Title : Because you love me, Chanbaek ver

Couple : ChanBaek, JongMin dan selanjutnya masih dipikirkan..

Meski judulnya sama tapi cerita sangat berbeda dan tak berkaitan..

Chapter 2

Part 1 : I'm back

. . .

. .

.

Usai waktu makan pagi berakhir, semua gisaeng diperintahkan untuk berkumpul di aula gibang. Setelah semua gisaeng berkumpul, mereka saling mengobrol dengan cara berbisik-bisik satu sama lain. Pasalnya, tak biasa seluruh gisaeng dikumpulkan bersama dari tingkat Samsu sampai Haengsu. Sebenarnya Bakhyun merasa kurang enak badan hari ini. Ia bahkan menghabiskan sarapannya di kamar. Tapi karena ini perintah dari sang omma. Mau tak mau Baekhyun yang selalu patuh ikut berkumpul di aula.

Beberapa menit setelah semua berkumpul, Minseok datang dengan baju hanbok cerah berwarna pink dan Chima khususnya yang sangat panjang dan terbuat dari sutra berwarna kuning. Sesuai dugaan para gisaeng pasti akan ada pengumaman yang sangat penting. Para gisaeng langsung berhenti mengobrol dan memberikan penghormatan di tempat nya masing-masing. Setelah itu barulah Minseok duduk di tempatnya.

"hari ini kalian semua dikumpulkan karena kita akan mendapat tamu penting untuk besok malam. Aku harap kalian bisa mempersiapkan semuanya dengan baik. Para samsu harus membersihkan dan mempersiapkan tempat ini sebaik mungkin. Lalu para Haengsu siapkan pertunjukkan kalian. Buat besok malam menjadi salah satu malam termeriah yang pernah ada. Bersiaplah untuk menghabiskan malam kalian bersama seorang pria nantinya."

Para samsu sempat lemas karena harus mendapat tugas membersihkan tapi akhirnya mereka senang karena akan ada malam bersama para pria. Berbeda dengan para haengsu yang sudah senang dari awal karena mereka bisa menampilkan pertunjukkan kembali.

Salah seorang dari deretan haengsu, seorang gadis yang memakai hanbok kuning menundukkan kepalanya terlebih dahulu sebelum bertanya. Kemudian baru ia berani menatap Minseok.

"Ma-nim," panggil gadis itu dengan suara yang lembut dan sopan. Lalu Minseok balas menatapnya yang menandakan ia mengijinkan gadis itu untuk melanjutkan perkataannya.

"kalau boleh saya tau siapa tamu kita itu?"

"tamu kita sebuah perkumpulan yangban dari kerabat dekat raja jeseon terakhir, yang masih tersisa. Salah satu dari mereka ada anak sulung dari keluarga Park. Park *dae-gam(tuan untuk bangsawan tingkat tinggi) khusus meminta kita untuk mengajarkan nya tradisi Korea karena selama ini ia menghabiskan waktu pendidikannya di Boston, Amerika. Arachi, Taemin."

"algeusheumita Ma-nim."

Gisaeng haengsu itu -Taemin- mengangguk mengerti. Kemudian Minseok memutar kepalanya memandangi para gisaengnya. Semua dari mereka menundukkan kepala yang artinya tak ada lagi yang ingin bertanya. Tak terkecuali Taemin yang tersenyum diam-diam saat menundukkan kepalanya.

"baiklah. Saya rasa pengumuman ini sudah cukup jelas. Kalau begitu kalian bisa kembali ke tempat masing-masing."

"ne, Ma-nim."

Jawab semua gisaeng serentak sambil menundukkan kepala mereka hormat. Minseok sempat memandang wajah anaknya yang terlihat pucat terlebih dahulu, sebelum ia bangkit berdiri dari tempatnya, lalu meninggalkan aula.

