"Ayo, Kak Haruna. Aku tidak mau dilihat orang-orang kalau kita pergi terlalu siang," kata Yuuka ketika ia telah naik di atas punggung kuda. Sementara Haruna sang tutor, hanya memandangi tuan putrinya, murid kesayangannya, dengan mata membulat dan mulut menganga.
Siapa sangka, tuan putri yang sama sekali tidak pandai –harap garis bawahi kata tidak pandai itu- berburu, menembak, memanah, dan hal lain yang membutuhkan keakuratan, bisa membawa-bawa pedang dengan begitu percaya dirinya seperti itu. Wow banget, kan?
Yah, walaupun memang sebenarnya, Yuuka hanya bisa memainkan pedang. Ia mirip Natsumi.
"Tapi, terlalu berbahaya kalau lewat Distrik 3. Saya mohon Tuan Putri, pergi ke Distrik 3 bukan pilihan yang tepat," ucapnya khawatir, teringat akan perkataan tuan putrinya yang menginginkan untuk pergi ke Distrik 0 melewati Distrik 3.
Yuuka memiringkan kepala, terlihat tidak setuju. "Natsumi juga pergi sendirian ke Distrik 25, kok," ia memprotes. Natsumi yang lebih muda lima tahun darinya saja dibolehkan pergi sendiri ke Distrik 25, kenapa dia tidak boleh?
"Selain itu," katanya, ketika Haruna sudah naik di belakangnya. "Aku ingin mencari seseorang di Distrik 3," kemudian kaki kiri Haruna menendang perut kudanya dengan perlahan namun pasti, memerintahkan sang kuda untuk mulai bergerak.
Sesaat, Haruna teringat Natsumi.
Ah, Natsumi, ya?
Gadis kecil itu memang selalu mengingatkan Haruna pada Yuuka. Natsumi yang baru saja menginjak usia dua belas tiga bulan yang lalu. Natsumi yang jago berpedang. Natsumi yang kepintarannya dalam berargumentasi mampu mengalahkan para menteri di kursi rapat. Natsumi yang senantiasa bersikap dewasa walau ia hanyalah seorang gadis kecil.
Haruna bisa dibilang adalah pengasuh dari keduanya –Yuuka dan Natsumi-. Ia bekerja untuk mengasuh Lady Natsumi sejak gadis kecil itu berumur empat tahun, sekalian menjadi tutor pribadi untuk Putri Yuuka, semua itu dilakukannya saat usianya baru lima belas tahun.
Oh, ya, dia masih muda saat itu. Tapi ia jenius, sama seperti kakaknya, Kidou Yuuto, yang sekarang menjabat sebagai panglima militer tertinggi. Mereka berdua sama-sama jenius, hanya saja dalam hal yang berbeda.
Kidou Yuuto, jenius dalam hal strategi. Akurasinya tak pernah meleset. Ia memang sangat diharapkan untuk mengabdi dalam kemiliteran.
Kidou Haruna, jenius dalam hal mengingat. Ia sangat pintar menghadapi anak-anak.
Mereka berdua satu perguruan. Diajari oleh guru yang sama.
Kidou Haruna sebenarnya lahir di lingkungan istana, ia beserta ayah dan ibunya setuju untuk dibawa ke sana karena permintaan guru Yuuto dalam hal militer saat itu, ketika guru tersebut masih menjabat sebagai panglima. Bisa dibilang, Kidou Yuuto menempa ajaran militer sejak usianya dua tahun.
Wajar saja kalau kakaknya itu mumet setengah mati dan ingin memakan apa pun bulat-bulat karena bosan.
Meskipun Natsumi juga sejak umur dua tahun ditempa militer, tapi Natsumi anak perempuan, jadi tidak cepat bosan seperti laki-laki.
Ah, iya, dipikir-pikir, Haruna ingin sekali bertemu dengan Natsumi. Ia merindukan anak asuhnya itu setelah sebulan tidak bertemu.
Wanita cantik itu menoleh ke belakang, tempat tuan putrinya duduk di punggung kuda. Ngomong-ngomong, Yuuka sudah tujuh belas tahun, ya. Tidak menyangka juga, ia yang dulu cengeng itu sudah jadi sebesar ini. Kalau tidak salah, Yuuka dulu sering bertengkar dengan Ichi, putra gurunya, dan akan dilerai oleh kakaknya Natsumi.
Yah, karena mereka bertiga seumuran, jadi kalau ada waktu senggang, ya, rebutan. Entah makanan, senjata milik orang tua Ichi, atau telepon. Tidak tahu mau menelepon siapa, yang penting pakai saja, dasar anak-anak.
Semua itu terjadi sebelum Natsumi lahir.
"Tuan Putri?" panggil sang tutor.
"Ya?" tuan putrinya menyahut singkat.
"Tuan Putri ingat Ichi?" tanyanya, tiba-tiba teringat akan Ichi, putra gurunya. Entah sudah berapa tahun ia tidak bertemu Ichi. Haruna sangat merindukan suaranya yang sok kelaki-lakian –meskipun ia memang laki-laki- padahal suara itu melengking layaknya wanita.
