Sebagian orang di dunia ada yang memiliki kehidupan gelap dalam hidupnya. Kehidupan yang awalnya normal, menjadi bagaikan mimpi buruk. Termasuk aku, Uchiha Sasuke dan dia, Hyuuga Hinata.
Naruto © Masashi Kishimoto
Darkest Life © Jackquin
Rate : M
Warning : OOC, alur kecepetan, typo(s), dan lainnya.
Author Newbie. Mohon bimbingannya.
PERHATIAN : SELURUH karakter di fict ini (mungkin) OOC, demi kelancaran cerita. Rate M untuk hal-hal yang 'menjurus'. Menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Sasuke.
Selamat Membaca
Saat ini Hinata sedang membuat teh di dapur.
Aku tegang sekali, padahal ceritanya belum dimulai. Hinata tidak tega melihat wajahku yang tegang bagaikan menonton film horror, makanya dia menyeduhkan teh untukku sekaligus membawa beberapa camilan lagi. Katanya untuk sedikit mencairkan suasana yang kelewat tegang.
"Sasuke, ini tehnya. Minumlah dulu. Wajahmu tegang sekali."
Hinata meletakkan nampan berisi dua gelas teh hangat di meja. Aku raih gelas itu, kemudian aku sesap perlahan isinya. Kehangatan dan rasa khas teh langsung mengaliri tenggorokanku yang terasa kering.
"Aku heran, padahal kau yang akan menceritakan masa lalumu padaku, kenapa malah aku yang tegang sampai seperti ini, ya?" ujarku, lebih pada diriku sendiri.
Hinata terkikik. "Aku tidak tahu, mungkin kau hanya tidak siap mendengar ceritaku. Apa ini pertama kalinya bagimu? Mendengar cerita atau curhatan dari seorang gadis?"
Bingo.
Aku sama sekali tidak pernah peduli dengan urusan perempuan. Selama ini, hidupku hanya berkisar pada sekolah-bekerja-istirahat, jadi aku tidak pernah berurusan dengan perempuan. Belum lagi masa laluku yang mengerikan, aku berjuang seorang diri untuk mengatasi keterpurukanku, berjuang keluar dari lubang hitam yang menelanku hidup-hidup.
"Yah, kira-kira seperti itu. Aku bahkan belum pernah berpacaran sebelumnya, asal kau tahu saja." aku meneguk sisa teh dalam gelasku dengan pipi yang sedikit terasa panas. Biarlah hal ini aku dan Hinata saja yang tahu, bahwa seorang Uchiha Sasuke belum pernah berpacaran. Jomblo. Single. Atau apapun itu istilahnya.
"Kalau kau, apa sudah berpacaran sebelumnya, Hinata?" Aku melirik Hinata, dia membelalak sedikit, mungkin terkejut dengan pertanyaanku.
Hinata memalingkan wajahnya, pipinya sedikit memerah. "B-b-belum pernah." Entah kenapa, jawaban dari Hinata sedikit membuat dadaku menghangat. Tanpa sadar, bibirku melengkungkan sebuah senyuman.
"Kenapa kau tersenyum, Sasuke?"
Aku menggeleng. "Ah, tidak. Hei, apa kau mau menceritakannya padaku? Aku sudah siap sekarang." Aku meletakkan gelas teh yang isinya sudah kosong.
Hinata tampak diam. "Ah, itu. Jadi begini…"
Tok tok tok
Aku menoleh ke arah pintu. "Siapa yang datang berkunjung jam segini?" kemudian aku menoleh pada Hinata, dia hanya mengendikkan bahunya. Masalahnya, sekarang sudah hampir jam sepuluh malam.
"Coba dilihat dulu, Sasuke. Siapa tahu penting."
Tok tok tok
"Iya, sebentar." Teriakku. Aku beranjak dari tempat dudukku, hendak menuju pintu. "Tunggu di sini, Hinata. Jangan keluar, biar aku saja yang keluar melihat siapa yang datang."
Hinata mengangguk. "Iya, hati-hati, Sasuke." Kata Hinata, yang hanya aku jawab dengan senyuman tipis.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Aku mengernyit mendengar suara ketukan pintu yang membabi buta seperti itu. "Siapa pun diluar, kalau tidak penting siap-siap saja mengucapkan selamat tinggal pada kepalanya!" benar-benar tamu tak diundang yang sangat tidak sopan.
Dan betapa terkejutnya aku, ketika membuka pintu.
"Yo, Teme!"
Bah, Si Baka-Dobe! Pantas saja dia mengetuk pintu dengan membabi buta begitu. "Apa kau berniat menghancurkan pintuku, Dobe?" ujarku sinis. Tapi sayang, sepertinya Si Kuning itu sudah kebal dengan kejudesanku.