~Chan0-*.*-0Baek~

Keesokannya, siang hari di Incheon airport. Di bandara dipenuhi orang-orang yang sibuk sana-sini. Seorang pria tua berjas hitam, berdiri tegak menunggu penumpang yang sedang turun dari pesawat, penerbangan Boston-Seoul yang baru saja diumumkan. Pria itu mengangkat kertas yang bertuliskan 'anak sulung tuan Park!' begitu melihat para penumpang yang mulai keluar dari gerbang penumpang.

Seorang pemuda tinggi yang mengenakan celana panjang juga mantel berwarna hitam tak lupa kacamata hitam yang menutupi mata nya. Pemuda itu terlihat begitu memukau, terbukti dari banyaknya wanita yang mengikuti dia di belakang. Pemuda itu berjalan sambil menarik kopernya menghampiri pria yang mengangkat kertas tadi. Pemuda itu langsung membuka kacamatanya dan tersenyum pada pria itu, sambil menunjuk kertas yang dipegangnya.

"hmm,, apa ahjussi melupakan nama ku?" dahi pemuda tampan itu mengerut.

"tentu saja tidak, tuan muda Chanyeol."

"lalu kenapa harus menulis seperti itu, Han ahjussi?!"

"hmm,, bagaimana ya, saya mengatakan nya?" jawab pria itu ragu..

"katakan saja ahjussi!"

"ada seseorang yang menyuruh saya."

"itu pasti appa!"

"sebenarnya ada dua, tuan muda."

"oh.."

"kenapa tuan muda memakai hitam-hitam, memang mau melayat?"

"hmm,, black suit sedang trend saat ini di Boston. Lagi pula pulang ke rumah seperti sesuatu yang membuat ku merasa buruk.."

Sekilas ahjussi itu melirik tuan mudanya, prihatin.

"ah,, ya sudahlah.. aku ingin cepat-cepat ke rumah sekarang!"

Chanyeol merangkul pria itu dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menarik koper. Mereka jalan bersama menuju pintu keluar.

~Chan0-*.*-0Baek~

Begitu sampai di kediaman nya yang sangat besar, Chanyeol langsung membuka pintu mobil dan menghempaskannya keras. Kemudian Chanyeol berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia berlari menuju ruangan appanya. Disana ia segera memeluk pria tua yang memakai sweater putih itu sambil berteriak girang.

"appa!"

Pria tua itu tersenyum senang mendekap kembali tubuh anaknya.

"aku juga merindukan mu, adeul."

"kenapa appa tiba-tiba meminta ku untuk pulang? Selama ini aku selalu ingin pulang tapi appa terus melarang."

"appa hanya menunggu waktu yang tepat. Kalau kau pulang sebelum menyelesaikan kuliah mu. Kau pasti tak mau kembali kesana. Sekarang kau sudah menyelesaikannya, jadi aku tak perlu khawatir kalau kau tak mau kembali."

"hanya itu?"

Chanyeol melepaskan pelukannya dari sang appa. Ia memegang kedua bahu appanya dan menatap mata sang appa sungguh-sungguh.

"tidak ada yang lain, appa?" lanjutnya.

Tuan Park hanya diam dan memalingkan kepalanya dari adeulnya. Chanyeol cukup tau apa yang dimaksud sang appa. Pemuda itu tetap tersenyum walau hatinya ikut sedih seperti tuan Park saat ini.

"aku harap kau bisa bersiap-siap malam ini. Kau harus pergi ke Pyongyang, belajarlah tentang budaya kita disana. Kau harus bisa menjadi penerus keluarga kita, Chanyeol-ah."

Seketika senyuman Chanyeol memudar begitu mendengar ucapan sang appa. Ia tau kalau sekarang ia harus menjalankan realitanya. Sebagai satu-satunya harapan dalam keluarga.

~Chan0-*.*-0Baek~

Selesai menemui sang appa, Chanyeol berjalan menuju kamarnya. Ia membuka mantel nya kemudian membuka lemari. Semua isi baju tidak ada yang berwarna hitam dan tertata rapih. Ia mengambil sebuah celana pendek berwarna coklat muda dan kaos lengan pendek berwarna biru muda. Chanyeol mengganti pakaiannya dan menatap seluruh isi kamarnya yang begitu cerah. Pemuda itu mengambil sebuah kotak dari dalam kopernya yang sudah dibawakan oleh Han ahjussi tadi saat ia menemui sang appa.

