Title : Because you love me, Chanbaek ver
Couple : ChanBaek, JongMin/XiuChen dan couple baru HoMin..(maaf kalau ga suka..)
Meski judulnya sama tapi cerita sangat berbeda dan tak berkaitan..
. . .
Maaf sebelumnya untuk yang minta NC, aku ga bisa bikin NC dan aku masih belia.. ratingnya juga aku isi Teen.. hehe^^
Lagipula cerita ini bakal jauh dari NC..
Maaf sekali lagi..
Ini cerita untuk anak-anakā¦
. . .
Chapter 2
Part 2 : First Night
Happy reading^^
. . .
. .
.
Selama di ruangan nya Chanyeol tak bisa diam saat menunggu. Entah mengapa jantung nya berdetak dengan cepat dan bahkan tangan nya berkeringat. Chanyeol mulai berpikir yang tidak-tidak. Apa dia juga penyakitan seperti ommanya? Tapi dia sudah pernah tes darah dan hasilnya negative.
Chanyeol sendiri tak tau apa yang dipikirkannya sekarang? Kenapa ia memilih gadis itu? Ia bahkan berani memberontak. Bukannya rencananya tadi ia akan langsung pulang meninggalkan kawanan nya yang lain. Memang mereka abo-nim, tentu nafsu nya berbeda.
Terakhir yang ada dipikiran Chanyeol saat ini adalah ..
Apa yang akan dilakukannya saat gadis itu datang nantinya?
Lalu bagaimana kalau gadis itu membuka baju nya?
Oh,, tidak!
Eotteoke.. eotteoke.. eotteoke ?!
~Chan0-*.*-0Baek~
Sementara itu Baekhyun kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Setelah bertahun-tahun Baekhyun menunggu. Baekhyun membuka lemarinya yang berisi beberapa jeogori transparan, yang memang biasa dipakai para gisaeng untuk menarik perhatian pria. Dari beberapa warna yang tersedia, Baekhyun mengambil yang warna merah karena chima yang dipakainya juga berwarna sama.
Minseok langsung masuk begitu saja ke kamar anaknya tanpa mengetuk terlebih dahulu/ mengumumkan kedatangannya seperti biasa. Ia kembali memeluk putri satu-satunya itu. Baekhyun merasakan pundaknya yang basah. Baekhyun melepaskan pelukan ommanya kemudian menatap sang omma yang sedang menangis.
"mengapa omma menangis?"
"sudah ku bilang seharusnya kau istirahat saja, tadi."
"memang batin seorang omma terhadap anaknya tidak pernah salah." Baekhyun mengukir senyum manisnya dihadapan sang omma.
"sudah jangan menangis lagi, omma." Pujuk Baekhyun sembari menyeka air mata Minseok dengan tangan kanannya.
"lagipula ini memang sudah tugas ku sebagai seorang gisaeng. Bagaimanapun juga aku ingin menjadi wanita yang seutuhnya, omma. Seberapa pun usaha yang kita lakukan tidak akan bisa mengalahkan takdir."
"tapi kau tetap bisa menjadi wanita seutuhnya layaknya gadis lain diluar sana. Merasakan dunia luar dan mengikuti perkembangan zaman. Kalau saja kau bukan anak dari seorang gisaeng tradisional seperti ku.. hiks.."
"jangan salahkan diri omma sendiri. Aku juga ingin punya keturunan yang akan menemani ku nantinya. Sama seperti omma yang memiliki ku. Suatu saat nanti aku yang akan bertanggung jawab atas semua gisaeng dan tentu aku tak ingin sendirian. Aku ingin punya seorang gibu yang baik seperti appa dan anak yang cantik seperti omma."
Untuk kesekian kalinya Minseok kembali memeluk Baekhyun erat-erat.
"aku hanya bisa berharap kau mendapat seorang pria yang baik. Sama seperti malam pertama ku. Semoga Tuhan melindungi mu, anak ku." Ucap Minseok lirih.
~Chan0-*.*-0Baek~
Baekhyun menggeser pintu ruangan Chanyeol, kemudian masuk kedalamnya. Baekhyun melakukan penghormatan baru duduk dihadapan Chanyeol. Mata Chanyeol terbuka lebar begitu melihat kehadiran Baekhyun dihadapannya. Wajahnya berseri-seri memandangi setiap lekukan wajah Baekhyun yang sempurna.