"Hai, Sasuke. Selamat malam." Oh, ternyata ada Sakura juga.
Aku hanya mengangguk samar. "Hai, Sakura." Sakura tersenyum tipis. "Ada urusan apa kalian kemari?" Sudah malam, aku ingin segera bersantai bersama Hinata. Dua makhluk ini kenapa mengganggu sekali sih.
Naruto cengengesan. "Oh, itu. Aku dan Sakura memutuskan akan mengerjakan tugas kelompok kita bersama-sama, jadi kami kemari."
"Apa tidak bisa besok saja? Sepulang kerja? Besok kan sekolah libur."
Naruto menggeleng dramatis. "Tidak, tidak, tidak. Ini permintaan khusus dari Sakura, awww!" Sakura mencubit pinggang Naruto, membuatnya meringis kesakitan. "Sakit, Sakuraaaa."
"Jangan merengek! Dan jangan mengatakan hal yang macam-macam pada Sasuke, jelas-jelas kau yang memaksaku kemari, kan!"
Tiba-tiba suara lembut menginterupsi. "Siapa yang datang, Sasuke?"
Naruto dan Sakura saling berpandangan.
"H-Hinata?" Sakura tampak terkejut. "Sedang apa kau di sini, di rumah Sasuke?"
Hinata tidak menjawab. Tatapan matanya terfokus pada Naruto. Segera ku tarik lembut lengan Hinata, membawanya ke balik punggungku agar bisa bersembunyi. "Ayo masuk dulu, aku jelaskan di dalam."
Kami berempat masuk ke dalam rumah. Aku, Naruto dan Sakura menuju ke ruang tengah, sedangkan Hinata menuju ke dapur untuk membuat minuman dan membawa camilan. Hinata kelihatan tegang sekali kalau ada Naruto. Entah kenapa, tapi aku punya firasat kalau perasaan takut Hinata pada Naruto berbeda dengan perasaan takutnya pada laki-laki lainnya.
"Jadi, kenapa kalian mengerjakan tugas malam-malam begini? Apa kalian tidak takut pulang larut malam?"
Naruto nyengir kuda. "Aku berencana menginap di sini, Sasuke. Kan sudah lama tidak pernah menginap."
Yah, aku dan Naruto adalah sahabat, kami sudah bersahabat sejak lama. Dulu aku sering menginap di rumah Naruto, tapi sejak ayah dan ibu Naruto meninggal, dan kakaknya pergi entah kemana, aku jadi jarang menginap disana, sebaliknya Naruto yang sering menginap di tempatku. Tapi semenjak Naruto berpacaran dengan Sakura, kami jadi jarang bersama, lagi pula aku juga harus bekerja. Makanya aku senang dengan keberadaan Hinata, karena aku tidak kesepian lagi.
Aku dan Naruto sama-sama tidak punya keluarga, orang tua kami sudah meninggal. Tapi Naruto lebih beruntung dari pada aku, setidaknya dia punya seorang paman yang walaupun menyebalkan tapi baik hati.
Hinata kembali dengan membawa dua cangkir cokelat panas dan dua cangkir kopi.
"Hei, Sasuke. Kenapa Hinata ada di rumahmu? Ceritakan padaku."
Aku mengernyit. "Hei, Naruto, kau itu seperti pemburu gossip saja." Hinata duduk di sebelahku, sedikit mepet sih, tapi aku suka. "Aku dan Hinata tinggal bersama."
Naruto dan Sakura menjerit bersamaan. "APA?!"
"Hei, biasa saja responnya, kalian ingin menjebolkan gendang telingaku?" sial, makan apa sih mereka itu, teriakannya bisa keras begitu. Untung Hinata tidak berisik seperti itu.
Naruto menggebrak meja. "K-k-kenapa kalian tinggal bersama? Sejak kapan? Bagaimana bisa?" Naruto bertanya seperti rentetan petasan. "Ah, aku tidak percaya ini."
"Iya, Sasuke. Setahuku kau itu manusia paling cuek di dunia, aku tidak menyangka kau dan Hinata bisa bersama."
"Hinata, Hinata! Ceritakan padaku, dong, kenapa kau bisa satu rumah dengan Sasuke?"
Aku menggeram lirih. "Kalian berisik sekali. Aku dan Hinata berpacaran. Kalian dengar? BERPACARAN!" Aku kesal sekali, Baka-Dobe itu cari perhatian sekali pada Hinata.
Tampaknya mereka semua terkejut dengan ucapanku, mereka melotot ke arahku hampir bersamaan.
