DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
Gender-bender. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
A/N :
Ternyata memang banyak yang suka karyanya Runandra ya?^^ Makasih untuk yang udah baca n review…
Happy reading^^
.
.
.
CHAPTER 2 : TRUCE
Hari sudah senja saat mereka mencapai kota terdekat, dan hujan turun sangat deras bagai tak ada hari esok. Hal pertama yang mereka cari adalah sebuah penginapan, dan mereka segera menemukannya. Sebuah penginapan kecil yang layak dan terasa nyaman, pengurus penginapan tersebut adalah seorang wanita tua yang menyenangkan dan hangat; yang terlihat ngeri saat melihat mereka memasuki penginapan kecilnya. Mereka basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan kedinginan hingga ke tulang.
"Ya Tuhan! Lihat kalian berdua! Oh sayang, oh sayang. Masuk dan hangatkan dirimu di perapian. Aku akan meminjami kalian dua handuk yang bersih." Si wanita tua pun menyibukkan dirinya dengan handuk dan minuman panas untuk mereka berdua.
Karena belenggu gaib yang diikatkan di pergelangan tangan mereka oleh Jin Hassamunnin, mereka harus meringkuk secara berdekatan di dekat perapian. Jaraknya hanya 20 cm. Kurapika duduk dan menatap ke dalam api, menghindari mata Kuroro. Ia sungguh berterimakasih pada si wanita tua saat dia memberi mereka handuk dan minuman panas, namun matanya tidak pernah bertemu dengan mata Kuroro. Bukannya Kuroro merasa terganggu dengan hal itu. Kuroro ingin menghindari perdebatan dan pertengkaran apapun yang tidak perlu, yang untungnya tidak terjadi sejak mereka meninggalkan reruntuhan. Kuroro agak bersyukur atas sikap Si Kuruta yang tertutup.
"Aku akan menyiapkan dua buah kamar yang berdekatan untuk kalian berdua, jika kalian mau," kata si wanita tua kepada mereka.
"Terima kasih, tapi bisakah kami mendapatkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur?" Kuroro bertanya pada wanita itu dengan sopan.
"Oh?" tiba-tiba si wanita tua menjadi berseri-seri. "Apakah kalian berdua—"
"Gadis ini saudaraku," Kuroro segera mengarang cerita, tidak ingin memberitahunya tentang jin dan belenggu itu, dan terutama kesalahpahaman bahwa Si Kuruta adalah kekasihnya. "Gadis ini tidak suka tidur sendirian di kamar."
"Oh, aku mengerti…" raut wajah si wanita tua menjadi lembut, dan sekilas ada kekecewaan di matanya. "Baiklah, aku akan menyiapkan kamar yang sesuai dengan permintaanmu."
Si wanita tua bergegas pergi dan menuju lantai atas untuk menyiapkan kamar mereka. Saat Kuroro berbalik, ia menemukan Si Kuruta melotot marah dengan tajam kepadanya, tanpa Mata Merah-nya. Beberapa helai rambut pirangnya yang basah menempel di wajahnya, dan hangatnya api telah mewarnai pipinya kembali. Kuroro menatapnya dan tidak bisa mengabaikan kesan yang kuat bahwa Si Kuruta begitu tampak seperti perempuan. Dia juga secara naluri telah menyebutnya sebagai seorang 'gadis' saat bicara dengan si wanita tua.
"Aku bukan seorang gadis!" katanya geram pada Kuroro.
"Yah, kau terlihat seperti itu," Kuroro mengangkat bahu dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan tangannya yang bebas. "Dan terlihat jelas bahwa pengurus penginapan mengira kau seorang gadis, karena ia menawarkan kamar yang terpisah."
"Kau bisa mengoreksinya," protes Kurapika.
"Terlalu merepotkan."
Kurapika sudah berada di ambang batas di mana dia ingin mencekik pria itu sampai mati saat si wanita tua kembali dan menghampiri mereka. Dengan ceria ia meminta mereka untuk mengikutinya saat akan menunjukkan kamar mereka. Dengan menggerutu Kurapika mengikuti tepat di belakang Kuroro, karena belenggu itu membatasi jarak mereka. Tangan mereka akan saling bersentuhan satu sama lain setiap saat, dan Kurapika selalu tersentak setiap kali itu terjadi. Kuroro tidak menunjukkan reaksi apa-apa, tapi ia merasa lelah karena sikap Kurapika itu.
"Jika kalian memerlukan apapun, panggil saja aku. Sarapan disajikan pukul 7 besok," si wanita tua memberitahu mereka dengan ramah. "Nikmatilah masa tinggal kalian di sini. Selamat malam," ia membungkuk dengan sopan, yang ditanggapi Kuroro dengan anggukan pelan.
Kurapika melihat kamar itu dan akhirnya pandangannya bertumpu ke tempat tidur. Pemikiran bahwa ia tidur dalam jarak yang sangat dekat dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan membuat perutnya mulas. Saat Kuroro berbalik, ia menyadari tatapan Kurapika ke tempat tidur itu dan menyeringai. Ia akan punya waktu yang sangat menyenangkan untuk menggoda Si Pemuda Kuruta setengah mati, dan dia tidak akan bisa membunuhnya untuk itu.
"Tempat tidur itu tidak akan memakanmu, Kuruta," ia memulai.
"Bukan itu yang sedang aku pikirkan," Kurapika membentaknya sambil menatapnya tajam.
"Jadi apa yang kau pikirkan?" ia masih menyeringai, tidak terpengaruh oleh tatapannya.
"Memangnya aku akan memberitahumu!" Kurapika memalingkan wajah, dan lagi-lagi pandangannya tertumpu pada tempat tertentu di kamar itu. Kuroro mengikuti arah pandangannya, dan kali ini ia tahu dengan tepat apa yang ada dalam benak pemuda itu. Kali ini, dia sama-sama kecewa.
"Yah, kita harus menangani hal ini cepat atau lambat." Kuroro menghela napas.
"…" Kurapika terlihat membeku di tempat. Ia lebih baik MATI daripada mandi BERSAMA dengan Kuroro Lucifer.
.
.
