Dee mohon maaf karena update-nya lamaaaa banget. Pertama, karena Dee harus ikut UN, makanya nggak bisa update. Kedua, sebenernya, Dee udah tulis fic ini sampe chapter 7, tapi beberapa file fic Dee menghilang, nggak tahu kemana. Dan Dee beneran lupa sama apa yang udah Dee tulis, meski Dee udah catet garis besarnya.
Makanya, Dee terpaksa tulis ulang. Udah gitu, karena lama nggak nulis, tulisan Dee jadi acak-acakan dan ancur banget. Semoga readers nggak keberatan dan masih tertarik dengan ceritanya ^^
Dan makasih buat yang senantiasa review dan support Dee :*
Jung Minrin
presents
Because of Her (Fujoshi)
starring
Jung Yunho
Cho Ara
Cho Kyuhyun
Shim Changmin
etc.
Warning:
BL (sometimes Straight)
Author Note:
As usual 'Bold' means 'Hints' :)
TOK TOK TOK
Yunho melirik ke arah jam dinding yang tergantung di ruang tengah rumahnya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Seketika, Yunho pun mengernyit bingung. "Siapa yang datang ke rumah pagi-pagi begini?" gumam Yunho. Ia pun memutuskan bangkit dari duduknya dan meninggalkan setumpukan pekerjaan yang memenuhi ruang tengah. Ia berjalan ke arah pintu rumahnya. Sebelum membuka pintu, Yunho mengintip sosok yang berdiri di balik pintu melalui jendela di samping pintu.
"OMO!" Dan betapa terkejutnya Yunho ketika menyadari bahwa sosok yang berdiri di balik pintu adalah Kyuhyun yang sedang membopong tubuh Changmin. Ia segera membuka pintu rumahnya. "Kyu, apa yang terjadi pada Changmin?" seru Yunho penasaran.
Kyuhyun nampak gusar. Diabaikannya pertanyaan Yunho. Ia pun segera menyeret tubuh jangkung Changmin ke dalam rumah keluarga Jung.
"Ya, ya! Kenapa kau masuk seenaknya ke rumah orang?" seru Yunho jengkel. Ia segera mengejar Kyuhyun.
Kyuhyun menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh dan menatap Yunho dengan tatapan murkanya. "Lalu, kau mau aku melakukan apa pada Changmin, heh? Membuangnya di tengah jalan?!" balas Kyuhyun dengan suara tingginya.
Entah kenapa, nyali Yunho langsung ciyut, setelah mendengar bentakan Kyuhyun. Ia hanya bisa meringis kaku ke arah namja evil yang usianya lebih muda darinya.
"Dan berhenti menunjukkan ekspresi bodohmu itu, Jung! Tak bisakah kau membantuku membawa Changmin?" tanya Kyuhyun geram.
Yunho pun mengangguk cepat. "Ah, ne, ne," balas Yunho. Ia pun membantu Kyuhyun untuk membopong Changmin.
Keduanya pun segera membawa Changmin ke kamarnya.
'Aigo, bocah ini benar-benar titisan setan,' batin Yunho, sambil sesekali melirik ke arah Kyuhyun.
.
.
"Hah..." Kyuhyun menghela nafas panjang, sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa panjang di ruang tengah rumah Yunho. Matanya terpejam sejenak, seolah berusaha melepas penat yang memenuhi tubuhnya.
Sementara itu, Yunho yang baru saja keluar dari kamar Changmin pun langsung menghampiri Kyuhyun. Wajahnya nampak geram. "Jelaskan semuanya padaku, Cho Kyuhyun," perintah Yunho dengan suara tegasnya.
Kyuhyun membuka matanya perlahan. "Ne?" Saraf otaknya mendadak bekerja lebih lambat.
"Jelaskan semuanya padaku. Kenapa Changmin bisa berada dalam keadaan seperti itu?" tanya Yunho dingin.
Kyuhyun bergidik ngeri. Selama ini, Yunho tak pernah bersikap sedingin ini padanya. Dan sikap Yunho yang dingin ini membuat Kyuhyun takut. "Aku bertemu dengan Changmin di cafe. Dan dia sudah dalam keadaan mabuk berat, Hyung," jelas Kyuhyun.
Yunho membuang mukanya. "Sebenarnya, ada apa dengan kalian berdua ini?" gumam Yunho.
