DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

A/N :

Terima kasih banyak untuk semua yang telah setia membaca dan mereview hingga chapter ini!

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 7 : DOUBLE TROUBLE

Baru saja setengah hari mereka berjalan keluar dari kota saat rangkaian masalah dimulai.

Mereka melintasi hutan yang subur di bukit yang mengelilingi kota kecil itu, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Kurapika merenungkan kenyataan yang terjadi, bahwa dia telah salah mengira Kuroro Lucifer sebagai kakaknya. Jika orang itu adalah Leorio, Kurapika masih bisa mengerti. Lagipula, pria itu memang sudah seperti kakaknya sendiri sejak Ujian Hunter yang mereka ikuti sekitar setahun yang lalu. Ah, Ujian Hunter. Betapa Kurapika merindukan masa yang penuh dengan kebahagiaan itu. Ia rindu teman-temannya. Kurapika tidak menghubungi salah seorang pun dari mereka sejak Killua dan Gon sedang dalam permainan Green Island. Sayang sekali ia harus membuang ponselnya saat mereka meninggalkan tubuh tiruannya di reruntuhan di mana mereka bertemu dengan Jin Hassamunnin. Kurapika tahu ada alat pelacak di dalam ponselnya, jadi Nostrad bisa melacaknya jika Kurapika berkhianat, atau karena alasan lain semacam itu.

Sekarang Kurapika sepenuhnya terisolasi dari dunia yang telah ia kenal sebelumnya.

Kuroro, di pihak lain, sebenarnya tidak memikirkan tentang masalah tertentu. Kuroro sudah selesai dengan pemikirannya semalam sebelum mereka meninggalkan Penginapan Prancing Pony. Ia telah memikirkan bagaimana tindakannya dapat merubah dunia orang lain dengan sangat drastis. Kuroro pun sudah mengamati Si Gadis Kuruta. Ia membayangkan; bagaimana jika ia tidak membantai Suku Kuruta, bagaimana jika Kurapika bukan seorang Kuruta, bagaimana, bagaimana, dan banyak lagi pengandaian lainnya. Jika semua pengandaian itu benar, ia tidak akan terjebak dengan gadis itu sekarang, ia tidak akan bepergian mengelilingi dunia dengan putus asa mencari makhluk-makhluk mistis untuk melepaskan mantra itu, ia tidak akan bertemu Ishtar di luar keinginannya, dan ia tidak akan melihat dan mempelajari hal-hal yang ia dapat selama bepergian dengan gadis itu. Berbicara tentang pro dan kontra, bahkan dia, otak dari Gen'ei Ryodan, tidak bisa lagi menempatkan apakah situasi itu pada umumnya menguntungkan atau tidak bagi dirinya dan Ryodan. Lagipula Kuroro adalah orang yang menghargai pengetahuan.

Tiba-tiba, sesuatu berdengung. Kurapika dan Kuroro tersadar dari lamunan mereka masing-masing dan melihat ke sekitar dengan waspada. Dengungan itu terdengar dekat dan tidak bergerak. Setelah beberapa detik berlalu, Kuroro menyadari bahwa dengungan itu berasal dari sakunya. Kuroro menggeledah isi sakunya, lalu mengeluarkan buntalan kecil Fun Fun Cloth yang ia miliki. Buntalan itu sedikit bergetar, seperti getaran ponsel saat ada telepon yang masuk. Bingung, Kuroro menatap benda itu sambil mengernyit; demikian pula halnya dengan Kurapika. Tiba-tiba, ada cahaya terang yang keluar dari kain itu dan sebelum mereka bersiap-siap, kain itu meledak.

Baju-baju beterbangan dan tersebar di sekitar mereka seperti confetti yang dilontarkan dalam sebuah perayaan. Kuroro terlihat seperti orang yang tersengat listrik dalam arus yang kecil, sementara Kurapika melongo begitu saja. Sayangnya, tanah tempat mereka berdiri tidak sepenuhnya kering. Beberapa baju mendarat dalam genangan lumpur, beberapa terjebak di ranting pohon rendah di sekitar mereka, salah satunya di atas kepala Kurapika, dan satunya lagi di bahu Kuroro.

"Apa yang terjadi di sini?" Kurapika bertanya setelah menyadari peristiwa mengagetkan yang terjadi di hadapannya.

"Sepertinya dia baru saja mati," jawab Kuroro dengan santai sambil melihat ke telapak tangannya; di mana Fun Fun Cloth berada sebelumnya sekitar beberapa detik yang lalu.

"Dia? Siapa yang baru saja mati?" mata Kurapika semakin membelalak.

"Pemuda Injuu itu, orang yang memiliki kemampuan ini. Peraturan dari kemampuanku adalah jika pemiliknya mati, maka kemampuannya yang aku curi pun begitu." Kuroro menghela napas, seolah kenyataan bahwa seseorang baru saja mati tidak mengganggunya sama sekali.

Kurapika mengernyit mendengar penjelasannya. Jika Kuroro bisa mencuri kemampuan seorang Injuu, berarti orang-orang Injuu tidaklah sekuat yang dikatakan olah Para Godfathers. Yah, dia pernah melihat Uvogin memukul tiga orang dari mereka seperti jeli.

"Tapi yang lebih penting lagi, apa yang akan kita lakukan dengan ini?" tanya Kuroro sambil membungkuk dan memungut sebuah kemeja yang sudah kotor oleh noda lumpur yang berwarna coklat. Kurapika menghela napas.

"Menurutku kita harus kembali ke kota membeli ransel, dan membersihkan baju-baju itu…," Kurapika berkata sambil mulai mengumpulkan baju yang bertebaran di sekeliling mereka.

"Sepertinya itu pilihan terbaik," Kuroro menghela napas lagi dan mulai mengumpulkan baju.

.

.

"Selamat da—oh! Hallo!"

