"Wah, lihat, dia sudah bangun!"
"Rambutnya mirip sekali dengan ayahnya!"
"Eh? Matanya bagaimana? Apa campuran ayah dan ibunya?"
"Lucu sekali~!"
"Ibu, sudah melahirkan, ya? Boleh kulihat?"
"Tentu saja, ayo kemari. Dia imut, kan?"
"Waaahh~."
"Yang Mulia, ada apa? Ayo ke sini, lihat, kita punya anggota baru."
"A-aku takut mengotori tubuhnya dengan tanganku."
"Ayolah, dia lucu sekali~!"
"Bibi, kau sudah memberinya nama?"
"Nama, ya?"
Hening.
"Hmm..."
"Ah, karena dia lahir di musim panas, kita namakan Natsu saja."
"Sederhana sekali. Bagaimana kalau ditambahkan 'Mi'? Biar lebih manis?"
"Jadi Natsumi, dong?"
"Boleh juga. Sekarang namamu adalah Natsumi. Selamat datang, Natsumi."
'Natsumi...'
"Kau harus jadi kuat seperti kakakmu, ya."
'Aku masih punya Natsumi...'
"Salam kenal, Natsumi, aku kakakmu."
'Tapi...'
"Baik-baik dengan Kakak, ya."
'Apakah Natsumi masih mengingatku?'
.
.
Kokoro?
An Inazuma Eleven Fanfic
Chapter 6
*Remember?*
Disclaimer:
Kalo saya yg punya Inazuma Eleven, saya akan munculin semua chara season 1 dan 2 di InaGO Galaxy!
Tapi sayangnya, IE bukan punya saya
Inazuma Eleven © Level-5
Warning:
Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, ga waras, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya
Saya dah bilang ini fic ooc kan?
Tidak suka jangan baca, oke?
.
.
.
Ichi...
"Namanya Ichi."
Ichi...
Namaku... Ichi?
Kenapa aku tidak mengingatnya?
Ichi.
Nama itu... bagus. 'Satu'.
Ah, aku baru ingat sekarang. Kenapa begitu, ya?
Padahal aku selalu membentak 'satu' kepada para junior. Entah menghitung push-up atau memanggil nomor urut mereka.
Ichi.
Dan aku tak merasakan apa pun.
Ichi...
Apa mungkin-
"Kazemaru!"
-deg.
Kazemaru membuka matanya dengan kaget. Baru disadarinya kalau sekarang ia tidur di sofa. Sebelah tangannya, entah sejak kapan berada di atas keningnya, kepala biru hijau itu menoleh ke samping, di mana seorang pria bermata hitam sedang membawakan sarapan untuknya.
Ah, sarapan?
Dari mana dia tahu kalau sekarang waktunya sarapan?
"Kau mimpi buruk? Keringatmu banyak sekali, padahal Distrik 0 selalu dingin," sang dokter meletakkan piring berisi makanan ke atas meja kecil di hadapan Kazemaru. "Entahlah, sebelum ini aku tak merasa pernah bermimpi."
Gouenji terdiam, mendudukkan dirinya di sofa depan Kazemaru, tangannya tergerak untuk menopang dagu. "Apa yang kau lihat dalam tidurmu, Kazemaru?"
Pemuda militer itu mengangkat bahu, "Aku juga tidak mengerti," ia menyahut singkat. Gouenji mengangkat satu alisnya.
"Aku seperti melihat beberapa orang."
Gouenji tetap diam, mendengarkan dengan baik.
"Satunya seorang wanita, sepertinya dia adalah ibuku. Lalu, ada beberapa orang lagi, dan di antara mereka aku melihatmu."
Dokter itu menatapnya datar.
"Tapi, tidak dalam sosok dewasa. Aku melihatmu dalam sosok anak kecil. Lalu-"
"Aku yakin itu pasti Shuuya, yang datang berkunjung saat kau lahir."
-Kazemaru menoleh.