Bencana. Benar-benar sebuah bencana. Waktu mandi akan menjadi saat yang paling diantisipasi dalam perjalanan mereka, jika hal itu tidak bisa dihindari. Kurapika berharap setidaknya jarak di antara mereka sedikit lebih fleksibel dan memberi mereka ruang pribadi saat mandi, tapi TIDAK! Jaraknya tetap 20 cm, dan hasilnya salah seorang harus berdiri di luar kamar mandi dengan satu lengan menyelinap masuk ke dalam. Berulangkali Kurapika memperingatkan Kuroro untuk tidak mengintip, kalau tidak ia tak akan ragu untuk mencungkil matanya atau memenggalnya. Kuroro menanggapi dengan putus asa, "Ya, ya, ya." Dan pemuda itu hanya akan berhenti saat Kuroro berkata, "Aku bukan Hisoka."
Yang lebih buruk, Pemuda Kuruta itu tidak memiliki satupun baju ganti, karena mereka memutuskan untuk tidak mengambil barang-barangnya yang ada di mansion milik Nostrad. Akan terlalu mencurigakan jika barang-barangnya tiba-tiba hilang bersamaan dengan 'kematiannya'. Jadi, Kuroro harus meminjami Kurapika baju gantinya, yang ia bawa dalam Fun-Fun Cloth-nya. Baju itu terlalu besar untuk Kurapika. Ia keluar dari kamar mandi dengan memakai T-shirt abu-abu tua yang agak kebesaran dan celana panjang hitam.
Saat tiba giliran Kuroro untuk mandi, ia sengaja berlama-lama hanya untuk membuat Kurapika jengkel. Kurapika sudah memberitahunya berulangkali untuk bergegas, karena lengan kirinya menjadi lelah dikakukan untuk waktu yang lama. Saat keluar dari kamar mandi, Kuroro dihadiahi tatapan Kurapika yang menyilaukan. Kurapika melihat baju mereka yang basah dan menghela napas. Mereka harus mengeringkannya besok, karena Kurapika tidak akan pergi dengan mengenakan baju milik Kuroro. Hal pertama yang akan dilakukan saat mereka meninggalkan penginapan besok pagi, ia akan membeli beberapa baju untuknya sendiri. Ketukan pelan di pintu menyadarkan Kurapika dari lamunannya. Kuroro memanggil orang itu untuk masuk, dan masuklah wanita tua itu, dengan keranjang cucian di tangannya.
"Sayang, aku datang untuk membantu mencuci baju kalian yang basah. Oh!" wanita tua yang baik itu berhenti saat matanya jatuh pada Kurapika. Seulas senyum yang hangat muncul, menyebabkan kerutan di sudut matanya muncul. "Kau memakai baju kakakmu? Manisnya…"
Reaksi pertama Kurapika adalah merona mati-matian, sementara Kuroro harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Ia melihat Si Kuruta lagi, dan menyadari bahwa dia memang terlihat lucu dalam pakaian miliknya, karena terlalu besar satu ukuran bagi pemuda kurus itu.
"T-tidak! Bukan…Aku tidak punya baju lain…jadi…," Kurapika tergagap dalam rasa malunya. Ia memukul-mukul lengan kanannya dengan canggung; lengan kirinya terkunci di sampingnya, karena Kuroro harus menghentikan lengan kanannya dari memukul-mukul juga.
"Kau tidak punya baju ganti? Oh Sayang, malangnya dirimu," si wanita tua menganga dan matanya membelalak ngeri. "Apa yang terjadi?"
"Sebenarnya, aku baru saja menemukannya hari ini dalam perjalananku kemari," Kuroro ikut bicara, tiba-tiba sebuah ide jahat muncul di kepalanya. "Kau tahu, dia adikku yang telah lama hilang. Kami punya ibu yang berbeda; itulah kenapa kami terlihat tidak mirip. Dia dibawa pergi oleh ibunya saat dia masih balita. Sekarang dia tak punya barang apapun sejak dipelihara sebagai seorang pembantu," kata Kuroro dengan dramatis. "Dia trauma, jadi dia tidak mau pergi dari sisiku."
"Ohh…malangnya dirimu," si wanita tua terisak dengan mata berkaca-kaca, benar-benar terharu oleh kebohongan Kuroro yang menakjubkan. "Kau sangat beruntung, kakakmu menemukanmu. Lihat dirimu, begitu pucat dan kurus. Majikanmu pasti memperlakukanmu dengan buruk. Apa kau sudah cukup makan?"
"A-Aku…" Benar, wajah Kurapika menjadi pucat pasi, tapi karena sebab lain, bukan karena seperti apa yang disimpulkan oleh wanita tua itu. Ia melongo heran, terlalu terkejut dan shock untuk mengatakan apapun. Kuroro memperhatikan hal ini dan ia harus menahan tawanya.
Pengurus penginapan terus mengoceh tentang makan yang benar dan lainnya, yang didengarkan setengah hati oleh Si Kuruta. Kuroro bersikap seolah-olah ia mendengarkan wanita tua itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan di balik itu ia bersenang-senang di atas penderitaan Kurapika. Setelah si wanita tua selesai dengan ceramahnya, ia memungut pakaian kotor mereka dan berjanji untuk memberikan mereka pakaian yang bersih dan kering esok pagi. Dia mengucapkan selamat malam, memberikan Kurapika tatapan penuh simpati, dan pamit. Saat pintu sudah ditutup dengan suara klik yang pelan, kamar itu menjadi hening dan Kuroro melindungi dirinya dari badai yang akan segera datang.
"Adik yang telah lama hilang? Pembantu? Trauma? TAK INGIN PERGI DARI SISIMU?" Kurapika meraung. "APA YANG SUDAH KAU KATAKAN BARUSAN, BAJINGAN?"
"Mengarang cerita untuk penyamaran kita," jawab Kuroro ringan, seolah cerita yang dikarangnya tidak melukai harga diri Kurapika sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang Hunter berlisensi.
"Oh ceritamu setengahnya benar. Aku MEMANG trauma dengan kemampuanmu mengarang cerita." Kurapika menatapnya tajam, matanya berubah warna menjadi merah darah. Bercahaya dalam cahaya kamar yang remang-remang bagaikan bara api.
