DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 6 : DELIRIUM

"Selamat datang! Kamar seperti apa yang kau inginkan?" seorang gadis remaja berambut merah diikat ekor kuda kira-kira seumuran dengan Kurapika menyambut mereka dengan senyum yang lebar saat keduanya memasuki penginapan. Pertama ia melihat Kuroro dan sekilas wajahnya merona saat melihat wajah tampannya; yang membuat Kurapika memutar bola matanya dengan kesal. Bagaimanapun, saat gadis itu melihat Kuroro dan Kurapika dekat-dekat, ia terlihat terkejut dan menatap mereka sekitar tiga detik lamanya, sebelum ia tersenyum lagi kepada mereka. Kurapika merasa tak enak.

"Satu kamar dengan dua tempat tidur," kata Kuroro datar, wajahnya terlihat tenang saat ia mengamati ruang tamu penginapan itu.

"Dua tempat tidur?" sekarang gadis itu terdengar bingung. Kurapika rasanya ingin menepuk dahinya. "Oh, baiklah. Buatlah diri kalian betah. Aku akan membereskan kamarnya."

Gadis itu berbalik dan melewati jalan menuju ke counter, di mana ayahnya sedang sibuk dengan buku tamu. Sekarang Kurapika tahu kenapa penginapan itu dinamai The Prancing Pony; putrinya adalah kuda poni itu. Ia beberapa kali melemparkan tatapan aneh ke arah Kurapika dan Kuroro, senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya. Gadis itu membisikkan sesuatu kepada ayahnya, membuat pria tua itu mendongak dan melirik mereka, ia menegur gadis itu dengan lembut dan mengusirnya agar ia melakukan pekerjaannya. Pria tua itu melirik mereka sekali lagi, sebelum menggelengkan kepalanya dan kembali memperhatikan buku tamunya. Saat itu tangan Kurapika sudah gatal ingin mencekik pria yang berada di sampingnya. Kurapika mengikuti Kuroro saat pria itu menghampiri counter sementara ia sendiri mencoba mengendalikan emosinya.

"Selamat malam. Kau berencana untuk menginap berapa lama?" Si Pria Tua menengadah dan tersenyum dengan hangat kepada mereka.

"Selamat malam juga. Mungkin kami akan menginap selama satu malam saja," jawab Kuroro dengan sopan sambil tersenyum tipis. Si Pria Tua menatap mereka lekat-lekat, kemudian menoleh kepada Kurapika.

"Apakah Nona ini baik-baik saja? Sepertinya dia sedikit pucat," ia bertanya dengan penuh perhatian.

"Temanku hanya lelah. Kami baru saja datang dari hutan di atas sana," kata Kuroro santai sambil menempatkan sebelah tangannya di atas kepala Kurapika. Kurapika membeku di bawah sentuhannya, tapi penjaga penginapan tidak menyadari hal ini.

"Oh, gadis yang malang. Jika kau mau, aku akan menyuruh putriku untuk mengantarkan makan malam kalian ke kamar. Bagaimana?" Si Pria Tua menawarkan dengan ramah.

"Anda baik sekali. Terima kasih, kami sangat menghargainya." Kuroro sedikit menundukkan kepalanya dalam sikap tubuh berterima kasih, sementara Kurapika masih berdiri kaku walaupun Kuroro sudah melepaskan tangannya dari puncak kepala pirang Kurapika.

"Kamarnya sudah siap! Ayo naiklah, aku akan mengantar kalian ke kamar," si gadis berekor kuda menuruni tangga dengan menunjukkan wajahnya yang berseri-seri ke arah mereka. Kuroro pun permisi dari hadapan Si Pria Tua bersama dengan Kurapika lalu mengikuti gadis yang sangat bersemangat itu ke lantai dua. Saat Kuroro menaiki tangga, Kurapika menatapnya dengan tajam, tapi ia tidak membiarkan matanya berubah warna menjadi merah. Kuroro berpura-pura bersikap acuh tak acuh, menyembunyikan kegembiraannya atas situasi ini.

"Masuklah, ayo masuk. Jendelanya menghadap ke hutan di atas bukit. Kamar mandinya di sana. Jika kalian perlu bantuan, kalian dapat memanggilku. Ngomong-ngomong, namaku Fino," gadis itu melangkah masuk dan menjelaskan mengenai kamar itu dengan ceria. Kurapika mengamati kamar itu dengan lelah. Tiba-tiba saja ia ingin melompat ke tempat tidur dan tidak pernah bangun lagi.

"Bisakah tempat tidurnya dipindahkan?" Kuroro bertanya saat melihat ke dua tempat tidur yang terpisah. Mata gadis itu membelalak mendengar pertanyaan Kuroro yang terdengar polos dan ia pun merona. Kurapika menatapnya ngeri.

"T-Tentu saja bisa," gadis bernama Fino itu tergagap, wajahnya masih benar-benar merona. "Sebenarnya kau bisa saja meminta kamar dengan satu tempat tidur queen size," Fino melanjutkan sambil mengalihkan pandangannya kepada Kurapika. Kurapika menutupi wajahnya dengan tangan, mencoba untuk tidak memberikan tatapan tajam pada gadis yang tak berdosa itu karena ia tak mengerti bagaimana rumitnya hubungan Kurapika dengan Kuroro.

"Tidak, itu akan membuat temanku menjadi tidak nyaman. Kami ambil kamar ini, terima kasih." Kuroro tersenyum pada Fino dengan hangat, dan gadis itu hampir saja pingsan karena pesonanya. Untung Kurapika tidak melihatnya.

"A-Aku—se-semoga kalian betah di sini!" Fino membungkukkan badannya dalam-dalam dan berlari keluar dari kamar itu, wajahnya merah semerah tomat. Suasana kamar menjadi sangat hening saat Fino menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Keheningan itu buyar saat Kuroro terkekeh.

"Itulah yang terjadi jika kau memilih alasan 'teman'," ia berkata sambil melihat kepada Si Gadis Kuruta yang masih terlihat malu. Kurapika langsung menarik kerah mantelnya dengan kasar.

"Kau sudah tahu ini akan terjadi!" desisnya sengit.

"Kau juga seharusnya tahu. Apa kau lupa bahwa sekarang kau seorang gadis?" Kuroro tersenyum mengejeknya.