Baekhyun memainkan *Sanjo gayageum(kecapi untuk solo) yang sudah disediakan disana. Diam-diam Baekhyun juga mencuri pandang terhadap tuan muda yang sedang dihiburnya saat ini. Chanyeol tanpa malu bertepuk tangan setelah Baekhyun menyelesaikan permainannya.
Setelah selesai, Baekhyun bangkit berdiri lalu berjalan menghampiri Chanyeol kemudian duduk disampingnya. Ia mengambil rokok yang ada diatas meja, hendak menyalakannya. Namun, Chanyeol yang hendak mengambil rokoknya malah menyentuh tangan Baekhyun. Kemudian suasana menjadi hening seketika.
"jesonghabnida nae-ri, anda tidak merokok?"
"hmm, ne." Chanyeol mengangguk sekali sembari menghindari tatapan Baekhyun.
"algeusheumita nae-ri."
Baekhyun mengangguk mengerti lalu membuka cadar nya. Ia mengambil sumpit bersih yang tersedia di meja. Membasahi sumpit itu ke dalam samgyetang lalu memasukkan sumpit itu kedalam mulutnya. Entah mengapa itu terlihat sangat seksi bagi Chanyeol. Apa lagi ketika Baekhyun menjilati sumpitnya yang basah dengan sup. Chanyeol sempat kesulitan menelan salivanya. Kemudian Baekhyun mencabik daging ayam di samgyetang dengan lembut menggunakan sumpitnya lalu mengarahkan sumpit berisi ayam itu pada mulut Chanyeol, bermaksud menyuapinya. Tapi Chanyeol malah memutar kepalanya menghindari suapan dari Baekhyun.
"hhemm.."
Akhirnya Baekhyun menyerah. Ia tak mengerti harus melakukan apa lagi untuk menggoda Chanyeol. Bukankah tadi Chanyeol sendiri yang bersikeras untuk memakainya?
Baekhyun memutar kepalanya kebelakang berusaha menahan air matanya. Ini malam pertamanya tapi kenapa harus gagal?
Chanyeol yang merasa kalau ada yang tidak beres dengan Baekhyun. Pemuda itu pun menepuk bahu sang gadis pelan. Baekhyun memutar kembali kepalanya ke depan menghadap Chanyeol namun dengan posisi menunduk.
"hey, kau menangis?"
Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun dengan lembut keatas. Membuat mata mereka saling bertemu.
"saya sudah berusaha melakukan pelayan seperti yang dilakukan gisaeng modern lakukan dengan menyalakan rokok dan menyuapi nae-ri. Tapi nae-ri menolak semua yang sudah saya lakukan."
"itu karena aku tidak merokok dan aku sudah makan terlalu banyak dari tadi. Kalau begitu maafkan aku sudah menyakiti perasaan mu."
Baekhyun tersentuh atas perlakuan manis Chanyeol padanya. Selama ini tidak ada tamu yang minta maaf pada seorang gisaeng. Apa lagi Chanyeol seorang yangban. Sungguh sebenarnya ini tidak pantas untuk Baekhyun.
"nae-ri, nae-ri tidak perlu minta maaf. Itu adalah kesalahan saya yang tidak tau apa-apa tentang nae-ri."
"kenapa kau memperlakukan ku seperti seorang gisaeng modern bukankah ini gibang tempat gisaeng tradisional?"
"kami terkadang melakukan apa yang gisaeng modern lakukan jika berhadapan dengan turis. Saya dengar nae-ri baru pulang dari Boston, Amerika."
"ehmm,, begitu.." Chanyeol mengangguk mengerti.
"kenapa kau menggunakan cadar?"
"sebenarnya saya sedang tidak enak badan nae-ri."
"maafkan aku sudah menyulitkan mu."
"itu bukan kesalahan nae-ri. Seorang yangban bebas melakukan apa yang ingin mereka lakukan."
Baekhyun mulai menunjukkan senyuman nakalnya dan Chanyeol semakin takut. Baekhyun menarik otgeorumnya.
"Ohhh.. no!" jerit pemuda itu dalam hatinya
Chanyeol ingin sekali pingsan sekarang juga.
~Chan0-*.*-0Baek~
Minseok tak bisa berhenti mengkhawatirkan anaknya. Ia tak bisa tenang dan pergi berjalan-jalan kepaviliun. Di tengah jalan ia berputar menuju tempat yang lain. Tempat itu begitu gelap dari luarnya. Tapi Minseok menggeser pintunya, masuk kedalam, lalu menyalakan lilin penerang ruangan itu.
