Title : Waiting for Your Heart

.

.

Cast : Lee Sungmin (namja)

Cho Kyuhyun (namja)

.

.

Genre : Romance/hurt/comfort, YAOI

Rate : T

Warning : Aneh, gaje, alur yang kecepetan, Typo (s), pasaran, bisa NC ...so...if u don't like it...just don't read it...okay...! no bash, for everything! Bagi yang gak suka, tolong jangan dibaca, jebal! Ini hanya cerita fiksi menurut imajinasiku. Mungkin sangat jauh dari kata 'bagus' bagi sebagian orang, tapi inilah yang kubisa. Jadi tolong, jangan dibaca alo gak suka.

.

.

SUMMARY

Aku mencintaimu dengan segala keterbatasan yang kupunya. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Meski tak pernah kusangka, cinta ini jugalah yang menyakitimu. –KyuMin-

.

.

DISCLAIMER

Semua tokoh dalam fict ini punya Tuhan YME dan orang tuanya masing-masing. Ide cerita murni milik Hyun. Kyunnie punya na Ming. Ming punya na Kyunnie. KyuMin sah milik KMS JOYer's

.

NO COPAS

.

DON'T LIKE, DON'T READ

.

.

.

.

^^HAPPY READING ^^

.

.

.

Previous Chapter

"Apa yang harus kulakukan padamu...Ming?"

Ya, apa yang harus kulakukan padamu? Beritahu aku agar aku tak bertindak bodoh lagi dan menyakitimu. Akupun menderita melihatmu sakit karenaku, Minnie-ah.

Ku baringkan tubuhku menghadapnya. Aku ingin memimpikan dirinya malam ini. Perlahan, wajahnya yang teduh menarikku terbuai kealam mimpi. Aku terlelap.

'Saranghae, Minnie..' ucapku dalam hati sebelum mataku terpejam.

.


Kyu's Heart

- Saranghae, Jeongmal Saranghae Ming -


.

.

KYUHYUN POV

Hari ini aku kembali menjalani rutinitasku yang membosankan. Mengapa membosankan, karena pagi ini aku kembali tak mendapat senyum dari bunny boy ku. Pasti kalian menyangka aku pergi pagi lagi hari ini. benar kan? Tapi sayang sekali, tebakan kalian kali ini salah. Aku hari ini sengaja pergi kekantor agak terlambat dari biasanya, tapi apa yang kudapat? Saat aku bangun, si kelinci manis itu malah sudah menghilang dari sebelahku. Padahal aku bermaksud menyapanya dengan hangat pagi ini. Yah...you know lah what i mean. Semacam sapaan ringan di bibir mungkin...atau di...ahh sudahlah! Lupakan! Jangan membuatku harus main solo pagi ini! Arraseo?!

.

.

Saat aku turun kedapur, aku menemukan secarik kertas tertempel di pintu kulkas.

.

.

.

"Kyunnie...maaf, aku tak sempat pamit padamu. Aku ada urusan di kampus pagi ini. semalam aku benar-benar minta maaf telah banyak menyusahkanmu. Aku sudah membuat beberapa pancake dan telur mata sapi untuk sarapanmu. Semua ada di atas meja juga kopi dan jus jeruk kesukaanmu. Kalau sudah dingin, Kyunnie hangatkan saja lagi, ne...sekali lagi mianhae Kyunnie, gomawo...saranghae"

.

Loving You

.

Sungminnie

.

.

"Hhh~...jadi seperti ini rasanya ditinggalkan?" gumamku lirih sambil memasukkan suratnya kedalam kantongku.

Aku merasa kesepian pagi ini. Saat aku mengharapkan senyumannya. Dia malah pergi dariku. Biasanya aku yang selalu pergi lebih dulu darinya. Sedangkan dia? Hanya menanggapi dengan senyum manis yang mungkin sedikit dipaksakannya itu.

Kubuka tudung saji di atas meja. Benar saja, semua keperluan untuk sarapan pagiku sudah tersedia lengkap di atas meja itu. Tiap detailnya tidak ada yang kurang. Aku hanya tinggal duduk manis dan memindahkan makanan itu kedalam mulutku.