Mata Kurapika membelalak mendengar pertanyaan Kuroro, kemarahan gadis itu langsung berganti dengan kebingungan. Benar, pada saat tertentu ketika mereka masih berada di depan penginapan dan belum masuk ke dalam, dalam benaknya ia mengira bahwa ia masih seorang laki-laki, jadi ia berpikir bahwa alasan sebagai teman adalah pilihan yang terbaik. Memiliki seorang gadis sebagai teman seperjalanan akan menimbulkan anggapan yang tidak diinginkan dari penjaga penginapan. Kurapika membeku atas kebodohan yang telah dilakukannya, sementara Kuroro terkekeh lagi dan meraih tangan gadis itu untuk melepaskannya dari mantel yang ia kenakan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu dan tanpa menunggu adanya jawaban, pintu itu langsung terbuka.

"Ini makan malamnya—oh!" Fino melenggang masuk dengan membawa baki berisi makanan di atasnya namun ia berhenti melangkah saat melihat Kuroro dan Kurapika. Dari sudut pandangnya, tampak Kuroro sedang memegang tangan Kurapika dengan mesra, karena gadis itu terlihat lebih pucat daripada sebelumnya; yang sebenarnya hal ini disebabkan oleh kedatangan Fino yang tiba-tiba saat mereka sedang dalam posisi seperti itu. Terlebih lagi, Fino melihat cincin yang sama di jari mereka; cincin Kuroro terpasang di jari tengah tangan kanannya, sementara cincin Kurapika terpasang di jari telunjuk tangan kirinya. Lagi-lagi wajah Fino benar-benar merona, dan Kurapika menghela napas berat sebelum menarik tangannya dari genggaman Kuroro.

"Terima kasih. Kau bisa meletakkannya di atas meja di sebelah sana," kata Kuroro sambil menunjuk meja ke arah meja itu.

"Ah! Y-ya!" dengan cepat Fino meletakkan baki itu ke atas meja lalu membungkuk memohon maaf. "Aku minta maaf telah mengganggu kalian. Silakan lanjutkan."

Setelah mengatakan itu, ia berlari keluar kamar dan menutup pintu lebih keras dari sebelumnya. Kuroro dan Kurapika dapat mendengar Fino berlari menuruni tangga dengan bersemangat. Kurapika merasa benar-benar pusing dan ia berjongkok di lantai, menyembunyikan wajahnya di balik lutut, dengan helaan napas berat yang panjang. Kuroro menunduk dengan wajah bertanya-tanya.

"Ayo, kita makan malam."

"Aku lelah, aku tidak lapar," Kurapika berkata dengan suara tertahan.

"Tapi kau tetap harus makan," Kuroro memaksa.

"Aku tidak mau makan," kata Kurapika keras kepala.

"Yah, jika kau tidak makan, aku mau makan, jadi bangunlah." Kuroro membungkuk dan menarik siku Kurapika untuk membuatnya berdiri. Dengan menjerit, Kurapika pun berdiri, terkejut akan kekuatan yang digunakan Kuroro untuk mengangkatnya. Kuroro mengernyit pada gadis itu. "Menurutku kau harus makan lebih banyak. Kau terlalu ringan."

"Itu bukan urusanmu," kata Kurapika lagi, warna merah mulai muncul di pipinya yang pucat. Kuroro menghela napas.

"Dengar, Kurapika. Kita bepergian bersama bukanlah karena pilihan kita, jadi aku tidak ingin membuang waktu dan energiku untuk menjaga seorang gadis yang sakit. Mengerti?" kata Kuroro tegas sambil menatap lurus ke mata Kurapika yang sebiru samudera dengan mata gelapnya yang besar.

"Aku tidak akan sakit," jawab Kurapika. Ia menatap mata pria itu dengan berani. Kurapika gagal menyadari bahwa ini adalah kedua kalinya Kuroro memanggil namanya sejak pertama ia memaksa agar Kuroro tidak memanggil dengan nama sukunya.

"Kau akan sakit kalau kau tidak makan," kata Kuroro dengan nada suara yang terdengar meremehkan. Ia menyeret Kurapika dengan menarik sikunya dan mendudukkan gadis itu di hadapannya. "Sekarang, makan."

Kurapika memandang Kuroro dengan tatapan jengkel, sambil agak melotot padanya. Kenapa pria itu menjadi seperti ini? Kurapika adalah musuhnya, seharusnya Kuroro tidak peduli padanya. Memang benar, mereka akan saling merepotkan satu sama lain jika salah satu dari mereka sakit. Kurapika pun tidak punya keinginan untuk merawat Kuroro jika dia sakit.

Kurapika menunduk melihat makanannya; nasi yang mengepul hangat dan aromanya membuat air liurnya menetes. Tiba-tiba ia mendengar perutnya berbunyi. Dengan enggan Kurapika mengambil peralatan makannya dan memasukkan sesuap kecil makanan ke dalam mulutnya. Kurapika mengunyah perlahan, menikmati rasa makanan itu, niat awalnya untuk tidak makan pun terlupakan. Bahunya terkulai dengan santai dan ia mulai makan kembali walaupun perlahan-lahan. Saat Kuroro sudah puas dan yakin bahwa Kurapika akan memakan makanannya, Kuroro pun mulai makan. Mereka bersantap dalam keheningan, dan keduanya menghabiskan makanannya.

"Apa kau mau mandi sekarang?" Kuroro menawarkan saat melihat rasa kantuk mulai menghampiri Kurapika.

Kurapika, terlalu lelah untuk membuat Kuroro kesal, mangangguk tanpa mengatakan apapun. Kuroro mengeluarkan Fun-Fun Cloth-nya dan memberikan piyama beserta buntalan spesial Kurapika ke tangan gadis itu. Mereka melangkah menuju ke kamar mandi , dan sementara Kurapika mandi di dalam, Kuroro duduk sambil bersandar ke tembok. Setelah beberapa saat, Kurapika keluar dari kamar mandi dengan piyama barunya, mendekap buntalannya di dada. Tanpa saling bicara, Kuroro masuk ke kamar mandi sementara Kurapika duduk bersandar ke tembok. Ia mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk, tapi tak lama ia menguap dan tertidur. Mungkin tidur selama 1-2 menit tidak apa-apa.

.

.

Sejauh ini, kondisinya baik-baik saja. Setidaknya Kuroro masih bisa mengendalikan situasi. Walaupun Kurapika kembali ke gender aslinya, sejauh ini hal itu tidak menyebabkan banyak gangguan. Kuroro mengangkat wajahnya dan membiarkan air hangat membasahi wajahnya. Ia tidak bisa membayangkan sisa perjalanan mereka nanti seperti apa, dengan Si Kuruta menjadi seorang gadis sekarang. Satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan kabar ini sampai ke telinga para anak buahnya. Mereka akan meributkannya, dan hal itu hanya akan menambah sakit kepalanya saja. Terutama Nobunaga; oh dia benar-benar akan menjadi mimpi buruk.