Tempatnya masih bersih dan sering dipakai hanya saja, untuk hari ini ruangan itu tidak terpakai. Minseok membuka jendela yang berbentuk bulat di ruangan itu. Kemudian melihat langit dari situ. Malam ini bulan purnama dan langit sangat cerah. Minseok tersenyum mengingat kembali malam pertamanya. Mungkin saja dan ia sangat berharap kalau pemuda yang menghabiskan malam bersama dengan putrinya itu sama seperti pria yang sedang diingatnya. Pria yang sangat dicintai nya sampai saat ini atau mungkin kapanpun itu. Minseok akan selalu mengingatnya dan mencintainya. Apapun yang sudah pria itu lakukan diluar sana. Itu sudah menjadi janji yang dipegangnya seumur hidup.
Flash back : on
Minseok muda yang seorang haengsu dipaksa oleh hojangnya untuk masuk melayani seorang pria yang bahkan belum pernah dilihat wajahnya oleh Minseok. Mereka bahkan mendadani Minseok dengan sangat cantik dan anggun. Malam itu Minseok merasa kalau dirinya akan hancur.
Begitu masuk kedalam, Minseok memberikan penghormatan pada pria itu namun disaat yang bersamaan ia tak dapat menahan air matanya. Pemuda yang sudah menunggunya sedari tadi itu segera menghampiri Minseok, membantunya untuk duduk. Dengan lembut pria itu menyeka air mata Minseok menggunakan saputangannya. Kemudian ia mengajak Minseok berdiri didekat jendela lalu membukakan jendela untuknya. Pemuda itu menunjuk bintang-bintang yang bersinar dilangit.
"oh, lihatlah malam ini bulan purnama!"
Seru pemuda itu girang membuat Minseok tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.
"hey,, kau tertawa."
Pemuda itu ikut tertawa lalu menggelitiki Minseok sampai Minseok jatuh ke lantai. Akhirnya malah mereka berdua saling menggelitik satu sama lain. Setelah selesai tertawa. Pemuda itu menangkupkan wajah Minseok menggunakan kedua tangannya.
"nah, kalau begini kau cantik. Jangan menangis lagi, ya."
Minseok mengangguk patuh,
"kau tau, aku sibuk memilih ruangan dari tadi sembari menunggu mu. Apa kau tau kenapa aku memilih ruangan ini?"
Minseok menggelengkan kepalanya pelan.
"karena kita bisa melihat langit dari sini lewat jendela itu."
"kenapa nae-ri begitu baik pada ku?"
"karena kau begitu cantik."
Sekarang Minseok menutup mata dan siap untuk apapun yang akan dilakukan pemuda itu padanya.
"hei, ini untuk mu."
Pemuda itu memberikan sebuah norage kupu-kupu berwarna kuning yang disimpan nya didalam lengan bajunya dari tadi.
Minseok mengambil nirage itu dengan sungkan.
"kata mereka nirage kupu-kupu akan membuat mu awet muda. Aku kesulitan mencari ini. Sekarang mencari nirage cukup sulit. Sepertinya warna kuning cocok untuk mu."
"gamsahamnida nae-ri."
"oh iya kau tak perlu sungkan pada ku. Kau bisa memanggil ku Suho."
"tapi itu tidak sopan nae-ri."
"tidak apa-apa. Lagi pula tidak ada yang melihat kita didalam sini."
Pria itu -Suho- berdiri kemudian melebarkan ranjang gulung mereka kemudian menyiapkan bantal dan selimut. Minseok benar-benar pasrah sekarang. Suho menidurkan Minseok keatas ranjang itu kemudian menyelimutinya. Minseok menutup matanya lama menunggu sentuhan dari Suho, akhirnya ia membuka matanya dan melihat Suho sudah ada disisi meja yang lain. Pria itu sedang menatap wajah Minseok.
"kenapa nae-ri memilih ku?"
"kau tau aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini. Sudah lama aku berkunjung ke tempat ini bersama appa dan selalu memperhatikan mu. Kau bertambah cantik setiap harinya. Aku selalu terpesona dengan tarian mu dan sijo yang kau buat. Otak dan sikap mu bahkan melebihi bangsawan seperti ku. Tapi kenapa kau harus menjadi seorang gisaeng ya? Benar yang omma katakan kalau gisaeng sejati selalu bisa membuat mu terpesona. Aku sudah menunggu lama untuk bisa berteman dengan mu."