"Apa maksudmu, Yuu? Aku tidak mengenal anak ini, untuk apa aku mengunjungi dia di hari kelahirannya?" sungut Gouenji sedikit kesal. Hell, dia tak merasa pernah melihat anak ini sebelumnya, apalagi berkunjung di hari kelahirannya. Tidak pernah, sama sekali.
Ha? Yuu?
'Apa itu panggilan sayangnya Gouenji pada Panglima Kidou? Haha, tidak kreatif,' kata Kazemaru dalam hati sembari memandangi langit-langit ruangan. Tidak disangka juga, seorang petinggi negara seperti Gouenji mau menyembunyikan orang lain di dalam rumahnya. Tambah lagi, mau hidup susah-susah di sebuah distrik tersembunyi daripada hidup enak di dalam istana.
'Pangeran yang aneh,' Kazemaru mencibir. Kalau dia yang ada di posisi Gouenji, sih, mungkin akan memilih opsi terakhir. Ngapain mengikuti ajaran militer yang kaku kalau di depan mata ada kehidupan yang enak?
Karena tak ada lagi hal yang harus dilakukan –dan, ia tidak mau terlibat dalam perang kata antara seorang dokter dan seorang jenderal, meskipun itu mengenai dirinya-, Kazemaru keluar dari ruangan. Berbincang dengan ikan-ikan koi di kolam belakang mungkin ide yang bagus.
Rumah Gouenji tidak terlalu besar, namun tidak juga terlalu kecil. Cukuplah untuk menampung tiga orang. Dan halaman belakangnya cocok sekali untuk menenangkan diri saat lelah. Entah itu memberi makan ikan atau sekedar memandangi suasana sembari merasakan angin semilir yang selalu berembus di sana.
Samar-samar, Kazemaru dapat mendengar perdebatan antara Gouenji dan Panglima Kidou. Masih membicarakan dirinya. Hah, entah apa yang terjadi antara mereka, yang pasti, Kazemaru cukup bersyukur juga. Setidaknya dia sedikit populer sekarang.
Hei, apa dirinya sudah menjadi agak narsis?
Gara-gara siapa, ya?
"Tidakkah kau ingat? Dia itu bayi yang dibawa Guru!"
Ha? Bayi?
"Guru memang pernah membawa anaknya dulu, tapi aku yakin bayi itu bukan Kazemaru!"
Hmm, salahkan indera pendengarannya yang jauh di atas ambang normal. Membuatnya bisa mendengar perdebatan mereka yang sedang berada di ruang tamu, sedangkan dirinya duduk santai di halam belakang memandangi ikan-ikan.
Luar biasa?
Semua anggota militer memang seperti itu, kok.
Ngomong-ngomong, sudah berapa minggu ia tinggal di rumah Gouenji, ya?
Tiga? Empat? Satu bulan kah?
Entahlah, rasanya sudah seperti puluhan tahun ia berada di sini.
Tangan Kazemaru tergerak untuk melempar potongan keci roti yang sebelumnya ia bawa untuk ikan-ikan, ke dalam kolam. Hampa sekali rasanya tanpa ada Endou.
Endou yang berisik. Endou yang perhatian. Endou yang peduli. Endou yang ceroboh. Endou yang-
-menyukainya.
Kazemaru merengut. Tidak, dia tidak kesal pada Endou. Ia hanya-
-mungkin, kesal pada dirinya sendiri.
Mengapa ia tak bisa membalas semua jasa Endou terhadapnya. Mengapa ia ta tak pernah bisa memberikan –paling tidak- sebuah senyuman kecil untuknya. Mengapa ia tak pernah mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia senang di kala Endou berada di sisinya. Mengapa ia-
-tak bisa menyelamatkan Endou. Hingga sahabatnya itu harus –menurut Gouenji- mati di hadapannya. Hingga partner-nya itu tak bisa lagi mencolek dagunya seperti dulu. Hingga teman terbaiknya itu tak akan pernah bisa lagi melihat dirinya.
