu. Cukuplah beberapa tahun lalu kau menghalangi Fubuki untuk membunuhku, yang mengakibatkan kita berdua hampir didiskualifikasi dan terancam tidak bisa lanjut ke tingkat berikutnya," lanjut Kazemaru intens.

Ya, beberapa tahun yang lalu. Kazemaru di tingkat keempat mengikuti ujian kenaikan tingkat melawan Fubuki dari tingkat kelima. Waktu itu Fubuki hampir membunuhnya, kalau saja Endou tidak berusaha mendobrak pintu masuk ruang ujian dan mengacaukan semuanya.

Saat itu, Kazemaru memang tidak terbunuh, namun Fubuki mendapat luka yang cukup serius karena serangan tiba-tiba dari Endou. Kakinya patah dan terpaksa tidak bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya karena harus mendekam di Rumah Sakit Tulang Distrik 25.

Setahun kemudian, Fubuki dikabarkan sembuh. Namun ia tak pernah kembali ke Distrik 3 dan mengikuti ajaran militer lagi.

Kazemaru dan Endou hampir saja dikeluarkan dari akademi karena mengacaukan ujian. Namun Kepala Akademi masih berbaik hati pada mereka, dengan membiarkan mereka tetap berada di militer.

Karena itulah, Kazemaru ingin membuktikan pada semua orang di akademi, bahwa ia masih bisa bertarung tanpa Endou sekalipun. Dan ia berhasil memenuhi ambisinya dengan terus menjadi yang terbaik dari tingkat kedua sampai kesepuluh.

Sejak saat Endou mengacau ujian dulu, dipakai pintu kedap air, peluru, dan suara untuk ruang ujian tahun berikutnya. Dan sejak saat itu pula, ruang ujian untuk Endou dan Kazemaru diusahakan untuk selalu dipisah jauh.

"Nih," kata Endou seketika. Tangannya menyodorkan sesuatu berwarna merah pada Kazemaru. Sesuatu yang seperti-

"Hm?"

-ikat rambut?

"Jangan bercanda, Endou. Kau tahu aku tak pernah mengikat rambutku," komentar Kazemaru sembari mengangkat kedua bahunya. Ia menggelengkan kepala turquoise-nya, menunjukkan rambut panjang berkilau indah yang memang tak pernah diikat sejak dulu.

Endou tersenyum maklum. "Tidak masalah," katanya, mendekatkan dirinya pada Kazemaru. Tangan kanannya menggenggam kumpulan helai rambut indah di hadapannya, lalu mengikatnya dengan ikat rambut itu. "Kau terlihat lebih baik kalau seperti itu."

Kazemaru hanya bisa menatap Endou heran. Ia merasa agak aneh, karena ia tak pernah mengikat rambutnya begini. Baru pertama kalinya. Itu juga diikatkan Endou, bukan dirinya yang mengikat sendiri.

"Anggap saja ini adalah hadiah dariku, sebagai tanda pertemanan kita."


.

.

.


"Nah, Tuan Putri, tegakkan punggung Anda. Ups- tidak, tidak! Posisi bahu jangan sampai sangat turun seperti itu! Anda harus tegap!"

Sang Tuan Putri mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya pada sang tutor.

DOR.

KREK.

BRAK.

"Meleset lagi," desah sang tutor. Kepala birunya miring sedikit –hendak tertawa tapi ia masih menaruh hormat pada tuan putrinya- menyamarkan senyum di wajah manisnya. "Anda tidak boleh ragu, jangan sampai pinggang Anda lemas seperti tadi."

Yah, jelas saja tertawa. Sasarannya padahal hanya lima belas meter, melesetnya hampir tiga puluh derajat.

Mana lagi, mengenai pohon yang ada di sana pula. Tambahan, pohonnya roboh.

Sang Tuan Putri mengernyit. "Aku tahu, tapi rasanya sulit sekali…" keluhnya. Kedua tangan mungilnya meletakkan kembali senapan angin yang tadinya digunakan untuk berlatih menembak. Kemudian Sang Tuan Putri mendudukkan dirinya di atas rerumputan.

"Kak Haruna?" panggilnya kepada sang tutor. Wanita cantik berambut biru segera menoleh. Ketika gaun merah mudanya berkibar terhempas angin, di saat itulah ia melepas anak panahnya. Entah membidik apa.

Tak lama, sesuatu terjatuh dari atas langit. Berpuluh meter di depan pemanah.

Gema tepuk tangan menderu dari tangan mungil Sang Tuan Putri. "Kak Haruna hebat!" pujinya kagum. Tanpa disadarinya, sang tutor, Haruna, menghela napas.

"Tuan Putri harus melebihi saya dalam hal apa pun," ucapnya letih. Letih mengajari tuan putrinya yang tidak pernah bisa menembak dengan benar, dan letih karena harus sekali lagi mengulang hal yang sama agar tuan putrinya itu mengerti.