Sakura pindah tempat duduk di sebelah Hinata. "Benarkah, Hinata?" kemudian dia menggenggam tangan Hinata. "Oh, selamat Hinata. Akhirnya ada juga perempuan yang bisa mencairkan gunung es di hati Sasuke. Dan aku bersyukur itu gadis sebaik dirimu!"
Hinata hanya meringis. Dia tampak tidak nyaman. Pasalnya dia tidak terlalu mengenal Sakura, hanya sekedar kenal biasa saja. "Uh… Um, a-a-aku dan Sasuke berpa-pa-pa-pacaran? S-s-sejak kapan?" gumam Hinata.
Sakura mengerut bingung. "Hah? Sejak kapan? Apa maksudmu?"
Aduh, aku jadi gerah sendiri. "Sudahlah, jangan memojokkannya seperti itu. Kalian jadi mengerjakan tugas, tidak? Ini sudah malam, nanti kau terlambat pulang, Sakura."
Raut wajah Sakura berubah sumringah. "Tidak, tidak usah mengerjakan tugas itu sekarang. Karena ada Hinata di sini, aku akan ikut menginap."
"Apa?"
"Benar, benar! Semakin banyak yang menginap, semakin bagus." Naruto menambahkan. "Benar kan, Hinata?"
Wajah Hinata memucat. "I-i-i-iya." Suaranya pelan dan terdengar gemetaran. "T-tapi, bolehkah aku tidur di dekat Sasuke? Ku mohon."
Aku melotot. "Tidur di dekatku?" ku sentuh bahunya, "Kau yakin, Hinata?"
Hinata mengangguk pelan. Wajahnya terlihat memohon. Ada dua kemungkinan, dia tidak nyaman dengan kehadiran mereka, terutama Naruto. Karena Hinata bisa histeris sewaktu-waktu ketika malam tiba. Dan yang kedua, Hinata mulai terjerat pesonaku, hehehe.
Dan akhirnya, di sini lah kami. Tidur berempat di ruang tengah, beralaskan futon. Tidak mungkin kami tidur berempat di dalam kamar, lagi pula ruang tengah jauh lebih luas. Sebelum kami tidur, Hinata mencolek bahuku.
"Ada apa, Hinata? Tidurlah, sudah malam." Kataku, sambil merapihkan selimut yang membungkus tubuhnya.
Hinata menatapku. "Kenapa kau mengaku sebagai pacarku, Sasuke?"
Aku terdiam. Aku bingung harus berkata apa. "Well, sebenarnya aku ada rasa padamu, Hinata." Hinata sedikit menegang. "Tapi aku tahu kau punya masalah dengan laki-laki, jadi aku tidak berani mengatakan apa pun padamu."
Hinata mencengkeram selimut di dadanya. "Sejak kapan? Sejak kapan kau menyukaiku?"
Aku melipat tanganku di depan dada. "Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi, ku rasa karena kita punya kehidupan yang sama-sama menyakitkan, dan karena kita sering bersama, aku jadi merasakan hal itu. Perasaan itu tumbuh di dalam sini, dan terus berkembang." aku menunjuk dadaku, "Bagaimana denganmu, Hinata?"
Hinata diam, tampak berpikir. "Kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih trauma dengan laki-laki. Maafkan aku, Sasuke. Lagi pula aku ini kotor, aku sudah pernah diperkosa." Hinata memejamkan matanya, aku bisa merasakan kesedihan yang dia rasakan.
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu, Hinata. Yang aku pedulikan itu kau, dan hanya kau. Masa lalu itu tidak bisa dihapus, tapi jangan sampai masa lalu itu menghalangimu untuk melangkah maju."
Hinata membuka matanya. "Aku tahu itu, Sasuke. Meskipun aku punya masa lalu yang mengerikan hingga aku trauma dengan laki-laki, tapi kalau denganmu, ku rasa… Aku rasa aku mau mencobanya."
Secepat kilat aku bangkit dari posisi berbaringku. "Benarkah, Hinata? Benarkah?" Ucapku sedikit berteriak.
Hinata ikut duduk. Dia membungkam bibirku dengan telapak tangannya. "Sssstt, jangan berteriak. Nanti Naruto dan Sakura bangun."
Aku mengangguk, kemudian Hinata melepaskan tangannya. Wow, telapak tangannya wangi. Mataku melirik Naruto dan Sakura yang tertidur lelap, dengan posisi Naruto memeluk Sakura.
"Jadi, kita pacaran, nih?" tanyaku, sekedar memastikan. Hinata mengangguk, tersenyum tipis.
Oh, aku hampir lupa. Gara-gara kehadiran Naruto dan Sakura, aku jadi tidak bisa mendengar cerita tentang masa lalu Hinata. Lain kali sajalah, malam ini adalah malam paling membahagiakan untukku, setelah empat tahun berlalu.
