Sebagian orang di dunia ada yang memiliki kehidupan gelap dalam hidupnya. Kehidupan yang awalnya normal, menjadi bagaikan mimpi buruk. Termasuk aku, Uchiha Sasuke dan dia, Hyuuga Hinata.

Naruto © Masashi Kishimoto

Darkest Life © Jackquin

Rate : M

Warning : OOC, alur kecepetan, typo(s), dan lainnya.

Author Newbie. Mohon bimbingannya.

A/N : SELURUH karakter di fict ini (mungkin) OOC, demi kelancaran cerita. Rate M untuk hal-hal yang 'menjurus'.

Aku termenung di kamar rumah sakit ini. Pandanganku sepenuhnya terkunci pada sosok gadis yang sedang terbaring di ranjang, Hinata. Aku benar-benar terkejut ketika mendengar dari dokter bahwa Hinata, gadis yang aku tolong ternyata hamil, dan ironisnya dia mengalami keguguran.

Oh Tuhan…

Aku mengusap wajahku dengan kasar. Mimpi apa aku semalam?

"Ugh…" Terdengar rintihan pelan. Aku segera menghampiri Hinata.

Aku sentuh pelan lengannya, takut mengagetkannya. "Hinata, bagaimana perasaanmu?" Aku bertanya selembut mungkin. Jujur, aku tidak tega untuk mengatakan pada Hinata bahwa dia keguguran.

Hinata tersenyum lemah, "Aku tidak apa-apa, Sasuke. Apa yang terjadi denganku?" Hinata berusaha duduk, tapi aku tahan.

"Kau berbaring saja, tidak usah beranjak dari ranjang ini."

Hinata diam, tapi dia melirik segelas air di sisi ranjang, "Ah, kau haus ya?" kataku, aku meraih gelas itu dan meletakkan sebuah sedotan yang sudah disedikan. "Sini, aku bantu minum."

Hinata meneguk air di gelas itu dengan bantuan sedotan. Disedot perlahan, hingga menyisakan setengah dari isi gelas. Setelah merasa cukup, dia kembali berbaring.

"Terima kasih, Sasuke."

Aku duduk di pinggir ranjang, sambil memperhatikan wajah Hinata. Sedangkan yang aku tatap tampak salah tingkah. "A-a-ada apa, Sasuke? K-kenapa kau melihatku seperti itu?"

Aku tersenyum tipis. "Tidak. Hanya saja aku merasa wajahmu manis juga kalau diperhatikan seperti ini."

Hinata tidak menjawab, tapi wajahnya yang sedikit pucat itu menampakkan rona merah. Aku tidak bisa menahan senyuman lebarku. Melihatku tersenyum, Hinata memalingkan wajahnya, semburat merah di pipinya makin gelap. Asyik juga menggoda Hinata.

Entah sadar atau tidak, tangan Hinata mengelus perutnya. Senyumku seketika itu juga lenyap, mataku tidak bisa lepas dari tangan Hinata yang sibuk mengelus perutnya naik-turun. Tanpa aku sadari, tanganku ikut mengelus perut Hinata.

Hinata terkejut. Dia menatapku bingung. "Kenapa kau mengelus perutku, Sasuke?" Hinata menyingkirkan tanganku dari perutnya, "T-t-tolong jangan menyentuh perutku seperti itu." Hinata memalingkan wajahnya lagi.

Aku tidak tahu harus berkata apa. "Eh, maaf, Hinata. Mungkin aku terbawa suasana karena kau mengelus perutmu." Aku berdeham, menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba menyerangku. "Apakah… Apakah perutmu masih terasa sakit?"

Hinata terdiam mendengar pertanyaanku. Bahkan tangannya yang dari tadi sibuk mengelus perutnya, ikut berhenti.

"T-t-tidak. Perutku baik-baik saja."

Aku tahu dia berbohong. Ku beranikan diriku untuk mengatakan kenyataan yang sesungguhnya pada Hinata. Aku tidak ingin dia terlambat mengetahui bahwa bayinya tidak terselamatkan.

"Kau tahu, Hinata? Kau… Mengalami… Eh, bagaimana mengatakannya ya?" Aku bingung bagaimana memberitahu Hinata agar dia tidak sedih. Aku ini bukan tipe manusia yang pintar merangkai kata-kata manis.

Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal, kebiasaanku kalau aku bingung.

"Kau mau mengatakan apa, Sasuke? Katakan saja." Ujarnya lembut, tapi masih tetap memalingkan wajahnya.

Aku menghela napas dalam-dalam. Sambil menggenggam lembut tangannya, dan mengumpulkan seluruh keberanian yang bisa aku kumpulkan, aku berkata, "Kau mengalami… Keguguran, Hinata. Saat kau sakit perut, bayi dalam kandunganmu tidak terselamatkan." Uh, aku mengatakannya dalam satu tarikan napas.

Hinata menoleh cepat ke arahku. Wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan. "A-a-apa katamu?" Kemudian, isakan lirih meluncur dari bibir mungilnya.

Aku mengelus rambutnya, "Maafkan aku, Hinata. Harus mengatakan ini padamu."

Hinata tidak menjawab, dia memejamkan matanya sambil terus terisak, pipinya banjir air mata. Dan aku tidak tahan melihatnya. Segera ku peluk Hinata, sambil mengusap punggungnya berkali-kali.

"Ssshh.. Menangislah, Hinata. Aku tidak akan melarangmu menangis. Tumpahkan semua kesedihanmu. Tumpahkan semua rasa kecewamu. Tapi berjanjilah, setelah ini kau tidak akan pernah menumpahkan air mata barang setetespun."

Hinata menangis keras, dia mencengkeram erat bagian depan kemejaku. "A-a-aku sangat membenci ayah anak ini, Sasuke. Tapi bagaimanapun, dia anakku. Dia tumbuh di dalam rahimku. B-bagaimana mungkin aku seceroboh itu hingga a-a-anakku.. Anakku…" Hinata mencengkeram kemejaku semakin erat.

Bahuku basah total karena air matanya. Tapi aku sama sekali tidak ambil pusing. Hal yang aku pikirkan adalah, kenapa Hinata bisa hamil? Siapa yang tega menghamili Hinata? Apa ini yang menyebabkan Hinata nekat terjun ke sungai?

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

Aku dan Hinata baru saja pulang sekolah. Dan sepanjang perjalanan, aku dan Hinata sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Sudah satu bulan berlalu sejak kematian anaknya. Semenjak kejadian itu, Hinata jadi lebih pendiam. Kalau aku tanya pun, paling hanya dijawab anggukan, gelengan, atau pun gumaman tidak jelas. Dia hanya berbicara seperlunya saja.

"Kau mau makan apa, Hinata?" tanyaku, sambil memasukkan kunci pada lubang kunci. Setelah ku putar kuncinya dua kali, pintu terbuka dan kami segera masuk.

Hinata tidak menjawab, pandangan matanya kosong. Sepertinya dia melamun lagi.

Ku tepuk lembut bahunya, "Hei, Hinata? Jangan melamun." Dan sepertinya benar tebakanku, karena dia sedikit terperanjat, padahal aku bertanya dengan pelan.

"Eh? Tidak, Sasuke. Aku tidak melamun." Jawabnya lirih, kemudian dia segera memasuki dapur, dan menata belanjaan kami di lemari es. Tadi kami sempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, karena lemari es ku mulai kosong.

Kalau dulu, sebelum ada Hinata, aku tidak pernah peduli dengan isi lemari es ku. Kalau lapar, aku tinggal makan di luar. Lagi pula aku tidak mau mengeluarkan uang ekstra untuk perbaikan dapurku kalau aku nekat memasak.

Hinata selalu menolak makan di luar, dia memasakkan makanan yang enak setiap harinya. Makan di luar tidak sehat, begitu katanya. Kalau aku sih, asalkan bisa membuat perut kenyang apapun jadi. Tapi kalau dipikir-pikir, aku lebih bisa menghemat uang jika makan di rumah.

"Aku masakkan sesuatu, ya, Sasuke? Kau kan mau berangkat kerja. Cepat mandi, nanti kau terlambat kerja." Hinata tersenyum lembut.

Aku mengangguk, dan segera menyambar handuk di jemuran. Aku harus segera mandi, kalau tidak mau terlambat bekerja.

