Kazemaru terbangun dari tidurnya begitu ia mendengar suara ribut dari luar kamar. Menurutnya, ia pernah mendengar suara itu, namun Kazemaru sama sekali tak bisa mengingatnya.
"Dia tidak ada di sini," kata suara pertama, sudah jelas, pemilik suara berat itu adalah seorang pewaris tahta negara berkedok sebagai dokter di distrik sepi, Gouenji Shuuya.
Penasaran, pemuda militer itu menyibak tirai jendelanya. 'Memangnya siapa yang tidak ada?' ia membatin, sembari mengintip sedikit dari jendela kamar. Untung saja kamar yang dipinjamkan Gouenji untuknya langsung menghadap ke halaman samping, jadi lumayan kelihatan, lah, kalau mau melihat keadaan di halaman depan.
Samar-samar, mata tunggal Kazemaru dapat melihat dua warna cokelat.
Salah seorang di antara para 'tamu' itu memiliki rambut cokelat yang pendek, serta memakai headband, dan pakaian warna putih. Sedangkan seorang lagi, rambut cokelatnya tertata panjang dan agak kusut, mungkin karena perjalanan mereka. Gaun merah mudanya berkibar diterpa angin. Dan ketika rambut cokelat panjang itu tersibak, Kazemaru membelalak saat sebuah bilah pedang tersingkap di punggungnya.
Pemilik headband itu menoleh kepada sang gaun merah muda, yang berpostur lebih pendek darinya, sepertinya gadis itu lebih muda. "Bohong, Ichi pasti ada di sini!" serunya, dengan suara yang amat Kazemaru kenali.
T-tunggu...
... cokelat? Headband?
Lalu, suara itu...
... jangan bilang kalau...
... "En... dou?"
.
.
Kokoro?
An Inazuma Eleven Fanfic
Chapter 8:
Meet?
Inazuma Eleven © Level-5
Warning:
Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, ga waras, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya
Saya dah bilang ini fic ooc kan?
Tidak suka jangan baca, oke?
.
.
.
Dua puluh empat jam yang lalu
Kalau saja kemarin bukan hari libur, mungkin Gouenji Yuuka tidak akan dibolehkan untuk bepergian oleh sang ayah. Ia akan disuruh mengerjakan sebagian tugas dari ayahnya itu, dan latihan berperang, atau belajar banyak hal kenegaraan lain bersama Haruna.
Tapi, karena kemarin adalah hari liburnya, Yuuka jadi boleh bepergian.
Meskipun, ya, meskipun, ia pergi untuk mencari kakaknya.
Sebab ia tidak akan pernah tahu, kapan ia akan mendapatkan lagi kesempatan libur seperti itu. Sebab ia tidak tahu, kapan ia akan memperoleh lagi kesempatan untuk menjelajahi seluruh Distrik 0, demi bertemu kakaknya. Sebab ia tidak tahu, kapan ia akan memiliki lagi kesempatan untuk melenyapkan orang yang menahan kakaknya.
Tepat, ia akan melenyapkannya.
Ia akan membawa kakaknya pulang.
Walaupun harus membunuhnya. Membunuh orang tersebut.
"Kak Haruna," ia memanggil, kepada sang tutor pribadi yang duduk di depannya. Wanita cantik itu menyahut singkat dengan mendehem sembari menolehkan kepalanya.
Yuuka terlihat menunduk, berpikir. Ia sebenarnya hanya ingin menanyakan, kapan mereka akan sampai, tapi menurutnya sendiri, pertanyaan itu terlalu mudah, sedangkan kini suasana antara mereka lumayan tegang.
"Berapa lama lagi kita akan sampai?" namun pada akhirnya, ia tetap menanyakan hal itu.
Haruna, yang amat mengerti perasaan Yuuka akan keinginannya untuk bertemu sang kakak, mengulum senyum tipis. "Sebentar lagi, kok, bersabarlah. Kita masih berada di Distrik 25," ia menjawab. Sang tuan putri mengangguk singkat.
Untuk sementara, keadaan berjalan lancar.
Kuda masih berjalan dengan tenang, orang-orang di tempat yang mereka lewati masih memberikan salam hormat, dan pedang Yuuka masih menempel di pinggangnya.