Chanyeol membuka pintu kamar nya, membawa kotak kecil tadi kemudian berjalan menuju sebuah kamar yang tak jauh dari kamarnya. Membuka pintunya pelan-pelan sambil menilik kedalam. Rupanya pemilik kamar sedang ada didalam sana, terduduk di ranjangnya sambil memandang kosong ke depan, keluar jendela kamarnya yang cerah akibat cahaya matahari yang menembus kaca jendela itu.

Chanyeol masuk lalu duduk disamping pemuda itu. Memberikan kotak kecil yang dibawanya pada pemuda itu. Kemudian pemuda tampan yang warna kulitnya cukup gelap, membuka kotak kecil itu. Terdengar alunan musik begitu kotak itu terbuka dan ada entah apa itu yang jelas bukan boneka ukurannya kecil, seperti dari patung. Sebuah miniatur ballerina pria sedang menari balet berputar-putar mengelilingi kotak kecil itu. Terukir sebuah senyuman di pipi pemuda itu.

"hey,, dia bisa menari seperti ku.."

Pemuda yang tingginya hampir sepantar dengan Chanyeol itu, langsung meletakkan kotak kecil itu disampingnya. Ia berdiri kemudian menari balet mengikuti miniatur kecil itu yang masih berputar sambil menari-nari. Chanyeol tersenyum menonton pemuda itu menari sambil memperhatikan setiap detail tubuh pemuda itu yang semakin kurus sejak pertemuan terakhir mereka. Baru beberapa kali ia berputar, Chanyeol langsung berlari menarik pemuda itu untuk duduk diranjangnya begitu melihat cairan kental merah keluar dari hidung pemuda itu. Chanyeol menarik kepala pemuda itu kebelakang sementara tangan kanannya mencari tissue yang ada diatas bufet didekat ranjang. Chanyeol melap darah yang keluar dengan tissuenya.

"appu,, dda.." lirih pemuda itu.

Mendengar pemuda yang lebih muda dari nya itu mengeluh kesakitan. Chanyeol langsung berpikir berbagai cara untuk mengahlikan pemuda itu dari rasa sakitnya.

"hmm,, kenapa kau hanya duduk sendirian disini tadi?"

"karena,, euisa melarang ku menari.."

"kenapa kau tak boleh menari?"

"kalau aku menari terus, nanti aku akan seperti ini.."

Kini Chanyeol merasa sedih, ia merasa bersalah sudah membuat adiknya mimisan.

"kau suka kotak musiknya?"

"aku suka semua yang 'anak sulung Park' berikan."

"kau yang menyuruh tuan Han menulisnya?!"

"itu tulisan ku.."

"kalau aku anak sulung dari keluarga Park, lalu kau apa?"

"anak bungsu dari keluarga Kim?!"

~Chan0-*.*-0Baek~

Malam yang dinantikan para gisaeng sudah tiba. Semua hiasan sudah dipasang sedemikian rupa untuk mempercantik tampilan gibang. Minseok berjalan bersama seornag dayang pribadinya menuju kamar putrinya. Ia masuk kedalam sementara sang dayang menunggul di luar.

Minseok menghampiri putrinya yang masih tertidur. Ia tak tega untuk membangunkan Baekhyun yang masih sakit bahkan keadaannya semakin memburuk dari kemarin. Tapi begitu ia kembali bangkit berdiri, putrinya itu justru memanggilnya.

"omma sudah datang."

Minseok langsung berbalik menghampiri putrinya, membantunya untuk duduk.

"kau masih sakit, beristirahatlah."

"tapi omma, jarang sekali ada *yangban(bangsawan menteri-menteri kerajaan) yang datang. Aku tak ingin mengecewakan omma. Mereka akan mengatai-ngatai omma dibelakang kalau aku sampai bermalas-malasan disini."