Setelah limabelas menit berkutat di kamar mandi, aku sudah siap dengan seragam kerjaku. Ku hampiri Hinata di dapur. Bau masakan segera tercium. Sepertinya enak.

"Hei, Hinata. Apa yang kau masak?" Kataku, sambil merapikan lengan seragamku.

Hinata menoleh. "Oh, aku masak cumi-cumi. Kau suka, kan?" Hinata melanjutkan mengaduk makanannya. "Dan aku buatkan jus tomat, nanti diminum di tempat kerja, ya."

Aku tersenyum. Hinata dan aku jadi terlihat seperti pasangan suami istri. Aku terkejut sendiri dengan pemikiranku itu. Segera aku gelengkan kepalaku kuat-kuat. Mendekati pacaran saja tidak, suami istri dari mana?

"Kau kenapa, Sasuke?" Hinata menatapku bingung.

Aku menggeleng sambil tersenyum, "Ah, tidak ada apa-apa. Aku makan ya, sudah lapar. Nanti jusnya pasti aku habiskan." Kemudian aku segera menghabiskan makanan yang terhidang di meja.

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

Aku melihatnya.

Seseorang dengan seringai mengerikan yang membuat seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Berada tepat di atas tubuhku.

Aku berusaha menjauh, tapi tangannya yang menjijikkan itu menahan kedua lenganku, mencengkeramnya. Aku berusaha berteriak, tapi dia segera membungkam mulutku dengan bibirnya.

Dengan kasar, dia menggigit bibirku hingga berdarah. Sepertinya dia kesal karena aku tidak segera membuka bibirku agar dia bisa menelusupkan lidahnya di mulutku. Lidah menjijikkan seperti itu membuatku ingin muntah.

Kemudian dia mengancamku, "Hinata sayang, kau tidak ingin mati muda, kan? Makanya, jangan berontak."

Dengan bodohnya aku menurut. Isak tangis aku tahan sekuatku, aku menuruti setiap keinginannya. Meski rasanya aku ingin mencakar wajahnya.

Kemudian dia membelai wajahku, "Anak pintar. Sekarang, biarkan aku merasakan tubuhmu yang menggoda itu, sayang." Setelahnya, dia membuka paksa baju yang aku kenakan. Termasuk pakaian dalamku.

Aku merasa seperti seorang wanita murahan.

Aku tidak bisa berpikir jernih ketika tangannya membelai payudaraku. Tidak hanya tangannya, tapi mulutnya tidak bisa diam. Dia mengulum puncak payudaraku, seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Lidahnya bergerak-gerak menjijikkan, dan aku sangat ingin memotong lidahnya.

"Ah, tubuhmu sangat indah, sayang. Aku beruntung menjadi orang pertama yang mencicipi rasamu." Bisiknya.

Aku semakin tidak bisa menguasai tubuhku ketika bagian pribadiku dimainkan olehnya. Aku mengerang, tapi sepertinya itu sebuah kesalahan, karena dia malah makin semangat. Aku berusaha meredam suara mengerikan yang berasal dari mulutku sendiri dengan menggigit bibirku.

"Mengeranglah, sayang. Jangan ditahan. Suaramu memang seindah tubuhmu." Ucapnya. Suaranya terdengar mengerikan, serak dan dalam. Membuat merinding.

Tubuhku menegang ketika aku merasakan sesuatu yang tumpul dan besar menyentuh liang kewanitaanku. Aku berusaha menggerakkan pinggulku dan merapatkan pahaku, untuk menghindari benda tumpul mengerikan itu.

"Sssshh.. Diamlah, Hinata sayang. Jangan membuatku marah."

Tentu saja aku tidak tinggal diam, aku menampar wajahnya.

Dia terlihat tidak suka, dan benar saja, dia menampar balik wajahku dengan keras hingga mataku berkunang-kunang. Aku bisa merasakan sesuatu yang asin di dalam mulutku.

Dia mencengkeram wajahku kasar. "Ternyata kau menginginkan permainan kasar, ya? Baiklah. Padahal akan terasa sangat sakit, ini adalah pengalaman pertamamu, sayang. Akan aku buat kau tidak melupakan malam indah kita bersama ini."

Benda tumpul mengerikan itu menerobos masuk ke kewanitaanku dengan kasar.