Tetapi, keadaan tersebut seketika terhenti. Tepat ketika-
"Uwaaa!"
-kuda yang mereka tunggangi mendadak melompat.
Sekuat tenaga, Haruna memegang tali kekang dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegangi tubuh Yuuka, agar tuan putrinya itu tidak terjatuh. "Yuuka!" teriaknya spontan, menanggalkan bahasa formalnya demi melihat tuan putrinya baik-baik saja.
Tangan Haruna terlepas, menyebabkan tubuh Yuuka ambruk ke tanah tanpa ampun. Panik, tutor pribadinya itu langsung melompat dari kuda. "Aku... tidak apa-apa..." kata Yuuka, sembari meringis menahan sakit sesaat yang mendera pinggangnya. Yuuka berdiri, dibantu Haruna.
"Ah, maafkan kami," kata sebuah suara, namun bukan salah satu dari kedua perempuan itu.
Haruna menoleh, dan mendapati dua pemuda berambut merah dan putih keabuan. "Kami ingin pergi ke Distrik 0, namun masih tertahan di sini untuk meminjam kuda kepada warga sekitar," sahut suara lain, yang berambut merah.
"Kami minta maaf karena mengejutkan kuda kalian, kami sedang buru-buru tadi-"
"K-kami juga ingin pergi ke Distrik 0!"
-Haruna menoleh, Yuuka berapi-api. "Yuuka," bisik Haruna. "Jangan sembarangan menyebutkan tujuan kita pada orang asing!"
"Tidak apa-apa," sahut Yuuka cepat, dalam hatinya ia mengetahui, Haruna tampak curiga dengan kedua orang yang kehadiran mereka saja mampu mengejutkan seekor kuda. "Barangkali, mereka ini bisa membantu kita," ia melanjutkan.
Sang tutor pribadi mengernyitkan alis, tentu saja. Sebab, dengan tampang begitu, bisa saja dalamnya orang buas. Meskipun yang berambut putih keabuan itu terlihat manis, mungkin dia penjahat kelas wahid. Dan walaupun yang berambut merah itu terlihat tidak buruk –dalam artian, ganteng-, tidak menutup kemungkinan dia adalah buronan kelas satu.
Penampilan bisa menipu, kawan.
"Kami bukan penjahat yang seperti yang kau pikir, Nona. Iya, kan, Fubuki-san?" si merah menoleh kepada si putih, yang langsung mengangguk mengiyakan.
Haruna sebenarnya ingin melanjutkan perjalanan, segera. Namun sepertinya tuan putrinya lebih suka kalau mereka mengajak dua pemuda ini ketimbang berjalan sendiri. Apalagi setelah si merah dapat menebak dengan baik isi pikirannya, kecurigaannya pada kedua pemuda ini semakin bertambah.
Pada akhirnya, ia menyetujui untuk mengajak kedua orang ini, dan bersedia meminjamkan kuda dari warga sekitar. Tentu saja setelah berdebat mata dan argumen dengan Yuuka, yang memang bertipe sangat keras kepala.
"Nama?" kata Haruna, ketus, kepada si rambut putih. Ia duduk di atas kuda bersama Yuuka, dan kedua pemuda tadi duduk di atas kuda lainnya, yang berhasil mereka pinjam dari orang desa.
Si putih menyahut, "Fubuki Shirou, kau?" katanya lembut dan penuh dengan senyum. Aura yang ia pancarkan pun terasa menyenangkan.
Tapi sayangnya, sepertinya Haruna sama sekali tidak merasakan rasa senang itu. "Kidou Haruna," memalingkan wajah sembari menggerutu dalam hati. Sebenarnya Fubuki melihatnya, tapi ia membiarkannya saja. Pengalaman, kalau wanita marah sangat menakutkan.
"Kidou? Kau adiknya Yuuto-san?" tanya si merah, Haruna menoleh penasaran. "Kau... kenal kakakku?" kernyitnya, menatap si merah yang sebenarnya, wajahnya itu sepertinya pernah ia kenal.
