DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
Gender-bender. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
.
A/N :
Di chapter ini akan disebutkan tentang True Vision, yaitu mata yang memiliki kekuatan untuk mengetahui kebenaran sejati yang tersembunyi maupun yang disembunyikan.
.
Happy reading^^
.
.
.
CHAPTER 4 : ISHTAR
Matahari mulai tenggelam saat mereka sampai di Kota Bintang Jatuh; Ryuusei-gai. Langit berwarna oranye mencolok, menimbulkan bayangan di kota itu. Kurapika berjalan di dekat Kuroro (tanpa kemauannya) saat ia memperhatikan kehidupan Ryuusei-gai. Ia memperkirakan Ryuusei-gai adalah kota yang sangat kekurangan dan miskin, penuh preman dan penjahat. Ia membayangkan kota itu kotor, dengan sampah bertebaran di mana-mana, bau busuk sampah yang menyengat memenuhi udara laksana awan tebal. Ternyata apa yang ia bayangkan hanya sedikit yang terbukti.
Walaupun struktur kota itu kurang dan semua bangunannya bobrok, bahkan ada beberapa yang sudah hancur menjadi tumpukan puing, namun jalannya cukup bersih, hanya ada sedikit sampah yang terlihat. Udaranya sedikit lebih pengap dibandingkan dengan udara gurun yang terbuka, namun tidak ada bau yang menyesakkan di sana. Kurapika tidak terlalu yakin dengan para penduduknya, namun ia memperhatikan ada dua tanggapan yang berbeda saat mereka berdua tengah menyusuri jalan. Anak-anak berkumpul membentuk kelompok, dan terlihat kecemasan dalam pandangan mereka. Anak yang lebih kecil akan berdiri di belakang anak yang lebih tua, sementara yang lebih tua; kebanyakan adalah para pemimpin dari kelompok-kelompok itu, akan mengamati Kuroro dan Kurapika dengan curiga. Para tetua di kota itu akan melambaikan tangan kepada Kuroro atau mengangguk sebagai suatu penghormatan kepadanya. Beberapa orang di antara mereka bahkan menyapanya. Orang-orang yang lebih muda; yaitu yang seumuran dengan Kuroro, melihat ke arahnya dengan berbagai perasaan yang bercampur menjadi satu, yaitu rasa iri, menghina, atau rasa kagum. Kuroro mengabaikan sebagian besar orang-orang itu, dan hanya menyapa jika ia disapa, melangkah menuruni jalan dengan penuh percaya diri.
Di lain pihak, Kurapika merasa perutnya terasa tidak nyaman. Ia telah menerima tatapan penuh kebencian dan rasa curiga dari penduduk Ryuusei-gai, tapi ia mencoba mengabaikannya sebaik mungkin. Daripada itu, ia mencoba mengingat jalanan yang mereka lalui; setiap belokan, bangunan dan jalannya. Ia tersentak saat ada teriakan, dan tertegun melihat seorang anak laki-laki dikejar oleh orang dewasa. Anak itu mendekap sesuatu di dadanya dengan kedua tangannya. Kurapika terperangah melihat pemandangan yang mencengangkanitu. Refleks, ia bermaksud menolong anak itu namun Kuroro menolak untuk membiarkannya pergi.
"Itu bukan urusanmu. Lagipula, itulah cara hidup di sini," Kuroro mengisyaratkan pada pengejaran yang terjadi antara si anak laki-laki dan sekumpulan pria dewasa itu. "Anak-anak adalah pihak yang paling produktif di sini, menemukan banyak barang yang akan mendatangkan uang dari tempat pemulungan sampah, sementara orang dewasa memilih untuk merampok mereka daripada memulung sampah untuk diri mereka sendiri."
"Apa mereka tidak punya rasa malu? Mencuri dari seorang anak seperti itu!" Kurapika mulai kesal. Matanya masih terpusat pada lorong gelap di mana para pria dan anak laki-laki yang mereka kejar itu menghilang.
"Apa kau memperhatikan bahwa semua anak-anak itu berkelompok?" tanya Kuroro lagi.
"Ya. Tapi—" Tiba-tiba, suara benturan yang keras dan teriakan seorang pria terdengar dari lorong itu. Segera setelahnya, Kurapika mendengar seruan anak-anak; seruan yang terdengar seperti suara anak-anak di desanya sedang bermain perang-perangan. Anak-anak mulai berhamburan keluar dari lorong, anak laki-laki yang tadi dikejar, diantar oleh anak yang jauh lebih tua, senyum kemenangan terlihat di wajah mereka.
"Tidak ada anak-anak yang bekerja sendirian di sini. Untuk keselamatan dan bertahan hidup, mereka membentuk kelompok. Saat seorang di antaranya masuk ke dalam bahaya, yang lain akan datang untuk menyelamatkannya," Kuroro berkata dengan nada suara yang terdengar bosan, seolah hal itu merupakan hal yang biasa.
Kurapika hanya setengah mendengar penjelasan Kuroro, sementara ia mengamati anak-anak itu. Mereka semua memakai pakaian polos, dan, yang mengejutkan, pakaian itu cukup bersih. Anak yang lebih tua memakai pakaian yang lebih baik. Sulit dipercaya bahwa anak-anak itu harus belajar cara bertahan di usia mereka yang masih muda, hak untuk memiliki masa kanak-kanak yang bahagia dirampas dari mereka.
"Di mana orangtuanya?" tanya Kurapika, matanya masih tertuju pada anak-anak yang sedang merayakan tangkapan besar mereka hari ini.
"Tidak ada di manapun. Atau bahkan, tak ada yang mengakui sebagai orangtua mereka. Para orangtua membuang anak mereka segera setelah mereka bisa berjalan dan bicara sendiri."