Setelah selesai, Kuroro mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian tidur. Ia membuka kunci pintu kamar mandi dan melangkah keluar, menemukan Kurapika yang tertidur sambil bersandar ke tembok, handuk menutupi rambutnya yang masih basah. Buntalannya terlupakan begitu saja di samping gadis itu, kakinya tergeletak di atas lantai kayu. Kuroro mengernyit pada sikap Kurapika yang ceroboh itu dan berjongkok di sampingnya. Ia mengambil kesempatan ini untuk mengamati wajah Kurapika tanpa harus mendapatkan tatapan tajam darinya.

Kulitnya begitu lembut dan mulus, walaupun warnanya terlalu pucat. Kuroro pun menyadari bahwa gadis itu memiliki bulu mata yang panjang, membentuk tirai gelap yang tebal dari kelopak matanya. Bibirnya tipis dan pucat, ia pun terlihat benar-benar kelelahan. Saat Kurapika sedang tidur, tanpa ada tatapan marah dan raut wajah khawatir, sebenarnya ia cukup cantik; bahkan seperti malaikat. Kuroro menepuk bahunya pelan untuk membangunkannya, tapi Kurapika tidak bergerak.

"Kurapika," panggilnya lembut, agar gadis itu tidak terkejut. Ia tidak bereaksi. "Kurapika." Kali ini, Kuroro memanggilnya dan menepuk bahunya sekilas. Tetap tidak ada reaksi apapun.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Benar-benar tidak biasa, Si Kuruta dapat tidur begitu nyenyak seperti ini, sementara biasanya sentuhan sekilas dari Kuroro dapat membuatnya bangun. Gadis itu penuh kejutan; satu waktu ia akan menjadi sangat waspada dan curiga kepadanya, tidak mempercayai Kuroro atas apapun yang dia lakukan; di waktu yang lain Kurapika akan melepaskan semua penjagaannya, menampakkan dirinya yang sebenarnya, yaitu seorang remaja. Kuroro pun tertawa pelan, ia menyelipkan salah satu tangannya di bawah lutut Kurapika dan tangan satunya lagi di bahu gadis itu. Dengan lembut, Kuroro mengangkatnya dari lantai dan berjalan menuju ke tempat tidur, bermaksud untuk membaringkannya di sana, saat sebuah ketukan di pintu membuatnya berhenti. Tanpa berpikir dua kali, Kuroro memanggil orang itu untuk masuk.

"Maaf, aku di sini untuk—" Fino, hari ini untuk kesekian kalinya ia membeku di tempatnya berdiri dan berhenti mengucapkan kalimatnya. Ia melihat Kuroro menggendong gadis yang sedang tertidur itu—keduanya baru saja dari kamar mandi—ala bridal style, menuju ke tempat tidur. Fino tersipu dan mulai tergagap tak karuan.

"Aku—aku—Baki—" ia berjuang menemukan kata-kata yang tepat, tapi lidahnya terasa kelu.

"Kau ke sini untuk mengambil baki itu kembali," Kuroro menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkan gadis itu. Fino mengangguk dengan bersemangat. Tanpa membuang waktu seperti seorang idiot, ia mengambil baki berisi piring kosong itu dan tergesa-gesa keluar dari kamar, langkahnya bergema di tangga.

Kuroro menggelengkan kepalanya melihat perilaku Fino. Ia terlihat seperti sudah melihat sesuatu yang sangat tidak senonoh, tapi jika ia mengetahui konteks hubungannya dan Kurapika seperti apa, pasti akan menjadi lebih dari hal yang memalukan. Setidaknya bagi Kurapika. Kuroro menoleh dan kembali menatap gadis yang masih tertidur dalam pelukannya. Ia tidur dengan damai seolah gangguan dari putri penjaga penginapan tidak pernah ada baginya. Kuroro bertanya-tanya kenapa tubuh Kurapika begitu ringan. Ia tidak perlu bersusah payah saat mengangkatnya dari lantai.

Kuroro membaringkan Kurapika ke tempat tidur, namun kemudian ia menyadari bahwa rambut gadis itu masih basah. Ia mendecakkan lidah atas sikap Kurapika yang sembrono, tapi walaupun begitu ia mendudukkan Kurapika dan menyandarkannya ke tembok lalu mulai mengeringkan rambut gadis itu dengan handuknya. Membiarkannya tidur dengan rambut basah, besok dia akan terkena sakit kepala yang parah, atau lebih buruknya lagi dia bisa demam. Sejujurnya, Kuroro tidak ingin bepergian dengan seorang gadis yang sakit. Ia mengeringkan rambut Kurapika dengan sangat lembut, agar tidak membangunkan gadis yang kelelahan itu. Walaupun Kurapika tidak bereaksi saat Kuroro mengibaskan rambutnya untuk mengeringkannya. Ia bertanya-tanya seberapa lelahnya gadis itu; baik secara fisik maupun mental. Pasti ia sangat lelah hingga ke dalam jiwanya, karena Kurapika benar-benar tidak menyadari bahwa Kuroro—yang disebut sebagai musuh bebuyutannya sedang mengacak-acak rambutnya untuk membuatnya kering. Bahkan Kuroro mendengus geli. Bayangkan bagaimana para anak buahnya akan bereaksi jika melihat Danchou mereka melakukan hal itu. Mungkin saja Nobunaga akan pingsan dengan mulut yang berbusa.

Setelah Kuroro selesai; rambut Kurapika masih lembab tapi setidaknya tidak basah kuyup, ia melemparkan handuk basah itu ke kursi di dekatnya lalu membaringkan Kurapika kembali. Kuroro menatapnya lagi, merasa tidak nyaman. Entah bagaimana, Kurapika terlihat sangat lelah hari itu, sementara Kuroro tidak merasa lelah sama sekali. Ia tahu gadis itu memiliki stamina yang bagus, jadi seharusnya Kurapika tidak sampai selelah itu. Wajahnya pun terlihat lebih pucat dari biasanya.

Menyingkirkan pikiran itu dari benaknya, berpikir bahwa ia mulai bersikap lembut kepada Kurapika, Kuroro mendorong tempat tidur untuk menyatukannya dan duduk di tempat tidurnya. Belum merasa ngantuk, Kuroro mengeluarkan bukunya dan mulai membaca sambil duduk berdekatan dengan Si Kuruta yang sedang tidur (tentu saja ini karena belenggu gaib itu).

.

.