Untuk pertama kalinya, Kazemaru mengakui.
Ia memang senang jika Endou bersamanya. Tanpa dia Kazemaru bukanlah apa-apa.
"Ichi! Lihat matamu!" seru Panglima Kidou, tahu-tahu sudah berada di samping Kazemaru tanpa disadarinya. Sebelah tangannya memegangi dagu Kazemaru dan membawanya ke hadapan wajahnya, agar ia bisa melihat mata cokelat madu Kazemaru yang hanya tinggal sebelah kanan.
"Ah, poninya mengganggu, kusingkirkan, ya-"
-plak.
Kazemaru menepis cepat tangan sang jenderal ketika akan membuka poninya. Matanya menatap tajam Panglima Kidou, sementara sang pemilik tangan yang ditepis hanya memandangi Kazemaru dengan raut wajah kaget.
Ia hanya tidak menyangka, tangannya akan ditepis sedemikian kasar, oleh seorang anak kecil, yang sepertinya sepuluh tahun lebih muda darinya.
Gouenji datang dengan sedikit tertawa, sebenarnya ia sudah melarang Kidou untuk menemui Kazemaru, apalagi memegang wajahnya. Tapi panglima itu tetap saja tidak mau menurut. Pada akhirnya ia biarkan saja.
Awalnya Kidou hanya ingin melihat mata Kazemaru, untuk memastikan bahwa ia benar-benar Ichi. "Wah, maaf, ya, Yuu. Kau tahu, kan, Kazemaru itu berasal dari militer, jadi tidak punya sopan santun," katanya, meminta maaf kepada Kidou sekaligus menyindir Kazemaru.
Sepertinya dia kesal. Masa' sahabat baiknya diperlakukan seperti itu. Tentu saja dia tidak terima.
Yah, layaknya Kazemaru juga yang tidak terima waktu Gouenji mengatakan bahwa Endou sudah mati.
"Tidak apa, toh aku juga berasal dari militer. Aku sudah tidak sopan menyentuh wajah cantiknya," ucap Kidou disertai senyum, tanpa menyadari tatapan Kazemaru yang lebih tajam dari sebelumnya. Tidak terima dibilang cantik oleh orang selain Endou.
Ya, hanya Endou yang boleh mengatakan bahwa ia cantik.
"Lalu, mau apa seorang panglima menyentuh wajah siswa akademi militer, lalu menanyakan perihal matanya, ditambah mengatakan bahwa siswa tersebut cantik padahal si panglima tahu bahwa ia laki-laki?" tanya Kazemaru sarkatis. Hell, hanya Endou yang boleh menyentuhnya, hanya Endou yang boleh mengatakan ia cantik, dan hanya Endou yang boleh penasaran tentangnya.
Hanya. Endou.
Titik.
Tidak ada koma, tidak ada tanda seru, apalagi tanda tanya.
Kidou meraba dagunya menggunakan satu jari, terkejut akan 'kekurangajaran' siswa militer satu ini. Hei, pemuda yang mengaku bernama Kazemaru hanya seorang –mungkin mantan- siswa akademi militer, sedangkan Kidou adalah panglima. Terlalu sangat tidak sopan bertindak sarkatis pada petinggi negara.
Tapi, namanya saja Kazemaru. Memangnya dia akan peduli dengan status?
Justru, menurutnya Kidou lah yang bertindak tidak sopan. Menyentuh wajah orang sembarangan, seenaknya saja.
"Aku hanya ingin memastikan, kau ini Ichi atau bukan?"
Hah, klise.
Kazemaru sudah menduga kalau ia iakan ditanyai seperti itu.
"Siapa itu Ichi? Namaku Kazemaru, bukan Ichi, atau siapa pun!" rengut Kazemaru tidak terima. Walau ia sendiri tadi melihat mimpi yang berhubungan dengan nama Ichi, tapi sekarang dirinya bukan Ichi. Namanya adalah Kazemaru.