Si merah tertawa, kecil tapi sepertinya bukan karena hal yang lucu. "Iya, dulu aku kenal. Tapi aku tak pernah melihatmu, jadi aku tidak tahu. Dan yang di depanmu itu pasti Putri Yuuka," tebaknya, melirik sedikit kepada sang tuan putri.
Yuuka tidak menjawab apa-apa, memang wajar kalau ia dikenal masyarakat, karena ia anggota keluarga kerajaan. Namun sepertinya orang ini tahu banyak. "Siapa kau?" tanya Haruna, tak kalah ketus dengan pertanyaannya terhadap Fubuki beberapa menit yang lalu.
"Kira Hiroto, dan aku sempat bertemu Lady Natsumi beberapa waktu lalu," ungkapnya. Dan, seperti yang telah ia duga sebelumnya, Haruna dan Yuuka menoleh secepat cahaya.
Oh, bahkan Fubuki juga sepertinya terlihat tertarik dengan pembicaraan ini. Buktinya, dahinya sedikit mengernyit ketika mendengar nama Natsumi, padahal sejak tadi wajahnya itu biasa-biasa saja.
Untuk sesaat, keadaan hening sementara.
"Lady mencari seseorang di Akademi Militer Distrik 3."
Kening kedua perempuan yang berada di sana berkerut. Haruna menoleh ke belakangnya, berusaha menghadap wajah Yuuka. "Bukankah Natsumi bilang dia akan pergi ke Distrik 25 saja? Dia tidak pernah bilang mau ke Distrik 3, kan?"
Yuuka mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya lamat-lamat, sama bingungnya dengan sang tutor. Sebenarnya ia perlu berpikir, berpikir, dan berpikir. Natsumi, Distrik 3, Akademi Militer, mencari seseorang, Kira Hiroto, dan...
... sebentar...
... jangan-jangan...
"Kak Haruna, sepertinya aku tahu siapa orang yang dicari Natsumi," Haruna menoleh, sembari matanya sesekali menatap kedua pemuda yang sepertinya, salah satu dari mereka ia kenali dengan baik. "Dia mencari Endou Mamoru, kakaknya."
Haruna mendengus sembari menyeringai. "Oh, jadi cerita ini sudah berubah menjadi petualangan tiga orang gadis yang mencari kakak laki-lakinya?" komentarnya, bukan sarkatis. Ia bahkan menutup mulutnya dengan satu tangan, tertawa.
Fubuki melirik Haruna datar, di belakangnya, Hiroto sudah mewanti-wanti memperingati kalau mereka berjalan terlalu lambat. "Ngomong-ngomong, kalian mau apa ke Distrik 0?" Haruna bertanya, barangkali tujuan mereka sama.
"Kami ingin me-"
"Ssst!"
-mulut Hiroto tertangkap tangan Fubuki.
Mendengar suara Hiroto yang sengaja diputus, dan perlakuan Fubuki terhadap si pemuda merah, Haruna semakin mencurigai mereka.
Dan Yuuka?
Ah, ia hanya berharap, kedua orang ini juga bertujuan sama dengannya. Setidaknya untuk tujuan yang satu itu.
.
.
.
"Jadi..." seorang pria dewasa mengangkat satu tubuh ke sebuah tandu, dibantu dengan seorang pria lainnya. "Inikah partner S-21, K-18?" ia bertanya, seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Benar," sahut pria kedua. "Tapi di mana S-21?"
Pria pertama tadi menggelengkan kepala.
Mengangkat bahu, pria kedua berambut cokelat itu menanggapi rekannya dengan sikap tak acuh. "Sudahlah, peran S-21 sudah selesai. Kita memasangkan dia bersama K-18 untuk membuatnya menjadi kuat," yang ia maksud 'nya' adalah seseorang yang diberi kode K-18.
"Heh, bertahun-tahun kita memasangkan mereka, begini hasilnya," pria pertama mendengus. Rambut pirangnya yang panjang berkibar terkena angin musim dingin perbatasan. Tanpa aba-aba, mereka mengangkat tandu yang di atasnya terdapat K-18, Endou.
"Secepatnya, kita harus memindai otaknya. Perang ini sudah kita rencanakan untuk memisahkan mereka, jika berhasil, dia akan terbangun tanpa ingatan apa-apa baik mengenai S-21, maupun akademi ini."