"APA? Bagaimana mereka bisa—" Kurapika berbalik menghadap Kuroro, untuk melihat apakah pria itu hanya menggodanya atau sedang mengatakan kebenaran. Ia pun sangat kecewa, ternyata Kuroro sedang tidak bercanda.
"Itu untuk kebaikan mereka agar bisa bertahan di sini," Kuroro melanjutkan. "Jika anak-anak itu dinaungi dan dilindungi orangtua mereka sepertinya tidak akan bisa melihat kedewasaan. Anak-anak di sini tumbuh dengan cara yang keras. Aturan di kota ini sederhana : seleksi alam—dan menjadi yang paling pintar."
Kurapika membelalak. Ia berbalik dan melihat anak-anak itu lagi. Ia memperhatikan bahwa walaupun masa kanak-kanak mereka begitu keras, mereka tetap tersenyum dan tertawa. Seharusnya mereka bermain dan bersenang-senang, tapi mereka malah harus memulung sampah; seperti yang Kuroro katakan, untuk hidup mereka, mereka harus menghindar, berlari lebih cepat, dan mengakali preman-preman dewasa itu, mereka harus bekerja untuk bertahan hidup. Mereka tumbuh tanpa mengetahui siapa orangtuanya. Membandingkan hal ini dengan masa kecilnya, Kurapika merasa sangat diberkati karena ia memiliki masa kecil yang mudah, pembantaian sukunya dikesampingkan saja. Tiba-tiba, sesuatu terlintas di benaknya.
"Apakah Gen'ei Ryodan terbentuk dengan cara yang sama?" Pertanyaannya terdengar seperti sebuah bisikan, namun Kuroro mendengarnya dengan jelas.
"Dengan cara tertentu."
Mereka tidak berbicara lebih jauh. Jika apa yang dikatakan Kuroro benar, maka Kuroro telah mengalami masa kecil yang sama. Masa kecil yang keras dan tidak bahagia, Kurapika pun tidak dapat menahan diri untuk memahami kenapa para anggota Gen'ei Ryodan; setidaknya mereka yang langsung berasal dari Ryuusei-gai, tumbuh menjadi orang tanpa perasaan dan kejam. Mereka dilatih sejak mereka bisa berjalan. Kurapika mencoba untuk tidak bersimpati kepada masa kecil musuhnya yang buruk, tapi ia mencoba memusatkan diri kepada tindakan keji yang telah mereka lakukan. Meskipun begitu, gambaran Kuroro Lucifer sebagai seorang anak laki-laki, menghabiskan masa kecilnya sebagai anak yang melarat di jalanan, selalu berkelebat di benaknya setiap kali ia melihat anak lain melewati mereka.
"Kita sampai," Kuroro mengumumkan, menyadarkan Kurapika dari pikirannya yang dalam dan gelap. Kurapika menengadah dan menyadari bahwa mereka sedang berdiri di depan sebuah bangunan bobrok yang tampak seperti kuil yang terabaikan.
Kuroro berhenti sejenak, melihat bangunan itu dengan pandangan yang disebut Kurapika sebagai pandangan mengenang masa lalu. Ia menyimpulkan, tempat itu berperan dalam masa kecil Kuroro, tapi Kurapika tidak berkata atau menanyakan apapun. Ia tidak mau mengetahui lebih jauh tentang musuhnya. Lebih jauh ia tahu, ia akan lebih memahami pria itu. Hal ini membuatnya takut, karena ia akan belajar untuk tidak membenci Kuroro. Jika hari itu datang itu akan menjadi hari saat ia kehilangan semua tujuan hidupnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kuroro berjalan kembali dan Kurapika mengikuti di belakangnya, tidak lebih dari 20 cm jauhnya.
Mereka masuk melalui pintu utama menuju ruangan yang luas. Kuil itu pastilah megah di masa kejayaannya, namun sekarang hanya ubin marmer retak dan dinding hancur yang tersisa untuk menceritakan kisah yang ditinggalkan. Dengan kecepatan langkah yang meyakinkan, Kuroro melintasi ruangan dan berhenti di depan sebuah patung. Kurapika memperhatikan patung itu. Patung itu sudah usang oleh cuaca hingga hampir tak bisa dikenali. Beberapa bagian dari patung itu sudah hilang, dan tidak lama kemudian Kurapika dapat menebak bentuk asli dari patung itu. Ia mencondongkan badannya dengan penasaran; matanya menangkap sepasang permata merah yang berkilauan terpasang di sana. Permata itu terlihat bersih dan baru; seolah tidak tersentuh waktu dan cuaca. Kuroro mengamati Kurapika dengan senang.
"Jangan terlalu dekat, atau patung itu akan menggigitmu sampai mati," kata Kuroro, nada suaranya jauh dari apa yang disebut memperingatkan.
Sebelum Kurapika dapat mencerna arti dari kata-katanya, batu ruby itu tiba-tiba berkedip. Kurapika terperangah terkejut dan melompat selangkah menjauhi patung itu. Ia melihat sepasang permata itu dan merasa seperti orang bodoh. Permata itu adalah sepasang mata; mata seekor ular. Ular yang sangat besar bergerak melata dari patung itu, ukurannya berpadu sempurna dengan warna di latar belakangnya seperti sebuah kamuflase. Ular itu menaikkan kepalanya yang sangat besar dan ditegakkan dengan malas sambil membaui udara dengan lidahnya yang panjang dan bercabang. Ular itu mengalihkan perhatiannya kepada Kuroro, yang berdiri paling dekat dengannya. Kuroro tetap tenang saat ular yang tampak berbahaya itu menatapnya dengan matanya yang bulat.
"Kau kembalii..ssss…."Ular itu bicara dalam sebuah desisan.