Tapi, di antara semuanya, Haruna lebih merindukan mata Ichi. Mata madu yang lembut itu, seperti amber yang membeku berjuta-juta tahun.
Tanpa menoleh pun, Haruna tahu bahwa tuan putrinya kini sedang mengerutkan kening. "Aku tidak ingat. Tapi rasanya aku memang pernah mendengar nama itu," katanya menyerah.
Entah kenapa, Yuuka merasakan sesuatu yang sangat...
Menyebalkan?
Oh entahlah, tapi terdengar seperti itu begitu ia mendengar nama Ichi.
Ichi...
.
.
Kokoro?
An Inazuma Eleven Fanfic
Chapter 7
*Brother?*
Inazuma Eleven © Level-5
Warning:
Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, ga waras, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya
Saya dah bilang ini fic ooc kan?
Tidak suka jangan baca, oke?
Oh, satu lagi, akan ada salah satu karakter GO di sini
Awas! Ada pemutar balik umur!
.
.
.
"Kaze-"
"Larilah! Tinggalkan aku!" pemuda itu memotong perkataan sahabatnya.
Keduanya sama-sama tertusuk.
Perih.
Mengalihkan perkataan Kazemaru, Endou mengambil pedangnya.
Lalu, yang ada dalam pandangan Kazemaru, hanya gelap yang hitam nan kelam.
Tapi tidak dengan Endou.
"Kaze... maru..." Endou melirihkan namanya, nama Kazemaru, sahabat terbaik dan orang yang ia sukai sejak lama. Sementara yang dipanggil tak bergeming. Matanya tetap tertutup, dengan wajah yang putih pucat, dan punggung yang mengeluarkan banyak sekali darah.
Pemuda berambut cokelat itu menggenggam tangan Kazemaru erat-erat, ia tak ingin melepaskannya. Benar-benar tak ingin. "Ber... tahanlah... Kazemaru... jangan mati..." mengabaikan sakit di sekujur tubuhnya, Endou tetap memegang tangan Kazemaru.
'Kumohon, jangan mati!'
'Kau harus tetap hidup!'
'Kazemaru, kumohon bertahanlah!'
...
...
"Kau masih hidup?"
Pelan, Endou mendongak. Ah, tanpa disadarinya, ia pingsan di hamparan salju, dan setelah terbangun, tahu-tahu perang sudah berakhir. Bau darah menguar, mayat jatuh bergelimpangan, kedua tangan masih saling menggenggam.
Mata cokelat itu hampir menutup. "Kau... siapa?" ia bertanya, kepada seseorang yang berdiri di hadapannya.
Ha, rasanya ia pernah melihat rambut putih tulang dan mata hitam kelam itu.
Tapi entah di mana...
Yang pasti, ia yakin orang ini bisa menyelamatkan Kazemaru.
Mengabaikan pertanyaan Endou, orang tersebut memegangi pergelangan tangan keduanya. "Kalian berdua masih hidup. Tapi yang satu ini sekarat, aku tak yakin bisa menyelamatkan kalian berdua tepat waktu. Bagaimana kalau-"
"Bawalah ia pergi. Selamatkan Kazemaru."
Hitam bertemu cokelat.
"Kubilang..." kata Endou. "Bawa ia pergi... dan selamatkan dia. Sebaiknya cepat, karena... sebentar lagi orang-orang Distrik 3 akan... uhuk... segera datang menyelamatkan kami. Aku titipkan Kazemaru... padamu... Katakan saja padanya kalau... aku sudah mati..."
Berat, Endou melepaskan genggaman tangannya pada Kazemaru. Membiarkan orang berjas putih itu menggendong sahabatnya, untuk menyelamatkan Kazemaru. Matanya hanya mampu menatap orang yang ia sukai dibawa pergi oleh orang tak dikenal.
"Semoga kau tetap hidup, Endou..."
Endou tidak bisa untuk terkejut, terlalu lemah untuk menyadari dan bertanya,
Bagaimana orang itu tahu namanya?
"Komandan Kazemaru!"
Endou memutuskan untuk menulikan pendengarannya, dan membutakan matanya, dengan tidak sadarkan diri karena luka parah di atas salju putih, yang kini telah berubah menjadi merah akibat lautan darah peperangan.
.
.
.
"Ah, kau!"
Kedua penjaga gerbang membelalak kaget tatkala melihat seorang gadis kecil turun dari kudanya, dengan lincah, gadis itu melompat ke hadapan mereka. Ia mendongak sebentar, untuk melihat tulisan raksasa yang terpampang dengan manis di atas gedung terbesar.
AKADEMI MILITER DISTRIK 3
Gadis itu, Natsumi, mengalihkan kepala saat melihat kedua penjaga gerbang akademi sudah berada dalam posisi siap. Siap untuk menembaknya, maksudnya. Bukan siap dalam upacara penghormatan.