Kyuhyun mengernyit tak mengerti atas pertanyaan yang dilontarkan Yunho.
Yunho kembali menatap Kyuhyun. "Bagaimana mungkin, kalian, dua orang sahabat, sama-sama pernah ditemukan dalam keadaan mabuk seperti itu?" tanya Yunho tak percaya.
Kyuhyun merasakan aura gelap di sekitarnya. 'Apakah Yunho Hyung menuduh sesuatu yang tidak-tidak pada kami?'
"Pergaulan seperti apa yang kalian ikuti selama ini, hah?!" Suara Yunho mulai meninggi. "Atau kaulah yang meracuni adikku dengan pergaulan semacam itu?" tuduh Yunho.
Kyuhyun menunjukkan sorot mata tak percaya. Ia tak percaya, kalau Yunho menuduhnya semudah itu. "A-apa maksudmu, H-hyung?" tanya Kyuhyun lemah dan terbata.
Yunho mendekatik Kyuhyun. "Selama ini, aku tahu betul sifat adikku, Cho Kyuhyun. Aku tahu betul, bahwa mabuk-mabukan sama sekali bukan ciri seorang Jung Changmin," tegas Yunho. "Dan kenapa kejadian kalian berdua mabuk itu seolah terjadi secara beruntun? Setelah kau yang ditemukan dalam keadaan mabuk, kini Changmin yang ditemukan dalam keadaan mabuk!" lanjutnya. Yunho mendekatkan tubuhnya sekali lagi ke arah Kyuhyun. Tangan kekarnya menarik baju Kyuhyun, sehingga Kyuhyun pun bangkit dari duduknya. "Katakan padaku, Cho Kyuhyun! Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?" tanya Yunho geram.
Kyuhyun takut. Sangat takut. Ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Diam-diam, ia sedang menyembunyikan air mata yang sudah mendesak keluar. "A-aku tidak melakukan apa-apa, Hyung," bisik Kyuhyun lemah. "Sungguh."
"Apa maksudmu berkata begitu?!" seru Yunho geram. "Jelas-jelas, kau adalah sahabat dekat Changmin. Kau adalah pengaruh besar dalam hidup Changmin!" bentak Yunho.
Dengan kekuatan yang masih dimilikinya, Kyuhyun pun mengangkat wajahnya dan menatap Yunho dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kau percaya bahwa aku adalah sahabat dekat Changmin kan, Hyung?" tanya Kyuhyun dengan suaranya yang serak.
Yunho terdiam.
"Seharusnya, kau tahu Hyung, seorang sahabat tak mungkin membiarkan sahabatnya terjerumus dalam kehidupan semacam itu," jelas Kyuhyun. "Dan aku sama sekali tak pernah berpikiran untuk mengotori pikiran Changmin," lanjutnya.
"Tapi, kenapa Changmin harus mabuk-mabukan semacam itu? Kenapa dia harus ikut-ikutan caramu?" tanya Yunho dengan suara yang sedikit lebih tenang.
Kyuhyun mengusap air matanya dengan kasar. Dengan susah payah, bibirnya berusaha menyunggingkan sebuah senyuman. "Kau tahu Hyung, kadang hidup tak semudah yang terlihat oleh matamu," balas Kyuhyun. "Bagimu, kehidupanmu selalu terlihat mudah. Tapi bagiku dan Changmin?" Kyuhyun menunduk dan mendongak kembali. "Hidup tak semudah itu, Jung Yunho. Kadang, kami membutuhkan pegangan, tapi tak ada yang bersedia mengulurkan tangannya untuk kami. Lantas, kami harus berpegang pada siapa?" tanya Kyuhyun sambil menahan isakannya. "Maaf, kalau aku berpikiran dangkal dengan menjadikan alkohol sebagai pelarianku. Dan maaf, kalau aku telah mempengaruhi pikiran adikmu. Aku janji, aku tak akan melakukannya lagi," ucapnya mantap. Ia kembali tersenyum.
"Kyu..."
"Aku harus pergi, Hyung," ucap Kyuhyun. "Aku hanya ingin berpesan padamu, jagalah Changmin." Dan Kyuhyun pun pergi meninggalkan Yunho yang masih terpaku di tempatnya.
.
.