Kurapika merasa kepalanya berputar, seluruh tubuhnya terasa panas, perutnya pun terasa tidak nyaman. Ia berusaha menghilangkannya, tapi semua rasa itu tidak mau pergi. Kurapika merasakan seseorang duduk di dekatnya, seolah sedang menjaganya. Kurapika memaksakan diri untuk membuka matanya, walaupun terasa berat, ia melihat sesosok laki-laki. Pria itu memiliki buku yang terbuka di tangannya dan sedang membacanya. Pria itu sepertinya tahu Kurapika bangun dan mengatakan sesuatu. Kurapika tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya jadi ia tidak menjawab apa-apa. Setelah beberapa detik kemudian, pria itu berbalik untuk menatapnya. Ia meletakkan bukunya dan membungkuk ke arahnya, meletakkan telapak tangannya di kening Kurapika yang panas dan mengatakan sesuatu lagi.

Tangannya yang dingin menenangkan kepala Kurapika yang berdenyut-denyut, dan Kurapika merasa bahwa ia mengingat tangan itu. Besar dan baik, ia ingat siapa pemilik tangan itu. Sudah lama sekali, hatinya terasa begitu sakit hingga Kurapika tak mampu lagi menahan air matanya.

"A…Aniki…," ia berkata dengan suara tercekat. Tiba-tiba, wajah pria itu pun terlihat, dan sekali lagi Kurapika menatap wajah kakaknya. Senyumnya yang ramah menghangatkan hati Kurapika, tangannya di kening gadis itu. Rambutnya; rambut pirang yang sama seperti rambut Kurapika, membingkai wajahnya yang tampan. "Aniki, kau di sini…," ia meraih tangannya.

"Kurapika, aku sudah mati," ia berbisik padanya, senyumnya berubah menjadi senyum penuh kesedihan.

"Ta-tapi kau ada di sini," Kurapika mulai panik. Ia menggenggam tangan itu lebih kencang, tapi pria itu menariknya kembali.

"Tidak, Kurapika, aku sudah mati lima tahun yang lalu," ia berkata lagi, mencoba melepaskan tangan Kurapika dari lengannya. Ia mulai melepaskan diri, dan hati Kurapika langsung merasa takut, ketakutan yang sama yang menghampirinya lima tahun yang lalu saat ia melihat desanya musnah terbakar dan orang-orang di sana berubah menjadi mayat yang tak bermata. Rasa takut akan ditinggalkan.

"TIDAK!" Kurapika berteriak, ia tersentak bangun dan memeluk lengannya dengan putus asa. "Tidak, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri!" ia mulai menangis tanpa kendali.

"Kurapika, kau tidak bisa begini," kakaknya berkata lagi, tapi kali ini ia tidak mendorongnya. "Kau harus kuat."

"Tidak, jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin sendiri. Aniki!" Kurapika berteriak dan menangis bersamaan. Ratapannya memilukan hati, ia berpegangan ke lengan kakaknya seolah itu adalah pegangan hidupnya.

"Tidak…jangan tinggalkan aku…Aku akan kuat, aku janji…jadi jangan tinggalkan aku sekarang…," ia terisak dengan sedih. Kakaknya menatapnya dengan pandangan sedih, mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya dengan lembut.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Kurapika," ia berbisik padanya untuk meyakinkan gadis itu.

"Janji?" tanya Kurapika di antara isakannya. Ia menengadah, memandang kakaknya, tapi penglihatannya kabur oleh air mata.

"Janji," ia mengangguk dan menepuk kepala Kurapika. "Sekarang berbaring dan beristirahatlah."

Merasa yakin dengan kata-kata dan sentuhannya yang menenangkan, Kurapika mengangguk lemah dan tersenyum kekanak-kanakan kepadanya. Masih tidak melepaskan tangannya, Kurapika berbaring dan kembali tidur.

.

.

Kuroro sedang tenang membaca buku saat ia merasakan sedikit gerakan di sampingnya. Tanpa melihat pun, ia tahu gadis itu sudah terbangun. Ia benar-benar dapat merasakan tatapan Kurapika ke arahnya.

"Sudah bangun?" tanya Kuroro santai. Tidak menerima respon sengit yang seperti biasanya dari gadis itu, Kuroro menoleh dan menatapnya bingung. Kemudian ia menyadari bahwa wajah Kurapika berubah menjadi sedikit kemerahan. Meletakkan bukunya, Kuroro mengulurkan tangan dan menyentuh keningnya. Seperti yang sudah ia duga, Kurapika demam.

"Kau demam," ia berkata dengan nada suara yang seolah mengatakan 'kubilang juga apa'. Kuroro tahu Kurapika akan sakit, karena ia menyadari bahwa gadis itu menjadi lebih lemah dalam beberapa hari terakhir ini. Ia ingin memarahinya sekarang juga, tapi hal itu tidak akan ada gunanya bagi Kurapika. Ia bahkan tidak akan mengerti setengah dari apa yang akan Kuroro katakan, dengan kondisi demam seperti ini. Lalu, hal itu tiba-tiba terjadi.

"A…Aniki…," ia berbisik. Kuroro membeku di tempatnya. Ia menatap gadis itu dengan mata terbelalak. Mata Kurapika yang berkaca-kaca terlihat penuh harap. "Aniki, kau di sini…," ia menggenggam tangannya dengan erat. Kuroro mengernyit padanya.

"Kurapika, kakakmu sudah mati," ia berusaha memberitahunya.

"Ta-tapi kau ada di sini…," Kurapika menjawab, matanya membelalak takut. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Entah bagaimana, Kurapika mengerti apa yang Kuroro katakan tapi seolah ia menganggap bahwa Kuroro berbicara sebagai kakaknya.

"Tidak, Kurapika. Ia mati lima tahun yang lalu," Kuroro beralasan lagi. 'Dan mungkin saja aku adalah orang yang membunuhnya,' ia menambahkan di benaknya. Merasa tidak nyaman dan kesal pada saat yang bersamaan, Kuroro melepaskan diri dari Kurapika sambil mencoba melepaskan pegangan gadis itu dari tangannya. Kengerian memenuhi mata biru Kurapika dan tiba-tiba ia bangun lalu memeluk lengannya. Kuroro membeku karena sentuhan itu, tapi Kurapika mulai berteriak menyangkal dan memohon padanya agar tidak pergi meninggalkannya.

"Aku bukan kakakmu. Kau berhalusinasi karena sedang demam," katanya dengan nada suara yang datar, tapi Kurapika terus memohon agar ia tidak pergi, tak lama kata-kata Kuroro sampai ke pikiran Kurapika. Ia berpegangan padanya seolah ia melakukan itu untuk kehidupannya dan meratap dengan sedih, tenggelam ke dalam histeria yang teramat sangat. Kuroro membiarkan Kurapika menangis sepuasnya, berharap bahwa saat ia sudah lelah, gadis itu akan kembali tidur, meninggalkannya dengan penuh kedamaian.

