DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

Gender-bender. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 5 : KURAPIKA'S TRUE SELF

Diam-diam Kuroro melihat ke rekannya yang sedang tidur. Ia mengamati struktur wajahnya dengan hati-hati, mencatat bahwa semakin ia memandangnya, ia semakin merasa bahwa pemuda itu telah berubah. Pandangan marah dan raut wajah cemberut tetap terlihat di sana kapanpun Kuroro mengeluarkan komentar yang membuat pemuda itu marah atau kesal, tapi bukan itu yang sedang Kuroro pikirkan saat ini. Sesuatu yang tidak bisa dengan tepat ia jelaskan telah berubah, dan Kuroro tidak tahu apakah hal itu merupakan sesuatu yang lebih baik atau lebih buruk.

Mereka sudah bepergian bersama sekitar dua minggu lamanya, dan mereka telah belajar untuk mempercayai satu sama lain pada bagian (kecil) masalah tertentu. Untuk pertama kalinya, Kuroro dan Kurapika telah sepakat bahwa mereka tidak akan mencoba untuk saling mencekik satu sama lain hingga mati dalam tidur mereka. Dengan cara ini, keduanya dapat tidur lebih nyenyak pada malam hari. Setelah mereka menyelesaikan urusan di Ryuusei-gai, terutama dengan Ishtar, mereka meninggalkan kota itu secepatnya. Jan cukup kecewa melihat Kuroro pergi begitu cepat, dan memberitahu pria itu bahwa para tetua di konsil ingin berbicara dengannya. Kuroro harus menolak. Berbicara dengan Konsil dengan Kurapika bersamanya bukanlah suatu hal yang bijak untuk dilakukan. Kuroro akan kembali lain waktu, saat ia dan Kurapika akhirnya terbebas dari belenggu gaib itu.

Ishtar telah memberitahu Kuroro dan Kurapika mengenai kesepakatannya dengan Hassamunnin. Jin itu menolak untuk melepaskan belenggu di antara mereka, sehingga Kuroro dan Kurapika tak punya pilihan lain selain menemukan jin lain, atau makhluk gaib lainnya, dengan kekuatan yang melebihi Hassamunnin dan menyuruh mereka untuk mencabut mantranya. Ishtar memberi mereka sepasang cincin yang akan memberi tahu jika ada makhluk gaib di dekat mereka. Ini berarti bahwa Kuroro dan Kurapika harus bepergian dari satu tempat ke tempat lain secara acak, dengan kata lain, berkeliling dunia. Di samping itu, ada hal lain yang mengganggu Kuroro. Sebelum mereka pergi, Ishtar membisikkan sesuatu padanya,

"Saat perubahan yang tidak normal terjadi pada anak itu, segera hubungi aku. Mengerti?"

Kuroro ingin mendebatnya, tapi ia mendengar finalitasdalam nada suaranya. Tak peduli seberapa ingin ia membantah, saat Ishtar memberikan perintah kepadanya, Kuroro harus memenuhinya. Ia tahu dari nada suara wanita itu bahwa yang ia bicarakan adalah hal yang penting, dan sebaiknya Kuroro mengikuti nasihatnya, tambah lagi dengan mempertimbangkan bahwa Ishtar memiliki True Vision. Yang membuat Kuroro penasaran, ada apa dengan pemuda itu? Jika Ishtar sangat serius mengenai hal ini, berarti ada sesuatu yang kritis namun ia tidak akan memberitahukan itu kepada Kuroro. Sejauh ini, tidak terjadi apapun.

Hal lain yang Kuroro sadari; jarak di antara dirinya dan Kurapika sudah melebar. Ia tidak tahu apakah Si Kuruta menyadarinya atau tidak, tapi jarak di antara mereka telah bertambah sekitar 20 cm. Kuroro tahu perubahan ada di pihak Kurapika. Lagipula, ini tidaklah seperti ia membenci pemuda itu. Sebenarnya, Kuroro tertarik pada potensinya yang tak terbatas, belum lagi kemampuan Nen-nya yang serba guna. Bahkan ia berpikir untuk membuat Kurapika bergabung dengan Gen'ei Ryodan. Kuroro telah mempelajari kemungkinan ini, walaupun sekarang ia menyadari bahwa Si Pemuda Kuruta adalah orang yang pintar dan tidak akan mudah terpengaruh bujukannya. Jika hal ini bukanlah hal yang mustahil, maka kemungkinan hal ini hampir mustahil.

Suara gemerisik dari semak-semak membuat Kuroro waspada. Ia mengarahkan pandangannya, mencoba memasuki kegelapan hutan di sekitar mereka namun tak terlihat apapun. Angin bertiup, membelai rambut hitam Kuroro. Mungkin itu hanya beberapa ekor hewan liar yang muncul pada malam hari, tapi ia harus memastikannya. Mungkin saja perampok, atau yang lebih buruk lagi; pemburu bayaran. Ia mengerahkan En-nya untuk memeriksa sekitar, untuk berjaga-jaga. Bahkan jika orang-orang yang mengintai mereka adalah Pengguna Nen yang sedang dalam kondisi Zetsu, mereka tetap saja tak bisa melarikan diri dari En milik Kuroro. Betul juga, Kuroro mendeteksi ada beberapa orang, menyebar di sekitar dirinya dan Kurapika, mempersiapkan sebuah penyergapan.