"Nggh..." Changmin membuka matanya perlahan. Pandangannya agak kabur, kepalanya terasa sangat berat.
"Eh? Kau sudah bangun, Min?"
Changmin mendengar suara Yunho, meski tidak melihat sosok Hyung-nya dengan jelas. "Ne, Hyung," balasnya lemah. "Bisakah kau membantuku duduk, Hyung?" mohon Changmin.
"Ne." Yunho pun segera mendudukkan Changmin di atas ranjangnya.
Changmin mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap penglihatannya mulai membaik. Akhirnya, ia pun berhasil melihat keadaan sekitarnya dengan jelas. "Hyung? Kenapa berpakaian seperti itu?" tanya Changmin terkejut, ketika menyadari bahwa Yunho mengenakan pakaian santai, sebuah kaos dan celana pendek.
Yunho melihat penampilannya sendiri, lantas terkekeh pelan. "Memangnya, tak boleh, ya?" gumamnya.
"Aneh saja," balas Changmin. "Memangnya, kau tak bekerja, Hyung?" tanya Changmin heran.
Yunho menarik sebuah kursi ke samping ranjang Changmin dan duduk disana. "Tidak," balasnya singkat.
"Waeyo?" Changmin nampak penasaran. Padahal, Hyung-nya adalah sosok yang workaholic.
Yunho hanya tersenum, tanpa menjawab pertanyaan Changmin. "Bagaimana keadaanmu? Lebih baik?" tanya Yunho perhatian.
"Kepalaku masih agak pusing, Hyung," jelas Changmin.
Yunho mengangguk paham. "Jadi, apakah kau mau sarapan atau istirahat lagi?" tanya Yunho.
"Sarapan saja, Hyung." Ya, Changmin selalu semangat, setiap kali berkaitan dengan makanan.
Yunho tertawa pelan. "Baiklah. Aku akan mengambilkan sarapan untukmu," balas Yunho, yang kemudian bangkit dari duduknya.
Changmin menatap kepergian Yunho dengan pertanyaan, 'Kenapa Yunho Hyung berubah menjadi perhatian seperti itu padaku?'
.
.
Kyuhyun menopang dagunya dengan tangan kanannya. Matanya memandang ke arah jendela ruang kelasnya, seolah mengabaikan bahwa dosennya sudah masuk ke dalam kelas dan mulai memberikan pelajaran.
Jujur saja, Kyuhyun tak ingin melakukan banyak kegiatan hari itu. Kyuhyun merasa lelah, baik fisik maupun batin. Jadi, ia pun memutuskan untuk melamun saja.
Pikirannya kembali melayang ke kejadian beberapa jam yang lalu, ketika ia masih berada di rumah keluarga Jung. Ketika ia membawa Changmin pulang ke rumahnya, lantas perdebatan kecilnya dengan Yunho.
Kyuhyun masih tak habis pikir, kenapa ia menangis di hadapan Yunho? Mungkinkah Kyuhyun terlalu takut dengan Yunho? Tapi, kenapa pula Kyuhyun harus takut dengan Yunho?
Ah, Kyuhyun tak ingin pusing-pusing memikirkannya. Bukankah ia tak ingin melakukan apa-apa hari itu?
Dan sebagian dari dirinya merasa agak kesal atas sikap Yunho padanya. Namja itu seolah memarahinya, tanpa mengerti masalah-masalah yang dihadapinya atau Changmin.
Mungkin saja, Changmin sedang memiliki masalah, sehingga ia harus berpegang pada alkohol. Lagi-lagi, Kyuhyun dibuat penasaran. Masalah seperti apa yang sedang dihadapi Changmin?
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, tanpa sadar bahwa ia sedang berada di dalam kelas.
"Tuan Cho?" tegur Park Seonsaengnim―dosen pengajar Kyuhyun saat itu.
Kyuhyun menoleh ke arah Park Seonsaengnim. "Ne, Seonsaengnim?" balasnya takut.
"Apa yang terjadi?" tanya Park Seonsaengnim.
"A... eumm... A-aku..." Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tanda bahwa ia sedang gugup.
"Keluar dari kelas dan jernihkan pikiranmu dulu, Tuan Cho," perintah Park Seonsaengnim.
"Arrasseo, Seonsaengnim," balas Kyuhyun pasrah. Ia pun merapikan alat tulisnya dan keluar dari dalam kelas.
