DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

Gender-bender. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 3 : RUSALKA AND DESERT TALK

"Setelah kita keluar dari hutan ini, akan ada gurun pasir," Kuroro memberitahu Kurapika dengan cara yang tidak bersahabat. Sepertinya dia dapat menerima keadaan mereka lebih mudah, dan hal ini membuat Kurapika semakin jengkel.

"Berapa jauh lagi?"

"Satu hari dengan berjalan kaki, jika kita terus dalam kecepatan saat ini."

Mereka telah bepergian bersama selama kira-kira satu minggu, dan sikap permusuhan Kurapika terhadap Kuroro telah melunak hingga ke tingkat rendah, membuat Kuroro bisa bernapas lebih mudah sekarang. Entah bagaimana, sikap permusuhan Si Kuruta terhadapnya terasa menyesakkan, seperti berjalan dengan sebuah bom waktu; seperti apa yang dikatakan Shalnark. Mereka pun mulai bicara lebih banyak, tapi kebanyakan tentang buku, politik dan sejarah. Kurapika dengan enggan harus mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ia tak pernah bertukar pendapat dengan orang dengan level tinggi manapun kecuali Kuroro Lucifer. Biasanya orang yang berbindang-bincang dengannya tidak tahu apa-apa tentang topik yang ia bicarakan, atau mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk bertukar pikiran dengannya. Tetap saja, tidak semua diskusi mereka berlangsung dengan lancar. Mereka akan berdebat, tentu saja, ketika mereka mempunyai opini yang berbeda. Keduanya sama-sama keras kepala dengan opini mereka, dan mereka bisa terus membicarakan topik yang sama selama berjam-jam.

Setelah mereka meninggalkan kota terakhir, mereka memasuki hutan. Dalam setengah perjalanan mereka di hutan, Kurapika menyatakan bahwa tempat itu lebih pantas disebut sebagai hutan belantara dibandingkan hutan biasa. Kuroro hanya tertawa geli, dan melanjutkan memimpin jalan ke luar hutan. Mereka berjalan semakin dalam…dan semakin dalam lagi ke hutan, cahaya semakin tipis dan lebih temaram saat mereka berjalan ke tengah hutan. Kurapika mulai penasaran apakah mereka tersesat di hutan atau tidak. Ia melihat ke arah Kuroro dengan ragu selama beberapa saat, namun Kuroro terlihat cukup percaya diri memimpin arah di hutan itu, seolah ia sangat mengenalnya.

"Apa kau yakin kita berada di jalan yang benar?" akhirnya Kurapika bertanya dengan ragu.

"Hutan ini tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku berkunjung."

"Kapan terakhir kali kau berkunjung?"

"Sekitar sepuluh tahun yang lalu."

"Bagus," Kurapika memutar kedua bola matanya. Mereka terus berjalan dalam keheningan, saat tiba-tiba Kuroro berhenti dan melihat ke sekitar.

"Apa kau mendengarnya?" ia bertanya pada Kurapika, sementara mata gelapnya yang tajam masih memeriksa hutan.

"Apa?"

Kurapika berusaha mempertajam pendengarannya. Apa yang ia dengar adalah suara serangga dan makhluk hidup lain yang ada di hutan itu, menimbulkan suara yang membingungkan baginya. Sesekali ia mendengar suara angin, tapi tidak lebih dari itu; setidaknya tak ada yang aneh.

"Itu suara seseorang," Kuroro melihat ke sekelilingnya lagi dengan waspada, dan ia mulai berjalan ke arah tertentu; Kurapika tidak dapat menerka apakah itu utara, selatan, barat atau timur. Ia telah kehilangan kemampuan navigasinya di hutan. Kurapika mempercepat langkahnya, dan Kurapika harus berusaha menyamai Kuroro. Belenggu itu tetap mendorongnya untuk berdekatan dengan Kuroro. Kurapika terus tersandung akar yang menonjol, sementara Kuroro berjalan dengan aman dan hal ini membuat Kurapika benar-benar kesal.

Setelah akhirnya mereka keluar dari semak-semak yang lebat, mereka muncul di tempat terbuka dengan hanya danau terdapat di tengah-tengahnya. Ranting-ranting pepohonan di sekitar kolam menjulur keluar membentuk sebuah kanopi tipis di atas air danau. Air beriak lembut menghantam tepi.

"Aku tidak mendengar ataupun melihat sesuatu yang tidak biasa di sini," kata Kurapika sambil melihat ke sekeliling.

Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatian Kurapika dari ujung matanya. Ia berbalik dan melihat seseorang di air. Seorang wanita, dengan rambut panjang ikal berwarna hijau pucat. Ia memiliki kulit yang sangat pucat hingga terlihat hampir berwarna biru, dan mata biru yang bulat. Ia melambai kepada mereka dan tersenyum menawan. Kurapika mengernyit padanya; ada sesuatu yang tidak biasa tentangnya. Setelah memperhatikan lebih lanjut selama satu menit lamanya, ia menyadari bahwa rambut wanita itu kering, walau berada di air. Kurapika pun menyadari bahwa wanita itu bukanlah manusia.