Mata Kurapika membelalak terkejut dan takut. 'Tidak lagi,' pikirnya saat ia mengerang putus asa. Makhluk ajaib yang lain lagi. Sampai sejauh ini ia sudah bertemu dengan jin, siren, dan sekarang seekor ular yang bisa bicara. Apa lagi yang akan ia lihat berikutnya? Mungkin di lain waktu ia akan melihat seekor naga, ia tidak akan terlalu terkejut. Tiba-tiba dunia terlihat begitu besar dan baru bagi Si Pemuda Kuruta.
"Biarkan kami lewat, Basille. Kami ingin bertemu Lady," Kuroro berbicara kepada ular itu.
"Tentu saja…ssss…Lady sudah memberitahuku tentang kedatanganmu…ssss…" Ular itu menjentikkan lidahnya yang bercabang kepada Kuroro, yang terpengaruh dan tidak terlihat takut oleh sikap ular itu.
Si Ular melepaskan dirinya sendiri dari patung dan jatuh ke lantai yang berdebu. Ular itu melingkari tubuh patung yang sangat besar, dan dengan kekuatan dunia lain-nya, menyeret patung itu dari tempatnya, menampakkan lubang yang menganga di bawahnya. Bau udara yang apek menyeruak dari dalam lubang.
"Masuk…ssss…Lady menunggu…ssss…," Ular itu berdesis lagi. Kali ini, Si Ular menatap Kurapika dengan penasaran. Tak ingin terlihat seperti seorang pengecut, Kurapika menegarkan diri dan berdiri tegak di tempatnya. Ular itu memandangnyasejenak dan menjilati udara di sekitar pemuda itu, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari Kurapika dan diam di sekitar lubang.
"Ayo," Kuroro menarik belenggu yang menyatukan dirinya dan Kurapika.
"Kita akan masuk ke dalam sana?" tanya Kurapika ragu-ragu.
"Takut?" Kuroro menggodanya, sebuah senyum nakal terlihat di bibirnya.
"TIDAK!" bentak Kurapika jengkel kepada pria itu.
Kuroro hanya terkekeh. Mereka berdiri di tepi lubang dan bersamaan melompat ke dalamnya. Segera saja udara yang dingin seperti menggigitwajah Kurapika saat mereka turun ke dalam kegelapan yang pekat. Kehilangan seluruh indera untuk mengetahui arah dan penglihatannya, ia hanya tahu bahwa mereka terus jatuh menuju ke bawah. Di sampingnya, Kuroro terlihat benar-benar tenang, dan Kurapika tahu pria itu sedang melihat ke arahnya, turun ke dalam kegelapan yang membutakan. Mereka jatuh bebas begitu lama, sebelum Kuroro tiba-tiba berkata,
"Sekarang."
Memahami arti kata itu dengan terlambat, Kurapika menyiapkan kedua kakinya untuk pendaratan yang tiba-tiba. Kaki Kuroro menyentuh tanah dengan mulus seperti seekor kucing, tapi pendaratan Kurapika keras. Kakinya terasa sangat sakit saat rasa lumpuh menjalari seluruh kakinya, smenetara Kurapika terkejut dan tersedak dengan keras karena ia merasa tulang kakinya tertekan. Kurapika terhuyung-huyung namun belenggu yang menghubungkan pergelangan tangannya dengan pergelangan tangan Kuroro mencegahnya jatuh terbaring ke tanah. Kuroro menyadari tarikan kuat dari pergelangan tangan kanannya dan melihat ke arah Kurapika sambil menaikkan sebelah alis matanya; sikap tubuh yang membuat Kurapika mulai merasa jengkel.
"Kau baik-baik saja?" Kuroro bertanya. Suaranya bergema lembut dalam kegelapan yang lembab.
"Dan kenapa kau peduli?" gumam Kurapika kasar, merasakan rasa sakit di kakinya sudah hilang. Diam-diam ia bersyukur atas kegelapan ini, sebab jika secerah cahaya siang hari, Kuroro dapat melihat ekspresi wajahnya; yang diyakini Kurapika sebagai ekspresi wajah yang bodoh.
Kuroro menghela napas dan menunggu hingga Kurapika terlihat baik-baik saja dengan kakinya. Mereka kembali melangkah dalam kegelapan bersama-sama, suara yang terdengar hanyalah suara langkah kaki mereka. Bawah tanah yang gelap mengingatkan Kurapika pada gua bawah tanah di reruntuhan tak bernama di mana Jin Hassamunnin disegel; dan di mana nasib tragis menimpanya membuatnya terjebak dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan terkutuk itu. Setelah beberapa menit, akhirnya Kuroro memecah keheningan di antara mereka.
"Sepertinya Basille menyukaimu," ucapnya tanpa sadar.
"Siapa?"
"Basille. Ular itu. Dia adalah seekor basilisk yang ditunjuk sebagai penjaga tempat ini, dan biasanya tidak akan membiarkan siapapun masuk kecuali orang-orang yang ia kenal. Tapi ia membiarkanmu lewat tanpa menanyai ataupun mengujimu."
"Oh, aku merasa sangat tersanjung," kata Kurapika dengan sinis. "Tapi siapa yang akan kita temui, yang punya seekor basilisk sebagai peliharaannya?"
Kecurigaan Kurapika muncul lagi. Siapapun yang akan mereka temui, pastilah seseorang yang kuat. Basilisks adalah taruhan yang sebenarnya. Sekali waktu ia pernah menguping bos-bos mafia saling menantang untuk menangkap basilisk hidup-hidup. Kurapika pikir itu hanya sebuah legenda, karena tak ada seorangpun yang pernah menangkap basilisk hidup-hidup. Mengapa, karena orang-orang yang bertemu dengan basilisk umumnya mati akibat napas dan tatapan ular itu yang mematikan.