"Aaaaaarrrrrrggghhhhh"

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

"Aaaaaarrrrrrggghhhhh"

Aku segera melompat dari sofa, begitu mendengar suara teriakan histeris Hinata. Hampir setiap malam Hinata seperti itu, berteriak histeris sambil menangis meraung-raung.

Aku segera memasuki kamar dan menyalakan lampu.

Aku melihat Hinata menjambak rambutnya dengan kasar, hingga beberapa terlepas. Astaga, bisa-bisa kau botak, Hinata!

Aku meraih tangannya, "Hinata, hei, Hinata. Ini aku, Sasuke." Aku menariknya dalam pelukanku. Aku usap lembut rambut dan punggungnya, seperti biasa. Hinata mulai tenang kalau aku mengelusnya seperti itu.

Hinata mulai tenang, meski napasnya masih tersendat-sendat. "D-d-d-dia datang, Sasuke. Aku takut! Manusia menjijikkan itu datang!" gumamnya.

Aku penasaran, sebenarnya siapa yang sudah membuatnya jadi seperti ini? Dia selalu menggumamkan hal yang sama setiap kali dia histeris, 'dia datang' 'dia datang'. Tapi aku sama sekali tidak tahu siapa yang sedang dia bicarakan!

Aku menyerahkan segelas air yang memang sudah aku siapkan di meja samping ranjang. "Minumlah, Hinata. Kau akan segera merasa baikan."

Tapi Hinata menolak, dia menjauhkan gelas itu dari wajahnya dengan telapak tangannya. "T-t-tidak apa, Sasuke. Kau tidur saja, kau pasti lelah. A-a-aku tidak apa-apa, sungguh." Kemudian Hinata menarik selimut dan kembali terlelap.

Tapi ketika aku akan beranjak, Hinata menahan tanganku, "J-j-jangan pergi, Sasuke. A-aku takut. Ku mohon." Hinata memelas, dan aku jadi tidak tega.

Akhirnya aku tidak jadi tidur, aku menunggui Hinata hingga dia tertidur kembali.

Aku benar-benar penasaran, sebenarnya siapa manusia bejat yang tega menghancurkan Hinata? Kalau boleh aku mengatakan, Hinata adalah tipe gadis idamanku. Dia tenang, tidak berisik, pintar memasak dan mengurus rumah.

Seandainya aku tahu siapa yang membuat Hinata jadi begini, aku bersumpah akan membunuhnya!

Siang harinya, pada jam istirahat makan siang di sekolah, aku dan Hinata makan siang di kantin. Hinata tidak sempat membuat sarapan karena aku dan dia sama-sama terlambat bangun. Aku baru bisa kembali tidur pada pukul 4 pagi.

"Maaf, Sasuke. Gara-gara aku kita jadi terlambat bangun." Hinata berkata lirih, sambil menundukkan wajahnya.

Aku menoleh, kemudian aku sentuh bahunya. "Hei, santai saja. Aku tidak apa-apa, kok." Aku berusaha tersenyum sebisaku, berusaha menyembunyikan rasa kantukku yang teramat menyiksa. Kepalaku sakit, rasanya seperti ada batu besar di atas kepalaku.

Tubuhku lelah, harus sekolah dan bekerja, kemudian aku harus selalu terjaga setiap malam untuk menenangkan Hinata. Tapi aku sama sekali tidak keberatan, karena Hinata sama sepertiku. Memiliki kehidupan yang bagaikan mimpi buruk.

"Sebagai permintaan maaf, nanti aku buatkan masakan yang enak sepulang sekolah, mau tidak?"

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi tawaran Hinata.

"Heeeeei~ Temeeee~"

Aku menegang, begitu pula dengan Hinata. Bahkan sampai sekarang pun, Hinata selalu tegang bila didekati oleh laki-laki selain aku. Aku tidak tahu penyebabnya, tapi aku selalu berusaha semampuku untuk membuat Hinata nyaman.

Naruto menghampiri kami, "Wah, ada Hinata!" Naruto duduk dihadapan kami, Hinata tampak semakin tidak nyaman. Dia mulai mencengkeram pinggangku.

Aku menghela napas. "Hai, Dobe." Jawabku datar. "Ada apa?"