Kazemaru membuka poni rambut yang menutupi mata kirinya. "Bekas luka ini tidak mungkin ada pada Ichi, aku sudah memiliki ini sejak lahir! Aku bukan Ichi!"
Gouenji tercengang.
Kidou menatapnya datar.
Kazemaru masih menyimpan rasa kesal luar biasa.
Yeah, dan Kazemaru telah berbohong pada mereka berdua akan satu hal.
Bekas luka itu, tidak didapatnya sejak lahir.
Kidou sepertinya mencium hal tersebut.
'Orang ini esper, ya?' batin Kazemaru kesal, tapi ia masih tetap menunjukkan wajah datar. Heh, tapi sepertinya Kazemaru juga esper, kok. Lihat saja, padahal Kidou belum bilang apa-apa, tapi ia sudah tahu kalau Kidou dapat menangkap kebohongannya.
"Jangan bohong, aku tahu bekas luka itu tidak kau dapat ketika lahir. Iya, kan?" tanyanya, sembari menopang dagu. Menatap Kazemaru intens tanpa mempedulikan Gouenji yang sama sekali tidak mengerti dengan yang terjadi.
Yah, ia tidak mengerti bagaimana caranya Kidou, sahabatnya itu, tahu kalau bekas luka di mata Kazemaru tidak didapatnya sejak lahir.
Selain itu, ia sungguh berharap Ichi bukanlah Kazemaru. Sangat-sangat berharap.
Bayi lucu sekaligus cantik macam Ichi yang dibawa gurunya tujuh belas tahun lalu tidak mungkin menjadi anak tidak sopan nan kurang ajar macam Kazemaru, kan?
Oh, dokter muda nan ganteng itu benar-benar berharap banyak. Perlukah ia memohon pada bintang jatuh agar harapannya terkabul?
"Kau pasti Ichi, Kazemaru. Dan aku ingin kau menjawab secara jujur satu pertanyaanku."
Kazemaru mengedikkan bahu, menantang.
Kidou menoleh ke arah Gouenji sebentar, dokter itu menengadahkan sebelah tangannya, mempersilakan Kidou untuk bicara.
'Hah, untuk apa pakai persetujuan tuan rumah segala kalau hanya mau bertanya?' Kazemaru menggerutu sembari memutar mata cokelat madunya. Mata yang kosong dan tanpa cahaya. Mata yang sebenarnya indah untuk dilihat kalau saja tatapannya tidak sesinis itu.
Sebenarnya, apa yang ingin ditanyakan Kidou berhubungan dengan masa lalu dan pribadi Kazemaru. Entah kenapa Kidou sangat yakin akan hal itu. Makanya, daripada nanti Kazemaru mengamuk dan menghancurkan rumah karena ditanya hal pribadi, Kidou tanya dulu kepada tuan rumah, agar tidak menyesal telah menyuruhnya bertanya.
Yah, buat jaga-jaga saja.
Kidou mengangguk singkat, bersiap untuk menanyakan. Kazemaru menatapnya penuh keangkuhan.
"Kau mengenal seseorang bernama Endou, bukan?"
Kazemaru tak bisa berbohong lagi sekarang.
.
.
.
Endou melangkahkan kakinya ke arah kamar asramanya. Ia sangat lelah, dan ingin tidur detik ini juga. Namun matanya melihat sesuatu yang menarik di luar jendela.
Kazemaru, sedang mengomando para juniornya. Dilihat dari atas sana, sepertinya ia sedang membimbing junior tingkat delapan itu dalam kegiatan push-up.
Beberapa di antara mereka –para junior itu- tidak memakai atasan. Bawahannya saja hanya celana pendek. Tapi itu hanya beberapa, mungkin mereka orang yang sering berkeringat lebih, jadi bajunya harus dibuka kalau tidak mau terlalu basah.
Endou sering tertawa sendiri melihat Kazemaru yang berwajah cantik itu sedang galak-galaknya di depan junior. Menurutnya, tidak cocok saja. Habis, cantik-cantik galak, nanti para seme kabur lagi.