.
..
…
Darkest Life © Jackquin
…
..
.
"Mmmhh…"
Suara erangan Hinata terdengar merdu di telingaku. Aku memagut bibir Hinata, bibirnya terasa pas dibibirku. Lembut, basah dan terasa manis. Aku menjilat bibir bawah Hinata, dan dia membuka sedikit celah bibirnya dengan malu-malu.
Aku segera menelusupkan lidahku. Lidahku mengincar lidahnya, kemudian saling membelit dan menghisap. Hinata tidak terlalu mahir berciuman, tapi tidak mungkin ini ciuman pertamanya. Uh, aku jadi kesal kalau mengingat laki-laki yang tega menodai Hinata.
"Sasuke…" Hinata mengerang, membuat bagian bawahku menegang.
Sial, aku ingin menyerangnya sekarang juga. Tapi aku sadar, kalau aku melakukan itu, aku tidak ada bedanya dengan laki-laki yang dulu menghamili Hinata.
Dari bibir, aku menuju ke lehernya yang putih dan jenjang. Lidahku bermain dengan nakal di sana. Ku gerakkan perlahan, berniat menggoda Hinata. Dan benar saja, Hinata mengerang. "Mmmhhh, Sasuke…"
Hinata meremas perlahan rambutku, ketika aku membubuhkan tanda kepemilikanku pada lehernya. Aku menjauhkan kepalaku, untuk melihat tanda-tanda manis yang aku tinggalkan pada lehernya. "Kau cantik sekali, Hinata."
Hinata tidak menjawab. Wajahnya merah padam, matanya terpejam dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Tanganku merambat ke bawah, menuju ke dadanya. Sekarang giliran payudaranya.
Aku meremas pelan payudara Hinata, membuat Hinata mendesahkan namaku lagi. Kemudian ku lepas kaus yang dipakai Hinata, ku lempar sembarangan. Pakaian dalamnya terlihat, segera saja aku lepas kaitannya dan ku lempar juga.
Payudara Hinata yang padat berisi itu terpampang dihadapanku. Kali ini aku melihatnya langsung, tidak tertutup apapun. Tanpa buang waktu, segera ku nikmati payudaranya. Ku hisap puncak payudaranya, ku mainkah lidah dan jari tanganku di masing-masing puncaknya. Hinata meremas rambutku lagi, kali ini lebih kuat.
Hinata mendesah dan mengerang, lagi dan lagi. Bagian bawah tubuhku benar-benar sudah tegang sempurna, hingga membuat celanaku sesak. Tanganku merambat semakin ke bawah, melepas celana berikut celana dalamnya. Nasib celananya tak beda jauh dengan bra hinata.
Aku menegakkan tubuhku, menatap kemolekan tubuh Hinata. Meskipun sudah pernah hamil bahkan keguguran, tubuh Hinata masih tetap indah. Tidak kalah dengan gadis yang masih perawan.
"Hinata, tubuhmu benar-benar indah."
Wajah Hinata benar-benar merah. "S-Sasuke, jangan menggodaku." Matanya tidak berani melihat mataku, tandanya dia benar-benar malu.
Aku melepaskan kaus yang aku pakai, celanaku juga. Kejantananku akhirnya bebas. Hinata melotot ketika melihat ukuran senjata kesayanganku. Memang sih, ukuranku memang paling besar dari teman-teman seusiaku. Naruto saja kalah.
Jangan salah paham dulu, aku dan teman-temanku hanya iseng saja membanding-bandingkan ukuran senjata kami masing-masing. Dan yang paling kecil, selalu kena bully. Tapi kami masih normal kok. Masih doyan sarung pedang, bukan pedangnya.
"Sasuke, b-b-besar sekali." Gumam Hinata.
Aku tersenyum, sedikit bangga. "Ya, dan ini hanya milikmu, Hinata. Kau yang pertama untukku."
Aku menindih Hinata. Kemudian aku mengarahkan tangannya untuk menyentuh kejantananku, sementara aku menuju ke kewanitaan Hinata. Wow, Hinata sudah basah. Benar-benar sudah siap untukku.
Ku masukkan satu jari, dengan kecepatan teratur. Hinata mengerang. Kemudian aku masukkan tiga jari sekaligus, aku sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi. Tapi aku tidak bisa buru-buru, aku ingin Hinata bisa menikmatinya juga, bukan hanya diriku.
"Kau sudah basah, Hinata. Kau sudah siap untukku." Aku tersenyum menggoda. "Kau mau aku bagaimana sekarang?"
Hinata tampak tidak fokus. "Hmm… Lakukanlah, Sasuke. Aku tahu kau sudah tidak sabar."