"Bangun," ia menepuk sekilas bahu Kurapika. Pemuda itu mudah terbangun; ia hanya memerlukan sebuah tepukan di bahu untuk membuatnya membuka matanya.

"Ada apa?" Kurapika bertanya dengan terkantuk-kantuk dan sedikit merasa kesal. Hal ini membuat Kuroro melongo, bagaimana sebuah gerakan tubuh yang sederhana membuatnya bisa menimbulkan kekesalan pemuda itu.

"Kita punya tamu tak diundang. Bersiaplah,"

Si Kuruta menggerutu dengan tidak senang namun ia tetap mematuhi Kuroro dengan wajah yang benar-benar cemberut. Kurapika beranjak duduk dengan malas, berpura-pura bahwa ia tidak waspada, padahal sebenarnya ia benar-benar terjaga seperti saat siang hari. "Siapa?"

"Aku belum tahu. Mungkin pemburu bayaran, atau hanya perampok," Kuroro mengangkat bahu, dan kembali ke posisi duduknya yang biasa. Mereka menunggu sambil berpura-pura bahwa mereka hanya sedang duduk-duduk di dekat api unggun.

"Jangan bunuh siapapun," tiba-tiba Kurapika berkata sambil menatap bara api.

Kuroro memberinya pandangan yang membingungkan. "Kita mulai."

Seolah menjawab isyaratnya, sekelompok orang melompat dari semak-semak di sekeliling mereka, semuanya mengarahkan senjata ke arah Kuroro dan Kurapika. Secara bersamaan, keduanya melompat agar tidak ditusuk atau dibelah oleh orang-orang itu, namun pada kekuatan yang berbeda tingkatannya. Kuroro melompat lebih jauh, menyeret Kurapika bersamanya karena jarak di antara mereka hanya sekitar 40 cm. Kurapika tersandung dan menabraknya. Ia kehilangan pijakannya dan harus berpegang erat kepada Kuroro; bersandar ke dada pria itu, tepatnya, untuk mencegah agar ia tidak jatuh, sementara Kuroro harus memegangi sikunya.

"Ceroboh," Kuroro menyeringai.

"DIAM!" bentak Kurapika, ia pun segera melepaskan diri dari Kuroro. Ia menegakkan badannya dan mengamati wajah para penyerang itu.

"Wah, lihat siapa yang kita dapatkan di sini," salah satu dari orang-orang itu bicara, yaitu seorang pria berkulit coklat yang mengenakan baju tanpa lengan. "Kuroro Lucifer dan kekasihnya!"

"AKU LAKI-LAKI!" Kurapika berteriak kepada pria itu, ia sangat marah. Kuroro, orang yang sudah terbiasa dengan teriakan Kurapika setiap saat ada orang yang keliru menganggapnya sebagai seorang gadis, hanya terkekeh. Kurapika menoleh kepadanya dengan mata yang melotot.

"Sejujurnya, menurutku kau harus menaruh pengumuman di keningmu yang mengatakan : aku laki-laki," goda Kuroro.

"Diam, Brengsek!" Kurapika merasa wajahnya seperti terbakar.

"Apapun itu, kau tidak beruntung, Bocah. Malam ini kami akan mendapatkan hadiah untuk kepalanya, tapi menurutku kau juga harus ikut," pria berotot itu berkata lagi sambil melangkah mendekati Kuroro dan Kurapika.

"Jadi kau pemburu bayaran," Kuroro berkata, menegaskan rasa penasarannya. "Maaf, Tuan-Tuan, tapi aku bermaksud untuk membiarkan diriku ditangkap oleh kalian."

"Kau tahu?" Si Pria Berotot menyeringai. "Pengumumannya mengatakan : 'Hidup atau Mati'."

"Hm…menarik," Kuroro mengangkat sebelah tangannya untuk menutupi mulutnya, memperlihatkan sikap tubuhnya yang biasa saat ia sedang berpikir.

Kurapika memutar kedua bola matanya dengan jengkel. Ia tak bisa percaya, pria berkulit coklat itu sangat bodoh. Bahkan semua pemburu bayaran itu tidak akan punya kesempatan untuk mengalahkan Kuroro Lucifer. Bahkan Kuroro akan mengatasi mereka sendirian secara sekaligus; dan mereka memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa jika perlu mereka akan membunuh Kuroro demi hadiah itu.

"Ini akan menjadi pertama kalinya bagi kita untuk bertarung secara berdampingan."

"Benar," Kurapika menyeringai. Biasanya mereka selalu mencoba untuk saling mencekik satu sama lain. "Menurutmu kita berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan?"

"Tidak. Menurutku ini kesempatan yang bagus untuk mengukur kecocokan kita dalam bertempur."

"Apa?"