Kemudian, ia merasakan sentakan kuat dari pergelangan tangan kirinya. Kurapika melihat ke sebelah kiri dan terkejut melihat Kuroro melangkah tepat menuju danau. Bingung dengan tindakannya yang tiba-tiba, Kurapika mencuri pandang ke wajah Kuroro dan menyadari bahwa mata gelapnya yang biasanya siaga terlihat tidak fokus dan terpusat pada wanita itu. Wanita itu masih melambaikan tangannya kepada mereka, kesenangan dan kegembiraan tampak di wajah halusnya. Terkejut, Kurapika mencoba menarik Kuroro kembali tapi pria itu jauh lebih kuat darinya. Ia tidak bergeming dan terus berjalan menuju ke air.

"Apa yang terjadi denganmu?" Kurapika berteriak padanya dengan sangat kesal. Ia menarik belenggu itu tapi tidak berpengaruh sedikitpun. Kuroro tetap berjalan menuju danau dan saat mereka sampai ke tepi, Kurapika mulai panik. Entah bagaimana, ia mendapat kesan bahwa wanita itu telah menyihir Kuroro dengan cara tertentu, tapi hal itu tidak mempengaruhi Kurapika. Ia harus menemukan jalan untuk menghentikan Kuroro menerjunkan kapalanya terlebih dahulu ke danau, dan menyeret Kurapika bersamanya.

"Sadarlah, Brengsek!" Kurapika berteriak lagi, kali ini ia menarik dengan sangat keras hingga Kuroro tertarik ke belakang dan jatuh ke tanah tepat di tepi, membuat Kurapika terjatuh juga. Kurapika mengutuk pelan. Ia telah membuat pergelangan tangan kirinya terkilir saat terjatuh tadi, dan sekarang berdenyut-denyut…sungguh sakit rasanya. Kuroro beranjak dari posisinya dan berbalik untuk melihat ke arah Kurapika. Kebingungan terlihat jelas di wajahnya.

"Apa…"

"Kau sudah sadar lagi sekarang, hah?" bentak Kurapika kesal. "Kau hampir menyelam ke danau, Orang Linglung!"

"Bagaimana—"

Sebelum Kuroro dapat menyelesaikan kalimatnya, sepasang lengan muncul dari air dan mencengkeram pergelangan kaki Kuroro. Dengan kekuatan yang menakjubkan, tangan itu menarik kaki Kuroro dan menyeret mereka berdua ke dalam air. Dengan persediaan oksigen yang tiba-tiba terhenti, Kurapika langsung terserang kepanikan. Matanya kesakitan karena air yang dingin, ia pun dapat merasakan dirinya sendiri tenggelam menuju ke dasar danau. Dalam perjuangannya melawan air, ia merasakan tangan yang kuat memegangi siku kanannya. Dengan sebuah tarikan kuat, Kurapika merasakan dirinya diangkat. Saat ia membuka mata, dengan pandangan kabur ia melihat wajah Kuroro berada dekat dengannya. Kuroro benar-benar sedang memeganginya dan mencoba berenang kembali ke permukaan. Di setengah perjalanan, hanya beberapa saat lagi mencapai permukaan, Kurapika melihat sesuatu yang samar dari sudut matanya. Kurapika menoleh, ia melihat wanita itu berenang menghampiri mereka dengan kecepatan yang mengerikan.

Sebelum Kurapika bisa memperingatkan Kuroro (lagipula ia tak dapat melakukannya dengan benar di dalam air), wanita itu berenang ke arah Kuroro dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Kurapika merasakan sesuatu yang bersisik mengenai kulitnya. Terlambat, Kurapika menyadari bahwa wanita itu adalah putri duyung dan dia telah melingkarkan ekor birunya yang bersisik ke sekeliling tubuhnya dan Kuroro. Ia menekankan perutnya yang telanjang ke tubuh Kuroro, memegangi wajah pucat pria itu.

"Ow, pria yang sangat tampan. Kemari dan tinggallah bersamaku di sini…Kau mau?" bisiknya dengan menggoda. Suara dunia lain-nya bergema di dalam air. Ia tersenyum dengan menawan kepada Kuroro, dan Kuroro terlihat tak mampu untuk melawannya kembali. Kurapika dapat merasakan kelemahan Kuroro, dan yang sangat menakutkannya, Kuroro mulai menutup matanya dengan patuh. Ia sedang jatuh ke dalam mantra wanita itu, entah bagaimana Kurapika mengetahui hal ini.