"Selain itu, bukannya kita memang diperintahkan untuk membuat K-18 jadi kuat? Dia, kan anggota keluarga kerajaan," ia menyahut. Pria berambut cokelat mengangguk singkat, sembari mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Banyak sekali darah dan mayat.
Dalam sistem pendidikan di Akademi Militer Distrik 3, seluruh siswa dibedakan sesuai nomor urut dan kode. Ada yang F, K, S, dan L. F, artinya Folk, yaitu siswa yang datang ke akademi atas keinginan sendiri atau dari orang tua. L artinya Lost, yaitu siswa yang ditemukan pihak akademi, dirawat dan ditempa langsung. S, artinya Special, para siswa berbakat yang menggaet juara dari tiap angkatan. Dan K, adalah Kingdom, berarti, orang yang diberi kode tersebut adalah anggota keluarga kerajaan.
Hanya pihak pegawai dan para guru saja yang mengetahui arti dari semua kode ini. Para siswa tidak dibiarkan untuk mengetahuinya, supaya bisa menghindari diskriminasi. Dalam Akademi Militer Distrik 3, seluruh siswa adalah sama.
Meskipun kadang kala, ada perintah untuk memasukkan pihak tertentu, dan memasangkan mereka dengan pihak tertentu pula. Agar mereka menjadi lebih kuat.
Seperti halnya K-18, yaitu Endou, yang seorang anggota keluarga kerajaan. 18 dalam kodenya maksudnya adalah nomor urut anggota keluarga kerajaan ke-18 yang masuk ke akademi. Ia dipasangkan dengan S-21, Kazemaru, yang merupakan putra dari panglima terdahulu. Panglima sebelum Kidou Yuuto.
Itu semua dilakukan, karena pihak akademi membawa perintah dari istana, untuk membuat Endou menjadi kuat. Pihak akademi berhasil, buktinya, mereka bisa membuat Endou menjadi salah satu dari sepuluh siswa terbaik seangkatan.
Namun, setelah menjadi kuat, mereka semua akan dipisahkan. Seluruh siswa beserta partner mereka.
Seperti halnya Endou dan Kazemaru. Perang perebutan wilayah ini memang sudah mereka –para pihak akademi itu- rencanakan. Begitu juga dengan berpuluh-puluh pasang siswa lainnya. Dengan mengorbankan rakyat sipil yang tak bersalah, mereka berusaha memisahkan para siswanya.
Kejam?
Entahlah. Mereka tidak punya pilihan lain.
Sebab, pastilah anak-anak militer itu tidak mau dipisahkan dari partner mereka.
Layaknya kekasih yang tidak mau terpisah karena kekangan orang tua.
.
.
.
Sekarang
Kini, Kazemaru tidak bisa berbuat apa-apa.
Sama sekali.
Sebab, saat ini ia telah terkepung. Baik lehernya yang dicekik seorang Kidou Haruna, perut dan pinggangnya yang ditodong pedang oleh Gouenji Yuuka beserta Endou Natsumi, punggungnya yang hampir ditusuk pisau milik Kira Hiroto, kepalanya yang tertempel laras segi empat kepunyaan Fubuki Shirou, bahkan...
... dadanya...
... yang tinggal sedikit lagi akan tertembus peluru sebelas milimeter milik senapan yang dipegang oleh seorang Endou Mamoru.
Kazemaru kaget, jelas. Namun bukannya ia menggumamkan kata sial atau semacamnya, dan memandang sinis keenam orang yang mengepungnya, ia malah menatap kepada satu orang.
Tentu saja, Endou Mamoru. Siapa lagi?
Kidou Yuuto dan Gouenji Shuuya, tentu saja akan membantu, kalau saja satu tangan milik Hiroto dan Fubuki tidak turut mengepung mereka.
"Haruna... kau...?"
Wanita berambut biru, mengencangkan cekikannya, mengabaikan panggilan dari sang kakak. "Jadi inilah, alasan Yang Mulia Shuuya tidak mau kembali. Karena anak ini!" tidak mempedulikan sang pemuda militer yang sudah meringis menahan sakit.