Setelah berada di luar kelas, ia langsung menghentakkan kakinya dengan kesal ke lantai. 'Kenapa Jung bersaudara itu menggangu pikiranku seperti ini?'
.
.
"Yoboseyo, Kyu!" sapa Changmin pada Kyuhyun melalui sambungan telepon. Kini, ia sedang berada di balkon sambil melihat pemandangan di sekitar rumahnya. Hari itu, Changmin memang sedang tidak ada kelas, jadi ia bisa bebas beristirahat di rumah.
Sementara itu, Changmin juga sudah 'mengusir' Yunho. Maklum saja, Changmin tak tahan dengan Hyung-nya yang bersikap terlalu perhatian padanya. Jadi, akan lebih baik kalau Yunho pergi ke kantor saja dan membiarkan Changmin bebas hari itu.
"Yoboseyo, Min."
Changmin mengernit heran, ketika mendengar suara Kyuhyun yang terdengar lesu. "Ada apa denganmu, Kyu?" tanya Changmin penasaran.
Kyuhyun mendesah keras. "Aku diusir Park Seonsaengnim dari kelas."
"Mwo?" Changmin terbelalak kaget. "Waeyo, Kyu?" tanya Changmin penasaran. Ia tahu bahwa Kyuhyun adalah sosok yang lebih rajin dibanding dirinya. Jadi, Changmin bertanya-tanya, apa yang membuat Kyuhyun yang rajin dan cerdas itu diusir dari kelas.
"Karena aku terlalu pintar, mungkin?" Kyuhyun tertawa ringan di seberang sana.
"Aish, dasar!" gerutu Changmin kesal.
"Oiya, bagaimana keadaanmu, Min? Kau baik-baik saja, kan?"
"Ne, aku baik-baik saja," balas Changmin mantap. "Dan kau tahu, Kyu? Hari ini, Yunho Hyung bersikap berbeda dari biasanya," jelas Changmin.
"E-eh? M-memangnya kenapa?"
"Dia lebih perhatian padaku," jawab Changmin. "Yah, selama ini, kami memang tidak bisa dibilang tidak akrab. Kami cukup dekat, tapi Yunho Hyung jarang sekali bersikap perhatian padaku seperti pagi ini. Tapi, perhatiannya itu terlalu berlebihan," jelas Changmin. "Bahkan, ia nyaris tidak pergi bekerja hanya karena ingin merawatku. Aigoo, bisa mati aku, kalau terus-terusan di dekatnya," celoteh Changmin.
"Itu pertanda baik, Min."
Changmin mengernyit. "Pertanda baik? Maksudmu?"
"Yah, mungkin Yunho Hyung berusaha memperbaiki hubungannya denganmu."
"Begitukah?" Changmin nampak meragukan opini Kyuhyun. "Oiya, bukankah kau yang mengantarku pulang semalam, Kyu?" tanya Changmin memastikan.
"Ne. Waeyo?"
"Ani. Hanya saja, kenapa kau langsung pulang?" rajuk Changmin.
"Aish! Aku harus ke kampus, Jung Changmin!"
Changmin tertawa pelan. "Kenapa pergi ke kampus, jika hanya untuk diusir dari kelas?" goda Changmin.
"Yak, Jung Changmin!"
Changmin hanya tertawa renyah. Ia merasa rasa sakit dan beban yang berada di tubuhnya menguap begitu saja. Kyuhyun berhasil meringankan bebannya.
Bukankah Cho Kyuhyun adalah sahabatnya?
.
.
"Syukurlah..." Kyuhyun mendesah lega, sambil mengelus dadanya. Ia senang karena Changmin baik-baik saja. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan kembali berjalan menyusuri lorong-lorong kampusnya.
Karena sudah diusir dari kelas, Kyuhyun pun memutuskan untuk berputar-putar saja di area kampusnya, sambil menunggu kelas selanjutnya.
Sembari berjalan, Kyuhyun pun memikirkan satu hal.
Yunho lebih perhatian pada Changmin?
Kyuhyun terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Changmin tadi. Kyuhyun tahu kalau Yunho tidak cukup perhatian pada Changmin. Meski mereka memang akrab dan sering meluangkan waktu bersama, tapi Yunho jarang sekali bersikap seperti seorang babysitter bagi Changmin.