"Lalu menurutmu apa yang harus kita katakan padanya?" Kuroro menantangnya, mata gelapnya menatap Mata Merah Kurapika dengan berani.
"Kau bisa saja memberitahunya bahwa kita adalah teman seperjalanan, mengoreksinya bahwa aku seorang laki-laki, dan kita kehilangan barang-barang dalam perjalanan kita kemari! Tanpa merubahku menjadi seorang gadis!" ia berteriak.
"Tapi apa yang menyenangkan dari itu?" Ia menyeringai. Pemandangan dari seorang Kuruta yang tenang kehilangan sikap tenangnya dan mengomel kepadanya begitu menyenangkan. Lelucon dan kesenangan selama waktunya bersama Pemimpin Gen'ei Ryodan sangat berdarah dan kejam, dan dia tidak secara aktif ambil bagian di dalamnya. Ini adalah perubahan yang menyegarkan, dan Kuroro akan menikmatinya.
"Kau bersenang-senang di atas penderitaanku, Brengsek!" Kurapika bersumpah jika saja tangan kirinya tidak terbelenggu dengan tangan kanan Kuroro, ia sudah menghancurkan leher pria itu ribuan tahun lalu. Kuroro membuatnya emosi dan dia MENIKMATINYA.
"Pastinya," ia menyeringai lagi.
Cukup sudah. Mata Kurapika menyala di kegelapan kamar yang temaram. Matanya terlihat seperti sepasang mata kucing, menatapnya dengan intensitas yang bisa membuat orang tercekik. Mata gelap Kuroro bertemu dengan mata itu, warna merah darah dan api yang cantik. Kuroro mencondongkan badannya agar bisa melihat lebih jelas bola mata itu, dan tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh dagu si pemuda dan sedikit mengangkat wajahnya. Wajah Kuroro mendekat, dan saat Kurapika tidak tahan lagi, kepalan tangannya; yang sudah gemetar menahan amarah, langsung bertindak.
BUG!
Kuroro terhuyung ke belakang, pipi kirinya memerah dan memar karena penganiayaan yang dilakukan Kurapika. Kepalan tangan kanannya masih terangkat, memerah karena memukul wajah Kuroro dengan keras. Dia tidak bisa memukul Kuroro sekuat tenaga karena posisi mereka sebelumnya yang tidak memungkinkan. Tetap saja, pukulan tetaplah pukulan dan Kurapika merasa agak puas karena ia dapat memukul pria yang menjengkelkan itu tepat di wajahnya. Kuroro menegakkan badannya, tapi ia sama sekali tidak peduli untuk memeriksa pipinya yang memar. Tidak ada darah yang menetes, dan tatapannya yang penuh rasa ingin tahu telah menghilang. Hanya ada ejekan yang dingin di bola mata obsidian itu.
"Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, mata merahmu yang terbaik di antara yang lainnya," ia berkomentar, tersenyum dengan dingin dan kejam kepada Kurapika.
"Kau—"
Kurapika mencoba untuk memukulnya lagi, tapi kali ini Kuroro sudah siap. Ia menangkap pergelangan tangan Kurapika dan memutarnya sehingga lengan Kurapika ikut terputar…membuatnya menganga kesakitan dan terkejut. Kurapika mengangkat wajahnya, memberi Kuroro tatapan dari matanya yang merah, dan melihat pria itu menunduk melihatnya dengan mata tanpa emosi. Mereka berada dalam kompetisi saling menatap untuk sesaat.
"Tidurlah. Kita akan pergi besok pagi," akhirnya Kuroro berkata dan melepaskan pegangannya di pergelangan tangan Kurapika. Kurapika menarik lengannya dan memeriksa bekas genggaman di pergelangan tangannya yang kurus.
Tanpa menunggu tanggapan apapun, Kuroro melangkah ke tempat tidur, menyeret Kurapika karena jarak di antara mereka hanya sejauh 20 cm. Ia mendorong kedua tempat tidur itu lebih dekat hingga membentuk tempat tidur berukuran queen-size. Tanpa berkata apa-apa, mereka naik ke tempat tidur dan menyelinap ke bawah selimut yang hangat dengan canggung.
Tanpa mengatakan apapun, bahkan ucapan selamat malam sekalipun, mereka terlelap dalam tidur mereka yang penuh kewaspadaan.
.
& Skip Time &
.
"Bangun," seseorang berkata padanya dengan sebuah sentakan di pergelangan tangannya. Ia mengerang protes. Tubuhnya masih perlu istirahat, dan kelopak matanya berat. Sentakan itu datang lagi, kali ini lebih kuat. Kurapika berguling—ya, setidaknya ia bermaksud untuk melakukan itu—tetapi belenggu gaib yang terikat di pergelangan tangannya membuat Kurapika berhenti dalam posisi yang tidak nyaman.
"Bangun sekarang, atau aku akan menyeretmu turun dari tempat tidur," suara itu berkata lagi. Suara itu pelan dan tidak terdengar rasa jengkel di dalamnya, tapi ada tanda terhibur yang dingin. Bahkan dalam kondisi setengah tertidur, suara itu dengan cepat dikenali otak Kurapika sebagai suara yang menjengkelkan.
Saat mata Kurapika terbuka, yang pertama dilihatnya adalah langit-langit dari kayu dan wajah Kuroro membayangi di atasnya. Ia sedang duduk bersila di sebelah kanan Kurapika, tangan kanannya yang terbelenggu berada sangat dekat dengan tangannya. Kuroro telah memperhatikan Si Kuruta yang sedang tidur. Diam-diam ia geli melihat bagaimana pemuda itu terdiam saat melihat Kuroro begitu membuka mata safirnya. Kurapika memalingkan wajahnya dan menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya duduk.
"Ganti bajumu. Pengurus penginapan sudah mengantar baju kering kita pagi-pagi sekali," Kuroro mengarahkan dagunya ke arah tumpukan baju yang terlipat dengan rapi. Baju khas Suku Kuruta milik Kurapika yang berwarna biru disimpan di atas tumpukan baju hitam Kuroro.