Fino berseru saat ia melihat Kuroro dan Kurapika memasuki penginapan, tapi wajah gembiranya berubah menjadi bingung saat melihat tumpukan baju di tangan mereka; beberapa dari baju itu bersih dan kebanyakan kotor. Kepala Kurapika hampir tak terlihat di atas tumpukan baju yang dibawanya. Mereka terlihat seperti badut. Fino mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba untuk mencerna situasi itu. belum pernah ada tamu seperti mereka sebelumnya.

"Uh…," Kurapika mulai bicara, merasa ragu bagaimana ia harus menjelaskan situasinya. "Kami harus membersihkan baju-baju ini. Ransel kami rusak."

"Dan kami harus mendapatkan ransel yang baru, jadi jika kau tidak keberatan, bisakah kau membantu kami membersihkan baju-baju ini sementara kami pergi membeli ransel?" Kuroro menambahkan.

"Oh, tentu saja. Kemarilah, aku akan mengantar kalian ke tempat cuci."

'Tapi aneh, aku tidak melihat mereka membawa ransel apapun sebelumnya,' pikir Fino. 'Yah…sudahlah…'

Maka Fino mengantar Kuroro dan Kurapika ke tempat itu. Ia meminta ibunya untuk mencuci semua baju tersebut. Saat wanita itu melihat tumpukan baju kotor yang dibawa Kuroro dan Kurapika, dia hampir pingsan. "Apa yang telah kalian lakukan hingga baju-baju ini kotor?" tanyanya hampir berteriak, tapi kemudian ia menjadi tenang setelah Kurapika menjelaskan situasinya dengan sabar. Kemudian Kurapika dan Kuroro meninggalkan penginapan untuk mencari ransel.

Saat mereka kembali, hari sudah malam. Fino menyambut keduanya dan membimbing mereka ke kamar yang telah ia siapkan. Fino bertanya kenapa Kurapika dan Kuroro pergi lama sekali hanya untuk membeli dua buah ransel. Tak ada yang menjawab, karena keduanya tahu alasannya sederhana saja, yaitu mereka terlalu banyak berdebat saat pergi tadi. Mereka berdebat mengenai desain, harga, dan hal-hal sepele lainnya.

"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok pagi. Panggil saja aku jika kalian membutuhkan sesuatu, oke?" kata Fino sopan. Ia baru saja akan pamit saat ada tangan meraih sikunya.

"Uh…," Kurapika menatap gadis itu, ia terlihat tidak nyaman. Fino pun memandangnya dengan rasa gugup dan rasa ingin tahu. Terakhir kali, Kurapika memberitahunya dengan kasar untuk mengurusi urusannya sendiri, saat Fino bersikeras bahwa Kuroro adalah kekasih Kurapika. Ia merasa canggung dengan Kurapika, tapi di saat yang sama Kurapika membuatnya penasaran.

"Aku hanya ingin minta maaf…aku sudah kasar padamu waktu itu..," Kurapika menunduk meminta maaf. Sementara itu, Kuroro hanya mengamatinya dengan rasa geli terlihat di wajahnya.

"Oh…Oooh, yang itu," tiba-tiba Fino tertawa gembira. Kurapika mengangkat wajahnya dan menatap gadis itu dengan tatapan seolah tak percaya.

"Tidak apa-apa kok. Lagipula itu memang salahku. Ibuku juga selalu memberitahuku untuk tidak terlalu banyak mencampuri urusan orang lain. Aku juga minta maaf." Ia meraih tangan Kurapika dan meremasnya hangat. "Jadi, kita teman 'kan?"

Kurapika terkejut mendengar jawabannya. Yah, dia memang mengharapkan pemberian maaf dari Fino, karena ia terlihat seperti gadis yang polos, seperti Gon, tapi ini? Ia tidak mengira putri penjaga penginapan ini akan memintanya untuk menjadi temannya. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya dan semakin merasa terhibur dengan situasi ini. Ia melipat kedua tangannya di dada dan terus mengamati.

"Teman?" Kurapika mengulangi kata yang diucapkan Fino.

Entah bagaimana, mendengar hal itu dari orang asing yang baru dikenalnya selama beberapa hari membuatnya tidak nyaman. Kurapika tidak mudah mempercayai siapapun. Gon memang spesial; dia membuat Kurapika tergugah sejak pertama kali gadis itu mengenalnya. Leorio bertengkar dengan Kurapika saat pertama kali mereka bicara, dan mereka mencoba untuk saling menerima satu sama lain karena campur tangan Gon. Butuh banyak waktu bagi Kurapika untuk mempercayai Killua karena ia terlihat berbeda sejak pertama kali. Hanya karena Gon terlihat begitu mempercayai Killua, maka Kurapika pun belajar untuk menerimanya. Tapi gadis kota ini? Dia meminta Kurapika menjadi temannya begitu saja?

"Kau tidak mau?" Jika Fino seekor kucing, anjing atau kelinci, pasti telinganya terkulai lemah dengan kecewa.

"Tidak, tidak! Maksudku…," Kurapika menggelengkan kepalanya. "Aku…aku kira itu bagus." Ya, menjadi teman dengan seorang gadis kota tidak akan membuatnya terluka, kan?

"Bagus! Jadi siapa namamu?"

"Kurapika," ia tersenyum tipis padanya.

"Dan kau?" Fino bertanya pada Kuroro, yang berdiri di dekat Kurapika setiap waktu (dia tidak punya pilihan lain 'kan?).

Kurapika menoleh dan memandang Kuroro dengan rasa penasaran. Kuroro selalu hati-hati untuk tidak memberitahukan identitasnya sebagai Pemimpin Gen'ei Ryodan. Jika tidak perlu, ia tidak akan memberitahukan namanya dengan begitu mudahnya.

"Kuroro," ia langsung menjawab dan memberi Fino senyumnya yang mempesona; yang hampir membuat gadis itu meleleh seperti jeli. Kurapika sedikit terkejut dengan jawabannya yang cepat. "Senang berkenalan denganmu, Fino."