Endou terkikik.
Padahal, jam segini biasanya dia –Kazemaru itu- sudah lelap sekali, dan Endou dengan iseng akan memainkan rambutnya, atau mencoret-coret wajahnya memakai spidol yang ia ambil dari kelas. Mengingat hari sudah malam.
Tapi, ini sudah jam sepuluh. Seharusnya, ya, seharusnya, dua jam yang lalu latihan apa pun sudah berakhir dan mereka sudah mandi bersama di pemandian khusus pria akademi. Kemudian makan bersama ribuan siswa baik seangkatan, junior, maupun senior, lalu tidur bersama teman sekamar.
Kazemaru nampaknya termasuk tipikal orang yang terlalu rajin.
"Dua ratus empat puluh sembilan! Dua ratus lima puluh! Cukup!"
Untung saja Kazemaru sudah meminta izin memakai lapangan malam hari, supaya bisa melatih para juniornya. Senior yang penuh perhitungan, ya.
Yah, dan dia, jujur saja. Kalau bersikap galak begitu, jadi terlihat menakutkan.
Lalu, yang Endou lihat, Kazemaru sepertinya sudah selesai melatih. Dia menyuruh para junior beristirahat, mandi, dan langsung tidur di kamar masing-masing. Sedangkan dirinya sendiri hanya berbaring di tengah lapangan.
Mata cokelat kehitaman Endou mengikuti gerakan Kazemaru. Ia tidak mengerti, kenapa Kazemaru hanya berbaring dan memandangi langit?
Jangan-jangan, dia tertidur di lapangan?
Dengan cepat Endou melompat dari tempat tidur, dan langsung keluar. Ia tidak mempedulikan kamera pengintai di setiap sudut lorong asrama, atau kepala asrama yang berkeliling memastikan semua penghuni kamar ada dalam ruangan masing-masing.
Yang penting, Kazemaru tidak boleh tidur di lapangan.
Nanti dia bisa sakit karena kedinginan.
Yah, walaupun Kazemaru sakit itu kejadian yang sangat langka.
"Kazemaru!"
Yang dipanggil menolehkan kepalanya. "Kenapa, Endou? Aku sedang istirahat, di sini nyaman sekali," ucapnya menerawang. Endou terkesiap sedikit.
Hei, itu...
Dia tidak bermimpi, kan?
Kazemaru... yang kaku dan galak itu...
Tersenyum?
Yang bersangkutan tampaknya tidak peduli dengan senyuman yang tergambar di wajahnya. Mungkin baginya, yang penting ia bisa menikmati angin semilir musim panas Distrik 3 yang menenangkan malam ini.
Mata cokelat itu mengerjap dua kali, menunjukkan ketidak percayaan.
Ini adalah kedua kalinya ia melihat Kazemaru tersenyum seperti itu.
Mau tak mau, Endou ikut tersenyum, kemudian turut membaringkan dirinya di samping Kazemaru.
Ia juga ingin merasakan, angin apa gerangan yang membuat wajah Kazemaru jadi setenang ini.
Dan ia berterima kasih pada angin tersebut.
.
.
.
"Anda mau ke mana, Putri?" tanya Haruna keheranan, melihat tuan putrinya sudah berpakaian ala pemburu lengkap dengan sebuah senapan. "Menjemput kakakku," sahut Yuuka tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun kepada tutornya.
Haruna tambah heran. Hei, menjemput orang tidak perlu pakai senapan, bukan?
"Sa-saya rasa Anda salah perlengkapan, Tuan Putri. Kalau hanya menjemput, pakai gaun biasa saja juga sudah cukup, kan?" tegurnya, sedikit sweatdrop juga mengingat tuan putrinya ini tidak pandai sama sekali dalam hal menembak.
"Lagi pula, Putri Yuuka... Anda tak boleh meninggalkan istana!"