Terlalu mengantuk untuk protes ataupun membalas, Kurapika hanya menurut saat Kuroro menyeretnya melintasi ruangan. Mereka bergiliran berganti pakaian di kamar mandi, seperti yang Kurapika inginkan. Kuroro memutuskan untuk tidak mengenakan baju Danchou-nya, dan memilih sesuatu yang lebih umum dan tidak begitu menarik perhatian; walaupun warnanya tetap hitam semua. Ia membiarkan rambutnya turun dan memakai sebuah perban untuk menutupi tanda salib di keningnya. Kurapika menatapnya; Kuroro terlihat lebih muda dalam gaya ini. Dalam diam Kurapika mengembalikan baju Kuroro, dengan enggan mengucapkan "Terima kasih." Kuroro memandangnya senang, mengambil baju itu dengan ramah dan menyimpannya dalam Fun-Fun Cloth. Mereka berjalan berdampingan menuruni tangga menuju ruang makan, dan disambut dengan aroma sup pagi hari dan roti yang segar.
"Ah, selamat pagi! Bagaimana malammu?" si wanita tua menghampiri mereka dari counter, rasa ingin tahu terlihat di wajahnya. Kurapika membiarkan Kuroro menangani semua percakapan dan berbasa-basi, tapi memelototinya setiap kali Kuroro menyebutnya sebagai seorang 'gadis' dalam menekankan kalimatnya. Kurapika mencatat bahwa Kuroro sangat pintar berakting, tidak heran ia mampu membuat orang mengira bahwa dirinya bukanlah pria berbahaya. Kurapika tahu benar akan hal ini karena Neon Nostrad adalah salah satu korbannya.
"Ngomong-ngomong, Nak. Tunggu di sini, aku punya sesuatu untukmu," pengurus penginapan itu memandang Kurapika dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Kurapika menatap Kuroro meminta penjelasan, tapi Kuroro hanya mengangkat bahu. Beberapa menit kemudian wanita tua itu keluar dari salah satu kamar dengan sebuah buntalan di lengannya. Kurapika merasakan mual di perutnya.
"Oh, ukurannya pas sekali!" wanita itu berceloteh gembira saat membuka buntalan yang dibawanya. Kurapika merasa seperti akan pingsan di tempat. Si wanita tua sedang memegang sehelai gaun indah berwarna krem, dengan rok yang panjangnya sedikit di bawah lutut Kurapika. Itu adalah pakaian kasual sehari-hari, tidak terlalu mewah dan tidak memiliki banyak renda. Wajah Kurapika memucat, sementara Kuroro harus menutupi mulutnya untuk menyembunyikan seringainya yang lebar, berpura-pura menilai gaun itu dengan wajah serius.
"Ini milik putriku, tapi sejak dia menikah, dan tidak ada yang memakainya, aku berpikir untuk membuangnya. Tapi karena kau memerlukannya, aku akan memberikannya padamu secara cuma-cuma," wanita itu berkata dengan wajah berseri-seri pada Kurapika, dan berkomentar betapa cocoknya gaun itu untuk Kurapika, berkata bahwa rambut pirangnya serasi dengan warna gaun dan lainnya lagi.
"Tidak, tidak, aku tidak layak menerimanya. Tenang saja, kakakku—" ia menatap Kuroro dengan tajam, dan penerima tatapan itu hanya menyeringai puas padanya. "—akan membelikanku pakaian setelah ini, baju yang praktis karena kami akan bepergian."
"Oh…" Si wanita tua merasa sedih, membuat Kurapika langsung merasa bersalah karena mengembalikan pemberiannya. Kuroro, lagi-lagi, muncul dengan pikiran nakalnya. Ia berdiri sedikit di belakang Kurapika, sejauh jarak yang diijinkan belenggu gaib itu, tanpa membuat mereka terlihat canggung, dan Kuroro mencondongkan badannya ke depan, berbisik ke telinga Si Kuruta dengan lembut, sehingga si wanita tua tidak bisa mendengarnya.
"Tidak bagus menolak niat baiknya, Kuruta."
Ejekan Kuroro berhasil. Saat si wanita tua menatap Kurapika dengan tatapan memohon, Kurapika tidak dapat menahan rasa bersalahnya. Akhirnya ia mengalah dan menerima gaun itu, membuat wanita baik itu tersenyum senang padanya. Semangatnya kembali lagi dan ia mengantar Kuroro dan Kurapika ke meja sambil mencatat daftar menu sarapan untuk mereka. Dia tidak memperhatikan saat mereka berdua menempatkan tangannya; tangan kanan Kuroro dan tangan kiri Kurapika, berada di atas meja dalam posisi yang sangat canggung dan aneh. Setelah mereka menentukan pesanan dan si wanita tua pergi untuk mengambilnya, Kurapika menoleh menatap Kuroro yang masih terlihat senang.
"Bertanggungjawablah. Simpan itu." Ia melemparkan gaun itu kepada Kuroro, walaupun tidak secara kasar karena tidak ingin si wanita tua menangkap basah dirinya melemparkan gaun kepada Kuroro seolah hal itu merupakan sesuatu yang buruk.
"Baiklah," Kuroro menghela napas dan mengambil gaun itu. Ia merabanya seolah merasakan bahannya. "Ini terbuat dari bahan yang bagus. Kau harus lebih berterimakasih padanya."
Mata Kurapika menajam mendengar komentar Kuroro. Kuroro mengatakan itu seakan-akan ia tahu banyak tentang bahan dan pakaian. Tambah lagi, menilai dari gaya fashionnya, mungkin ia tipe pemuja pakaian. Kuroro menyingkirkan gaun itu, memutuskan untuk tidak menyimpannya sekarang saat ada banyak orang di ruang makan. Dia tak ingin menarik perhatian yang tak perlu. Ketika sarapan datang, mereka makan dalam keheningan. Kurapika dapat melakukannya lebih mudah karena ia dapat menggunakan tangan kanannya dengan bebas. Seringkali Kuroro harus menyesuaikan diri menggunakan tangan kirinya, karena ia akan semakin sering menggunakannya dalam waktu yang cukup lama. Saat Kuroro menyendok supnya, ia melakukannya dengan canggung, dan Kurapika memanfaatkan kesempatan ini dengan menyeringai pada pria itu hanya untuk mengejeknya.