Oh, Hinata sayang. Kau tidak tahu akibat dari perkataanmu!
Aku menarik jariku yang sudah basah kuyup. Ku jilat perlahan, menikmati sari-sari Hinata sekaligus membersihkan jariku. Terlihat menjijikkan? Terserah.
Aku segera memposisikan diriku, ku angkat kedua paha Hinata dan ku lingkarkan kakinya mengelilingi pinggulku. Ku posisikan kejantananku, ketika sudah di depan liang kewanitaan Hinata, aku melihat ke arah Hinata seolah meminta persetujuan.
Hinata mengangguk.
Aku membenamkan kejantananku pada kewanitaan Hinata dengan perlahan. Ku pejamkan mataku, merasakan kewanitaan Hinata seolah menelan kejantananku ke dalam sebuah lembah hangat dan basah. Rasanya sungguh luar biasa nikmat.
Aku mengerang. "Hinataaa…"
"SASUKE!"
Aku terperanjat. Lho? Naruto?
Ku tolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Ini masih di ruang tengah. Masih ada Naruto dan Sakura. Ku lihat Hinata, duduk di samping Sakura. Masih berpakaian lengkap, begitu pula denganku.
Mereka semua menatapku dengan bingung.
Jadi, keintiman antara aku dan Hinata tadi hanya mimpi? Sial!
"Kau mimpi apa, Sasuke? Kau tersenyum mesum dalam tidurmu dan menyebutkan nama Hinata." Naruto menyeringai. "Ah, aku tahu. Kau pasti bermimpi jorok dengan Hinata, kan!"
Ku dorong kepala Naruto dengan keras hingga dia terjengkang ke belakang. "Diamlah, Dobe. Jangan berisik dan jangan berpikiran yang macam-macam!" bentakku.
Naruto dan Sakura tertawa keras, sedangkan Hinata menunduk malu dengan wajah merah padam.
Sial, aku harus segera ke toilet. Tissu, dimana tissuku!
.
..
…
Darkest Life © Jackquin
…
..
.
"Hhhhh…"
Ini sudah keenam kalinya aku menghela napas. Saat ini aku sedang di bengkel, bersama dengan teman-teman kerjaku. Dan bosku, si Pak Tua Genit. Siapa lagi kalau bukan Jiraiya.
"Hei, Sasuke. Aku membayarmu bukan untuk menghela napas terus-terusan!"
Aku mendecih. "Ya, aku tahu itu, Pak Tua Genit. Aku akan segera menyelesaikan mobil ini. Nanti sore juga sudah jadi."
Hari ini adalah akhir pekan. Sekolahku sedang libur jadi aku bisa bekerja dari pagi. Aku masih teringat mimpi indahku semalam, yang berakhir mengerikan. Bagaimana tidak, ketika aku membuka mata malah wajah Naruto yang pertama kali aku lihat. Si Kuning menyebalkan itu sekarang sedang menyelesaikan mesin salah satu mobil yang akan diambil nanti siang.
Nara Shikamaru, temanku yang pemalas tapi jenius, menyenggol lenganku. "Hei, Sasuke. Ada yang mencarimu, tuh."
Aku mengerutkan keningku. "Siapa yang mencariku?" tumben sekali ada yang mencariku ketika aku sedang bekerja. "Siapa sih?"
Shikamaru menyeringai. "Seorang gadis. Manis sekali. Siapa dia? Kenalkan padaku, dong."
Tanpa menggubris perkataan Shikamaru, aku melempar peralatan yang aku pegang ke kotak penyimpanan secara sembarangan, kemudian berlari ke luar. Di sana aku lihat Hinata, sedang menenteng sebuah kotak. Sepertinya kotak makan.
Segera ku hampiri dirinya. "Hei, Hinata." Hell, tiba-tiba aku jadi gugup. Apa karena sekarang aku punya pacar, ataukah efek mimpi semalam? "Ah, ada apa, Hinata? Kenapa kau kemari?"
Hinata tersenyum lembut. "Ini, aku bawakan makan siang. Tadi kau kan tidak sempat sarapan, makanya aku bawakan makan siang." Hinata menyodorkan dua kotak makan siang.
Aku mengernyit. "Kenapa ada dua?"
"Oh, yang ini punya Naruto."
Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. "Kau membuatkan makan siang untuk Naruto juga?" Kalau memang benar Hinata yang membuatnya, tidak akan aku berikan padanya. Akan aku habiskan sendiri!
Hinata menggeleng. "Bukan. Itu buatan Sakura, aku dan dia memasak bersama. Tadi waktu kalian berangkat dia masih ada di rumah. Dia ada urusan penting, jadi tidak bisa ikut mengantarkan makanan ini."