.

"Minnie-ah...kau yang terbaik" gumamku sambil menyeruput kopi hangat buatannya.

.

Semua makanan dan minuman yang disiapkan Sungmin memang sudah agak mendingin. Artinya dia pergi pagi-pagi sekali tadi. Walau sudah dingin tapi aku sama sekali tak berniat untuk menghangatkannya. Eits, bukannya malas. Aku hanya tak ingin apa yang kumakan ini bukan murni lagi buatan tangan Minnie-ku. Aku mau semua asli hasil jerih payah kedua tangan mungilnya itu, tanpa adanya campur tanganku atau orang lain di dalamnya. Haha...aku egois kan? Betul itu!

.

.

Selesai sarapan, aku langsung membersihkan peralatan makanku dan kemudian bersiap-siap berangkat kerja dan hari ini, aku sudah bawa mobilku...hufh~...akhirnya aku terbebas dari angkutan umum yang tak nyaman itu.

.

"Oh iya, aku harus menemui Vic noona lagi hari ini." ucapku bersemangat sambil melangkah ke dalam garasi. Kunyalakan mesin mobil Audi A5 itu kemudian aku bersiul-siul riang.

.

.

"Eh...apa noona mau bertemu lagi denganku hari ini? bagaimana jika dia malah memarahiku? Aissh! Aku benar-benar tak mengerti tentang kado...arrkkhh ! "

.

Kado? Yup. Aku berencana akan memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi Sungmin di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-2 nanti. Haha..membayangkannya saja aku sudah sangat bahagia...

.

Aku langsung mengotak-atik I-Phone 5 ku. Mencari kontak yeoja cina yang bawel itu lalu meneleponnya.

.

.

.

.

.

"Wae?"

.

Aigoooo, baru saja aku ingin menyapanya dengan ramah, tapi yeoja itu malah melontarkan kata yang benar-benar tidak bersahabat padaku dengan nada malas. Isshhh...dasar nenek tua!

.

"Aish, noona. Mengapa nada bicaramu begitu. Kyunnie hanya ingin menanyakan kabarmu" jawabku dengan nada manja. Yang tentu saja bohong.

.

"Jangan berlagak manis padaku. Aku bisa- bisa muntah pagi ini. Katakan apa yang kau inginkan? Cepat! Aku mau mandi!" jawab Vic ketus

.

"Ihh...noona menyebalkan~" aku masih betah menggoda yeoja itu dengan nada manjaku yang jelas-jelas sangat dibenci olehnya. Haha...

.

"Arraseo, bocah. Aku tutup...daaah..."

.

"Eits! Ya! Noona! Noona!..." aku spontan berteriak histeris. Aih, yeoja itu benar-benar tak punya selera humor sama sekali. Ck.

.

"Wae? Cepat katakan...!" ujarnya ketus.

.

"Noona, bisa kita bertemu lagi hari ini? aku ingin mencari hadiah buat Minnie, tapi aku tak tahu harus memberinya apa..." nada suaraku kembali kubuat semelas mungkin agar dia luluh.

.

"Hhh...ne..ne...arraseo...tapi ingat! Ini terakhir kalinya aku membantumu. Ya, sudah. Nanti jemput aku di kantor Nickhun."

.

Pip

.

"Omoo...noona-ku benar-benar tak sopan. Bukankah aku yang menelepon tadi? Mengapa dia yang mematikan duluan? Isshh! Sudahlah yang penting dia mamu membantuku." aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah Sungmin nanti ketika aku memberikannya hadiah. Pasti dia senang.

Setelah puas senyum-senyum, aku langsung melajukan mobilku di jalanan, menuju kantorku tercinta.

.

.

SKIP TIME

.

.

Disinilah aku sekarang. Di sebuah toko perhiasan terbesar dan mewah di Seoul. Aku tak tahu, tapi Vic mengajakku kesini. Apakah...

"Kau lihat-lihat saja dulu, Kyu. Apa ada yang kau inginkan?" ujarnya santai sambil melenggang dengan anggunnya di depanku yang terbengong.