Dengan solusi baru, Kurapika mengerahkan Dowsing Chain-nya dengan tangan kanannya yang bebas dan menyerang si putri duyung. Bola di ujung rantainya itu memukul si putri duyung dengan arah yang lurus dan keras tepat di pipi. Kurapika dapat mendengar jeritan kesakitan yang memekakkan telinga bergema di dalam air, mengusik air yang tenang. Kekuatan yang ia simpan di rantai itu bisa menghancurkan tulang manusia dalam keadaan biasa. Air telah mengurangi efek serangannya, sehingga rahang si putri duyung tidak sampai hancur. Tetap saja, tanpa sadar ia melepaskan kedua korbannya dan berenang menjauh dari bahaya. Mengambil kesempatan ini, Kurapika meraih Kuroro yang tak sadar ke dalam pelukannya dan berenang ke permukaan dengan seluruh kekuatannya. Ia harus berusaha keras untuk itu karena Kuroro terlalu berat baginya.

'Sial, untuk pria yang terlihat kurus sepertinya, dia sangat berat…atau aku sendiri yang terlalu kurus?' Kurapika bertanya-tanya dalam benaknya saat ia memfokuskan diri ke permukaan air di atas sana.

Setelah mereka mencapai permukaan, Kurapika berenang dengan cepat ke tepi dan mengangkat dirinya terlebih dahulu sebelum mencoba mengeluarkan Kuroro dari air. Ia menyeret Kuroro sejauh mungkin dari air, dan akhirnya duduk di bawah bayangan sebuah pohon besar. Ia bersandar di batang pohon yang sangat besar, terengah-engah dan basah, sementara matanya memperhatikan danau, mencari si putri duyung. Tidak melihat tanda apapun darinya, Kurapika melihat Kuroro, yang tergeletak tak sadarkan diri di sampingnya. Ia terlihat seperti sedang tidur dengan damai.

"Beraninya kau…"

Sebuah suara berseru di dalam air, dan mencapai telinga Kurapika bagaikan riak air. Kurapika menengadah dan melihat wanita itu berada di tepi air. Ia menatap Kurapika dengan tajam, yang hanya menatapnya dengan waspada. Entah bagaimana, sihir wanita itu tidak mempengaruhinya. Si putri duyung mengarahkan mata bulatnya dengan berbahaya dan menelitinya. Sesaat kemudian, sesuatu menyadarkannya dan mata biru wanita itu membelalak, kebenciannya terlupakan.

"Ah, pantas saja…Kau seorang gadis…"

"AKU LAKI-LAKI!" Kurapika berteriak habis-habisan, tiba-tiba menemukan energinya. Bahkan putri duyung pun keliru menyangkanya sebagai seorang gadis, rasanya Kurapika ingin mencabut rambutnya hingga terlepas semua dari kulit kepala.

"Benarkah?" tanya si putri duyung dengan ragu, tapi sekarang ada rasa penasaran tampak di matanya yang sebiru samudera. "Hmm…berapa usiamu?"

"Tujuh belas," jawab Kurapika pendek.

"Mm-hmm…kau kasus yang jarang. Tapi pria itu…" wanita itu mengisyaratkan pada Kuroro yang sedang tidur dengan anggukan kepalanya. "Jelas sekali ia terpengaruh olehku. Aku menginginkannya; aku sudah lama tidak melihat pria tampan."

"Sayangnya, aku tidak dapat memberikannya padamu, walaupun aku ingin sekali," Kurapika menghela napas. "Ia terikat denganku oleh penghubung bodoh ini." Kurapika mengangkat tangannya yang terikat, dan hasilnya lengan kanan Kuroro pun sedikit terangkat di udara.

"Hm? Menarik," wanita itu tersenyum nakal. "Bagaimana kalian berdua bisa berakhir seperti itu?"

Kurapika mengernyit padanya. Tiba-tiba saja, si putri duyung tertarik kepada mereka berdua. "Ceritanya panjang…"

"Aku suka cerita yang panjang. Beritahu aku, Nak." Si putri duyung menyeret perutnya keluar dari air dan meletakkan kedua lengannya di tanah, lalu bersandar di tepian, seolah menyiapkan diri untuk mendengarkan cerita yang bagus. Kurapika menghela napas, tapi meskipun begitu ia memberitahu wanita itu secara singkat tentang pertemuan mereka dengan Jin Hassamunnin.

"Hassamunnin, eh? Jin nakal itu sedang berkeliaran sekarang?" alis matanya yang cantik berkerut karena hal ini.

"Kau mengenalnya?" tiba-tiba, Kurapika melihat secercah harapan.

"Tidak, tidak secara pribadi. Hanya saja ia terkenal karena kenakalannya." Atau mungkin juga tidak.

"Kau ini apa? Bagaimana kau dapat memikat…hati es dari pria yang tak berperasaan ini?"