"…Aku akan kuat, aku janji…Jadi jangan tinggalkan aku sekarang…," Kurapika memohon lagi, suaranya pecah dalam isak tangisnya. Ia mencengkeram lengan Kuroro dengan erat, takut ia akan melarikan diri dan menguap menjadi udara yang tipis.

Tiba-tiba, Kurapika terlihat seperti mainan yang rusak di mata Kuroro. Begitu lemah dan rapuh, dihantui arwah kakaknya. Bahunya yang gemetar sama sekali tidak meninggalkan jejak kekuatan yang sebelumnya Kuroro akui secara diam-diam. Ia terlihat begitu kecil, berpegangan padanya dengan putus asa. Kuroro ingin mendorong Kurapika ke samping, membiarkannya mengatasi masalahnya sendiri. Ia sendiri tidak pernah punya masa kecil yang penuh kebahagiaan seperti anak-anak normal, lagipula tumbuh di Ryuusei-gai tidak pernah dianggap sebagai orang normal oleh penduduk di luar Ryuusei-gai. Kuroro pikir ia tidak akan pernah bisa bersimpati pada Kurapika, jadi ia telah memutuskan untuk membiarkannya karena ia tak bisa menawarkan kenyamanan apapun. Tapi setelah mendengar permohonannya, janjinya untuk menjadi kuat, tiba-tiba Kuroro menyadari bahwa mungkin saja Kurapika terlihat sangat kuat, tapi ada bekas luka yang besar di hatinya, di jiwanya. Itu adalah bekas luka yang tak bisa disembuhkan, yang selamanya akan melumpuhkan Kurapika kecuali seseorang memperbaikinya. Dan Kuroro adalah orang yang meninggalkan bekas luka itu dengan kejam lima tahun yang lalu.

Kuroro menggelengkan kepalanya sekilas untuk menghilangkan pikiran itu. Memikirkan hal-hal seperti itu tidaklah seperti diri Kuroro yang sebenarnya. Bagaimanapun juga, Kurapika terlihat gelisah dan tidak akan menyerah kecuali seseorang melakukan sesuatu untuk membuatnya tenang.

"Aku tidak akan meninggalkanmu Kurapika," Kuroro berbisik, mencoba untuk terdengar seyakin mungkin; walau ia merasa bahwa ia gagal melakukannya.

"Janji?" Kurapika bertanya sambil menangis.

"Janji," Kuroro mengangguk dan menepuk kepala gadis itu. "Sekarang berbaring dan beristirahatlah."

Kurapika mengangguk dengan lemah dan memberinya senyum yang kekanak-kanakan, hal ini membuat Kuroro terkejut. Saat Kurapika akhirnya tertidur nyenyak, ia tetap tidak melepaskan pegangannya di tangan Kuroro. Kuroro memandangnya dengan hati-hati, tapi tidak berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan gadis itu. Kuroro menghela napas berat dan segera saja pikirannya tertuju kepada ponselnya.

"Saat terjadi perubahan yang tidak normal pada anak itu, segera hubungi aku. Mengerti?"

Itulah yang Ishtar katakan. Apakah yang ia maksud adalah igauannya ini? Kuroro menutupi mulutnya dengan tangannya yang bebas dan memikirkannya kembali. Kalau dipikir-pikir, stamina Kurapika menurun setelah anting itu hancur dan ia berubah kembali ke gender aslinya. Saat mereka berlari menuruni bukit untuk menghemat waktu, ia memperhatikan bahwa Kurapika lebih sulit bernapas. Ia pikir Kurapika hanya kehilangan batasnya karena telah kembali menjadi seorang gadis, dan stamina yang ia miliki saat masih menjadi laki-laki telah berkurang. Kemungkinannya tinggi, bahwa penyebab demam dan igauannya adalah efek samping dari antingnya yang hancur. Nen-nya masih sama dengan seperti saat dia masih menjadi laki-laki, tapi perubahan fisik yang dialami tubuhnya itu mungkin terlalu berat untuk ditanggung dan akhirnya jiwa dan tubuhnya pun menjadi korban setelah perubahan itu berlangsung selama dua hari.

Kuroro menatap Kurapika lagi. Tidak, ia tidak akan menghubungi Ishtar sekarang. Tidak jika ia mampu mengatasinya. Jika demam ini benar-benar disebabkan oleh penyamarannya yang tiba-tiba terbongkar, demamnya akan turun cukup cepat ketika tubuh dan mentalnya sudah cukup istirahat. Jika sampai besok siang demamnya masih saja belum berkurang maka mungkin Kuroro akan memakai obat-obatan untuk menyembuhkannya. Jika besok malam dia masih demam, pada saat itulah Kuroro akan menghubungi Ishtar.

Tiba-tiba merasa lelah sebab ia harus mengatasi seorang gadis yang histeris dan mengigau, Kuroro memutuskan untuk tidur. Ia berbaring di tempat tidur dan memiringkan badannya menghadap Kurapika. Dengan hati-hati Kuroro menyentuh keningnya; ia masih demam tapi entah bagaimana, Kurapika bisa tidur dengan tenang. Ia menarik tangannya dan hanya bisa berharap bahwa keadaan Kurapika akan menjadi lebih baik. Ia tidak ingin merawat gadis yang demam dan suka mengigau. Ia seorang pembunuh, seorang pencuri, dan bukannya seorang perawat.

.

& Skip Time &

.

Ketukan pelan di pintu membuatnya bangun. Kuroro beranjak duduk dan hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa Kurapika. Dia masih tidur, masih memegangi tangannya. Kuroro memeriksa suhu badannya, tapi yang membuatnya kecewa adalah Kurapika masih demam. Orang yang berada di balik pintu mengetuk lagi, dan Kuroro memanggil orang itu untuk masuk. Pintu sedikit terbuka dan seseorang melongok ke dalam dengan hati-hati. Fino menatap Kuroro dan Kurapika dengan penasaran; Kuroro masih menempatkan tangannya di kening Kurapika dan sama sekali tidak menolehkan wajahnya ke arah Fino.

"Em…Ibu bilang sarapan sudah siap," kata Fino malu-malu.

"Dapatkah kau membawakannya kemari?" ucap Kuroro acuh, alis matanya berkerut saat ia berusaha memikirkan bagaimana caranya membuat kondisi Kurapika menjadi lebih baik sesegera mungkin. Akan sangat merepotkan jika gadis itu masih saja demam. Ia pun tidak ingin menghubungi Ishtar.

"Tentu. Tapi, umm…" Fino melihat Kurapika yang sedang tidur dengan penasaran. "Apakah…apakah dia baik-baik saja?"