Fino tersipu. Ia tidak tahu tamunya akan mengingat namanya. Setelah ia pamit dari kamar dan menghentakkan langkahnya menuju ke hall seperti biasanya, Kurapika menoleh pada Kuroro dan memberinya tatapan penuh dugaan.

"Apa?" tanya Kuroro sambil menaikkan alis matanya.

"Kau bermaksud memanfaatkannya 'kan? Menjadi temannya, kemudian bisa dengan mudah meminta pertolongannya," Kurapika menuduh.

"Hmm…," Kuroro tersenyum, atau mungkin lebih tepat disebut menyeringai. "Dengan satu alasan, ya. Tapi menjadi temannya tidak akan menyakitinya 'kan? Ini hubungan yang saling menguntungkan, jadi kenapa tidak?"

Tentu saja Kuroro benar. Menyadari Kurapika tidak bisa mendebat kata-katanya, Kurapika tetap diam untuk menyelamatkan wajahnya dari rasa malu. Lagipula, ia mulai lelah terus-menerus berdebat dengan Kuroro. Yang ia lakukan hanya memutar kedua bola matanya dan bergumam, "Terserahlah!"

.

.

Kuroro sedang berada dalam tidur nyenyak yang jarang didapatkannya saat ia terbangun oleh bisikan lembut di tengah malam. Dengan terkantuk-kantuk Kuroro berusaha untuk mendengar lebih jelas suara bisikan itu, untuk memutuskan apakah suara itu berbahaya atau tidak. Jika bukan apa-apa, Kuroro akan kembali tidur dan melupakannya.

"…Biarkan Mata Merah kita yang menyala bersaksi…" ia mendengar kalimat terakhir diucapkan oleh seseorang tertentu.

Kuroro membuka matanya. Ia memikirkannya sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk membalikkan badannya dengan diam-diam dan melirik gadis itu. Ya, gadis yang berbagi kamar dengannya, dengan tempat tidur mereka yang menyatu untuk membentuk tempat tidur queen size. Gadis itu sedang duduk memunggungi Kuroro. Ia menghadap ke jendela dan terlihat berada dalam posisi berdoa. Ia mengulangi doa yang diucapkannya, dan kali ini Kuroro dapat mendengarnya dengan jelas.

"Matahari di langit,

Pepohonan di tanah…

Tubuh kita berasal dari bumi,

Jiwa kita berasal dari surga.

Matahari dan bulan meremajakan kembali tubuh kita,

Mengirimnya ke angin yang bertiup melintasi dataran

Bersyukur pada dewa-dewa yang berada di surga untuk tanah Kuruta.

Biarkan roh kita hidup dalam semangat dan perlindungan yang kekal.

Aku berusaha berbagi kegembiraan dengan saudara-saudaraku.

Menawarkan penghormatan kepada orang-orang dari Suku Kuruta,

Biarkan Mata Merah kita yang menyala bersaksi…"

Kuroro segera mengetahui bahwa apa yang diucapkan gadis itu adalah semacam doa Suku Kuruta. Kuroro Lucifer bukan orang yang religius; ia jauh dari itu. Kuroro adalah orang yang hanya mempercayai dirinya sendiri dan keyakinan yang ia pegang teguh. Berdoa adalah sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, bahkan walaupun hanya sekali saja selama hidupnya. Memutuskan untuk membiarkan gadis itu sendiri dengan doanya, Kuroro memejamkan mata dan kembali tidur. Jika gadis itu membutuhkan semacam penghiburan dan ia merasa bahwa ia dapat mendapatkannya dari doa itu, itu bukan urusan Kuroro.

.

& Skip Time &

.

Kuroro dan Kurapika sedang memilah baju-baju mereka saat hari sudah pagi. Sebelumnya Fino dan ibunya sudah membawakan cucian mereka yang bersih dan kering ke kamar. Keduanya memutuskan untuk membawa sendiri pakaian dan keperluan mereka sendiri secara terpisah, untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi nanti. Fino membantu mereka dengan melipat baju-baju itu, dan dengan baik hatinya ia telah memisahkan buntalan spesial milik Kurapika.

Seringkali Fino memandangi mereka lekat-lekat, dengan penuh hasrat di matanya. Kurapika mulai merasa tidak nyaman dengan tatapannya, sementara Kuroro sepertinya tidak mau ambil pusing. Akhirnya, Kurapika memutuskan untuk bertanya.

"Fino? Apa ada yang salah?"

"Hm? Tidak," Fino menjawab dengan polos.

"Jadi kenapa kau menatap kami?"

"Karena menurutku legenda benang merah itu sangat romantis."

"Hah?" Kurapika mengerutkan alis matanya dalam kebingungan. Kali ini, komentar putri penjaga penginapan itu menarik perhatian Kuroro. "Apa maksudmu?" Kurapika bertanya lagi.

"Ada cahaya merah yang menghubungkan kalian berdua, seperti Benang Merah Takdir yang Tidak Terlihat. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, tapi sekarang aku melihatnya, menurutku itu sangat romantis," Fino menjelaskan dan wajahnya mulai terlihat seolah ia sedang mengkhayal.

"Cahaya merah?" Kurapika menaikkan alis matanya. Awalnya ia bingung dengan apa yang dibicarakan gadis itu, tapi kemudian Kurapika menyadarinya, ia menoleh untuk melirik ke arah Kuroro; dan pria itu pun memandanginya. Mereka punya pikiran yang sama. Aura jin yang mengikat mereka berdua berwarna merah.

"Fino, kau bisa meihat Nen?" Kurapika menanyai Fino dengan ragu.

"Nen? Apa itu?" Fino memiringkan kepalanya, ia tak mengerti. "Sebenarnya, aku punya sensitivitas spiritual yang tajam. Kadang aku bisa melihat hantu, dan seringkali aku bisa melihat aura orang lain," katanya bangga.