Sebelum Kuroro dapat menjelaskan lebih jauh, para pemburu bayaran itu kehilangan kesabaran dan menyerang mereka berdua secara bersamaan. Kuroro dan Kurapika dikelilingi orang-orang itu dalam satu lingkaran penuh. Mereka tidak dapat melepaskan diri karena belenggu itu, tapi mereka juga tidak bisa mengambil resiko untuk melompat, karena saat mereka berada di udara, keadaannya akan lebih rawan. Hanya ada satu pilihan bagi Kurapika. Ia mengeluarkan Dowsing Chain-nya dan mengelilingi dirinya dan Kuroro dalam bentuk spiral. Rantai Nen itu memblokir semua serangan, dan dengan satu dorongan, membelokkannya kepada para pemburu bayaran itu. Mereka terkejut dengan trik kecilnya, mulut mereka menganga seperti laci yang terbuka karena engselnya yang longgar.

"Dapatkah kau bertarung hanya dengan menggunakan tangan kananmu?" tiba-tiba Kuroro bertanya.

"Sepertinya bisa. Kenapa?" Kurapika tidak melihat Kuroro saat ia bertanya, pandangannya tertuju pada musuh yang ada di hadapan mereka, walaupun ia ingin meminta penjelasan lebih banyak dari Kuroro.

"Bagus. Kalau begitu kita harus bertarung seperti ini." Tiba-tiba Kuroro menarik tangan kiri Kurapika dengan tangan kirinya. Kurapika tersentak karena sentuhan yang mendadak dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan, tapi Kuroro tidak menghiraukannya. Ia bergeser dan berdiri menghadap ke arah yang berlawanan dari arah Kurapika. "Belenggu ini membatasi gerakan kita. Akan lebih mudah jika kita berpegangan tangan."

Kurapika mengerti apa yang dibicarakan Kuroro. Jika mereka bertarung sendiri-sendiri tanpa saling berpegangan, mereka akan lupa mengenai belenggu gaib itu dan mungkin akan menghasilkan gerakan yang sembrono. Jika mereka berpegangan tangan, mereka akan selalu berada dalam jarak yang diijinkan, dan dapat mengurangi kemungkinan melakukan kesalahan yang bodoh. Tangan besar Kuroro menyelimuti sepenuhnya tangan Kurapika yang lebih kecil, dan Kuroro memeganginya erat-erat. Bahkan jika Kurapika tidak memegang balik tangannya, ia tahu ia tidak akan terlepas dari pegangannya itu. Lengan Kurapika menjadi kaku untuk sementara, seolah terkena penyakit setelah bersentuhan dengan Kuroro Lucifer, tapi Kurapika memaksa lengannya untuk rileks. Walau bagaimanapun juga, perhatiannya tak boleh teralih dari para pemburu bayaran itu hanya karena sebuah sentuhan fisik.

"Baiklah," Kurapika menjawab dengan berat hati dan menganggukkan kepalanya, lalu memegang balik tangan Kuroro. Kuroro mengambil Pisau Benz-nya, sementara Kurapika mengambil tanto miliknya. Mereka sedikit menekukkan lutut ke dalam posisi bertarung.

"Ayo mulai pestanya."

.

.

Kuroro menghapus darah dari wajahnya dan mengganti pakaiannya yang penuh noda darah dengan pakaian yang bersih. Setelah selesai, ia melihat sekitar. Tubuh tak bernyawa berserakan di mana-mana, belum lagi darahnya. Ia duduk di atas batang pohon yang jatuh dan menoleh untuk melihat rekannya yang tak sadarkan diri.

Kuroro sempat terkejut, Si Kuruta mau bekerjasama sepenuhnya dalam pertempuran. Ia tidak mengira tingkatan kecocokan di antara mereka, mengingat kebencian pemuda itu yang sangat mendalam terhadapnya. Yang mengganggu Kuroro adalah bahwa pemuda itu mencoba untuk tidak membunuh seorangpun, semua karena nilai-nilai moralitasnya yang aneh. Itu adalah kesalahan Kurapika, dan pada akhirnya, ia harus menerima akibatnya.

Salah seorang pemburu bayaran yang Kurapika kira telah berhasil ia lumpuhkan bangkit kembali dan menyerangnya. Kurapika berkelit dari pisau itu, dalam jarak satu inci lagi hampir saja mengenai pipinya. Namun akhirnya pisau itu mengenai antingnya. Kurapika tersentak kaget, sesaat ia kehilangan konsentrasinya dan para pemburu bayaran itu mengambil kesempatan untuk menyayatnya, menyobek bagian depan bajunya hingga terbuka. Pada detik berikutnya, wajah Kurapika terlihat benar-benar marah lalu ia menendang ulu hati pria itu. Pria itu kesakitan, dan tanpa ampun Kurapika memukul bagian belakang kepalanya dengan keras…menggunakan ujung gagang tanto-nya. Kuroro mendengar suara retak, dan yakin bahwa Kurapika telah meretakkan tengkorak pria itu; menjadikannya pembunuhan pertama yang dilakukan Kurapika dalam pertarungan ini. Sepertinya pukulan Kurapika menyebabkan pendarahan yang parah di dalam kepalanya.