Yuuka menatap tutornya datar, ia sebenarnya bukan hanya ingin mencari dan membujuk kakaknya pulang. Ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
Seseorang yang bersama Shuuya itu. Siapa dia?
Jika bukan Panglima Kidou, kakak tutornya, jadi siapa?
Dia sangat yakin Shuuya belum menikah. Bila hal itu terjadi, kakaknya itu pasti kembali ke istana.
Yeah, Yuuka hanya berpikir seperti itu. Entah kenapa ia bisa tahu, jangan tanya dia.
Mungkin, ikatan batin sebagai saudara membuatnya mudah menduga apa yang terjadi dengan kakaknya.
Haruna berdiri, menatap tuan putrinya dengan pandangan khawatir. Ia layaknya seorang ibu yang akan melepas kepergian putrinya. "Kalau begitu, saya akan menemani Tuan Putri. Saya akan menjaga Tuan Putri dalam perjalanan," ujarnya dengan pandangan meyakinkan.
Tapi, tanpa diduganya, tuan putrinya itu menggeleng kuat. "Tidak usah, Kak Haruna. Aku mau mencari Kakak sendiri, Kak Haruna tidak usah ikut," ia berucap. Mata onyx hitam itu memandangi Haruna seakan mengatakan secara tersirat bahwa ia akan baik-baik saja.
Tutor cantik itu memutar otak, ingin memberikan alasan logis agar tuan putrinya ini mau mengajaknya. "Bukan hanya itu, Putri Yuuka. Saya juga ingin mencari keberadaan kakak saya, jadi izinkan saya ikut bersama Anda," ungkapnya.
Yuuka mengernyit, ia tahu itu hanya akal-akalan tutornya saja agar diizinkan pergi bersamanya. Tapi, ia juga tak bisa memungkiri, bahwa tutornya ini juga merindukan kakaknya.
Pada akhirnya, Yuuka menghela napas setuju. Toh, ayahnya juga pasti akan memerintahkan Haruna untuk ikut bersamanya.
.
.
.
Seorang pemuda terlihat tak sadarkan diri. Ia terkurung dalam sebuah tabung berisi air. Tidak berbalut apa pun. Polos seperti bayi yang baru dilahirkan. Ia sepertinya masih hidup berkat bantuan selang oksigen yang menyambung di rongga hidung dan mulutnya.
'Natsumi...'
Pemuda itu lantas menggumamkan nama dirinya dalam alam bawah sadarnya. Dirinya yang telah ia lupakan, namun sekarang ia ingat kembali. Nama itu...
Natsumi.
Entah apa yang terjadi antara dirinya dan Natsumi, yang jelas, kini, setelah belasan tahun ia melupakan nama itu, ia ingin memunculkan kembali kenangan ketika Natsumi masih bersamanya. Ketika Natsumi masih berada di sisinya.
'Apa yang telah terjadi di Distrik 1? Bagaimana keadaan Natsumi?'
Ia sungguh berharap, segala kejadian yang membuatnya harus berada di sini hanyalah mimpi. Bunga tidurnya.
Dan ia benar-benar berharap, berada di tabung kaca berisi air, tanpa berbalut sehelai kain pun, juga merupakan sebuah mimpi.
Ia hanya ingat kejadian yang menyebabkannya berada di sini, selebihnya, ia hanya mengingat tentang Natsumi.
Natsumi, dan...
Ah, siapa itu?
Pemuda itu mengingat wajahnya, tapi ia lupa namanya. Sama sekali tidak ingat.
Ia hanya mengingat wajahnya saja.
Tapi, wajah itu, rambut, dan matanya mengingatkannya akan sesuatu...
'Wajah itu, Ichi kah?'
Mungkin, mungkin saja. Namun ia sama sekali lupa, karena ia bertemu Ichi saat mereka sama-sama masih bayi. Bedanya hanya beberapa bulan.
Hanya seorang pemuda berwajah sama dengan Ichi, Natsumi, dan Ichi itu sendiri, yang bisa diingatnya.
Bahkan ia tidak mengingat namanya sendiri.