Setelah mereka check out dari penginapan (pengurus penginapan berharap mereka tinggal lebih lama), Kurapika berkata bahwa ia akan membeli baju ganti. Kuroro hanya mengangguk dan mereka pergi mencari toko baju bersama-sama. Mereka menemukan sebuah toko yang kecil, dengan interior yang terlihat nyaman. Sebelum Kurapika sempat mencari-cari, tiba-tiba Kuroro menarik sikunya; merasakan kualitas bahan baju yang dikenakan Kurapika.
"Apa yang kaulakukan?" bentak Kurapika jengkel.
"Kau memerlukan sesuatu dengan bahan yang lebih tebal daripada baju khas sukumu. Kita akan melewati padang pasir dalam perjalanan menuju Ryuusei-gai," kata Kuroro datar, kemudian melepaskan pegangannya di siku Kurapika. Dia tidak ingin terlibat masalah karena harus merawat seorang pemuda yang membeku kedinginan akibat pakaian yang kurang sesuai dalam lingkungan yang berat seperti itu.
Tanpa berkata-kata, Kuroro menyeret Kurapika ke rak yang mneyimpan jaket dan mantel. Dengan enggan Kurapika harus membiarkan pria yang lebih tua darinya itu memilih pakaian yang sesuai untuknya karena ia lebih tahu lingkungan di sana. Yang membuatnya lega, Kuroro memilih beberapa pakaian yang praktis dan tidak begitu mencolok. Dia juga memilih pakaian dengan bahan ringan untuk siang hari, karena cuaca padang pasir sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari. Setelah mereka selesai, Kuroro meletakkannya di counter begitu saja dan membayarnya. Kurapika harus menahan dirinya menatap Pemimpin Geng Laba-laba itu dengan tatapannya yang seolah tak percaya atas apa yang dilihatnya. Untuk sekali ini, Kurapika menyaksikan Kuroro melakukan sesuatu yang tak melanggar hukum. Kuroro mengetahui ketidakpercayaannya itu dan menghela napas.
"Aku tidak akan melakukan pencurian apapun selama kau bersamaku, karena kau akan mempersulitnya," jelasnya.
"Senang mendengarnya," Kurapika berkata dengan jujur. Dia tidak akan tahan berada di sana menyaksikan Pemimpin Geng Laba-laba mencuri di depan matanya. Ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk mengacaukan rencana Kuroro dalam pencurian apapun. Kesimpulan Kuroro cukup tepat.
Mereka berjalan berkeliling kota, membeli persediaan dan keperluan lain yang dibutuhkan untuk perjalanan mereka ke Ryuusei-gai. Setelah keluar dari kota itu, Kuroro menyimpan semuanya ke dalam Fun-Fun Cloth. Tanpa mengatakan apapun, Kurapika membiarkan Kuroro memimpin jalan. Dengan ini dimulailah perjalanan mereka ke kampung halaman Kuroro.
.
& Skip Time &
.
Saat mereka berada di dalam gerbong kereta api, duduk berdampingan, Kuroro mengambil sebuah buku dan membacanya. Kurapika hanya menatap kosong, sambil memikirkan semua kemungkinan yang bisa membuat mereka keluar dari keadaan yang paling tidak nyaman dan menjengkelkan ini. Pikiran untuk menghubungi Leorio, Killua dan Gon untuk membantunya melintas di benaknya beberapa kali, tapi ia menepisnya. Ia tidak ingin menganggu teman-temannya dengan masalah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka. Di samping itu, ikut campur dalam masalah ini berarti juga berurusan dengan Gen'ei Ryodan. Kurapika tidak ingin teman-temannya mendapat masalah.
Suatu saat, Kurapika cukup penasaran untuk sekilas melihat judul buku yang sedang dibaca Kuroro. Sekelebat saja, dan Kurapika segera mengenali buku itu. Matanya sedikit membelalak, tapi ia mempertahankan sikap tenangnya dan memutuskan untuk menatap kosong. Kuroro menyadari sedikit perubahan sikapnya ini.
"Kau tahu buku ini?" tanya Kuroro tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku itu.
"Aku pernah membacanya," jawab Kurapika pendek. Ia menghargai buku; terutama buku-buku yang bagus. Sepertinya, buku yang sedang dibaca Kuroro adalah salah satu dari buku favoritnya. Buku yang rumit, tapi membacanya sangat menyenangkan.
"Oh? Dan apa pendapatmu?" tanya Kuroro sambil melirik Kurapika.
"Menurutku…" dan dia mulai memberitahu Kuroro opininya tentang buku itu. Mulanya Kurapika enggan untuk bicara, tapi saat Kuroro menanggapi opininya dan balik memberikan opininya sendiri, mereka mulai bicara tentang lebih banyak buku dan pengarang; tapi tidak sebanyak apa yang akan dibicarakan sepasang teman baik. Bagaimanapun juga, Kuroro dan Kurapika tetaplah musuh, yang kebetulan sedang berada dalam masalah.
Kuroro berpendapat bahwa pemuda Kuruta itu banyak membaca dan pintar; malah mungkin lebih pintar dari seluruh anggota Gen'ei Ryodan; menandingi Shalnark dan dirinya sendiri. Kuroro harus mengakui, berdiskusi tentang buku dengan pemuda itu memang menyenangkan. Mungkin Shalnark pintar dan seorang pemikir yang cepat, tapi dia tidak begitu tertarik pada buku. Ia lebih memilih untuk surfing di internet dan hacking di waktu luangnya. Setidaknya sekarang Kuroro mengetahui satu keuntungan memiliki Si Kuruta sebagai teman seperjalanan; selain rasa dendamnya kepada Kuroro dan sikapnya yang menjengkelkan…yang selalu tersentak setiap kali tangan mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Beberapa kali ia hampir saja memberi tahu Kurapika untuk berhenti tersentak seperti itu, tapi kemudian ia mengabaikannya. Jika Kuroro melakukannya, kemungkinan besar pemuda itu akan mulai mengomel tentang bagaimana hal ini adalah kesalahan Kuroro, sehingga ia akan membenci setiap kontak dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan itu. Kurapika cerdik dan memiliki lidah yang tajam, dan Kuroro mengetahui ini lebih baik dari orang lain saat dia mulai berdebat dengannya, tak akan ada habisnya. Ia berdebat dengan Kurapika sekali, dan pada akhirnya Kuroro mengalami sakit kepala yang hebat. Ia tidak ingin membuat dirinya susah lagi, jadi Kuroro pun memilih untuk menerimanya.