"Itulah sifatku. Aku ini siren. Namaku Rusalka. Siapa namamu, Nak?"

"Kurapika."

"Kurapika, hm?" Ia mengatakan nama itu seolah merasakannya. "Kau menipuku, Kurapika. Aku menyukaimu."

"Uh…terima kasih?" Kurapika menyeringai dengan tidak nyaman kepadanya.

"Dan dia?"

"Kuroro Lucifer," Kurapika berkata seolah nama itu adalah nama yang tabu.

"Kuroro Lucifer?" Sekilas terlihat di matanya yang bulat, sepertinya ia mengenali Kuroro. "Apa itu artinya kau menuju ke kota yang berada di ujung lain gurun pasir?"

"Bagaimana kau tahu?" Kurapika bertanya. Hanya dengan mendengar nama pria itu, ia bisa menyimpulkan seperti itu? Memangnya seberapa terkenalnyakah Kuroro?

"Jika kau bertemu dengan seorang wanita bernama Ishtar di sana, katakan padanya aku menitipkan salam. Atau bisa juga dengan memberitahu kekasihmu di sana itu."

"DIA BUKAN KEKASIHKU!" Kurapika berteriak marah, tapi siren itu hanya tertawa.

"Baiklah, sampai jumpa lagi, Kurapika." Kemudian, siren itu menyelam kembali ke dalam air, tidak tanpa tertawa gembira kepada Kurapika terlebih dahulu. Kurapika mengerang frustasi. Ia merasa ingin meninju sesuatu, dan tiba-tiba wajah Kuroro terlihat seperti target yang sempurna. Saat ia berpikir demikian, pria itu mengerang seolah kesakitan. Sebenarnya, suara ribut Kurapika cukup keras untuk bisa membangunkan orang mati.

"Sudah bangun," gumam Kurapika saat mengamati pria itu yang sedang kembali sadar.

"Beritahu aku apa yang terjadi," pintanya langsung. Kurapika memutar kedua matanya, tapi meski begitu ia memberitahu Kuroro tentang Rusalka. Ia melewatkan bagian di mana wanita itu menyangkanya seorang gadis dan menyebut Kuroro kekasihnya. Jika Kuroro mendengarnya, Kurapika sudah bisa melihat hal itu akan membuat Kuroro menggodanya tak kenal ampun dan tanpa henti.

"Dia menyebutkan seorang wanita bernama Ishtar dan ia ingin mengirimkan salam padanya."

"Ishtar, hah? Dia adalah orang yang akan kita temui." Kuroro memijit pelipisnya dengan tangan kiri, berusaha menjernihkan kepalanya dari rasa berdenyut sisa dari mantra Rusalka.

"Bagus. Jika ia mengenalkan dirinya sebagai siren, lalu dia siapa? Siren juga?" erang Kurapika. Ia akan bertemu makhluk aneh lainnya.

"Tidak, pastinya bukan siren." Kuroro menyisir rambut basahnya dengan tangannya yang bebas dengan cara disisir ke belakang—gayanya yang biasa dan melepaskan balutan basah yang menutupi keningnya. Dalam sekejap ia kembali ke penampilan Danchou-nya, dan hal itu membuat kepalan tangan Kurapika gatal untuk meninju Kuroro tepat di wajahnya.

Kurapika mengernyit terhadap pilihan kata yang dipilih Kuroro; ia seolah mengatakan bahwa wanita bernama Ishtar itu bukan manusia juga. Sementara Kurapika, rambutnya masih menutupi wajah dan benar-benar berantakan. Kuroro melihat kepadanya, dan senang melihat Kurapika terlihat lebih feminin dalam keadaan seperti itu. Ia mencondongkan badan lebih dekat untuk melirik ke wajah Kurapika, tapi Kurapika tersentak dan membentak Kuroro.

"APA?" bentaknya.

"Ayo, cepat pergi. Kita harus segera keluar dari hutan ini." Kuroro berdiri dan menarik Kurapika melalui belenggu itu. Karena gerakan itu, pergelangan tangan Kurapika yang terkilir terasa sakit, dan ia terhenyak nyeri. Ia benar-benar lupa. Kuroro berhenti dan memandangnya bingung.

"Aku membuat pergelangan tanganku terkilir saat terjatuh di sana," Kurapika mengisyaratkan ke arah tepi dengan kepalanya. "Beri aku waktu sebentar."

Kurapika mengerahkan Holy Chain-nya dan menyembuhkan pergelangan tangannya yang terkilir dalam waktu sekejap saja. Kuroro memandangnya tertarik dan menaikkan sebelah alis matanya. Itu adalah kemampuan yang tak pernah ia lihat dari Si Pengguna Rantai . Ia telah melihat Judgement Chain dan Jail Chain-nya, tapi tidak yang lain.