"Ini bukan tempat untuk anak-anak. Pulang atau kau akan kami tembak!"
Mereka memperingati sang petinggi negara cilik, bersamaan dengan kokangan senjata di kedua tangan.
Menghela napas, Natsumi mengangkat kedua bahunya, tidak berniat menanggapi. "Hmm... begini, ya, Tuan-tuan yang terhormat," ucapnya tenang, menyindir para pria muda yang menghalangi jalannya tersebut.
"Aku," ia menunjuk dirinya sendiri, "Endou Natsumi, ingin bertemu dengan kakakku, Endou Mamoru. Jadi biarkan aku lewat, jelas? Aku hanya ingin bertemu dengannya."
Kedua penjaga saling pandang. "Tidak bisa, Nona. Yang tidak berkepentingan mendesak tidak boleh masuk, apalagi jika kau ada urusan dengan siswa kami."
Mata merah berotasi di peraduannya, tanda sang pemilik berusaha mengabaikan apa yang disampaikan padanya. "Aku ada urusan mendesak, kalian tahu. Urusan ini tidak akan bisa berjalan tanpa kakakku, aku sangat membutuhkannya. Jadi..."
Tangan mungil menyentuh ujung gagang pedang.
"Bolehkah aku lewat?"
Ckrek.
Namun dijawab dengan ujung laras tepat di hadapannya.
"Baiklah, kalau kalian memaksa..." kata si gadis sembari menghunuskan pedang yang tersemit manis di gaun merah mudanya, mengayunkannya dengan cantik, dan menebas kepala kedua penjaga itu dalam sekali serang.
Lalu, dua kepala menggelinding jatuh, dan sepatu berhak rendah menjadi satu-satunya benda bergerak yang ada di halaman akademi.
Natsumi membersihkan pedangnya dari darah dengan kepitan jemari mungilnya. Ia kemudian menaruhnya kembali di bagian punggung gaunnya. Sepatu cokelat yang ia pakai sedikit berdecit dan meninggalkan kesan kuat terhadap siapa pun yang mendengarnya.
Kesan bahwa ia jauh lebih menakutkan daripada dua buah senapan.
Gadis cilik itu sengaja meletakkan pedang di balik punggung, dengan ditutupi rambut, supaya tidak ada yang bisa melihat kalau ia membawa benda amat tajam itu bersamanya. Ia hanya akan memakai benda itu kalau ada keperluan mendesak, seperti tadi.
Ah, sebenarnya bukan keperluan mendesak, sih. Tapi keperluan mengganggu.
'Aneh sekali, tempat ini seakan menunjukkan bahwa tidak ada orang di sini. Tapi kenapa orang luar tidak boleh masuk?' ia membatin sesaat setelah menyadari bahwa setiap lorong di gedung raksasa akademi itu kosong melompong.
Ya, kosong. Tidak ada apa-apa. Gadis itu sudah mencoba untuk membuka semua pintu yang ia lewati. Hasilnya? Nihil. Bahkan perabotan juga tidak ada. Bahkan alarm peringatan untuk penyusup juga tidak berbunyi. Biasanya gedung-gedung besar mempunyai benda seperti itu, kan?
Hmm, tapi mungkin mereka sedang ada di gedung yang sebelah lagi. Atau gedung-gedung yang lain. Tidak mungkin ada penjagaan kalau sebuah bangunan ternyata tidak berisi apa-apa, kan?
Apalagi, jika bangunan itu adalah Akademi Militer Distrik 3.
Tok.
Tok.
Natsumi melangkahkan kakinya dengan cepat ketika ia mendengar tanda-tanda kehidupan dari arah depan, suara langkah kaki. Oh, syukurlah, masih ada orang. Setidaknya masih ada yang bisa ditanyai. Tapi kalau orang itu belum mengusirnya duluan, sih.
Gadis kecil dengan rambut cokelat itu menunggu, sementara bunyi sepatu semakin mendekatinya. Tak lama, di persimpangan, ia menemukan manusia.
Orang itu –dari pakaiannya, sepertinya seorang peneliti- membungkuk, menyamakan tingginya dengan Natsumi. Ia sebenarnya menyadari akan kehadiran sebilah pedang di punggung sang gadis cilik, terlihat dari gagang biru muda yang tersemit dengan cantik di balik pundaknya, tapi ia membiarkan saja karena tahu gadis ini tidak bermaksud jahat.
Yeah, dia, kan hanya ingin mencari kakaknya. Apa salahnya, sih?
"Gadis kecil, sedang apa di sini? Kau mencari seseorang?" ia bertanya lembut, sembari memegangi kepala Natsumi dengan sayang.
Maunya Natsumi, sih, ia akan memberikan orang ini sebuah deathglare mematikan. Tapi karena ia merasa orang ini hanya berniat untuk bertanya, ia mengurungkan keinginannya. "Ya, aku mencari kakakku," jawabnya, menajamkan pandangan matanya pada si peneliti.