Kurapika memandangi pemandangan di luar kereta. Dunia terlihat begitu cepat melewatinya, segalanya mengabur dalam berbagai spektrum warna dan bentuk. Kuroro berkata bahwa perjalanan ini akan memakan waktu lama, dan Kurapika benar-benar bosan. Kurapika seorang pemuda yang sabar, tapi hanya dengan kehadiran seorang Kuroro Lucifer di sampingnya dapat membuat kesabarannya habis. Kuroro sedang membaca buku yang lain lagi sejak percakapan mereka berakhir beberapa saat sebelumnya, membiarkan Kurapika sendiri.
Tiba-tiba, Kurapika merasa sesuatu yang berat jatuh ke pangkuannya. Kurapika menunduk dan melihat sebuah buku ada di sana. Dengan hati-hati ia mengambil buku itu dengan tangan kanan dan memeriksanya. Kurapika menoleh kepada Kuroro, tapi pria itu masih tetap membaca.
"Kau terlihat bosan. Masih ada waktu beberapa jam lagi, jadi aku pinjami kau buku itu," Kuroro berkata, tanpa mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya.
Kurapika menatapnya aneh, kemudian melihat kembali ke buku itu. Apakah Kuroro sedang bersikap baik padanya? Kalau dipikir-pikir, dia telah menampakkan sikapnya yang agresif dan bermusuhan. Seringkali, ia akan membiarkan Kuroro memikirkan urusannya sendiri dan Kurapika pun begitu. Kurapika mmebuka halaman buku itu dan melihatnya sekilas. Secara logis, Kurapika tidak memiliki kegiatan apapun untuk dilakukan dan Kuroro menawarinya untuk melakukan sesuatu. Dia tidak akan mau melakukan apa-apa terhadap apapun yang menjadi milik pencuri itu, karena pasti kebanyakannya adalah barang-barang curian, tapi Kurapika benar-benar bosan setengah mati, dan dia menyerah. Kurapika menyesuaikan tubuhnya ke dalam posisi yang lebih nyaman dan mulai membaca buku.
Kurapika asyik membaca hingga tidak melihat seulas senyum tipis menghiasi wajah Kuroro.
.
.
"Ya, Shalnark?"
"Ya, Danchou? Aku punya berita yang menarik."
Kurapika mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak mendengar apapun. Ia melihat ke sekeliling stasiun kereta api, dan menyadari bahwa hari sudah malam. Mereka berhenti di stasiun terakhir, dan setelah itu mereka harus berjalan kaki untuk mencapai padang pasir, dan kemudian melintasi padang pasir dengan berjalan kaki lagi. Kurapika menghela napas. Ini akan menjadi perjalanan yang lama dan melelahkan, sekaligus menegangkan; mengingat ia terjebak bersama Pemimpin Gen'ei Ryodan. Kuroro berbicara pelan-pelan di telepon, dan Kurapika sama sekali tidak ingin mendengarnya. Malah ia memikirkan apa yang harus mereka lakukan sekarang. Pertama, pastilah menemukan sebuah penginapan.
"Ayo kita cari penginapan dulu," Kuroro mengatakan apa yang ada di pikiran Kurapika.
Dalam diam mereka berjalan berdampingan, memeriksa kota mencoba menemukan tempat yang layak untuk bermalam. Tempat itu begitu tenang dan sepi, padahal hari baru saja senja. Kurapika menengadah dan melihat sebuah mansion menjulang tinggi di batas kota, dengan klaster pemukiman mewah mengelilinginya. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin terlihat jelas. Kurapika akan menemukan satu-dua orang pengemis di sudut jalan; yang sedang tidur di atas karpet lusuh, atau tengah meminta-minta. Saat mereka berjalan melewati seorang bocah pengemis, Kurapika tidak bisa menolak permintaannya. Ia menjatuhkan sekeping uang logam ke tangan bocah itu, yang diterima dengan penuh sukacita.
"Kau tidak membantu mereka dengan memberi seperti itu," kata Kuroro dingin.
"Bukan urusanmu," jawab Kurapika, walaupun ia merasa terganggu dengan komentar pria itu.
"Mereka hanyalah sekumpulan anak-anak malas, yang tidak mau mencari pekerjaan layak. Kau hanya mendorong mereka untuk tetap menjadi pengemis seperti sekarang," lanjut Kuroro, matanya yang gelap melihat ke arah pengemis lain dengan tatapan hina.
Kurapika merasakan adanya emosi dari kata-kata pria itu. Ada sesuatu antara Kuroro dan para pengemis. Seolah ia punya pengalaman buruk tentangnya. Kurapika menepis pikirannya itu, berpikir bahwa hal itu sama sekali tak berkaitan dengannya. Itu masalah Kuroro, bukan masalahnya. Itu adalah persetujuan yang diam-diam disepakati di antara mereka : urus urusanmu sendiri.
"Kau lihat mansion di sana itu?" tiba-tiba Kuroro bicara lagi.
"Ya," jawab Kurapika.
"Akan ada pelelangan di sana malam ini," kata Kuroro lagi, kali ini ia melihat ke arah Kurapika, menunggu tanggapan tertentu darinya.
"Lalu? Memangnya ada hubungannya denganku?" kata Kurapika dengan tidak merasa tertarik. Ia masih memeriksa kota untuk menemukan sebuah penginapan.
"Benda tertentu akan dilelang di sana," Kuroro memberi suatu petunjuk. Ia tahu Si Kuruta cukup pintar untuk mengerti apa yang ia coba katakan. Dan Kuroro benar. Kurapika menoleh padanya dengan curiga. "Shalnark baru saja memberitahuku."
"Mata Merah," gumamnya, kilatan amarah nampak di mata biru lautnya. "Kenapa kau memberitahukanku hal ini? Apa yang kau inginkan?"