Saat Kuroro mengirimkan dua orang pemburu bayaran lagi untuk menemui Penciptanya, ia menyadari Kurapika bersikap aneh. Kurapika mulai gemetar, menggumamkan "Antingku" seperti orang gila sambil memegangi sebelah telinganya. Terganggu dengan menurunnya konsentrasi Kurapika, Kuroro menarik Kurapika ke arahnya dan menoleh untuk memberinya suatu tatapan peringatan namun ia terkejut melihat ketakutan di mata biru pemuda itu.

"Ada ap—"

Tiba-tiba, Kurapika ambruk. Refleks, Kuroro menangkapnya dengan tangan kiri dan memeluknya. Ia tidak mengerti kenapa Kurapika tiba-tiba pingsan. Ia yakin Kurapika sama sekali tidak tergores, jadi ia mencoret kemungkinan pemuda itu terkena racun. Saat Kuroro mendengar teriakan perang dari pemburu bayaran yang tersisa, Kuroro mendecakkan lidahnya dan memutuskan untuk memeriksa dan menanyai Kurapika nanti. Dengan tangan kiri Kuroro memegangi Si Kuruta yang lemah dengan melingkarkan tangannya di perut pemuda itu, Kuroro menghabisi lawannya dengan satu sayatan di tenggorokan mereka. Ia terkejut karena Kurapika terasa begitu ringan dalam pelukannya.

Setelah memastikan semua pemburu bayaran itu sudah mati, Kuroro menjatuhkan Kurapika ke batang pohon terdekat dan memeriksa apapun yang mungkin bisa menyebabkan pemuda itu pingsan. Ia memeriksa lengan, kaki dan wajahnya, tapi tak ada apapun. Saat ia akan memeriksa lehernya, Kuroro menyadari bahwa pakaian Kurapika sobek karena sayatan pisau dan menyadari sesuatu yang seharusnya tidak berada di sana. Sebuah dugaan muncul di benaknya, wajah Kuroro pun menjadi pucat. Ia bersumpah, ia memiliki karma yang benar-benar buruk. Di sana, di balik pakaian Kurapika yang sobek, Kuroro melihat dua (walaupun kecil) tonjolan di dadanya.

Kurapika Kuruta benar-benar seorang gadis.

.

.

Kuroro menutupi mulutnya dengan tangan kiri, dalam sikap berpikirnya yang khas. Sikunya bertumpu di pangkuan, sementara matanya tertuju pada Si Kuruta yang sedang tertidur. Sekarang ia tahu kenapa selalu merasa aneh saat melihatnya. Kuroro merasa bahwa gadis itu lebih dari apa yang dilihatnya; dan ternyata itu benar. Kuroro mengambil ponselnya dari dalam saku dan menatap benda itu ragu-ragu dengan matanya yang gelap. Inilah yang dimaksud oleh Ishtar. Wanita itu tahu bahwa sebenarnya Kurapika seorang gadis; tak diragukan lagi, ia mengetahuinya melalui True Vision. Kuroro meraba tombol ponsel dengan ibu jarinya untuk sesaat, bertanya-tanya apakah ia harus menghubungi Ishtar atau tidak. Lagipula, sekarang ia berurusan dengan seorang gadis, dan Kuroro membutuhkan nasihatnya. Ia tidak pernah menangani seorang wanita sebelumnya, apalagi seorang gadis remaja. Oh tentu ia pernah berurusan dengan wanita; Machi, Shizuku dan Pakunoda, tapi mereka kasusnya berbeda. Kuroro tidak pernah menyentuh seorang wanita pun dalam hidupnya. Ia tidak pernah tertarik kepada mereka, kecuali jika mereka menunjukkan potensi yang tidak biasa sebagai seorang petarung dan mungkin kemudian Kuroro akan tertarik untuk merekrut mereka.

"Tidak," bisik Kuroro kepada dirinya sendiri sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. "Aku akan mengatasinya sendiri, lihat dulu bagaimana jadinya nanti. Jika aku bisa mengatasi semuanya sendiri, aku tak perlu menghubunginya." Ia menoleh untuk memandang Kurapika lagi.

"Sungguh, kau benar-benar membuatku sakit kepala dan menempatkan aku dalam kondisi yang sulit. Pertama kau membunuh Uvo, kemudian menangkapku dan membuatku tak berdaya dengan Judgement Chain-mu. Lalu kita terjebak bersama seperti ini, dan sekarang kau berubah menjadi seorang gadis," Kuroro mengutarakan pikirannya. Seulas senyum nampak di wajahnya yang dingin.

'Kau benar-benar anak yang menarik, Kurapika. Begitu penuh dengan kejutan, kau tidak pernah membuatku bosan,' pikir Kuroro senang.