Peneliti berjas putih itu mengangkat tubuhnya kembali, lalu memegang dagu menggunakan satu jari. "Kakak? Siapa namanya? Dia siswa atau guru?" tanyanya kembali.
Natsumi, walaupun hanya seorang gadis kecil, tidak ingin memperlihatkan sisi kekanakannya pada orang ini. Terlihat baik bukan berarti di dalamnya juga baik, kan?
"Dia siswa, namanya Endou Mamoru," hm, tapi bagaimanapun, Natsumi merasa orang ini bisa dipercaya. Lihat saja senyumnya, manis sekali untuk ukuran seorang pria.
Tiba-tiba, peneliti muda itu menggenggam tangan Natsumi. "Ayo ikut aku. Mungkin Endou Mamoru berada di gedung sebelah, di sini sama sekali tidak ada siswa," membuat Natsumi terpaksa mengikuti saja karena, yah, barangkali orang ini benar.
Bersyukurlah pada sistem arsitektur gedung yang saling menyambung satu sama lain, jadi tidak perlu keluar masuk lewat pintu.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun orang yang berlalu lalang. Hanya ada mereka berdua. "Dulu aku juga punya adik perempuan," kata si peneliti, tanpa menatap Natsumi dan terus memperhatikan lorong asrama gedung.
Kalau dengan orang asing, biasanya Natsumi malas sekali mendengarkannya bercerita. Mau cerita apa, kek, itu, kan bukan urusannya. "Tapi, dia sudah meninggal beberapa tahun lalu, kami adalah yatim piatu korban perang Distrik 9. Makanya aku bekerja di Distrik 3 agar bisa memungut anak-anak korban perang yang lain, supaya mereka bisa disekolahkan tanpa memungut biaya."
Tapi, sepertinya, Natsumi sedikit tertarik dengan cerita orang ini. "Kalau adikku masih hidup, mungkin tiga atau empat tahun lebih tua darimu. Oh, iya, siapa namamu?"
"Natsumi. Endou Natsumi," gadis kecil itu menyahut cepat. Peneliti itu menangguk-angguk.
Eh, sepertinya peneliti muda ini tidak mengenalinya. Mengenalinya sebagai petinggi negara maksudnya.
Dalam hening, mereka terdiam. Natsumi sebenarnya tidak mempermasalahkan genggaman tangan peneliti ini yang dari tadi seakan tak mau melepaskannya. Tapi, yah, dia sedikit heran juga, kenapa orang ini mau membantunya?
Apa mungkin karena ia teringat adiknya ketika melihat Natsumi?
Entahlah...
Sampai di gedung yang ketiga, barulah nampak tanda-tanda adanya manusia di sana. Terbukti dari orang-orang berjas putih yang berlalu lalang di sekeliling lorong. Sekilas, Natsumi melihat beberapa dari orang-orang itu membungkuk hormat pada peneliti di sebelahnya ini.
Hmm, sepertinya jabatannya sedikit lebih tinggi.
"Dokter Shuu!"
Sontak yang dipanggil menoleh, Natsumi mangut-mangut. 'Oh, jadi nama orang ini Shuu?' ia membatin, menertawai dirinya sendiri karena gengsi bertanya.
"Berkas yang tadi sudah diletakkan? Terima kasih banyak, oh, siapa gadis kecil di sampingmu ini?" tanya si pendatang baru, mengalihkan pandangannya pada Natsumi.
Shuu tersenyum manis. "Dia Natsumi, kenalanku. Aku ingin mengantarkannya pada kakaknya, kau tahu Endou Mamoru?" yah, setidaknya Shuu tidak berbohong juga dengan mengatakan Natsumi adalah kenalannya. Meskipun baru kenal selama satu jam, sih.
Dari sini, ia dapat kesimpulan.
Tidak ada satu pun orang di Akademi Militer Distrik 3 yang mengenalnya.
"Endou Mamoru?" jengit si orang baru. Shuu mengangguk, Natsumi menatapnya datar.
Mengerling curiga, orang baru berambut cokelat ini berbisik kepada Shuu. Sedikit banyak, orang ini mengingatkan Natsumi pada kakaknya, warna rambut dan mata mereka hampir mirip.
"Begitukah?" gumam Shuu. Si rambut cokelat mengangguk cepat. "Benar, tapi kalau memang anak ini adalah keluarganya, dia boleh melihatnya."
Shuu tersenyum, memandangi Natsumi dengan pandangan seorang kakak yang lembut. "Ayo, kita ke tempat kakakmu, Natsumi. Terima kasih, Shinichi-kun," berpamit ramah pada si peneliti berambut cokelat, Shinichi.
Ketika mereka sampai di sebuah pintu, Shuu membukanya. Natsumi memicing curiga saat melihat papan nama ruangan tersebut. Di sana tertulis 'Ruang Pemindaian'.