Mengerti akan tugasnya sebagai pewaris tahta. Sehingga mengharuskannya untuk menguasai banyak hal.

Sang Tuan Putri mengacungkan satu jarinya, "Sudah cukup, Kak Haruna!" titahnya. "Aku sudah berapa kali mengatakan pada Kakak, panggil aku Yuuka!"

Haruna menghela napas, lalu menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah muridnya. "Tidak bisa begitu. Anda adalah orang nomor satu di negeri ini, aku yang hanya seorang guru tidak mungkin memanggil Anda hanya dengan nama."

Putri Yuuka mengerucutkan bibir, "Aku bukan orang nomor satu! Yang nomor satu itu ayahku!" merengut kesal sembari membaringkan dirinya dengan nyaman.

Untuk sejenak, kedua pasangan guru-murid itu terdiam.

Putri Yuuka membiarkan rambut kecokelatannya diterpa angin sore. Baginya, ini lebih baik daripada harus mendengarkan ceramah Haruna yang tak putus-putus tentang kewajibannya mewarisi tahta, dan setelah itu harus pula mendengarkan nasihat kelewat panjang dari ayahnya.

Haruna hanya duduk dan diam saja. Ia tidak ingin mengusik ketenangan tuan putrinya.

"Aku benci harus mewarisi tahta!" bisik Yuuka ketika menatapi langit. Pandangannya lurus ke atas, dan sama sekali tidak memandangi Haruna, menandakan bahwa dia tidak mempermasalahkan jika tutor pribadinya itu mau menanggapi perkataannya atau tidak.

Pandangan sang tutor beralih kepada muridnya. Dia mungkin memang hanya seorang guru, tidak mengetahui apa-apa mengenai perasaan tanggung jawab yang begitu besar kepada gadis muda berusia tujuh belas tahun.

Tapi, ia mengerti, bahwa Yuuka, mati-matian melakukan yang terbaik. Di matanya, di mata ayahnya, dan di mata kakaknya yang kini entah berada di mana.

Dan juga, di mata ibunya. Yang kini pasti melihatnya dari atas sana.

Seumur hidup, tuan putri yang pemarah tapi sebenarnya baik hati ini selalu merasa kesepian. Dalam keluarga kerajaan, ia hanya sendirian menyebabkan dirinya lah yang ditugaskan mewarisi tahta. Kakak laki-lakinya entah pergi ke mana. Padahal seharusnya dia yang mewarisi tahta, bukan Yuuka.

Ah, Yuuka baru ingat.

Dirinya bahkan hanya satu kali bertemu dengan kakaknya. Selama tujuh belas tahun hidupnya. Itu juga, waktu umurnya sekitar empat tahunan. Mana mungkin ingat secara detail wajah kakaknya.

Jauh di dalam hatinya, Yuuka sangat merindukan wajah itu. Wajah yang untuk pertama dan –semoga tidak- terakhir kalinya tersenyum lembut di hadapannya. Memberikan kasih sayang khas seorang kakak pada adiknya, dirinya, seorang. Tidak siapa pun.

Tangan besar yang lembut itu. Senyum di wajah itu. Mata hitam kelam yang teduh itu. Ia merindukan semuanya.

'Kakak…'

"Yang Mulia!"

Di saat Yuuka memikirkan segala yang ia bisa ingat mengenai kakaknya, seorang dayang istana menghampirinya dengan tergesa. Penasaran, Yuuka dan Haruna segera menoleh, "Ada apa?" tanyanya sembari berdiri. Kedua tangannya mengibaskan gaun birunya dari debu dan pasir yang menempel.

Dayang tersebut tampak terengah-engah. Haruna membantunya untuk duduk di rerumputan dan mengelus punggungnya. "A… ada laporan. Yang Mulia Shuuya, sudah ditemukan…"

Hah?

"Y-yang benar? K-kau tidak bercanda, kan?" teriak Yuuka tidak percaya. Oh, Tuhan. Tiga belas tahun sudah kakaknya itu pergi dari istana, hingga dikerahkan pasukan khusus untuk mencarinya ke seluruh negeri, inikah hasil dari pencarian itu? Yuuka serasa ingin melompat kegirangan sekarang juga!

Akhirnya! Setelah sekian lama!

Sebentar lagi ia akan bertemu dengan kakaknya!

"Tidak, Yang Mulia. Sekarang kakak Anda berada di Distrik 0, tim pencari menemukan orang yang begitu serupa dengannya. Hanya saja…"

Ia memotong kalimatnya, takut. Ia takut berita yang akan disampaikannya itu membuat tuan putrinya ini marah.

"Katakan saja," paksa Yuuka lembut. Ia tidak ingin bertele-tele. Ia hanya ingin menemui kakaknya, itu saja.