Sebuah erangan lemah dari Kurapika membuyarkan lamunan Kuroro dan ia pun bergerak. Matanya terbuka, dan menatap langit yang mulai gelap dengan linglung. Perlahan Kurapika menoleh, mengamati sekitarnya. Saat ia melihat mayat-mayat yang ada di sana, Kurapika terdiam. Ia berkedip dua kali, mencoba mengingat peristiwa yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri.

"Sudah bangun?" tanya Kuroro dengan nada suara tanpa emosi, menarik perhatian Kurapika.

Kurapika memiringkan kepalanya, melihat Kuroro secara terbalik. Ia menatapnya dengan mata yang membelalak, jelas sekali ia seolah tak percaya. Namun ada juga keraguan terlihat di matanya. Kuroro memandang lurus ke mata gadis itu, mencoba mengartikan apa yang sedang dipikirkannya.

"Apa kau mengetahuinya?" tanya Kurapika dengan suara berbisik.

"Apa maksudmu?" Kuroro bertanya, berpura-pura seolah ia tak mengerti maksud Kurapika, tapi seringai di wajahnya mengatakan segalanya.

"Jangan pura-pura bodoh!" bentak Kurapika. Ia mencoba untuk bangun, tapi terhenti sambil tersentak karena batasan jarak 40 cm membatasi dirinya untuk berpindah lebih jauh lagi dari Kuroro. Kurapika mendesis, ia mengatur posisi untuk duduk di atas batang pohon di samping Kuroro pada jarak maksimum sejauh 40 cm dari Kuroro. Melihat bagian depan bajunya sobek, Kurapika menggenggamnya dan menundukkan kepalanya.

"Sudah berapa lama?"

Kurapika mengernyit, dan terlihat ragu untuk menjawab tapi Kuroro menunggu dengan sabar. "Lima tahun," akhirnya ia menjawab.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Ia melakukan itu tepat setelah pembantaian sukunya; suatu keputusan berani yang datang dari seorang gadis berumur tiga belas tahun.

"Kenapa?"

"Menurutmu kenapa?" tiba-tiba Kurapika bertanya dengan membentak, mata merahnya bersinar marah dalam kegelapan. "Aku tidak punya pilihan lain yang lebih baik. Bepergian sendiri sebagai seorang gadis lebih tidak menguntungkan dan membahayakan daripada sebagai seorang laki-laki."

Dia masih orang yang sama…Kurapika, orang yang keras yang Kuroro kenal. 'Setidaknya kepribadiannya tidak berubah seiring dengan perubahan tubuhnya,' pikir Kuroro. Entah kenapa ia merasa lega. Sekarang karena anak itu sudah bangun dan sadar kembali, ketidakyakinan Kuroro atas situasi ini telah berganti dengan rasa penasaran.

"Apa yang kau rasakan sekarang? Sudah lima tahun berlalu sejak kau hidup sebagai seorang gadis," ia bertanya, tidak bermaksud untuk menyembunyikan rasa penasarannya. Bahkan Kuroro menatap Kurapika lebih dekat. Ia menyadari bahwa sosok feminin dalam diri Kurapika sekarang bertambah setelah penyamaran itu lepas darinya.

Kurapika memegangi dadanya lebih erat. "Sejujurnya, aku tidak merasa seperti diriku sendiri. Rasanya…aneh," ia mengakui, entah kenapa ia merasa malu. Kurapika tak mengerti kenapa ia menjawab pertanyaan Kuroro, tapi ia harus menjawabnya, kalau tidak ia akan merasa tidak nyaman. Kurapika harus mengatakannya.

"Hm…," jawab Kuroro tanpa sadar sambil terus menatap wajah Kurapika. Ia meraih dan memiringkan dagu Kurapika untuk membuat gadis itu menoleh padanya. Kuroro mencondongkan badannya lebih dekat, agar bisa mengamatinya lebih jauh. Merasa terkejut dan tersipu, Kurapika menggeram dan mengangkat tangannya.

PLAKK!

"Jangan sentuh aku," desisnya marah.

Tamparan itu bukanlah tamparan yang benar-benar keras, tapi tetap saja tamparan Kurapika membuat pipi Kuroro memerah. Kuroro terkekeh geli, dan ia menyadari sesuatu.

"Sikap tubuhmu sudah berubah seperti seorang gadis," Kuroro memberitahunya. "Terakhir, kau memukulku. Kali ini, kau menamparku."

"Kalau kau lebih memilih untuk dipukul daripada ditampar, bagiku itu tak masalah." Kurapika menaikkan kepalan tangannya, siap menyerang Kuroro lagi tapi pria itu mengangkat tangannya pura-pura menyerah.