"Ishtar, Lady Ryuusei-gai."
Saat Kuroro menyebutkan nama itu, tiba-tiba mereka sudah sampai di akhir terowongan. Sebuah pintu yang mengagumkan berdiri di hadapan Kuroro dan Kurapika; relief terukir di pintu itu, menceritakan cerita kuno yang terlupakan manusia. Kuroro mengetuk pintu itu dan menunggu. Suara ketukannya bergema dalam kegelapan yang dingin.
"Masuk," sebuah suara yang lembut terdengar dengan jelas dari ruangan di balik pintu, seolah pintu itu tidak ada dan pemilik suara itu berbicara langsung kepada Kuroro dan Kurapika. Kuroro membuka pintu itu, dan pancaran udara yang bersih dan segar pun keluar dari dalam ruangan. Hembusan wewangian beraroma manis lolos dari ruang yang tertutup, dan segera membuat tubuh Kurapika yang tegang menjadi rileks.
Kuroro melangkah masuk ke dalam ruangan, menyeret Si Kuruta bersamanya. Begitu mereka masuk, pintu mengagumkan di belakang mereka tertutup dengan sendirinya. Kurapika melihat ke sekeliling ruangan. Ruangan itu besar, luas, dan hanya memiliki sedikit furnitur. Sebenarnya, furnitur yang ada di ruangan itu hanyalah sekumpulan aneh bantal-bantal dalam berbagai ukuran, warna, dan bentuk bertumpuk di lantai hingga ke tembok, dan tirai berwarna merah marun dalam ukuran dan ketebalan yang berbeda. Di sana, di ujung ruangan di antara dua tirai besar, seorang wanita sedang duduk dengan nyaman di atas setumpukan bantal yang sangat besar.
Wanita itu memiliki aura yang anggun di sekitarnya, dengan rambut hitam ikal membingkai wajahnya yang lembut. Rambutnya jatuh ke bahu dan menutupi setengah dari mukanya, warna yang mencolok itutampak kontras dengan kulitnya yang benar-benar pucat. Ia memegang sebuah hookah di tangan kanannya, gumpalan asap yang samar keluar dari pipa yang tampak antik itu. Matanya berupa sepasang mata berwarna obsidian yang sempurna, dengan kedalaman yang tak berdasar. Ia mengenakan tube dress hitam, dengan scarf sutra menjuntai membungkus bahunya yang lembut. Rok gaunnya menjuntai di lantai, menyembunyikan kedua kakinya. Ia melihat kepada Kuroro dan Kurapika dengan pandangan tertarik.
Kuroro terus melangkah dengan santai melintasi ruangan. Mata gelapnya tertuju pada wanita itu. Kurapika mengikuti tepat di belakangnya, merasa ragu harus bagaimana ia bersikap. Dalam sekali pandang, dia tahu bahwa wanita itu bukanlah orang yang suka bermain-main. Mungkin akan lebih baik jika ia membiarkan Kuroro yang menangani situasi mulai saat ini. Kuroro berhenti saat ia berdiri di hadapan wanita itu, dan saat ini mereka hanya berada sejauh beberapa meter darinya, Kurapika menyadari bahwa keharuman samar yang tercium sebelumnya menjadi lebih kuat. Ia mengenalinya sebagai aroma sandalwood.
"Apa yang kau tunggu? Ambil bantal-bantal itu dan duduklah. Lagipula ini rumahmu," kata wanita itu sambil mengisyaratkan ke arah setumpuk bantal yang bertebaran di lantai sambil ia memiringkan kepalanya dengan rasa senang terlihat di wajahnya. Senyuman senang yang dimilikinya begitu sama dengan senyum Kuroro sehingga Kurapika hampir mengernyit dengan kasar saat melihatnya.
Tanpa mengatakan apapun, dengan cepat Kuroro mengambil beberapa buah bantal lalu duduk. Dengan enggan Kurapika Kurapika melakukan hal yang sama dan duduk bersamanya. Ia melihat Kuroro, lalu melihat kepada wanita itu. Wanita menatap pria itu dengan ketertarikan yang besar terlihat di mata gelapnya.
"Benar-benar tidak biasa, kau membawa temanmu ke sini. Apalagi dia pun bukan orang biasa," katanya, suaranya tinggi dan menyenangkan.
"Dia Kurapika, Suku Kuruta yang terakhir," Kuroro memperkenalkan pemuda itu, pertama kalinya ia bicara sejak mereka masuk ruangan. Kurapika tersentak saat Kuroro menyebutkan nama sukunya, tapi kenyataan bahwa Kuroro terdengar waspada tidak luput dari pengamatan Kurapika yang tajam.
"Oh? Dia orang terakhir yang masih hidup?" ada sedikit penekanan dalam kalimatnya. "Dan kudengar kau pergi ke daerah Rukuso untuk memusnahkan suku itu dengan mengambil mata mereka yang berharga. Apa yang sedang kau coba lakukan, apakah kau ingin bertanggungjawab?" Ia menyelipkan hookah ke dalam mulutnya dan menghirup dupa beraroma sandalwood.
Kata-katanya memukul Kurapika laksana palu. Ia menjadi tegang dan wajahnya memucat. Kuroro duduk tak bergerak di sampingnya, tak terganggu oleh sikap Kurapika yang kaku. Kuroro sedikit mengernyit kepada wanita itu, seolah tidak senang dengan basa-basi yang ia ucapkan.
"Ishtar, kau tahu untuk apa aku di sini. Dengan True Vision-mu…,"ia berkata dengan nada suara yang datar.
"Tentu saja, Kuroro. Tentu saja aku tahu." Ia melambaikan tangan dengan tidak sabar. "Hibur aku sebentar saja, maukah kau?" Ia menunggu tanggapan dari ucapannya, tapi saat apa yang ditunggunya tidak muncul, wanita itu menghela napas. "Siapa yang melakukannya?"