Naruto mengunyah kue yang dibawanya. "Aku dan Sakura akan mengerjakan tugas kelompok yang tadi diberikan oleh Anko sensei. Kau dan Hinata kan satu kelompok dengan kami, mau ikut mengerjakan?"

Aku melirik Hinata, "Hn. Kapan?"

"Nanti, sepulang sekolah." Naruto menyeruput jus jeruk yang dibawanya. "Kau mau kue, Hinata?" yang ditanya hanya menggeleng kaku.

Aku menyentuh tangan Hinata yang ada dipinggangku, "Aku tidak bisa, Dobe. Aku sudah ada janji. Kau berikan saja tugasnya pada kami, nanti akan kami kerjakan berdua. Akan kami berikan kembali padamu sebelum waktu penyerahannya."

Naruto menghela napas kecewa. "Yah, baiklah kalau begitu. Nanti akan aku sampaikan pada Sakura." Kemudian Naruto berdiri, berlalu riang gembira sambil melambaikan tangan pada Hinata. "Bye, Hinata!"

Sepeninggal Naruto, Hinata melepaskan genggaman tangannya pada seragamku. "Maaf, Sasuke. Aku membuat seragammu kusut."

Aku tersenyum tipis. "Tidak apa, Hinata. Aku mengerti." Hinata membalas senyumku, tidak lebar, tapi aku sangat suka melihat senyumnya.

Hinata sedang menyumpit makan siangnya perlahan ketika aku bertanya, "Hinata, kenapa kau selalu ketakutan bila ada Naruto?" Hinata menghentikan gerakan tangannya, sumpitnya tergantung di udara.

Hinata meletakkan sumpit itu di kotak makan, kemudian dia menunduk. "Aku tidak suka didekati laki-laki manapun, Sasuke. A-aku hanya merasa tidak nyaman berada di dekat Naruto. Mungkin karena aku tidak terbiasa dengan kehadirannya."

Aku mengerutkan keningku, "Lalu kenapa denganku kau tidak takut?" Aku kembali memasukkan potongan sayur ke dalam mulutku.

Hinata tersenyum tipis. "Karena kau sudah menolongku, dan kau menyadarkanku ketika aku berniat bunuh diri." Hinata meraih sumpitnya lagi, "Tentu saja kau bukan orang jahat. Dan sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu."

Aku tidak bisa berkata-kata. "K-kau sama sekali tidak takut denganku, Hinata?"

"Tidak. Tidak sama sekali." Hinata tersenyum lagi, "Aku percaya padamu, Sasuke."

Aku tersenyum lebar, menghabiskan sisa makan siangku dengan senyum dan wajah berseri-seri. Seandainya dihadapanku ada kaca, aku tidak akan berani melihat betapa mengerikannya wajahku sekarang ini. Uh, Hinata benar-benar bisa meruntuhkan topeng dinginku.

Ku acak rambutnya lembut, "Ayo, habiskan makan siangmu. Sebentar lagi bel berbunyi."

Dan tanpa Sasuke dan Hinata sadari, sepasang mata mengamati mereka dengan tatapan penuh amarah.

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

Sepulang sekolah, aku menunggu Hinata di depan gerbang. Katanya Hinata ingin buang air dulu, karena sudah tidak tahan lagi. Aku sudah menunggu lebih dari satu jam, tapi Hinata tak kunjung muncul. Firasatku mulai tidak enak.

Aku segera menuju ke toilet wanita di seluruh penjuru sekolah, tapi aku tidak menemukan sosok Hinata. Aku mulai panik. Ke mana dia?

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

Hinata mengkeret ketakutan. Dihadapannya berdiri sesosok gadis berambut merah. Tatapan matanya tampak berbahaya. Hinata tidak mengenal gadis ini, tapi Hinata pernah melihat gadis berambut merah itu menggoda Sasuke di kelas.

Yah, Hinata akui, Sasuke memang memiliki wajah yang tampan, sangat tampan malah. Jadi wajar saja bila ada yang menyukainya.

"Kau pikir kau siapa, hah? Berani sekali kau mendekati Sasuke?!" Hardik perempuan berambut merah itu. Hinata diam saja, tidak menjawab. Dia tidak takut pada perempuan itu, tapi pada 2 orang laki-laki dibelakang perempuan itu.