"Natsumi? Inikah kakakmu, Endou Mamoru?" Yuuka bertanya, namun tidak mengalihkan pandangannya pada gadis kecil itu sedikit pun, ia begitu fokus kepada Kazemaru, selaku orang yang membuat kakaknya tidak ingin pulang.
Wajar kalau ia berpikir begitu. Habis, Kazemaru keluar dari rumah Gouenji, sih.
"Benar," sahut gadis cilik itu singkat. Sama seperti Yuuka, ia tidak melepas tatapannya dari Kazemaru.
Anak militer itu tidak mengindahkan semua yang mereka katakan. Fokusnya hanya satu. Yang membuatnya amat terkejut hanya satu. Alasannya hanya berdiam diri juga hanya satu.
Endou... serius ingin membunuhnya?
Bukannya... bukannya Endou itu temannya? Sahabatnya?
Kenapa Endou malah mengacungkan kaliber hitam mengerikan itu dengan tangannya ke arah Kazemaru?
... tidak... mungkin...
Kazemaru benar-benar tidak ingin mempercayai ini. Namun semuanya adalah kenyataan...
... ia akan mati di tangan Endou, sekarang juga.
"Tembak dia, Kak Mamoru."
Kazemaru tahu, kalimat perintah itu ditujukan untuk Endou, dari adiknya sendiri. Jujur saja, ia sedikit iri pada Endou, yang masih bisa merasakan bagaimana menjadi seorang kakak seperti yang ia impikan, tapi...
... bila permintaan sang adik adalah membunuh sahabat, Kazemaru tidak tahu, dan tidak mau tahu, apa yang akan ia lakukan nanti.
Jelas, dahulu, Kazemaru selalu menginginkan keluarga. Namun jika keluarganya itu menyuruhnya membunuh teman, Kazemaru tak begitu menginginkannya lagi.
Pemuda itu menutup matanya pilu. Bagaimanapun, keadaan dulu dan sekarang jauh berbeda. Endou kini bukan temannya, bukan sahabatnya, dan bukan partner-nya lagi.
Kini, Endou adalah salah seorang dari sekelompok manusia yang ingin membunuhnya.
Dia sudah bukan Endou yang Kazemaru kenal lagi. Bukan Endou yang menjadi partner-nya dahulu. Bukan Endou yang menjadi temannya dulu. Bukan Endou yang adalah sahabatnya di masa lalu. Bukan Endou yang senantiasa tersenyum untuknya. Bukan Endou yang selalu mencolek dagunya. Bukan Endou yang-
"Endou..."
-pernah mengatakan bahwa ia menyukai Kazemaru.
Seandainya saja Kazemaru bertemu Endou di saat yang normal, maksudnya, dalam keadaan tidak ingin dibunuh, maka ia bersumpah akan memeluk Endou seketika itu juga.
Rasa rindu yang si cantik rasakan, kini terbayar dengan racun memilukan, dari orang yang selama ini ingin sekali ditemuinya.
"Kalian... tolong mundur..."
Maka, ia akan memutuskan satu hal.
"Aku hanya ingin dibunuh di tangan Endou."
Karena Endou sama sekali tidak mengingatnya, maka ia akan membuat Endou tidak akan pernah mengingatnya. Mati di tangan Endou.
Segera, kelima yang lain menarik tangan mereka, membiarkan Endou tetap berada di posisinya semula.
Sekejap, Haruna melirik kakak kandungnya. Kidou balik menatap sang adik. "Aku dan Yuuka datang untuk mencari kalian, sekaligus membantunya untuk menghabisi 'penahan' kakaknya," ucap wanita itu tajam. Namun Kidou dapat melihat gurat kerinduan di mata biru adiknya.
Gouenji menghela napasnya, bersyukur di dalam hati karena kepungan mereka sudah dilepaskan. "Kalian pasti memiliki alasan yang kuat untuk membunuh Kazemaru," katanya. Memegang pinggang berbalut kaus hitamnya dengan satu tangan, kebetulan hari ini lumayan dingin, pakai baju warna gelap akan lebih baik. "Aku sudah bisa melihat alasan kalian, Haruna, Yuuka, tapi untuk yang lain, terutama pemuda bernama Endou, aku masih perlu penjelasan."