"Kemampuan yang kau miliki memang praktis."

"Kenapa, terima kasih," jawab Kurapika sinis lalu berdiri. Ia memeras air dari bajunya yang basah dan mengibaskan kepala untuk menghilangkan banyak air yang ada di sana.

"Memangnya kau ini apa, anjing?" kata Kuroro jengkel.

"Diam dan urus masalahmu sendiri," jawab Kurapika dingin.

Kuroro hanya mengangkat bahunya, lalu bersama-sama mereka, masih basah dari ujung kepala hingga ujung kaki, melangkah keluar dari hutan.

.

.

"Kenapa kau menyelamatkanku tadi?" tiba-tiba Kuroro bertanya. Kurapika berhenti menyentuh api dengan tongkat dan melihat Kuroro dengan menaikkan sebelah alis matanya.

Mereka berdua telah mencapai gurun pasir, dan saat hari mulai malam, Kuroro mengatakan bahwa mereka akan berkemah di sana, di tengah gurun pasir. Kurapika tidak protes ataupun mendebatnya, karena ia tahu tidak ada tempat lagi untuk berkemah. Hanya ada pasir dalam pandangan mereka. Mereka membuat api unggun kecil dan duduk bersebelahan (tak ada pilihan lain karena jarak di antara mereka hanya bisa sampai 20 cm) dekat dengan kehangatan api.

"Dan membuat diriku terbunuh jika aku tak melakukannya? Tidak, terima kasih." Kurapika meletakkan tongkat dan kembali duduk di pasir yang lembut. "Walaupun aku tak keberatan untuk mati jika aku bisa membunuhmu dengan itu." Ia melirik Kuroro dengan cepat, namun mengembalikan perhatiannya kembali ke api yang hangat.

"Jadi kau benar-benar tidak cemas jika sukumu benar-benar punah?"

"Tentu saja tidak! Apa yang membuatmu berpikir bahwa—"

"Kau adalah keturunan terakhir Suku Kuruta. Jika kau mati, itulah akhir dari sukumu." Kuroro melihat ke arah Kurapika dengan mata gelapnya. Ada keseriusan di matanya, sesuatu yang asing bagi Kurapika. Yah, Kurapika tidak pernah secara sengajamenatap dalam-dalam ke matanya, tapi tetap saja itu membuatnya merasa tak nyaman.

"Aku tahu itu."

"Tidakkah kau mau melanjutkan garis keturunan keluargamu?" tanya Kuroro lagi dengan santai, seolah mereka adalah teman dan bukannya musuh.

"Apa maksudmu sebenarnya?" Kurapika membentak padanya saat ia kehilangan kesabaran. Sebenarnya, ia tahu apa yang tengah dibicarakan Kuroro. Sebagai keturunan terakhir Suku Kuruta, beban melestarikan keturunan mereka berada di pundaknya, dan hal itu hanya dapat dilakukan dengan mempunyai keturunan. Bagaimanapun, hal itu dapat dilakukan nanti. Pembalasan dendamnya terhadap Gen'ei Ryodan tetaplah prioritas utama. Lagipula ia masih berusia tujuh belas tahun.

"Dengan memburu kami, kau membahayakan hidupmu," gumam Kuroro. "Seharusnya kau tahu cara yang lebih baik untuk bertahan."

"Apa kau mencoba memberitahuku untuk berhenti memburumu, dan bukannya berdiam, menikah, dan punya anak? Maaf, tapi itu tidak mungkin. Mengenai aku yang harus mempertahankan garis keturunan sukuku dapat dilakukan SETELAH aku membunuh kalian semua." Kurapika berbalik dan menatap Kuroro dengan mata merahnya. Kali ini, warna merahnya hanya sekilas tapi tetap saja bercahaya mengerikan dalam kegelapan gurun pasir yang dingin.

"Kau akan membuat dirimu terbunuh sebelum itu terjadi," kata Kuroro tegas.

"Jangan meremehkanku!" Kurapika membentaknya.

"Hal yang sama berlaku untukmu," jawab Kuroro tenang, walaupun ada peringatan yang digarisbawahi di nada suaranya; dan Kurapika tidak melewatkannya. Kuroro melanjutkan sebelum Kurapika protes lebih jauh, "Kusarankan setelah kita selesai dengan semua ini, kita berpisah dan tidak akan pernah melakukan apapun terhadap satu sama lain. Kami akan membiarkanmu sendiri dan kau pun akan membiarkan kami sendiri."

"Sejujurnya apa kau pikir aku BISA melupakan kebencian dan kepahitan terhadapmu dan terhadap anak buahmu? Kau membunuh SEMUA saudaraku!" Kurapika mulai berteriak kepadanya. Matanya bersinar semakin merah, seolah kedua mata itu tengah berdarah.