Apapun alasannya, Kyuhyun merasa senang karena Yunho mengubah sikapnya. Setidaknya, namja itu bisa sedikit memahami masalah yang dihadapi adiknya.
Tapi Kyuhyun pun belum mengetahui masalah yang sedang dihadapi Changmin. Changmin sama sekali tidak membahasnya. Dan ia juga tak ingin merusak hari indah Changmin dengan membahas tentang masalah hidupnya. Lagipula, Changmin sudah baik-baik saja, kan?
Baiklah, urusan Kyuhyun dengan Jung Changmin sudah selesai.
Sekarang, pikiran Kyuhyun tertuju pada Jung yang lain.
Bagaimana kabar Jung Yunho?
.
.
Yunho mengusap wajahnya. Sudah 30 menit ia menatap layar laptopnya, namun tak ada sesuatu yang bisa dihasilkan olehnya. Entahlah, kondisinya memang agak kacau akhir-akhir ini.
Perdebatannya dengan Kyuhyun tadi pagi masih mengusik pikirannya. Meski ia sudah memperbaiki hubungannya dengan Changmin sesuai permintaan Kyuhyun, entah kenapa, ia masih terusik dengan bayang-bayang Cho Kyuhyun.
Yunho sungguh tak tega ketika melihat Kyuhyun menangis di hadapannya. Dan tadi adalah kedua kalinya Yunho melihat Kyuhyun menangis dan ia sama sekali tak melakukan apa-apa. Ia bahkan tak mencegah Kyuhyun, ketika namja itu pulang dari rumahnya.
Yunho khawatir jika Kyuhyun membencinya.
Tapi, kenapa? Karena Yunho tak ingin Kyuhyun tidak membantunya? Ah, bukankah Kyuhyun bersedia membantu Yunho, karena Kyuhyun hanya ingin membahagiakan orang yang dicintainya?
Yunho mengacak rambutnya frustasi. "Argh, kenapa aku harus memusingkan hal ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Dulu Cho Ara.
Dan sekarang Cho Kyuhyun.
Kenapa Cho bersaudara itu seolah terus mengganggu pikirannya?
DRRT... DRRT...
Ponsel Yunho yang tergeletak di atas meja kerjanya bergetar, tanda sebuah panggilan masuk. Yunho melirik ke arah layar ponsel yang menampilkan nama sang penelepon.
Cho Ara
.
.
"Yoboseyo, Yunho-ya" sapa Ara dengan suara riangnya. Ia sedang menghubungi Yunho melalui ponselnya.
"Yoboseyo."
"Kau sedang apa?" tanya Ara.
"Melamun di kantor."
Ara mengernyit heran, ketika mendengar jawaban Yunho dan mendengar nada bicaranya yang terkesan lesu. "Apa yang terjadi padamu, Jung Yunho?" tanya Ara cemas.
"Aigo, Ara-ya, tak tahukah, kalau kau menyiksaku?"
"Menyiksa apanya?" tanya Ara bingung.
"Putus denganmu dan berpacaran dengan Kyu itu sangat menyiksa, Cho Ara."
Ara terkikik geli mendengar Yunho yang merajuk padanya. "Perjanjian tetaplah perjanjian, Jung Yunho," balas Ara, seolah tak berdosa.
Yunho mendesah pasrah. "Tapi, sampai kapan?"
Ara terkekeh pelan. "Kau saja belum melakukan apa-apa dengan Kyuhyun," balas Ara santai.
"Belum melakukan apa-apa? Apa maksudmu?"
"Kan, aku sudah menjelaskan padamuu bahwa kalian berdua harus berkencan, jalan-jalan, makan malam bersama, bergandengan tangan dan berciuman," celoteh Ara.
"Kau serius dengan hal itu, Cho Ara?"
"Tentu saja!" jawab Ara mantap. "Ayolah, Yunho-ya! Untuk apa berpacaran dengan Kyuhyun kalau kalian belum pernah melakukan apa-apa?" seru Ara jengkel. "Cobalah mengajak Kyu berkencan," jelas Ara.
Yunho menghela nafas panjang. "Arrasseo."
Ara tersenyum kecil. 'Semoga rencanaku selama ini tidaklah sia-sia.'