"Noona...maksudmu...aku harus membelikan perhiasan untuk Minnie?" aku bertanya ragu. Masalahnya aku memang belum pernah membelikan Sungmin perhiasan selain cincin pernikahan kami. Tapi...aku tak yakin dia juga menginginkan benda-benda ini...

"Ne...bukankah kau tak pernah sekalipun membelikannya benda-benda ini?" ujar Vic sambil melihat-lihat perhiasan di depannya.

"Tapi...apa kau yakin Sungmin menginginkannya, noona? Aku takut dia tak begitu suka dengan semua ini karena setahuku dia tak pernah menggunakan barang-barang mahal di tubuhnya."

"Karena itu, cobalah untuk memberikannya sesuatu yang mahal. Ayolah jangan pelit. Toh uangmu tak akan habis jika membeli benda-benda ini. Dan aku yakin, Sungmin akan menyukainya.." ucapnya sambil tersenyum penuh arti.

"Mengapa kau terlihat sangat tahu tentang Sungmin, eoh?" aku mendelik padanya yang sekali lagi mengabaikanku.

"Percayalah, Kyu. Ini naluriku sebagai seorang wanita. Aku tahu apa yang wanita inginkan..."

"Tapi dia namja, noona. Apa kau lupa?" aku sedikit berteriak kini. Aku betul-betul takut jika Sungmin tak menyukai apa yang kuberikan padanya.

"Walau dia namja, tapi dia 'uke' dalam hubungan kalian. Dan sekali lagi, percayalah padaku, Kyunnie." Ucapnya yang kini penuh keyakinan menatapku.

.

.

.

"Oke...aku coba." Akhirnya aku mengikutinya memilih-milih berbagai jenis perhiasan yang ada di toko itu. Aku berkeliling cukup lama sampai mataku melihat sebuah kalung dan cincin yang menurutku sangat sesuai dengan image Minnie.

Sebuah kalung emas putih berbandulkan krystal kecil berbentuk seperti tetesan air dengan warna biru laut yang sangat indah. "Aqua marine" begitu nama yang tertera di kalung itu. Selaras dengan cincin di sebelahnya yang juga merupakan emas putih dengan manik blue sapphire yang indah.

.

.

.

"Jika Anda mau, Anda bisa mengukir nama Anda dan nama pasangan Anda pada cincin ini, Tuan."

Aku tersentak ketika salah satu pelayan di toko itu kini berada tepat di sebelahku. Astaga. Aku terlalu terpesona dengan benda ini, sampai-sampai aku tak menyadari kehadiran seseorang di sebelahku.

.

"Ah..ne. Apakah bisa langsung selesai hari ini?" kataku mencoba setenang mungkin agar tak ketahuan jika tadi aku sempat blank. Oh, ayolah. Tak ada yang lupa kan jika harga diriku sangat tinggi?

"Tentu, Tuan. Anda bisa langsung membawanya hari ini juga. Kami hanya meminta Tuan dan Nyonya menunggu selama 1 jam saja." Ujar pelayan wanita itu sambil tersenyum ramah padaku dan Vic noona yang entah kapan kini telah berada di sebelahku. Ya Tuhan, sepertinya aku kurang konsentrasi hari ini.

.

"Ne...tolong ukir inisial 'CK 137 LS' di bagian dalam cincin ini ya, lalu di dalam manik biru ini tolong bentuk huruf 'Q' di dalamnya." Ucap Vic yang tiba-tiba telah menyodorkan selembar kertas berisi desain ukiran untuk cincin yang tadi ingin kupesan. Cepat sekali respon wanita ini...mengerikan!

"Ne, arraseo. Tunggu sebentar, Tuan, Nyonya." Pelayan itu segera berlalu dan kini tinggalah Vic yang sedang tersenyum-senyum aneh padaku dan aku? Hanya melongo menatapnya.

.

.

"Kau...apa yang kau lakukan?" tanyaku menyelidik.