Kuroro mendongak dan menatapnya. Fino terhenyak, ia tersipu. Bahkan walaupun Kuroro baru saja bangun, pria itu tetap terlihat sangat tampan.

"Dia sedang demam," Kuroro berkata sambil mengamati reaksi Fino.

"Demam? Oh tidak!" tiba-tiba keberanian Fino muncul, ia segera menuju ke tempat tidur Kurapika. Memeriksa suhu tubuh gadis pirang itu dengan menyentuh pipinya, dan terkejut saat merasakan kulitnya yang panas. "Dia panas sekali! Kapan dia mulai demam?"

"Semalam."

"Semalam?" Fino berseru. "Apa kau mengompresnya?"

"Tidak," Kuroro mengakui. Entah mengapa, hal itu tidak terpikirkan olehnya.

"TIDAK?" Fino hampir berteriak sekarang. "Tidak boleh begitu! Tunggu di sini!" Gadis itu beranjak dan bergegas ke kamar mandi. Kuroro mendengar Fino mengobrak-abrik kamar mandi, suara air mengalir dari kran ke dalam wadah, dan segera ia keluar dari kamar mandi memegang seember air dingin. Ia pun membawa sebuah handuk kecil dan mencelupkannya ke air dingin, memerasnya dan meletakkan handuk basah itu ke kening Kurapika.

"Ketika handuknya sudah hangat, celupkan ke air dingin dan letakkan ke keningnya lagi," Fino menginstruksikan, sementara Kuroro hanya mengangguk.

"Aku akan membawakan sarapan ke sini." Fino beranjak, lalu melihat ke arah mereka lagi. "Apa kau akan tetap bersamanya seharian ini?"

"Ya." Lagipula Kuroro tidak punya pilihan lain. Belenggu itu mengikatkan dirinya kepada Kurapika, jadi selama Gadis Kuruta itu masih terbaring, ia akan terjebak di kamar. Dan ia tidak mau repot-repot untuk menjelaskan lebih jauh.

"Kalau begitu aku juga akan membawakan makan siang dan makan malammu," Fino berkata lagi. Ada rasa kagum di wajahnya; dia punya anggapan yang salah. Fino pun pergi, meninggalkan Kuroro dengan Kurapika yang terserang demam. Ia hanya kembali untuk mengantarkan makan siangnya, dan meninggalkan mereka sendiri tanpa berkata apapun. Fino merasa bahwa ia harus menghormati kesetiaan Kuroro terhadap Kurapika; benar-benar suatu kesalahpahaman.

.

.

Hari sudah siang saat Kurapika membuka matanya lagi. Ia berkedip dua kali, matanya yang bengkak berusaha menyesuaikan dengan cahaya di kamar itu. Kurapika tidak mengerti kenapa matanya bengkak, dan kenapa ada handuk lembab di keningnya. Kurapika melirik ke sebelahnya, dan melihat Kuroro duduk di sampingnya sedang membaca buku, jemari pria itu saling terjalin dengan jemari Kurapika. Matanya membelalak ngeri saat melihat dirinya menggenggam tangan Kuroro.

"Sudah bangun? Apa kau sudah menjadi dirimu sendiri sekarang?" Kuroro bertanya dengan tanpa ekspresi, tidak menunjukkan kelembutan yang semalam pura-pura ia tunjukkan saat Kurapika sedang mengingau.

"Apa maksudmu?" Kurapika balik bertanya dengan suaranya yang serak sambil segera melepaskan genggamannya dari tangan Kuroro, seolah tangan pria itu terinfeksi. Mengabaikan sikapnya yang kasar, Kuroro berbalik dan menatapnya penasaran dengan matanya yang berwarna gelap.

"Kau tidak ingat?"

"Apa yang terjadi saat aku sedang tidur? Ada apa dengan kompres dingin ini?" Kurapika bertanya dengan sekilas rasa jengkel terdengar di nada suaranya. Ia beranjak duduk dan membiarkan handuk itu jatuh ke pangkuannya.

Kuroro meletakkan bukunya dan mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Kurapika. Secara ajaib, suhu tubuhnya sudah kembali normal, sementara yang Kuroro lakukan adalah mengganti handuk dengan rutin setiap kali handuk itu sudah menjadi terlalu hangat. Sekarang sudah sedikit melewati tengah hari. Kurapika tersentak saat Kuroro tanpa malu-malu menyentuh keningnya; dan tidak lupa gadis itu pun menatap tajam ke arahnya, yang hanya diabaikan oleh Kuroro. Ia mengernyit saat merasakan suhu tubuh Kurapika; rasanya mustahil. Tapi kemudian, mengingat demamnya benar-benar disebabkan oleh hilangnya penyamaran gadis itu, merupakan hal yang masuk akal jika demamnya hilang setelah Kurapika cukup istirahat. Kuroro menatap wajahnya; masih berwarna kemerahan karena demam, tapi sudah sehat. Kurapika beringsut menjauh dari pengamatan pria itu.

"Maaf? Apa kau mau menjelaskan apa yang sudah terjadi?" Kurapika menuntut jawaban dari Kuroro, ia merasa tidak senang karena kebingungan dengan situasi ini.

"Kau terkena demam semalam," kata Kuroro tegas. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Dan kau mengigau."

"Demam? Mengigau? Aku—Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?" wajah Kurapika memerah.

"Aneh?" Kuroro menyeringai. Kurapika mengernyit padanya, dan ia merasa tidak enak. Kurapika tahu, jika Kuroro mulai menyeringai seperti itu, pasti ia akan menjahili Kurapika.

"Apa yang aku ocehkan?" tanya Kurapika, menyiapkan diri menerima hal memalukan dari ocehannya semalam.

"Tidak banyak. Kau berhalusinasi tentang kakakmu." Wajah Kurapika memucat dan ia menggigit bibir bawahnya.

"Dan?"

"Kau memohon padaku untuk tidak meninggalkanmu sendirian." Kuroro berkata sambil mengamati reaksi Kurapika lekat-lekat.

"Apa ada yang aku lakukan?"

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. 'Itu dia pertanyaan yang menarik, dan tepat sasaran,' pikir Kuroro. Ia mencoba sebaik mungkin untuk menyembunyikan seringai senangnya, Kuroro sangat ingin melihat reaksi Kurapika.

"Kau memeluk lenganku."

"AKU MELAKUKAN APA?"

"Kau memeluk lenganku," Kuroro mengulang, mencoba menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. "Dan kau tidak mau melepaskannya sepanjang malam."