"Jangan banyak bicara, Karin. Sebaiknya kau cepat selesaikan, agar kami cepat mendapatkan bagian kami." Kata salah satu laki-laki bertubuh besar sambil menyeringai.

Karin mendengus, "Sabar sedikit, Juugo. Kau selalu tidak sabaran." Kemudian Karin kembali memusatkan perhatiannya pada Hinata. "Sebaiknya kau jangan dekat-dekat Sasuke, kalau kau ingin selamat!"

"Nona manis, siapa namamu?" kata laki-laki yang bertubuh lebih kecil. Namanya Suigetsu. Dia mencolek pipi Hinata, membuat Hinata melolot horor. Bayangan laki-laki brengsek yang menodainya kembali menyeruak dipikirannya.

Hinata mulai menangis, dia memeluk tubuhnya sendiri yang mulai gemetaran, "S-Sasuke… Sasuke…" Tanpa sadar Hinata menggumamkan nama Sasuke, membuat Karin naik pitam.

Karin menjambak rambut Hinata kasar, "Hei, gadis tidak tahu diri! Berani sekali kau menyebut nama Sasuke dengan mulut kotormu?" Karin mencengkeram pipi Hinata.

Hinata menatap mata Karin, "M-memangnya kau siapa? Setahuku, Sasuke tidak punya pacar." Bagai menyiram api dengan minyak, ucapan Hinata menyulut amarah Karin lebih besar lagi.

Karin melotot, "Hei, kalian berdua! Habisi saja gadis kecil ini! Sepertinya dia tidak mengerti ucapanku!" Karin menghempaskan kepala Hinata dengan kasar, meninggalkannya bersama dengan kedua laki-laki itu.

Hinata yang panik segera lari menyelamatkan diri. Kemana pun, asal jangan sampai tertangkap kedua laki-laki menyeramkan yang mengejarnya.

"Sasuke! Sasuke! Tolong aku! Tolooooong!" Hinata berteriak histeris sambil berlari sekuat yang dia mampu. Tapi memang pada dasarnya Hinata bukan pelari yang baik, dia tertangkap.

Kedua laki-laki itu langsung menyerang Hinata, menggerayangi tubuhnya, sedang Hinata berontak seperti orang gila.

Juugo memegangi tubuh Hinata dengan kuat hingga Hinata mulai kelelahan untuk berontak.

Suigetsu mengelus paha atas Hinata. "Wow, kau mulus sekali. Kulitmu begitu halus dan terawat." Suigetsu terus menelusuri paha Hinata, tanpa memperdulikan wajah Hinata yang semakin ketakutan.

Juugo menyeringai. "Kau memang suka bermain-main, Suigetsu. Kalau aku suka yang langsung tancap gas." Tawa Juugo terdengar bagaikan tawa malaikat kematian bagi Hinata.

"Hei, kalian berdua, sampai kapan mau bermain-main? Aku akan menonton setiap adegan yang kalian lakukan pada gadis kecil itu." Karin ternyata belum pergi, dia berdiri di sudut gedung.

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

Aku terus berlari mengitari sekolah, mencari Hinata. Ke mana gadis itu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Aku tidak bisa menghentikan berbagai pikiran buruk yang muncul di pikiranku.

Ketika berlari di koridor dekat taman belakang, aku mendengar suara teriakan. Ah, itu teriakan Hinata. Kenapa dia berteriak histeris begitu? Apa yang terjadi?

Saat itulah aku melihat, Hinata sedang diserang 2 biang onar di sekolahku, Suigetsu dan Juugo. Di situ juga ada Karin. Cih, gadis murahan itu seandainya dia laki-laki sudah aku patahkan tangan dan kakinya.

"Hei, Juugo, Suigetsu, Karin! Apa yang kalian lakukan di sini?"

Mereka menoleh ke arahku dengan terkejut. Dan bukan hanya mereka yang terkejut, aku juga.

Aku terkejut ketika melihat bagian depan seragam Hinata sudah koyak, membuat bagian dadanya yang menggembung itu terekspos. Seketika itu aku murka, pikiranku dipenuhi insting untuk membunuh manusia laknat yang sudah berani-beraninya menyentuh Hinata.