Sementara ia mencoba mengingat masa lalu, sebuah monitor di samping tabung kacanya berkedip terang.
"Endou Mamoru, K-18. Sistem pemindaian otak berhasil! 100 % sempurna!"
.
.
.
Distrik 25
Seekor kuda melaju cepat lurus ke depan, membawa seorang gadis cilik bergaun merah muda lembut dengan rambut cokelat yang sengaja digerai supaya lebih mudah dipotong ketika tersangkut di ranting pepohonan. Gadis itu tampak kelelahan, namun ia tak berniat berhenti sebelum menemukan apa yang ia cari.
Ketika sampai di sebuah desa kecil, gadis cilik itu turun dari kudanya. Ia memutuskan untuk menuntun kuda tersebut daripada menungganginya. Itu terlihat lebih baik karena ia sedang mencari seseorang.
"Ah, i-itu Lady Natsumi."
Gadis cilik yang dipanggil dengan sebutan Lady itu, Natsumi, mengedarkan pandangannya. Dalam sekejap orang-orang di desa itu menghentikan pekerjaan mereka, dan membungkuk hormat padanya. Sebelah tangan Natsumi terangkat sebagai isyarat untuk menghentikan sapaan hormat orang-orang desa tersebut.
"Sudah cukup. Aku ingin minta bantuan," pintanya. Orang-orang desa mengangkat tubuh mereka kembali.
Mata kemerahan Natsumi berkeliling, mencari seseorang yang dianggapnya bisa membantu untuk melakukan pencarian. "Kau," tunjuknya pada seorang pemuda berambut merah.
Pemuda itu tersentak sedikit, namun ia segera berlari ke arah Natsumi. "Apa yang perlu saya bantu untuk Anda, Lady Natsumi?" ucapnya laksana pelayan.
Natsumi berbalik, mengobrak-abrik tas yang ia letakkan di pelana kuda. "Aku ingin kau mencari orang ini," perintahnya, menunjukkan sebuah foto, yang segera diambil dengan hormat oleh sang pemuda.
Pemuda berambut merah itu memperhatikan foto tersebut. "Saya pernah bertemu dengan orang ini, Lady," katanya, mengembalikan foto itu kepada Natsumi, yang segera berwajah ceria. "Benarkah? Di mana dia sekarang?" tanyanya antusias.
"Sejauh yang saya tahu, orang ini berada di Akademi Militer Distrik 3," pemuda itu menjawab. Natsumi berpikir sejenak. Kalau tidak salah, beberapa minggu yang lalu...
"Distrik 3 bukankah sedang terlibat perang? Orang ini mungkin saja sudah terbunuh," ia menggumam. Sekitar sebulan yang lalu, ia mendengar rumor bahwa Distrik 3 dan Distrik 5 terlibat perang, dan menurutnya itu wajar saja.
Jelas, negara ini, kan hobi berperang. Satu hari tanpa ada distrik yang berperang di negara ini memang hampa rasanya. Natsumi tertawa dalam hati ketika mendeklarasikan sendiri pernyataan itu. Perang sudah terlalu biasa sampai menjadi hobi.
"Ehm, Lady?" tegur sang pemuda berambut merah, keheranan sendiri dengan sang nona muda yang terkikik seorang diri. Seketika, Natsumi tersadar, dan kembali lagi pada pose seriusnya, demi menjaga wibawa.
Padahal, umurnya baru dua belas tahun, tapi sikapnya sangat tegas dan dewasa.
"Ah, Akademi Militer Distrik 3, ya? Apa kau pernah menjadi murid di sana?" ia bertanya kembali, sedikit kesulitan menatap pemuda itu karena tubuhnya yang tinggi, sedangkan dirinya terlihat kerdil karena masih bocah.
Pemuda itu mengangguk, sebenarnya, ia tak ingin mengingat Akademi Militer Distrik 3 lagi, tapi yang bertanya di hadapannya ini adalah salah satu petinggi kerajaan, ia harus berkata jujur kalau tak mau ditembak mati. "Ya, pernah. Tapi saya berhenti beberapa tahun lalu," ungkapnya sembari mengangkat bahu.