"Jadi…ada apa dengan legenda benang merah itu?" akhirnya Kuroro bertanya dengan penasaran.

"Itu hanya mitos yang mengatakan bahwa jika dua orang ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih, akan ada benang merah tak terlihat yang terikat di jari kelingking mereka," Fino menjelaskan sambil menunjuk ke jari kelingking Kurapika, senyumnya lebar dan penuh arti.

"Dan kau percaya itu?" Kurapika berkata, ia terdengar ketakutan.

"Jika benang itu benar-benar tak terlihat, bagaimana mereka bisa tahu warnanya merah?" Kuroro terkekeh geli, dan tidak memikirkannya lebih jauh.

"Yah, siapa tahu?" Fino mengangkat bahu, terlihat kecewa atas tanggapan Kuroro dan Kurapika yang kurang terhadap komentarnya. Ia berdiri dan pamit, karena sepertinya tidak ada lagi yang bisa ia bantu saat ini. Tiba-tiba, sebuah pikiran nakal muncul di benaknya saat ia melangkah menuju pintu. Fino berbalik dan memandang Kuroro dan Kurapika.

"Tapi sekali lagi, dengan melihat kalian berdua, orang-orang akan mempercayai mitos itu 'kan?"

Setelah mengatakan itu, Fino kabur sambil tertawa, sementara terdengar suara gemuruh kemarahan dari Si Pirang.

"FINO!"

Di saat yang sama, si pria berambut hitam mulai tertawa. "Benang Merah Takdir yang Tak Terlihat, hah? Menarik," gumamnya.

Kurapika memandangnya dengan tatapan bicara-tentang-hal-itu-lagi-dan-aku-akan-mencekikmu-sampai-mati. Kuroro menatapnya dalam-dalam, tidak ingin berhenti menggodanya. Ia melihat rona tipis kemerahan di wajah gadis itu.

"Sekarang aku tahu kenapa jin itu memilih warna merah."

"Kau, berhentilah meributkan hal yang tidak masuk akal ini!" Kurapika berseru padanya.

Lalu Kurapika mulai meraih pakaiannya dengan kasar dan memasukkannya ke dalam ransel dengan gusar. Kuroro menikmati waktunya menyusun pakaiannya di dalam ransel, menambah kekesalan Kurapika.

"Kalaupun ada…," Kuroro mendengar Kurapika bergumam. "…Kita terikat oleh sumpah darah balas dendam yang aku ucapkan di atas kuburan orang-orang sukuku…"

Kuroro mengernyit mendengar kata-katanya tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia berpura-pura acuh tak acuh dan kembali memilah dan menyusun pakaiannya. Sejujurnya, ia mulai lelah dengan pengulangan ucapan Si Gadis Kuruta tentang sumpahnya untuk membalas dendam atas pembantaian sukunya dan pernyataan bencinya terhadap Kuroro. Kuroro tahu dia punya banyak musuh, mengingat apa profesinya, tapi bepergian dengan salah seorang di antaranya membuatnya gila.

Mungkin ia perlu melakukan sesuatu untuk mengatasinya; entah bagaimana, entah di mana nantinya.

.

& Skip Time &

.

Dua hari berlalu dengan baik sejak Kurapika dan Kuroro pergi dari penginapan kecil Fino dengan ransel tersampir di punggung mereka. Mereka berjalan dalam keheningan, seperti biasa, melewati hutan saat tiba-tiba Kurapika merasakan sedikit rasa nyeri di perutnya. Rasanya seperti ditusuk oleh beberapa jarum yang tajam. Terkejut, Kurapika menyentuh perutnya dengan hati-hati, dengan satu tangan tanpa berhenti melangkah. Ia melihatnya sejenak, tapi rasa sakit itu segera pergi secepat saat rasa sakit itu datang. Kurapika pun terus melangkah maju.

Tiga hari berikutnya, Kurapika terus mengalami rasa sakit di perutnya, rasa sakit itu semakin buruk dan semakin lama terasa. Dia mulai merasa terganggu, tapi ia belum memberitahu Kuroro tentang ini. Dia tidak sudi memberitahu Pemimpin Gen'ei Ryodan itu bahwa ia merasa sakit perut yang sepele begitu 'kan? Tapi saat rasa sakit itu mencapai puncaknya, Kurapika tidak tahan lagi. Kurapika berhenti berjalan dan berjongkok, ranselnya jatuh ke tanah dan tangannya memegangi perutnya. Wajahnya berkerut saat ia berusaha menahan rasa sakitnya.

"Ada apa?" tanya Kuroro pendek setelah menyadari bahwa gadis itu berhenti.

Kurapika memandangi sekeliling dan melihat ada sungai di dekat sana.

"Bolehkah…Bolehkah aku pergi ke sungai itu sebentar…" tanyanya lemah, tak peduli bahwa ia terdengar seperti memohon ijin pada Kuroro.

Kuroro mengernyit bingung atas sikap Kurapika yang aneh. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, mencoba melihat apa yang salah dengannya. Akhirnya ia mengangguk tanda setuju, lalu mereka berdua berjalan ke arah sungai. Kuroro menunggu di balik semak-semak di tepi sungai, sementara Kurapika melakukan entah apa yang perlu ia lakukan di sungai itu.

Kurapika mengambil air segar dengan tangannya dan menyiramkannya ke wajahnya. Ia dapat merasa wajahnya memucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Rasa sakit itu menyiksa Kurapika, dan Kurapika tidak tahu dari mana asalnya. Kurapika yakin ia tidak memakan sesuatu yang aneh, jadi tidak mungkin ini adalah keracunan makanan. Ia duduk di atas rumput di sungai itu, mencoba memikirkan apa yang terjadi di dalam tubuhnya, saat ia merasakan celananya mulai basah.