Natsumi ganti mengacungkan pedangnya pada sang pewaris asli tahta kerajaan. "Tidak ada yang perlu kami diskusikan denganmu, Yang Mulia. Ini urusan pribadi," mata merah memicing, melirik Endou sulung sedikit, memastikannya untuk tetap berada di posisi.
Dokter itu menghela napas singkat. Heh, susah sekali meyakinkan Natsumi, dari dulu anak itu memang keras kepala. Statusnya sebagai yang paling muda di tempat itu saat ini, tidak menyurutkan kemampuan berdebatnya. Bahkan di hadapan kedua Gouenji.
Ingin sekali Gouenji Shuuya memutar mata, tapi sungguh, jangankan memutar mata, mengernyitkan dahi saja ia tak bisa. Matanya harus senantiasa dalam keadaan waspada, supaya nanti tidak menjadi santapan pedang ramping Natsumi.
"Dengar, Gadis Cilik," ucapnya, membuat sang gadis cilik yang dimaksud menggertakkan giginya kuat-kuat, tidak terima dipanggil gadis cilik meskipun itulah kenyataannya. "Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan apakah itu urusan pribadi atau bukan. Tapi tolong, jika memang benar-benar pribadi, maksudku, yah, sungguhan masalah pribadi seperti yang kau bilang, jangan libatkan kami. Aku dan Yuu tidak melakukan kesalahan."
Bukan, itu bukan pernyataan terang-terangan bahwa ia takut. Ia hanya ingin mendengar alasan dari satu orang. Ia hanya...
... tidak habis pikir juga, mengapa orang bernama Endou ini mau membunuh Kazemaru?
Memang, sih, mulutnya menyebalkan. Baiklah, lebih dari menyebalkan. Masih kurang? Baiklah, sangat menyebalkan. Tapi, begitu-begitu, Kazemaru menjunjung tinggi persahabatan, buktinya, ia selalu mencemaskan keadaan Endou, bahkan akan mencari Endou sendiri walau tidak diizinkan karena masih terluka. Dan anak itu...
... sangat menyayangi Endou, lebih dari yang semua orang bayangkan.
Bahkan Kazemaru sendiri terkadang tak sadar, bahwa ia menyayangi Endou. Mungkin saja rasa sayang itu sudah jauh lebih membuncah dibanding saat anak itu terakhir kali bertemu Endou, ditambah dengan rasa rindu yang luar biasa.
Ha, apa jadinya kalau perasaan sayang dan rindunya, dibalas dengan todongan senjata?
Sungguh, Gouenji tak mau membayangkannya.
Fubuki mendengus seketika, dengan seringaian tipis yang terpatri di wajahnya. "Kami berdua memiliki dendam padanya," ucapnya, menunjuk Hiroto dengan ibu jari.
Kidou mengenal Kira Hiroto. Sangat. Begitu juga dengan Gouenji.
"Anak ini mematahkan kakinya lima atau enam tahun yang lalu," lanjut si pemuda merah, ganti menunjuk Fubuki. "Dan aku..." ia berbalik, menatap Kazemaru yang berada di belakangnya, menyentuh punggung anak militer itu sebelum mencengkeram kaus biru yang ia kenakan sendiri, di bagian dada.
"Kau tidak pernah sadar..." sebuah ungkapan yang ia tujukan pada pemuda yang masih membelakanginya. Yang sebenarnya hanya masih, ya, masih, selalu, dan selamanya, hanya akan menatap kepada satu orang. Endou.
"Aku mencintaimu..."
Berbicara seakan hanya ia dan Kazemaru yang berada di sini.
"Tapi, aku memiliki dendam padamu..."
Mengungkapkan kata hati seolah hanya ada mereka berdua yang mendengar. Tak mempedulikan tatapan kaget dari semua orang.
"Kelahiranmu membuat kakakku mati!"
Semua, termasuk Endou.
"Aku sudah menyukaimu, sejak kau masih berada di lingkungan istana. Ibumu adalah kakakku, Kira Hitomiko."