"Kakakmu baik-baik saja, kok. Kami sedang memindai otaknya. Ingatannya tentang akademi ini akan terhapus, mungkin ia hanya akan ingat seluruh kejadian beberapa tahun sebelumnya. Juga hal-hal yang telah lama ia lupakan," kata Shuu saat ia menuntun Natsumi memasuki ruangan.
Hanya ada mereka, dan puluhan pemuda dalam tabung di sana.
Seluruh tabung penuh dengan air, dan setiap tabung berisi satu manusia. Kaki Shuu terus melangkah hingga ia mencapai satu pintu lagi, di pojok paling belakang.
"Ini kakakmu?" kata Shuu seraya membuka pintu itu. Berbeda dengan sebelumnya, ruangan di dalam sini agak kecil, dan hanya memuat satu tabung, meski masih berisi seorang manusia.
Natsumi berusaha untuk bersikap tenang, namun ia tak berdaya saat kabut kerinduan datang untuk mengacaukan seluruh pikiran. "Kakak..." lirihnya, tatkala kaki berselaput sepatu cokelatnya melangkah lebih dekat kepada sang kakak.
... tepatnya, tabung berisi sang kakak...
Tangan mungil Natsumi menyentuh permukaan tabung kaca. Tadinya, ya, tadinya, ia hanya akan mengucapkan salam ringan dan sapaan, serta memintanya untuk membantu menyelesaikan suatu urusan, seperti yang ia katakan.
Tapi sepertinya, kabut kerinduan mengikatnya terlalu kuat.
"Akhirnya... kutemukan... Kakak..."
"Shuu," panggil Natsumi, sembari menoleh ke belakang, namun peneliti yang dicarinya sudah menghilang. "Ke mana dia?" mata kemerahan Natsumi mencari keberadaan peneliti muda tersebut. Tapi nihil, Shuu tidak ditemukan di mana pun.
Dia tidak ada...
Seketika, suasana hening. Natsumi merasakan ada hal yang tidak beres di sekitarnya, entah kenapa. Namun ia berusaha untuk tidak mengindahkan semuanya.
Gadis kecil itu bersyukur kalau Shuu hilang, sebenarnya. Takut kalau ia tidak boleh membawa pergi kakaknya.
Ia memandang kembali kepada sang kakak. Semua masih sama dengan apa yang ada dalam ingatannya. Rambut cokelatnya, wajahnya...
Tangan Natsumi meraih pedang di balik punggungnya.
PRANG!
"Kakak... bangunlah," ucap Natsumi lemah, prihatin dengan kondisi kakaknya yang tidak berbalut apa pun. Bahkan ia memakai alat bantu pernapasan karena tabung yang dipecahkan Natsumi dengan pedangnya tadi berisi air.
Sadar daratan, mata Natsumi mencari-cari sesuatu. Kain, pakaian, atau apalah, yang penting bisa menutupi tubuh kakaknya ini. Sebab Natsumi akan membawa kakaknya pergi dari sini. Dengan cepat ia mencabut alat bantu napas yang menyambung ke sebuah tabung oksigen di samping tabung silinder yang memuat kakaknya.
Natsumi menghela napas lega ketika melihat kakaknya bergerak pelan-pelan. "Kakak sudah bisa berdiri?" tanyanya, mendekati sang kakak dengan khawatir seraya tangannya membawa setelan pakaian untuk peneliti.
Sang kakak, Endou Mamoru, menatap sosok Natsumi. Yang dalam pandangannya bayangan adiknya itu sangat kabur dan tak terlihat jelas. "Na... tsumi?" panggilnya, setelah menyadari sosok di hadapannya memiliki kemiripan dengan adiknya.
Semua masih sama dalam ingatannya. Mata merah dan rambut cokelat. Namun, ada hal yang berbeda...
"Natsumi, kau... sedikit lebih besar?"
Natsumi memberikan pakaian tersebut untuk kakaknya. "Ya, aku sudah dua belas tahun, Kakak sudah pergi lama sekali," katanya, sesaat sebelum ia membersihkan pedangnya dari air.
BIIP. BIIP.
Keduanya memandangi sekeliling, di mana ruangan tersebut telah dihiasi warna merah dari alarm penyusup. Refleks, Natsumi menarik tangan kakaknya. "Ayo, Kak! Kita pergi dari sini!" katanya sembari mencari jendela.
Nihil, tidak ada. Jalan satu-satunya adalah keluar lewat pintu.
Gadis kecil itu menarik pedangnya kembali, bersiap menghadapi siapa saja yang menghalangi jalan keluar mereka. Endou Mamoru baru saja akan selesai memasang kancing teratas kalau saja sebelah tangannya tidak ditarik adiknya.
"Sial, ini pasti Shuu!" geramnya, saat melihat peneliti muda yang tadinya menghilang, kini sudah berada di hadapannya, membawa sepasukan kecil pria bersenapan besar. "Natsumi?" panggil Endou tak yakin, namun tidak ada jalan keluar lain. Di belakang mereka hanya ada tembok putih.