Mengutuk lirih secara perlahan, Kurapika berdiri. Ia pikir ia duduk di atas tanah yang basah, tapi saat ia melihat noda darah di tanah tempatnya duduk beberapa detik yang lalu, Kurapika membeku. Tiba-tiba, ia tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya, dan itu sama sekali BUKAN hal yang baik. Kurapika mulai panik atas keadaan yang tengah dialaminya, saat rasa sakit itu membuat situasi menjadi bertambah buruk, menyerangnya dengan keras. Kurapika mengerang kesakitan sambil terjatuh ke tanah, memegangi perutnya.

Semak-semak di belakangnya bergemerisik dan Kuroro keluar dari sana, berpikir bahwa sesuatu terjadi pada Kurapika dan dia ingin memeriksanya. Saat Kuroro melihatnya di tanah, berbaring melingkar dan mengerang kesakitan, Kuroro berjongkok di hadapannya dan mengernyit kebingungan.

"Apa yang terjadi?" Kuroro bertanya, tidak memahami rasa sakit yang dialami Kurapika.

"Aku…uh…," bahkan untuk bicara pun kini perlu usaha. "Prancing Pony…"

"Apa?" Kuroro pikir ia salah mendengar kata-katanya. Apa hubungan antara penginapan itu dengan kondisi Kurapika sekarang?

"Bawa aku…ke sana…," Kurapika mencengkeram lengan Kuroro, yang Kuroro tidak sangka Kurapika akan melakukannya. Kalaupun iya, gadis itu benci bersentuhan dengannya. "Cepat!" Kurapika menekankan.

Kurapika membuat kata-katanya terdengar seolah hidupnya bergantung pada hal itu, dan Kuroro, tidak memahami keadaan yang tengah dialami Kurapika, hanya bisa memenuhi keinginannya. Melihat Kurapika tidak bisa berdiri sendiri karena rasa sakitnya, Kuroro harus menggendong gadis itu dalam pelukannya dan bergegas membawanya ke sana. Tapi walau bagaimanapun, ia tidak melupakan ransel mereka.

.

.

Saat mereka memasuki desa dalam waktu kurang dari sehari (sebenarnya beberapa jam), dengan Kurapika berada dalam pelukan Kuroro, beruntung Fino-lah orang yang melihat mereka sedang menuju ke penginapannya. Dia pikir Kurapika jatuh sakit lagi (terakhir kali mereka berada di penginapannya, Kurapika demam tinggi). Saat Kurapika mencengkeram tangannya dan membisikkan "periode" padanya, wajahnya memucat dan merona di saat yang bersamaan. Fino menarik mereka; atau lebih tepatnya Kuroro, menuju ke penginapan, dan saat mereka tiba di kamar yang dipilih Fino secara sembarang, Fino meminta Kuroro membiarkannya menangani Kurapika.

Kuroro, yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, hanya diberi tahu untuk menyingkir. Dengan senang hati ia mematuhinya dan menunggu di luar kamar mandi. Sebelumnya, Fino sudah menarik Kurapika ke kamar mandi lalu mengunci dirinya bersama Kurapika di sana. Tak lama kemudian, penjaga penginapan datang ke kamar itu dengan wajah bingung dan bertanya pada Kuroro ada apa dengan semua keributan ini.

"Aku juga tidak mengetahuinya sedikitpun," jawab Kuroro jujur sambil mengangkat bahu.

Setelah semuanya sudah berhasil diatasi, Fino keluar dari kamar mandi bersama Kurapika yang bersandar padanya. Ia terlihat lebih lemah di mata Kuroro saat ini. Seolah sesuatu mengeluarkan kehidupan dari tubuhnya. Fino membantu Kurapika berbaring di tempat tidur dan menggenggam kedua tangannya sambil membisikkan sesuatu untuk membuatnya tenang. Beberapa saat kemudian, setelah Kurapika terlihat tenang, Fino beranjak dan memberi Kuroro tatapan yang menenangkan juga; entah untuk apa. Lalu Fino keluar dari kamar tanpa menjelaskan pada Kuroro apa yang sebenarnya terjadi.

Kuroro menoleh pada Kurapika, yang berbaring melingkarkan tubuhnya lagi. Ia berdiri di dekat tepi tempat tidur dan memandangnya penasaran.

"Apa yang terjadi?" akhirnya Kuroro bertanya.

"Fino tidak memberitahumu?" Kurapika balik bertanya sambil melihat ke arah pria itu dengan lelah, dan dengan wajah yang merona.

Kuroro menggelengkan kepalanya. "Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Apa yang terjadi?" ia tidak menyukai kondisi ini di mana ia tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.

Kurapika mengerang kesakitan dan malu. Ia harap Fino akan berbagi rasa malunya untuk menjelaskan kepada Kuroro Lucifer, bahwa ia sedang berubah secara fisik menjadi wanita dewasa. Kurapika mendekap bantal dan menghela napas, seolah mencoba melindungi diri atas apapun yang akan menghampirinya, malu atau tidak.

"Aku…ingin mati saja…," Kurapika bergumam di dalam napasnya.

"Karena?" 'Ini jadi menarik sekarang,' pikir Kuroro sambil menaikkan sebelah alis matanya.

"Aku sedang mengalami periodeku."

Kuroro menatapnya bingung, tidak mengerti apa yang Kurapika maksud dengan 'periode'. Kurapika memutar kedua bola matanya dalam keputusasaan.

"Periode menstruasi!" Kurapika berdesis dan memalingkan wajah, terlalu malu untuk manatap Kuroro.

"Ah…" Kuroro pun ingat. Machi pernah menyebutkan sesuatu yang seperti itu saat mood-nya sedang benar-benar buruk. Ia menguping Machi berbicara dengan gadis-gadis lain tentang kutukan periode menstruasi bulanan, tapi Kuroro tidak tertarik sehingga ia tidak menaruh perhatian atas hal itu.

Tiba-tiba Kurapika mengerang kesakitan lagi dan menutupi wajahnya dengan bantal. Ia semakin melingkarkan tubuhnya. Kuroro mengernyit padanya.