"Jin bernama Hassamunnin."
"Hassamunnin?" ia mengernyit. "Seharusnya dia tersegel. Kalian berdua menghancurkan benda purbakala itu." Ia sedikit menyalahkan Kuroro dan Kurapika.
"Ya," Kuroro mengangguk. Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,"Saat kami sedang bertarung," sambil melirik sekilas kepada Kurapika yang duduk di sampingnya. Kurapika mengabaikannya dan menatap wanita itu dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Aku mengerti," ia menghirup dupa lagi. Asap berhembus keluar dari bibirnya yang tipis seperti tirai asap tipis. "Kau ingin aku menghapuskan mantra itu." Kata-katanya lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan daripada sebuah pernyataan.
"Ya," jawab Kuroro pendek. Kurapika melirik kepadanya dengan kikuk. Entah bagaimana, ia menangkap kesan bahwa Kuroro tidak senang berada di ruangan itu bersama wanita yang berada di hadapan mereka, walaupun ia terlihat tenang dan sikapnya terjaga seperti biasanya. Seolah Kuroro terlihat seperti ia ingin pergi dari hadapannya sesegera mungkin. Ia tak pernah melihat sisi Kuroro yang seperti ini, pria yang dingin dan tenang . Apakah Kuroro takut kepada wanita itu? Dia, Pemimpin Gen'ei Ryodan yang menjengkelkan dan sukar ditaklukkan itu?
"Kuroro, anakku, tidak semudah itu. Ada aturan yang harus kami patuhi; aturan yang bahkan aku pun tak bisa melanggarnya," ia berkata dengan dramatis dan pura-pura kesal. Tapi aku bisa membuat kondisinya lebih…terbatas."
"Itu sudah cukup. Dan aku perlu informasi…"
"Bagaimana menemukan Hassamunnin dan membuatnya melepaskan mantra itu," ia melanjutkan ucapan Kuroro. "Tentu saja. Aku akan memberikanmu informasi itu," ia menggangguk dengan tidak sabar. "Sekarang pergilah kalian ke alam mimpi."
Setelah mengatakan itu, Ishtar meniup asap tebal dupa sandalwood ke arah Kuroro dan Kurapika. Asap itu mengelilingi mereka, keduanya tersedak dan terbatuk-batuk saat mereka tanpa kehendaknya menghirup asap dengan aroma yang kuat itu. Dalam sekejap saja, Kurapika merasa kepalanya berputar dan pusing, tapi juga terasa enak; seolah ia sedang mengapung.
"Apa—" Kuroro kehilangan kewaspadaannya dan jatuh menimpa bantal yang yang lembut. Kuroro terbatuk dan memandang Ishtar dengan jengkel, sebelum akhirnya menyerah kegelapan.
Ishtar melihat Kuroro dan Kurapika sejenak, memberi mereka pandangan yang serius. Pandangannya tertahan kepada Kuroro yang sedang tertidur, dan ia menghela napas berat. Ishtar mencubit ujung hidungnya dan memijatnya lembut. Sebuah suara melata yang lembut terdengar, dan seekor ular raksasa melingkarkan tubuhnya di sekitar wanita itu. Kepalanya yang sangat besar tegak di depan wajah Ishtar, mata bulat ruby-nya berkedip penasaran.
"Kenapa kau terlihat kesal?" Ular itu berdesis sambil menjilat udara dengan lidahnya yang bercabang.
"Kuharap dia tidak memperlakukan aku seperti wabah…" ia membelai kepala ular itu dengan penuh kasih. "Tapi itu memang salahku hingga ia membenciku sekarang," gumam Ishtar pelan.
Basille menatap Ishtar dengan mata besarnya, lalu menoleh pada kedua sosok yang sedang tertidur di ruangan itu.
"Bagaimana dengan anak yang bersamanya itu?" Ia bertanya sambil bergerak melata menuju Kuroro dan Kurapika. Dengan sebuah gerakan yang cepat, Basillemengelilingi keduanya dalam satu lingkaran tubuh besarnya.Ia menegakkan kepala di hadapan Kurapika dan mengamatinya dalam diam.
"Ah, ya…Basille, bawa mereka lebih dekat kepadaku," Ishtar meletakkan hookah-nya dan menegakkan badannya. Dengan patuh ular itu menyeret mereka; Kuroro dan Kurapika di atas tumpukan bantal, mendekat kepada Ishtar sehingga wanita itu tidak perlu bangun untuk menyentuh mereka. Ishtar mencondongkan badannya dan menyentuh wajah Kurapika dengan lembut. Ia menelusuri rahangnya dengan jemarinya yang panjang, hingga perhatian Ishtar tertuju pada anting yang dipakai Kurapika. Ia menyentuhnya dengan hati-hati dan mengamatinya lebih dekat. Setelah puas, Ishtar menarik badannya kembali dan menghirup dupa sandalwood-nya dalam sekali hirup. Saat ia menghembuskan asap tipis, Ishtar menarik sebuah kota kecil yang berada di antara tumpukan bantal. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan tabung kecil dengan cairan berwarna biru gelap di dalamnya. Ishtar mencondongkan badannya lagi dan membuka mulut Kurapika. Dengan pipet kecil, ia meneteskan cairan itu ke lidahnya.
"Bangun, Nak," bisik Ishtar kepada Kurapika. Dalam sekejap, Kurapika bergerak dan mengerang.
Kedua matanya terbuka dan ia memegangi kepalanya. Rasa berputar-putar masih melekat, dan anehnya tubuhnya terasa rileks. Seolah ia baru saja terbangun dari tidur nyenyak, dan mengalami tidur yang memabukkan. Kurapika menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan awan yang seolah berada di dalam kepalanya, tapi tetap saja terasa. Dupa sandalwood juga membuatnya merasa lebih mengantuk.