"Eh, Hinata?" sebuah suara menginterupsi. Naruto.
Hinata berubah tegang, tangannya mencengkeram lenganku. Dengan lembut ku tarik lengannya, ku sembunyikan di belakang punggungku. "Ada apa, Dobe?"
"Tidak, hanya saja aku tidak menyangka Hinata mencarimu ke tempat kerja. Sakura saja sangat jarang ke sini."
Aku teringat sesuatu. "Hn. Aku tidak peduli. Ini, dari kekasih tercintamu."
Naruto menerima kotak makan siang itu dengan semangat. "Waaah, apa ini dari Sakura? Aku akan habiskan semuanya!" setelah itu dia langsung pergi, sepertinya dia akan langsung menghabiskan makanannya.
"Ah, sebentar lagi istirahat makan siang. Apa kau sudah makan, Hinata?" Hinata mengangguk. "Kalau begitu, mau menemaniku makan siang?"
Kami menuju ke taman di belakang bengkel. Suasana di sini cukup sepi dan tenang. Cocok sebagai tempat istirahat makan siang. "Wah, banyak sekali makanannya, Hinata. Kelihatannya enak."
Aku mulai menyantap makan siang dari Hinata. Rasanya benar-benar enak. Jadi begini ya, rasanya punya pacar. Ada yang memperhatikan. Kalau begini, seharusnya dari dulu aku mencari pacar!
"Apa makanannya enak, Sasuke?"
Aku menjawab dengan anggukan, karena mulutku sedang penuh makanan. Ibuku dulu bilang, tidak baik bicara saat mulut sedang penuh. Memang benar sih, akan sangat mengganggu jika mulut penuh makanan tapi kau nekat bicara.
"Ini, aku juga membuatkanmu jus tomat."
Hinata benar-benar perhatian. Sayang sekali dia harus menerima perlakuan yang tidak pantas dari orang yang dulu pernah memperkosanya. Siapa pun orang itu, aku bersumpah akan membunuhnya.
"Hoi, Sasuke! Di sini kau rupanya."
Aku mendongak. "Oh, Jiraiya. Ada apa?" Aku meneguk jus tomat yang dibawakan Hinata. "Aku sedang istirahat makan siang."
Jiraiya tersenyum. "Oh, tidak. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku dan Naruto akan keluar sebentar, mau mengantar barang pada pelanggan. Aku titip bengkel padamu, ya." Tatapan mata Jiraiya jatuh pada Hinata. "Eh, siapa gadis manis ini?"
Hinata beringsut, tampak tidak nyaman. "Sasuke…"
"Hei, Pak Tua. Dia pacarku, jangan ganggu dia. Menyingkirlah." Enak saja dia mau menggoda Hinata di depanku! Dasar tua tua keladi.
"Hahaha, santai saja Sasuke. Aku tidak akan mengganggu lapak tetangga. Aku baru saja menemukan gadis seksi, jadi gadismu aman untuk sementara waktu." Jiraiya tertawa makin keras.
"Sementara waktu? Apa maksudmu sementara waktu?"
Jiraiya menyeringai. "Kau tahu apa maksudku, Bocah Tengik!" Jiraiya tertawa makin keras, seolah-olah sedang menonton acara komedi yang akhir-akhir ini naik daun.
Jiraiya berhenti tertawa, kemudian memperhatikan Hinata. "Hm… Sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi dimana, ya?"
Hinata memucat. Tangannya yang mencengkeram lenganku mulai bergetar. Dari tatapan matanya, kelihatannya dia sangat ketakutan. "S-S-S-Sasuke…"
Air mata mulai menggenang dipelupuk mata Hinata. Jiraiya panik, dia mundur 3 langkah sambil mengangkat kedua tangannya. "Whoaaa, jangan menangis, gadis manis! A-a-aku hanya bercanda, aku tidak bermaksud menakutimu."
Aku jadi ingin menjambak rambut panjangnya yang mulai beruban. "Lihat, kau menakuti pacarku, Pak Tua!"
Belum sempat aku mengomel, Jiraiya sudah terlanjur kabur.
"Kenapa kau menangis, Hinata?"
Hinata menggeleng, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. "T-t-tidak apa-apa, Sasuke. A-a-aku hanya takut pada orang itu."
Aku jadi curiga. Apa ini berhubungan dengan orang di masa lalu Hinata? Kenapa dia takut sekali dengan Jiraiya?
"Setelah ini kau mau kemana, Hinata?"
Hinata menoleh, "Oh, aku harus berbelanja. Bahan makanan sudah hampir habis."