Dayang itu menghela napas, ia tak berani melawan tuan putrinya, yang sudah menggebu-gebu dengan semangat seperti itu. "Kakak Anda sepertinya tidak ingin kembali ke istana. Ia kini tinggal bersama seseorang di Distrik 0," lanjutnya takut-takut.

Deg.

Baik Haruna, maupun Yuuka, keduanya sama-sama tercengang. Apa gerangan yang terjadi di sana, sehingga putra sulung keluarga kerajaan itu tidak mau kembali ke istana? Lagi pula…

Siapa seseorang yang disebut oleh dayang tadi?

Tidak mungkin Shuuya sudah menikah, bukan?

"Kalau begitu, mungkinkah seseorang itu adalah kakakku? Apakah ia bersama Yang Mulia Shuuya?" kali ini, ganti Haruna yang bertanya. Yuuka sama sekali tak ingin melanjutkan pembicaraan ini, lantaran, mendengar kakaknya tidak ingin kembali ke istana saja sudah membuatnya terlalu syok.

Sang dayang menggeleng. "Kurasa bukan, orang itu bukan Panglima Yuuto. Tim pencari tak bisa menemukannya di mana pun," katanya berat. Namun hanya itulah laporan yang ia terima dari tim pencari.

Haruna mendesah kecewa. Tidak hanya Yuuka, ia pun merindukan kakak laki-lakinya. Empat tahun yang lalu, kakaknya itulah yang memimpin tim pencari untuk menyelidiki keberadaan Shuuya, dan dikabarkan, kakaknya itu turut menghilang.

Padahal, kakak laki-laki Haruna itu baru dilantik menjadi panglima selama dua tahun. Dan hingga kini, belum diketahui keberadaannya?

Kidou Haruna benar-benar kecewa.

Sang tutor melirik tuan putrinya, yang kini tidak bersuara lagi sejak diberi tahu bahwa kakaknya tidak ingin kembali ke istana lagi.

Haruna merasa, dirinya lebih beruntung.

Tuan putrinya itu hanya pernah melihat kakaknya satu kali, saat ia masih sangat kecil. Sedangkan dirinya, hingga empat tahun yang lalu, terus bersama kakaknya.

Kadang kala, Haruna agak kesal pada Shuuya. Ia terlihat seperti tak menyayangi Yuuka sama sekali. Sudah ibunya meninggal dunia ketika melahirkannya, ditambah ayahnya yang keras dan kaku tak pernah memanjakannya, mana lagi, Shuuya sang kakak menghilang entah ke mana.

Padahal seharusnya, Shuuya lah yang memberikan Yuuka kehangatan keluarga. Bukannya menghilang seperti pengecut begitu.

Putri Yuuka memang kehilangan kasih sayang.

Haruna bertekad, untuk membahagiakan Yuuka, menjadikan dirinya sebagai ibu kedua bagi tuan putrinya. Menjaganya dengan tangannya sendiri, sebagai tutor pribadi, teman, sahabat, dan pengganti sosok kakak di mata sang tuan putri.

Yuuka berdiri, kedua tangannya mengepal erat, mata onyx-nya sembab hampir meneteskan air mata. "Sepertinya…"

Haruna hanya sanggup memperhatikan. Tanpa memotong atau menyela Yuuka untuk melanjutkan kata-katanya.

"Aku harus membujuk kakakku untuk pulang. Dengan tanganku sendiri."


.

.

.


Kazemaru memandangi tubuh yang terbaring itu lekat-lekat. Matanya memicing tatkala Gouenji dengan tenangnya menyuntikkan sesuatu di tangan sang tubuh.

"Apa yang kau berikan?" tanya si anak militer. Ia menunggu, tapi Gouenji sama sekali tidak menjawab. Seakan dia tidak menyadari adanya sosok seorang pemuda bernama Kazemaru di ruangan itu.

Hening.

Akhirnya, karena bosan, Kazemaru menarik kursi yang tergeletak begitu saja di sekat sebuah lemari kecil, dan duduk di atasnya. Ia menunggu dengan sabar sampai Gouenji selesai merawat sosok yang terpejam di hadapannya.

Sepertinya, Kazemaru sudah mengerti apa arti dari kata sabar. Sebab dulu, ketika ia masih di akademi militer, ia adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang tidak pernah bisa sabar. Mungkin salah satu faktornya adalah karena dia tak punya hati.

Hmm… tapi apakah itu berarti, kini ia sudah punya hati?

Entahlah, dirinya sendiri pun juga tidak mengerti. Yang jelas, dia bisa menunggu tanpa menghentakkan kaki di depan seorang dokter yang sedang menangani pasiennya.

Kali ini, Gouenji yang memandangi tubuh itu. Ia menatapnya dengan pandangan yang aneh. "Kau kenal orang ini?"