"Tadinya... aku ingin mencari Kakak, karena ada hal yang harus kulakukan."
Endou mengerjap, sedikit tak mengerti dengan arah pembicaraan Natsumi. Tiba-tiba saja gadis itu bicara di tengah-tengah kepungan begini.
"Aku ingin membunuh seseorang, dan karena itu aku butuh bantuan Kakak."
Endou tidak bisa untuk tidak penasaran. Siapa orang yang telah mengobsesi adiknya untuk membunuh?
"TIARAP!"
Namun ia tidak bisa bertanya, lantaran Natsumi sudah menerjang maju dan menusuk pasukan bersenjata pimpinan Shuu satu per satu. Sedangkan dirinya hanya merunduk dan memicing ketika satu peluru menyerempet bahunya.
Natsumi menusuk semuanya, dengan cepat dan tanpa kecuali. Termasuk Shuu sendiri.
Endou tak kuasa untuk menahan raut terpananya akan aksi adiknya yang sama sekali di luar dugaannya. Seingatnya, Natsumi adalah gadis paling cengeng di antara semuanya.
Tapi sekarang, di mata Endou, ia telah tumbuh menjadi gadis paling kuat, yang tidak akan segan-segan membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya.
Kemudian, Endou hanya ikut berlari bersama sang adik, karena tangannya sudah kembali ditarik.
.
.
.
"Endou? Ya, aku mengenalnya, memangnya ada apa?" sadar bahwa dirinya tak bisa berbohong, Kazemaru memutuskan untuk sedikit jujur. Ingat, hanya sedikit. Karena ia tidak hanya mengenal Endou. Ia juga...
... humm... juga apa?
Kidou menyatukan jemarinya senang, entahlah dia senang karena apa. Yang jelas, di bibirnya tersungging senyum tipis. "Sudah kuduga," ucapnya, mengabaikan pandangan datar mengejek dari Kazemaru.
"Apanya?" sahut si anak militer judes. Melirik Kidou menggunakan mata kanannya, remaja belasan tahunan mantan siswa militer itu tidak mempedulikan Gouenji yang entah bagaimana menertawainya, mengejek maksudnya.
Cih, dia lupa akan keberadaan dokter sial satu itu.
Masalahnya, Gouenji tahu persis siapa Endou di mata Kazemaru.
Mata merah Kidou beralih pandang pada Gouenji, yang dengan segera menghentikan tawa kecilnya. "Lanjutkan," ucapnya sembari mengibaskan tangan, menyuruh Kidou dan Kazemaru melanjutkan sesi tanya jawab mereka.
Panglima itu menghela napas.
"Kau mengingat sesuatu tentang nama 'Ichi'?"
"Tidak."
Kazemaru menjawab cepat, berusaha untuk terlihat datar semaksimal mungkin. Hell, ia merasa seperti tengah diinterogasi kalau begini caranya. Walau mukanya mati-matian mengeluarkan ekspresi sedatar yang ia mampu, anak militer itu tak bisa memungkiri bahwa, jantungnya berdetak sedemikian kencang.
'Sial, ada apa denganku?'
Sedangkan, kedua mata merah darah terus menatapnya lekat.
"Bagaimana, Shuuya?" kepala cokelat itu menoleh pada sang tuan rumah. Dokter itu segera mengangkat tangannya, menyerah. "Aku tak tahu, semua kuserahkan pada penilaianmu. Aku, sih berharap anak ini bukan Ichi. Hii, seram membayangkannya."
Heh, sebegitu burukkah penilaian dokter ini dengan perbandingan antara Kazemaru dan Ichi?
Kidou mencibir, tidak setuju dengan ejekan sahabat lamanya. "Semua orang berubah, Shuuya. Kazemaru bisa saja adalah Ichi, dan Ichi mungkin saja telah tumbuh menjadi seorang Kazemaru yang sekarang. Tempaan militer bisa memutar balik seseorang seratus delapan puluh derajat," katanya, berusaha untuk tidak menyinggung pendapat Gouenji.
Dokter muda nan tampan itu mengangkat bahunya. "Aku hanya berharap, dan menurutku memang seram kalau Ichi yang seimut itu ternyata tumbuh menjadi anak seperti dia. Kau belum pernah dicekiknya, sih," ungkap Gouenji dengan penekanan di beberapa katanya.
Ngomong-ngomong, Kazemaru memang pernah mencekiknya, kan?
Jujur saja, rasanya sakit.
Hening sejenak.
"Sedekat apa hubunganmu dengan Endou?"
Bagus, Kidou menanyakan pertanyaan paling penting. Dan berkat satu kalimat saja, wajah Kazemaru –entah disadari yang bersangkutan atau tidak- sudah berevolusi menjadi kepiting rebus. Tinggal tambah kedua capit maka dia akan menjadi santapan malam paling lezat.
Untuk sesaat, kedua orang dewasa mengambil satu kesimpulan.