Kurapika memberinya tatapan tajam sebelum memalingkan wajah dan kembali menatap ke pangkuannya. Wajahnya terlihat bermasalah lagi dan ia menggigit bibir bawahnya. Kurapika harus mencari tahu bagaimana cara mengatasi segalanya mulai dari sekarang, kali ini ia kembali menjadi seorang gadis. Kuroro memandangnya dengan ketertarikan yang baru. Hal ini membuatnya terkejut, bagaimana seorang gadis bisa melalui cobaan seberat itu, mengorbankan gender aslinya agar bisa bertahan dengan lebih baik jadi ia bisa melacaknya—melacak mereka—dan membalas dendam atas kematian saudara-saudara sesukunya, menanggung beban berat, berlatih Nen dan latihan fisik yang melelahkan, mendorong dirinya sendiri ke dalam masa kedewasaan yang masih terlalu awal baginya agar bisa bertahan hidup. Ini membuat Kuroro melihat Kurapika dalam cahaya yang berbeda; ia tahu Kurapika adalah orang yang kuat saat ia masih sebagai seorang laki-laki, tapi sekarang ia tahu bahwa Kurapika sebenarnya lebih kuat dari itu. Kekuatan dan tekad Kurapika membangkitkan minatnya.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Kuroro lagi.

"Aku tidak tahu. Anting itu hanyalah satu-satunya. Aku tidak tahu apakah aku bisa menemukan anting yang lain," kata Kurapika dengan lembut, menyuarakan pemikirannya.

"Kau masih berpikir untuk menyamar sebagai laki-laki?" Kuroro bertanya, ia terlihat terkejut.

"Apa? Kau pikir aku hanya akan menyerah dan menerima takdirku?" lagi-lagi Kurapika membentak Kuroro.

"Kau seorang gadis. Kenapa menyangkal dirimu yang sebenarnya? Hiduplah seperti apa adanya dirimu. Apalah arti hidup jika kau hidup sebagai orang lain yang bukan dirimu yang sebenarnya?" Kuroro menantangnya, tanpa tahu bahwa ia sedang mengatakan apa yang pernah Ishtar katakan pada gadis itu. Kurapika membeku dan menatapnya dengan bengong. Tiba-tiba, kata-kata Ishtar bergema di kepalanya.

'Apa kau yakin? Apa kau baik-baik saja dengan ini? Kenapa berbohong kepada dirimu sendiri?'

Kuroro bingung kenapa gadis itu terlihat begitu terjebak dengan kata-katanya. Ia hanya memberitahu Kurapika apa yang ia percayai. Mungkin ia memang seorang kriminal; seorang pembunuh, seorang pencuri, tapi ia hanya menjadi dirinya sendiri. Kuroro menerima dirinya sepenuhnya, merangkul sifat sejatinya. Ia bangga atas apa yang ia lakukan, karena hal itu mencerminkan keyakinannya. Kuroro ingin menertawakan situasi yang ironis ini; dia, seorang kriminal, menjalani hidup yang lebih 'jujur' daripada gadis itu; seorang Hunter yang memburunya sambil hidup dengan membohongi dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan sebuah senyuman muncul di wajahnya; ia bisa menggunakannya untuk mengejek Si Kuruta.

"Kenapa kau tersenyum?" tanya Kurapika jengkel.

"Tidak," Kuroro hanya mengangkat bahu, dan mengeluarkan Fun Fun Cloth-nya. "Ambil sesuatu untuk mengganti bajumu," perintahnya.

Kurapika menggeledah tumpukan baju mereka, dan menarik sebuah kaus abu-abu tua berlengan panjang dan sebuah kaus putih. Ia menatap kaus putih itu, dan mengeluarkan pisaunya tanpa berkata apapun lalu menyobeknya. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya melihat apa yang dilakukan gadis itu, tapi tidak mengatakan apapun dan hanya menonton. Kurapika membuat semacam balutan dari kaus putih itu, Kuroro tak mengerti untuk apa. Lagipula gadis itu sama sekali tidak terluka.

"Balikkan badanmu," Kurapika berkata dengan datar. "Dan jangan mengintip," ia memperingatkan, nada suaranya terdengar tidak tenang.

Dengan patuh Kuroro berbalik dan memejamkan kedua matanya. Kurapika menatap punggung Kuroro dengan ragu. Ia juga membalikkan badannya, punggung mereka saling menghadap satu sama lain, dan melepaskan bajunya yang sobek. Dengan cepat Kurapika mengambil balutan itu dan melilitkannya di sekitar dadanya, mengikat payudaranya agar lebih nyaman karena saat ini ia tidak punya bra. Setelah ia melilitkan balutan itu, ia tidak bisa mengikat ujung balutan di punggungnya. Kurapika mencobanya beberapa kali, tapi ikatannya selalu terlepas. Kuroro merasakan gerakannya yang gelisah, dan mengetahui bahwa gadis itu sedang mengalami kesulitan atas sesuatu.

"Perlu bantuan?" kata Kuroro tanpa berpikir terlebih dahulu walau ia yakin Kurapika akan mengatakan 'urus urusanmu sendiri.'

"Urus urusanmu sendiri," bentak Kurapika keras kepala.

'Benar 'kan?' Kuroro terkekeh tanpa suara.

Saat Kurapika masih bergelut dengan balutan itu, Kuroro menunggu dengan sabar hingga gadis itu menyatakan bahwa dia sudah selesai dengan entah apa yang ia lakukan. Setelah beberapa menit, akhirnya Kurapika berhenti bergerak-gerak dan ia dapat mendengar suara gemerisik baju saat Kurapika memakai kaus lengan panjangnya dengan cepat.