"Kalian, hentikan. Atau aku bunuh kalian semua." Ucapku tajam dan menusuk.

Mungkin karena tidak mau terlibat masalah denganku, mereka akhirnya melepaskan Hinata dan menyingkir dengan teratur.

"Oh, hei, Sasuke. Aku hanya menjalankan tugas darinya." Juugo menunjuk Karin, membuat Karin melotot. "Suigetsu juga suruhan dia."

"Hei, apa-apaan kau, Juugo! Jangan sembarangan bicara!" Karin menjerit, tampak tidak terima dirinya dijelekkan di depanku.

Suigetsu melipat tangannya di depan dada. "Kami berkata apa adanya, Karin. Kalau kau mencoba untuk mencuci tangan," Suigetsu menyeringai, "Kau yang akan kami habisi terlebih dahulu."

Juugo terkekeh. "Yah, meskipun rasamu tidak seenak Hinata, paling tidak kami bisa mencicipi tubuh primadona sekolah. Kami tahu mana gadis yang sudah sering berganti pasangan dan mana yang tidak. Iya kan, Suigetsu?"

Aku memutar bola mataku. "Silahkan lanjutkan perbincangan kalian di tempat lain. Saat ini aku sangat ingin mematahkan tangan seseorang. Jadi kalau kalian ingin selamat, sebaiknya menyingkir dari hadapanku, sekarang!"

Mereka segera berlari pontang-panting.

Aku menghampiri Hinata yang masih menangis, "Hei, Hinata. Ini aku, tenanglah. Ini aku, Sasuke." Aku memeluknya, kemudian aku usap rambut dan punggungnya, cara biasa yang terbukti ampuh untuk menenangkan Hinata.

"S-Sasuke, aku takut, Sasuke." Hinata menggumam. Aku makin mengeratkan pelukanku. Hinata balas memelukku sama eratnya.

Aku membiarkan Hinata menangis beberapa saat, sampai tidak terdengar suara tangisnya sama sekali. Ternyata dia tertidur, atau pingsan, entahlah. Aku memakaikan jaketku pada Hinata. Kemudian aku menggendongnya menuju ke flat.

"Tidak jadi makan masakan Hinata, deh."

Sesampainya di flat, aku membaringkan tubuh Hinata di kasur dengan lembut. Kemudian aku lepaskan sepatu dan kaus kakinya. Oh, Tuhan. Aku membeku ketika akan membuka jaketku yang membungkus tubuh Hinata.

"H-h-harus dibuka, ya?" Aku berkata pada diriku sendiri, " Tapi kasihan dia pakai baju kotor begitu. Semoga imanku kuat. Tuhan, bantu aku menguatkan imanku, bagaimana pun aku laki-laki normal, aku masih menyukai yang indah-indah."

Aku menarik resleting jaketku, perlahan aku turunkan.

Mataku ingin aku pejamkan, tapi sepertinya mataku sedang bandel. Dihadapanku terpampang payudara besar milik Hinata. Aku meneguk ludahku dengan susah payah.

"Wow, aku tidak tahu jika Hinata memiliki…" Plak! Aku menampar pipiku sekuat mungkin. "Bisa-bisanya aku berpikiran kotor tentang Hinata."

Aku segera mengambil pakaian untuk Hinata di lemari, memakaikannya dengan buru-buru. Aku takut setan-setan dalam otakku menguasai diriku hingga aku berbuat nekat. No, no. Aku tidak mau Hinata menjauhiku juga.

.

..

Darkest Life © Jackquin

..

.

Aku dan Hinata sedang mengerjakan PR matematika yang diberikan oleh Asuma sensei tadi siang. Kami mengerjakannya sambil menikmati kue kering yang dibuat oleh Hinata.

"Sasuke, bagaimana dengan pekerjaanmu?" Hinata memasukkan sepotong kue kering ke dalam mulutnya. "Ceritakan, aku ingin tahu."

Aku menghentikan menulis di buku catatanku. "Hn. Tidak ada yang menarik, rekan kerjaku semuanya berisik. Tapi aku suka bekerja di sana, karena aku suka mengotak-atik mesin. Oh iya, di sana aku juga bekerja dengan Naruto, karena bengkel tempatku bekerja adalah milik pamannya Naruto." Aku kembali menulis di catatanku, berusaha memecahkan soal yang lumayan rumit.