Endou pasti memiliki kedekatan spesial dengan Kazemaru, yang keduanya –sebenarnya hanya Kidou- yakini sebagai putra guru mereka, Ichi.
Ah, kalau Gouenji, sih, sudah tahu. Tapi mungkin ia kini memang harus memastikannya.
Lucunya, muka Kazemaru tetap tanpa ekspresi, sekalipun warnanya sudah jauh dari normal. Merah seperti tomat matang.
Kidou pun hampir meledakkan tawanya. Mungkinkah anak ini salah minum obat?
Menepuk tangannya satu kali, Kidou memutuskan untuk ganti pertanyaan. "Baiklah, ganti pertanyaan. Kau tahu seseorang bernama Kira Hiroto?"
Hmp, tadi Endou, sekarang Hiroto. Berapa banyak anak militer yang dikenal Kidou, ya?
"Hiroto?" ulang Kazemaru, warna merah di wajahnya sudah menghilang sedikit. "Maksudmu Hiroto yang itu? Aku hanya tahu nama kecilnya, nama keluarganya tidak. Kami semua dilatih tidak menggunakan nama dengan dua kata, tapi tingkat dengan nama."
Kidou beralih pandang pada Gouenji, yang tanpa disadari siapa pun ternyata sudah berpindah tempat tepat di sebelah sang panglima. "Kau tahu maksudnya, Shuuya?" tanyanya, disertai dengan gelengan kepala dari dokter itu.
Kazemaru menghela napas mengejek. "Misalnya, aku tahun ini ada di tingkat sebelas. Namaku Kazemaru. Jadi, secara formal aku akan dipanggil dengan 'Tingkat Kesebelas Kazemaru', begitu juga dengan siswa lainnya."
Gouenji mengangguk-angguk, Kidou meliriknya. Kalau mau jujur, dokter itu tidak tertarik sama sekali dengan kehidupan Kazemaru di akademinya, yang membuatnya tertarik hanya satu hal...
Kedekatannya dengan Endou.
Yang ia tahu dari Kazemaru, Endou mungkin adalah sahabat dekatnya. Sudah sahabat, dekat pula. Bukan tidak mungkin akan menjadi satu kedekatan spesial nantinya. Lagi pula, Endou sampai rela membuang kesempatannya untuk hidup, demi Kazemaru.
Tentu saja Gouenji tahu bagaimana rupa Endou. Ia mirip sekali dengan kakeknya, sih.
Tanpa terduga, Kazemaru menyeringai. Tipis, tapi berbahaya.
"Kami seperti mawar dengan duri," katanya bangga. Kidou menautkan alis, sedangkan Gouenji menopang dagu. Kidou tidak mengerti apa-apa, sedangkan Gouenji mengangguk-angguk paham. Kidou bertanya pada Gouenji apa arti kalimat itu, sedangkan Gouenji menjawab itu urusan pribadi yang bersangkutan.
Mawar dengan duri?
"Mawar adalah kau, dan Endou adalah durinya, begitu?" tebak Kidou, Kazemaru tersenyum dalam banyak arti. "Menurutmu apa jadinya kalau mawar tidak punya duri?" ia bertanya, mencoba mengasah otak dua dewasa di hadapannya.
Gouenji dan Kidou terlihat berpikir. "Eumm... tidak ada yang melindungi mawar tersebut, eh?" ucap Kidou coba-coba. Kazemaru menunjuknya dengan satu jemari tepat di depan hidung.
"Yap! Seperti itulah hubungan kami!"
Pernyataan itu membuat Gouenji mengernyit bingung.
"Kau... tidak mungkin menganggap Endou hanya sebagai pelindungmu," katanya sarkatis. Seingatnya, Kazemaru terlihat sangat peduli bahkan terlalu peduli pada Endou. Tidak mungkin anak itu hanya menganggapnya sebagai pelindung.
Sebab, dulu Kazemaru pernah bilang, kalau Endou itu teman terbaiknya. Iya, kan?
Kazemaru tidak menjawab, hanya menampilkan senyum yang entah tulus atau tidak. "Menurutmu apa jadinya kalau mawar itu memang tidak punya duri?" tanyanya kembali, disertai Kidou dan Gouenji yang berpandangan.
"Kau tidak pernah lihat mawar, ya? Tidak ada mawar yang tidak punya duri," sahut Gouenji ketus.
"Nah, itu dia maksudku!" seru Kazemaru, menjentikkan jarinya. "He?" gumam Kidou dan Gouenji perlahan.
"Mawar tidak akan disebut sempurna kalau tidak punya duri. Dia akan lemah kalau durinya hilang. Makanya ia sering disebut Venus, si cantik yang mematikan."
"Aku tak begitu mengerti," ungkap Kidou.
"Dan aku tak menyangka anak militer tahu tentang hal seperti itu," ledek Gouenji.
Kazemaru mengedikkan bahu, tidak peduli. tanpa aba-aba, ia pergi dari tempat itu, meninggalkan Gouenji dan Kidou berdua saja di halaman belakang.