"Apa rasanya sangat sakit?"

"Seperti yang kubilang…aku ingin mati…," Kurapika menjawab dengan suara yang lemah, seolah ia benar-benar sekarat. "Terkutuklah kau dan pria-pria lainnya…karena tidak menderita seperti kami…"

"Yah, sayang sekali," Kuroro menyeringai dan mengangkat bahunya. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku sementara Kurapika menatapnya dengan marah, tapi kemudian dikuasai oleh rasa sakit di perutnya.

"Urk…"

Kuroro memandangnya dengan bercampur rasa geli dan kasihan. Saat gadis-gadis di kelompoknya sedang mengalami periode mereka, mereka tidak pernah terlihat sesakit Kurapika saat ini. Mood mereka menjadi jelek, tapi hanya itu. Benar-benar, Si Gadis Kuruta terlihat sangat menyedihkan sekarang, seolah ia sedang dibunuh dari dalam. Mungkin rasanya memang seperti itu, jika perlu dideskripsikan.

"Itulah kenapa…," tiba-tiba Kurapika berkata.

"Hm?"

"Itulah kenapa aku tidak mau bepergian sebagai seorang gadis…Terlalu merepotkan…," gumamnya.

'Merepotkan untukku juga,' pikir Kuroro pahit. Bersama Kurapika sebagai seorang gadis, banyak pertimbangan yang harus mereka ambil dalam berbagai kondisi perjalanan mereka. Menginap di penginapan dan hotel, waktu mandi, dan sekarang ini. Kadang diam-diam Kuroro berharap Kurapika tidak kembali ke dirinya yang sebenarnya sebagai seorang gadis.

"Dan itulah kenapa aku juga akan membuatmu menderita…," Kurapika menambahkan dengan dendam.

Kurapika tidak memahami apa maksud dari kata-kata Kurapika. Ia pikir Kurapika hanya mengoceh tidak jelas seolah berusaha mengurangi rasa sakitnya. Oh, betapa kelirunya dia. Mood Kurapika berubah secara ekstrem kapanpun gadis itu mengalami periodenya, seolah Kuroro adalah sasaran dari perubahan mood-nya itu, selalu saja begitu. Kurapika akan memperlakukan Kuroro dengan dingin, kasar, apapun yang negatif. Fino menunjukkan rasa simpatinya untuk Kuroro saat mereka pergi meninggalkan penginapan; saat Kurapika masih berada dalam mood-nya yang jelek dan menimpakan segalanya pada Kuroro. Walau demikian, ia berterimakasih pada Fino yang telah membantunya dan menyediakan 'kebutuhannya'.

Lalu Kuroro dan Kurapika kembali melanjutkan perjalanan mereka, hanya saja sekarang Kuroro harus mengetahui kapan kira-kira Kurapika akan mengalami periode bulanannya, dan dia harus ekstra hati-hati ketika saat itu tiba. Kuroro harus melindungi diri dari hari-hari buruk yang penuh badai.

.

& Skip Time &

.

"Hei, Killua. Apa yang ingin kau pesan?"

"Hng…aku tidak tahu. Tidak ada yang menarik! Bahkan mereka tidak punya parfait!" kata Killua sambil menyimak menu dengan malas.

"Yah, ini 'kan kota kecil. Menurutku mereka tidak punya banyak menu yang bisa ditawarkan."

"Hmm…jadi apa yang akan kau pesan, Gon?" Bocah berambut putih itu bertanya dengan pandangan yang masih tertuju ke menu.

"Kurapika."

"Apa?" Killua segera berhenti membaca dan menatap Gon. "Gon, aku tahu kau rindu padanya tapi menu ini tidak punya makanan yang bernama 'Kurapika'. Lagipula, kau 'kan menonton beritanya. Dia sudah mati…," Killua memalingkan wajahnya. Ia merasakan kepahitan saat mengatakannya. Mereka seolah hancur saat menyaksikan berita itu. Apakah Gon sulit melupakan teman mereka yang sudah mati?

"Tidak. Itu Kurapika 'kan?" Gon berkata sambil menegakkan tubuhnya dan pandangannya tertuju lurus ke arah tertentu.

"Hn? Di mana?" Killua menoleh untuk melihat apakah Kurapika memang berada di sana atau tidak. Ia pikir Gon hanya melihat hantunya, tapi astaga, ternyata ia salah.

.

.

"Aku tetap berhubungan dengan teman-temanku atau tidak, itu bukan urusanmu," Kurapika berkata dengan putus asa. Kenapa Kuroro harus begitu mencampuri urusannya? Bahkan itu bukanlah sesuatu yang harus menjadi perhatiannya.

"Yah, aku hanya bertanya-tanya. Apakah itu karena kau tidak mau mereka terlibat dengan semua ini?" tanya Kuroro dengan santai sambil menuruni anak tangga di belakang Kurapika, kedua tangannya berada di saku dan ranselnya tersampir di bahu.

"Seperti yang kubilang, itu bukan urusanmu!" Kurapika menoleh dan memelototinya. "Dan kenapa kau begitu ingin tahu?"

"Karena…," Kuroro melihat melewati kepala Kurapika. "Aku melihat mereka menuju ke arah sini."

"KURAPIKAA!"

'Oh tidak.' Kurapika menahan napas dan membeku.

Saat ia membalikkan badannya, ia melihat rambut putih dan rambut hitam di anak tangga paling bawah. Gon melihatnya dengan bahagia, sementara Killua mengernyit melihat mereka. Gon memanggil namanya lagi dengan menjerit, tapi dengan cepat Killua meraih lengan sahabatnya. Bocah berambut jabrik itu berbalik dan menatap Killua dengan bingung dan cemberut.

"Tunggu, Gon! Lihatlah lagi dengan jelas!" Killua mengisyaratkan dengan gerakan kepalanya. Gon berbalik dengan patuh dan melihat apa yang dimaksud Killua.