Aku merogoh sakuku, hendak mengeluarkan dompet. Tapi Hinata mencegahku. Katanya uang yang aku berikan padanya tiga hari yang lalu masih cukup. Akhirnya aku mengurungkan niatku. Hinata segera pulang, dan aku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.
.
..
…
Darkest Life © Jackquin
…
..
.
Someone's POV
Ah, akhirnya aku sampai juga di Konoha, kota kelahiranku. Sudah enam tahun aku meninggalkan tempat ini, ternyata banyak juga perubahan yang terjadi. Dulu tidak ada toko sebanyak ini di pinggir jalan. Tidak banyak orang yang lalu lalang, dulu juga banyak sih, tapi tidak sebanyak sekarang.
Aku mengangkat kameraku, hendak memotret keadaan di Konoha. Mulai dari gedung-gedung tinggi, taman-taman, bunga, awan, sampai orang yang lalu lalang pun aku potret.
Aku melangkahkan kakiku, ke tempat yang dulu sering aku kunjungi ketika ibuku masih hidup. Ibuku sering menyuruhku berbelanja. Supermarket ini, menyimpan banyak kenangan antara aku dan ibuku. Kami sering berbelanja bersama di sini.
Tapi tampaknya sudah ada perubahan pada supermarket ini, sekarang jadi lebih luas dan besar.
"Hm, rasanya menyenangkan bisa bernostalgia seperti ini, tapi aku jadi sangat merindukan keluargaku."
Aku melangkahkan kakiku kembali, memasuki supermarket itu.
End of Someone's POV
.
..
…
Darkest Life © Jackquin
…
..
.
Normal POV
Hinata sedang berjalan menuju ke rumah. Tapi sebelum ke rumah, dia berencana mampir dulu ke supermarket terdekat untuk berbelanja kebutuhan dapur. Dia sudah membayangkan akan memasak apa untuk Sasuke nanti.
Diam-diam dia tersenyum.
Tapi senyumnya mendadak hilang ketika melihat pria itu. Pria dengan rambut merah, sepertinya dia sedang membidik sebuah gedung dengan kamera yang ada di tangannya. Kemudian orang itu memasuki supermarket yang tadinya akan dimasuki Hinata.
Hinata berubah pucat, keringat dingin mengalir membanjiri seluruh tubuhnya. Kenapa orang itu ada di sini?
"K-k-kenapa dia ada disini?" kata-kata itu seolah sebuah mantra, yang terus terusan disebutkan oleh Hinata. "K-k-kenapa orang jahat itu ada disini!"
Tanpa pikir panjang, Hinata segera memutar arah, berusaha melarikan diri. Kemana pun, asalkan tidak terlihat oleh manusia jahat itu. Seluruh rencana yang sudah tersusun rapi diotaknya hancur, bersamaan dengan terbukanya kembali luka yang berusaha dia kubur dalam-dalam.
End of Normal POV
.
..
…
Darkest Life © Jackquin
…
..
.
Aku sudah selesai memperbaiki mobil yang dari tadi aku kerjakan. Terima kasih untuk Hinata, berkat dirinya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan bersemangat. Bahagia sekali rasanya.
Sekarang aku sedang ada di loker untuk bersiap-siap pulang.
"Hei, Sasuke. Tumben kau senyum-senyum begitu ketika bekerja, biasanya kau cemberut terus kalau sedang menyelesaikan pekerjaanmu."
Aku menoleh, Naruto berdiri disebelahku sambil menyesap kopi yang terlihat mengepul. Tangan kirinya terulur padaku, menyerahkan segelas kopi. "Terima kasih."
Naruto duduk bersila di bangku panjang yang ada di tengah ruangan. "Hei, Sasuke. Apa kau pernah mendengar kabar tentang orang itu?"
Aku berubah tegang. Aku tidak suka dengan pertanyaan itu. "Tidak. Dan jangan pernah membahas bajingan yang sudah menghancurkan kehidupanku!" teriakku emosi. Aku tersadar, aku sudah membentak Naruto terlalu keras. "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu."
Naruto tersenyum. "Tidak apa, Sasuke. Kalau aku jadi kau, aku juga akan membenci orang itu dan tidak akan pernah memaafkannya. Kau tahu, ayahku juga meninggal sia-sia karena manusia tidak bertanggungjawab. Ibuku juga sepertinya sangat mencintai ayahku, hingga menyusulnya ke alam sana."
Aku dan Naruto sama-sama terdiam.
"Hei, Sasuke. Ini sudah sore, kenapa kau belum pulang? Kau tidak merindukan Hinata, eh?" kata Naruto, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku tersenyum kaku. "Iya, aku sudah akan pulang. Lagi pula aku bosan terus-terusan melihatmu." Aku beranjak menuju ke pintu keluar. "Sampai besok, Naruto."