Mendengus, Kazemaru menertawakan Gouenji sedikit. "Kau bercanda? Aku orang militer, tentu saja aku kenal orang ini. Aneh, kau," komentarnya sarkatis.

Gouenji balas mendengus. Hell, tidak bisakah bocah militer ini tidak bicara ketus satu hari saja. Ia kan bertanya baik-baik, masa' jawabannya begitu.

"Yah, Gouenji, aku kira kau ingin membawaku kepada Endou," komentar Kazemaru sembari mengangkat bahunya. Pada awalnya, ia memang berharap dipertemukan dengan Endou. Sangat berharap. Oh, sungguh, ia sangat merindukan sahabatnya itu sampai tidak tertahankan lagi.

Gouenji diam saja, sebenarnya ia tidak mau memberi tahu Kazemaru soal Endou. Ia sangat tahu Endou itu siapa. Hanya saja, bukan siapa Endou, melainkan apa Endou itu sebenarnya. "Tapi, kau malah membawaku kepada orang ini," lanjut Kazemaru berlagak kalem.

Sang pemuda militer tersenyum mengejek. Mau tak mau, Gouenji ikut tersenyum juga melihatnya. Ia tahu pemuda itu akan semakin mengejeknya lagi kalau ia menunjukkan muka bete. Orang-orang militer semuanya memang sepert itu.

Yah, seperti orang yang terbaring di hadapan dirinya dan Kazemaru ini. Yang sedang terbaring melewati masa kritisnya ini.

"Panglima Militer Tertinggi Negara, Kidou Yuuto."

Mereka berucap, bersamaan. Sembari melayangkan pandangan kepada yang terpanggil.

"Ngh…"

Terdengar suara lenguhan dari sosok yang berada di tempat tidur, sang panglima. Dengan sigap Gouenji segera menghampiri sosok tersebut. "Kau sudah baikan?" tanyanya, entah kenapa tatapan matanya langsung terlihat melembut saat berhadapan dengan orang itu.

Kazemaru mendecih tak suka.

Ah.

'Aku ini kenapa, sih?' sungutnya sendirian.

"Tidak apa. Terima kasih, Shuuya," ucap orang yang berada di hadapan Gouenji, sesaat setelah dokter itu memberikannya segelas air. Dan seketika langsung tandas di kerongkongannya.

Wow, padahal baru bangun dari tidur entah berapa lama. Kelihatannya sangat haus sekali.

Ha, dan siapa itu Shuuya? Apakah itu nama kecilnya Gouenji?

'Memangnya apa peduliku,' kata Kazemaru dalam hati. Padahal, jauh di dalam hatinya –kalau dia memang punya hati- dia sedikit curiga akan kedekatan Gouenji dengan orang tersebut. Mungkinkah mereka berteman dekat?

Sang panglima menyender kembali ke kasurnya, hendak melihat seseorang di belakang Gouenji. "Itu siapa, Shuuya?" kernyitnya.

Kazemaru tersentak. "Eh? Namaku Kazemaru," jawabnya. Agak linglung karena tadi dia habis bengong.

Untuk sejenak, orang itu memperhatikan Kazemaru. Pemuda militer itu baru menyadari kalau orang tersebut memiliki mata semerah darah yang terkesan amat dingin. Tapi raut wajahnya terlihat ramah.

Kazemaru tidak tahu apa yang harus ia lakukan, selain diam dan membiarkan orang ini terus mengeliminasi wajahnya.

"Ichi?"


TBC.


A/N:

Oke, chap ini pendek sangat. Tapi sudahkah kawan-kawan semua mengetahui siapa Gouenji sebenarnya? Ada apakah hubungan antara dirinya, Endou, dan juga Kidou? Lalu, apa maksud dari nama Ishido Shuuji yang 'menyangkut' di nama Gouenji?

Kemudian, satu pertanyaan lagi…

Siapakah Kazemaru sebenarnya? Kenapa dia disebut "Ichi"?

Hayo, silakan ditebak~ kesemuanya berhubungan erat, lho… Baik Endou, Kazemaru, Kidou-Haruna, Gouenji-Yuuka, dan Fubuki. Walaupun ia hanya ada dalam flashback, ia akan mempengaruhi salah satu chara sehingga mereka bisa bertemu dengan Kazemaru sekarang atau nanti.

Bingung? Ikuti saja chap selanjutnya~


Trailer chap 6


"Apa yang terjadi di Distrik 1?"

"Tidakkah kau ingat? Anak ini adalah bayi yang dibawa Guru!"

"Kau pasti mengenal orang bernama Endou, bukan?"

"Putri Yuuka, Anda tak boleh meninggalkan istana!"

"Apa yang perlu saya bantu untuk Anda, Lady Natsumi?"


Review, please…