"Itulah kenapa aku ingin membiarkanmu pergi dan meninggalkanmu sendiri setelah semua ini." Kuroro menghela napas, seolah merasa lelah akan perdebatan mereka yang tiada akhir. "Walaupun kau telah membunuh kedua rekanku."

"Mereka pantas mendapatkannya," desis Kurapika dengan penuh kebencian.

Kuroro berbalik untuk menghadap Kurapika dan memberinya ekspresi yang sulit diterka. Tiba-tiba Kurapika merasa tak nyaman ditatap seperti itu. Kapanpun Pemimpin Gen'ei Ryodan menatapnya seperti itu, Kurapika selalu merasa tidak nyaman, seolah ia sedang mencoba untuk melihat ke dalam dirinya dan memasuki pembatas dirinya lapis demi lapis dengan hati-hati. Itu perasaan yang menakutkan…membuat Kurapika merasa lemah.

"Berapa umurmu?" tiba-tiba Kuroro bertanya.

"Apa hubungannya umurku dengan pembicaraan kita?" Kurapika melihatnya dengan pandangan tak percaya. Pria itu bisa saja mengalihkan topik pembicaraan seperti membalikkan telapak tangan, dan ia menanyakan pertanyaan yang tidak relevan seolah pertanyaan itu sangat berarti baginya.

"Jawab saja aku," ia memaksa.

"…Tujuh belas."

"Masih terlalu muda untuk menikah," Kuroro menghela napas. "Pantas saja."

"Kenapa kau memusingkan masalah tentang aku harus menikah? Itu sama sekali TAK ADA hubungannya denganmu." Kurapika hampir berdiri dalam kemarahannya dan menendang pria itu di wajahnya, tapi teringat akan belenggu itu, ia mengenyahkan pikiran itu dan memaksa dirinya untuk tetap duduk.

"Aku hanya penasaran," jawab Kuroro, dan Kurapika tahu ia jujur.

"Penasaran apanya. Urus urusanmu sendiri." Kurapika menghela napas berat dan menggerutu saat ia mengalihkan pandangannya dari pria yang berusia lebih tua darinya itu. Tanpa sadar, ia meraih dan menyentuh antingnya dengan tangan kanan. Ia merabanya sambil menatap api. Tiba-tiba, ia tidak ingin lagi berdebat dengan Kuroro. Semuanya tampak aneh. Kenapa dia membicarakan tetang menikah dan yang lainnya kepada pria itu?

"Kau mudah sekali marah, Kuruta." Kuroro tertawa dengan bergurau.

"Diam. Dan berhenti memanggilku Kuruta! Aku punya nama…" kata Kurapika lirih. Ia bimbang, antara ingin menghentikan pria itu memanggilnya dengan nama sukunya dan membiarkannya memanggil dengan nama lahir. Pikiran tentang pria itu memanggilnya dengan nama lahir hampir seperti meluluhkan diri kepadanya.

"Baik, Kurapika." Tnetu saja Kuroro tahu nama lahirnya. Selama masa penahanannya yang singkat di tangan Si Kuruta, perempuan kecil yang menemani Kurapika memanggilnya begitu.

Mengabaikan raut wajah Kurapika yang seolah tak percaya padanya, mulutnya pun menganga begitu saja, Kuroro membetulkan mantel tebalnya dan berbaring di atas pasir memunggungi pemuda Kuruta yang masih shock itu. Seringai nakal terlihat di bibirnya dan ia memejamkan matanya.

.

& Skip Time &

.

Ia terbangun lagi karena Kurapika bergerak-gerak dengan gelisah di sampingnya. Kuroro heran apakah pemuda itu pernah tidur dengan tenang untuk tujuh malam dalam seminggu. Ia pikir pemuda itu mungkin sedang mengalami lagi mimpi buruknya yang biasa. Jika ia ingin tidur nyenyak tanpa gangguan di tengah malam, mungkin ia harus terbiasa dengan sentakan pemuda itu dalam tidurnya. Dengan mengantuk, Kuroro berbalik untuk memandang Kurapika dengan kesal, tapi ia batalkan saat melihat keadaan pemuda itu.

Kurapika sedang tidur membelakangi hanya sejauh 20 cm darinya; ruang kosong yang diijinkan oleh belenggu gaib di antara mereka, meringkuk seperti bola kecil dan menggigil. Ia telah memakai jaket yang mereka beli di kota kecil beberapa minggu sebelumnya, tapis epertinya itu tak cukup. Ya, pemuda itu kurus, tak heran jika udara dingin malam hari di gurun pasir itu menyiksanya. Suhu turun drastis saat senja tiba, tapi Kurapika tidak merasakan kedinginan itu karena perdebatan mereka sebelumnya. Sekaraang ia berbaring tak bergerak di atas dataran yang dingin untuk tidur, rasa dingin mulai menyusup ke dalam tubuhnya. Tanpa sadar ia menggigil dalam tidurnya, dan terus bergerak untuk mendapatkan tempat dan posisi yang lebih hangat.