Kuroro berhenti dan berbalik menghadap Si Pemuda Kuruta, memandangnya dengan penuh perhitungan…seolah mengevaluasi ulang apa yang ada di benaknya. Kurapika menunggu dengan sabar. Apapun itu, Pemimpin Gen'ei Ryodan punya sesuatu di benaknya, dan hal itu melibatkan Kurapika dan harta karun sukunya.
"Aku menawarimu sebuah kesepakatan."
.
& Skip Time &
.
"Setidaknya kau dapat membiarkannya hidup," Kurapika mengernyit pada sesosok tubuh tak bernyawa yang terkapar di lantai.
"Kalau aku membiarkannya hidup, ia akan memberitahu penjaga saat terbangun nanti. Kau sendiri yang ingin melakukan hal ini serahasia mungkin," kata Kuroro sambil mengeluarkan selembar amplop putih dari saku pria itu.
"Tetap saja…"
Kuroro menghela napas. Ia telah menawarkan Si Kuruta untuk mengumpulkan Mata Merah dari pelelangan sebagai ganti atas kerjasama Kurapika dalam usaha mereka untuk menghancurkan belenggu bodoh itu dan gencatan senjata di antara mereka. Akhirnya Kurapika setuju, tapi tidak sebelum ia menginterogasi Kuroro lebih jauh untuk menemukan trik apapun di balik penawarannya itu. Saat Kurapika tidak menemukannya, dan tidak akan pernah karena Kuroro sangat jujur tentang ini, ia pun setuju walau dengan setengah hati. Sebenarnya Kuroro lelah dengan gencatan senjata di antara mereka yang bergejolak. Bukannya ia takut mati di tangan Si Kuruta atau apa. Kematian adalah bagian dari hidupnya. Tapi Si Kuruta itu yang membuatnya lelah. Kuroro tidak keberatan dengan keberadaan pemuda itu. Ia tak membencinya, tapi Si Pemuda Kuruta merasakan sebaliknya. Kurapika tetap menampakkan sikap permusuhannya dan berhati-hati terhadapnya. Kuroro mencoba sebaik mungkin untuk mengabaikan hal itu tapi tetap saja membuatnya terganggu.
Kemudian, Kuroro memberitahu rencananya. Sederhana saja : mereka akan menyelinap, berpura-pura menjadi tamu undangan (setelah mencuri surat undangan milik seseorang), menghadiri pelelangan hanya untuk mengamati, menunggu hingga seseorang memenangkan bola mata itu, mengikuti si pemilik baru, menghadangnya dalam perjalanan pulang, dan mencuri bola mata itu. Kurapika tidak senang dengan adanya fakta bahwa ia akan mencuri, tapi ia mengalah saat Kuroro mengatakan bahwa mereka tidak punya cara lain, jadi Kurapika harus menerimanya. Ia benar, tentu saja. Kurapika tidak punya uang untuk membeli sendiri bola mata itu, Kuroro pun tidak ingin mengeluarkan uangnya demi Mata Merah sementara ia bisa mencurinya, karena ia adalah seorang pencuri ulung.
"Ayo."
Dengan sentakan di pergelangan tangan kirinya, Kurapika menggerutu dan mengikuti Kuroro. Sesampainya di gerbang mansion, mereka menyamar, berpura-pura diundang oleh pemilik mansion tersebut. Kuroro memberi mereka surat undangan curian dan masuk bersama Kurapika. Sekilas ia takjub Kurapika dapat memasang raut wajah datar, sementara ia mengira pemuda itu, yang memiliki standar tinggi dalam hal etika moral, menjadi gugup dan gelisah.
Aksi mereka berjalan dengan lancar seperti yang telah direncanakan. Pengamanannya lemah, dan mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan membuntuti pemilik baru Mata Merah dan menyergapnya dalam perjalanan di mobil. Dengan cepat Kuroro membunuh semua orang yang ada di sana, memastikan tidak ada saksi mata yang hidup. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mengambil Mata Merah dengan penuh rasa hormat. Walaupun Kuroro adalah seorang pencuri, tapi ia bukan pencuri biasa. Ia adalah Kuroro Lucifer, Pemimpin Gen'ei Ryodan yang terkenal kejam, yang memiliki selera bagus untuk artifak berharga dan benda langka. Ia tahu bagaimana cara menghargai karya seni; dan Mata Merah adalah salah satunya. Ia mengagumi bola mata yang mengapung dalam wadah kaca untuk sejenak, sebelum berbalik kepada Si Kuruta dan memberikan wadah itu padanya.
Kurapika mengambilnya dari Kuroro dengan tangan kanannya yang bebas; jarinya bersentuhan dengan jari Kuroro. Kali ini, Kurapika benar-benar terfokus pada bola mata itu hingga membuatnya tidak tersentak saat kulit mereka bersentuhan. Raut wajahnya menjadi lembut, mata biru lautnya menatap bola mata itu dengan gelombang kesedihan dan kehilangan yang tiada akhir. Mungkin mata itu milik ayahnya, atau ibunya, atau milik temannya, tapi Kurapika tidak dapat mencaritahu tentang hal ini. Ia ingin menangis, ingin memeluk wadah itu seolah mengandung nyawanya, tapi Kurapika menahan diri untuk tidak melakukannya. Kurapika masih menyadari keberadaan Kuroro, dan tidak ingin menampakkan sisi lemahnya di depan musuhnya itu. Ia menguatkan hati dan menelan ludah.
"Aku menepati tawaranku."
"Aku juga," gumam Kurapika, matanya tidak pernah berhenti memandangi bola mata yang mengapung itu, yang terlihat seolah memandanginya dengan pandangan kosong. Mereka berdua berdiri dengan canggung dalam keheningan. Kurapika merasa puas, akhirnya ia mendapatkan sepasang Mata Merah, tapi tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan itu. Pertama, ia harus menyimpannya di tempat yang aman. Kuroro merasakan kesulitannya ini.
"Apa kau ingin aku—"
"DI SANA!" sebuah suara menggelegar di jalan yang gelap itu, baik Kuroro maupun Kurapika memalingkan wajah ke arah datangnya suara.
Orang-orang berhamburan ke jalan yang sebelumnya sepi itu, dan mereka bersenjata. Naluri pertama Kurapika adalah menutupi wadah itu untuk melindunginya.