"Aku sudah selesai," Kurapika mengumumkan.

"Besok kita akan pergi ke kota terdekat," tiba-tiba Kuroro berkata sambil membalikkan badannya.

"Hah?" Kurapika mengedipkan matanya. Kenapa diputuskan tiba-tiba sekali?

"Kau perlu membeli beberapa stel baju lain. Dan keperluan lain," Kuroro menjelaskan, memahami kebingungan di wajah Si Kuruta.

"Aku tidak perlu baju lain. Aku baik-baik saja dengan baju yang aku punya sekarang," protes Kurapika. Ia tidak mau mengeluarkan uang dengan tidak perlu, walaupun ada beberapa digit di rekening banknya.

"Sekarang kau seorang gadis," Kuroro berkata sambil sedikit mengernyit.

"Lalu? Aku merasa baik-baik saja dengan pakaian laki-laki. Aku tidak akan mati hanya karena memakainya," ucap Kurapika tegas.

"Baik. Lakukan seperti apa yang kau inginkan." Kuroro bangkit dengan sekilas kernyitan tidak senang di wajahnya. "Ayo pergi."

"Ke mana kita pergi?" Kurapika juga bangkit dan menepuk celananya. Kuroro memberinya tatapan yang membingungkan.

"Kau ingin tidur di sini dengan mayat?" kata Kuroro sambil mengisyaratkan ke arah mayat-mayat yang ada di sekitar mereka.

"Ayo pergi," Kurapika segera menjawab dan melangkah maju. Kuroro mengikuti dekat di sampingnya, seulas senyum senang terlihat di wajahnya.

.

& Skip Time &

.

"Kubilang aku tidak perlu baju lain!" Kurapika hampir berteriak pada Kuroro. Gadis itu menggertakkan giginya dalam kekesalan yang teramat sangat, kedua tangannya bertolak pinggang sambil beradu tatapan dengan Kuroro di depan sebuah toko pakaian di pertengahan jalan. Orang-orang yang lewat melihat mereka dan melihat mereka sebagai pasangan yang sedang bertengkar. Bahkan beberapa di antaranya berani tertawa, hal ini membuat Kurapika semakin kesal.

"Kau mengganggu pemandangan saat kau memakai pakaian laki-laki seperti itu," jawab Kuroro. Kuroro senang menghargai karya seni, dan dia harus mengakui bahwa Si Gadis Kuruta terlihat cukup cantik, tapi pakaian laki-laki yang ia kenakan menghancurkan segalanya. Setelah pengamatan selama dua hari lamanya, saat mereka sampai di di kota pertama yang mereka lewati, dengan tegas Kuroro memutuskan untuk membeli baju wanita untuk Kurapika, tak peduli ia suka atau tidak.

"Itu tak ada hubungannya denganmu," balas Kurapika.

"Tentu saja ada hubungannya denganku, karena kau sedang bepergian bersamaku," Kuroro berkata lagi. "Dan aku tidak bisa menerima kau berjalan-jalan dengan gaya yang aneh saat kau bersamaku."

Kurapika menatapnya marah. Kuroro membuatnya terdengar seolah mereka benar-benar 'bersama', dan hal ini menakutkannya. Kurapika punya alasan lain; dia adalah orang yang praktis, dan pakaian laki-laki lebih praktis daripada pakaian wanita. Kurapika beralasan tanpa berpikir dua kali.

"Aku yakin kita akan menemukan pakaian wanita yang praktis di sini," kata Kuroro dengan penuh rasa kemenangan, karena itu berarti mereka akan masuk ke dalam toko, yang juga berarti ia akan memaksa Kurapika untuk membeli sesuatu saat mereka sudah berada di dalam toko.

Kurapika menyadari kesalahannya, dan diam-diam mengutuk permainan kata yang dilakukan Kuroro. Kuroro menyeretnya ke dalam toko, belenggu di antara mereka mempermudahnya melakukan hal ini, dan Kurapika hanya bisa menurut walau dengan sangat berat hati. Pemilik toko menyapa Kuroro dan Kurapika dengan hangat, tapi mereka hanya melewatinya tanpa berkata apapun dan segera menuju ke bagian pakaian wanita. Dengan cepat Kuroro mencari-cari di antara baju-baju yang dipajang di sana dan menemukan beberapa baju praktis yang cocok untuk Kurapika. Walau enggan, tapi Kurapika mengakui bahwa baju-baju yang dipilih Kuroro untuknya menunjukkan selera yang bagus. Kuroro Lucifer memiliki selera yang bagus dalam masalah mode, sementara Kurapika sendiri terlihat seperti orang dengan gaya yang aneh, hanya berdiri di sana dan mendekap baju apapun yang Kuroro lemparkan padanya. Lalu Kuroro menyeret Kurapika menuju ke counter dan memindahkan baju-baju itu dari pelukan Kurapika ke atas meja.