Jauh di dalam hatinya, ia benar-benar tak bisa memungkiri bahwa...
Dirinya sangat merindukan Endou.
Dan hatinya, batinnya, seluruh tubuhnya, segala yang ada dalam otaknya, tiba-tiba saja dapat merasakan satu hal...
... Endou masih hidup...
.
.
.
Kira Hiroto berjalan santai ke pusat Distrik 25. Rambut merahnya yang mencolok membuat bisik-bisik di sekitarnya semakin merajalela. Ia sih, sebenarnya tidak masalah, asalkan mereka tak berniat mencelakakannya, semua beres.
Kakinya baru terhenti ketika melihat plang bercat putih yang berdiri tegak di depan sebuah bangunan raksasa. Seketika pandangannya melembut, dan senyuman melukis wajah pucatnya.
RUMAH SAKIT TULANG DISTRIK 25
Hiroto memutuskan untuk masuk ke dalam, selain karena ia memang berniat mencari seseorang, bangunan ini membuatnya cukup penasaran.
"Aku mencari seseorang bernama Fubuki Shirou," ucapnya ketika sampai di lobby rumah sakit. Petugas yang duduk di belakang meja segera membuka buku pengunjung, untuk melihat nama yang dimaksud.
'Buku pengunjung? Ternyata Fubuki-san benar-benar sudah keluar. Tapi siapa yang dirawat?' Hiroto bertanya-tanya, dalam hati tentunya. Ia yakin akan segera menemukan siapa kerabat Fubuki yang dirawat sebentar lagi.
"Fubuki Shirou-san belum datang menjenguk hari ini. Tapi kalau Anda adalah kerabatnya, silakan pergi ke kamar nomor dua ratus sepuluh, lantai dua. Itu kamar rawat adiknya," kata si petugas ramah. Hiroto mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, dengan senyuman paling manis yang ia berikan.
Ah, entah kenapa, petugas wanita itu hidungnya mengeluarkan darah.
Tapi Hiroto sama sekali tidak mempedulikannya, dan jalan terus menuju lift. 'Heh, aku bahkan baru tahu kalau Fubuki-san punya adik,' ia membatin sembari menekan tombol angka dua. Tanpa mempedulikan kerumunan orang yang panik karena ada petugas yang hidungnya banjir darah, pintu lift menutup.
Hiroto berjalan dengan santai, mencari nomor kamar yang ia cari. Begitu sampai di kamar bernomor dua ratus sepuluh, Hiroto tanpa ragu membukanya.
"Fubuki... Shirou-san...?"
Mata kehijauan itu melihat seseorang yang terbaring di sebuah tempat tidur. Ia mirip Fubuki, tapi...
Rambutnya agak berbeda. Setahunya, Fubuki Shirou memiliki rambut yang agak keabuan. Rambut orang ini berwarna pastel.
Apakah ini adik Fubuki Shirou? Seperti yang dikatakan petugas tadi?
"Kakak..."
Heh, dan sekarang ia mengigau. Apa yang harus Hiroto lakukan sekarang?
Hiroto baru akan mendekati pemuda itu, ketika seseorang membuka pintu kamar. "Atsuya, ada yang datang menjenguk, ya? Bukankah-"
"Fubuki-san..."
"Hiroto-kun?"
-terhenti.
Pemuda merah itu memandangi orang yang baru masuk, Fubuki Shirou yang asli. Seniornya di akademi dahulu. "Kau sudah keluar dari akademi? Kebetulan sekali kita bertemu di sini," kata sang Fubuki Shirou ceria. Untuk sejenak melirik kepada adiknya yang masih tertidur.
"Iya, aku sudah keluar. Ngomong-ngomong, Fubuki-san, aku memerlukan bantuanmu," Hiroto sepertinya menyadari, ada kontur aneh yang terlintas di wajah Fubuki. Wajah yang selalu menampilkan sosok polos tersebut.
Karena, mereka sama-sama tahu, dan sama-sama mengerti apa yang ingin dilakukan. Sama tujuan.
"Kita akan membunuh Kazemaru bersama."
TBC.
A/N:
Hai! Saya apdet fic ini lagi! Maaf karena jadinya tambah ngaco! #bungkuk
Makasih banyak buat yang udah baca sampai tuntas, yang me-review, mem-fave, mem-follow, dan kalian semua yang juga menjadi silent reader! #hug satu2
Maafkan saya karena ga bisa membalas review dari kalian satu-satu, karena saya ga bakat bales tanggapan... yang pasti, makasih banyak, semuanya!
Trailer chap 8
"Natsumi?"
"Hmph, menyusahkan. Bertahun-tahun kita memasangkan mereka, begini hasilnya."
"En... dou?"
"Maafkan aku... Ichi..."
"Seharusnya aku yang mati! Bukan dia!"
"Aku mencintaimu... tapi aku masih menyimpan dendam padamu! Kelahiranmu membuat kakakku mati!"
Review?