Kurapika memperhatikan pemuda itu untuk sesaat, sebelum akhirnya menghela napas dan beranjak duduk. Ia mengeluarkan Fun Fun Cloth-nya dan mengambil sebuah selimut yang tebal. Tanpa sengaja ia menarik pemuda itu melalui ikatan mereka, membuat Kurapika terbangun. Dengan gugup, Kurapika membuka paksa matanya dan menatap Kuroro, matanya seolah bertanya,'Apa yang kau inginkan?'

Tanpa berkata apapun, Kuroro menyampirkan selimut itu di atas mereka dan berbaring lagi. Kurapika memandangnya curiga, tapi saat pria itu tak berkata apapun dan apa yang dilakukannya menguntungkan dirinya, Kurapika pun tak berkata apa-apa dan menutup matanya lagi, kembali ke tidurnya yang lebih nyaman dan hangat.

.

.

'Lucu,' pikir Kuroro. Ia telah benar-benar mengira bahwa pemuda itu membencinya dengan sepenuh hati, tapi kemudian di sanalah ia, pemuda itu meringkuk di sampingnya, tidur dengan damai. Kuroro teringat pemuda itu tidur sejauh 20 cm darinya, tapi saat ia bangun, justru pemuda itu merapat kepadanya, tubuhnya tanpa sadar menginginkan kehangatan.

Ia berencana untuk bangkit dan membangunkan pemuda itu, tapi kemudian ia merasakan gerakan yang pelan dari Si Kuruta. Secara naluri, ia merilekskan badannya dan menunggu. Ia ingin melihat reaksi Kurapika saat melihat bahwa ia sedang menyandarkan kepala kepadanya; seseorang yang ia nyatakan sebagai musuh bebuyutannya. Cukup benar, reaksi pemuda itu layak untuk dilihat. Mata Kurapika membuka dengan terkantuk-kantuk. Hal pertama yang dilihatnya adalah bahan kulit berwarna hitam dari mantel Kuroro. Ia terdiam kaku untuk beberapa detik lamanya, sebelum akhirnya menganga terkejut dan mencoba melompat menjauh dari Kuroro seakan-akan ia adalah wabah penyakit.

"Sudah bangun?" suara Kuroro tetap seperti biasa, tapi di dalamnya ia menyeringai gembira.

"Apa…aku…" Kurapika tergagap, wajahnya berwarna pink dan bingung saat mendapati dirinya dalam posisi tidur yang seperti itu.

"Sepertinya kau tidak tahan terhadap malam yang berat di gurun pasir ini. Tidak terbiasa?" Kuroro beranjak bangun dan menyisir rambutnya dengan santai. Saat ia tidak mendapat tanggapan apapun, ia hanya menghela napas dn menggulung selimut. Suhu mulai naik jadi ia melepas mantelnya dan menyimpannya bersama selimut ke dalam Fun Fun Cloth. Dalam diam ia mengisyaratkan Kurapika untuk memberikan jaketnya, karena Kurapika tidak akan memerlukannya selama hari panas yang terik di gurun pasir. Tanpa berkata-kata, Kurapika menurut.

Sisa perjalanan menyeberangi gurun pasir hambar dan monoton, dengan rutinitas pagi yaitu sarapan ringan, rutinitas siang dengan berhenti untuk makan sejenak, dan rutinitas malam dengan membuat api unggun kecil dan tidur di dalams elimut yang sama. Kurapika tidak lagi protes saat mereka harus meringkuk lebih dekat agar lebih hangat, karena ia sangat membutuhkannya. Kadang-kadang ia akan mempertimbangkan menolak memakai selimut dan mengambil resiko mati kedinginan dalam tidurnya, membawa Kuroro bersamanya ke pintu kematian, dan seringkali, ia akan mengesampingkan pikiran gelap itu. Kuroro terlihat baik-baik saja, dan Kurapika dengan enggan mengetahui bahwa pria itu sebenarnya tidak memerlukan selimut tapi dengan murah hatinya iamemakai selimut itu untuk kebaikan Kurapika. Ia tahu pria itu melakukannya karena ia tidak berharap untuk merawat seorang pemuda yang sakit dalam perjalanan menuju tujuan mereka.

Waktu siang hari juga tidaklah mudah. Kurapika berkeringat dengan bercucuran, dan beberapa kali ia pikir bahwa ia akan terkena serangan panas yang parah. Ia tak mengerti bagaimana Kuroro bisa bertahan mengenakan pakaian hitamnya. Seharusnya ia sudah terpanggang sejak lama. Untungnya, ia berhasil melewati cobaan siang hari itu tanpa menarik perhatian Kuroro.