"Apa kau bisa menukar semua baju ini dengan baju-baju yang kami punya?" Kuroro bertanya dengan sopan sambil mengeluarkan pakaian laki-laki milik Kurapika dari Fun Fun Cloth dan meletakkannya ke atas meja. Manajer wanita itu langsung terpesona dengan senyum tampan Kuroro dan tersipu. Kurapika memutar kedua bola matanya; kenapa semua gadis terpesona dengan bajingan ini? Kurapika mencuri pandang ke arah Kuroro. Memang ia harus mengakui bahwa Kuroro adalah pria yang tampan; dengan rambutnya yang dibiarkan jatuh dan balutan kepala menutupi tattoo yang berbentuk salib di keningnya, dan saat dia mengenakan mantel hitam dengan kemeja hitam berkerah Cina di baliknya.

"T-t-tentu. Mari aku cek terlebih dahulu. Aku akan mengurangi tagihan Anda dengan nilai baju-baju ini," kata wanita muda itu dengan gugup lalu memeriksa baju-baju yang disodorkan Kuroro. Kebanyakan baju itu dalam kondisi yang baik, karena Kurapika adalah penggila kebersihan dan kerapihan dan selalu merawat pakaiannya.

"Maaf, apakah kau bisa membantuku…," Kurapika mencondongkan badannya dan membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Ia menganggukkan kepalanya sambil mendengarkan Kurapika, lalu permisi dan masuk ke dalam toko.

"Apa—"

"Bukan urusanmu," cepat-cepat Kurapika memotong kalimatnya, menolak untuk memandangnya.

Kurapika mencondongkan badannya dan meletakkan kedua sikunya di atas counter. Ia menghela napas…seolah ia merasa kelelahan, dan Kuroro menyadarinya. Mereka telah berlari menuruni bukit untuk menghemat waktu, tapi dia tidak akan lelah hanya karena itu bukan?

Si Manajer segera keluar dari ruangan belakang dengan buntalan kecil di tangannya. Ia memberikan buntalan itu kepada Kurapika dan membisikkan sesuatu sambil mengedipkan sebelah matanya kepada gadis itu. Kurapika hanya menggumamkan ucapan terima kasih dan meletakkan buntalan itu di atas meja.

Kurapika membayar baju-bajunya, karena semua itu adalah miliknya. Ia tidak ingin berhutang kepada Kuroro dalam bentuk apapun. Setelah berada di luar, mereka menyimpan baju-baju itu ke dalam Fun Fun Cloth milik Kuroro.

"Jangan pernah melihat ke dalam sini," Kurapika memperingatkan Kuroro dengan tajam sambil menyimpan buntalan spesialnya ke dalam Fun Fun Cloth. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya kepada gadis itu.

"Ada apa di dalamnya?"

"Pokoknya jangan mengintip!" Kurapika memaksa dan tidak mengatakan apapun lagi. Kuroro mengernyit kepadanya, dan tiba-tiba suatu kenyataan menyadarkannya.

"Oh," Kuroro hanya berkata dengan tanpa emosi, tapi di balik itu ia menertawakan rasa malu Kurapika. Tentu saja Kuroro tahu apa yang ada di dalam sana.

Waktu bergulir dengan cepat dan setelah mereka selesai berbelanja, matahari sudah berada rendah di atas horizon, mewarnai kota kecil itu dengan cahaya merahnya yang mulia. Secara bulat Kuroro dan Kurapika memutuskan mencari sebuah penginapan untuk bermalam, walaupun Kurapika enggan menghabiskan sisa hari ini di penginapan. Berdiam dalam sebuah kamar bersama Pemimpin Gen'ei Ryodan tanpa melakukan apa-apa tidaklah membuatnya senang. Kurapika lebih memilih untuk berada di luar bersamanya, sambil melakukan sesuatu daripada hanya duduk dalam keheningan yang aneh dengan orang yang seharusnya adalah musuhnya. Saat akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan, Kurapika berhenti sebelum ia dan Kuroro memasuki bangunan itu.

"Tunggu. Cerita apa yang akan kau buat kali ini?" dengan curiga Kurapika bertanya kepada Kuroro. Pria itu memberinya sebuah seringai nakal yang membuat Kurapika terkejut.

"Cerita seperti apa yang kau inginkan?"

"Bukan adik perempuan yang sudah lama hilang. Itu aneh," Kurapika mengarahkan pandangannya. "Bilang saja kita teman seperjalanan."

"Jika itu yang kau mau." Kuroro berbalik dan kembali melangkah menuju penginapan. Kurapika memandangnya dengan cemas. Ada yang salah, pria itu terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu yang licik. Bagaimana mungkin dia menyetujui ide Kurapika dengan begitu mudahnya? Ada sesuatu yang tercium, tapi Kurapika tidak bisa menerkanya.

Satu hal yang pasti, ia memiliki firasat yang sangat buruk, perasaan jengkel yang mengisyaratkan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi malam itu. Kurapika mendongak untuk melihat nama penginapan itu.

"The Prancing Pony, hah?"

TBC

.

.

A/N :

Review please…! ^^