"Kenapa kau melakukan ini?" terdengar suara yang berasal tepat di hadapannya.
Saat Kurapika mendongak, ia berhadapan dengan wajah Ishtar yang pucat. Ada rasa penasaran di mata wanita itu, dan ia menatapnya dekat-dekat.
"Melakukan apa?" Kurapika balik bertanya.
"Menganggap diri sendiri sebagai orang lain, daripada hidup sebagai dirimu yang sebenarnya. Apa yang kau rencanakan?"
Mata Kurapika membelalak terkejut. Ia menatap ke dalam mata Ishtar yang tak berdasar, mata itu membuatnya tenggelam, membujuknya untuk mengatakan kebenaran, memberitahunya bahwa berbohong tak ada gunanya. Mulut Kurapika mulai terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang keluar.
"Aku dapat melihat kebenaran, Nak. True Vision-ku tidak membohongiku." Ishtar menegakkan badannya dan menarik rambut yang menutupi sebelah matanya. Menampakkan bola mata yang seluruhnya berwarna putih, dengan sekilas pusaran benang perak, seperti warna marmer. Warna itu terlihat hidup, berputar dan melingkar tanpa akhir, menampakkan dimensi yang lain. Kurapika menelan ludahnya saat ia melihat mata itu; ia tahu bahwa wanita yang berada di hadapannya berada di tingkatan yang berbeda. Dan bukan manusia.
"Kau ini apa?" tanya Kurapika dalam suara berbisik yang pelan.
Ishtar memberi Kurapika senyumnya yang menakjubkan, tapi ia tidak menjawab. "Itu tugasmu untuk mencari tahu. Walaupun aku ragu kau dapat menemukan jawabannya sendiri." Ia terkekeh geli. "Tapi kembali ke pertanyaanku tadi, apa kau baik-baik saja dengan ini?"
Kurapika memandang Ishtar dengan waspada. Mengetahui bahwa wanita itu dapat melihat kebenaran, tak peduli seberapa mengesankan seseorang berbohong, ini membuat Kurapika merasa tertekan. Khususnya saat Ishtar bertanya tentang sesuatu yang sangat rahasia. Entah bagaimana, Kurapika mengerti kenapa Kuroro tidak suka berada di sekitar wanita itu. Saat Ishtar menatapnya, terasa setiap bagian dari dirinya, dikupas lapis demi lapis seperti bawang, semua pertahanannya tak berguna di hadapan Ishtar, hingga akhirnya wanita itu sampai ke inti jiwa Kurapika di mana semua kebenaran berada. Jiwa Kurapika terasa bagaikan telanjang di hadapan Ishtar. Saat ia melihat mata marmer itu, perasaan itu semakin meningkat. Ia harus mengalihkan pandangannya dari Ishtar.
"Ah, maafkan gangguanku ini." Ishtar menjatuhkan tangannya dan rambutnya pun jatuh kembali menutupi mata seputih susu itu. Lalu mereka berada dalam keheningan yang memekakkan. Ishtar mengambil waktu untuk mengamati reaksi Si Kuruta terhadap kata-katanya.
"Kau berbohong kepada dirimu sendiri, dan aku tidak berpendapat itu sehat. Apa yang mendorongmu untuk melakukan tindakan yang menyedihkan itu?" ia berkata lagi, kali ini suaranya lebih lembut, dan ada sekilas perhatian terdengar di sana.
"Menyedihkan? Ini untuk keselamatanku sendiri," Kurapika menjawab. Oh, dupa itu membuat kepalanya terasa ringan.
"Keselamatan? Jadi kau dapat bertahan cukup lama untuk membalaskan dendammu terhadap Gen'ei Ryodan?" Ishtar mengambil hookah dan menghirupnya lagi.
"Ya. Aku harus membuat mereka membayar karena telah membunuh seluruh sukuku. Sebelum itu terjadi, aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang," jawab Kurapika dengan monoton, seperti pidato yang sudah dilatih.
"Hmm…bahkan dengan mengorbankan dirimu yang sebenarnya? Bukankah itu sama saja dengan membunuh dirimu sendiri? Jiwamu tersiksa dengan bayangan masa lalumu, dengan kebencian menghantuimu bagaikan wabah, dan dengan penyangkalan dirimu sendiri. Kenapa menyangkal dirimu yang sebenarnya? Kau akan menyesalinya nanti." Ia berkata dalam suara yang pelan dan tenang. Sesaat, Ishtar menutup matanya. "Tubuhmu mungkin masih tetap hidup, tapi jiwamu bisa saja mati pada suatu saat nanti. Apa kau baik-baik saja dengan itu?"
"…Aku sudah memutuskan." Kurapika memejamkan mata dan menggertakkan giginya. Ia tahu harganya mahal, tapi ia tak punya pilihan lain yang lebih baik. Ishtar memandangnya sejenak, menilainya diam-diam.
"Aku mengerti," kata Ishtar saat ia menghempuskan kepulan asap yang tipis.
"Jangan beritahu siapapun," tiba-tiba Kurapika berkata, dengan desakan terdengar di nada suaranya. "Terutama dia," ia berkata dengan suara yang lebih pelan sambil melirik Kuroro yang masih tertidur. Ishtar membiarkan matanya tertahan pada Kurapika, sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Kurapika lagi, suaranya terdengar ragu.
"Tanya saja, aku akan menjawabnya jika aku bisa atau jika menurutku itu boleh dijawab," Ishtar berkata dengan sekilas kekuasaan terdengar dari nada suaranya. Untuk sesaat Kurapika ragu, kemudian melirik Kuroro lagi sejenak.