"Itu kotanya," akhirnya Kuroro mengumumkan pada suatu hari. Mereka berdiri di atas bukit pasir dan dari posisi mereka, mereka bisa melihat sebagian dari kota yang disebut Kota Sampah. "Kita akan sampai di gerbang malam ini."

"Bagus," kata Kurapika dengan suara yang serak. Ia pun terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia tidak minum setetes air pun sejak makan siang mereka tadi.

"Ini," Kuroro melemparkan botol air mereka pada Kurapika dan tidak berkata apa-apa lagi. Kurapika menatapnya untuk sesaat, sebelum meneguk air hangat cukup banyak. Sungguh menyegarkan saat air membasahi tenggorokannya. Saat ia mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan, Kurapika menatap punggung pria itu lagi. Ia merasa terganggu, karena Kuroro menunjukkan sedikit kebaikan dan toleransi kepadanya setiap saat, dan Kurapika harus yakin bahwa pria itu belum berupaya untuk bercakap-cakap dengannya. Setidaknya ia tahu Kuroro masih menjaga jarak di antara mereka.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota tanpa saling bicara. Perkiraan Kuroro benar, mereka mencapai gerbang pada awal petang. Dengan kekuatan yang baru, Kurapika berjalan lebih cepat menuju kota. Saat mereka sampai di gerbang, seorang pria raksasa membungkuk ke dinding beton pintu gerbang itu. Tampaknya ia sedang tidur, tapi saat mereka berada sekitar 10 m darinya, pria itu bergerak dan mendongak. Wajahnya yang lapuk mengernyit dalam pandangan curigasaat ia melihat dengan tajam kepada Kurapika. Kurapika mengabaikan tatapan benci itu; ia benar-benar ingin keluar dari gurun pasir. Sementara Kuroro berjalan dengan santai menuju gerbang.

"Kau bukan penduduk Ryuusei-gai," kata pria itu sambil menegakkan badannya. Dalam jarak yang lebih dekat, Kurapika dapat melihat otot yang kekar di lengan dan perutnya. Ia adalah penjaga gerbang itu, sudah jelas terlihat.

"Tenang, Jan. Pemuda ini bersamaku," Kuroro maju selangkah.

Pria tua itu mengalihkan pandangannya dari Kurapika dan menatap Kuroro. Sekilas terlihat di matanya yang berkerut, bahwa ia mengenali Kuroro.

"Kuroro? Nak, lihat bagaimana kau sudah menjadi dewasa sekarang. Pemuda ini bersamamu? Tidak masalah kalau begitu." Tiba-tiba penjaga itu menjadi lebih ramah kepada mereka. Kemudian ia berdiri dan memandang Kuroro dalam diam…mengangguk pelan seolah sedang menilai sebuah patung. Kuroro tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan seulas senyum tipis kepada pria tua itu. Kemudian ia bergerak menuju gerbang dan membuka kuncinya.

"Menjumpai Lady?" tanya si pria tua saat Kuroro dan Kurapika berjalan melewati gerbang.

"Ya. Ada sesuatu yang perlu kutanyakan padanya," jawab Kuroro sopan. Menilai dari cara Kuroro bicara dengannya penuh hormat, dan tanpa mengingat bahwa si pria tua mengenali Kuroro, Kurapika tahu bahwa penjaga itu telah mengenal Kuroro sejak masih kecil. Bahkan mungkin ia pun melihat saat Kuroro tumbuh dewasa.

"Dia akan senang melihatmu lagi. Kau adalah kebanggaannya, kau tahu itu?" ia menyeringai pada Kuroro.

Lagi-lagi, Kuroro memberinya seulas senyuman hangat terima kasih, sesuatu yang tak pernah ia berikan pada orang lain. Kurapika menaikkan sebelah alis matanya saat melihat perubahan drastis dari sikap dingin Pemimpin Gen'ei Ryodan dan ketidakpeduliannya ke sikap yang hangat dan baik hati. Hanya saja gambaran ini tidak cocok dengan gambaran Pemimpin Gen'ei Ryodan di benak Kurapika.

"Pastikan pemuda itu bersikap dengan baik!" seru si penjaga kepada Kuroro sebelum pintu gerbang di belakang mereka tertutup.

"Tentu saja," Kuroro menjawab sambil sekilas tertawa, dan Kurapika terkejut mendengar kenakalan di dalamnya. Ia mendongak dan melihat Kuroro menyeringai padanya. "Tentu saja pemuda ini akan berperilaku dengan baik, karena ia tengah berada di sarang musuhnya."

Kurapika menelan ludah. Mungkin keputusan untuk datang ke kampung halaman Kuroro bukanlah suatu keputusan yang bijak.

TBC

.

.

A/N :

Review please…! ^^