Kurapika menghempaskan dirinya ke tempat tidur, seolah ia pingsan. Gadis itu mengerang dengan keras dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia malu sekali. Wajahnya benar-benar merona, dan ia mendengar Kuroro terkekeh.

"Kau bohong," Kurapika menuduh.

"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya," bantah Kuroro dengan tenang.

"Aku tidak akan pernah melakukan itu!"

"Kau keliru menganggapku sebagai kakakmu."

Ucapan Kuroro membuat Kurapika terdiam. Ia berhenti menyangkal, mengintip dari celah di antara jari-jarinya dan melihat Kuroro tengah memandang ke arahnya. Mereka saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya Kurapika memalingkan wajahnya.

"Maaf," ia bergumam, merasa malu atas dirinya sendiri.

"Kenapa?" Kuroro bertanya, tak mengerti permohonan maafnya yang begitu tiba-tiba.

"Karena aku jatuh sakit."

"Itu tak bisa dicegah. Tubuhmu terkejut atas perubahan yang mendadak, hingga harus kembali menyesuaikan diri termasuk mentalmu." Kuroro berhenti sesaat, lalu melanjutkan, "Ngomong-ngomong, apa yang kau rasakan sekarang?"

Kurapika menatap Kuroro dengan sedikit kebingungan terlihat di wajahnya, tidak bisa mengerti atas perhatiannya yang tiba-tiba, tapi walau begitu, Kurapika meletakkan tangannya di dada, seolah merasakan detak jantungnya dan memejamkan matanya. Ia merasa detak jantungnya lebih tenang dari sebelumnya; pada beberapa hari terakhir detak jantunya agak tidak teratur, dan terus-menerus gelisah. Sekarang, anehnya Kurapika merasa tenang dan damai.

"Aku baik-baik saja," akhirnya Kurapika menjawab dan membuka matanya, melihat Kuroro membungkuk di atasnya…menatap gadis itu penasaran dengan matanya yang besar dan penuh perasaan. "Apa?" tanya Kurapika gugup.

"Apa kau masih mau beristirahat? Atau kau ingin melanjutkan perjalanan kita hari ini?" Kuroro bertanya sambil kembali ke posisi duduknya semula.

Kurapika menatapnya bingung. Lagi-lagi ia mengernyit karena perhatiannya yang tiba-tiba. Hal ini mengganggunya. "Kenapa tiba-tiba perhatian seperti ini?"

Kuroro merenungkan pertanyaan Kurapika. Benar juga, kenapa ia jadi perhatian padanya? Sejauh ini, gadis itu telah menjadi gangguan baginya. Ada perasaan tertentu yang mengatakan bahwa setidaknya Kuroro harus melakukan sesuatu untuk Kurapika. Apakah dia merasa bertanggungjawab padanya? Lagipula Kurapika berusia sembilan tahun lebih muda darinya. Meskipun sebenarnya Kuroro merasa terganggu namun ia masih saja berpura-pura tak peduli. Kuroro menoleh kepada Kurapika yang masih menunggu jawabannya.

"Untuk alasan praktisnya, aku tidak mau bepergian dengan seorang gadis yang masih sakit," Kuroro berkata tanpa menunjukkan emosi sedikit pun.

"Aku mengerti," jawab Kurapika, entah mengapa ia merasa lega mendengar jawaban Kuroro. Jika ia mendengar jawaban selain itu, Kurapika tidak tahu apakah dia bisa menerimanya. Ia tidak ingin Pemimpin Gen'ei Ryodan itu mulai membuai dirinya dengan kebaikan dan perhatiannya. "Sepertinya aku masih ingin istirahat."

"Silakan saja," Kuroro berkata dan kembali membaca bukunya.

Kurapika memejamkan matanya dan mencoba mengabaikan keberadaan Kuroro di dekatnya. Dalam waktu sekejap saja, ia tertidur kembali.

.

.

Suara benturan peralatan makan dari logam bergema di benaknya yang setengah tertidur. Ia mendengar suara dari kejauhan, berbicara dengan pelan seolah mereka khawatir akan membuatnya terbangun. Salah satunya adalah suara perempuan, sementara yang satunya lagi laki-laki. Ia merasa mengenal suara laki-laki itu, suaranya dalam dan terdengar menenangkan di telinganya. Suara itu lembut dan terkontrol, seolah ia sedang berakting. Kurapika menyadari bahwa ia jarang mendengar suaranya yang seperti itu saat pria itu sedang berbicara dengannya. Dengan enggan ia mengakui, pria itu selalu jujur padanya, walaupun ia menolak untuk memberitahukan tentang beberapa hal, tapi pria itu tak pernah berbohong. Dia hanya tidak memberitahu saja. Saat bicara padanya, pria itu terdengar…lebih seperti dirinya yang sebenarnya.

"…saat dia bangun," Kurapika mendengar pria itu bicara.

Matanya perlahan terbuka seolah menjawab perkataannya. Hal pertama yang dilihatnya adalah punggung pria itu karena ia sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Seorang gadis dengan rambut dikuncir ekor kuda, yang Kurapika kenali sebagai putri dari penjaga penginapan, sedang berdiri di hadapan pria itu, memegang baki dengan satu tangan dan memberikannya sepiring makanan dengan tangannya yang satu lagi. Fino-lah yang pertama kali menyadari bahwa Kurapika sudah bangun, dan ia langsung tersenyum lebar.

"Oh, dia bangun!" katanya gembira.

Kuroro menoleh terkejut. Ia segera memeriksa suhu tubuh Kurapika dengan tangannya, dan tanpa sadar merasa lega karena suhunya sudah kembali normal. Setidaknya kondisi Kurapika sudah stabil sekarang. Lagi, lagi, Kurapika membeku karena sentuhannya; tangan pria itu dingin.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya putri penjaga penginapan itu dengan ramah sambil meletakkan baki yang berisi makanan.

"Aku baik-baik saja," jawab Kurapika, suaranya serak karena tenggorokannya kering. Fino mencondongkan badannya ke arah Kurapika, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Kurapika.

"Kekasihmu terus berada di sampingmu untuk menjagamu," bisik Fino kepada Kurapika sambil mengedipkan sebelah matanya. Kurapika ingin memutar kedua bola matanya tapi ia menahan diri; karena itu merupakan sikap yang kasar. Lagipula, Fino hanyalah gadis kota yang sederhana.

"Dia bukan kekasihku," Kurapika berbisik kembali, merasa terganggu dengan pendapat yang salah itu.

"Benarkah?" Fino berbisik kaget, tidak mempercayai penyangkalan Kurapika.

"Sebenarnya, itu bukan urusanmu," Kurapika berkata dengan kasar. Ia menatap gadis itu dengan tajam, dan Fino segera menarik tubuhnya dengan gugup.