Hinata tampak menegang. "Oh, punya pamannya Naruto, ya?" gumamnya. Dia meremas-remas jarinya dengan gugup.

Aku mengangkat alisku, "Iya. Memangnya kenapa, Hinata?"

Hinata menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum yang terkesan agak dipaksakan. "Aku juga ingin bekerja, Sasuke. Aku tidak enak terus-terusan menjadi beban bagimu."

Aku menghela napas. "Tidak. Tidak usah. Aku bisa menghidupi diriku dan dirimu, kau tenang saja. Aku ini laki-laki. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja, karena kau punya masalah berdekatan dengan laki-laki yang mungkin bisa membahayakan dirimu." Dan aku tidak suka kau didekati laki-laki lain, lanjutku dalam hati.

Hinata diam, tampak ragu. "Apa kau yakin? Aku merasa aku menjadi beban untukmu."

Aku meletakkan pensil yang aku pegang. "Yang bisa menentukan kau beban atau bukan itu hanya aku, Hinata. Kau tidak perlu khawatir karena kau sama sekali bukan beban untukku. Kau selalu memasakkan makanan enak untukku tiap hari dan mengurus seluruh keperluan kita di rumah, itu sudah cukup. Bagiku, kau sudah seperti…" kata-kataku spontan berhenti. Aku tertegun, hampir saja aku berkata kau sudah seperti istriku. Gila, yang benar saja!

Bayangan dada Hinata yang besar dan penuh itu tiba-tiba melintas dipikiranku. Aduh, kenapa aku harus mengingatnya?

"Seperti apa, Sasuke?" Hinata menatapku dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Sepertinya dia ingin tahu lanjutan kalimatku. Tapi maaf saja, aku tidak akan memberitahumu.

Aku berdecak, pura-pura kesal. "Sudahlah, tidak usah dilanjutkan. Intinya, kau tidak usah bekerja. Cukup urus rumah dan masak yang enak. Dan jangan coba-coba bekerja tanpa sepengetahuanku, mengerti?" aku mengetuk kening Hinata dengan pensil.

Hinata mengusap keningnya, kemudian mengangguk. "Iya, aku mengerti, Sasuke."

"Sebaiknya kita cepat menyelesaikan PR menyebalkan ini jika tidak ingin terlambat makan malam, Hinata." Ujarku, yang dibalas senyuman oleh Hinata.

Tiba-tiba muncul keinginanku untuk menanyakan sesuatu pada Hinata, yang selama ini cukup menggangguku.

"Hinata, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi kau jangan marah ya."

Hinata diam, dia menunggu lanjutan ucapanku.

"Eh, itu… Kenapa sih kau selalu histeris setiap malam? Apa ada hubungannya dengan kau yang selalu ketakutan bila didekati oleh laki-laki? Lalu, kalau boleh tahu kau selalu mengatakan 'dia datang', dia itu siapa?" Aku diam sejenak, memperhatikan wajahnya yang tanpa ekspresi. "Kalau kau tidak mau mengatakannya tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Aku sama sekali tidak memaksamu untuk bercerita."

Keheningan tercipta. Aku harap-harap cemas, takut Hinata tersinggung. Tapi kemudian Hinata mulai bergumam.

"Aku… Aku akan menceritakannya padamu, Sasuke. Tapi, setelah ini kau tidak akan menjauhiku, kan?" Hinata berkata lirih, sambil menundukkan wajahnya.

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengangguk dengan sedikit ragu. Sebenarnya aku tidak siap mengetahui penyebab keterpurukan Hinata selama ini. Tapi aku yakin, suatu saat Hinata pasti bisa bangkit. Sama seperti diriku, bangkit dari mimpi buruk mengerikan empat tahun yang lalu.

TBC


Chapter 2 sudah update! Terima kasih untuk semua yang sudah membaca, mem-follow, favorit, dan lainnya dan yang sudah mendukung author! Saya terharu sekali. Apa ceritanya masih membingungkan? Silahkan sampaikan pada kotak review, terima kasih.

Salam,

Jackquin