"Tentu saja membantumu...apalagi? apa kau pikir kau bisa membuat konsep design untuk ukirannya? Aku tahu kau sejak tadi terus memerhatikan cincin dan kalung itu, jadi aku hanya mencoba memahami apa yang kau inginkan." Ucap Vic santai.

.

.

.

Grep

.

.

Aku langsung memeluk yeoja Cina itu.

.

"Gomawo noona, jeongmal gomawo...kau sungguh mengerti aku." Aku semakin mengeratkan pelukanku tanpa peduli dengan rontaannya.

"Yak! Lepaskan aku! Ini menjijikkan!" Vic terus meronta sedangkan aku hanya tersenyum riang.

.

.

.

.

.

.

Setelah cukup lama menunggu. Kami berdua segera pulang. Langit sudah sangat gelap karena sekarang sudah pukul 9 malam. Aku dan Vic memilih untuk makan malam di restoran dekat apartemen Vic. Tadi aku sudah minta izin pada Nickhun-suami Vic, jadi aku tak perlu khawatir lagi.

Sesudah makan, aku langsung mengantarnya pulang kerumahnya. Sudah jam 10 malam. Aku ingin cepat-cepat pulang kerumah bertemu Sungmin dan segera memberikan hadiah ini padanya. Hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ke-2.

Sesampainya di rumah, aku sungguh terkejut karena ternyata Sungmin tengah duduk menungguku di ruang tengah. Dia bilang ada yang ingin dia bicarakan padaku. Apa itu? Aku juga sedikit penasaran dengan amplop coklat di depannya itu.

.

Deg

.

Firasatku mengatakan tidak baik untuk hal ini. Namun aku masih mencoba bersikap setenang mungkin. "Bicaralah, Ming. Cepat. Aku ingin segera tidur. Aku lelah sekali." Akhirnya kata itulah yang terlontar dari mulutku ini. Hei, siapa yang lelah? Aku malah sangat bersemangat sekarang.

.

.

.

"Aku ingin kita bercerai Kyu."

.

.

.

Satu kalimat Sungmin itu membuatku bergetar. Ketakutan yang menjadi-jadi kini kembali menyakiti hatiku. Tuhan, kuharap aku salah dengar!.

.

.

"M-mwo?" aku mencoba meyakinkan pendengaranku atas kalimatnya barusan. Aku berharap aku salah dengar. Sungguh !

"Aku ingin bercerai...aku sudah menandatangani dokumen ini. Tinggal mengisi tanda tanganmu dan kita resmi bercerai. Aku besok akan keluar dari rumah ini. Masalah orang tua kita biar aku saja yang menyelesaikannya." Sungmin berkata panjang lebar dan aku melihatnya menahan tumpahan air mata yang kini menggenang di pelupuk matanya. Jemari mungilnya mulai menyodorkan seberkas dokumen padaku yang masih berdiri menatap lekat padanya. Aku benar-benar ketakutan sekarang.

"Wae? Mengapa kau tiba-tiba ingin bercerai dariku?" sebenarnya aku ingin menangis. Namun lagi-lagi egoku yang tinggi membuat segala rasa di hatiku tak bisa keluar. Aku malah terus mencoba bersikap dingin padanya.

.

.

"Jangan memaksakan diri, Kyu. Jika tidak mencintaiku, kau sebenarnya bisa menolak perjodohan ini dan kita tidak akan menikah. Kau bahkan bisa memakiku jika memang aku telah membuatmu menderita...jangan bersikap seperti ini Kyu. Kau membuatku memupuk berbagai harapan yang terlintas di benakku dan kau juga...membuatku sakit." Sungmin menunduk. Kedua tangannya terkepal menahan tangis yang mulai keluar.

.

Tidak mencintainya? Ya Tuhan! Yang benar saja. Bahkan setiap detik aku selalu mengucapkan namanya!

.

"Min.." aku ingin mengatakan padanya bahwa pikirannya itu salah.

.

"Aku mencintaimu Kyu...sangat mencintaimu. Aku sangat berharap kau juga mencintaiku. Melihat perlakuanmu padaku saat itu aku sempat berpikiran kau juga mencintaiku walau kau tidak mengatakannya namun aku yakin perasaanku terbalas. Tapi...setelah hampir 2 tahun ini aku baru sadar, ternyata dugaanku salah. Aku bodoh. Aku telah membuatmu terlibat masalah yang membuatmu jadi membenciku..."