"Kuroro Lucifer!" serunya, matanya membelalak tak percaya.

"Kita bertemu lagi, Anak-anak," sapa Kuroro santai, seringai terlihat di bibirnya.

"Kenapa kau ada di sini?" Killua bertanya sambil bersiap dalam posisi bertarung bersama dengan Gon.

"Apa yang aku lakukan di waktu luangku bukanlah urusanmu," jawab Kuroro dengan tidak jelas, tapi sekilas ia melirik Kurapika, yang terlihat seperti lupa bagaimana cara untuk bernapas.

"Dan Kurapika, apa yang kau lakukan dengannya? Kukira kau ingin membunuhnya untuk membalaskan dendam sukumu?" Gon bertanya dengan tatapan memohon. "Dan kukira kau terbunuh! Apa yang terjadi?"

Kurapika tersentak, badannya menegang saat bocah itu mengingatkannya akan sumpah untuk membalaskan dendam sukunya.

"Gon, itu bukan Kurapika. Dia seorang gadis," Killua berkata, tapi matanya tak pernah lepas dari Kuroro.

Walaupun Kuroro tetap mempertahankan sikap dinginnya, sebenarnya ia menyeringai dengan senang. Kurapika, di pihak lain, berdoa sekeras mungkin di dalam hatinya agar Killua dapat meyakinkan Gon bahwa dirinya bukanlah Kurapika yang mereka kenal.

"Benarkah?" Gon bertanya dengan polos kepada Killua dan mata yang membelalak.

"Lihat saja. Dia benar-benar perempuan. Kurapika adalah laki-laki, ingat? Kita pernah melihatnya memakai baju olahraga waktu Ujian Hunter, dan jelas sekali dia punya dada yang rata," Killua memberitahunya.

"Tapi dia juga punya dada yang rata."

"Itu karena payudaranya kecil."

Di balik harapannya agar Gon dan Killua akan berpikir bahwa dia bukanlah Kurapika yang mereka kenal, tetap saja pernyataan Killua membuat jantungnya seolah ditikam, dicincang dan diiris menjadi bentuk fillet. Bahkan Kuroro mendengus geli, dan berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

"Jadi…" Gon berbalik dan memandangi Kurapika sekali lagi. "Dia Laba-laba?"

Mata Kurapika membelalak, sementara Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. 'Wah, masalah,' pikirnya.

"Mungkin," Killua mengangkat bahunya.

Hanya itu yang diperlukan untuk membuat kemarahan Kurapika meledak.

"AKU TIDAK AKAN PERNAH BERGABUNG DENGAN LABA-LABA!" Kurapika berteriak dan warna matanya berubah menjadi merah.

Kemarahannya membuat bocah-bocah itu terkejut. Penghuni penginapan menengok ke arah mereka dengan jengkel dan kaget. Saat Kurapika sadar kembali, ia tersentak dan menutupi mulutnya dengan tangannya, sementara iris matanya dengan cepat berubah kembali ke warna aslinya yaitu warna biru samudera. Saat wajahnya memucat, mulut bocah-bocah itu menganga.

"Kau benar-benar Kurapika?" Killua bertanya dengan hati-hati. Ia menoleh kepada Kuroro, yang masih tersenyum senang. "Apa dia benar-benar Kurapka kami?"

"Yah…," Kuroro menghela napas.

"Kurapika, ada apa?" Fino bertanya dengan penuh perhatian sambil melangkah menghampiri mereka. Fino tidak tahu bahwa dia baru saja menjawab pertanyaan Killua.

"Fino, semuanya baik-baik saja. Kau bisa kembali bekerja," Kuroro memberitahu gadis itu dengan tenang. Fino tidak perlu tahu tentang keadaan mereka.

"Apa kau yakin? Tapi tadi…," Fino melihat ke arah Kurapika dengan keraguan terlihat di matanya.

"Semua baik-baik saja. Tapi kami perlu menggunakan kamar sebentar saja. Bolehkah?" Kuroro bertanya lagi, kali ini ia sudah setengah membalikkan badannya hendak menaiki tangga dan tangannya pun sudah memegangi siku Kurapika yang membeku.

"A-Aku pikir itu tidak apa-apa…Aku akan memberitahu Ayah…," Fino bergumam sebelum melangkah pergi dengan enggan.

Setelah Fino pergi, Kuroro menoleh kepada Gon dan Killua lalu mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya. Ia menarik Kurapika yang masih membeku dengan memegangi sikunya. Gon dan Killua saling bertukar pandang, mereka terlihat khawatir namun tetap mengikuti Pemimpin Gen'ei Ryodan itu ke lantai dua, dan masuk ke kamar yang sebelumnya ditinggali oleh Kurapika dan Kuroro. Kuroro mendudukkan Kurapika ke kursi terdekat. Gadis itu masih terlihat linglung.

"Kusarankan kau memberitahu mereka tentang keadaan kita," Kuroro berkata dengan suara datar sambil melipat kedua tangannya di dada dan bersandar dengan bertumpu pada satu kaki.

"Keadaan apa? Aku tidak mengerti. Seharusnya Kurapika itu laki-laki," kata Killua cemberut.

"Seharusnya," Kuroro menekankan kata itu sambil menatap Killua dengan tajam.

"Kurapika?" Gon menghampiri Kurapika dengan hati-hati. Wajahnya terlihat bingung.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia mengepal sandaran tangan kursi itu dan menutup matanya. Dia kembali menarik napas dan menghembuskannya berulang-ulang hingga hatinya tenang, dan akhirnya membuka kepalan tangannya yang gemetar. Kurapika menarik napas dalam sebelum mengangkat wajahnya dan menatap wajah Gon dengan tatapan yang lebih tenang di wajah pucatnya.

"Ya, Gon. Aku Kurapika, dan aku perempuan," ia berkata, dengan suara yang hampir terdengar seperti sebuah bisikan.