Di jalan, aku sedikit termenung memikirkan nasibku. Keluargaku, seluruhnya meninggalkanku secara bersamaan. Tanpa mengucapkan apapun, mereka pergi selama-lamanya. Semuanya gara-gara bajingan itu. Bajingan tidak tahu diri yang sudah memporak-porandankan hidupku.
Lalu aku memikirkan Hinata. Ah, rasanya tenang ketika aku memikirkan dia. Aku teringat kembali ketika aku bertemu dengan Hinata di jembatan. Gadis misterius yang bisa histeris kapan saja ketika malam tiba, yang hanya bisa tenang jika ada aku. Dan hebatnya, sekarang gadis itu adalah pacarku. Milikku seorang.
Aku mendongak. Hari ini, persis seperti ini, aku sedang berjalan pulang menuju ke flatku dan aku melihatnya, Hinata yang frustasi dan berniat untuk bunuh diri. Aku tersenyum ketika mengingat betapa paniknya aku kala itu.
Ah, sebentar lagi aku akan melewati jembatan tempat aku dan Hinata bertemu. Memang bukan pertemuan pertama, karena kami satu kelas. Tapi menjadi awal kisahku dan Hinata. Lucu sekali, seorang Uchiha Sasuke bisa menyukai gadis sepertinya.
Ketika aku sedang asyik memikirkan saat-saatku bersama Hinata, aku terpaku. Sosok itu, sosok yang tidak asing lagi. Sedang apa dia di sana?
Sama seperti waktu itu, dia berusaha memanjat pagar pembatas jembatan. Apa dia berusaha bunuh diri lagi? Kenapa?
"Hinata!" aku berteriak sekeras mungkin. Hinata mendengarku, dia menoleh. Aku terkejut ketika melihat wajahnya berurai air mata. Tatapan matanya tampak kosong, seperti sesosok tubuh tanpa jiwa.
"A-a-apa yang kau lakukan, Hinata? Kemari, cepat kemari! Jangan melompat! Demi apapun, itu sangat berbahaya, Hinata!" Aku meracau seperti orang gila. Jujur, aku benar-benar panik.
"S-S-S-Sasuke…" gumam Hinata. Matanya menatapku, aku bisa melihat rasa sakit yang mendalam di sana. "D-Dia datang, Sasuke. Dia datang."
Hinata menggumam itu lagi. Aku benar-benar tidak mengerti. "Dia itu siapa, Hinata? Siapa yang kau maksud? Katakan padaku!"
Hinata membelalak ketakutan. Tiba-tiba dia berteriak keras. "Dia datang, Sasuke! Demi tuhan, dia datang! Seharusnya dia ada di Suna! Di Suna! Kenapa dia ada di Konoha?! Lebih baik aku mati saja dari pada harus bertemu dengannya lagi!"
Tanpa aba-aba, Hinata langsung meloncat dari jembatan. Meluncur bebas menuju ke sungai berarus deras yang ada di bawah.
"HINATAAAAAAAA!"
TBC
Jackquin's Note:
Hallo semuanya! Well, ini chapter ketiganya. Apa cerita ini masih layak untuk dilanjutkan? Jika ada saran, kritik, atau apapun yang ingin disampaikan, silahkan pm atau review, ya. Dan terima kasih untuk yang sudah membaca dan mendukung cerita ini. Siapa pelakunya, sepertinya akan terbongkar di chapter depan! See you…
Salam,
Jackquin.
Balasan Review:
Ayzar. Terima kasih. Iya, Sasuke memang sengaja saya buat memiliki kehidupan sederhana. Kalau dia kaya, nanti nggak jalan dong ceritanya, hehe. Roura. Hahaha, terima kasih. Fict ini sengaja saya balik. Pokoknya gimana Sasuke biasanya, saya buat kebalikannya. Silahkan ditebak, kira-kira siapa yang sudah menghamili Hinata. Di akhir chapter ini ada hint siapa pelakunya lho, silahkan ditebak-tebak. Sasu'ai'hina. Sebenarnya ini sudut pandang orang pertama, berhubung Sasuke pemeran utamanya (dan saya fans beratnya), jadi saya ambil dari sudut pandang Sasuke. Terima kasih untuk rekomendasi fict-nya, sudah saya baca ;) Guest. Silahkan ditebak dulu ya. Ini sudah berusaha saya panjangin. Frans. Oke, ini sudah saya update, sudah termasuk kilat atau belum? Hehe. Chan. Terima kasih. Jangan panggil senpai dong, saya newbie nih, ini fict pertama saya, hehe. Hinataholic. Hoho, akan segera saya beritahukan supaya bisa dihajar rame-rame XD #Plakkk
THANK YOU