Ketika Hiroto mengucapkan nama guru mereka, Kidou dan Gouenji serentak menyahut dalam hati. 'Sudah kuduga,' batin Gouenji, menutup matanya sejenak sebelum membukanya kembali.
Hanya demi melihat kepala Hiroto yang bersandar di punggung Kazemaru.
Aneh, ia mendesis. Seraya memegangi kaus hitamnya di bagian dada. Kenapa rasanya sesak sekali? Apa yang terjadi di sini?
Hiroto mundur, membiarkan Kazemaru tidak lagi menyangga kepalanya. Sadar kondisi, ia memutuskan untuk menyingkirkan tubuhnya, membiarkan Kazemaru fokus menatap kepada satu orang saja, seperti dulu.
Saat itu, semua orang yang ada di sana, bersumpah melihat setetes air mata jatuh mengenai pipi Kazemaru. Ketika tetes air mata itu turun ke sebelah mulutnya, ia mengucapkan satu kalimat lirih.
"Seharusnya... aku yang mati. Bukan dia..."
Di waktu yang bersamaan, Endou melepas satu bijih timah panas.
Tepat ke dada Kazemaru.
"Namaku Endou, kau siapa?"
"Kazemaru."
Kepingan-kepingan, tanpa disadari, terus terekam dalam ingatan.
"Nanti kalau sudah lulus, kau mau ke mana, Kazemaru?"
"Ya, tentu saja ke medan perang. Memangnya mau ke mana lagi?"
Kepingan kenangan saat ia masih bersama Endou.
"Aku ingin mencari keluargaku. Aku yakin mereka masih hidup!"
Kenangan saat mereka masih bersama.
"Aku menyukaimu, Kazemaru."
Ingatan akan waktu yang sangat ia inginkan untuk tetap berhenti di sana saja.
"Cuma dua puluh lima kilo? Kau bercanda, Kazemaru?"
Saat mereka masih tertawa bersama. Menangis bersama. Gembira bersama. Dan sedih bersama.
Samar, Kazemaru berusaha untuk melihat wajah Endou. Untuk yang terakhir kalinya. Sampai ketika ia menangkap sebuah luncuran kata dari mulut Endou;
"Maafkan aku... Ichi..."
Menghempaskan tubuh Kazemaru ke tanah bersalju putih tanpa ampun. Salju yang putih dan bersih itu, telah ternoda darah yang merah. Suasana yang saat itu amat hening, telah ternoda suara bising hentakan peluru.
Untuk sesaat, semua orang yang melihat langsung kejadian itu, tak mampu berkata apa-apa. Tak mampu bereaksi apa-apa. Bahkan...
... tak mampu bergerak barang sesentimeter pun.
Dan Endou, sangat yakin bahwa mulut Kazemaru mengatakan sesuatu, tepat sebelum ia jatuh ke tanah. Sesuatu yang tak pernah ia ucapkan bertahun-tahun mereka berpasangan. Sesuatu yang merupakan jawaban dari segala yang Endou rasakan...
.
.
"Sayonara, Endou. Aku juga menyukaimu..."
.
END.
.
CAST
Kazemaru Ichirouta
Endou Mamoru
Gouenji Shuuya
Kidou Yuuto
Kira Hiroto
Endou Natsumi
Kidou Haruna
Gouenji Yuuka
Fubuki Shirou
Kira Hitomiko
Shuu
.
DIRECTOR
Tsubaki Audhi
.
SPECIAL THANKS TO
Allah SWT
My lovely mother
My lovely brothers
Kiriichi23
Draco de Laviathan
Nesia-chan Oga Jiggy
aquaberry/Kuroka
edogawa ruffy
The Fallen Kuriboh
Saint-Chimaira
Kuroyin9
Watanabe Mayuyu
Akari Hikari
Fanatik Ina11
And all of you who read this fic!
.
A/N:
Ending-nya menggantung kah? Kalau menggantung, akan saya buatkan chapter bonus, tapi kalau menurut kalian ending-nya tidak menggantung, tidak akan saya buatkan...
Terima kasih telah mengikuti alur fic ini hingga akhir~ Saya selaku author sangat mengucapkan terima kasih~!
Sampai jumpa di fic saya berikutnya~!