"sungguh, kau ikut?"

"tentu omma." Jawab Baekhyun dengan senyum tulusnya.

Minseok melap keringat putrinya, membukakan semua bajunya. Kemudian ia memakaikan Baekhyun *sokchima(terusan putih yang didalam hanbok) juga chima satin yang besar berwarna merah. Tidak lupa dengan jeogori berwarna putih dengan corak bunga-bunga berwarna merah yang mengikuti bentuk lengan dan dada Baekhyun, mengikat otgeorum nya. Minseok juga membantu Baekhyun menata rambutnya dan memasangkan gache beserta hiasan-hiasannya. Terakhir Minseok mengaitkan 3 *norigae(aksesoris dengan berbagai macam permata dan benda berharga lainnya) berwarna hijau, merah, kuning, yang berbentuk kupu-kupu. Setelah semua selesai Minseok memeluk Baekhyun erat-erat.

"sungguh kau akan tampil malam ini. Kau masih bisa untuk mundur sekarang." Tanya Minseok sekali lagi

"tentu saja omma aku akan tampil. Terlebih lagi semua sudah siap, sekarang."

Minseok melepaskan dekapannya lalu menatap Baekhyun sendu. Baekhyun mengelus kedua pundak ommanya lembut.

"tak perlu khawatir, omma."

Entahlah, meskipun begitu Minseok tetap mengkhawatirkan Baekhyun. Mereka berdua keluar lalu Minseok memanggil dayangnya untuk mendekat dan memakaikan Baekhyun *unhye(sepatu sutra wanita yang lumayan mahal) berwarna pink cerah yang dibawanya sedari tadi.

Mereka berdua berjalan menuju tempat pertunjukkan. Disana semua gisaeng sudah siap di tempatnya masing-masing. Terutama Taemin yang sudah berdandan sangat cantik ia bahkan ikut mengenakan jeogori transparan berwarna kuning seperti gisaeng pada umumnya.

Gerbang gibang pun dibuka. Beberapa pria yang mengenakan hanbok masuk kedalam. Mereka para yangban termasuk Chanyeol disitu, berjalan menuju tempat yang sudah dipersiapkan dihalaman utama Gibang.

Chanyeol yang sudah memakai hanbok berwarna biru, rambutnya di *sangtu(model rambut pria korea baik diikat atau digulung) lalu mengenakan *heukrip(topi berwarna hitam yang digunakan seorang pejabat/bangsawan). Chanyeol duduk dengan mulutnya yang mengerucut sebal. Bagaimana ia tidak kesal. Ia pikir akan pergi ke sebuah sanggar seni tapi malah dibawa ke gibang. Chanyeol juga tidak terima dengan pakaian yang dipakainya saat ini. Sungguh menyusahkan, batinnya.

Tapi sepertinya Chanyeol tak jadi kecewa ketika pesta nya dimulai. Ada banyak makanan tradisional korea yang dihidangkan didepannya. Dari berbagai makanan Chanyeol hanya bisa mengenali *songpyeon (mochi korea), *jeon(pancake korea). Chanyeol tidak peduli apapun namanya yang penting makan. Ia menikmati makanannya sambil menonton pertunjukkan tari kipas yang dipersembahkan oleh Taemin.

Pertunjukkan kedua dipersembahkan oleh Baekhyun sebagai ketuanya. Taemin ikut kembali didalam nya. Mereka memainkan *Samulnori(permainan musik 4 alat). Awalnya Chanyeol hanya memutuskan untuk fokus pada makanan namun melihat seorang gadis dengan hanbok merah yang sedang mengenakan cadar. Gadis itu membuat Chanyeol sangat tertarik padanya. Apa lagi gadis itu begitu lihai memainkan gendang yang berbentuk seperti jam pasir(janggu).

Bahkan tanpa terasa ketika semua sudah selesai, Chanyeol tetap memperhatikan gadis itu.

'yeppeo' hanya itu yang ada dalam pikiran Chanyeol saat ini.