"Oh…A—Aku akan permisi sekarang. Nikmatilah makan malam kalian." Ia membungkuk dengan sopan dan bergegas keluar kamar dengan wajah memerah.

Kurapika menghela napas dan menelentangkan tubuhnya, tanpa sadar matanya mengamati langit-langit yang berada di atasnya. Kuroro menatapnya penasaran. Biasanya Gadis Kuruta itu bersikap sopan pada orang lain.

"Tidak baik bersikap seperti itu padanya," komentar Kuroro sambil meletakkan piring makannya.

"Dia mencampuri urusan orang lain," Kurapika beralasan.

"Apa yang dia katakan padamu?"

"Dia bilang kau menunggu di sampingku seharian untuk merawatku. Ya, benar sekali. Yang kau lakukan adalah meletakkan handuk dingin di keningku sambil terus membaca. Lagipula, sebenarnya 'kan karena ada belenggu bodoh itu. Tentu saja kau tidak bisa meninggalkanku," Kurapika mengomel dengan jengkel.

"Apa lagi yang dia katakan padamu?"

Kurapika menoleh untuk menatapnya tajam. Ia sengaja tidak memberitahukan sebagian kecil dari kata-kata Fino, sebab ia ingin menyelamatkan dirinya dari rasa malu, tapi entah bagaimana pria yang menjengkelkan itu bisa mengetahuinya. Kuroro tahu bahwa Kurapika tidak akan menjadi begitu jengkel jika putri penjaga penginapan hanya menyebutkan hal sepele; pasti ada hal lain yang membuatnya kesal.

"Dia bilang kau kau kekasihku," gumam Kurapika, dengan rona kemerahan terlihat di pipinya.

"Ah…," Kuroro mencibir kata-katanya.

Kurapika melotot padanya, tapi tapi Kuroro sudah berbalik, memunggungi Kurapika. Setelah senja berlalu, kamar itu pun menjadi temaram, satu-satunya cahaya berasal dari lampu kecil di dekat tempat tidur mereka. Kurapika memandangi punggung Kuroro. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos. Ia dapat melihat bahunya yang lebar, kuat dan mandiri. Bagaimanapun, Kurapika dapat melihat kesendirian di sosok itu. Tiba-tiba, suara Ishtar bergema di kepalanya.

"Aku membesarkannya, tapi anak itu tidak akan memanggilku Ibu. Kukira ia tidak akan melakukannya…Mengenai masa lalunya, masa kecilnya, kisahnya, bukanlah hakku untuk memberitahukannya padamu. Jika kau ingin tahu, tanya saja dia."

Kurapika merengut. Seolah hal itu mudah untuk ditanyakan. Ia membayangkan pria itu hanya akan diam dan menampakkan bahunya yang dingin, atau akan mengalihkan topik pembicaraan. Bukannya ini penting bagi Kurapika, tapi dia ingin tahu saja…Kuroro Lucifer adalah pria yang misterius, terlalu misterius. Ia tertarik pada bagian diri pria itu yang berbeda. Hal-hal yang bertentangan tentangnya. Kuroro adalah orang yang dingin dan penuh perhitungan; mampu membunuh tanpa harus berpikir dua kali, tidak ada rasa bersalah maupun penyesalan. Ia tidak merasakan apapun saat membunuh, seperti apa yang dikatakannya saat Kurapika menanyakan tentang hal ini padanya.

Flashback

"Tidakkah kau merasakan sesuatu saat kau membunuh?" Kurapika bertanya dengan jijik sambil melihat ke sekitar pemandangan berdarah itu; setelah pertarungan mereka dengan pemburu bayaran yang mengincar kepala Kuroro.

"Tidak ada," jawab Kuroro tanpa berkedip.

"Apakah kau tidak punya hati? Bagaimana mungkin kau bisa membunuh tanpa merasakan apapun?" kata Kurapika sambil mengejek.

"Kau menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan teman kecilmu itu," Kuroro bertanya dengan seulas senyum senang terlihat di wajahnya. Orang yang ia maksud adalah Gon, tapi tentu saja Kurapika tidak tahu. "Sebab mereka bukan urusanku. Mereka tidak berarti apa-apa bagiku, jadi aku tidak ragu membunuh mereka. Puas?"

End of Flashback

Tanpa menyadarinya, mata Kurapika telah berubah warna menjadi merah, bersinar lembut dalam cahaya kamar yang temaram. Dia kecewa dengan jawabannya yang acuh tak acuh. Kuroro terlalu dingin, terlalu tidak manusiawi. Kurapika tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, tapi justru karena itulah dia ingin tahu kenapa. Kenapa Kuroro menjadi orang yang seperti ini? Dia punya sosok seorang ibu, jadi kenapa? Apakah hanya karena tumbuh di Ryuusei-gai, secara otomatis dia menjadi pembunuh berdarah dingin yang tak punya perasaan?

"Kurapika."

Mata Kurapika berkedip, ia terkejut. Kurapika menoleh untuk melihat Kuroro yang sedang menatapnya, ekspresi wajahnya tak terbaca. Dahinya terlihat mengernyit, tapi suasana kamar terlalu gelap untuk memastikan hal itu. Mata Kurapika kembali berubah menjadi biru. Matanya bertemu dengan mata Kuroro yang gelap. Sepertinya pria itu ingin menanyakan sesuatu, tapi memutuskan untuk melawan keinginannya. Kuroro mendorong sebuah piring ke arahnya.

"Makan malammu," kata Kuroro pendek, dan berbalik untuk menyelesaikan makan malamnya sendiri.

Tanpa mengatakan apapun, Kurapika mengangkat tubuhnya untuk duduk dan mulai menyantap makanannya. Jika ia menolak untuk makan lagi, Kuroro pasti akan memaksanya, dan Kurapika tidak mau lagi mengalaminya. Apa yang Kurapika tidak tahu adalah Kuroro tidak menyebutkan bahwa belenggu gaib di antara mereka sudah melebar lagi. Awalnya Kuroro mencoba untuk mengukurnya saat Kurapika sedang tidur, dan yang mmebuatnya terkejut, jaraknya sudah melebar hingga 60 cm. Kuroro berpikir jika ia mengatakan hal ini, Si Pirang itu akan mengira bahwa ia telah melunak terhadapnya, akibatnya ia akan mulai menjauh darinya lagi. Kuroro tidak ingin jarak itu menyempit lagi, rasanya sangat tidak nyaman.

Atau apakah ia hanya merasa nyaman memiliki Kurapika di sekitarnya?

TBC

.

.

A/N :

Review please…^^