"Apa kau ibunya?"
Mata Ishtar berkedip mendengar pertanyaan Kurapika, dan tetap diam untuk beberapa detik sebelum menampakkan senyum sedih namun paling menawan yang pernah Kurapika lihat dari diri wanita itu. Ishtar tertawa dengan lembut.
"Kuharap begitu," Ishtar berkata dalam suara yang hampir terdengar seperti sebuah bisikan. "Aku membesarkannya, tapi anak itu tidak akan memanggilku ibu. Aku tak berpikir ia akan melakukannya." Ia menggelengkan kepalanya yang cantik dan sejuntai rambut ikal bergoyang di wajahnya dengan lembut.
"Kau membesarkannya? Tapi dia bilang anak-anak dibuang di sini, di Ryuusei-gai," Kurapika cemberut karena perbedaan itu.
"Memang itu adalah hukum tak tertulis yang ditetapkan oleh warga di sini. Dalam kasusnya…," suara Ishtar menggantung dan pandangannya jatuh kepada Kuroro. Ia memandangnya dengan pandangan rindu, tapi kemudian menghela napas kembali. "Aku tidak akan memberitahumu lagi."
"Hah?" Kurapika pikir wanita itu sangat ingin memberitahu mengenai hubungannya dengan Kuroro, tapi tiba-tiba sesuatu datang kepadanya dan membuat Ishtar berubah pikiran.
"Mengenai masa lalunya, masa kecilnya, sejarahnya, bukan hakku untuk memberitahukan semua itu kepadamu. Jika kau ingin tahu, tanya dia," katanya tegas, dengan nada suara yang terdengar pasti.
"Oh…"
Entah bagaimana, Kurapika merasa kecewa. Bukannya ia sangat ingin mengenal Kuroro lebih baik, tapi ia bingung. Di sini, di hadapannya, ada seorang wanita, lady yang sempurna, bukan manusia (sejauh yang Kurapika tahu), sangat lembut dan bersikap layaknya seorang ibu terhadap Kuroro, pembunuh yang kejam dan berdarah dingin, yang telah membunuh seluruh sukunya hanya untuk mata mereka. Kehadiran figur seorang ibu tidak selaras dengan insting haus darah yang dimiliki Kuroro sebagai seorang pembunuh. Ada sesuatu yang salah di masa pertumbuhannya, atau masa lalunya, dan itu mengganggu Kurapika. Ia ingin tahu kenapa. Apa yang membentuknya menjadi pembunuh seperti saat ini? Kurapika pun melihat Kuroro menjaga jarak antara dirinya dan Ishtar, sementara wanita itu mencoba untuk menjembatani jurang tersebut. Ini ironis, dan tentu saja menjengkelkan Kurapika. Kuroro membiarkan Ishtar begitu saja, sementara Kurapika mengidam-idamkan figur seorang ibu untuknya sendiri; untuk ibunya yang telah dibunuh dengan kejam lima tahun yang lalu atas perintah Kuroro.
"Baiklah, aku sudah selesai bicara denganmu." Ishtar menghirup dupanya lagi dan meniupnya ke arah Kurapika. Lagi-lagi, asap mengelilingi kepalanya dan membuainya ke dalam rasa kantuk yang memusingkan. Sebelum ia jatuh ke dalam tidur yang nyenyak, ia mendengar suara Ishtar yang terdengar jauh,
"Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahunya mengenai percakapan rahasia kecil kita."
.
.
"Jadi sudah berapa lama?" Ishtar bersandar ke bantal lembut di belakangnya dan menutup matanya. "Sepuluh tahun?"
"Hampir," jawab Kuroro dingin. Ia sempat terkejut saat menemukan dirinya berada begitu dekat dengan Ishtar saat terbangun dari tidur karena bius dupa itu. Tapi kemudian, seharusnya ia tak perlu terkejut lagi.
"Dan kau tak pernah mengunjungiku, bahkan tidak menghubungiku sekalipun," Ishtar menghela napas.
Kuroro tidak berkata apa-apa, tapi hanya melihat kepada Si Kuruta yang sedang tertidur. Ia tak pernah sengaja mengamati pemuda itu dekat-dekat saat ia sedang tidur, tapi kali ini, Kuroro menyadari sesuatu. Entah apakah ia hanya berhalusinasi akibat dari dupa itu, atau ia hanya melihatnya untuk yang pertama kali. Pemuda itu terlihat sangat feminin saat ia sedang tidur; tak ada tatapan marah maupun raut wajah cemberut, hanya wajah tak berdosa seorang pemuda berumur tujuh belas tahun. Seolah Kurapika berubah menjadi sosok yang sepenuhnya berbeda. Ishtar melihat ketertarikan Kuroro yang tiba-tiba terhadap pemuda itu dan terkekeh.
"Beri tahu aku lebih banyak tentang anak itu."
"…Tak ada lagi yang bisa aku beritahukan padamu mengenai dirinya. Aku sudah memberitahumu semua yang aku tahu. Sekarang, cukup sudah basa-basi ini," ia menuntut dengan tidak sabar.
"Tidak sabaran seperti biasanya, Kuroro?" Ishtar menggelengkan kepalanya secara dramatis sekali lagi. Segera setelah Kuroro jatuh ke dalam tidur nyenyak, tak terganggu apapun, Ishtar menegakkan badannya. Ia melihat kepada belenggu gaib yang menghubungkan kedua musuh bebuyutan itu.
"Keluarlah, Hassamunnin. Aku tahu kau ada di situ."
"Kau mendapatkanku, Lady. Kau tetap tajam seperti biasanya. Kau memiliki rasa hormatku terhadapmu."