"Ck! Mereka menemukan kita."
Dengan kibasan di pergelangan tangannya, sebuah buku berwarna merah muncul di tangan kanannya. Kuroro membiarkan halaman-halamannya terbuka hingga berhenti di halaman tertentu dengan kemampuan teleportasi tersimpan di dalamnya. Kurapika yang terkejut, sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan satu gerakan cepat, Kuroro menyelipkan tangan kirinya yang bebas ke bahu Kurapika dan memeluknya, bersama wadah yang terselip dengan aman di antara dirinya dan Kurapika. Buku Nen-nya berkilau, dan mereka menghilang dari pandangan, meninggalkan para prajurit itu kebingungan dan kehilangan jejak.
Di tempat yang jauh dari keributan itu, Kuroro dan Kurapika muncul kembali. Tangan kiri Kuroro masih berada di bahu Kurapika, dan tetap membiarkannya seperti itu sambil melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Kurapika membeku dalam pelukannya, kedua tangannya memegangi wadah sementara matanya menatap dada Kuroro. Ia tidak mengantisipasi gerakan Kuroro sama sekali. Perlahan, otaknya mulai bekerja lagi dan tangan-kanannya-yang-bebas bergerak begitu saja.
"Lepaskan tanganmu!" seru Kurapika dan menepis tangan Kuroro dari bahunya, matanya memancarkan kemarahan pada pria itu.
Kuroro dapat melihat bocah itu kebingungan karena tindakannya yang tiba-tiba. Ia ingin menggodanya lebih jauh, untuk membuatnya lebih jengkel lagi, tapi prioritasnya adalah menjaga kesepakatan mereka terlebih dahulu. Ia mengangkat tangan kirinya dalam posisi menyerah, dan melangkah menjauhi Si Kuruta yang marah besar.
"Aku berusaha bertanya padamu, apakah kau ingin aku menyimpan Mata Merah itu supaya aman?"
Kurapika menaikkan sebelah alis matanya dan menatapnya curiga. Ia tidak ingin mempercayakan hartanya pada Si Pencuri Ulung, jika ia bisa begitu. Bagaimanapun juga, kemampuan Fun-Fun Cloth-nya adalah pilihan terbaik untuk menjauhkan Mata Merah dari bahaya. Di samping itu, semua barangnya disimpan di Fun-Fun Cloth milik Kuroro, lagipula mereka terjebak bersama untuk sementara ini. Kuroro tidak akan bisa melarikan diri darinya. Perlahan Kurapika mengangguk dan memberikan wadah itu pada Kuroro.
.
& Skip Time &
.
Kuroro mengedipkan matanya dengan ngantuk beberapa kali. Ia selalu tidur dengan penuh penjagaan dalam perjalanannya dengan pemuda itu, dan malam ini ia terbangun oleh Kurapika yang tidur dengan gelisah. Kurapika terus bergerak-gerak dalam tidurnya, mimpi buruk menghantuinya dan akhirnya dia tidak tahan, Kurapika duduk dan mneyembunyikan wajahnya di lutut, sambil mencoba sebisa mungkin untuk tidak menggerakkan lengan kirinya. Ia tidak ingin Pemimpin Geng Laba-laba melihatnya dalam keadaan begini, tapi sudah terlambat.
"Mimpi buruk?" tanya Kuroro dengan mengantuk.
Kurapika membeku mendengar suara paraunya. Ia ingin berbohong, berteriak padanya untuk mengurus masalahnya sendiri, tapi ia terlalu lelah dan hatinya terasa begitu terbakar, hingga ia hanya mengangguk. Mata Kuroro membelalak melihat anggukan lemah pemuda itu. Ia yakin Kurapika akan menyangkalnya, berpikir bahwa ia ingin terlihat lebih kuat di hadapannya. Mungkin sedikit beralasan, tapi pasti tak akan mengakuinya. Kuroro berusaha meneliti pemuda itu. Tirai telah ditarik, sehingga sinar bulan menembus jendela dan jatuh menyinari pemuda yang sedang tampak sedih itu. Rambut pirangnya berkilau lembut di tengah cahaya temaram. Tiba-tiba, pemuda itu terlihat begitu kecil dan rapuh, cukup berlawanan dengan penampilannya yang kuat yang ia perlihatkan selama ini.
"Ingin membicarakannya?" tanya Kuroro lagi.
Tiba-tiba, ia diberi tatapan penuh kebencian. "Membicarakannya denganmu? Aku seperti ini karena KAU!" bentaknya, matanya bersinar merah menakutkan dalam kegelapan malam.
"Kau benar. Aku adalah alasan kenapa kau yatim piatu sekarang. Tapi aku bukanlah orang yang mengirimkan mimpi buruk itu padamu," Kuroro berkata sambil menguap.
"Kau—"
"Ayolah, Bocah. Kau bisa memilih untuk tidak membiarkan mimpi buruk itu menghantuimu. Kau memilih membiarkan masa lalu menghantuimu. Itu masalahmu," kata pria itu dengan suara yang terdengar bosan.
"Kau bajingan," desis Kurapika dengan berbahaya kepada Kuroro. Ia terlihat seolah dapat mengeluarkan racun kepadanya kapan saja.
"Apakah aku tidak selalu menjadi bajingan di matamu atas apapun yang aku lakukan?"
"Brengsek." Sambil mengatakan itu, Kurapika merosot kembali ke tempat tidur dan memejamkan matanya kuat-kuat. Itu membuatnya jengkel, Kuroro selalu bisa membalas serangan kata-kata yang ditujukan Kurapika kepadanya. Akhirnya, selalu saja dia yang tak bisa berkata-kata. Kurapika mendengus kesal sebelum kembali tidur, tapi ia tidur dengan tenang sepanjang sisa malam itu; mimpi buruknya terlupakan.
Kuroro mendengarkan napas Kurapika hingga terdengar teratur, menandakan pemuda itu sudah tidur nyenyak. Perlahan ia menghela napas dan menutup matanya dengan lelah.
"Begitu banyak untuk gencatan senjata kita," gumamnya pada dirinya sendiri sebelum hanyut ke dalam tidurnya yang penuh penjagaan sekali lagi.
TBC
A/N :
Review please…!^^