.

Apa? Membencinya? Siapa? Aku? Demi Tuhan, aku tak pernah membencinya! Aku malah sangat takut kehilangannya!

.

"Min.." lagi-lagi...aku mencoba menjelaskan semua padanya.

.

"Maki aku Kyu,,,hina aku...tampar aku jika kau merasa aku sudah tidak tahu diri. Jangan mengacuhkanku seperti ini. Sakit Kyu...Sakit. Aku istrimu, tapi aku tak pernah bisa memegang hatimu...kau terlalu jauh...dan aku tau itu..." Sungmin kini terisak pelan.

.

Astaga. Ya Tuhan. Jangan perlihatkan airmata itu padaku! Aku mohon! Aku rela menukar setiap tetes airmata itu dengan darahku. Tolong hentikan airmata itu! Tolong! Siapapun...tolong!

.

"Min..." nada suaraku mulai bergetar.

.

"Aku sangat menyayangimu...sejak pertama kali melihatmu di selembar foto aku sudah merasakan perasaan ini. Perasaan sayang yang begitu membuncah meluap-luap dalam dadaku. Sejak saat itu aku terus menjanjikan pada diriku sendiri, aku harus membahagiakanmu...apapun caranya. Kebahagiaanmu adalah segalanya untukku. Dulu kurasa aku adalah orang yang mampu membuatmu bahagia, tapi ternyata...aku malah membuatmu menderita...aku tak ingin lagi kau berpura-pura di depanku, Kyu. Cukup!...Jalan hidupmu bukan bersamaku...

.

Apa yang kau katakan, sayang? Kaulah hidupku! Kau nafasku! Jika kau tak ada maka aku hanyalah raga yang kosong! Tanpamu aku mati, Min! Siapa yang berpura-pura? Aku mencintaimu lebih dari apapun bahkan lebih dari nyawaku sendiri!

.

"Dan aku tahu...'dia' bisa membuatmu bahagia,...jadi, mari kita berpisah..."

.

Dia? Siapa Min? Hanya kau yang bisa membuatku bahagia!

.

"A-aku taruh suratnya di sini...kau bisa menandatanganinya kapanpun kau mau...lebih cepat lebih baik." Ujar Sungmin sambil melangkah pergi.

.

Aku masih terdiam. Ini tidak nyata! Ini tidak nyata! Aku hanya bermimpi! Jangan tinggalkan aku! Kumohon, Min! Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi!

.

"Oh iya, aku sudah mengemasi barang-barangku...mulai besok aku akan keluar dari rumah ini...aku akan pulang ke Ilsan. Malam ini, aku akan menginap di rumah Hyukkie...barang-barangku juga sudah di sana. Besok pagi-pagi aku berangkat."

.

Apa?

Jangan! Jangan pergi, Min! Jangan pernah meninggalkanku! Kumohon!

.

Tubuhku terasa ringan. Seakan ruh dalam raga ini tersentak keluar begitu saja. Aku gemetar. Seluruh tubuhku gemetar! Ketakutan itu makin terasa nyata.

.

Jangan! Aku lebih memilih mati daripada hidup tanpanya!

.

Aku langsung melangkahkan kakiku. Berlari menghampiri tubuhnya yang kini hendak membuka pintu. Jika dia keluar dari pintu itu maka aku bersumpah. Aku akan secepatnya membunuh diriku sendiri. Aku bersumpah!

.

'Greep'

.

Segera kutarik lengan mungilnya itu sehingga dia terhuyung kebelakang. Kurengkuh pinggangnya dan kubalikkan tubuh itu menghadapku. Lelehan airmata itu masih terus keluar dari mata indahnya. Dadaku terasa sangat nyeri ! Kupeluk erat tubuh mungil itu. Kurengkuh dengan erat. Aku tak peduli dia kesakitan dan meronta. Aku hanya ingin dia tetap bersamaku. Aku mencintainya!