Sang nona muda kembali berpikir. Sebagai salah satu petinggi negara, jelas ia harus memahami seluk beluk wilayah secara keseluruhan. Dan perkataan pemuda tadi membuatnya berpikir, orang yang ia cari besar kemungkinan juga telah berhenti dari militer.
Pasalnya, pemuda berambut merah ini bertubuh bagus dan terlihat kuat. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Dan, dilihat dari foto, orang yang nona ini cari tidak memiliki ciri-ciri tersebut. Alias, ia terlihat lemah.
Tapi, bukan berarti orang bertubuh bagus harus selalu menang, kan? Bisa saja orang yang dicari ini masih berada di militer. Mungkin pemuda merah ini berhenti karena tekanan mental.
'Dipikir terus tidak akan ada gunanya,' ucap Natsumi dalam hati. Ia memasukkan lagi foto yang ada dalam genggamannya ke dalam tas di pelana kuda. Dengan cepat namun hati-hati, kakinya menghentak, menaikkannya ke punggung kuda dengan cantik.
"Aku akan mencari orang ini ke Distrik 3, terima kasih bantuannya, Tuan... emm..." perkataan Natsumi terpotong, menatap canggung ke arah pemuda berambut merah karena ia lupa menanyakan namanya.
"Saya Kira Hiroto, Lady Natsumi. Tetapi, Anda tidak pantas memanggil saya dengan sebutan 'Tuan', saya hanyalah pemuda biasa," pemuda itu menyahut, merendahkan dirinya.
Natsumi menepuk tangannya satu kali, merasa puas. "Ah, iya. Terima kasih, Kira. Aku sangat terbantu," senyumnya tulus. Kaki kanannya kemudian menendang pelan paha kudanya, membawa ia beserta bawaannya masuk ke hutan, menuju Distrik 3.
"Kira, ya?"
Sang nona muda merasa sangat familiar dengan nama itu.
"Hmm... benar juga, ya. Kira itu, kan nama keluarga Guru... Tapi aku tak pernah melihat pemuda tadi bersama Guru sebelumnya..."
Lady itu mendengus kecil. Sebagai seorang gadis cilik, kelihatannya ia cukup tangguh dan pintar.
"Ya, Kira atau siapa pun, aku sekarang sangat terbantu..."
Natsumi menggumam sendiri. Menatap lurus pepohonan ketika ia telah jauh dari desa tersebut.
Lalu, seringai di wajah gadis kecil itu terkembang.
"Sangat terbantu untuk membunuh 'dia'."
TBC.
A/N:
Chap 6 apdet!
Bagaimana? Aneh sekali, bukan? Sudah dapat gambaran di mana Endou? Bagaimana keadaannya? #plak
Baiklah, saya menampilkan Lady Natsumi di sini, namun sayangnya saya tidak menempatkan dia sebagai istri Endou... maafkan saya...
Lalu, tentang orang tua Ichi –mungkin- alias Kazemaru, siapa mereka? Siapa guru Kidou dan Gouenji? Apakah sama dengan gurunya Natsumi?
Kemudian, Hiroto muncul! Ah, Fubuki juga sebentar lagi muncul, kok, tenang saja... keduanya akan dimunculkan lagi dalam waktu dekat...
Siapa yang dicari Natsumi? Siapa yang ingin dibunuhnya?
#pertanyaannya banyak banget, ya? *dlempar tomat
Trailer chap 7
"Fubuki-san, aku meminta bantuanmu."
"Hiroto? Maksudmu, Hiroto yang itu?"
"Saya mohon Tuan Putri, pergi ke Distrik 3 bukan pilihan yang tepat."
"Natsumi juga pergi sendirian ke Distrik 25, kok."
"Akhirnya... kutemukan..."
Mind to...
Review?