"Apa yang terjadi?" Gon bertanya dengan suara yang sedih.

"Sebenarnya aku seorang gadis. Aku minta maaf, tapi aku telah menipu kalian semua selama ini," Kurapika menggelengkan kepalanya dengan sedih dan menatap mata mereka. "Segel penyamaranku telah hancur."

"Oke, itu adalah satu hal yang sudah kau jelaskan, dan aku mengerti. Tak usah khawatir," Killua berkata, suaranya stabil namun terdengar gelisah. "Tapi beritahu aku, Kurapika, kenapa kau malah bersama dengan pria itu?" ia bertanya sambil menunjuk Kuroro.

"Seharusnya kalian adalah musuh," Gon menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.

"Kami masih seperti itu. Hanya saja…," tiba-tiba, Kurapika merasa sangat lelah. Ia tidak ingin menjelaskan semua situasi itu kepada mereka.

"Aku akan menjelaskannya," kata Kuroro sukarela sambil melangkah maju. Kurapika menatap pria itu dengan rasa terkejut terlihat di wajahnya yang lelah, tapi tidak mengatakan apapun untuk menghentikannya. Kalaupun ada yang ingin dikatakannya, mungkin Kurapika akan berterimakasih karena Kuroro telah bermurah hati menawarkan untuk berbagi beban dengannya.

"Aku tidak percaya padamu," Killua berkata sambil melangkah mundur, masih mewaspadai pria berambut hitam itu.

"Yah, jika aku berbohong padamu, pasti dia akan protes 'kan?" Kuroro mneyeringai padanya, membuat Killua merasa tidak nyaman.

Maka, tidak mau bersusah payah untuk memastikan apakah mereka mempercayai ceritanya atau tidak, Kuroro memberitahu tentang pertemuan mereka dengan Jin Hassamunnin dan kondisi yang diberikan jin itu pada mereka berdua. Dia pun menunjukkan kepada mereka aura merah yang mengikat dirinya dan Kurapika. Selama Kuroro menjelaskan itu semua, Kurapika tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap lantai. Gon memandang lurus ke mata Kuroro saat pria itu bercerita, sementara Killua beberapa kali melirik ke arah Kurapika dengan kernyitan di dahinya.

"Aku mengerti…" Gon bergumam saat Kuroro selesai.

"Aku telah salah menilaimu, Kurapika. Kukira kau akan membalaskan dendam sukumu, bahkan jika nyawamu adalah taruhannya," kata Killua dengan tidak setuju pada Kurapika, yang masih tidak mengatakan apa-apa.

Kurapika diam. Killua menahan napasnya dengan kesal, dan saat ia baru saja akan berlari keluar kamar, ia mendengar Kurapika berbisik,

"…Aku telah memberitahukan ini pada Leorio : harga diriku tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang telah diderita oleh saudara-saudaraku."

"Tepat!" Killua berbalik dan membelalakkan matanya pada Kurapika. "Karena itulah, kau harus membunuhnya begitu kau punya kesempatan!"

"Killua! Dia juga akan mati!" protes Gon.

"Dia bersumpah untuk membalas dendam walaupun harus dibayar dengan nyawanya sendiri!" Killua hampir berteriak.

"Kau benar," Kurapika mengangguk, suaranya terdengar seolah ia telah mendapatkan kekuatannya kembali. "Aku memang bersumpah begitu. Bagaimanapun juga, apa gunanya membunuh pria ini, saat yang lainnya masih berkeliaran dengan bebas?" dia melihat ke arah Killua, menantang bocah itu untuk berdebat dengannya.

"Dan apa gunanya…jika akhirnya sukuku benar-benar menuju kepunahan karena aku?"

Killua menahan napas karena kaget dan tersentak. Gon pun sama, tapi dia menatap Killua dan Kurapika secara bergantian untuk berjaga-jaga. Gon tidak tahu apa yang harus dia katakan. Bahkan dia tidak mengikuti apa yang sedang mereka perdebatkan. Kuroro, di pihak lain, hanya mengamati situasi ini. Jika ia akan mengatakan sesuatu, ia akan mengatakan bahwa Kurapika memenangkan pertarungan ini.

"Cih!" Killua berlari keluar kamar.

"Killua!" Gon memanggilnya, tapi kemudian ia melihat ke arah Kurapika dengan ekspresi hancur.

"Pergilah dengannya, Gon," Kurapika mengangguk dan tersenyum padanya, walaupun Gon tahu bahwa senyumnya itu penuh dengan kesedihan.

Dengan enggan, Gon mengikuti Killua yang marah, meninggalkan Kuroro dan Kurapika. Keheningan memenuhi kamar itu. Kuroro melihat ke arah pintu ke mana kedua bocah itu menghilang, dan kemudian melihat gadis yang sedang sedih yang duduk di sebelahnya.

"Apa kau baik-baik saja dengan ini?"

"Aku tidak apa-apa…lagipula, aku tidak ingin mereka terlibat dalam masalah ini," Kurapika berkata dengan suara yang pelan, matanya tertuju ke lantai.

"Aku mengerti. Jika itu yang kau inginkan." Kuroro memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela. Hari sudah hampir siang. Mereka sudah harus melanjutkan perjalanan. "Kita pergi sekarang?"

"…Ya." Kurapika beranjak dan tanpa berkata apapun melangkah mengikuti Kuroro.

Sebenarnya, Kurapika tidak ingin pergi. Dia sedang tidak ingin bepergian sama sekali. Bagaimanapun, ia tidak ingin terlihat seperti anak yang cengeng, terutama oleh Kuroro. Dia akan kuat, seperti apa yang telah ia janjikan pada kakaknya dahulu. Dia akan tetap kuat, tak peduli apapun juga, bahkan jika teman-temannya meninggalkannya…

TBC

.

.

A/N :

Review please…^^