.

.

.

"Jangan pergi...jangan pergi..."

"Jangan tinggalkan aku, Sungmin-ah...tetaplah disini..."

kata-kata itu langsung terucap spontan dari mulutku. Sungguh aku ingin menangis sekarang.

.

"Jangan tinggalkan aku...Ming..." berakhir sudah. Pertahanan yang kubangun dari tadi runtuh dalam sekejap. Airmata kini sukses mengalir dari mataku. Aku terus mendekapnya erat sehingga kini bahunya basah karena airmataku.

.

"Kyu...hiks...kau kenapa, hiks...? Apa kau menangis, Kyu? Mianhae, Kyu ...hiks...hiks...mianhae..."

Sungmin terus terisak sambil meminta maaf padaku. Tidak, Ming, tidak! Jangan meminta maaf padaku! Aku lah yang salah!

.

"Saranghaeyo, Lee Sungmin..."

.

.

Akhirnya, kalimat itu akhirnya terucap. Kalimat yang sedari dulu selalu kutahan. Kalimat yang sejak dulu ingin kuucapkan padanya sambil memeluknya dengan erat.

.

"Apa maksudmu, Kyu...kumohon...jangan membuatku kembali berharap...hiks...jangan membuat harapan palsu padaku...hiks..." Sungmin meracau sambil terus menangis. Tidak! Jangan menangis di depanku.!

.

Segera kukecup lehernya. Kucium bertubi-tubi untuk menyampaikan rasa cintaku yang membuncah. Ku mohon mengertilah Ming. Aku serius!

.

"Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo...aku mencintaimu Lee Sungmin."

Aku terus mengucapkannya masih sambil mengecup lehernya.

.

"Kyu...berhentilah berpura-pura...kau akan semakin sakit nanti...jangan bertingkah seolah-olah kau mencintaiku padahal aku sama sekali tidak ada dalam hatimu..."

.

Apa katanya? Dia tak ada di hatiku? Bahkan setiap saat hanya dia yang kupikirkan! Tidakkah dia mengerti?!

.

"Kau...kau tahu apa tentang hatiku, eoh? Jangan bertingkah seolah-olah disini kaulah yang mengerti semuanya! Apa kau masih tidak mengerti? Aku mencintaimu, Ming!"

Dengan penuh emosi, aku membentaknya. Kucengkeram kuat bahunya dan kupaksa untuk menatap padaku.

.

"Mengapa? Mengapa kau baru mengatakannya sekarang, Kyu? Mengapa kau selalu mengabaikanku selama 2 tahun ini? hiks...kenapa? Apa salahku padamu? Hiks...Jika iya, kau tinggal marah padaku! Aku sedih jika kau terus seperti ini Kyu...hiks...aku seperti istri yang tidak berguna...hiks...aku seper-hmmmpfft-..."

Aku tak tahan lagi. Langsung kubungkam bibir merahnya itu dengan bibirku. Kulumat dengan intens dan tak kubiarkan dia lepas sedikitpun aku ingin bibir yang selalu mengucapkan kata tidak percaya padaku ini berbalik mengatakan cinta padaku.

.

.

Setelah dia tenang, aku melepas pagutan bibirku, dahi kami saling menempel. Sungmin sudah berhenti terisak.

"Ke-kenapa k-kau menciumku, Kyu?" dia bertanya tanpa berani menatapku. Aku dapat merasakan terpaan nafas hangatnya saat dia berbicara.

.

.

"Masih perlukah jawaban?..." kubelai pipinya dengan lembut.

.

".."

.

" Aku-Cinta-Padamu-Sayangku.." kujeda tiap kata yang kuucapkan agar dia cepat mengerti.

.

.

"B-benarkah? Benarkah? Hiks...kau sungguh mencintaiku Kyu...hiks...sungguh?" Sungmin mendongak dan menatap lekat mataku. Dia sungguh sangat manis saat ini.

.

"Aku sungguh-sungguh mencintaimu...maafkan aku yang selama 2 tahun ini tampak mengabaikanmu...sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu...aku..a-aku...aku punya alasan melakukannya..." terus kubelai pipi chubby itu dengan sayang. Aku balas menatap matanya dengan intens. Dahi kami masih saling menempel.