.
.
TIN TIN TIN
Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah belakang. Dilihatnya sebuah Mercedes Benz G-Class yang melaju pelan di sampingnya. Seketika, ia pun menghentikan langkahnya. Ia menundukkan kepalanya dan melihat melalui kaca mobil, siapakah sosok yang mengemudikan mobil tersebut.
Tak lama, kaca jendela mobil pun diturunkan oleh sang pengemudi, menampilkan sosok namja tampan bermata musang.
"KAU?!" seru Kyuhyun kaget, setelah menyadari bahwa orang tersebut adalah Jung Yunho, orang terakhir yang ingin ia temui sekarang. Bukan karena Kyuhyun masih kesal dengan Yunho, melainkan karena Kyuhyun masih takut dengan Yunho. Ia bingun harus bersikap seperti apa di hadapan Yunho.
"Cepat masuk!" perintah Yunho dingin, sambil memalingkan wajahnya.
Karena tak ingin berurusan dengan Yunho, Kyuhyun pun memutuskan untuk mengabaikan perintah namja itu dan melanjutkan langkahnya yang baru saja keluar dari kampusnya.
"Ya, Cho Kyuhyun!" Yunho nampak begitu jengkel dengan sikap Kyuhyun dan langsung keluar dari dalam mobilnya. Ia pun mengejar Kyuhyun dan...
GREP!
"Kyaaa!" Kyuhyun menjerit keras, ketika tubuhnya dipeluk oleh seseorang.
Siapa lagi, kalau bukan Yunho pelakunya?
Kyuhyun menoleh ke belakang. "Yak, Jung Yunho, lepaskan pelukanmu!" perintah Kyuhyun. "Kau sungguh memalukan!" pekiknya.
Yunho seolah menulikan pendengarannya dan mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Kyuhyun. 'Ya Tuhan, dia ini namja atau yeoja? Kenapa pinggangnya ramping sekali?' batin Yunho. "Shirreo! Aku tak mau melepas pelukanku," rajuk Yunho manja. 'Aigo, kenapa aku bisa semanja ini pada Kyuhyun? Kalau bukan karena Ara, mungkin aku tak mau melakukannya,' gerutu Yunho dalam hati.
Kyuhyun nampak semakin panik. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dilihatnya beberapa orang yang berlalu lalang di sekitarnya sedang menatap aneh ke arahnya dan Yunho. Ia hanya bisa meringis kaku. "Ayolah, Hyung, jangan begini. Kau membuat kita menjadi tontonan," bisik Kyuhyun memelas.
"Kalau aku melepaskanmu, bagaimana kalau kau kabur lagi dariku?" balas Yunho manja.
Kyuhyun mendesah pelan. "Aku berjanji, aku tak akan kabur. Sungguh!" ucap Kyuhyun mantap.
Yunho menatap wajah Kyuhyun lekat-lekat dari arah samping. "Yaksok?"
Kyuhyun menghela nafas panjang dan akhirnya menjawab, "Yaksok."
Yunho tersenyum kecil. 'Akhirnya, aku tak perlu memeluk Kyuhyun dan mempermalukan diriku sendiri,' batinnya senang. Ia pun melepaskan pelukannya dan segera membalik tubuh Kyuhyun untuk menghadap ke arahnya. Sedetik kemudian, Yunho merasa seolah kehangatan yang ada dalam tubuhnya menguap begitu saja. Namun, ketika matanya bertemu dengan mata Kyuhyun, ia merasa detak jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. 'Aigo, ada apa denganku?'
Kyuhyun menarik nafas dalan-dalam, lantas membuang wajahnya. "Jadi, kau ingin apa, Hyung?" tanya Kyuhyun pasrah.
"Bagaimana kalau kita membicarakannya di cafe dekat kampusmu itu, Kyu?"
.
.
Kyuhyun mengetukkan jemarinya ke atas meja. Perasaannya campur aduk. Antara tak sabar, cemas, gugup, dan khawatir. Ia masih menundukkan kepalanya, sama sekali tak berani menatap wajah Yunho.
"Kyu, aku ingin minta maaf padamu," ucap Yunho yang memecah keheningan diantara mereka berdua.
Kyuhyun mendongakkan kepalanya perlahan. "K-kenapa?" tanya Kyuhyun gugup.