Sebuah bola dengan cahaya biru yang lemah keluar dari belenggu gaib itu dan mengapung di udara. Jin kecil muncul dalam kepulan asap berwarna biru dan membungkuk dalam sikap yang terhormat. Ishtar menertawakan kepura-puraannya dalam bersikap baik seperti itu.
"Jangan mencoba merayuku, Hassamunnin. Kau tahu itu tidak akan berhasil terhadapku," Ishtar tersenyum padanya. "Sekarang, ayo kita kembali ke masalah. Kau tahu apa yang aku inginkan."
"Ck, aku bertaruh pasti anak itu mendapatkan sikapnya darimu," Hassamunnin memanyunkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tidak senang.
"Menurutmu begitu?" Ishtar kembali bersandar ke bantalnya dengan malas, tapi sebenarnya ia senang mendengarnya. "Sekarang ke masalah itu."
"Aku tidak akan menghancurkan ikatan itu. Aku ingin tahu bagaimana cerita mereka akan berakhir," kata Hassamunnin dengan tegas, dan tidak akan ada yang bisa mengubah keputusannya. "Lagipula, aku memegang teguh mantraku!"
"Aku tahu itu, Nak." Ishtar menghirup dan menghembuskan asap dari dupanya. "Tapi aku memang tertarik tentang bagaimana hubungan mereka akan berkembang. Musuh bebuyutan yang terikat belenggu dan menghubungkan nyawa mereka satu sama lain. Seorang akan mati jika yang lainnya pun mati. Betapa ironis."
"Jadi secara spesifik, apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Apa yang dapat kau lakukan untukku?"
"Hmm…" Hasamunnin berbalik dan memandang kedua sosok yang sedang tertidur itu. "Mungkin aku bisa melakukan sesuatu tentang belenggu itu."
Ishtar menaikkan sebelah alis matanya. "Jelaskan."
"Kau lihat di sana," jin itu menunjuk ke arah belenggu gaib. "Mereka dibatasi oleh rantai di pergelangan tangan mereka. Aku dapat merubah batasan itu untuk melibatkan seluruh bagian tubuh, tidak hanya pergelangan tangan mereka."
"Berarti sekarang mereka bisa menggerakkan tangan dengan bebas dan tetap dibatasi oleh jarak, tapi lebih fleksibel."
"Ya. Di kaki mereka, lengan, atau bahkan rambut, selama mereka berada dalam jarak yang diberikan belenggu itu, semua akan baik-baik saja," Hassamunnin mengangguk.
"Hmm…cukup bagus. Lakukan."
Dengan bibir yang manyun karena merasa jengkel telah diperintah, jin itu berbalik dan melakukan tugasnya dengan sekali kibasan tangan. Rantai itu hilang, tapi sebagai gantinya, seluruh tubuh Kuroro dan Kurapika diselubungi aura tipis Hassamunnin. Puas dengan hasil kerjanya, jin itu kembali berbalik kepada Ishtar untuk menunggu pujian.
"Bagus," Ishtar berkata. "Terimakasih telah menjawab permintaanku."
"Oh, itu bukan apa-apa. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu senang, Lady." Lagi-lagi, ia membungkuk dengan hormat. "Tapi aku sama sekali tidak mengerti kenapa seseorang ingin menyita banyak waktu dan energimu untuk membesarkan seorang anak manusia," Hassamunnin berkata lagi sambil melihat Kuroro dengan ketertarikan yang baru. "Kenapa?"
"Kenapa, ya?" Ishtar mengangkat tangannya dan menempatkan dagunya di telapak tangan, sikunya ditempatkan di atas bantal empuk sementara tangan yang satunya lagi tetap memegang hookah. Ia memejamkan matanya dan mengingat malam saat pertama kali ia bertemu dengan Kuroro. Hujan itu, sosok yang tak bernyawa, darah, raut wajahnya, dan mata itu. Ishtar masih mengingatnya dengan jelas, seolah hal itu baru saja terjadi kemarin.
"Mungkin aku jatuh cinta padanya di pandangan pertama," ia berbisik kepada dirinya sendiri.
"Pada seorang anak?" sekarang Hassamunnin benar-benar terdengar terkejut. "Aku tidak pernah tahu kau seorang pedofil."
"Bukan dalam arti seperti itu, Bodoh!" Ishtar meliriknya tajam. Jin itu gemetar saat pandangan Ishtar merasukinya. Jika saja tatapan bisa membunuh, ia akan termutilasi ke dalam beberapa bagian yang tidak dapat dikenali karena tatapan Ishtar.
"Baiklah…jika tidak ada lagi yang akan kau lakukan padaku, aku akan pergi…"
"Hassamunnin?" Ishtar memanggil jin itu sebelum ia menghilang ke dalam asap berwarna biru.
"Ya?"
"Kau akan mengawasi mereka?"
"Tentu saja."
"Datanglah padaku segera…," ia terdiam untuk sesaat. "…Jika itu terjadi…"
Jin Hassamunnin memandang wanita itu sejenak. Wanita anggun itu, Lady Ryuusei-gai, memandang Kuroro Lucifer, Pemimpin Gen'ei Ryodan, dengan pandangan seperti pandangan seorang ibu. Dan wanita itu bahkan bukan manusia. Wajah Hassamunnin pun menjadi lebih lembut.
"Aku mengerti. Kau benar-benar peduli pada anak itu, ya?"
"Dia anakku," Ishtar tersenyum dengan lembut.
"Apakah…" Hassamunnin melihat ke arah Kuroro. "Dia tahu apa kau sebenarnya?"
"Tidak, dia tidak tahu."
"Aku penasaran apa yang akan dia rasakan…," sebuah senyum nakal menghiasi wajahnya. "Jika dia tahu bahwa dia telah dibesarkan oleh seorang Medusa?"
TBC
.
.
A/N :
Review please… ^^