.

Dia terus menatapku dengan polos. Matanya berkedip-kedip lucu. Aku tak tahan. Segera kukecup lagi bibir mungil itu dan kubawa dalam ciuman basah yang memabukkan.

"Ennggh,...Kyuuhhh...eenggh...aahhh~" Sungmin melenguh membuatku makin bersemangat mencumbunya. Kumasukkan lidahku dan kujilat semua yang ada dalam mulut mungil yang manis itu. Hangat dan menyenangkan.

"Enghhh...Ming...s-saranghaeehhh..." terus kuucapkan kalimat itu padanya di sela-sela lumatan liarku.

.

.

Cukup lama kami berciuman, sampai tiba-tiba Sungmin mendorongku sehingga pagutan kami terlepas.

.

"T-Tunggu Kyuuhh...me-mengapa...mengapa kau seperti ini? Sebenarnya kau kenapa? Jangan mempermainkanku!" Sungmin berteriak emosi padaku. Tubuhnya dengan segera menjaga jarak denganku. Aku diam. Hanya menanggapinya dengan wajah datarku.

.

"Aku punya alasan sendiri, Ming..." aku menunduk lemah. Sepertinya aku harus mengatakannya sekarang padamu. Kumohon jangan jauhi aku. Kumohon jangan meninggalkanku. Aku memanjatkan doa dalam hati.

.

"Apa Kyu? Jika kau mencintaiku, katakan padaku...jangan terus menyimpannya sendiri...aku istrimu Kyu...setidaknya sampai kau menadatangani surat cerai kita."

.

Kau memang istriku. Bahkan untuk selamanya kau tetap istriku.

.

"Aku takut nantinya kau akan merasa jijik padaku, bahkan meninggalkanku...aku takut...dan aku... tak akan menandatangani surat itu" mataku kembali memanas.

.

.

.

Aku perlahan mendekatinya. Kuraih tangannya dan kuletakkan tepat di dada kiriku. Kuputar-putar perlahan di sana. Kulihat Sungmin mengernyit bingung. Kutekan sedikit telapak tangannya di dada kiriku itu. Kini kulihat Sungmin sedikit tersentak. Aku tahu dia telah merasakannya.

"Kau bisa merasakannya sekarang kan? Inilah alasanku..."

.

.

.

.

Akhirnya dengan penuh keberanian, kuungkapkan semua padanya. Semua hal yang membuatnya salah paham padaku sedikit-demi sedikit kujelaskan padanya. Segala ketakutanku akan kehilangan dirinyapun kuungkapkan padanya. Aku mempertaruhkan semuanya sekarang. Diakhir kalimatku, aku kembali menunduk. Aku tak kuat melihat reaksinya. Apa dia akan tetap bersamaku ataukah berbalik meninggalkanku selamanya? Aku kembali menangis.

.

.

.

"Kyu..hiks...Kyu..." kudengar Sungmin kembali menangis. Aku makin memejamkan erat mataku. Aku tak ingin melihat penyesalannya.

.

'Set'

.

"Mi-Miinn...ap-apa yang kau lakukan?" aku terkejut ketika merasakan belaian lembut di dadaku yang tadi terekspos karenanya.

Sungmin terus menangis sambil mengusap pelan dadaku, sesekali dia membelai bekas operasi ku dengan sayang. Sama sekali tak ada raut kecewa di wajah yang kini telah sembab itu.

.

.

"Apa,... ini juga yang menjadikan alasanmu untuk tidak menyentuhku, Kyu? Bahkan pada saat malam pertama kita?" Tanya Sungmin masih dengan aktivitasnya. Aku takut menatap matanya yang kini tengah menatapku lekat-lekat.