Minseok hanya menanggapi Suho dengan senyuman nya.
"tidurlah. Aku tidak akan melakukan apapun pada mu."
"aku hanya berharap akan ada malam-malam berikutnya yang seperti ini. Aku tidak akan menyentuh mu sampai aku berhasil membeli mu dan membawa mu keluar dari sini."
Untuk pertama kalinya Minseok merasakan yang seperti ini..
Jantung nya berdegup kencang..
Otaknya seakan berhenti berpikir. .
Entah kenapa dadanya sesak sekali. .
Hanya ada satu orang yang menguasai hatinya saat ini..
Pemuda itu. . hanya Suho.. membuatnya tersenyum
Dan Suho. . membuatnya tertawa
Seterusnya Suho. . membuatnya gila
Sekeras apapun Minseok mencoba melupakannya tak pernah bisa. Suho sudah menyentuh hatinya.
Flash back : off
Kamar ini penuh dengan memorinya bersama Suho. Pria yang sangat dicintainya. . .
"nae-ri, apa kau baik-baik saja sekarang?"
"aku selalu menepati janji ku pada mu, nae-ri. ."
Gumam Minseok sambil terus mengamati bulan yang cerah dari jendela itu.
~Chan0-*.*-0Baek~
"stop! Don't open it!" teriak Chanyeol histeris.
Baekhyun berhenti menarik otgeorumnya, menatap manik Chanyeol dalam-dalam.
"lalu kenapa nae-ri menginginkan ku?"
Otak Chanyeol membeku seketika begitu mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia sendiri tidak tau kenapa? Yang jelas ia hanya menginginkan Baekhyun.
Dan kalau Baekhyun keluar dari kamar ini, itu sama saja dengan membunuhnya. Karena jika seorang gisaeng yang sudah disewa keluar dari kamar nya itu tandanya, penyewa tak puas dengan gisaeng itu dan mengembalikannya. Kemudian gisaeng itu akan mendapat hukuman karena sudah melecehkan martabat gibang dan hojangnya. Biasanya mereka akan mendapat hukuman mati berupa racun atau siksaan.
Dan Chanyeol tidak ingin terjadi sesuatu yang seperti itu pada Baekhyun nya. Ia bahkan sudah mengklaim kalau Baekhyun sudah menjadi miliknya(?)
"aku memang menyukai mu..
Oh tidak?! Aku sudah gila dan jatuh cinta begitu saja. .
Pada seorang gisaeng dan aku harus punya uang yang sangat banyak!"
Baekhyun tercengang mendengar perkataan Chanyeol.
Kemudian Chanyeol menjatuhkan Baekhyun bersama dirinya diatas ranjang mereka. Tangan kanan Chanyeol merangkul Baekhyun. Lalu Chanyeol menutup matanya.
"sekarang kita harus tidur dan jangan bertanya yang aneh-aneh lagi. Aku tidak ingin menyentuh mu sampai bisa membawa mu keluar dari sini!" ucapnya masih dengan mata yang tertutup.
Baekhyun hanya terkekeh melihat perilaku Chanyeol. Ia tau semua ini akan terjadi. Untung orang itu sudah memberitaukannya terlebih dahulu. Ya, Baekhyun memang lebih memilih untuk merasakannya daripada tidak sama sekali.
Cinta yang sudah ditunggu-tunggu nya..
Bintang yang mengitari nya sudah muncul sekarang..
. . .
. .
.
To be continue. .
Heyy,, sorry sekali lagi.. karena ga ada NC nya..
Sebenarnya tebakan kalian itu terlalu jauh dan.. sepertinya cerita ini akan mengecewakan karena sangat jauh dari apa yang kalian bayangkan.. =_=
Perhatikan aja benar-benar.. seseorang itu akan muncul di part selanjutnya..
Thanks a lot untuk yang follow dan favorite FF geje ini.. ^^
Thanks for comment..
Mimi, Tania3424, Khuntorians, starbucks91, Arumighty, pintukamarchanbaek, younlaycious88, SyJessi22, kriswu393, ayuluhannie, LynKim, Benivella, Park Oh InFa FaRo, nur991fah, shantyy9411, AQuariisBlue, Baekrisyeol, Mela querer chanBaekYeol, exindira, zoldyk, Pearlaqua.
Sorry typho nya.. hehe
. . .
Dan seperti nya aku bakal lama dulu untuk update FF ini..
Sorry ya^^