Setelah semua selesai. Hampir semua rombongan nya tadi sudah memilih gisaeng mereka masing-masing. Kini tinggal Chanyeol seorang. Taemin tersenyum sedari tadi, ia sudah tidak sabar menghabiskan malam bersama pemuda tampan itu. Tapi Chanyeol malah menunjuk Baekhyun, yang sedari tadi ia perhatikan. Membuat Taemin kesal dan langsung meninggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya. Minseok kaget bukan main. Selama ini tidak ada yang berani meminta putrinya. Mereka semua cukup tau kalau putri seorang hojang tidaklah mudah didapatkan.

"jesonghabnida nae-ri(tuan). Tapi dia bukanlah gisaeng yang bisa kau pinta begitu saja."

"kenapa tidak bisa? Aku ini kaum yangban. Tidak ada yang bisa boleh menolak permintaan yangban, bukan?"

"tapi hanya yangban tertentu yang boleh meminta seorang haengsu.."

Chanyeol mengeluarkan sebuah *ho-bae(tablet kayu berisi identitas) dari baju lengan panjangnya dan menyerahkannya pada Minseok. Benar dugaan appa nya tadi. Untung Chanyeol menurut dan membawanya.

Minseok tak bisa berkutik ketika membaca ho-bae itu. Disitu tertulis pemiliknya "Park Chan Ji' seorang *Ijo(menteri aparatur negara) ternyata benar kalau Chanyeol ini masih turunan asli kerabat raja Joseon terakhir.

"itu ho-bae milik kakek ku. Sekarang aku bisa bersamanya?" tanya Chanyeol sambil berdengus kesal melirik tajam mata Minseok.

Baekhyun menunduk dalam-dalam, 'bagaimana bisa ini terjadi?' sesalnya dalam hati. Mungkin seharusnya ia menuruti keinginan ommanya tadi. Tapi Baekhyun menepis semua rasa takutnya. Sebelumnya ia memang sudah memikirkan semua kejadian paling buruk yang bisa saja terjadi padanya. Bahkan ini sebuah keberuntungan bagi Baekhyun. Tidak semua gisaeng di era seperti ini bisa bermalam dengan keturunan asli yangban. Baekhyun tersenyum mengingat perkataan seseorang sementara Minseok memandangi nya khawatir.

Seorang dayang langsung mengantarkan Chanyeol kesebuah ruangan dan menyediakan makanan disana.

. . .

. .

.

To be continue . . .

Aigoo,, eotte?

Jelek ya..

Sorry ya sebenarnya penulisan ku itu acak-acakan.. Cuma pertam-tama aja bagus selanjutnya biasanya sich ngaco dan alurnya mulai hilang.. *readers mulai panik*

Aigoo aku tidak mengira loh,, kalau kalian akan merespon cerita ku, mengingat cerita ku yang sebelumnya hancur dan tak ada yang respon. Keke^^

Karena komen nya banyak aku langsung update..

Kalau banyak lagi aku bakal cepet dech,, update yang berikutnya..

Sebelum nya..

Terimakasih banyak untuk yang udah favorit dan follow cerita ku yang ini..

Dan komen-komennya dari

Park Oh InFa FaRo, nur991fah, shantyy9411, AQuariisBlue, Baekrisyeol, Mela querer chanBaekYeol, exindira, zoldyk, Pearlaqua.

Aku terima dengan senang hati semua komentar nya kalau ada yang mau keritik juga ga masalah asal jangan nge-bash ya..

Maaf untuk nama yang belum dicantum kan padahal udah komen..

Sebenarnya ini bukan setting kerajaan juga sich,, Cuma yang dalam gibang aja kerajaan dan jangan takut karena genre nya angst ya.. itu Cuma di akhir..

Aku bukan author yang kejam kok,

Cuma memang banyak yang ngeluh nangis karena cerita ku..

Udah dulu ya.. jadi curcol..

ini udah banyak kan percakapannya..

Hehe

..sorry for typho nya.. see you in next chap^^