"Ne...mianhae Sungmin-ah. Aku tidak mau kau merasa takut dan ngeri melihatku...aku sadar tubuhku tak sempurna, aku takut kau menolakku. Sungguh, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya-...aku...-"

"Jika kau berpikir aku akan berhenti mencintaimu hanya karena luka ini, kau salah besar Tuan Cho. Luka ini... tak akan melunturkan cintaku padamu. Aku akan menjadi manusia yang sangat rendah jika mencintaimu hanya karena kesempurnaan fisikmu. Dari dalam lubuk hatiku, aku mencintaimu apa adanya...apapun kondisimu, karena kau adalah kau...aku tak akan membedakanmu dengan orang lain karena kau yang paling istimewa dalam hatiku...percayalah..." ujar Sungmin sambil menatap sendu padaku.

.

Baru saja aku akan mengatakan sesuatu padanya, namun seketika terhenti saat aku merasakan kini benda lunak dan basah menyapa permukaan dadaku.

.

"Min...ka-kau...kau...ahhnngghh~"

"Mi-Miiiinnn... a-apa yang kau lakukan?"

.

Aku terkejut. Sungmin kini tengah menjilat dadaku! Hasrat lelakiku mulai menguar akibat aksinya ini. Segera kudorong kepalanya dengan pelan agar tak menyakitinya, namun sia-sia. Dia tetap betah memainkan lidahnya di dada dan bekas operasiku.

.

"Kyuuuhh...engh...slurp...eunngghh." Sungmin melenguh menikmati permainannya.

.

"Akhhh..Min-ah..ja-jangan di-ukh- ja-jangan di-gi-gittt~..." aku mendadak lemas ketika bibir plum Sungmin mengemut tonjolan bekas operasiku dan sedikit mengeratkan gigi kelincinya di bekas luka itu. Tubuhku limbung, namun Sungmin cepat-cepat menarik pinggangku dan mencoba menahan bobot tubuhku di tubuh mungilnya.

.

"Min...ka-kau akan menyesal...ughhh...melaku-kan ini padaku~~" desahku mengancam Sungmin saat namja itu kini mulai bermain-main di area leherku.

.

"Oh ya? Enngghh~...Begitukah? Cepat buat aku menyesal, Chooo~..." Sungmin sengaja mendesah berat di telingaku dan sesekali menggelitik lubang itu dengan lidahnya sehingga kini telinga kiriku mengkilat karena saliva Sungmin.

.

"Kyu~...i wanna your big cock, noww~" desah Sungmin sambil menatap sayu mataku. Jemarinya kini sibuk mengelus-elus 'Little Cho' yang telah membesar dan menegang sempurna.

.

"Ka-kau nakal, sayang~..." aku menggeram frustasi dengan ulah liarnya itu.

.

"Hukumlah aku yang nakal ini, Master~..." ucapnya sambil mengerling menggodaku.

.

Baiklah sayang. Kau yang memintanya. Jadi, jangan menyesal.!

.

Segera kucengkeram butt-nya, menggendongnya kekamar lalu mulai kucumbu tubuhnya sambil sesekali mendesah erotis di telinganya.

.

Well

Sepertinya malam ini, aku akan 'mendapatkannya' lagi.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

(END...TO KYU'S HEART)


.

ANNYEONG CHINGU-YA...!

Hyun datang lagi...

Maaf jika chappie kemarin kurang memuaskan...cuma itulah alur cerita yang Hyun buat...mianhae...jeongmal mianhae...

Oh iya, ni chappie Hyun update sehari lebih cepet dari yg Hyun janjiin cz Hyun tkt Hyun gx bs update hari jumat...skrg Hyun lg skt...hiks...mianhae...

Hyun mhon doanya ma temen2 sekalian...skrg Hyun dah di RS CHRTAS Palembang...doain Hyun cpt sembuh...hiks..hiks... T-T

.

.

Untuk special kisseu Hyun dah gx kuat lagi ngetik na. tapi Hyun dah bc semua rifyu kalian, makaci banyak. Hyun sayang kalian...maaf gx bs disebutin atu2...(Mian tuk typo yg bejibun)

sekali lagi mianhaeeeee,,,,,,,#deepbow m(_ _)m

.

.

C U in the next chappie...with APPA EOMMA MOMENT (KYUMIN POV)

SARANGHAE...^^