Yunho menggaruk tengkuknya. "Maaf karena aku sudah memarahimu tadi pagi," jelas Yunho.
Kyuhyun menatap Yunho lekat-lekat. Kedua matanya mengerjap dengan lucu. Otaknya masih berusaha mencerna setiap perkataan Yunho. Dan ia masih terkejut karena Yunho meminta maaf padanya.
"Aku hanya sedang emosi tadi pagi. Selama ini, aku sangat menyayangi Changmin. Tapi yah, seperti yang kau katakan, aku tak pernah benar-benar perhatian pada keadaan Changmin yang sesungguhnya," jelas Yunho. "Aku merasa seperti orang bodoh karena menyalahkanmu," ucap Yunho menyesal.
Kyuhyun tersenyum kecil. Tangannya terulur ke depan dan mengusap bahu Yunhi perlahan. "Gwaenchana, Hyung. Aku mengerti," balas Kyuhyun lembut.
Yunho menatap Kyuhyun lekat-lekat. Ia tak bisa mengucapkan apa-apa, selain matanya yang mengucapkan 'Terima kasih'.
Kyuhyun tersenyum senang.
Diam-diam, Yunho mengagumi sosok Kyuhyun saat ini. Ia sama sekali tak menduga bahwa bocah yang selalu disebutnya sebagai iblis itu juga bisa bersikap seperti malaikat, begitu mendamaikan hatinya. "Oiya, Kyu," panggil Yunho pada Kyuhyun.
"Ne?" Kyuhyun menurunkan tangannya dari bahu Yunho.
"Aku tahu ini kedengaran sangat aneh, tapi..."
Kyuhyun mengernyit. Ia penasaran.
"Mari berkencan!"
"Hah?!"
TBC
Summary of Questions :
Q : Kapan Yunho dan Kyuhyun kenal untuk pertama kalinya?
A : Saat mereka di bangku sekolah dasar. (untuk jelasnya, next chap akan Dee jelasin, kok)
Q : Apa Kyuhyun cinta sama Ara lebih dari sekedar saudara?
A : Enggak. Kyuhyun itu semacam kena sister complex (beberapa readers akhirnya menebak gitu, kan?)
HINTS :
Bukankah Cho Kyuhyun adalah sahabatnya?
.
Yunho sungguh tak tega ketika melihat Kyuhyun menangis di hadapannya. Dan tadi adalah kedua kalinya Yunho melihat Kyuhyun menangis dan ia sama sekali tak melakukan apa-apa. Ia bahkan tak mencegah Kyuhyun, ketika namja itu pulang dari rumahnya.
Yunho khawatir jika Kyuhyun membencinya.
Tapi, kenapa? Karena Yunho tak ingin Kyuhyun tidak membantunya? Ah, bukankah Kyuhyun bersedia membantu Yunho, karena Kyuhyun hanya ingin membahagiakan orang yang dicintainya?
.
Ara tersenyum kecil. 'Semoga rencanaku selama ini tidaklah sia-sia.'
.
Ia pun melepaskan pelukannya dan segera membalik tubuh Kyuhyun untuk menghadap ke arahnya. Sedetik kemudian, Yunho merasa seolah kehangatan yang ada dalam tubuhnya menguap begitu saja. Namun, ketika matanya bertemu dengan mata Kyuhyun, ia merasa detak jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. 'Aigo, ada apa denganku?'
Hint 1 menjelaskan tentang perasaan Changmin pada Kyuhyun :)
Hint 2 menjelaskan tentang perasaan Yunho yang ada kaitannya dengan masa lalunya ^^
Hint 3 menjelaskan tentang rahasia Ara
Hint 4 kembali menjelaskan tentang perasaan Yunho saat ini pada Kyuhyun
Ya Tuhan, fic apa ini?
Hancurkah? Pendekkah? Dee minta maaf. Dee akan berusaha memperbaikinya di chapter selanjutnya asalkan Dee tetep dapet dukungan dari readers.
Oiya, dating-nya YunKyu Dee keep dulu sampai chapter selanjutnya, ne? Semoga readers sabar menunggu momen YunKyu-nya ;)
Dee butuh banget dukungan dari readers untuk memperbaiki tulisan Dee ini. Jadi, mohon tinggalkan review, ya?
Love,
Jung Minrin
